Diterjemahkan dari “Demon Slayer Opens New Doors to Understanding Wrath” oleh Ronald S. Green, Rubin Museum
Amarah, Duka, Kekerasan, dan Etika Buddha dalam Serial Anime Populer
Dalam banyak tradisi dan filsafat, amarah selalu diidentikkan dengan amukan, kehancuran, dan kegagalan moral. Namun dalam perspektif Buddhis, khususnya tradisi Mahayana dan Vajrayana, amarah bisa dipahami dengan cara yang berbeda, yaitu sebagai sebuah bentuk energi welas asih. Perwujudan sosok-sosok penuh amarah sebagaimana yang tampak pada Vajrapani dan Achala justru menggunakan senjata untuk menebas ketidaktahuan batin dan melindungi para praktisi dari hasrat egois mereka sendiri. Lebih dari sekadar meluapkan kemarahan yang tak terkendali, amarah semacam ini digunakan dengan niat yang bijaksana untuk menyingkirkan rintangan menuju pembebasan batin. Cara pandang baru ini memicu sebuah pertanyaan moral mendasar: Bisakah kekerasan dilandasi oleh rasa kasih sayang?
Salah satu ilustrasi paling kentara dan memicu kompleksitas moral dari pertanyaan ini justru muncul di luar naskah-naskah Buddhis tradisional, misalnya dalam budaya populer Jepang modern. “Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba”, serial manga dan anime karya Koyoharu Gotōge yang rilis perdana pada tahun 2016, dengan cepat mencuri perhatian dunia berkat penceritaan, visual, dan kedalaman maknanya yang memikat. Serial ini telah menjadi sebuah fenomena budaya besar dan mendapatkan berbagai penghargaan karena berhasil membangkitkan kembali industri manga. Pada tahun 2020, film layar lebarnya berjudul “Demon Slayer: Mugen Train” bahkan memecahkan rekor sebagai anime sekaligus film Jepang dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa yang melampaui rekor Spirited Away karya Hayao Miyazaki yang bertahan sejak tahun 2021.
Berlatarkan era Taishō (1912–1926), serial ini mengikuti kisah Tanjiro Kamado, seorang anak laki-laki berhati mulia yang keluarganya dibantai habis oleh iblis. Dalam dunia Demon Slayer, iblis adalah seorang manusia yang berubah menjadi predator yang mempunyai kekuatan supranatural dan bertahan hidup dengan menggunakan energi manusia. Dari seluruh keluarga Tanjiro, hanya adiknya, Nezuko, yang selamat dari pembantaian. Celakanya, ia berubah menjadi iblis. Tanjiro pun bergabung dengan Korps Pembasmi Iblis untuk membalaskan dendam keluarganya sekaligus menyelamatkan Nezuko dan umat manusia. Di sinilah dimulai sebuah perjalanan yang penuh kompleksitas moral, kesetiaan, dan pengorbanan diri.
Dari seluruh jajaran karakter, Gyōmei Himejima yang dijuluki Hashira Batu, tampil begitu memukau. Sebagai seorang biksu buta dengan kekuatannya yang tak tertandingi, Gyōmei memadukan ajaran disiplin Buddhis dengan rasa duka dan kejernihan spiritual dalam perannya sebagai pelindung. Sebagai salah satu dari Hashira, sebuah pasukan elit Pembasmi Iblis yang memikul beban pertempuran paling mematikan, kisah hidupnya memicu sebuah pertanyaan paling mendasar baik dalam Buddhisme maupun di Demon Slayer: Apa sebenarnya makna dari penghancuran yang berlandaskan welas asih?
Gyōmei Himejima: Amarah Tanpa Kebencian
Diperkenalkan di awal seri sebagai Hashira Batu yang bertubuh raksasa dan pendiam, sekilas Gyōmei tampak stoik nan dingin. Dengan untaian kalung mala, jubah biksu, dan pakaian yang bertuliskan nenbutsu—Namu Amida Butsu, sebuah seruan suci kepada Buddha Amitabha—ia memancarkan nilai-nilai yang selaras dengan ajaran Buddha. Bahkan di tengah sengitnya pertempuran, ia terus merapalkan doa itu dan sering menangis meratapi kawan-kawan seperjuangannya maupun musuhnya, para iblis.
Yang membedakan Gyōmei dari karakter lainnya adalah statusnya sebagai pembasmi iblis terkuat secara fisik sekaligus yang paling ekspresif secara emosional. Ketika pendekar lain membantai iblis dengan amarah yang meledak-ledak atau dendam membara, Gyōmei justru menangis. Ia melakukan tindakan kekerasan, tetapi tanpa rasa senang dan benci sedikit pun. Sebaliknya, aksinya lahir dari rasa duka dan tanggung jawab besar. Sebuah bentuk kepedulian yang begitu kuat yang membawanya pada tindakan nyata. Pun di balik namanya, terkandung makna yang begitu puitis: “Pulau kesedihan yang mengarungi kegelapan.”
Dalam sebuah adegan, Gyōmei mengucapkan kata-kata yang mencerminkan pandangan Buddhis tentang kelahiran kembali dan penderitaan yang disebabkan oleh hukum karma. Ketika merenungkan nasib Tanjiro, dengan penuh keprihatinan ia berujar, “Akan lebih baik jika ia tak pernah dilahirkan,” sebuah ungkapan yang menyiratkan betapa belenggu karma itu menyiksa dan sulitnya mencapai pembebasan. Ia berharap agar mereka yang terbelenggu oleh penderitaan dapat terlahir kembali di Tanah Suci yang damai, bebas dari iblis maupun kekerasan.
Baca tentang praktik Amitabha di sini.
Bodhisatwa Sang Pendengar: Awalokiteshwara di Era Taishō
Sejumlah komentator menyandingkan sosok Gyōmei dengan Awalokiteshwara (dikenal sebagai Kannon dalam masyarakat Jepang atau Guanyin/Kuan Im di Tiongkok), yaitu perwujudan Bodhisatwa welas asih yang senantiasa mendengar rintihan derita dunia. Keterkaitan di antara keduanya bukan kiasan belaka.
Baca juga: Mengapa Kuan Im Berbeda-Beda?
Gyōmei memang buta. Namun, ia mampu “melihat” dunia lewat suara. Berbekal ketajaman indra pendengarannya, ia memanfaatkannya untuk memahami dunia sekitar, memprediksi pergerakan musuh, dan bertarung. Kemampuannya ini melampaui representasi dari kemampuan manusia super; ia memuat simbolisme naratif yang sangat dalam. Konon, Awalokiteshwara dikisahkan punya kemampuan untuk menyelami segala bentuk penderitaan lewat suara. Begitu pun Gyōmei. Ia selalu mendengar dan meresapinya dengan bijak sebelum bertindak. Amarahnya tidak pernah bersifat reaktif, tetapi emosi yang disaring dengan rasa welas asih.
Melihat akan hal itu, Gyōmei mencerminkan cita-cita luhur sang Bodhisatwa: rela menunda kedamaian atau kebebasan spiritualnya sendiri demi menolong banyak orang. Layaknya Awalokiteshwara yang bersumpah tidak akan menjadi Buddha sebelum semua makhluk di alam semesta ini terselamatkan, Gyōmei pun mengesampingkan istirahat dan menyembuhkan dirinya sendiri demi terus melindungi mereka yang tak berdaya.
Duka sebagai Energi Moral
Amarah Gyōmei lahir dari kepingan rasa duka yang bertransformasi. Masa lalunya yang kelam nan traumatis, seperti kehilangan anak-anak yatim piatu yang ia asuh serta ketidakadilan pahit yang diterima ketika ia dituduh sebagai pembunuh mereka—meninggalkan luka batin yang teramat dalam. Alih-alih tenggelam dalam keputusasaan atau dendam kesumat, Gyōmei justru menyalurkan kesedihannya itu ke dalam misi kemanusiaan bersama Korps Pembasmi Iblis.
Proses mengubah penderitaan menjadi tindakan nyata semacam ini punya akar yang kuat dalam psikologi Buddhis. Ajaran Mahayana sendiri menjelaskan bahwa seorang Bodhisatwa merasakan penderitaan orang lain seolah penderitaan itu adalah miliknya sendiri. Dalam Buddhisme Vajrayana, dewa-dewa pelindung sengaja ditampilkan dengan wajah yang menyeramkan sebab amarah mereka adalah wujud welas asih yang begitu dahsyat, mampu menerobos dan menghancurkan segala kesesatan serta bahaya. Air mata Gyōmei mengalir dari sumber kejernihan yang serupa. Setiap kali ia mengangkat senjata, ia melakukannya dengan hati penuh duka. Memikul beban kekerasan itu sendiri supaya orang lain tak perlu mengalaminya dan terselamatkan.
Upaya: Cara yang Tepat dan Tindakan Welas Asih
Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, ada sebuah doktrin yang disebut upaya (cara terampil) yang mengajarkan bahwa boleh saja makhluk yang sudah tercerahkan mengambil tindakan yang tidak biasa bahkan ekstrem selama tindakan itu bisa menyelamatkan makhluk lain menuju pencerahan spiritual. Bahkan dalam sutra yang termasyhur, Sutra Upayakausalya, dikisahkan seorang Bodhisatwa—sosok penuh welas asih tanpa batas yang berupaya mencari pencerahan sempurna untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan—terpaksa membunuh seorang pembunuh demi menyelamatkan seluruh penumpang kapal. Tindakan ekstrem itu diambil atas dasar welas asih, baik kepada para korban maupun kepada si pelaku kejahatan.
Segala tindakan Gyōmei pun didasari oleh logika ini. Ia tidak menghabisi para iblis untuk meluapkan dendam, tetapi untuk mencegah mereka menimbulkan penderitaan lebih banyak. Bahkan di tengah pertempurannya, doa Namu Amida Butsu terus ia rapalkan. Hal itu menegaskan bahwa tindakannya bukan berlandaskan ego pribadi, tetapi sesuatu yang seutuhnya ia pasrahkan kepada Buddha Amitabha. Sederhananya, ia bertindak atas dasar penyerahan diri dan sumpah suci untuk membebaskan semua makhluk dari lingkaran penderitaan. Amarahnya adalah sebuah instrumen welas asih. Sesuatu yang diasah lewat latihan batin dan dikendalikan oleh rasa duka.
Baca penjelasan tentang sumpah Bodhisatwa di sini.
Amarah Sang Bodhisatwa
Sebagai seorang profesor yang mengkaji Buddhisme dan agama masyarakat Jepang, saya sering menjadikan serial Demon Slayer sebagai medium di kelas untuk membedah ajaran Buddhis. Karakter Gyōmei sering memantik diskusi dan berbagai respons bergejolak dari para mahasiswa.
Setelah menonton adegan di mana Gyōmei bertarung sementara ia sedang berduka, salah seorang mahasiswa bertanya, “Bahkan jika Gyōmei tidak membenci para iblis sekali pun, apakah itu berarti kekerasan bisa lahir dari welas asih?” Yang lainnya menimpali, “Kekuatannya tidak bersumber dari amarah, tetapi dari sesuatu yang jauh lebih besar.”
Berbagai reaksi ini mencerminkan dilema klasik Buddhis tentang kekerasan dan welas asih. Fenomena ini menunjukkan bahwa anime, sama seperti kisah-kisah Buddhis kuno, bisa menjadi ruang bagi imajinasi moral, mengajak penonton merenungkan kembali apa artinya bertindak secara bijaksana di dunia yang penuh penderitaan ini. Gyōmei adalah contoh perwujudan seorang biksu petarung yang bertindak demi sebuah sumpah untuk melindungi. Lewat sosoknya itu, kita bisa melihat bahwa di tengah dunia yang kejam sekalipun, kita tetap bisa bertindak tanpa rasa benci, menangis selagi memukul, berduka selagi melindungi, menghancurkan tanpa harus menjadi kejam, dan mencintai dengan sepenuh jiwa bahkan di titik paling hancur.
Ronald S. Green adalah seorang profesor bidang studi Kajian Agama dan Asia di Coastal Carolina University. Penelitiannya banyak mengeksplorasi hubungan antara tradisi filsafat Asia dan budaya kontemporer, khususnya dalam film, anime, novel, dan praktik keagamaan masyarakat. Dengan memadukan kajian teks dan penelitian lapangan yang imersif, ia membedah bagaimana tradisi-tradisi kuno tampil dalam wujud wajah baru di masa kini. Cakupan pengajarannya meliputi Buddhisme, Shinto, tradisi meditasi, tradisi populer Jepang, dan metode etnografi untuk mempelajari kehidupan beragama masyarakat Afrika dan Asia di Carolina Selatan.
Noma Bar adalah seorang desainer grafis, ilustrator, dan seniman yang terkenal dengan gaya minimalisnya yang berani. Karyanya dimuat di Time Out London, BBC, The Economist, dan masih banyak lagi. Ia telah membuat ilustrasi untuk lebih dari seratus sampul majalah dan menerbitkan tiga buku. Bar juga meraih banyak penghargaan, termasuk Gold Clio dan D&AD Yellow Pencil. Pamerannya bertajuk Cut It Out sempat menjadi sorotan di London Design Festival dan masuk nominasi Designs of The Year oleh Design Museum.
