Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?
    • Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis
    • Ketika Cabang Lupa Akarnya – Antara Waisak & “Interbeing”
    • Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala
    • Rahasia Praktik Self-Compassion: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2026
    • Kembali Pulang di Bali Spirit Festival 2026
    • Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Wacana » Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?
    sumber: pojokbandung.com

    Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?

    0
    By Iqa Kinanti Nandakasih on June 30, 2026 Artikel, Featured, Wacana

    Ketika kemajuan modern mengikis sisi humanis dan koneksi spiritual, mengapa kita begitu sinis melihat fenomena trance yang sudah dijalankan masyarakat adat turun-temurun? Padahal, ia adalah cara mereka untuk menjaga alam dan wujud dari kecerdasan kolektif yang tidak kita punya. 

    Membahas topik ini mau tak mau menyeret ingatan pada film Para Perasuk garapan Wregas Bhanuteja yang sempat ramai ditonton dan menjadi diskursus para sinefil. Sayangnya, dari sekian banyak perdebatan yang mengitari film itu, mengapa topik trance-nya sendiri nyaris tak nampak dikupas mendalam? Pun sekalinya disebutkan, ia muncul hanya secuil sebatas menceritakan ulang isi film. Rasanya cukup mengusik sekaligus menarik untuk membawa wacana ini ke lanskap lebih luas. Tulisan ini tidak akan mengupas detail konteks film itu dengan segala printilannya. Ia hanya pemantik, sebab muara tulisan ini adalah trance.

    Membicarakan trance hari ini mendudukkan kita kembali untuk menilai di titik mana dalam peradaban kita berdiri. Zaman modern seringkali membawa kehidupan manusianya berada di ambang kemajuan sekaligus kemunduran. Kedua hal ini menciptakan pertanyaan mendasar yang berongga besar: “Siapa yang maju dan mundur?” dan “Dalam hal apa modernitas membawa manusia kepada dua pintu tersebut?”—adalah sedikit di antara banyaknya bayang-bayang kegelisahan yang kerap tak disadari. Modernisasi memudahkan kita untuk mengakses berbagai informasi dan membangun relasi lebih luas. Kehidupan masyarakat yang campur-baur mengantarkan setiap individu pada kebebasan mengekspresikan cara hidup. Di sisi lain, pegangan atas makna hidup terasa begitu jauh dan asing. Kita pun menjadi gampang menilai sesuatu tidak lagi relevan dan kolot hanya dengan mata tertutup. Padahal, dengan kemampuan berpikir yang didukung oleh kemajuan ilmu-ilmu modern, rasanya patut untuk kita melihat kembali fenomena sosial dalam masyarakat dengan kejernihan, salah satunya trance.

    Trance atau kerasukan sudah akrab dengan keseharian kita. Keberadaannya dapat ditemukan di berbagai ritual kelompok masyarakat tertentu. Di film, di media sosial, sampai di ruang-ruang publik. Namun, keberadaan trance di tengah kehidupan modern justru sering disalahpahami dan dipinggirkan. Buru-buru menyimpulkan trance sebagai tontonan mistis atau gangguan psikologis semata adalah kedangkalan sebab trance punya akar sejarah dalam konteks budaya masyarakat adat. Ada pijakan untuk akhirnya bisa membawa wacana ini ke ruang duduk masyarakat luas. Dr. Ravinjay, peneliti ilmu agama dan filsafat Hindu-Buddha, bersama seorang dosen dan antropolog, Stanley Khu, membedah fenomena trance secara komprehensif dan ciamik dengan berbagai perspektif keilmuan. Diskusi kedua ahli itu disiarkan melalui acara Lamrimnesia Talk di Instagram dengan tajuk Trance: Kerasukan, Psikologi, atau Budaya?.

    Lantas, apa itu trance? Apakah selalu diartikan sebagai kerasukan?

    Trance dalam Sudut Pandang Ilmu Pengetahuan

    Trance memiliki banyak definisi. Dalam ilmu psikologi, kondisi trance adalah bagian dari proses hipnosis atau hipnoterapi. Adapun trance berdasarkan levelnya dibagi menjadi dua, yaitu medium (perantara) dan kerasukan. 

    Dr. Ravinjay membedah fenomena ini ke dalam tiga perspektif. Pertama, perspektif spiritual. Dalam tradisi Hindu dan beberapa aliran Kristen, kerasukan dipahami sebagai kondisi di mana tubuh seseorang diambil alih dan dijadikan wadah oleh entitas lain. Namun, ada perbedaan level kesadaran yang sangat jelas dalam praktiknya. Di Bali, hal ini digambarkan melalui konsep Kerauhan dan Ngiring. Kerauhan umumnya dialami oleh orang awam yang secara tidak sadar kehilangan kendali, menjadikan tubuhnya sekadar wadah kosong bagi entitas luar. Sebaliknya, Ngiring merujuk pada seorang medium, seperti shaman atau praktisi spiritual yang memiliki kapabilitas dan kontrol atas dirinya saat berinteraksi dengan entitas di luar dirinya. 

    Kedua, dalam perspektif psikologi dan filsafat Timur, Samkhya dan Yoga. Kerasukan terjadi karena adanya ruang untuk entitas lain menguasai tubuh atau saat pikiran seseorang kosong untuk menerima makhluk lain. Contoh paling sederhana untuk menggambarkan kondisi ini adalah saat seseorang sedang melamun. Ketiga, kerasukan dalam perspektif budaya merupakan suatu kebiasaan manusia yang meliputi cara berkreasi dan membangun koneksi dengan para leluhur yang sudah menjadi tradisi turun-temurun.

    Sejalan dengan pandangan tersebut, Stanley Khu menyederhanakan definisi kerasukan yang dapat dilihat dalam dua perspektif, yaitu secara intelektual dan spiritual. Kerasukan dalam tafsir antropolog adalah mekanisme sosio-kultural. Artinya, kerasukan biasanya terjadi pada kelompok masyarakat sosio-ekonomi tertentu, seperti seseorang yang punya tekanan hidup kompleks atau justru kebutuhan untuk melampiaskan (secret desire) ketika berhadapan dengan situasi massal tertentu tanpa perlu takut dihakimi. Meskipun dipandang tidak lazim, sebenarnya hampir setiap masyarakat punya wadah untuk fenomena semacam ini.

    Selanjutnya, trance dalam perspektif spiritual. Dalam Buddhisme Tibet, terdapat praktik trance dengan level yang lebih terstruktur, bahkan memiliki semacam jenjang karir. Terdapat peramal yang berperan sebagai medium spiritual untuk bisa dirasuki oleh entitas lain. Peramal ini ada yang level lokal, regional, sampai yang berstatus resmi kenegaraan. Yang paling ikonis adalah Orakel Nechung. Perannya tidak hanya sebagai medium, tetapi juga penasihat spiritual tertinggi di pemerintahan.

    Menariknya, praktik ini diturunkan layaknya warisan keluarga. Jadi, kalau orang tuanya adalah seorang medium, anaknya juga akan memiliki bakat yang sama. Awetnya tradisi ini sebab ia dijadikan sebagai profesi wajib. Konon, terdapat kepercayaan yang kuat bahwa menolak takdir sakral ini justru akan mendatangkan mara bahaya atau nasib buruk yang tidak diinginkan. 

    Baik di Hindu maupun Buddha, kerasukan terjadi karena kesadaran diri seseorang sedang tidak aktif. Dalam filsafat Hindu, kondisi ini disebut dengan istilah antahkarana, sementara dalam Buddha disebut kara. Dalam ajaran Buddha, kondisi ini tidak berarti ada dua entitas yang berebut satu tubuh, melainkan satu pihak aktif dan pihak lainnya sedang tidak aktif. Hal ini berkaitan erat dengan filsafat Samkhya dan Yoga di Hinduisme di mana manusia memiliki pelapis ego yang terdiri dari: pembuat ‘aku’, memuat karma, dan ingatan masa lalu, tetapi tidak sepenuhnya melekat. Sementara dalam Buddhisme, lapisan ini dikenal sebagai saṃskāra. Dalam pengertian pasifnya, saṃskāra merujuk pada segala sesuatu yang eksis karena sebab dan kondisi. Dalam pengertian aktifnya, saṃskāra merujuk pada formasi laten yang tertinggal di batin oleh karma, yakni faktor-faktor yang membentuk atau mengondisikan hal-ihwal.

    Trance sebagai Jembatan Komunikasi Masyarakat Adat dan Leluhur

    Trance merupakan salah satu instrumen sakral dalam kesenian tradisional dan penganut agama rakyat. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari kolektif hidup masyarakat adat untuk menghormati dan berkomunikasi langsung dengan para leluhur mereka. Ini juga cara yang paling jujur untuk menjaga ekosistem alam bagi seluruh makhluk. 

    Contoh nyatanya adalah tradisi Perumah Begu pada masyarakat Karo di Sumatera. Tradisi ini adalah ritual pemanggilan arwah seseorang yang sudah meninggal atau cara berkomunikasi dengan leluhur. Masyarakat Karo meyakini arwah leluhur yang turun adalah untuk memberikan petunjuk atau berinteraksi dengan keturunannya. Biasanya entitas yang merasuki tubuh bukanlah dewa-dewa tinggi, seperti Dewa Siwa atau Ganesha di Hindu. Entitas itu adalah sosok leluhur yang secara vibrasi lebih dekat dengan bumi. Leluhur dalam konsep ini memiliki kekuatan yang sama dengan dewa, tetapi lebih terjangkau secara frekuensi bagi manusia.

    Di Hindu, trance dan budaya agama rakyat serupa dirangkul dan diwadahi sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman budaya lokal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengakuan bahwa hubungan antara manusia dan roh leluhur adalah bagian tak terpisahkan dari struktur sosial dan spiritual masyarakat.  

    Untuk membuka jalan antara dimensi kehidupan manusia dengan dimensi leluhur itu, musik dan tarian adalah elemen tidak bisa dipisahkan dari trance. Dalam konteks ritual, musik instrumen perkusi, seperti drum dan gendang, secara teknis menghasilkan suara yang mampu mengubah level kesadaran manusia. Otak manusia kemudian mengikuti arus frekuensi suara tersebut agar sinkron dengan ritme musik, sehingga seseorang berpotensi untuk kehilangan kendali atas egonya. Inilah mengapa alat musik tradisional selalu menjadi elemen wajib dalam setiap ritual kerasukan.  Selain itu, tarian dan gerakan tubuh adalah bentuk meditasi aktif. Gerakan yang repetitif dan penuh simbolisme membantu seseorang sebagai subjek untuk melepaskan kesadaran logisnya. Ketika dikombinasikan dengan suasana sakral, tarian itu menjadi kendaraan bagi jiwa untuk menyeberang ke dimensi lain. Hal ini membuktikan bahwa budaya kita yang multikultural memiliki teknologi spiritual yang sangat canggih untuk mengelola kesadaran manusia.

    Baik pemain maupun penonton, trance memiliki makna simbolik dan sakralitas. Praktik itu bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah ruang di mana nilai-nilai sejarah dan sosio-kultural dirawat secara turun-temurun. Melalui gerakan dan simbol-simbol tertentu, masyarakat adat menegaskan kembali identitas mereka dan menjaga keseimbangan antara dunia yang terlihat dan yang tidak terlihat.  

    Trance di Tengah Bisingnya Kehidupan Urban

    Bagi masyarakat adat, trance adalah penghubung antara manusia, alam, dan leluhur untuk saling menyampaikan pesan. Namun, bagaimana ia dilihat dalam kacamata masyarakat urban?

    Sering dianggap aneh, tidak masuk akal, dan ditertawakan, tetapi diam-diam trance juga dijadikan masyarakat urban sebagai cara check-out psikis atau sekadar tren ikut-ikutan. Di tengah dunia yang menuntut kompetisi dan performa identitas, trance hadir sebagai semacam pelampiasan eksistensial di mana beban sebagai diri sendiri bisa ditanggalkan sejenak. Larisnya konten-konten kerasukan yang tidak jelas asal muasal dan esensinya adalah bukti bahwa trance dijadikan sekadar hiburan dan ajang mencari untung. Trance yang menyimpan nilai-nilai kemanusiaan akhirnya bergeser seolah kualitas manusia bisa diukur memakai algoritma media sosial.

    Melihat contoh trance di atas perlu dibandingkan dengan trance pada kesenian Reak yang berasal dari Sunda. Reak bukan sekadar tontonan mistis atau aksi kerasukan massal belaka. Ia merupakan arsip ekologi masyarakat Sunda agraris. Di zaman Bandung Timur masih berupa wilayah persawahan, Reak digunakan sebagai ritual penghormatan kepada Dewi Padi yang merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil alam yang berlimpah. Sayangnya, masifnya pembangunan urban di tahun 70-an sampai sekarang, lahan pertanian tergusur dan hanya menyisakan bangunan-bangunan beton. Makna ruang sakral Reak sebagai perpaduan antara seni, tradisi, alam, dan spiritual pun ikut punah. Kemunduran itu diperparah dengan era Orde Baru yang membatasi ruang-ruang kesenian tradisional dan stigma buruk yang muncul dari sebagian kalangan terhadap Reak. Miris, bukan?

    Seperti tradisi leluhur lainnya, Reak identik dengan trance dan sesajen. Dalam konteks ini, trance tidak serta-merta terjadi begitu saja seperti yang terlihat di konten-konten viral media sosial. Ada ilmu dan proses latihan yang panjang dari para senimannya. Tidak hanya olah fisik, tetapi juga spiritual. Salah satu elemen pentingnya adalah sesajen. Sesajen acap kali dilekatkan dengan produk budaya pop, seperti film horor yang identik dengan pesugihan dan tumbal. Padahal, sesajen sendiri pada dasarnya adalah gambaran mikrokosmos dari dunia nyata kita saat ini. Ia adalah penghubung manusia dengan para leluhur dan alam yang melampaui verbal kita. 

    Para seniman akar rumput Reak terus berusaha menghidupkan kembali kesenian tersebut di tengah bisingnya kehidupan urban dan pergeseran nilai-nilai tradisi lokal yang tak terhindarkan. Jika menyusuri Bandung Timur, Reak masih lestari dalam upacara syukuran ulang tahun. Ia bukan sekadar kesenian, tetapi napas penghidupan masyarakatnya. Pada tahun 2021, berdirilah sebuah yayasan pemajuan kebudayaan dan pemberdayaan perempuan bernama Puspa Karima yang dipelopori oleh Bunga Dessri Nur Ghaliyah. Yayasan ini merupakan wadah bagi para perempuan dari beragam latar belakang untuk ikut memainkan Reak. Siswa, mahasiswa, pekerja, sampai ibu rumah tangga. Usaha ini adalah cara untuk mengembalikan dan mempertegas esensi Reak sebagai tradisi leluhur yang egaliter di mana perempuan dan laki-laki punya tempat yang setara dalam masyarakat. Bayangkan, kita bicara tentang kesetaraan setiap hari dan menganggap tradisi nenek moyang terlalu kolot untuk paham hal-hal seperti itu. Nyatanya, mereka yang hidup dengan tradisi Reak justru sudah lebih lama menjalankan dan paham arti kesetaraan!

    Pada akhirnya, memaknai trance seharusnya seimbang antara sudut pandang intelektual dan humanis. Trance hadir sebagai kontra dari pembangunan urban yang diibaratkan sebagai ‘progress without soul.‘ Kita sering berpikir bahwa kemajuan adalah milik manusia modern, tetapi fakta menunjukkan hal sebaliknya. Dalam keseharian, kita sudah lama mengubur sisi manusiawi kita sendiri dengan sikap tertutup dan berjarak terhadap tradisi masyarakat adat. Peradaban modern yang dipandang lebih maju dan tinggi harus dipertanyakan ulang sebab masyarakat kita sendiri sudah terpapar oleh banyak penjajahan yang mengaburkan identitas kita baik sebagai individu maupun masyarakat multikultural. Jika dibandingkan dengan masyarakat adat yang setiap hari hidup bersama alam, mereka memiliki kecerdasan kolektif untuk terhubung dengan alam dan menyampaikan pesan-pesan leluhur yang tak lekang oleh zaman. 

    Jadi, bukankah modern yang sering dijunjung tinggi itu lebih pantas disebut kemunduran?

    trance
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleRobert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis
    Iqa Kinanti Nandakasih

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Leaderboard Ad
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    June 30, 2026

    Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?

    June 19, 2026

    Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis

    June 17, 2026

    Ketika Cabang Lupa Akarnya – Antara Waisak & “Interbeing”

    Store
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.