“Sebuah pohon tidak perlu mewarnai akarnya agar tampak seperti cabang.” Namun, itulah agaknya yang sedang terjadi dengan umat Buddha di Indonesia.
Tahun ini, sebuah festival Waisak diselenggarakan di Mal Taman Anggrek dengan mengambil tema “Interbeing“, sebuah konsep yang dipopulerkan Thich Nhat Hanh untuk menggambarkan saling ketergantungan segala sesuatu.
Pada poster acara tersebut, istilah “Interbeing” diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia, Mandarin, Korea, Thailand, dan Sanskerta. Untuk Sanskerta digunakan istilah Paraspar Astitva (परस्पर अस्तित्व), yang secara harfiah berarti “saling keberadaan” atau “keberadaan yang timbal balik”.
Sekilas tampak sebagai penghormatan terhadap akar Asia Buddhisme. Namun, setelah ditelusuri, muncul sebuah kejanggalan. Paraspar Astitva bukan istilah yang dikenal dalam kanon Buddhis klasik. Tidak dalam literatur Pali, tidak dalam Sanskerta. Berbeda dengan pratītyasamutpāda, śūnyatā, atau anātman yang memiliki sejarah panjang dan posisi doktrinal yang jelas.

Yang tampaknya terjadi adalah sebaliknya: konsep modern “interbeing” diciptakan, lalu diterjemahkan balik ke dalam Sanskerta agar terdengar klasik. Sebuah produk kontemporer dipakaikan kostum tradisional.
Padahal, jika tujuannya adalah menggambarkan realitas saling ketergantungan, Buddhisme telah memiliki konsepnya sendiri sejak lebih dari dua ribu tahun lalu: pratītyasamutpāda, salah satu ajaran paling fundamental, bahwa segala fenomena muncul dari sebab dan kondisi yang saling bergantung.
Jika “Interbeing” adalah cabang, pratītyasamutpāda adalah akarnya. Namun, akar itu tidak muncul di poster. Yang ditampilkan hanya cabangnya, lengkap dengan terjemahan ke berbagai bahasa, termasuk Sanskerta yang bukan Sanskerta Buddhis.
Ini bukan sekadar permasalahan istilah. Ini adalah gejala dari sebuah kecenderungan yang semakin sering terlihat dalam Buddhisme kontemporer: kemasan yang semakin dipoles, sementara sumbernya semakin jarang dikenali.
Inovasi bukanlah masalah. Dharma memang harus mampu berbicara kepada zamannya. Namun, inovasi yang sehat berfungsi sebagai jembatan menuju akar, bukan pengganti akar!
Jika “Interbeing” mendorong seseorang mempelajari pratītyasamutpāda, maka ia telah menjalankan fungsinya. Namun, jika ia berdiri sendiri, perlahan menggantikan konsep yang melahirkannya, maka yang terjadi bukan perkembangan, melainkan pemutusan.
Dalam teks “Pujian Terhadap Kesalingbergantungan”, Je Tsongkhapa menulis bahwa ketika kesunyataan dipahami sebagai hakikat dari kemunculan bergantungan, maka tidak ada lagi pertentangan antara ketiadaan keberadaan inheren dengan adanya tindakan dan pelaku.
Dengan kata lain, pratītyasamutpāda dan śūnyatā bukan dua ajaran yang terpisah, melainkan dua sisi dari koin yang sama. Segala sesuatu muncul secara bergantungan karena ia sunya dari keberadaan yang inheren, dan justru karena sunya, maka ia dapat muncul secara bergantungan.
Dari sudut pandang ini, “Interbeing” sesungguhnya hanyalah salah satu ekspresi kontemporer dari wawasan yang jauh lebih dalam. Mengangkatnya tanpa menghubungkannya dengan pratītyasamutpāda dan śūnyatā berisiko membuat kita mengagumi cabang sambil melupakan akar yang menopangnya.
Cara paling aman untuk memasuki pemahaman ini adalah melalui pembelajaran bertahap, sebagaimana diajarkan oleh Guru Atisha dan Je Tsongkhapa melalui Lamrim, Jalan Bertahap Menuju Pencerahan. Lamrim tidak memotong jalan. Ia justru memastikan bahwa setiap langkah dibangun di atas fondasi yang kokoh, dari akar hingga ke ujung cabang.
Buddhisme tidak akan kehilangan relevansinya karena terlalu dekat dengan akarnya. Ia hanya berisiko kehilangan kedalaman ketika cabang-cabang baru tumbuh semakin jauh, sementara fondasi yang menopangnya semakin tidak dikenal.
Karena tanpa akar, yang tersisa hanyalah tampilan.
Penulis: Prawirawara Jayawardhana
