Bimbang. Membaca buku Jika Hidupku Tinggal Sehari karya Dagpo Rinpoche mau tak mau harus duduk berhadapan dengan kebimbangan batin. Mungkin sebelum masuk pada inti bahasan buku ini, pertanyaan pertama: apa yang dirasakan dan akan dilakukan jika seandainya kita tahu hanya tersisa waktu satu hari bahkan satu jam untuk menjalani hidup ini? Tak ada hari kemarin pun esok, yang ada hanya waktu sekarang.
Tampaknya pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri masing-masing. Mungkin juga ia sulit untuk dijawab. Status dalam masyarakat, pekerjaan, relasi, dan kesuksesan materi—semua bayangan dan rancangan masa depan tampak mudah untuk dipikirkan. Hanya saja, waktu yang berjalan begitu cepat tak menyisakan sedikit pun kepastian tentang apa yang akan datang. Semuanya bergerak dinamis, akan habis masanya, atau akan digantikan dengan yang baru. Yang pasti di kehidupan ini hanya ketidakkekalan. Kehidupan yang penuh kemelekatan, ketidakkekalan yang membawa pada titik kematian. Namun dalam Buddhisme, semua itu adalah siklus yang berulang. Kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Maka boleh saja berpikir bahwa semua itu bagai jalan tak berujung.
Now is now. Sekelebat pikiran itu muncul ketika berhadapan dengan pertanyaan awal di atas. Sebuah filosofi hidup yang multitafsir. Pertama, melihat keberadaan hari ini sebagai hari ini, besok sebagai besok tanpa terbebani oleh masa depan. Atau yang kedua, filosofi itu mengantarkan pada kesadaran yang lebih menyesakkan bahwa detik ini adalah satu-satunya yang nyata, memaksa kita untuk merenung dan mempersiapkan kematian di depan mata. Di antara dua makna itu, mana yang kira-kira lebih tepat? Mungkinkah jawabannya ada di buku Jika Hidupku Tinggal Sehari?
Mungkin juga tidak. Kata ‘mungkin’ ditekankan dalam hal ini sebab menuliskan apa yang dibayangkan dan didapatkan setelah membaca buku ini dipenuhi oleh batin yang terombang-ambing. Jika Hidupku Tinggal Sehari memuat lima pokok bahasan, yaitu Pendahuluan sebagai perenungan awal akan hidup, Kehidupan Manusia yang Berharga, Kematian dan Ketidakkekalan, Mempersiapkan Kematian, dan Praktik Pengakuan berdasarkan Sutra Tiga Himpunan. Buku ini mengajak untuk kembali memaknai kehidupan manusia yang berharga sekaligus mempersiapkan kematian yang bisa datang kapan saja.
Jika Hidupku Tinggal Sehari adalah pengingat bahwa terlahir sebagai manusia merupakan keberuntungan yang amat langka dan betapa terbatasnya waktu yang dimiliki. Karena mati itu pasti, merenungkannya dianggap sebagai jalan terbaik untuk bersiap diri. Di samping itu, menghargai hidup bisa dimulai dengan menanamkan motivasi sejak bangun pagi untuk berbuat bajik dan menjalankan satu hari dengan sungguh-sungguh seakan hari itu adalah hari terakhir yang dimiliki, hingga tata cara memurnikan karma buruk yang merintangi praktik Dharma. Sederhananya, buku ini mengajak kita untuk melihat kematian tidak lagi dengan ketakutan dan mempersiapkannya adalah bekal untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.
Tentu buku ini benar bahwa kematian bisa datang kapan saja dan salah satu cara menghargai kehidupan yang dimiliki saat ini adalah dengan mengingat kematian. Namun, di saat buku ini begitu khusyuk menyuguhkan kiat-kiat mempersiapkan kematian, ada batin yang justru berkelahi ketika membacanya. Sehatkah jika isi kepala terus-menerus dijejali pemikiran bahwa kita akan mati? Sehatkah jika dalam waktu yang terbatas itu hanya diisi oleh perenungan?
Lebih lanjut, buku ini menerangkan bahwa salah satu manfaat mengingat kematian adalah kita akan mati dengan damai dan bahagia. Kalau harus kembali menempatkan batin dan pikiran dengan jujur, rasanya sebagian diri tidak rela untuk menyetujui pernyataan itu. Jika hidup saja diteror oleh keharusan untuk memikirkan kematian setiap saat, bagaimana mungkin kematian itu bisa disambut dengan kelegaan?
Meski secara menyeluruh buku perenungan ini juga ingin memberitahu bahwa antara kesuksesan duniawi dan pencapaian spiritual harus seimbang, serta menjalankan hidup yang ada hari ini dengan sebijak mungkin, tetapi membacanya seakan lebih mengantarkan pada pesimisme dalam melihat kehidupan. Entah karena buku ini memang diperuntukkan untuk lebih melihat kehidupan yang lebih jauh ke depan dan melampaui segala yang bisa direncanakan di kehidupan sekarang atau karena ketidakmampuan diri untuk memahami isinya secara utuh sehingga ada begitu banyak benturan batin yang terjadi.
Terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa merenungkan kematian dan segala hal yang sudah dilakukan di hidup ini tidak penting. Di saat-saat tertentu, dialog dengan diri sendiri dan perenungan itu dibutuhkan. Toh, pada akhirnya kita memang tidak kekal di alam semesta ini. Kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pula dengan memikirkan cara untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya di kehidupan mendatang. Siapa yang tidak ingin bahagia selamanya? Bahkan makhluk paling kecil pun mendambakan hal itu. Namun sebelum jauh-jauh ke sana, bukankah penting juga untuk lebih dulu bertanya ke diri sendiri apakah selama ini kita sudah benar-benar hidup atau belum? Apakah dengan memikirkan kematian terus-menerus akan membuat kita bisa menjadi lebih hidup? Anggap saja kita sudah punya segudang cara untuk mempersiapkan kematian, tetapi bagaimana dengan cara untuk hidup? Bukan sekadar bernapas, makan, dan melakoni segala aktivitas, tetapi menghidupi diri sendiri. Sudahkah hidup itu dirasakan? Bagaimana mungkin bisa mempersiapkan kehidupan mendatang jika pikiran saat ini hanya berputar pada kematian setiap saat? Antara bersiap mati atau memilih hidup, semua pertanyaan dan keresahan itu hanya mengawang di udara.
