Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan
    • Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?
    • Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis
    • Ketika Cabang Lupa Akarnya – Antara Waisak & “Interbeing”
    • Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala
    • Rahasia Praktik Self-Compassion: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2026
    • Kembali Pulang di Bali Spirit Festival 2026
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Buku » Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan
    bbc.com

    Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan

    0
    By Iqa Kinanti Nandakasih on July 2, 2026 Artikel, Buku, Wacana

    Membicarakan keseimbangan batin di tengah sistem negara korup mungkin terdengar omong kosong. Namun, bagaimana jika seandainya itu adalah cara terakhir untuk bertahan hidup?

    Negara yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru hadir sebagai penjajah. Korupsi merajalela, harga bahan pokok dan bahan bakar mencekik warga akibat rupiah melemah, PHK tak kunjung usai, tingginya pengangguran. Negara dalam banyak hal telah absen bahkan menjadi sumber kesengsaraan.

    Krisis yang berlapis-lapis sampai hari ini seakan tak menyisakan kabar baik. Membaca berita rasanya hanya menguras sisa kewarasan. Meski di Indonesia sudah akrab dengan slogan “warga jaga warga”, kenyataannya penderitaan berkepanjangan membuat kita bisa kapan saja untuk saling menjatuhkan dan ikut menindas demi bertahan hidup. Toh, sudah tampak jelas dari bagaimana cara kita memperlakukan sesama makhluk sekarang ini, tak terbatas pada manusia saja. Menghakimi sesama warga, diskriminasi terhadap kelompok masyarakat tertentu, menelantarkan bahkan membunuh hewan, ikut merusak lingkungan, dan masih banyak lagi. Empati dan bahu-membahu hanya diperuntukkan bagi segelintir orang dan di permukaan saja. 

    Inilah ironi menyedihkan dari krisis tak berkesudahan: betapa lantang kita mengutuk segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh sistem negara, tetapi di saat yang sama, kita pun tanpa sadar ikut menindas kaum yang lebih lemah. Penindasan itu akhirnya turun-temurun. Kita sering mengotak-ngotakkan dan mendiskriminasi minoritas, serta melupakan penderitaan bersama demi mengamankan diri sendiri.

    Fakta bahwa penderitaan merenggut hak-hak individu juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat secara menyeluruh. Penderitaan sudah membawa kita sampai ke sini, sebuah kerusakan yang entah kapan bisa dibenahi kembali. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain bertarung melawan ketidakadilan dengan semua yang tersisa. Dan karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan kolektif, empati dan bahu-membahu itu diperlukan di kemelut seperti sekarang.

    Semula, membaca buku karya Dagpo Rinpoche berjudul Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas di tengah krisis yang terjadi tampak tak ada relevansinya sebab urusan perut lapar dan sistem carut-marut tak bisa dibenahi dengan wejangan spiritual belaka.  Namun, berangkat akan hal itu, muncul pikiran berikutnya: bagaimana jika ternyata buku ini dibutuhkan di kondisi sekarang? Menyaksikan dan merasakan sesak, tak terhitung sudah berapa banyak hidup yang dikoyak dan ditindas. Bukankah untuk melawan, tidak hanya perut dan otak yang butuh diberi makan, tetapi juga batin? 

    Memberi makan batin salah satunya dengan melatih welas asih. Sejatinya, welas asih ada di dalam diri kita. Ketika ketidakadilan terjadi, secara naluri kita terdorong untuk melawan dan menolong. Hal itu karena kita lahir dari kerentanan, kegelisahan batin, dan kebutuhan yang sama. Welas asih muncul akibat dari “kemarahan” yang menolak diam melihat penderitaan sesama. Sadar bahwa perjuangan masih jauh dari selesai, perlawanan pun terus berlanjut. Turun ke jalan, vokal di media sosial, dan menyebar poster “warga jaga warga” seharusnya dilihat sebagai bentuk dari memperjuangkan welas asih. Kendati demikian, welas asih itu masih tak berjalan sebagaimana mestinya di kehidupan kolektif kita. Ia lebih sering dianggap sebagai bentuk pasrah dan kelemahan.

    Dalam ajaran Buddha, welas asih termasuk dalam kelompok sifat yang disebut “Catur Brahmawihara”, yang berarti empat kemuliaan tanpa batas. Empat kemuliaan itu meliputi  Upeksha (keseimbangan batin), Maitri (cinta kasih tanpa batas), Karuna (welas tanpa batas), dan Mudita (sukacita tanpa batas). Sejalan dengan itu, buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas memuat panduan dasar memeditasikan empat kemuliaan batin yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, membawa buku ini ke ruang krisis yang penuh suram adalah penguat bersama untuk membangun kembali solidaritas antarwarga. Ia juga fondasi untuk menumbuhkan rasa empati yang hilang dan cara untuk memperjuangkan hak asasi. 

    Memeditasikan Upeksha
    Selama seseorang tidak memiliki keseimbangan batin dan memiliki klesha kemarahan dan kebencian, maka orang itu masih berada di dalam penderitaan.

    Mula-mula, yang harus dikembangkan adalah keseimbangan batin. Tujuannya agar kita bisa melihat semua makhluk setara. Contoh melatih batin yang seimbang bisa dimulai dengan mengesampingkan ego, kemelekatan, dan kebencian. Di keseharian, praktik nyatanya adalah dengan mengendalikan diri untuk tidak marah-marah ketika terjebak kemacetan karena aksi demonstrasi warga. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang turun ke jalan sejatinya sedang berjuang demi menuntut hak hidup kita juga.

    Memeditasikan Maitri
    Maitri atau cinta kasih adalah kualitas kedua setelah upeksha. Pada langkah ini, kita menempatkan semua makhluk layaknya ibu-ibu kita. Dalam Buddhisme, melihat semua makhluk sebagai ibu-ibu kita lahir dari keyakinan bahwa semua makhluk dalam kehidupan lampaunya pasti pernah menjadi ibu yang penuh cinta dan naluri untuk merawat kehidupan. Ibu juga dipandang sebagai sosok teladan cinta kasih yang universal. 

    Ciri khas dari maitri sendiri adalah keinginan tulus untuk melihat semua makhluk berbahagia. Di tengah impitan ekonomi, maitri bisa dipraktikkan dengan niat dan secara sadar memilih untuk melariskan dagangan UMKM atau berbelanja di pasar tradisional. Tujuannya untuk memastikan bahwa sesama kelas pekerja, mereka bisa makan dan punya harapan untuk menyambung hidup. 

    Memeditasikan Karuna
    Karuna berarti welas asih. Berbeda dengan maitri, ciri khas karuna adalah batin yang menolak diam ketika melihat makhluk lain menderita. Di tengah krisis, karuna hadir dalam wujud nyata dengan membantu massa aksi yang ditindas atau ditahan ketika aksi di jalan, membantu memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas dan kelompok minoritas di tengah krisis, turut vokal baik secara langsung maupun bersuara di media sosial terkait dampak melemahnya rupiah terhadap kelangsungan hidup seluruh masyarakat, terutama buruh kecil dan petani, dan sebagainya.

    Karena berkaitan dengan tatanan sosial atau sistem keadilan, welas asih pada titik ini bersifat universal dan objektif. Sebagai sesama warga dan kelas pekerja yang terkena dampak dari penindasan negara, kita tahu betul bahwa semua makhluk sama menderitanya. Melawan ketidakadilan artinya memperjuangkan welas asih. Tidak peduli suku, agama, jenis kelamin, status sosial, dan orientasi seksual—jika dihubungkan, welas asih dan keadilan punya tujuan yang sama, yakni menghapus penderitaan akibat tindakan semena-mena tanpa tebang pilih.

    Memeditasikan Mudita
    Selanjutnya mudita, yaitu sukacita tanpa batas. Dengan turut bersukacita melihat keberhasilan makhluk lain, kita sudah melatih diri untuk membunuh rasa iri dan saling menjatuhkan di masa krisis. Sebagai contoh, turut senang ketika melihat dagangan pedagang kecil ludes terjual atau merasa lega ketika sekelompok massa aksi yang dikriminalisasi akhirnya dibebaskan. Dengan mengapresiasi perjuangan mereka, kita sudah memperkuat napas perlawanan dan merawat kehidupan banyak makhluk.

    Pada akhirnya tujuan melatih empat kemuliaan batin adalah agar kebebasan bersama itu bisa diraih dan perpecahan antarwarga akibat konflik horizontal perlahan-lahan bisa diatasi. Namun, praktik kemuliaan batin itu tidak akan pernah utuh jika empati berhenti pada manusia saja. Layaknya manusia, hewan dan tumbuhan juga adalah makhluk yang harus dijaga. Mereka sama-sama ingin mendapatkan ruang hidup yang aman. Sekecil tidak mengusir paksa dan berbuat kasar kepada hewan jalanan, memberi minum dan sisa makanan layak untuk hewan kelaparan, dan tidak merusak alam—kita sudah melatih diri untuk menghormati kehidupan makhluk lain. Menyadari bahwa nyawa makhluk hidup yang paling kecil dan lemah sekali pun sama berharganya dengan nyawa manusia.

    Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas adalah tamparan untuk kita semua di tengah krisis Indonesia saat ini. Ia seakan menodong kita dengan sebuah pertanyaan: kita membenci penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan negara, tetapi apakah kita sendiri sudah bersikap adil terhadap sekitar? Jawabannya tentu tidak. Tanpa sadar, kita justru melanggengkan represi tersebut. Penderitaan kolektif yang dirasakan sampai hari ini tak pelak menjadikan kita makhluk egois. Karena realitas sosial itu sudah mengeringkan nurani dan empati, maka batin kita perlu dilatih. Bukan untuk memberi toleransi atas ketidakadilan, tetapi sebagai bentuk perjuangan untuk menghapus penindasan. 

    buddhisme catur brahmawihara lamrimnesia
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleKita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?
    Iqa Kinanti Nandakasih

    Related Posts

    Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala

    Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu

    Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Leaderboard Ad
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    July 2, 2026

    Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan

    June 30, 2026

    Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?

    June 19, 2026

    Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis

    Store
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.