
“Apa itu Bodhisatwa? Kenapa ia lahir dengan banyak rupa?”
Setidaknya dua pertanyaan di atas berkelindan di kepala penulis ketika membaca kisah demi kisah buku anak Jataka Mala. Diterbitkan oleh Penerbit Saraswati pada tahun 2016, buku anak setebal 95 halaman ini berasal dari teks asli berjudul Jātakamālā or A Garland of Birth Stories yang disusun oleh Marie Mesaeus-Higgins dan diterjemahkan oleh Stanley Khu.
Sebagai salah satu kesusastraan kanon Buddhisme, Jātaka merangkum kisah kelahiran lampau Siddhartha Gautama dalam berbagai rupa, mulai dari pengelana, seorang raja, hingga hewan ketika masih menjadi Bodhisatwa, yaitu makhluk yang menempuh perjalanan spiritual panjang demi membebaskan semua makhluk dari penderitaan.
Berasal dari tradisi lisan India, Jātaka (berarti ‘kelahiran’) ditulis dalam bahasa Pali sebagai bagian Kitab Tripitaka. Kisah tersebut juga diabadikan pada 500 panel relief Candi Borobudur, yang bersumber dari Jātaka-mālā versi Āryaśūra dalam bahasa Sanskerta klasik. Melalui keahliannya pada bidang sastra dan filsafat, Āryaśūra menjadi pelopor yang menggunakan bahasa Sanskerta klasik sebagai media penyebaran ajaran Buddha. Warisan ini terus lestari melalui berbagai saduran, seperti buku anak Jataka Mala.
Buku yang ditujukan untuk anak-anak ini memicu sebuah pengalaman membaca yang baru bagi penulis, yaitu pengalaman refleksi personal untuk menempatkan diri bukan sebagai pembaca dewasa yang serba tahu, melainkan sebagai seorang anak yang baru pertama kali belajar mengeja makna tentang kebajikan, kebijaksanaan, dan welas asih tanpa batas.
Melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi bagaimana sebuah sastra kanon Buddhis memiliki relevansi nilai-nilai humanisme bagi mereka yang berdiri di luar lingkaran tradisinya. Buku ini mungkin boleh saja dilihat sebagai buku anak, tetapi penulis melihatnya justru lebih dari itu. Sebagai pembaca lintas iman, buku Jataka Mala adalah salah satu bacaan pembuka yang tepat untuk seseorang yang ingin belajar memahami esensi kebajikan dan kebijaksanaan dalam perspektif Buddhisme. Alurnya yang sederhana dan tanpa beban bahasa yang pretensius, ketidaktahuan penulis sebagai orang awam tidak lagi menjadi pembatas, melainkan sebuah kesempatan untuk belajar dari nol.
Kita acap kali dihadapkan dengan beban sosial untuk selalu terlihat paham, kritis, dan analitis terhadap segala hal. Tuntutan teoretis tersebut membuat kita sadar tak sadar membaca sesuatu dengan dahi berkerut seolah-olah setiap teks adalah ujian intelektual yang harus dipecahkan. Dengan buku anak Jataka Mala yang menghadirkan sepuluh untaian kisah kehidupan lampau Buddha, penulis diizinkan untuk menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa dan ketidaktahuan tersebut adalah sesuatu yang tidak apa-apa, sesuatu yang manusiawi.
Bagi penulis, menempatkan diri sebagai pembaca yang setara dengan anak kecil memberikan sensasi membaca yang membebaskan. Di sini, penulis tidak sedang dituntut untuk menganalisis doktrin atau berkutat dengan perbandingan dogma yang kaku. Dengan bahasanya yang membumi, penulis hanya duduk, menyimak, dan membiarkan diri mengikuti alur setiap kisah Bodhisatwa. Terlebih, alih-alih memaksakan diri membaca dengan kacamata orang dewasa atau serba tahu, menjadi layaknya seorang anak yang baru belajar adalah posisi paling tepat untuk mendeskripsikan kapasitas pengetahuan penulis dalam hal ini.
Di salah satu kisahnya, Bodhisatwa menjelma seekor gajah putih yang hidupnya di hutan. Suatu hari ia menemukan sekumpulan manusia kelaparan yang diusir oleh seorang raja dari negerinya. Sifat penyayang dan penolongnya kepada makhluk lain dipancarkan melalui pengorbanannya menjadikan tubuhnya sendiri sebagai makanan untuk para manusia kelaparan tersebut. Jika melihat di kehidupan kita sehari-hari, tentu keteladanan semacam itu sulit untuk diterapkan. Namun, yang bisa dipetik dari Kisah Gajah Putih adalah ketika satu makhluk yang sedang mengalami kesulitan tetap bersedia mengulurkan tangan untuk makhluk lainnya, sejatinya yang ia berikan bukan sekadar bantuan, tetapi cinta kasih yang tulus.
Selanjutnya adalah Kisah Mahabodhi, yaitu ketika Bodhisatwa dalam salah satu kehidupannya adalah seorang pertapa bernama Mahabodhi. Ia meninggalkan keduniawian dan memilih mengajarkan ilmu pengetahuan selama ia menjadi pengelana. Dengan kecerdasan, penuh belas kasih, dan nilai-nilai kebenaran yang dimilikinya, Mahabodhi menjadi sosok yang dihormati. Selama ia berkelana, Mahabodhi sempat hidup sementara bersama seorang raja untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada raja tersebut dalam tugasnya memimpin rakyat. Hal itu lambat laun menimbulkan rasa iri dalam diri para menteri dan penasihat raja. Mahabodhi kemudian difitnah, tetapi ia tidak membalas perlakuan jahat tersebut. Mahabodhi justru memberikan pengajaran kebajikan terakhir tanpa setetes kebencian dan dendam sebelum ia akhirnya kembali ke tempat asalnya. Kisah ini layaknya cermin bagi kita bahwa setinggi apa pun kecerdasan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, semua itu tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan prinsip kejujuran, kerendahan hati, dan belas kasih terhadap sesama makhluk.
Menerjemahkan teks Jātaka ke dalam dongeng anak Jataka Mala adalah bentuk kepedulian literasi yang langka dan bukan hal mudah. Labelnya sebagai buku anak pun secara tidak langsung menjadikan buku ini dapat dinikmati oleh orang awam non-Buddhis. Narasinya mengalir tanpa belitan teori rumit dan bahasa yang sulit dijamah. Dengan berbagai rupa Bodhisatwa, inti pesannya sama, yaitu motivasi untuk menyebarkan kebajikan dan welas asih guna membebaskan semua makhluk dari penderitaan.
Dari contoh kisah di atas, buku ini adalah perenungan tentang apa artinya menjadi manusia di dunia modern yang semakin transaksional. Di zaman sekarang, kita sering hanya mengukur kebaikan dan hubungan terhadap sesama makhluk berdasarkan untung-rugi. Namun, kisah-kisah Bodhisatwa dalam buku ini menyajikan sudut pandang yang berbeda. Sebuah ketulusan murni tanpa batas yang mengutamakan kebahagiaan makhluk lain. Narasi pengorbanannya tidak terasa seperti doktrinasi yang memaksa, tetapi sebuah ajakan untuk siapapun, dari latar belakang iman mana pun untuk merefleksikan kembali kadar kepedulian kita terhadap sesama makhluk hidup.
Pada akhirnya, pengalaman membaca dongeng Jataka Mala meninggalkan refleksi personal bagi penulis sebagai pembaca lintas iman. Nilai-nilai kebajikan yang ditawarkan, seperti kesabaran, kebijaksanaan, kemurahan hati, kejujuran, dan melihat semua makhluk dengan setara adalah bahasa universal yang tidak membutuhkan paspor keagamaan tertentu untuk bisa dipahami. Kisah-kisah kelahiran lampau Buddha tersebut mengajak kita untuk menyadari bahwa merawat welas asih adalah tanggung jawab kita bersama setiap hari untuk merawat kehidupan banyak makhluk.