Bagaimana membedakan validasi emosi yang sehat dan yang berbahaya? Berikut penjelasannya dari sudut pandang psikologi Buddhis.
Browsing: Featured
Featured posts
Di tengah krisis global dan ketidakpastian zaman, NDBF 7.0 merangkul berbagai komunitas dan seniman akar rumput Bandung guna merawat harapan dan memperkuat solidaritas.
Kota Bandung terpilih menjadi tempat diselenggarakannya acara Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) ke-7. Acara yang…
Di mana batas antara self-compassion dan self-pity? Buddhisme memberi definisi jelas kapan kita sedang mengasihi diri sendiri atau mengasihani diri sendiri!
Kita mendambakan bahagia, tapi yang kita berikan kepada sesama justru derita. Wisdom of Happiness, sebuah dokumenter perjalanan panjang Dalai Lama XIV untuk memperjuangkan negerinya dan kemanusiaan.
Takut melambat, takut menjadi biasa-biasa saja, takut nilai diri menjadi kecil. Inilah duka! Melalui Empat Kebenaran Arya, Buddha mengurai siklus penderitaan setiap makhluk dan cara mengakhirinya.
Menangis selagi memukul, menghancurkan tanpa membenci. Menelisik kisah Gyōmei Himejima dalam Demon Slayer, apa sebenarnya makna kekerasan berlandaskan welas asih?
Merenungkan kematian itu perlu, tetapi sehatkah jika terus-menerus berpikir bahwa kita akan mati? Jika Hidupku Tinggal Sehari, sebuah buku filsafat Buddhisme yang dibaca dengan penuh benturan batin.
Bagaimana jika seandainya melatih empat kemuliaan batin di tengah krisis adalah cara terakhir untuk bertahan? Bukan tanda pasrah, tetapi cara untuk melawan.
Sering dipandang sinis oleh peradaban modern, nyatanya trance adalah wujud kecerdasan kolektif masyarakat adat untuk terus terhubung dengan alam dan leluhur.