Prof. Robert F. Thurman, tinggi dan menawan dengan setelan biru tua dan dasi merah-kuning nyentriknya, berjalan ke tengah panggung Carnegie Hall. Ialah seorang mantan biksu Buddha Tibet dan warga New York. Hadir sebagai presiden Tibet House, ia memperkenalkan konser amal tahunan organisasinya itu kepada khalayak ramai. Dengan candaan khasnya, ia menyebut Tahun Baru Tibet sebagai Tahun Tikus Api. Ia memuji seluruh penampil malam itu, di antaranya Michael Stipe dan Emmylou Harris, karena telah menyisipkan sebuah puisi menyentuh hati untuk orang-orang yang sedang berjuang dan menderita. Setelahnya, Thurman meninggalkan panggung. Tampak gugup ia bergandengan tangan dengan penyanyi Natalie Merchant dan Patti Smith. Dadon, seorang penyanyi balada Tibet yang telah diasingkan, menuntun mereka dalam tarian Tahun Baru Tibet. Setelah konser, Thurman bergegas naik ke lantai atas untuk memperkenalkan kepada para wartawan salah satu putrinya, seorang aktris bernama Uma Thurman, dan kepada Harrison Ford, tuan rumah dalam pesta itu. Di sana, Thurman tampil dengan penuh semangat, dikelilingi oleh bintang rock, model, bintang film, dan para donatur Tibet House.
Ketika saya bertanya bagaimana mungkin seorang Buddhis yang kesehariannya dekat dengan aktivitas meditasi bisa berhadapan dengan hiruk-pikuk seperti ini, Thurman menjawab, “Ada stereotip bahwa Buddhisme itu pasif: menanggalkan segala hal duniawi, mengasingkan diri—mati begitu saja.” Ia tertawa sambil menjelaskan tentang bagaimana meditasi juga bisa menghasilkan energi luar biasa. Thurman menikmati segala bentuk kontradiksi dalam hidupnya. Baginya, pencerahan seorang Buddhis adalah “bersabar dengan ketidaknyamanan kognitif, kemampuan untuk hidup dengan indahnya kerumitan hal-ihwal.”
Tampaknya, begitulah jalan hidup Thurman, dipenuhi oleh ketidaknyamanan kognitif. Di samping ia adalah cendekiawan yang sangat dihormati dan menjabat sebagai Profesor Je Tsongkhapa dalam Kajian Buddha Indo-Tibet di Columbia University, Thurman juga bisa tampil layaknya seorang pengkhotbah, dalam hal ini perannya sebagai penyebar ajaran Dharma. Faktanya, kini ia dikenal sebagai tokoh Buddhisme Tibet berpengaruh dan karismatik di Amerika: Ia adalah seorang penerjemah dan penulis yang produktif (“Essential Tibetan Buddhism,” merupakan antologi naskah-naskah penting yang ia terjemahkan dan telah diterbitkan di HarperCollins), yang vokal menggaungkan kemerdekaan Tibet dan menjadi penghubung bagi Dalai Lama dengan budaya Amerika.
Di San Fransisco belum lama ini, dia berbicara selama empat jam sepanjang makan siang sampai suara penyedot debu menyadarkan kami bahwa restoran itu sudah kosong oleh pengunjung. Kami lalu melanjutkan berkeliling kota dengan Mustang merah yang ia sewa, dan ia kembali membahas Dharma, ajaran Buddha, selama tiga jam di California Institute for Integral Studies. Kuliah-kuliah yang ia berikan bak lakon psikologis dengan vokal berlapis. Prof. P. Jeffrey Hopkins dari University of Virginia, kolega Thurman dan sesama penerjemah, menjulukinya sebagai “Red Skelton-nya Buddhisme Tibet.”
Rambut merah bergelombangnya yang menyibak sampai ke belakang kupingnya bak sayap menutupi kepalanya yang besar. Jika diperhatikan, mata kanannya sering bergerak-gerak, sementara yang kiri diam menatap lurus ke depan. Berikan satu pertanyaan dan dengan suara khas Thurman yang sengau dan melengking itu, ia bisa berorasi panjang lebar ke mana-mana. Contohnya ketika membahas Buddha setelah masa pencerahannya: “Ia bagai medan energi yang bergelora. Seluruh tubuhnya berwarna emas. Apa kalian tahu sehelai rambut putih yang ada di bagian mata ketiganya? Layaknya transistor, itu aktif dengan sendirinya dan—zzzzzz—cahayanya memancar ke segala arah.”
Di usianya yang ke-54 tahun, Thurman seakan punya energi semacam itu. Natalie Merchant, sahabat baik di keluarganya, mengenang bagaimana Thurman mampu memindahkan sebuah batu besar sendirian dari kampung halamannya di Woodstock, New York. Putranya, Dechen, juga ingat betul ketika ayahnya memanjat pohon sambil memegang gergaji untuk memotong dahan yang sudah hampir menerobos jendela. “Dulu ia seorang biksu, dan biksu harus mengikrarkan 252 sumpah” kata istrinya, Nena von Schlebrugge-Thurman. Ia adalah bendahara Tibet House. “Dan banyak dari sumpah itu berhubungan dengan keharusan untuk tidak memikirkan diri sendiri dan senantiasa hadir untuk membantu orang lain. Akibatnya, ia punya kebiasaan buruk untuk selalu mengiyakan segala hal. Seluruh keluarga selama bertahun-tahun melakukan berbagai cara agar ia mengurangi kebiasaan itu. Ia sudah jauh lebih baik sekarang.”
Mungkin saja. Terbukti selama dua tahun terakhir Thurman menerbitkan karya terjemahan barunya berjudul The Tibetan Book of the Dead, menulis untuk buku bergambar “Inside Tibetan Buddhism”, dan “Essential Tibetan Buddhism”. Satu buku lagi tentang politik Tibetan sedang dalam proses pengerjaan. Beberapa tahun sebelumnya, ia turut membantu dalam penyelenggaraan pameran seni keliling Tibet dengan tema “Kebijaksanaan dan Welas Asih”.
Thurman mengatakan bahwa ia percaya bahwa ajaran Buddhisme Tibet—sebagaimana yang dipraktikkan Dalai Lama selama hidupnya—dapat membantu umat manusia. Salah satu yang menjadi semangat hidup Thurman adalah Tibet House. Atas permintaan langsung Dalai Lama, ia mendirikannya tahun 1987 bersama aktor Richard Gere dan dua orang lainnya. Sebagai negara yang sedang dijajah, tempat itu berfungsi layaknya kedutaan budaya. Di samping itu, Tibet House juga sedang membangun sebuah museum tanpa dinding yang berisi perpustakaan dan arsip karya seni dan benda-benda ritual yang sewaktu-waktu dapat dikembalikan ke Tibet, serta mensponsori konferensi perdamaian yang akan dihadiri Dalai Lama di California.
Di masa mudanya, Thurman merasa tak perlu banyak ikut campur terkait perjuangan politik Tibet. “Saya pikir bahwa Tibet sudah berbaik hati menjaga ajaran Dharma dari India dan mewariskannya kepada saya,” katanya, “Lalu sekitar 15 tahun yang lalu saya sadar bahwa betapa egoisnya pemikiran tersebut. Saya lalu memutuskan untuk balas budi dengan mencoba membantu menarik perhatian dunia atas ketidakadilan luar biasa yang mereka alami.”
Dengan kecerdasan, keahlian, dan koneksinya dengan orang-orang mentereng, bisa dikatakan Thurman memenuhi kualifikasi untuk mengemban tanggung jawab tersebut. Namun, di masa mudanya, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai biksu yang tidak menikah. Seperti yang ia ceritakan, di usianya 20 tahun kala itu, tekadnya untuk menanggalkan segala hal duniawi sama besarnya dengan keinginannya sekarang untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
Thurman tumbuh di keluarga penuh romansa dan drama. Ibunya, Elizabeth Farrar, putus kuliah demi mengejar mimpinya sebagai aktris. Ayahnya, Beverley, meninggalkan studi doktoralnya di William and Mary demi menyusul Elizabeth ke New York dan bekerja sebagai editor untuk Associated Press. Augustin Duncan, saudara laki-laki penari Isadora Duncan, rutin mengadakan acara pembacaan naskah drama di rumah keluarga Thurman. Robert dan saudara-saudaranya ikut serta bersama para tamu seperti Laurence Olivier. Di sisi lain, Thurman suka diam-diam membaca komik dan menyembunyikannya di balik buku Shakespeare. Bulan April di tahun terakhir SMA-nya di Phillips Exeter, ia dan seorang temannya kabur untuk bergabung dengan Fidel Castro, seorang gerilyawan masa Revolusi Kuba. Kata Thurman, demi keberlangsungan revolusi, mereka dipulangkan saat tiba di Miami. Gara-gara itu, Thurman pun dikeluarkan dari sekolahnya dan ia harus menunggu setahun di Meksiko sebelum akhirnya diterima di Harvard tahun 1959.
Di tahun yang sama pada musim semi, ia menikahi Christophe de Menil, seorang ahli waris dan kolektor seni. Di akhir musim semi tahun 1961, sebuah besi pencongkel ban meleset menghantam mata kiri Thurman hingga hancur ketika ia sedang mengganti ban mobilnya. Inilah yang menjadi titik baliknya: Thurman tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk minum sampanye mahal dan memandangi lukisan-lukisan mewah. Ia bertekad untuk menemukan jalan spiritualnya. Tekadnya itu terinspirasi dari filsafat Nietzsche dan naskah-naskah Buddha yang ia baca. “Saya sudah siap pergi ke Timur,” katanya. “Tetapi istri saya cemas. Akhirnya, saya melakukan apa yang dilakukan Sang Buddha: meninggalkan istri dan anak saya, lalu pergi ke sana. Memang rasanya sangat menyedihkan, tetapi saya merasa bahwa sebagai seorang ayah sekali pun, apa gunanya hidup jika tidak mencapai pencerahan?”
Keluar dari Harvard dan berkelana menuju India melintasi Turki dan Iran, penampilan Thurman tampak seperti pengemis. Ibunya mengira ia sudah gila, tetapi ayahnya yang sangat mengagumi tokoh spiritual Santo Fransiskus justru membela keputusannya. “Kamu melakukan apa yang selama ini selalu ingin kulakukan,” kata sang ayah.
“Gaya saya memang sudah mirip Santo Fransiskus kala itu,” renung Thurman. “Satu mata saya bolong, rambut gondrong, dan janggut acak-acakan. Celana saya hitam gombrang khas Afganistan, berbaju kaos oblong berbalut selendang putih dan sandal kulit.” Di India, ia dipekerjakan untuk mengajar bahasa Inggris kepada para tulku di pengasingan, yakni para biksu muda yang diyakini sebagai reinkarnasi tokoh suci Tibet. “Saya merasa seperti di surga, karena begitu saya bertemu orang-orang Tibet, saya tahu bahwa mereka memiliki sesuatu yang saya cari.”
Namun, Thurman harus pulang ke New York karena ayahnya meninggal mendadak. Ia kemudian mengunjungi sebuah biara Buddha di Freewood Acres, New Jersey. Ia bertemu dengan guru spiritual pertamanya, seorang biksu Mongolia berusia 61 tahun bernama Geshe Ngawang Wangyal. Geshe adalah gelar akademis tingkat tinggi untuk biksu. Thurman sangat tersentuh oleh kedalaman yang tenang dari sosok biksu tersebut dan mulai belajar darinya. “Seperti sebuah kelahiran kembali bagi saya,” tuturnya, “Saya bisa berbicara bahasa Tibet dengan fasih hanya dalam 10 minggu.”
Thurman membantu gurunya membangun kuil. Ia rajin bermeditasi. “Saya tidak bilang saya langsung mencapai nirwana—sampai sekarang pun saya tidak tahu apa itu nirwana—tetapi saya merasakan kelegaan yang luar biasa,” katanya. “Saya masih punya banyak sifat egois yang buruk, salah satunya adalah sangat terobsesi untuk menjadi biksu karena saya ingin hidup seperti itu selamanya.”
Meskipun Geshe Wangyal menasihatinya agar tidak mengambil jalan itu, beliau tetap bersedia membawa Thurman bersamanya ke Dharamsala, India. “Karena kamu sangat keras kepala, akan kuberitahu Dalai Lama bahwa kamu ingin menjadi biksu,” kata gurunya. “Siapa tahu dia pikir itu ide yang bagus.”
Di sanalah terjalin sebuah hubungan yang luar biasa. Saat itu Thurman berusia 23 tahun, sedangkan Dalai Lama ke-14 berusia 29 tahun.
“Sebetulnya kamu tidak belajar langsung dengan Dalai Lama,” kata Thurman. “Jika dirimu berada di bawah pengawasannya, beliau akan menugaskan guru-guru yang ia pilih untuk mengajarimu. Beliau ingin bertemu dengan saya dan belakangan saya baru sadar bahwa hal itu bukan untuk memberi saya pengajaran, tetapi karena saya bisa berbahasa Tibet. Pada dasarnya, selama satu setengah tahun itu beliau ingin tahu tentang apa yang sudah saya pelajari selama di Exeter dan Harvard. Kami bertemu seminggu sekali. Setiap kali saya bertanya ‘Bagaimana dengan pemikiran filsafat Buddhisme Mahayana ini?’ Beliau menjawab: ‘Oh, tanyakan ke guru ini atau guru itu tentang hal itu. Sekarang coba jelaskan ke saya apa itu teori Freud? Bagaimana dengan fisika? Ceritakan apa yang kamu tahu tentang sejarah Perang Dunia II?’”
Ditahbiskan langsung oleh Dalai Lama pada tahun 1965, Thurman menjadi orang Barat pertama yang menjadi biksu Buddha Tibet. Ia kembali ke New York dengan kepala botak dan jubah merah marun. “Setelah melihat foto saya ketika masih menjadi biksu, putriku, Uma, berkata, ‘Ayah mirip Henry Miller yang sedang memakai baju perempuan.’” Fase menjadi biksu itu hanya bertahan selama satu tahun. Suatu waktu Geshe Wangyal bertanya pada Thurman apakah dunia benar-benar membutuhkan atau sekadar menginginkan biksu kulit putih. “Beliau meyakinkanku bahwa alternatifnya adalah menjadi biksu Protestan,” kata Thurman. “Seorang profesor, maksudnya.”
Di sebuah pesta di New York, Thurman kemudian bertemu Nena von Schlebrugge, mantan istri Timothy Leary. Menikah pada tahun 1967, kini mereka memiliki empat orang anak dan tinggal di Manhattan, tak jauh dari Columbia. Thurman kembali ke Harvard untuk menyelesaikan studinya dan melanjutkan program pascasarjana di Departemen Kajian Bahasa Sanskerta dan India. “Saya yang mendirikan jurusan Buddhologi di sana” katanya. “Saya hanya menuliskannya di formulir dan mereka bilang, ‘Kami tidak punya jurusan ini di sini, tetapi oke, sepertinya ini bisa dipertimbangkan.’”
Buddhisme Tibet, Zen, dan Theravada adalah yang paling populer di kalangan orang-orang Barat saat ini. Di antara ketiganya, bisa dikatakan Buddhisme Tibet adalah yang tersulit dan paling eksotis, dengan penekanan pada sujud, visualisasi, pemujaan guru, dan yoga istadewata, di mana para praktisi mengidentifikasikan dirinya dengan para istadewata ini sebagai jalan menuju tingkatan kesadaran yang lebih tinggi. Sekarang Buddhisme Tibet terdiri atas empat kelompok utama, di antaranya Geluk, aliran Dalai Lama yang dipandang sebagai aliran yang paling filosofis dan ilmiah.
Kontribusi besar Thurman terhadap pemahaman akan Buddhisme Tibet adalah karya terjemahannya yang berjudul “The Essence of True Eloquence”, karya cendekiawan Je Tsongkhapa dari abad ke-14. Terjemahannya itu diterbitkan dengan tajuk “The Central Philosophy of Tibet”. Thurman kembali ke India pada tahun 1970 untuk mengerjakan proyek tersebut, menghabiskan waktu selama berjam-jam dengan Dalai Lama yang memberikan catatan-catatan pribadinya. Thurman membicarakan aktivitas penerjemahan dalam istilah Tibet lotsawa, yang berarti “mata dunia”, atau jendela untuk melihat dunia yang baru.
Bagi beberapa pengamat, “mata dunia” Buddhisme ini menjadi pembaharu dan berkembang di Barat selama kurun waktu 30 tahun terakhir. Buddhisme Tibet banyak terbantu dengan sumbangsih para profesor pelopor, seperti Thurman dan Jeffrey Hopkins yang dinilai berhasil dalam menjalankan program pascasarjana bidang studi Buddhisme Tibet. Kini, muncul pakar literatur Tibet dari generasi baru dan penerbit-penerbit besar pun secara konsisten memproduksi terjemahan dari teks-teks Dharma Tibet.
Berkat Dalai Lama, ketertarikan masyarakat terhadap ajaran ini meningkat. Para guru Tibet pun turut andil untuk membawa pengaruhnya di dunia Barat, termasuk Chogyam Trungpa yang mendirikan Naropa Institute di Boulder, Colo, dan Sogyal Rinpoche, penulis dari karya populer “The Tibetan Book of Living and Dying”. Kesuksesan Tricycle: The Buddhist Review, sebuah majalah yang membahas ajaran Buddha beserta profil tokoh-tokohnya, juga ikut berkontribusi dalam pergerakan ini.
Namun, setiap pergerakan pasti menimbulkan huru-hara. Donald S. Lopez, seorang profesor Kajian Buddha dan Tibet di University of Michigan dan penulis “Prisoners of Shangri-la”—buku yang membahas pengaruh Buddhisme Tibet di negara Barat, menjadikan katalog jualan J. Peterman sebagai contoh: “Mereka jualan jaket yang diberi nama dukun Tibet. Di baris pertama iklannya bilang: ‘Sudah jelas. Sekarang bukan zamannya lagi batu kristal, tetapi Buddhisme Tibet.’”
Buddhisme Tibet pun menarik hati banyak selebriti, misalnya Richard Gere yang bekerja sebagai anggota dewan International Campaign for Tibet, sebuah kelompok gerakan politik di Washington. Gere sering berkunjung ke Dharamsala dan merupakan murid yang tekun dari Dalai Lama. Meski begitu, di antara selebriti yang datang ke acara penggalangan dana Tibet House, hanya sedikit yang benar-benar merupakan praktisi Buddhis, seperti yang mereka tegaskan. “Hanya karena orang-orang ingin membantu Tibet, bukan berarti mereka semuanya adalah Buddhis”, kata Thurman.
Sebagai seorang cendekiawan, Thurman mengkritik banyaknya pandangan keliru yang populer tentang Buddhisme. Sebagai contoh, ia mengutip sebuah artikel majalah Tricycle yang ditulis oleh Helen Tworkov sekaligus editor majalah tersebut pada tahun 1992. Dalam artikelnya, Tworkov dalam pemahamannya menulis bahwa Buddhisme sangat menekankan ajaran anti-aborsi, tetapi di saat yang sama ia juga memaparkan “Ajaran Dharma bisa dipakai untuk membenarkan dukungan maupun tantangan terhadap aborsi.” Menurut Thurman, “Itu adalah pandangan yang salah. Aborsi itu mengambil nyawa makhluk hidup. Para konservatif sudah benar secara emosi, membunuh janin sama dengan pembantaian massal dan isu ini bukan sesuatu yang abu-abu.”
Kebingungan semacam itu banyak muncul di orang Barat karena mereka melihat Buddhisme tidak jauh-jauh hanya seputar praktik meditasi. “Orang-orang Barat yang anti Kristen atau anti Yahudi berpikir bahwa ajaran Buddha lebih fleksibel karena tidak punya aturan yang ketat,” kata Thurman. “Jelas itu salah. Dalam Buddhisme, fondasi dasar meditasi sendiri adalah sistem moral yang kokoh.”
Pada dasarnya, Buddhisme adalah sebuah sistem pendidikan, Dan sistem biara masih menjadi penemuan terhebat Sang Buddha di bidang sosial. Sistem biara ini memungkinkan pencarian spiritual sebagai alternatif yang sahih dari ambisi militer dan merawat revolusi keagamaan anti-kekerasan di India. Tibet kemudian menjadi pusat pembelajaran terkait kebiaraan dan filsafat ketika Buddhisme berusaha dimusnahkan dalam invasi Muslim di India pada abad ke-8 hingga ke-12.
Menurut Thurmin, puncak kejayaan Buddhisme terjadi pada masa pemerintahan Dalai Lama ke-5 pada tahun 1642, dikenal juga dengan julukan “The Great Fifth”. “Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Buddhisme, pemimpin agama mengemban peran penting dalam negara,” seperti yang ditulis Thurman dalam “Essential Tibetan Buddhism”. Sistem militer perlahan dihapuskan dan selama tiga abad, tercipta kedamaian di sekumpulan masyarakat yang secara sukarela menanggalkan senjatanya. Sebagian akademisi, termasuk Donald Lopez, menilai adanya bahaya dari terlalu mengidealisasikan sejarah Tibet. Meski begitu, Thurman tetap pada pendiriannya. Ia mengatakan bahwa dia yakin pada Dalai Lama saat ini sedang mengangkat ajaran Buddha ke ranah global.
Hubungan yang terjalin antara Thurman dan Dalai Lama begitu hangat dan mendalam. Saya melihat mereka bersama pada tahun 1990 di Dharamsala. Saat itu sedang ada pertemuan antara Dalai Lama dengan para pendeta dan cendekiawan Yahudi. Di saat masyarakat Tibet memperlakukan pemimpinnya dengan penuh hormat, Thurman terang-terangan senang berkelakar, membuatnya tertawa, bahkan berani menyindir seorang guru Buddha itu karena terlalu rendah hati.
Thurman merasa bahwa Dalai Lama yang tidak pernah menggunakan kekerasan dalam perjuangannya untuk Tibet justru melahirkan definisi baru tentang kepahlawanan. Di era senjata nuklir dan perang teknologi sekarang, pahlawan adalah mereka yang punya kekuatan untuk menahan diri tidak meledak dalam kemarahan dan kebencian. Thurman menegaskan, “Itulah yang terus digaungkan Dalai Lama untuk dunia ini.”
Balik ke acara konser di Carnegie Hall, Thurman memberi pesan yang sangat jelas tentang arti “kepahlawanan yang keren”: “Kita yang mengaku menginginkan perdamaian tidak seharusnya memberikan penghargaan pada kekerasan. Kita harus memberikan penghargaan kepada mereka yang menjadikan perdamaian sebagai jalan sekaligus tujuan mereka.”
Di tengah riuhnya alunan musik pesta malam itu, saya kembali teringat pada sosok pemuda yang berkelana ke India untuk menjadi biksu dengan bertelanjang kaki dan celana gombrang Afganistannya. Dengan jadwalnya yang kini kian padat, mulai dari mengajar, menulis, dan aktif dalam gerakan hak asasi—tidakkah ia merindukan hidup yang sepi nan tenang?
“Ada banyak kualitas dalam dirimu yang tidak akan bisa tumbuh jika kamu hanya bermeditasi jauh dari keramaian…” teriak Thurman. “Kamu harus keluar ke tempat orang bisa mengganggu dan melukaimu. Lalu kamu harus menerima dan bersabar menghadapi luka itu. Seperti yang dikatakan Dalai Lama, jika tidak ada musuh, kamu tidak bisa melatih kesabaran. Dan jika tidak ada orang yang butuh pemberian, kamu tidak bisa melatih kemurahan hati.”
Seorang donatur besar menghampiri dan Thurman balik menyambutnya. “Menjadi seorang Buddhis bukan berarti harus lari dari dunia ini,” dari balik bahunya ia berseru. “Itu berarti…”, dan apapun kalimat selanjutnya yang ingin ia katakan, ia perlahan hilang, seakan tertelan dimakan oleh kerumunan pesta.
