Dharma Membawa Kebahagiaan, Percaya Nggak?

0

oleh Silvi Wilanda

Sebagai umat Buddha tentunya kita tidak asing lagi dengan kata “Dharma”. Tapi, sebenarnya apa sih Dharma itu? Beberapa dari kita mungkin memahami Dharma sebagai ajaran Buddha, beberapa yang lain mungkin memahami Dharma sebagai salah satu perlindungan dalam Triratna, atau hukum kebenaran, dan lain sebagainya. Namun, bisakah kita menjelaskan lebih lanjut apa itu Dharma? Kita tahu Dharma adalah ajaran Buddha, perlindungan dalam Triratna, ataupun hukum kebenaran; terus kenapa? 

Kita dapat mengaku-ngaku berlindung pada Dharma dan giat “praktik Dharma”, tapi ternyata tidak tahu sebenarnya Dharma itu apa. Atau bahkan misalnya kita juga bisa saja sama sekali tidak mencoba mempraktikkan Dharma karena memang tidak tahu Dharma itu apa. Agar “sah” sebagai seorang Buddhis dan “Dhammam Saranam Gacchami” yang kita lafalkan bukan omong kosong semata, kita harus memahami apa itu Dharma dan fungsinya bagi hidup kita. Setelah memahami hal ini, kamu nggak cuma bakal makin bangga jadi seorang Buddhis, tapi juga tahu cara bikin kualitas hidupmu lebih baik! Apalagi bagi remaja Buddhis yang masih muda-muda… Wajib banget memahami apa itu Dharma agar waktu dan tenagamu bisa dimanfaatkan sebaik mungkin! Yuk check this out…

Apa sih “Dharma” itu?

Di dalam kitab “Pembebasan di Tangan Kita” Jilid II bagian pembahasan Tisarana, Dharma dijelaskan memiliki kualitas untuk menghasilkan atribut-atribut dan kualitas-kualitas seorang Buddha. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Dharma menghasilkan Kebuddhaan, pencapaian pencerahan, serta pembebasan dari samsara. Meskipun demikian, Dharma juga dapat dipahami sebagai sesuatu yang muncul akibat dari kelahiran Buddha di dunia. Sederhananya, penulis sendiri memahami hal ini dengan analogi telur dan ayam. Selayaknya telur menghasilkan ayam dan ayam kembali menghasilkan telur; maka Dharma juga menghasilkan Kebuddhaan dan Buddha memunculkan kembali Dharma. 

Lebih lanjut, masih dalam sumber yang sama, tindakan Dharma adalah menyebabkan setiap makhluk terdorong untuk melenyapkan objek yang harus ditinggalkan, misalnya kemarahan, kebencian, dan berbagai kotoran batin lainnya yang membuat kita menderita. Sikap yang perlu diterapkan dan dipraktikkan ketika melihat Dharma adalah merealisasikan-Nya. Maka, Dharma juga dapat dipandang sebagai suatu ajaran yang bertujuan untuk meninggalkan segala hal tidak baik dan untuk menghimpun segala hal baik. Hal ini konsisten dengan pernyataan sebelumnya (Dharma menghasilkan pencapaian Kebuddhaan) mengingat Kebuddhaan adalah kondisi lenyapnya ketidakbajikkan; terhimpunnya seluruh kualitas kebajikan dan potensi positif; serta realisasi akan kebenaran. 

Dharma hanya sekadar teori. Apa betul?

Meskipun dijelaskan di atas bahwa Dharma adalah ajaran untuk mencapai Kebuddhaan, pencapaian pencerahan, dan pembebasan samsara (seolah-olah Dharma adalah ajaran yang jauh sekali kaitannya dengan kehidupan kita sekarang), Dharma sebenarnya sangat bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Justru sebagai umat Buddhis, mempraktikkan Dharma adalah keharusan, bukan malah menganggap Dharma sebagai “teori yang mengawang-awang” semata. 

Sebagai remaja Buddhis, kita justru harus dapat mengandalkan dan melihat Dharma untuk menyelesaikan masalah kita, baik itu galau akan masa depan dan tujuan hidup, pendidikan, persahabatan, sampai percintaan. Tentu, hal ini logis karena toh sebagai sejatinya umat Buddhis, maka sudah seyogyanya kita menyandarkan diri kepada Dharma, bukan? Caranya gimana? Nanti kita bahas lebih lanjut di bawah, ya!

Baca juga: It’s Lamrim It’s Buddhism! Praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, telah dijelaskan sebelumnya Dharma merupakan ajaran yang dapat menghimpun kualitas-kualitas baik dan mengurangi segala hal tidak baik. Dengan mempraktikkan Dharma, kita tidak hanya menjadi orang yang baik, kita juga menciptakan sebab-sebab untuk mencapai kehidupan yang bahagia (baik untuk kehidupan ini maupun kehidupan-kehidupan kita yang mendatang). Dharma mengubah batin kita, mengubah cara pandang kita, dan menumbuhkan kualitas bajik dalam diri kita. Jadi, meskipun di kehidupan sekarang ini kita belum memiliki aspirasi untuk mencapai Kebuddhaan ataupun pembebasan samsara; Dharma juga sangat kita butuhkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan untuk mencapai kebahagiaan.

Dharma dalam kehidupan sehari-hari

Seluruh masalah dan ketidakbahagiaan yang kita alami dalam keseharian dapat kita selesaikan dengan menyandarkan diri kita kepada Dharma. Misalnya saja, jika kita sedih karena kehilangan, baik kehilangan teman, pacar, HP, atau uang; kita bisa melihat bahwa semua hal di samsara memang tidaklah kekal. Sesuatu yang kita miliki sekarang bisa saja hilang bahkan pada satu detik setelahnya! Samsara memang tidak dapat diandalkan untuk memperoleh kebahagiaan. 

Ketika kita sering marah atau iri hati, kita dapat menyadari bahwa hal-hal ini disebabkan karena kita terlalu mementingkan diri kita sendiri. Saat kita mulai mengurangi sikap ini dan mulai belajar untuk melihat dan mementingkan orang lain juga, kita akan tentunya memandang orang lain dengan welas asih dan mudita. 

Saat kita sering dihinggapi perasaan sedih, stres, depresi, dan lain sebagainya ekspresi negatif; kita dapat menyadari bahwa semua yang kita alami adalah buah karma yang telah kita lakukan di masa lalu. Semakin kita memiliki banyak buah karma negatif, seharusnya kita semakin giat untuk melakukan banyak kebajikan untuk menciptakan sebab-sebab matangnya karma baik dan tidak menyerah dengan segala bentuk ekspresi negatif tersebut. 

Dengan demikian, jelas sudah bahwa Dharma bukanlah teori semata yang jauh dari kehidupan keseharian kita. Sebaliknya, dalam keseharian, kita justru bergantung pada Dharma. Dharma adalah instruksi yang perlu kita praktikkan dalam keseharian kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan mencapai kebahagiaan baik di kehidupan ini maupun di kehidupan mendatang. Untuk itu, setiap ajaran Dharma yang telah kita peroleh seharusnya dilihat sebagai instruksi untuk dipraktikkan. Hal ini sesuai dengan perkataan Guru Besar Je Tsongkhapa, “kaya dalam pembelajaran namun miskin dalam Dharma disebabkan oleh kegagalan mengenali kitab-kitab sebagai instruksi.”

Sekarang ini, Dharma sudah ketinggalan zaman! Apa betul?

Dharma sudah berusia 2500 tahun lebih semenjak dibabarkan oleh Buddha Shakyamuni. Dengan demikian, meski sudah dipahami bahwa Dharma adalah instruksi yang perlu dipraktikkan, kita juga masih bisa memiliki kekeliruan lagi dalam memahami Dharma dengan menganggap bahwa Dharma adalah ajaran yang sudah ketinggalan zaman di masa sekarang ini.

Sekarang ini, informasi dapat menyebar begitu cepatnya tanpa ada batasan ruang dan waktu; teknologi juga berkembang dengan pesat sehingga menghasilkan berbagai mesin-mesin mutakhir yang dapat membantu pekerjaan kita secara instan. Seluruh kecanggihan ini tidak ada saat zaman Buddha Shakyamuni membabarkan Dharma. Namun, kendati demikian, penulis dengan berani dan mantap mengatakan bahwa Dharma bukanlah ajaran yang ketinggalan zaman. Hal ini disebabkan karena Dharma adalah ajaran untuk mengubah batin, untuk mengubah setiap makhluk menjadi pribadi yang lebih baik, dan untuk mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan. Jadi, selama masih ada penderitaan dan juga keinginan untuk memperoleh kebahagiaan, Dharma selalu relevan untuk dipraktikkan. Apalah arti dari kemajuan zaman karena toh masalah yang dialami oleh setiap makhluk pada dasarnya adalah masih sama, yakni menghindari penderitaan dan keinginan memperoleh kebahagiaan. Meski dunia luar terus berubah, cara kerja batin kita tetap sama. Jadi, meski 2500 tahun telah berlalu sejak Buddha pertama kali mengajar di masa ini, Dharma tetap akan terus relevan dan bermanfaat!

Bahkan, sebenarnya jika direnungkan lebih mendalam, ada kalanya hanya Dharma yang bisa mengatasi permasalahan kita bahkan di masa sekarang. Contoh nyatanya adalah saat pandemi COVID-19 ini. Butuh waktu bertahun-tahun bagi teknologi dan mesin-mesin canggih nan mutakhir untuk menciptakan obat yang bisa mengakhiri pandemi. Namun, apa yang bisa melindungi kita dari ketakutan dan kecemasan hingga obat ditemukan? Pemahaman akan Dharma–konsep ketidakkekalan, kepastian kematian, hukum karma, welas asih, empati, dan sebagainya–membuat kita bisa menjaga batin kita tetap waras, tidak panik, dan malah balik menggunakan situasi ini untuk menolong orang banyak. Dengan ini, maka Dharma jelaslah perlindungan terunggul!

Panduan smart Buddhist menghadapi COVID-19 dengan Dharma ada di sini!

Dharma muncul dari Kebuddhaan dan juga menghasilkan Kebuddhaan juga. Dharma mendorong kita untuk menghimpun potensi dan kualitas positif sekaligus mengurangi hal negatif dalam diri kita. Dharma bukan “teori” semata, melainkan ajaran yang bersifat instruksi sehingga perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat meraih kebahagiaan dan mengatasi penderitaan kita. Dharma juga bukanlah ajaran yang tertinggal zaman atau kuno karena Dharma sesungguhnya adalah pelindung batin kita agar bisa menghadapi segala permasalahan dalam keseharian dengan bijaksana. Dharma juga membuat batin kita tidak hanya dipenuhi oleh diri sendiri saja, melainkan juga mendorong batin kita agar bisa melakukan tindakan-tindakan bermanfaat bagi orang banyak. Kalau kita belajar dan mempraktikkan Dharma dengan giat dan tulus, kita nggak cuma akan bahagia di kehidupan ini, tapi pembebasan dan kebahagiaan tertinggi juga bukanlah hal yang mustahil untuk kita raih.

Buddha Shakyamuni melatih diri berkalpa-kalpa hingga akhirnya mencapai penerangan sempurna dan mengajarkan Dharma kepada kita semua. Dharma yang Beliau berikan secara langsung selama 45 tahun saja menjadikan Beliau salah satu filsuf ternama di dunia dan hingga kini masih memberi manfaat bagi banyak makhluk. Kita bisa berkesempatan mendalami dan mempraktikkan Dharma seperti sekarang ini adalah sebuah keberuntungan luar biasa. Sayang banget kan kalau disia-siakan?

Referensi:

  1. “Pembebasan di Tangan Kita” oleh Phabongkha Rinpoche
  2. “Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan” (Lamrim Chenmo) Jilid I oleh Je Tsongkhapa
  3. “Memahami Dukkha dan Terbebas Darinya” oleh Guru Dagpo Rinpoche

Sambil mempraktikkan Dharma untuk melindungi batinmu sendiri, kamu juga bisa lho melindungi batin orang banyak! Caranya adalah dengan jadi #AgenPelindungBatin. Yuk cari tahu lebih lanjut di sini~

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us