Panduan Lengkap Buddhis Menghadapi COVID-19

0

Karma itu pasti dan berkembang pesat.
Kamu nggak akan mengalami akibat karma yang nggak kamu perbuat.

TAPI Karma yang sudah kamu lakukan juga nggak akan kehilangan kekuatan untuk berbuah.

Jadi, kalau kamu nggak punya karma sakit karena virus Corona, kamu akan baik-baik saja.TAPI kalau kamu emang udah karmanya sakit, Buddha pun nggak akan bisa nolong kamu!

BENARKAH ITU?

Buddha Nggak Bisa Menolongmu Dari Virus Corona Kalau…

  1. Kamu hanya doa sambil ngemis minta ditolong Buddha, tapi nggak jaga kesehatan & kebersihan.
    Ada sebab pasti ada akibat. Daya tahan tubuh lemah dan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh adalah sebab datangnya penyakit. Kalau kamu suka begadang, jarang minum air, dan kurang konsumsi vitamin, maka daya tahan tubuhmu akan menurun. Kalau kamu nggak cuci tangan sebelum makan atau menyentuh wajah, virus yang mungkin menempel di tanganmu saat beraktivitas akan masuk ke tubuh. BAM! Jatuh sakitlah kamu!
  2. Kamu suka bunuh serangga dan nggak merasa menyesal sedikit pun.
    Akibat dari karma hitam membunuh yang lengkap adalah lahir di alam rendah, berumur pendek atau gampang sakit, dan lahir di tempat yang kekurangan obat-obatan atau tidak punya obat yang manjur. Karma ini menjadi lengkap ketika kamu bersuka cita dengan tindakan membunuh itu dan akan berlipat ganda terus-menerus. Kalau kamu sampai kena virus Corona dan obat maupun vaksinnya nggak kunjung ketemu, fiks banget di kehidupan lampaumu atau di kehidupan ini kamu sering melakukan karma hitam membunuh.

Tapi Buddha Bisa Melindungimu dari Virus Corona, Kok! 

Entah kapan di kehidupan lampau kita sejak waktu tak bermula, kita pasti pernah melakukan karma yang menyebabkan kita bisa mengalami sakit di kehidupan sekarang. Buddha tidak bisa mencuci ‘dosa’ kita dengan air, tapi Beliau menolong kita dengan cara mengajarkan Dharma.

Trisarana atau berlindung pada Triratna (Buddha, Dharma, dan Sangha) bukan sekadar baca bait-bait paritta lalu minta tolong. Dalam kitab “Pembebasan di Tangan Kita” Jilid II karya Phabongkha Rinpoche, dijelaskan bahwa cara Trisarana adalah menyatakan keyakinan pada Triratna dengan cara:

  1. Menyatakan keyakinan kita terhadap Buddha sebagai seseorang yang mengajarkan kita bagaimana menemukan Trisarana.
  2. Menyatakan keyakinan kita pada Dharma sebagai perlindungan yang sesungguhnya,
  3. Menyatakan keyakinan kita pada Sangha sebagai teman yang membantu kita menemukan Trisarana.

‘Menyatakan’ ini tentunya bukan di mulut saja. Trisarana berarti kamu YAKIN PADA BUDDHA sebagai guru kita, MEMPRAKTIKKAN DHARMA yang Beliau ajarkan, dan mengandalkan KOMUNITAS SANGHA sebagai penuntun praktik Dharmamu. Lebih jauh lagi, Dharma adalah perlindungan yang sesungguhnya karena merupakan kumpulan hal yang harus ditinggalkan dan direalisasikan. Dengan membangkitkan kualitas tersebut dalam batin kita, secara bertahap kita membebaskan diri dari sebagian bahaya samsara.

Salah satu Dharma yang dapat melindungi kita adalah pemahaman akan HUKUM KARMA alias hukum sebab-akibat. Jika kita serius mempelajari Hukum Karma dari buku Dharma dan para guru Dharma/kalyanamitta lalu benar-benar menerapkanya, kita bisa menghindari tindakan penyebab penyakit dan umur pendek sehingga terlindung dari wabah dan melakukan kebajikan yang menghasilkan tubuh yang sehat. Lebih jauh lagi, mempelajari dan merealisasikan Dharma akan membuat kualitas batin kita meningkat. Kita mungkin masih merasakan penderitaan dari sakit fisik, tapi kebijaksanaan dan welas asih yang kita raih dari praktik Dharma akan membuat kita bisa menghadapi penderitaan tersebut dengan tenang. Batin kita pun damai dan bebas dari segala macam klesha yang merupakan sebab sesungguhnya dari segala penderitaan kita. Demikianlah cara Buddha, Dharma, dan Sangha melindungi kita dari segala macam penderitaan samsara, tidak terkecuali wabah virus Corona!

Secara praktis, berikut adalah hal-hal yang bisa kamu lakukan agar terlindung dari wabah COVID-19 sesuai dengan ajaran Buddha:

  1. Awali hari dan setiap aktivitas dengan Trisarana.
    Renungkan bagaimana Buddha, Dharma, dan Sangha dapat menolongmu, bangkitkan keyakinan, dan lafalkan bait-bait perlindungan. Hal ini akan menjadi pengingat bagimu untuk senantiasa menjaga motivasi bajik dan menjalani setiap aktivitas dengan kesadaran penuh dan sejalan dengan Dharma.
  2. Hindari penyebab masuknya penyakit/infeksi virus.
    a. Kurangi kebiasaan yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. b. Perbanyak minum air dan konsumsi vitamin.
    c. Cuci tangan sebelum makan, hindari menyentuh wajah, dan mandi setelah beraktivitas.
    d. Sebisa mungkin hindari juga aktivitas di tempat ramai yang nggak urgent seperti nongkrong di mall. Waktu luangmu bisa dipakai untuk baca buku Dharma dan mengumpulkan kebajikan di rumah.
    e. Kalau merasa tidak enak badan atau mulai flu, istirahat di rumah atau kenakan masker jika harus keluar. 
  3. Jangan panik berlebih dan bersikap egois.
    Koar-koar yang bikin panik dan menyebarkan berita yang tak jelas asal-usulnya bukan hanya termasuk karma hitam ucapan tak berguna, tapi kamu bisa memperparah kepanikan massal yang bisa memperburuk wabah dan mempersulit pengendaliannya. Kamu juga nggak perlu menimbun masker dan sembako sampai ada instruksi lebih lanjut dari sumber resmi. Pikirkan orang lain yang juga memiliki kebutuhan. Nggak perlu juga mengucilkan orang yang terlihat sedang flu.
  4. Ikuti berita dan instruksi dari sumber yang terpercaya.
    WHO dan Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bisa menjadi acuan kamu untuk update info terbaru seputar COVID-19. Berita mungkin lebih cepat mengeluarkan kabar apa saja dari yang penting sampai tak penting, tapi sumber-sumber ini tidak sembarang mengeluarkan informasi dan melakukan penelitian yang lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar bisa kamu andalkan. Ikuti juga instruksi dari Kementerian Kesehatan RI seputar tindakan pencegahan dan penanganan penyakit.
  5. Hindari karma hitam yang bisa berbuah jadi penyakit atau kesulitan mendapatkan obat.
    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, karma hitam membunuh akan berbuah jadi umur pendek, penyakit, dan kelahiran di tempat yang terkena wabah atau sulit mendapatkan obat yang manjur. Jadi, hindari membunuh dan menyakiti makhluk lain sebisa mungkin.
  6. Terapkan 4 kekuatan purifikasi.
    Gimana kalau nggak sengaja atau sudah melakukan di kehidupan lampau? Terapkan 4 kekuatan purifikasi (menyesali tindakan, bertekad tidak mengulangi, melakukan tindakan penawar, berlindung dan membangkitkan Bodhicita, pelajari selengkapnya di sini).
  7. Lakukan sebanyak mungkin kebajikan yang lengkap.
    Kalau membunuh makhluk lain bikin umur pendek dan sakit-sakitan, menyelamatkan nyawa makhluk lain akan berbuah umur panjang dan tubuh yang sehat. Bangkitkan motivasi bajik dan lakukan hal-hal berikut:
    a. Jika keluarga atau sahabatmu ada yang sakit, rawat mereka atau beri obat yang mereka butuhkan.
    b. Alih-alih membunuh dengan baygon, bantu kecoa yang tersesat di kamarmu agar bisa keluar dengan selamat.
    c. Lakukan juga fangsheng (penyelamatan makhluk hidup) bersama sahabat-sahabatmu.
    d. Sebagai ganti nongkrong di keramaian, gunakan waktu luangmu untuk baca buku Dharma, melafalkan mantra, baca paritta, atau aneka kebajikan lainnya.
  8. Lakukan dedikasi dengan batin penuh welas asih.
    Dedikasikan semua kebajikan yang telah kamu lakukan agar yang sakit segera sembuh, yang sehat terlindung dari penyakit, dan wabah COVID-19 di seluruh dunia segera dapat dikendalikan. Bangkitkan pemikiran tersebut sambil melafalkan bait-bait dedikasi, misalnya doa dedikasi di “Lakon Hidup Sang Penerang” bab ke-10.

Referensi:
1. “Pembebasan di Tangan Kita” Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche
2. “Karma dan Akibatnya” oleh Guru Dagpo Rinpoche
3. “Tisarana: Gerbang Memasuki Ajaran” oleh Konchog Tenpei Dronme (Gungthang Rinpoche III)
4. “Ini yang Harus Kuperbuat” oleh Y. M. Biksu Bhadra Ruci
4. “Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)” oleh World Health Organization

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us