Ceng Beng vs Corona – Menjaga Tradisi di Tengah Wabah COVID-19

0

oleh BESTRELOAD

Di bulan April ini, orang-orang beretnis tionghoa seharusnya melakukan suatu tradisi tahunan yang disebut sebagai Ceng Beng. Apa itu Ceng Beng? Ringkasnya, Ceng Beng merupakan ritual untuk sembahyang/ziarah ke makam leluhur. Biasa ritual ini dilakukan pada tanggal 5 April, namun karena tahun ini merupakan tahun kabisat, maka mundur 1 hari ke 4 April. Namun… tak ada yang menduga kalau tahun ini akan ada wabah COVID-19, semua orang dihimbau tinggal di rumah dan menghindari kumpul-kumpul untuk menekan penyebaran virus.

Lah, berarti nggak bisa Ceng Beng dong! Terus gimana?

Haruskah pasang CCTV di kuburan biar bisa ditayangin di rumah?

Berikut kata beberapa orang tentang Ceng Beng di tengah wabah COVID-19:

“Kalo kita sih acaranya batal, soalnya kan sekarang gak boleh keluar-keluar dan ngumpul-ngumpul, mungkin nanti kita kumpul-kumpulnya kalo wabah corona ini udah selesai.”

Gunawati (59), Ibu Rumah Tangga

“Kebetulan keluarga kami Ceng Beng biasa sembahyang abu di altar rumah kakek, karena dari rumah saya tinggal jalan kaki ke situ, jadi nanti Ceng Beng paling saya sendiri aja yang ngurus altar abu leluhur di situ. Untuk keluarga paling nanti saya fotoin aja kirim ke grup WA, biar mereka sembahyang masing-masing di rumah aja, deh. Hehe…”

Suryanandar Djajaputra (69), Pensiunan

Kalau kita coba bedah esensi dari Ceng Beng itu sendiri dan coba bayangkan reaksi leluhur kita kalau kita memaksa keluar dan kumpul ramai-ramai di tengah wabah. Mungkin kita bisa menemukan solusi! Ssst… Ilustrasinya cuma just for fun, ya! Penulis belom bisa ngobrol lintas alam kehidupan, hihihi…

  1. Kunci dari tradisi Ceng Beng adalah rasa bakti terhadap leluhur dan rasa bakti itu ada di pikiran.
    Salah satu nilai yang diutamakan pada budaya timur adalah pentingnya keluarga. Kita haruslah berterima kasih kepada leluhur karena tanpa ada mereka, maka keluarga besar yang sekarang ini berkumpul tidaklah ada. Rasa terima kasih yang lebih dalam bisa dikatakan sebagai rasa bakti. Ini semua adalah perasaan, sementara tindakan fisik adalah ‘simbol’ untuk menunjukkan perasaan itu. Jika memang kondisi tidak mendukung, yang terpenting bukanlah fisik yang hadir, namun lebih kepada apakah kita masih mengingat jasa-jasa leluhur kita dan menghormati mereka.
  • Tujuan tradisi Ceng Beng adalah untuk menjaga relasi keluarga besar.
    Bagi keluarga Tionghoaa yang turun-temurun melakukan tradisi ini, sebetulnya Ceng Beng dirayakan karena setelah seorang sosok kakek/nenek meninggal, maka suatu keluarga besar yang sudah punya keluarga kecil masing-masing akan lebih jarang bertemu, dan salah satu tujuan Ceng Beng adalah ajang berkumpul bagi kerabat yang selama ini jarang berkumpul. Lalu bagaimana saat wabah ini? Kesehatan dan keselamatan orang banyak adalah prioritas utama. Selama satu keluarga besar tetap berkomunikasi dan menjalin relasi yang baik, tidak perlu berkumpul secara fisik. Jauh di mata tapi dekat di hati dong~
  • Pemerintah sudah menghimbau kita untuk #DiRumahAja dan menganjurkan sembahyang Ceng Beng di rumah.
    Sebagai bagian dari masyarakat, tentunya kita tak bisa mengabaikan apa yang sedang terjadi di lingkungan kita. Sebagai warga yang baik, tentunya kita harus sebisa mungkin menaati himbauan untuk tinggal di rumah dan menghindari kumpul-kumpul demi mencegah penyebaran virus corona. Dengan demikian, kita melindungi diri kita sendiri juga melindung orang banyak dari COVID-19. Sebagai gantinya, kita bisa sembahyang Ceng Beng juga bisa dilakukan di rumah. Jika punya foto leluhur, pasang dan susun altar untuk menaruh persembahan seperti yang biasa kita lakukan di makam untuk menjaga tradisi. Jika tidak ada foto, kita bisa tetap melakukan sembahyang di altar Buddha yang didedikasikan untuk leluhur kita.
  • Berbuat kebajikan yang banyak dan melimpahkan jasa pada leluhur bisa dilakukan di rumah.
    Ketika ibu Arya Maudgalyayana menderita di neraka, Buddha mengajarkan kepada murid utamanya itu untuk melakukan kebajikan dan mendedikasikan kebajikan itu kepada sang ibu. Alhasil, sang ibu dapat terlahir kembali di alam bahagia. Prinsipnya sama dengan ketika kita berdoa untuk leluhur kita. Kita melakukan kebajikan demi mereka disertai rasa bakti yang tulus agar mereka dapat berbahagia di kehidupan mendatang. Untuk melakukannya, kita tidak harus datang langsung ke makam leluhur kita! Kita bisa melakukan banyak kebajikan di rumah seperti membaca paritta & sutra-sutra, membaca mantra, berdana, dan sebagainya, lalu limpahkan jasa tersebut agar leluhur kita bahagia.

Baca buku ini biar nggak kehabisan ide bajik di rumah!

Di masa wabah COVID-19 ini, kita mau tak mau harus mengubah banyak hal dalam hidup kita. Dulu kita bisa keluar dengan leluasa, sekarang harus tinggal di rumah aja. Dulu bisa sering-sering berkumpul dengan teman dan keluarga, sekarang hanya bisa ngobrol di dunia maya. Tradisi yang biasanya rutin kita lakukan tiap tahun pun harus berubah demi kesehatan dan keamanan orang banyak. Nggak cuma Ceng Beng, bahkan beberapa perayaan Waisak pun sudah diumumkan akan ditiadakan. Namun, itu bukan berarti kita meninggalkan semua tradisi bajik dan positif sepenuhnya hanya karena nggak bisa keluar rumah. Kita juga nggak perlu mengeluhkan virus corona atau marah pada pemerintah yang melarang kita keluar rumah. Selama kita bisa memahami esensi tradisi tersebut, kita tetap bisa menghayatinya walau #DiRumahAja !

Referensi:

  1. “Traditional Chinese Festivals” – China.org
  2. “Hari Ceng Beng – Festival Qing Ming” – Tionghoa.net
  3. “Benarkah Doa Bisa Terkabul” – Lamrimnesia.org
Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us