DAY 3 – Ilusi Samsara Itu Bernama Kebahagiaan

0

Sesi pengajaram Indonesia Lamrim Retreat 2018 telah memasuki hari ketiga. Sebagaimana menjadi kebiasaan dalam pembuka sesi pengajaran Dharma tiap harinya, Y. M. Biksu Bhadra Ruci tak lelah mengajak kita semua untuk mensyukuri keberuntungan kelahiran yang kita dapat dalam tubuh manusia yang berharga. Tentu pengulangan ini dilakukan oleh Yang Mulia Suhu dengan sebuah tujuan bajik: menyadarkan kita akan kualitas diri yang dimiliki saat ini (terangkum dalam poin 8 kebebasan dan 10 keberuntungan/18 permata). Lantas yang menjadi pertanyaan adalah: apakah benar selama ini kita tidak pernah sadar dengan kualitas kita miliki? apa yang harus kita lakukan jika kita belum sadar maupun telah merasa sadar? Lalu apa benefit yang dapat dipetik ketika kita sudah meraih kesadaran tersebut? Melalui kebaikan hati Yang Mulia Suhu, hari ini kita dituntun untuk merefleksikan  aneka pertanyaan di atas lalu membedah pertanyaan tersebut bersama-sama secara mendalam lewat sudut pandang Dharma yang bermuara pada topik ajaran pentingnya bertumpu pada guru spiritual.

 

Di awal sesi, Yang Mulia Suhu menekankan bahwa fenomena pertama yang harus kita sadari adalah kebahagiaan itu langka. Pernyataan ini harus menjadi konsensus bersama agar kita dapat beralih dan memahami fenomena selanjutnya, yaitu kita senantiasa hidup dalam lingkaran penderitaan. Fakta untuk menjustifikasi fenomena ini adalah kenyataan bahwa kondisi batin kita bekerja secara fluktuaktif, menyebabkan tidak ada satu pun kondisi yang hakiki. Sering kali sesuatu yang kita labeli sebagai bentuk kebahagiaan justru akan membawa kita pada penderitaan. Sebagai contoh sederhana yang dapat kita temui dalam keseharian kita adalah ketika kita makan, kita menikmati makanan tersebut dengan lahap hingga kita kenyang dan kemudian berakhir dengan perut yang sesak.  Atau kita seringkali menafikan penderitaan yang kita alami dengan menyibukkan diri keluar batin kita dengan segala aktivitas yang bersifat duniawi. Kita tidak menganggap tubuh yang kita miliki ini sebagai sebuah bentuk kelahiran yang berharga, di mana sebenanya tubuh ini sangat memiliki banyak potensi, tidak hanya berguna untuk mencari materi jika kita memahami setiap nestapa yang mendera diri kita.

 

Buddhisme secara esensial mengajarkan kita untuk selalu melihat ke dalam batin kita, duduk diam menyelami diri untuk mencerap dengan baik semua fenomena yang terjadi di sekeliling kita agar kita dapat benar-benar menyadari penderitaan yang kita alami dan bentuk ‘penawar’ apa yang kita butuhkan. Konsekuensi  yang timbul apabila kita tak pernah sadar, maka kita tidak bisa mengetahui sebab dari penderitaan yang kita alami, selayaknya hukum sebab-akibat yang bekerja dalam sistem karma. Selain itu, manfaat lain yang dapat kita terima dari sikap refleksi adalah potensi dari dalam diri kita akan mudah muncul sehingga kita dapat  menggunakannya sebagai ‘perahu’ untuk  mencapai segala sesuatu yang kita inginkan. Namun, Yang Mulia Suhu juga menjelaskan terdapat beberapa hal yang menghambat potensi ini tidak dapat muncul, di antaranya adalah merasa diri tidak mampu dan membuang waktu lewat kegiatan yang tidak berguna. Oleh karena itu, kita tidak boleh berdiam diri dan butuh usaha lebih untuk memaksa potensi tersebut sampai keluar jika kita tidak ingin selalu dalam kondisi hidup yang stagnan dan menderita di kehidupan selanjutnya. Seperti yang telah dianalogikan oleh Yang Mulia Suhu bahwa biarkan potensi yang kita miliki ‘meledak’ dan berkembang seperti sebuah ledakan bom nuklir.

 

Dapatkah kita melihat ke dalam batin kita dengan mudah sehingga kita mampu menapaki jalan spiritual secara tepat? Yang Mulia Suhu menjelaskan hal ini niscaya terjadi jika kita menempuh cara bertumpu pada guru spiritual. Tanpa instruksi dari guru spiritual, maka kita akan kesulitan menangani hambatan-hambatan yang muncul dalam perjalanan panjang spiritual yang akan kita lalui, baik karena faktor internal (misal: klesha) ataupun eksternal yang tak dapat kita duga. Singkat kata, kita akan semakin lama mencapai Kebuddhaan. Oleh karena itu peran guru spiritual sangatlah krusial dalam pengajaran dharma, di mana kita harus melihat guru spiritual yang ada di depan kita merupakan ‘jembatan’ autentik yang merupakan jelmaan dari seluruh Buddha. Guru spiritual dengan murah hati membagikan realisasi yang telah diraih kepada kita sebagai murid beliau. Maka dari itu, dengan bersikap hormat pada guru spiritual maka secara otomatis kita turut menanamkan respek pada seluruh Buddha yang kemudian menghasilkan kebajikan besar dan karma baik untuk mengantar kita menuju Kebuddhaan. Keyakinan pada guru spiritual serta motivasi yang tepat perlu ditanamkan secara matang sedari awal, terlebih disaat kita memutuskan untuk memasuki jalan spiritual menuju Kebuddhaan karena akan mempengaruhi kekokohan keyakinan bertumpu terhadap guru spiritual kita.

 

Kita tidak bisa menganggap jalinan hubungan antara murid dan guru spiritual dapat bekerja seperti dalam sistem barter atau resiprositas; apa yang telah kita beri harus setimpal dengan apa yang kita dapatkan dari guru spiritual. Lebih pantas jika kita menempatkan diri sebagai pasien yang datang membutuhkan pertolongan dari guru spiritual yang kita anggap sebagai dokter pembawa obat yang bernama Dharma. Yang Mulia Suhu sangat menyayangkan fenomena hilangnya sikap menghormati guru yang dijunjung tinggi oleh tradisi filosofi timur karena gempuran filosofi barat di era modern saat ini, salah satunya termanifestasi dalam anggapan bahwa Kebuddhaan dapat dibeli dengan materi. Anggapan ini juga dapat muncul jika kita salah menaruh motivasi untuk mendapatkan ajaran Dharma. Kita harus datang kepada guru spiritual untuk memohon ajaran secara jujur; dengan urgensi kebutuhan (need) tertentu bukan mau (want). Kita harus memiliki kualitas hubungan murid dan guru spiritual yang baik dan menjaganya agar selalu terhubung dengan guru-guru silsilah yang memegang akar dari realisasi Dharma.

 

Di akhir sesi, Yang Mulia Suhu mengakui bahwa ajaran bertumpu pada guru spiritual bukanlah perkara yang mudah untuk dicerna namun bukan berarti mustahil dilakukan. Bertumpu pada guru spiritual dapat diaplikasikan menggunakan metode tertentu: membutuhkan logika untuk menalar ajaran yang kemudian diasah melalui perasaan lalu dihadapkan pada ego yang kita miliki. Sikap-sikap yang harus dipelihara sebagai seorang murid sepeti ulet, tidak berpihak dan berprasangka, memiliki rasa hormat pada guru, mendengarkan instruksi dengan penuh perhatian, dan lain sebagainya pun harus secara konsisten kita terapkan saat bertumpu pada guru spiritual. Jika kita telah sukses mencerap dengan baik ajaran bertumpu pada guru spiritual, Yang Mulia Suhu mengatakan bahwa kemudahan akan kita raih untuk mencerap topik-topik Lamrim yang lain secara sendirinya.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us