ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun

0

Dharma adalah obat bagi batin. Namun, jika tidak ‘dikonsumsi’ dengan benar, obat pun bisa berubah jadi racun.

Peringatan ini mengawali hari kedua Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci, tanggal 24 Desember 2017. Dharma adalah ajaran untuk mengubah batin kita agar menjadi orang yang lebih baik. Jangan sampai kita mendengarkan Dharma bukannya untuk memperbaiki diri, tapi malah sekedar untuk bahan ceramah atau mengritik orang lain. Selama berada di samsara, kita tak punya pilihan mau terlahir seperti apa karena karma dan klesha yang dihimpun sejak kehidupan lampau. Jasmani kita rapuh, sedikit saja ketidaknyamanan membuat kita terganggu. Parahnya lagi, pikiran buruk seringkali muncul di batin, awalnya seukuran ulat, lama-lama sebesar ular, hingga tumbuh menjadi naga dan menelan kita. Satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan mendengarkan Dharma dan mengarahkannya kepada diri kita sendiri. Ceret hati kita harus terisi penuh dengan Dharma yang direnungkan, dan dipraktikkan. Barulah kemudian kita bisa membagikannya dengan orang lain.

Setelah mengingatkan kita untuk membangkitkan motivasi yang benar dalam mendengarkan Dharma, Biksu Bhadra Ruci mulai melanjutkan penjelasan Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa, khususnya yang termasuk bab kedua dalam kurikulum Lamrim, yaitu keagungan ajaran yang disajikan untuk membangkitkan rasa hormat terhadap instruksi. Setelah memastikan bahwa kita belajar sumber Dharma yang benar, kita juga harus yakin terhadap keunggulan Dharma itu sendiri, khususnya Lamrim yang mencakup keseluruhan Dharma dengan susunan yang runut.

Keagungan pertama, semua ajaran Buddha bebas dari pertentangan. Kadang kita melihat aliran tertentu menganggap aliran lain sesat atau inferior, padahal jika kita mampu melihat keseluruhan struktur ajaran Buddha, kita akan paham bahwa semua aliran tersebut memiliki letak dan fungsi masing-masing dalam keseluruhan tahapan praktik menuju pencapaian Kebuddhaan.

Keagungan kedua, semua kitab dikenali sebagai instruksi pribadi. Jika dipelajari dan dipraktikkan dengan benar, Dharma akan mengubah kita menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Masalahnya, apakah kita sudah menerima keseluruhan Dharma sebagai instruksi untuk kita praktikkan? Seringkali, kita malah pilih-pilih, hanya mau mempraktikkan instruksi yang menyenangkan kita. Jika ada instruksi yang tidak kita sukai, kita akan mati-matian mencari second opinion–ke dukun lah, peramal lah, dan sebagainya. Padahal, Buddha mengajarkan Dharma untuk mengubah kita, jadi tidak mungkin isinya hanya menyenangkan kita. Jika semua instruksi yang kita terima menyenangkan hati kita, kita bukanlah praktisi Dharma, melainkan praktisi Mara!

Keagungan ketiga, pemikiran mendasar Sang Buddha dengan mudah dipahami. Sudah sangat jelas bahwa Dharma berasal dari pemikiran Sang Buddha. Lalu, keagungan keempat adalah kita bisa bebas dari kesalahan besar menolak Dharma. Ketika kita bisa melihat ajaran Buddha sebagai sebuah tahapan latihan yang urut, kita tidak akan lagi membeda-bedakan ajaran, misalnya mengatakan, “Ini ajaran untuk Pratyeka, bukan untuk Bodhisatwa”. Dengan berkata demikian, kita telah melakukan kesalahan besar menolak Dharma. Namun, jika kita familiar dengan struktur Lamrim, kita akan tahu bahwa semua merupakan ajaran Buddha yang harus dipelajari secara berurutan, tergantung praktisi Dharma seperti apa diri kita ini.

Praktisi Dharma ada tiga jenis. Yang pertama adalah praktisi yang belajar Dharma untuk kebahagiaan di kehidupan mendatang. Jika kita bodoh di kehidupan ini, maka kita harus berjuang, mengandalkan prinsip hukum karma untuk menciptakan sebab-sebab agar tidak jadi bodoh lagi di kehidupan mendatang. Jika tidak, makin bodohlah kita di kehidupan mendatang. Apakah kita sudah sampai di tahap ini?

Praktisi jenis kedua adalah praktisi yang telah menolak samsara. Kita ibarat sebuah telur dengan enam lubang indera di cangkangnya yang mencerap fenomena di luar cangkang, lalu batin kita mengomentari fenomena tersebut. Kita berpindah pindah dari senang menjadi tidak senang ataupun netral. Walau berhasil mendapatkan kehidupan mendatang yang lebih baik, kita terus lahir dan mati lagi, dan setiap kali kita mencari kebahagiaan, tapi kita tetap tidak bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Semua hal tidak kekal dan terus berubah karena merupakan kumpulan dari bagian-bagian yang tak berinti. Setiap kebahagiaan yang kita temukan pun akan berubah menjadi penderitaan. Inilah samsara. Ketika menyadari hal ini, akan muncul rasa muak terhadap samsara. Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyadari penderitaan tersebut? Atau jangan-jangan kita masih menganggap ‘nikmat’ samsara lebih banyak daripada penderitaannya?

Yang ketiga adalah praktisi yang menolak samsara sekaligus berusaha menyelamatkan makhluk lain dari samsara tersebut. Kita bisa bebas dari samsara, tapi bagaimana dengan orang tua kita dan makhluk lain? Praktisi di tahap ini pun membangkitkan bodhicitta, tekad untuk menjadi Buddha agar bisa menolong semua makhluk keluar dari samsara. Mungkinkah kita mencapai tahapan ini jika belum sepenuhnya menolak samsara?

Setelah mengetahui tentang tiga kategori praktisi di atas, kita harus merenung. Sudah sampai manakah kita? Jika kita tidak termasuk dalam ketiganya dan hanya peduli pada kehidupan saat ini saja, maka kita bukanlah praktisi Dharma!

Bab berikutnya dalam Lamrim adalah cara mendengarkan dan mengajarkan Dharma. Seperti yang telah dijelaskan di awal, Dharma yang tidak didengarkan dengan benar dapat menjadi racun bagi kita, semakin banyak yang didengar, hati kita malah semakin membatu. Oleh karena itu, sangatlah penting mendengarkan Dharma dengan cara yang benar. Pertama, kita harus ingat manfaat dari mendengarkan Dharma, yaitu menghapuskan ketidaktahuan kita dan menggantinya dengan pengetahuan akan kebenaran. Kedua, kita harus bersikap hormat terhadap Dharma dan guru yang mengajarkan Dharma. Poin ini tertanam dalam berbagai tradisi pengajaran Dharma yang kita ikuti sekarang, seperti bernamaskara dan duduk di lantai.

Melalui tradisi tersebut, kita ditempatkan di posisi murid yang siap mendengarkan ajaran. Ego kita dikikis sehingga dapat menerima Dharma dan mau mempraktikkannya.

Ketika mendengarkan Dharma dengan seksama, kita menerima informasi dan mengingatnya. Informasi tersebut tertoreh di arus kesadaran kita. Ketika jasmani kita mati, informasi yang telah tertoreh tersebut akan terbawa ke kehidupan selanjutnya bersama arus kesadaran kita. Ketika kita menerima Dharma, kita juga harus membandingkannya dengan diri kita sendiri. Apakah hidup kita sudah sesuai dengan ajaran tersebut? Jika belum, kita harus bisa jujur dan mengakuinya lalu menarik kesimpulan untuk berubah, jangan malah berkilah dan mengabaikannya. Kemudian, kita harus membiasakan batin kita dengan kesimpulan tersebut dengan memeditasikannya.

Agar dapat mengingat Dharma seperti itu, kita harus bisa duduk diam, mendengar dengan perhatian penuh. Jika kita tidak berusaha mencurahkan seluruh perhatian kita untuk mendengarkan Dharma, ajaran tidak akan menempel di batin kita, melainkan hanya lewat sambil lalu. Jika kita tidak bisa mengingat Dharma yang kita dengar, maka kita tidak punya bahan untuk merenung, apalagi meditasi. Sebanyak apapun kita bermeditasi dan melakukan pengumpulan kebajikan lainnya, batin kita tidak akan berubah jika kita tidak bisa mengingat Dharma dan menggunakannya untuk menganalisis batin kita. Dharma gagal menjadi obat bagi batin kita. Meditasi dan ritual-ritual pun hanya menjadi pelarian untuk mendapatkan ketenangan sesaat.

Untuk menutup sesi, Biksu Bhadra Ruci mengajak kita mempraktikkan langsung Dharma yang telah kita ‘dengar’ sepanjang sesi. Kita semua diajak untuk merenung sejenak, perhatikan napas, rasakan bagaimana waktu kita terus berkurang. Kita berkesempatan mendengarkan Dharma selama dua hari, sudahkah kita menggunakannya sebagai obat untuk batin kita? Kita juga telah hidup sekian lama dan waktu kita di kehidupan ini terus berkurang. Apakah kita telah memanfaatkan waktu tersebut dengan tepat, atau malah menyia-nyiakannya?

Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.
Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: Merry  (082163276188)

Foto-Foto:

Menyambut guru Dharma dengan hormat, contoh praktik cara mendengarkan Dharma.

Peserta retret mendengarkan pengajaran Dharma dengan antusias.

Sesi review dan perenungan di malam hari.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us