ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?

0

Dalam dua hari pertama Indonesia Lamrim Retreat 2017, Biksu Bhadra Ruci berkali-kali menganalogikan Dharma sebagai obat bagi batin kita. Masih berkaitan dengan pembahasan bab ketiga Lamrim tentang cara mendengarkan Dharma, beliau juga menyebutkan bermacam-macam ‘penyakit’ kita yang bisa diobati dengan mendengarkan Dharma.

  • Sakit Kurang Motivasi

Kita memiliki kelahiran sebagai manusia yang bebas dan beruntung. Kita bisa bertemu Buddhadharma dan mempelajarinya dengan leluasa. Sayangnya, kita menganggap keberuntungan tak ternilai ini biasa-biasa saja, malah menyia-nyiakannya. Kita tidak sadar kalau kita bisa mati kapan saja, tersiksa di alam rendah selama berkalpa-kalpa, eh saat akhirnya bisa jadi manusia lagi, malah lahir di zaman purba yang tak ada Dharma. Kita tidak sadar betapa urgent-nya kita mempelajari Dharma sekarang mumpung memiliki modal yang amat langka. Akibatnya, kita tidak punya motivasi yang kuat untuk belajar Dharma. Kita jadi kurang menghargai kesempatan belajar Dharma dan cenderung bersikap dengan tidak tepat. Kelahiran kita yang amat berharga pun terancam sia-sia.

Untuk mengatasi penyakit ini, kita harus kembali merenungkan apa yang kita punya: kelahiran manusia yang bebas dan beruntung. Berapa banyak sih orang yang bisa seperti kita, punya waktu dan kesempatan sembilan hari full mendengarkan Dharma? Masa kita sia-siakan? Belum lagi umur kita selalu berkurang. Kematian bisa datang kapan saja. Jika kita tidak mempersiapkan diri memperbaiki batin kita dengan mendengarkan Dharma dari sekarang, apa jadinya kita di kehidupan mendatang?

  • Sakit Kurang Keyakinan

Kurangnya keyakinan kita terhadap Triratna menyebabkan kita tidak mendengarkan Dharma dengan sikap yang benar. Dari keyakinan muncul rasa hormat dan sayang. Jika kita yakin Buddha, Dharma, dan Sangha bisa menolong kita, kita tentunya akan bersikap penuh hormat kepada mereka. Kita akan sangat menghargai setiap sesi pengajaran Dharma yang bisa kita hadiri dan bersikap sepantasnya serta mempraktikkannya.

  • Sakit Kurang Konsentrasi

Di penjelasan tentang cara sesungguhnya mendengarkan Dharma dalam teks Lamrim, kita diingatkan untuk menghindari sikap yang salah ibarat tiga jenis cacat pada wadah. Cacat jenis pertama adalah wadah terbalik.

Ketika kita tidak benar-benar konsentrasi saat sesi pengajaran Dharma, apapun yang diajarkan tidak akan masuk ke batin kita. Saat pikiran kita melayang memikirkan macam-macam, Dharma yang diajarkan guru hanya terdengar sayup-sayup. Batin kita ibarat wadah terbalik, tak peduli apapun Dharma yang dituangkan, sedikit pun tak ada yang tertampung.

Solusinya sudah dibahas di hari sebelumnya. Kita harus duduk diam, mendengarkan Dharma dengan seksama dan penuh hormat. Bagaimanapun juga, yang kita dengarkan adalah ajaran yang bisa menyelamatkan kita dari penderitaan. Bukankah sudah sepantasnya kita mengeluarkan usaha ekstra untuk menghormati dan meresapinya?

  • Sakit Angkuh

Ini berhubungan dengan jenis cacat wadah kedua, yaitu wadah yang kotor. Kadang kita dengan sombongnya datang ke sesi pengajaran Dharma hanya untuk ‘mengetes’ atau mencari-cari kesalahan orang yang memberikan pengajaran Dharma. Kita datang dengan memegang kuat pandangan bahwa kita sendiri sebenarnya sudah cukup berilmu, lalu menolak semua ajaran yang tidak kita sukai. Karena kita datang dengan batin penuh kotoran keangkuhan, Dharma yang dituangkan ke batin kita tercemar dan menjadi racun bagi kita.

Untuk mencegah ini terjadi, kita harus introspeksi diri. Jika memang kita sudah berpengetahuan banyak dan tak butuh Dharma, tentunya kita sudah pencerahan. Tapi buktinya kita masih di samsara. Kita masih butuh belajar. Belajar itu sendiri tak ada yang menyenangkan. Ibarat batu giok yang tak diasah, tak mungkin bisa jadi perhiasan. Dalam belajar Dharma, kita akan dihadapkan dengan banyak kesulitan dan mendengar banyak hal yang tidak menyenangkan, barulah kita bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.

  • Sakit Lupa

Jenis cacat wadah ketiga yang harus dihindari adalah wadah yang bocor. Ini adalah kondisi ketika kita tidak bisa mempertahankan ajaran yang kita dengar, masuk kuping kiri lalu keluar kuping kanan. Dharma yang kita dengar pun tak bisa memberi manfaat bagi diri kita.

  • Sakit Tak Bisa Puas

Kelanjutan dari menghindari tiga jenis cacat sebuah wadah, cara mendengarkan Dharma yang sesungguhnya adalah mengamati sikap yang bermanfaat dari enam pemikiran. Dengan kata lain, ada enam macam pemikiran yang yang harus kita kembangkan agar bisa mendengarkan Dharma dengan efektif. Dari enam pemikiran tersebut, yang pertama adalah menyadari bahwa diri kita adalah pasien yang sakit. Masalahnya, kita sendiri tidak sadar kita sakit apa.

Salah satu penyakit terbesar kita di samsara adalah tak bisa puas. Kita terus mengejar karir, harta, ambisi, dan sebagainya. Ketika sudah mendapatkannya, kita masih ingin lagi dan lagi. Kita berjuang seperti itu karena mengira kebahagiaan berada di luar diri kita sehingga harus kita kejar. Padahal, objek di luar diri kita bukan kebahagiaan. Kitalah yang mengomentari objek tersebut sebagai ‘menyenangkan’, ‘tidak menyenangkan’, atau netral. ‘Komentar’ ini pun beda antara orang yang satu dengan lainnya. Jika benar kebahagiaan tersebut terletak pada objek di luar, bukankah harusnya semua orang harusnya merasakan kebahagiaan yang sama? Misalnya jika kita senang melihat mawar berwarna putih dan sebab kebahagiaan adalah mawar putih tersebut, berarti semua orang yang melihat mawar putih juga akan merasa bahagia. Dunia ini akan dipenuhi mawar putih karena bisa membuat semua orang bahagia. Namun, kenyataannya tidak demikian. Di dunia ada berbagai jenis barang yang semuanya dibuat untuk membahagiakan kita dan jenisnya ada banyak. Artinya semua orang berusaha mencari kebahagiaannya sendiri-sendiri dengan membuat barang pemuas sesuai dengan selera masing-masing. Karena kepuasan orang berbeda-beda, dapat disimpulkan bahwa bahagia atau tidak adalah tergantung pada diri setiap orang, bukan tergantung objek di luar diri kita.

Kenyataannya, kebahagiaan berasal dari dalam diri kita. Jika kita memiliki batin yang matang, kita bisa melihat semua fenomena apa adanya. Kita pun bisa legowo, puas, lapang dada menerima realita. Ketika kita sudah bisa menerima realita, kita tidak lagi menderita. Kita pun bisa bahagia. Sayangnya amatlah sulit mencapai kematangan batin seperti itu. Kita sendiri tidak sadar bahwa kita menderita sakit dari kegagalan kita untuk merasa puas. Jika kita tidak sadar kita sakit, mana mungkin kita mau mencari obat? Jika kita tidak sadar kita menderita, mana mungkin kita bisa mendengarkan Dharma dengan benar?

Ternyata ada banyak sekali penyakit yang kita derita, tapi obatnya sudah di depan mata. Sisanya tergantung dari kita sendiri, maukah kita mendengarkan Dharma dengan sikap yang benar agar bisa ‘menyembuhkan’ sakit batin kita?

Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.
Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: Merry  (082163276188)

Foto-Foto:

Persembahan mandala untuk memohon pengajaran Dharma

Berdiri saat guru memasukin ruangan, salah satu bentuk sikap hormat terhadap Dharma dan guru Dharma

Happy bertemu obat Dharma di ILR 2017

 

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us