<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agama Buddha Indonesia - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/agama-buddha-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 May 2025 03:38:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Agama Buddha Indonesia - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2025 15:15:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hari buruh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10028</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hari Buruh setiap tahun biasa diwarnai dengan unjuk rasa. Kenapa buruh harus berdemo? Apa pandagan Buddhis tentang demo buruh?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2>Buruh demo bukan untuk foya-foya, tapi biar hidupnya tidak sengsara.</h2>



<p><a href="https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7891909/sejarah-hari-buruh-1-mei-yang-ditetapkan-jadi-hari-libur-nasional">Hari buruh</a> adalah hari peringatan internasional atas jasa dan upaya buruh dalam memperjuang hak-haknya di tempat kerja. Tanggal ini diambil dari unjuk rasa buruh di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886. Saat itu, 4 orang dihukum mati hanya karena memperjuangkan hak dasar buruh sebagai manusia.</p>



<p>Di Indonesia, para buruh juga biasa melakukan unjuk rasa setiap tahun pada hari Buruh.</p>



<h3 id="h-kenapa-setiap-tahun-demo-terus-apa-selama-ini-tidak-pernah-didengar-oleh-pemerintah"><strong>Kenapa setiap tahun demo terus? Apa selama ini tidak pernah didengar oleh pemerintah?</strong></h3>



<p>Didengar sih mungkin, tapi apakah sudah ditindaklanjuti? Sebelum jauh-jauh bahas pemerintah, apakah sesama rakyat yang tidak ikut berdemo sudah “mendengar” apa yang disuarakan oleh buruh?</p>



<p>Enam poin yang disuarakan oleh para buruh pada hari ini menurut Presiden Partai Buruh Said Iqbal (<a href="https://money.kompas.com/read/2025/04/30/194656726/6-tuntutan-buruh-akan-disuarakan-di-monas-pada-may-day-2025">Kompas, 2025</a>):</p>



<ol><li>Hapus <em>outsourcing</em>.&nbsp;</li><li>Upah layak.&nbsp;</li><li>Bentuk Satgas PHK (pemutusan hubungan kerja).</li><li>Meminta pemerintah mengesahkan RUU Ketenagakerjaan yang baru.</li><li>Meminta disahkannya RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT).&nbsp;</li><li>Berantas korupsi dan sahkan RUU Perampasan Aset.</li></ol>



<p>Dari keenam poin tersebut jika kita tarik benang merahnya para buruh bukan hanya menuntut kenaikan gaji, tapi mereka ingin:</p>



<ul><li>diakui sebagai manusia, bukan alat produksi.</li><li>punya perlindungan hukum.</li><li>dilibatkan dalam pengambilan kebijakan.</li><li>hidup dengan layak</li></ul>



<p>Mengapa buruh selalu ingin kenaikan gaji? Tentunya bukan hanya buat liburan ke Bali atau buat beli iPhone kok. Mereka semata-mata butuh bayar kontrakan, susu anak, ongkos kerja, dan sekali-sekali merasakan hidup normal tanpa dihantui rasa cemas tak bisa menyambung hidup.</p>



<p>Coba bayangkan, masih banyak buruh yang penghasilannya belum tentu cukup untuk:</p>



<ul><li>Sewa bulanan kontrakan kecil&nbsp;</li><li>Makan tiga kali sehari untuk satu keluarga</li><li>Ongkos ke tempat kerja</li><li>Biaya sekolah anak</li><li>Kebutuhan kesehatan dasar</li></ul>



<p>Padahal idealnya gaji itu setidaknya cukup untuk memenuhi sandang, pangan, papan.&nbsp;Jangankan buruh pabrik, buruh kantoran pun banyak yang kesulitan!</p>



<h2>Kenapa harus demo? Kenapa tidak kerja lebih keras?</h2>



<p>Jika masih ada yang berpikir buruh kerah biru yang bergaji rendah itu hanya malas atau kurang kerja keras, sudah <a href="https://tirto.id/mitos-buruh-malas-dibikin-belanda-digaungkan-penguasa-pribumi-f7Ls">banyak penelitian dan pembahasan yang mematahkan mitos tersebut</a>. Bahkan kalaupun ada buruh yang benar-benar &#8220;berpikiran pendek&#8221;, gaji UMR tapi motor N-Max, bayangkan bagaimana rasanya ada di posisi mereka: miskin sejak kecil tanpa harapan bisa mencapai keadaan yang lebih baik. Jika ada uang lebih sedikit, siapa yang tidak tergoda untuk mengejar sedikit kesenangan di tengah hidup panjang yang sudah pasti penuh derita?</p>



<p>Buruh pabrik di Indonesia 70% adalah lulusan SD (<a href="https://investor.id/business/395868/belum-sesuai-harapan-ini-tantangan-buruh-indonesia">investor.id</a>), tapi itu bukan karena mereka bodoh atau malas,, tapi karena pendidikan masih tak terjangkau. Buruh bukan anti belajar, tapi mereka belum mendapatkan ruang untuk bernapas.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXctr-HKig_PfAEvxeWg-vSUUkLSMmyNfxmhSFtP8QcNWtwUNAGw9jHd5tsxE3iD1mLtNc0EPzADSBpydS8Fi3LVyolPx7PL0MZyYiOSVlS0xzy2m09VnwtKBnRPA2kh_d8rIPUg?key=mnSQF1AbOIPm6Cv7n-KyNFRu" alt=""/><figcaption><a href="https://www.hukumonline.com/klinik/a/ditegur-atasan-karena-belajar-pada-jam-kerja-lt4fdea98432ab6/">hukumonline.com &#8211; “Ditegur Atasan Karena Belajar pada Jam Kerja”</a></figcaption></figure></div>


<p class="has-text-align-center"><img style="" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdnmhsGCrUtRlZ7wqouGhZ3Lh9Vd8kgjbHMooCUvCxyatiMebHNuMEhI0BfiYnJSoG2QwgFFbmZndewyxQ0UFcn03K0xrKEd9cO1PCdpELj3bQv96A8ymBTeEFtcsPlj_3cISY?key=mnSQF1AbOIPm6Cv7n-KyNFRu"></p>



<p class="has-text-align-center"><a href="https://lamrimnesia.org/2023/06/28/audiobook/"><em>Iwan Pranoto &#8211; &#8220;Mengembalikan Budaya Belajar&#8221;</em></a></p>



<h2>Buruh, Karma, dan Kesalingbergantungan</h2>



<p>Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kemiskinan bukan hanya disebabkan oleh kurang usaha, tapi karena permasalahan struktural. Dalam hal ini, pemerintah dan korporasi yang memegang keputusan. Hari Buruh sendiri secara historis merupakan bukti nyata bahwa unjuk rasa merupakan salah satu cara yang efektif untuk mendesak pihak-pihak tersebut untuk memikirkan orang banyak alih-alih mementingkan diri sendiri.</p>



<p>Dari sudut pandang Buddhis, hidup miskin dan terjebak dalam pekerjaan yang tidak layak merupakan buah <a href="https://play.google.com/store/books/details/Karma_Akibatnya?id=OZiWDwAAQBAJ&amp;hl=en-US">karma</a> buruk di masa lampau. Sebaliknya, kesejahteraan materi dan pekerjaan mapan merupakan buah karma baik. Siapapun yang merasa hidupnya berkekurangan tentu perlu bisa menerima karma buruknya, introspeksi diri, dan berupaya untuk menghimpun lebih banyak kebajikan untuk kehidupan yang lebih baik. Namun, karma baik baru bisa berbuah jika kondisinya mendukung. </p>



<p>Unjuk rasa untuk memperjuangkan hak buruh bisa jadi merupakan salah satu kondisi yang dibutuhkan untuk mewujudkan kondisi tersebut. Apakah orang yang berunjuk rasa pastilah orang-orang yang tidak terima karma mereka? Apa mereka tidak pernah bekerja keras dalam profesinya atau berupaya mengumpulkan karma baik. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang berhak menghakimi. Namun, adalah fakta bahwa tanpa unjuk rasa kaum buruh pada  1 Mei 1886 dan tahun-tahun berikutnya, kehidupan manusia secara umum mungkin lebih buruk dari sekarang. Kerja 18–20 jam sehari, siapa yang tahan? </p>



<p>Jika kamu buruh yang sudah mapan (ya, selama kamu kerja dengan orang lain dan terima gaji, kamu tetap buruh walau jabatanmu <em>general manager </em>sekalipun), bermuditalah atas karma baikmu, tapi ingat juga bahwa batas waktu kerja 40 jam seminggu, jaminan sosial, dan banyak hal lain yang kamu punya sekarang merupakan hasil perjuangan buruh di masa lampau. Jangan nyinyir dengan perjuangan buruh di masa sekarang. Demo mungkin sedikit mengurangi kenyamanannmu, tapi ini menentukan hidup-mati banyak makhluk yang sesungguhnya berjasa bagi hidupmu.</p>



<p>Jika kamu buruh yang masih berusaha memperjuangkan hak, bermuditalah atas perjuanganmu. Kamu hebat bisa bertahan sampai hari ini dan mau capek untuk kepentingan banyak orang. Jaga motivasi bajik, jangan tersulut emosi, ingat tetap menghimpun karma baik dan dedikasikan agar perjuanganmu berhasil dan memberikan manfaat untuk banyak orang dalam jangka panjang.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2025 11:01:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9915</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Residen cabul, dosen cabul, tindakan ceroboh yang menewaskan asisten masinis... Apa kata Buddhis tentang kemerosotan moral?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Akhir-akhir ini banyak sekali tindakan tercela yang dilakukan manusia. Baru-baru ini, Indonesia digemparkan oleh kasus <a href="https://www.metrotvnews.com/read/NgxCDr25-kasus-pemerkosaan-residen-anestesi-cerminan-kerapuhan-tata-kelola">residen di rumah sakit yang menggunakan anestesi untuk membius dan mencabuli pendamping pasien</a>. Ada pula <a href="https://www.detik.com/jogja/berita/d-7865726/aksi-cabul-pak-profesor-nodai-kampus-biru-ugm">dosen universitas ternama yang melakukan kekerasan seksual</a>. Satu lagi yang tak habis pikir, sebuah truk menerobos palang perlintasan kereta api dan menyebabkan <a href="https://kumparan.com/kumparannews/asisten-masinis-tewas-kai-bawa-kasus-ka-jenggala-vs-truk-ke-ranah-hukum-24qPiv1DLAR">kecelakaan yang menewaskan asisten masinis</a>.</p>



<p>Dunia seolah sedang mengalami kemerosotan.&nbsp;Menurut data Badan Pusat Statistik (2023), terjadi peningkatan kejadian kejahatan pada tahun 2022 yaitu 372.965 kejadian. Padahal tahun 2021, kejadian kejahatan sudah mengalami penurunan dari 247.218 menjadi 239.481 kejadian.</p>



<p>Kenapa manusia seolah makin &#8220;gak ada akhlak&#8221;? Merosotnya moralitas ini ternyata sejalan dengan fenomena besar dalam siklus alam semesta dalam kosmologi Buddhis, salah satunya soal penurunan usia hidup manusia.</p>



<h2 id="h-teknologi-makin-maju-tapi-usia-hidup-manusia-tetap-berkurang"><strong>Teknologi makin maju, tapi usia hidup manusia tetap berkurang</strong></h2>



<p>Semakin ke sini, usia manusia sudah mengalami penurunan. Dulunya manusia yang hidup sampai umur 90–100 tahun masih bisa sehat dan beraktivitas, tapi sekarang bisa kita lihat sendiri, lansia usia 70 tahun ke atas banyak yang sudah tak berdaya dan bergantung pada obat-obatan. Rata-rata jangka hidupnya juga hanya berkisar sampai 60-80 tahun.&nbsp;</p>



<p>Menurut Buddhis, akan ada masanya ketika manusia tidak mempraktikkan kebajikan dan tak lagi melatih sila sehingga rata-rata jangka hidupnya tinggal&nbsp;10 tahun.&nbsp;</p>



<p>Saat Buddha Sakyamuni hidup di India, usia rata-rata manusia ialah 100 tahun. Diperkirakan bahwa setiap satu abad, usia manusia memendek selama satu tahun. Buddha hidup sekitar 25 abad lalu sementara usia rata-rata manusia sekarang ini adalah 75 tahun. Jadi, teori ini tampaknya ada benarnya.</p>



<p>Lebih lanjut, fenomena ini dapat diteliti dari sudut pandang karma.</p>



<h2><strong>Karma, Sila, dan Usia Manusia</strong></h2>



<p>Sebab langsung <a href="https://play.google.com/store/books/details/Kemuliaan_Kelahiran_Sebagai_Manusia?id=Us38DwAAQBAJ&amp;hl=en-US&amp;pli=1">terlahir dengan tubuh manusia</a> adalah melatih disiplin moral atau <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-2-sila-paramita/">SILA</a>. Buddhisme mendefinisikan<strong> sila sebagai batin yang menghindari perbuatan yang membahayakan orang lain dengan berpaling bahkan dari motivasi untuk melakukan perbuatan tersebut.</strong></p>



<p>Coba kita lihat dunia kita sekarang. Selain <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/">pembunuhan</a>, <a href="https://lamrimnesia.org/2018/02/23/saya-berjanji-melatih-diri-menghindari-tindakan-seksual-yang-tidak-pantas-yakin-sudah-mempraktikkannya/">perkosaan</a>, <a href="https://lamrimnesia.org/2018/05/15/hindari-hal-ini-untuk-melatih-menghindari-berbohong/">penipuan</a>, dan tindak kriminal lainnya semakin marak, sadarkah kita bahwa kita juga makin sering mewajarkan hal-hal yang sebenarnya menyakiti makhluk lain?</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Eksploitasi alam &amp; perusakan habitat itu baik, kan demi perkembangan ekonomi.&#8221;</em></p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Kerja lembur bagaikan kuda itu baik, kan manusia harus produktif.&#8221;</em></p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Menghujat dan mendoakan orang lain menderita itu baik, kan orangnya pantas digituin.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Ketika sila merosot, karma baik yang menjadi sebab kelahiran dengan tubuh manusia pasti berkurang. Seiring dengan berkurangnya sebab tersebut, tentunya lama hidup manusia secara umum juga berkurang sebanding dengan kemerosotan praktik sila. </p>



<p>Pertanyaan berikutnya, kalau umur manusia berkurang, memangnya kenapa?</p>



<h2><strong>Ini yang akan terjadi saat usia manusia makin merosot!</strong></h2>



<p>Dikatakan bahwa seorang Sammâsambuddha tidak akan muncul apabila usia rata-rata manusia lebih pendek dari 100 tahun karena waktunya tidak cukup untuk kebanyakan orang memahami Dharma. Hidup manusia akan terus memendek sampai sisa 10 tahun. Tinggi badan juga akan berkurang, sampai akhirnya kita akan semakin agresif, suka berperang, dan sering bertikai satu sama lain. Masa-masa itu sangat mengerikan.</p>



<p>Namun, setelahnya, akan datang periode emas dimana manusia akan hidup sampai 80.000 tahun. Lalu, usia akan kembali menurun dan saat itulah Buddha Maitreya akan turun dari Surga Tusita untuk mengajarkan Dharma.&nbsp;</p>



<p>Mungkin ada yang berpikir: kita percepat saja kemerosotan zaman, biar umur manusia cepat memendek biar kita cepat-cepat sampai ke zaman Buddha Maitreya. Namun, ada satu masalah yang tak boleh kita lupakan.</p>



<h2>Memangnya punya modal ketemu Buddha?</h2>



<p>Kalau kita tidak melatih sila, kita akan menghimpun banyak karma buruk dan lahir di alam-alam rendah. Walau dunia cepat “kiamat” dan siklus berputar sampai Buddha Maitreya hadir, kira-kira waktu itu kita ada di alam mana?</p>



<p>Justru sekarang saat ajaran Buddha masih ada, moralitas belum sampai di titik terendahnya, kita harus banyak-banyak menghimpun kebajikan dan melatih sila biar minimal tidak jatuh ke alam rendah. Tak lupa, buat dedikasi supaya kita bisa dengan cepat meraih pencerahan dan menerima bimbingan langsung dari Buddha Maitreya.</p>



<h2><strong>Jangan putus asa di hadapan kemerosotan moral</strong></h2>



<p>Selama usia manusia belum benar-benar memendek, <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/">kita masih punya kesempatan</a> buat bangkit dan hidup selaras dengan sila. Kita masih bisa <a href="https://lamrimnesia.org/2020/08/03/gimana-caranya-bikin-karma-baik/">menghimpun sebab</a> untuk jadi bagian dari zaman keemasan dan meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Apalagi berlatih sila ini tidak khusus untuk umat Buddha saja, tapi juga bisa bermanfaat bagi semua makhluk. Bayangkan aja kalau semua orang bisa menahan diri untuk tidak menyakiti satu sama lain, dunia akan jadi lebih indah dan damai kan?</p>



<p><strong>Topik ini akan dibahas lebih lanjut dalam <a href="https://www.instagram.com/p/DIVmwB_ycdE/?img_index=1">Lamrimnesia Talk &#8220;Kenapa Manusia Makin Gak Ada Akhlak?&#8221;</a> pada Minggu, 13 April 2025, <em>live</em> di <a href="https://www.tiktok.com/@lamrimnesia_?_t=ZS-8vSZH2lIc2J&amp;_r=1">Tiktok Lamrimnesia</a>.</strong></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Feb 2025 13:30:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[mahabodhi]]></category>
		<category><![CDATA[tempat suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9864</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Setiap komunitas beragama  punya kendali penuh akan tempat suci mereka, kecuali umat Buddha. Seperti apa perjuangan umat Buddha?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sejak tanggal 12 Februari 2025, sekitar 100 biksu dari seluruh dunia yang berada di kompleks Mahabodhi &#8211; Bodh Gaya, India memutuskan melakukan aksi damai berupa puasa hingga waktu yang tidak ditentukan. Pada tanggal 22 Februari 2025, kondisi kesehatan beberapa biksu yang melakukan aksi tersebut menurun drastis. Namun, mereka tetap memutuskan untuk melanjutkan aksi puasa tersebut. Beberapa biksu bahkan sudah mempersiapkan tekad untuk meninggal dalam aksi tersebut bila memang tidak dihiraukan. Tujuan aksi ini adalah pengaturan ulang kepengurusan Mahabodhi sehingga lebih mengutamakan para peziarah Buddhis alih-alih fungsi pariwisata dan juga mengembalikan fungsi utama Mahabodhi sebagai tempat suci agama Buddha yang dibangun oleh Kaisar Ashoka. Para biksu juga menuntut penghapusan hukum tahun 1949 mengenai komite kepengurusan bersama Mahabodhi. Pertanyaannya: ada apa dengan kepengurusan komite yang sekarang?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXd40rEA3xp4SL42WQSfKgtYdcdLsh593DmSv1sB-jhL3Ns8sU4nlBaFx9S8gc0DkUhtFIaNbDiUovYfUs_EXaBQTGoUE7MU5yfkFUFsVmHC_Y3whu79ApnNuWa92EXIJi8ZjB-LhLCg3Jn2DMhBjDQ?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="800" height="534"/><figcaption>Kuil Mahabodhi, Bodhgaya, India<br>Sumber foto: <a href="http://Pexels.com">Pexels.com</a> oleh Nancy Yu</figcaption></figure></div>


<h2 id="h-mahabodhi-tempat-suci-buddha-tapi">Mahabodhi tempat suci Buddha, tapi&#8230;</h2>



<p>Kuil Mahabodhi dikelola oleh terusan dari sebuah komite yang dibentuk dan dikepalai oleh presiden pertama India pada tahun 1949. Komite tersebut terdiri atas 9 orang perwakilan dari dua kelompok: Hindu dan Buddha. Ya, saya tidak salah ketik. Kini, perwakilan kelompok Hindu yang sekarang mengelola Mahabodhi sudah mengganti beberapa objek pemujaan agama Buddha di kompleks Mahabodhi menjadi objek pemujaan Hindu dan bahkan sudah mengambil alih salah satu wihara beraliran umat Buddhis Tibet diganti menjadi tempat pemujaan Dewa Wisnu. Info terakhir adalah mereka sudah memasang lingga-yoni di depan patung Buddha di dalam kuil utama dan juga melakukan klaim bahwa kompleks tersebut adalah tempat Pandawa dahulu diasingkan sehingga kaum Hindu berhak mengambil alih. Mereka juga memerintahkan petugas keamanan negara bagian agar melarang biksu dan umat Buddha yang terlibat aksi damai untuk bisa masuk ke kompleks Mahabodhi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdEqalsqqqbrQaS9jRGfrkAmVedaqv6ukgkztGjU6t2aM1OzyuFpLuQBU2M3p9foi5EJDf6QxOUWg6-yeHHPzfz8v4bqXHUjIMsa2HTOShsU-veuzQN2u_i0bQNzQUlfIZqlZ5gVb-eHjORt93CzMg?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="800" height="533"/><figcaption>Biara Hindu di Bodhgaya<br>Sumber foto: Wikipedia commons oleh Lanasaman</figcaption></figure></div>


<p>Lalu sejak kapan sebenarnya Mahabodhi ini menjadi bahan rebutan? Mari kita kembali ke sejarah India saat negeri ini diserang bangsa Turki. Serangan tersebut membuat biara Nalanda dan Vikramasila terbakar habis. Perpustakaan biara Nalanda terbakar selama 3 bulan lamanya. Serangan bangsa Turki ini juga memberikan dampak kepada lingkungan Mahabodhi. Mahabodhi jelas tidak luput dari serangan dan  terjadi kehancuran cukup parah dan terpaksa ditinggalkan oleh para biksu dan akhirnya terlupakan oleh waktu, hingga akhirnya pada tahun tahun 1590, seorang pertapa Shiwa bernama Gosain Ghamandi Giri mendapatkan izin dari Raja Shah Alam dari kerajaan Mughal untuk mendirikan biara Shiwa terbesar pada masa itu di dekat Mahabodhi. Atas izin raja juga akhirnya Mahabodhi diubah fungsinya menjadi tempat pemujaan Shiwa dan krematorium untuk pengikut Shiwa. Berbagai patung Buddha dan ornamen pun disembunyikan oleh para pengikut Shiwa tersebut. Pada tahun 1880 Inggris akhirnya memutuskan memugar Mahabodhi seperti semula ketika dibangun, namun tidak mempermasalahkan perubahan fungsi bangunan tersebut dari situs suci umat Buddha menjadi situs umat Shiwa.</p>



<h2>Titik balik perjuangan umat Buddha atas tempat suci Mahabodhi</h2>



<p>Pada tahun 1891 biksu asal Sri Lanka bernama Anagarika Dharmapala datang untuk berziarah ke Mahabodhi. Ketika sampai beliau kaget melihat kondisi bangunan Mahabodhi yang tidak terurus dengan baik. Saat itu, hanya ada 4 orang biksu yang tinggal di daerah Mahabodhi untuk berusaha merawat semampunya tanpa bantuan dana atau orang lain. Beliau menjadi lebih kaget ketika mengetahui ada lebih banyak ibadah Hindu dibanding peziarahan Buddhis yang dilakukan di Mahabodhi. Beliau membawa kasus ini ke pengadilan kerajaan Inggris di India dan menuntut agar Mahabodhi dikembalikan ke fungsi utama sebagai tempat suci agama Buddha dan kepengurusannya diserahkan ke komunitas Buddhis. Beliau kalah di pengadilan, tapi kekalahan tersebut menyadarkan komunitas Buddhis seluruh dunia yang berujung pada pembentukan Mahabodhi Society. Mahabodhi society ini sendiri dibentuk oleh Anagarika Dharmapala dengan tujuan untuk merestorasi bangunan dan fungsi dari kuil Mahabodhi agar bisa dijaga dan dilestarikan keaslian bangunan dan fungsi sebagai tempat suci agama Buddha.&nbsp;</p>



<p>Permasalahan klaim ini terus berlangsung hingga saat India merdeka dari Inggris. Presiden pertama India saat itu membentuk komite bersama antara Hindu dan Buddha untuk mengelola bersama kompleks Mahabodhi. Pada awalnya, komite ini terdiri atas 4 orang dari sisi agama Buddha, 4 orang dari sisi agama Hindu, serta 1 perwakilan pemerintah yang netral dan sebagai ketua komite. Namun, kini komposisi ini berubah menjadi 5 orang dari sisi agama Hindu dan 4 orang agama Buddha sementara ketua komite dipilih dari sisi Hindu.</p>



<h2>Janji palsu keadilan untuk pengelolaan tempat suci Buddha</h2>



<p>Permasalahan klaim hak pengelolaan seperti yang memicu aksi para biksu sekarang ini bukan pertama kalinya terjadi. Pada 14 Oktober 1992, hampir seribu biksu dari berbagai belahan dunia sempat melakukan aksi protes damai selama 3 minggu di New Delhi untuk menuntut pemerintah pusat India menindak pengingkaran janji pemerintah negara bagian Bihar (negara bagian tempat Mahabodhi berada) dan juga untuk menunjukkan kekecewaan terhadap pemerintah pusat India yang selalu bungkam terkait persoalan Mahabodhi. Pasalnya, pada tahun 1991, setelah negosiasi dengan pemerintahan negara bagian Bihar, pemerintah setuju untuk mengembalikan pengelolaan Mahabodhi sepenuhnya kepada umat Buddha. Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah terealisasi karena tekanan dari pihak Hindu. Pemerintah negara bagian mengatakan tidak bisa berbuat apapun karena kekuatan hukum komite tahun 1949 lebih kuat karena berasal dari pemerintah pusat di New Delhi, India.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXet7Y_eKg2UAMcE6uKeEiwbeNbT2Dvv8LRQV-23t1dWROvsuRsR2OauG-iLrGpUvbw1fPHf0j9NVL5xFxvf8vEnVQkyXiJbP_Poyhf_R2RXboTqaCUfARI5FWwqwe8pywiOuJbhItMMOOLZuzbnlyU?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="600" height="313"/><figcaption>Kepala Buddha setinggi 1,4 meter ditemukan di Ratnagiri, Odisha<br>Sumber foto: <a href="http://www.insightsonindia.com">www.insightsonindia.com</a></figcaption></figure></div>


<p>Hal ini tentunya menjadi sebuah dilema karena pada waktu yang bersamaan, di negara bagian Jaipur, kota Ratnagiri, tim arkeolog dari salah satu universitas di India menemukan sebuah potongan wajah Buddha setinggi 1,4 meter. Penemuan ini juga disertai oleh penemuan puluhan stupa serta ratusan patung Buddha berbagai ukuran. Kepala tim arkeolog yang menemukan semua ini yakin bahwa penemuan tersebut akan menjadi sebuah permulaan dari sesuatu yang menakjubkan kelak. Beliau juga menambahkan bahwa kepala Buddha setinggi 1,4 meter ini diyakini sebagai kepala dari&nbsp; Buddha Amoghasiddhi sehingga ada kemungkinan situs tersebut merupakan salah satu cetiya Buddhis tradisi Vajrayana.</p>



<p>Penemuan peninggalan Buddhis baru di India ini dapat menjadi pertanda baik dari perjuangan yang dilakukan di Mahabodhi mengingat Buddha Amoghasiddhi dalam paham Vajrayana merupakan simbol dari kesuksesan akan suatu pencapaian. Bagaimanapun juga, Buddhisme tak bisa dipisahkan dari sejarah India. Jadi, merawat dan mengelola peninggalan Buddhis sesuai dengan fungsinya merupakan bagian dari upaya merawat sejarah India. Meski pasti butuh proses panjang dan tidak mudah, penulis yakin pengelolaan Mahabodhi bisa kembali ke tangan umat Buddha asalkan umat Buddha di seluruh dunia terus menghimpun sebab-sebab bajik untuk mewujudkannya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfVsLu_PQXoRvZVt_IuBQNXEiMLMfFN3lQeo1Darv31-hQjK9AQJUap4i_kesV33OWPpHXKOYG3QWhGcaDMDMl_OMWMUNAH-YaccitAjMduB69hyRQZNiM-ixk9W_TuIQoHf2Q_laRL7Bjkvf0Y1OQ?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="768" height="512"/><figcaption>Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah<br>Sumber foto: <a href="http://www.smsperkasa.com">www.smsperkasa.com</a></figcaption></figure></div>


<h2>Bagaimana dengan tempat suci Buddha di Indonesia?</h2>



<p>Indonesia sendiri juga tidak lepas dari permasalahan yang sama, umat Buddha di Indonesia selama ini tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan maupun pemeliharaan dan bahkan sisi edukasi peninggalan sejarah yang bercorak agama Buddha. Candi Borobudur sebagai contohnya, baru-baru ini dengan jelas sebuah video beredar di medsos, ada seorang pemandu wisata menyebutkan bahwa candi Borobudur itu bukan candi atau situs keagamaan, melainkan sebuah monumen. Saya tidak tahu bapak tersebut mendapatkan pengetahuan itu dari mana, tetapi di sini yang ingin saya tekankan adalah misinformasi dan misedukasi ini akan tetap terus terjadi dan berulang dikarenakan tidak ada SDM yang mumpuni dari sisi Buddhis yang dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a></p>



<p>Memang benar selama ini umat Buddha difasilitasi ketika mau beribadah, tapi harus melalui perizinan berlapis dan panjang. Bila dilakukan dalam skala besar tentu saja perizinan tersebut diperlukan, akan tetapi bagaimana dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2021/04/27/dilema-beribadah-di-borobudur/">personal yang ingin beribadah</a>? Apakah harus membuat surat resmi juga ke pengelola candi? Begitu juga dengan kondisi aktual sekarang, pengunjung dibatasi jumlahnya untuk alasan preservasi, tapi juga diburu-buru karena hanya diberi waktu 60 menit untuk naik ke candi. Belum lagi pengunjung dibatasi oleh berbagai paket yang ditawarkan pengelola sehingga bila ingin mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang candi Borobudur, mereka harus membayar mahal dikarenakan setiap paket hanya menjelaskan aspek tertentu yang ditawarkan sesuai paketnya. Dengan segala hormat, saya pernah membacakan dan menjelaskan seluruh panel Lalitawistara Candi Borobudur beberapa kali ke teman maupun saudara yang bertanya secara langsung pada setiap relief candi, dan ini perlu waktu paling tidak 2,5 jam.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua</a></p>



<p>Argumentasinya bisa jadi adalah tidak semua orang mau menyediakan waktu dan mendengar cerita tiap panel relief. Akan tetapi tolong sediakan juga waktu dan tempat bagi kami umat Buddha Indonesia yang ingin melestarikan dan meneruskan pengetahuan akan Candi Borobudur tersebut kepada generasi muda Buddhis Indonesia. Jelas kami membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan turis-turis yang hanya ingin menikmati keindahan secara umum, selfie, dan <em>upload </em>ke medsos dengan bibir monyong.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXe1Wqs0ZPVi4wkHif9UfTQksc4whFBRw6IJdiB5_1WMmL08SF4SZAhhhoO04bF-MVMHIPI2ZuayIZpZERvbpH-pz8PPeD4gz17pBhpKtH9EfN-93434e5Yl0Oo0Gw8is_YR7gUrTxRCdNtx6xSo5uQ?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt=""/><figcaption>Candi Borobudur Membentuk Pola Mandala Besar<br>Sumber foto: <a href="http://www.bumiborobudur.com">www.bumiborobudur.com</a></figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXefqjMWljC5On-pWF6TCvyEiZ_PCSLACIr4FGYIHle_6ArFd4U13euK1Qd8XqAEF0vQ-XQpzNcPLi66y4NuFQtP94dA1THA8E5RSOI-9h30EheG8UGc3V2RrPRH340Ldh2QBxRpxpJQPIKMc4KyAOU?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="648" height="335"/><figcaption>Candi Sewu Membentuk Pola Mandala Vajradhatu<br>Sumber foto: Wikipedia Commons oleh Gunkarta</figcaption></figure></div>


<p>Candi Borobudur itu adalah mandala Buddha dan memang benar bukan sekedar candi, apalagi sekedar monumen seperti kata bapak pemandu wisata itu. Harap diketahui mandala itu bisa dikatakan sebagai rumah, sehingga ketika kita masuk ke candi Borbudur; maka kita ibarat sedang bertamu ke rumah para Buddha. Sebagaimana kita ketahui, Buddha adalah Guru, junjungan, panutan dan bahkan bisa dikatakan juga orang tua kita. Dengan penjelasan singkat dan sederhana ini, tentu orang paham bahwa kita itu akan bertamu ke Buddha tiap kali ke Candi Borobudur. Jika disampaikan dengan baik, para turis pun pasti paham dan akan berpakaian dan beretika seperti selayaknya tamu yang sopan juga. Candi Sewu juga merupakan mandala Arya Manjushri sehingga setiap kita ke candi Sewu maka pola pikir yang harus diterapkan adalah kita sedang bertamu ke rumah Arya Manjushri. Sesederhana itu, tapi menjadi rumit karena pemegang wawasan tidak didengar, apalagi dilibatkan.</p>



<p>Terakhir saya teringat sebuah kalimat dari seorang bernama Akash Lama yang juga mengikuti aksi damai di Mahabodhi. Beliau berkata, “<em>Setiap komunitas beragama di dunia memiliki kendali penuh akan tempat-tempat suci agama-agama tersebut, terkecuali Buddhis.</em>”.  Di situ saya tersadar bahwa benar adanya pernyataan tersebut. Paling tidak itu yang terjadi di India dan Indonesia sampai saat ini. Sekian dari saya dan semoga tulisan ini bisa membantu menumbuhkan kesadaran atau pengetahuan baru dalam batin anda semua pembaca yang membacanya.</p>



<p>Penulis: Chatresa7</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Nov 2024 05:56:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Suwarandwipa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9603</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Peradaban kuno Nusantara di Muara Jambi menyimpan ilmu rahasia untuk memperkuat kesehatan mental yang baru ditemukan oleh ilmuwan modern belakangan ini.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Peradaban kuno Nusantara di Muara Jambi ternyata menyimpan ilmu rahasia untuk memperkuat kesehatan mental yang baru ditemukan oleh ilmuwan modern belakangan ini. Temuan ini dipaparkan secara rinci oleh <em>wellness coach</em> Johnson kepada 70+ hadirin dari beragam latar belakang dalam webinar &#8220;Meditasi &#8216;Terima Kasih&#8217; &#8211; Cara <em>Healing </em>Leluhur Nusantara&#8221; yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia). Webinar ini sendiri merupakan bagian dari Lamrimnesia Talk, program dari Lamrimnesia yang mengulas solusi permasalahan sehari-hari berdasarkan <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">kearifan Nusantara warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya</a>.</p>



<p>Johnson membuka sesi dengan mengulas sejarah, etimologi, dan posisi Meditasi Terima Kasih dalam filsafat Timur. Meski mendunia dengan istilah bahasa Tibet, yaitu &#8220;<em>Tonglen</em>&#8220;, praktik ini sesungguhnya memiliki akar di bumi Nusantara melalui pangeran dan biksu Buddhis asli Sriwijaya yang dikenal dengan nama Guru Suwarnadwipa (B. Tibet: Serlingpa) Dharmakirti yang hidup pada abad XI.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXde1uF4eG4h--bpuxOcmTGlDs841fOjoYa76P_MwcpSyUQTw113cw9xWXVUDxatFd-XK1cjBPGwpX99phtvT-nzQUrkMF4dBLSBH_DYKWuC0rvJMnyYOyj1--mPlW4CBZ-K7w8txA?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, keturunan wangsa Shailendra yang menjadi biksu dan guru agung, diyakini mengajar di kompleks Muara Jambi pada abad XI</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi&nbsp;</em></figcaption></figure></div>


<p>Sumber-sumber India dan Tibet mencatat perjalanan pandit lulusan biara universitas Nalanda bernama Atisha Dipamkara Srijnana ke &#8220;Pulau Emas&#8221;–julukan untuk Pulau Sumatra–untuk mencari guru yang bisa mengajarkan serangkaian praktik rahasia dalam ajaran Buddha yang kini dikenal dengan istilah &#8220;<em>Lojong</em>&#8221; (Latihan Batin). Meditasi Terima Kasih sendiri merupakan instruksi khusus bagian dari rangkaian praktik tersebut.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXf73zINkt2GnqNimML8_cNEAnPqQJln9BeuKzYJPT_LgB3ERogpwtTfSX5d2peKoVhJpSgkV2L8vlAHFmPTkcV22wh8O_lpcVWjEM0WO8Ouiu2gBLShwVwpZUmAslws1eH3z2jkRw?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Guru-Guru pendahulu Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dan kitab serta kutipan yang menjadi sumber praktik </em>Lojong<em>; Kitab Jataka dan Sutra Awatamsaka Sutra terukir di relief Candi Borobudur</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi</em></figcaption></figure></div>


<p>Belakangan, praktik <em>Lojong</em> beserta Meditasi Terima Kasih ini dibawa oleh Guru Atisha ke negeri Tibet dan menjadi populer di sana, lantas dilestarikan sampai hari ini dan menyebar luas sampai ke dunia barat bersamaan dengan persebaran Tibet ke seluruh penjuru dunia yang dimulai pada tahun 1959 hingga sekarang. Tak terhitung pula banyaknya pengikut tradisi Guru Atisha di masa kini yang berziarah ke Muara Jambi karena meyakini di situlah tempat Guru Atisha berguru di kaki Guru Suwarnadwipa selama kurang lebih 12 tahun lamanya.</p>



<p>“Renungkan seberapa besar <em>impact </em>Guru Suwarnadwipa. Beliau mengajar kepada Guru Atisha sampai jadi populer. <em>Such a powerful impact </em>dari Guru Suwarnadwipa, dari Indonesia,” kata Johnson.</p>



<h2 id="h-apa-yang-dilatih-dalam-latihan-batin"><strong>Apa yang dilatih dalam &#8220;Latihan Batin&#8221;?</strong></h2>



<p>Lojong secara keseluruhan yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di Muara Jambi bertujuan untuk mewujudkan altruisme tertinggi dalam batin seseorang. Meditasi Terima Kasih, misalnya, merupakan latihan untuk “menerima” penderitaan makhluk lain dan “memberikan (kasih)” kebahagiaan kepada makhluk lain yang dilakukan dengan setiap tarikan napas. Latihan ini secara langsung menyerang ego sehingga mengubah kondisi batin, dari yang tadinya mementingkan diri sendiri jadi mementingkan orang lain. Dasarnya adalah pemahaman bahwa setiap kebahagiaan yang dimiliki seseorang sesungguhnya berasal dari tercapainya kebahagiaan makhluk lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita kenal istilah ‘<em>manunggaling kawula gusti</em>’,” terang Johnson, “Nah, <em>kawula </em>ini diserang untuk memunculkan <em>gusti.</em>”</p></blockquote>



<p>Johnson secara khusus menggarisbawahi kemungkinan bahwa pandangan inilah yang diajarkan di Muara Jambi selaku salah satu kompleks pendidikan Buddhis terpenting di dunia dan diterapkan oleh leluhur Nusantara pada masa tersebut. Ungkapan &#8220;terima kasih&#8221; dan nilai-nilai yang identik dengan karakter bangsa seperti ramah-tamah, gotong-royong, dan toleransi terhadap perbedaan merupakan hasil dari latihan batin yang dilakukan oleh nenek moyang, diwariskan kepada anak-cucu, hingga tertanam dalam jati diri bangsa Indonesia.</p>



<h2><strong>Ajaran Rahasia yang Terbukti Secara Ilmiah</strong></h2>



<p>Sepintas, Latihan Batin atau <em>Lojong</em> ini terkesan bertolak belakang dengan logika umum yang mendorong individu untuk memprioritaskan kebahagiaan pribadi. Itu jugalah alasan mengapa pada periode Guru Suwarnadwipa mengajar, ajaran ini digolongkan sebagai instruksi rahasia yang diberikan oleh guru kepada murid-murid terpilih. Akibatnya, peninggalan tertulis yang membahas <em>Lojong</em> sangat terbatas dan guru yang dapat mengajarkannya juga teramat langka. Bahkan, pada periode Guru Suwarnadwipa mengajar di Muara Jambi, Beliau merupakan satu-satunya guru di seluruh dunia yang mewarisi dan menguasai <em>Lojong</em> secara lengkap.</p>



<p><em>Lojong</em> baru diajarkan secara luas pada sekitar abad XII, dipelopori oleh cendekiawan Tibet bernama Geshe Chekawa. Sejak saat itu, kitab-kitab yang mengulas <em>Lojong</em> secara rinci mulai disusun dan banyak kitab tersebut mencantumkan nama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sumatra dalam kalimat penghormatan maupun kolofon kitab. Dari semua kitab tersebut, salah satunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penerjemah Lamrimnesia dan dapat diakses masyarakat umum, yaitu karya Namkha Pel yang berjudul &#8220;<a href="https://www.youtube.com/watch?v=zvJyH5QQGrs&amp;pp=ygUjbGF0aWhhbiBiYXRpbiBsYWtzYW5hIHNpbmFyIG1lbnRhcmk%3D">Latihan Batin Laksana Sinar Mentari</a>&#8221; dari abad XV.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeBSRdvxSr8KcT9JV2PIt9gYpS5JxQXTUDSUWfWH6yeG_2Kykt4g2-g6l9iBb3WfXcR5QyQxLVHIG11WkyNFIP_BowUr6_djlWBVuX8HIRtlnBaSXIbYQWHD9vFP095jo5i8nSvbQ?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Guru-Guru penerus Guru Suwarnadwipa Dharmakirti</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi</em></figcaption></figure></div>


<p>Johnson kemudian memaparkan beberapa hasil-hasil penelitian yang membuktikan bagaimana altruisme dapat mendukung kesejahteraan fisik dan mental. Salah satunya adalah temuan bahwa orang-orang yang aktif di bidan kerelawanan terbukti lebih sehat dan bahagia. Orang-orang yang suka berderma juga terbukti memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan tingkat depresi yang lebih rendah. Praktik kontemplatif seperti <em>Lojong</em>, termasuk Meditasi Terima Kasih, juga baru-baru ini terbukti bermanfaat untuk memberikan rasa aman secara fisik, sosial, dan psikologis serta meningkatkan kebugaran tubuh (<a href="https://psycnet.apa.org/fulltext/2024-37963-001.html">American Psychological Association, 2023</a>).</p>



<p>“Praktik kontemplatif sekarang ini dilirik oleh para psikolog modern karena ini bisa men-<em>trigger parasympathetic nerves kita</em> untuk bekerja, untuk mengambil alih tubuh<em> </em>sehingga kita bisa masuk ke kondisi <em>deep rest</em>, sehingga metabolisme kita bisa bekerja dengan baik,” papar Johnson.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeQTmGLQ7uGdRW6K63-NDfc-uL9IeeKTGKPbYyRdIFYLr3oltFQ8n9e6hw9Ajessh8vx2DCfbz9-VdgfIQUvGohtcK1PKN5DDaRFLoV1HFycbDBwmq074pmmBxDzTB9Xlb5MiCngg?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Cara kerja praktik kontemplatif, termasuk meditasi, untuk meningkatkan kesehatan fisik &amp; mental</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi</em></figcaption></figure></div>


<p>Jadi, dalam jangka pendek, Meditasi Terima Kasih bermanfaat untuk menyembuhkan tubuh dan pikiran, sementara dalam jangka panjang, praktik ini dapat menumbuhkan sifat-sifat positif yang melandasi kebahagiaan dan keharmonisan di masyarakat. Sehebat itulah cara <em>healing</em> warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang berasal dari Nusantara.</p>



<p>Lamrimnesia Talk <em>Online</em> “Meditasi Terima Kasih &#8211; Cara <em>Healing</em> Leluhur Nusantara” sesi kedua akan diadakan pada 1 Desember 2024 pukul 19.30. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan bisa diikuti dengan mendaftarkan diri ke <a href="http://bit.ly/MeditasiTerimaKasih">tautan ini</a>. Informasi lebih lanjut: Lamrimnesia Event &#8211; +6285260544069</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2024 19:41:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9534</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ilmu terima kasih warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Muara Jambi seharusnya bisa dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui dunia.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Johnson</p>



<p>Berdasarkan pengertian dari UNESCO, <a href="https://ich.unesco.org/en/home">Warisan Budaya Tak Benda (<em>Intangible Cultural Heritage</em>)</a> adalah merujuk pada tradisi-tradisi dan budaya hidup yang diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur kepada generasi-generasi selanjutnya, termasuk namun tidak terbatas pada: transmisi lisan, seni-seni pertunjukan, praktik-praktik sosial, ritual, festival-festival tertentu, pengetahuan, dan berbagai praktik lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan alam semesta, serta termasuk pula pengetahuan dan keahlian-keahlian untuk menghasilkan suatu karya tradisional tertentu. Ribuan karya budaya tak benda telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dikelola oleh Pemerintah Indonesia. Lebih jauh lagi, bahkan terdapat 13 warisan budaya tak benda tersebut yang telah diakui dan dilindungi oleh UNESCO, antara lain seperti: kesenian wayang, batik, tari Saman, dan sebagainya, di mana jamu merupakan warisan budaya tak benda terbaru yang diakui oleh UNESCO di tahun 2023.</p>



<p>Hingga akhir tahun 2023, tercatat ada 1.941 karya budaya tak benda yang telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dikelola oleh Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di tahun 2024 ini pun tercatat ada 272 karya budaya tak benda yang baru yang sedang dalam proses penetapan oleh Kemdikbud.</p>



<p>Terlepas dari semua itu, sayang sekali bahwa hingga saat ini belum ada sama sekali upaya ke arah tersebut untuk apa yang disebut sebagai &#8220;<a href="https://www.youtube.com/live/CAuIn5qz_DM?si=RaDd9Qcu11gwJTOK">ilmu terima kasih</a>&#8221; yang telah diwariskan oleh <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya</a> sejak abad ke-10 Masehi dan masih lestari hingga saat ini.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-683x1024.jpg" alt="" class="wp-image-9537" width="512" height="768" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-683x1024.jpg 683w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-768x1152.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-1024x1536.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-1365x2048.jpg 1365w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-450x675.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-1200x1800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-600x900.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-scaled.jpg 1707w" sizes="(max-width: 512px) 100vw, 512px" /><figcaption>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti terlupakan di negeri sendiri, tapi malah diabadikan dalam bentuk lukisan religius Tibet</figcaption></figure></div>


<p>Pada periode sekitar abad ke-10, Sriwijaya menjadi sebuah pusat kebudayaan yang sangat masif di dunia. Musafir-musafir dari berbagai belahan dunia datang dan mampir di Sriwijaya, baik untuk belajar bahasa maupun belajar ilmu-ilmu filsafat dan ilmu keagamaan. Salah satu ilmu pamungkas Guru Suwarnadwipa ketika itu adalah apa yang disebut sebagai instruksi untuk berlatih membangkitkan batin altruistik sejati (bodhicita). Bahkan banyak sekali pandita besar dari India yang datang ke Sriwijaya semata-mata untuk mendapatkan ilmu tersebut dari Guru Suwarnadwipa. Termasuk di antaranya adalah Guru Atisha, seorang pandita besar dari Bengal, India, yang kemudian menjadi sangat terkenal karena membawa ilmu tersebut dan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/">menyebarkannya secara luas di Tibet</a>.</p>



<p>&#8220;Altruisme&#8221; sendiri sebenarnya adalah sebuah istilah yang cukup baru, yang dipopulerkan oleh seorang filsuf Perancis, Auguste Comte di abad 18 Masehi, sebagai lawan kata dari &#8220;egoisme&#8221;. Istilah tersebut diambil beliau dari kata &#8220;alteri&#8221; dari bahasa Latin yang berarti &#8220;orang lain&#8221;. Jadi altruisme ini merupakan sebuah prinsip untuk mementingkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan diri sendiri. Hingga sekarang, konsep altruisme ini telah menjadi sebuah topik studi yang sangat besar di dalam tataran ilmu psikologi modern.</p>



<p>Meskipun belum dikenal dengan istilah &#8220;altruisme&#8221; ketika itu, prinsip mementingkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan diri sendiri telah diajarkan oleh Buddha sejak abad ke-6 SM. Ini bahkan menjadi topik pelajaran utama yang diajarkan oleh Buddha yakni bahwa: kebahagiaan sejati dikatakan baru bisa dicapai ketika seseorang telah terbebas dari pandangan salah yang lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Sekilas terdengar seperti paradoks, bukan?</p>



<p>Namun, dewasa ini, orang-orang baru mulai memahami hal tersebut dan menyebutnya sebagai Paradoks Kebahagiaan, yakni bahwa ketika kita semakin mengejar kebahagiaan untuk diri kita sendiri maka kita akan semakin menderita dan sebaliknya ketika kita berusaha untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain maka justru kita akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih bernilai tinggi dan bertahan lama. Penelitian di tahun 1980 oleh Hunter &amp; Linn menunjukkan bahwa orang-orang yang senang membantu dan berderma cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dan bahkan memiliki tingkat depresi yang sangat rendah ketika mereka tua. Penelitian-penelitian lebih lanjut (antara lain: Moen et al. 1992, Musick MA &amp; Wilson J., 2003, Otake et al. 2006 dan sebagainya) bahkan menemukan bahwa aktivitas kebaikan hati, misalnya menjadi sukarelawan (<em>volunteerism</em>) dan sebagainya dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan dan kesehatan mental seseorang, menurunkan risiko terkena penyakit, dan bahkan dapat menurunkan tingkat kematian hingga 44%.</p>



<p>Demikian pulalah yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa dan menjadi harta yang dicari-cari oleh para musafir dunia. Ada dua instruksi utama yang diwariskan oleh Guru Suwarnadwipa, yakni: 1) Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat, dan 2) Instruksi Menyetarakan serta Menukar Diri. Esensi dari kedua instruksi ini adalah serangkaian tahapan latihan meditatif yang dapat membuat orang memiliki sifat altruistik sejati, yakni: mengambil penderitaan orang lain untuk diri sendiri dan&nbsp; memberikan kebahagiaan diri sendiri kepada orang lain. Kedua aspek <a href="http://2-ubah-hidup-dengan-warisan-spiritual-wellness-sriwijaya/">latihan meditatif</a> inilah yang kemudian tercermin dalam sebuah kata: &#8220;Terima Kasih&#8221; yakni: MENERIMA penderitaan orang lain dan MENGASIHKAN kebahagiaan kita kepadanya.</p>



<p>Konsep berterima kasih juga dapat diamati dalam berbagai budaya dan bahasa di dunia. Sebagai contoh, asal kata &#8220;thank you&#8221; dalam bahasa Inggris dapat ditelusuri hingga ke abad ke-13 dan memiliki korelasi dengan kata &#8220;<em>think/thought</em>&#8221; yang berarti berpikir/pemikiran. Jadi mengucapkan &#8220;thank you&#8221; memiliki konotasi &#8220;saya memiliki pemikiran yang baik untuk Anda&#8221;.&nbsp; Kata &#8220;<em>merci</em>&#8221; dalam bahasa Perancis berasal dari istilah dalam bahasa Latin yang bermakna &#8220;pembayaran dan membalas budi&#8221;. Kata &#8220;<em>grazie</em>&#8221; dalam bahasa Italia dan kata &#8220;<em>gracias</em>&#8221; dalam bahasa Spanyol berasal dari istilah lain dalam bahasa Latin yang bermakna &#8220;bersyukur&#8221;. Kata &#8220;<em>obrigado</em>&#8221; dalam bahasa Portugis juga berasal dari bahasa Latin &#8220;<em>obligo</em>&#8221; yang bermakna &#8220;saya berutang/memiliki suatu kewajiban kepada Anda&#8221;. Kata &#8220;<em>arigato</em>&#8221; dalam bahasa Jepang dapat ditelusuri dari dua kata yang bermakna &#8220;sesuatu yang sulit diperoleh&#8221;, jadi terima kasih dalam bahasa Jepang pada dasarnya mengandung makna bahwa &#8220;Anda telah melakukan sesuatu yang sangat sulit/langka&#8221;.</p>



<p>Semua makna kata berterima kasih yang terkandung secara lintas bahasa di atas pun terangkum secara sangat lengkap di dalam instruksi yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa. Dalam bahasa yang dipermudah, Guru Suwarnadwipa mengajarkan bahwa:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Pertama-tama, berlatihlah menyeimbangkan batin terlebih dahulu dalam melihat tiga jenis orang, yakni:&nbsp; yang kita cintai, yang kita musuhi dan yang tidak kita kenal;<br>Kemudian, kenalilah mereka semua sebagai orang yang telah berjasa sangat besar kepadamu;<br>Ingat kembali apa saja jasa orang-orang tersebut kepadamu;<br>Bangkitkan keinginan untuk membalas jasa mereka;<br>Lihatlah semua orang sebagai orang yang terkasih dan berikanlah kebahagiaan kepada mereka (&#8220;KASIH&#8221; kebahagiaanmu kepada mereka);<br>Kasihanilah mereka dan ambil penderitaan mereka (&#8220;TERIMA&#8221; penderitaan mereka);<br>Jadikan sebagai komitmen pribadi untuk bertanggung jawab terhadap semua orang;<br>Jadikan praktik altruistik ini sebagai praktik utama sehari-hari yang berkesinambungan.&nbsp;</em></p></blockquote>



<p>Semua ini tentu saja merupakan sebuah instruksi latihan yang sangat komprehensif dan harus dilatih secara bertahap dan intensif. Psikologi modern bahkan telah mulai mengadaptasi ilmu kuno ini menjadi berbagai metode untuk mengatasi permasalahan manusia khususnya yang terkait dengan kesehatan mental (<em>mental wellness</em>).</p>



<p>Instruksi ini tercatat dalam karya-karya asli Guru Suwarnadwipa, antara lain di dalam teks yang berjudul <strong>&#8220;Tujuh Poin Latihan Batin&#8221;</strong> yang disusun oleh beliau di tanah Sriwijaya. Lebih lanjut, di abad ke-15, ilmu ini juga pernah tercatat pada sebuah kitab yang berjudul <strong><a href="https://www.tokopedia.com/lamrimnesiastore/latihan-batin-laksana-sinar-mentari-sebuah-instruksi-hati?extParam=whid%3D2964574%26src%3Dshop">&#8220;Latihan Batin Laksana Sinar Mentari&#8221;</a></strong> yang disusun oleh Je Tsongkhapa Lobsang Dragpa dan Namkha Pel di Tibet. Di abad modern ini, ilmu ini juga mulai diadaptasikan ke dunia sekuler oleh Thubten Jinpa, Ph.D. menjadi sebuah program bernama <strong><a href="https://www.compassioninstitute.com/cct/">Compassion Cultivation Training (CCT)</a></strong> di Stanford University, Amerika Serikat, dan telah memberikan manfaat yang luar biasa besar bagi banyak orang.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-9536" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption><a href="https://www.youtube.com/watch?v=zno6uqXlW2Q&amp;t=21s">Workshop Meditasi &#8220;Terima Kasih&#8221;, Resep Wellness Warisan Sriwijaya di Indonesia World Tourism &amp; Cultural Festival 2022</a></figcaption></figure></div>


<p>Namun, sayangnya, Indonesia sendiri sepertinya belum berhasil menggali kembali harta yang yang masih terkubur ini. Padahal, dipercaya bahwa ilmu inilah yang telah dipraktikkan oleh leluhur bangsa Indonesia sejak dahulu kala sehingga orang-orang Indonesia sampai sekarang pun dikenal sebagai orang yang sangat ramah, murah senyum, suka menolong, dan berbudi luhur.</p>



<p>Tanggung jawab pelestarian warisan budaya tak benda ini tidak hanya terletak pada pundak pemerintah, tapi juga pada komunitas, masyarakat dan juga individu, karena terdapat dua cara untuk melestarikan ilmu seperti ini. Yang pertama adalah pencatatan, penyimpanan dan penetapan secara kelembagaan untuk menjamin keberlangsungan informasi perihal adanya ilmu ini. Yang kedua dan tak kalah penting adalah melestarikannya dalam kesinambungan batin para individu yang mewarisinya, yakni bangsa Indonesia ini sendiri, agar &#8220;ilmu terima kasih&#8221; benar-benar hidup dalam benak dan menjadi watak bangsa yang besar ini.&nbsp;</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 07:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgrimage Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6011</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa keyakinan, mengumpulkan kebajikan di Borobudur hanya akan jadi slogan kosong belaka</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Apa yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar ajakan “Ayo mengumpulkan kebajikan di Borobudur”? Tentu saja kemungkinan terbaiknya adalah menyambut dengan penuh semangat. Namun, tak sedikit juga yang mengeluh. Ada yang mengeluhkan jarak. Ada pula yang mengeluhkan banyaknya wisatawan yang membuat suasana tidak khusyuk. Ada juga yang berpikir begini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Buat apa ke Borobudur? Ke wihara juga bisa.”</p></blockquote>



<p>Pembahasan ini muncul dalam Lamrim Talk Seri Borobudur bertajuk “Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik”, persisnya dalam pemaparan Johnson Khuo, seorang Dharmaduta, praktisi bisnis, dan pecinta Borobudur.</p>



<p>Sebelum kita bisa mengajak seseorang untuk mengumpulkan kebajikan di Borobudur, kita harus tahu bahwa candi warisan nenek moyang kita itu memiliki satu fungsi yang lebih fundamental, yaitu sebagai situs ziarah untuk membangkitkan keyakinan atau <em>sraddha. </em>Fungsi ini juga berhubungan dengan sebab dari keluhan-keluhan tadi, yaitu kurangnya keyakinan dalam batin kita.</p>



<h4><strong>Ziarah, Praktik yang Diajarkan Sang Buddha</strong></h4>



<p>Dalam Mahaparinibbana Sutta dijelaskan bahwa sebelum Buddha parinirwana, Buddha mengajarkan praktek ziarah ke tempat-tempat tertentu yang bisa membangkitkan keyakinan. Instruksi untuk berziarah juga ada dalam Kanon Sansekerta, salah satunya adalah Sutra Gandawyuha yang mengisahkan peziarahan Sudhana untuk menemui para kalyanamitra yang menunjukkan jalan mencapai Kebuddhaan. Sutra ini juga terukir di Candi Borobudur. Dalam kelas Tantra tertentu, praktisi memiliki kewajiban melakukan ziarah ke situs-situs tertentu. Salah satu situs tersebut bahkan ada di Indonesia, yaitu Candi Bahal.</p>



<p>Johnson juga memaparkan perjalanan tokoh-tokoh Buddhis yang dikenal melakukan peziarahan, mulai dari Raja Ashoka yang berziarah untuk menyebarkan relik Buddha dan mendirikan stupa hingga Biksu Tang Xuanzang yang perjalanannya ke Nalanda menjadi inspirasi bagi hikayat “Perjalanan ke Barat” dan film “Kera Sakti”. Tidak hanya itu, Johnson juga menjelaskan bagaimana Nusantara menjadi salah satu tujuan peziarahan, dibuktikan dengan catatan perjalanan I-Tsing dan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana. Bahkan peziarahan Guru Atisha yang mencari guru ke Suwarnadwipa tidak hanya membuatnya meraih kemajuan spiritual yang luar biasa, tapi juga menjadi cikal-bakal Buddhisme Tibet yang berkembang di masa kini.</p>



<p>Kembali pada pembahasan tentang esensi dari praktik ziarah itu sendiri, Johnson menegaskan bahwa kata kunci dari ziarah adalah <strong>keyakinan</strong>. Beliau pun kembali menyebutkan kutipan dari Mahaparinibbana Sutta sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Inilah tempat yang bisa membangkitkan <strong>keyakinan</strong>… Para biksu, biksuni, upasaka, dan upasika yang penuh <strong>keyakinan</strong>, jika datang ke sini dan berpikir… Jika mereka meninggal di tempat-tempat tersebut, maka mereka akan terlahir di alam surgawi.”</p></blockquote>



<h4><strong>Apa maksudnya KEYAKINAN?</strong></h4>



<p>Ketika menjelaskan cara kerja batin, Sang Buddha mengajarkan tentang faktor mental yang mewarnai batin setiap orang. Ketika faktor mental pengganggu muncul di batin kita, kita akan merasa gelisah. Tindakan yang kita lakukan pun akan menjadi karma buruk yang kemudian membuat kita tidak bahagia. Sebaliknya, jika faktor mental bajik yang muncul, batin kita akan menjadi positif. Tindakan kita pun akan menjadi karma bajik yang mendatangkan kebahagiaan.</p>



<p>Keyakinan (Sansekerta: <em>Sraddha</em>; Pali: <em>Sadha</em>) adalah satu dari 11 faktor mental bajik yang bisa kita kembangkan. Dalam kitab Abidharma-samuccaya, keyakinan didefinisikan sebagai sebuah kepastian, kejelasan, dan pengharapan yang ditujukan pada objek yang memiliki kualitas-kualitas unggul. Keyakinan memiliki fungsi sebagai penyokong aspirasi. Dalan kitab Ratnolka-dharani, keyakinan dijabarkan dengan bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Keyakinan adalah pelopor, dan, ibarat seorang ibu, sang penghasil.</em><br><em>Ia menjaga dan meningkatkan segala kualitas unggul.</em><br><em>Ia mengenyahkan keraguan dan membebaskanmu dari keempat sungai besar.</em><br><em>Keyakinan menandakan kota kebahagiaan dan kebajikan.”</em></p></blockquote>



<p>Keyakinan yang dimaksud di sini tentu bukan keyakinan pada sembarang objek, melainkan keyakinan kepada Triratna yang terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Keyakinan di sini juga bukan berarti secara buta meyakini atau memuja Triratna, melainkan yakin yang didasari oleh pemahaman logis dan perasaan yang nyata.</p>



<p>Johnson menjelaskan bahwa dalam Buddhisme, keyakinan terbagi ke dalam tiga tahapan. Pertama adalah yakin karena kagum dengan kualitas eksternal, misalnya karena penampilan Buddha yang luar biasa: rupawan, bercahaya keemasan, dan dihiasi banyak sekali tanda-tanda yang mengagumkan.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/vtIPIHtINbrhl63vFATlSkTG7ch1PSuGfgwUQa-QTtBSHhTIdQLRuILzmmKouwQ5V9uCf8fE6F34PPGkU6vbkgS0pD6KDrYgO5kNCzo6vSneKWBdPCC0vebw6usaHaxRZKeCLncX" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Berikutnya adalah yakin karena hasil analisis, misalnya analisis terhadap hukum karma atau sebab-akibat. Kalau tadi kita kagum pada kualitas eksternal yang dimiliki Sang Buddha, kita bisa lanjut mencari tahu sebab dari kualitas itu. Kita pun akan menemukan bahwa kualitas itu merupakan hasil dari sepuluh juta kebajikan yang Beliau kumpulkan karena didorong oleh welas asih-Nya kepada semua makhluk. Kita pun semakin yakin pada Buddha karena paham bahwa Beliau telah berjuang menyempurnakan diri demi kita semua.&nbsp;</p>



<p>Tahapan terakhir dari keyakinan adalah keinginan yang kuat untuk menjadi seperti sosok yang kita yakini. Jadi, kita tidak berhenti pada kagum atau mengidolakan saja, tapi juga membangkitkan tekad untuk mengikuti jejak Sang Buddha untuk menjadi seperti-Nya sesuai dengan apa yang Beliau ajarkan.</p>



<h4><strong>Tanpa keyakinan, tidak ada usaha, tidak ada kebajikan</strong></h4>



<p>Kualitas bajik perlu dikembangkan setahap demi setahap. Tahapan ini dijelaskan Abhidharma-samuccaya &amp; Mahabodhipatakrama. Bermula dari keyakinan, muncullah aspirasi (<em>chanda</em>), yaitu keinginan kuat untuk memiliki kualitas-kualitas dari objek yang kita yakini. Aspirasi ini menghasilkan wirya atau batin yang bersemangat untuk mewujudkan aspirasi bajik. Wirya ini adalah obat dari segala macam kemalasan, baik itu sikap menunda-nunda, teralihkan oleh hal lain yang lebih menarik, maupun rasa tidak mampu. Dengan adanya wirya, kita akan meraih kelenturan (<em>prasrabhi</em>), yaitu kondisi di mana tubuh dan batin kita bisa dengan mudah melakukan berbagai aktivitas bajik sesuai dengan keinginan kita. Dengan demikian, kita pun bisa mengatasi semua halangan dan meraih semua kualitas baik yang kita cita-citakan. Kebajikan dan kebijaksanaan yang kita butuhkan untuk menjadi seperti Sang Buddha bukan lagi sekadar angan!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/2q0UZdHboL8DkTiGDtQyu7h5mpH9Z5ux0lWfsblBxoBpkYOrzqnBicSG2EuCsCs52CpFrAKJAaqKpyevjnGUQbe6hAduevWv_4HEhP0rWvcowX9JGl-N68IHTEIpIuJiVSO81_5P" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Keyakinan sendiri dalam praktiknya memiliki dua aspek, yaitu pemahaman dan perasaan. Kalau kita tidak punya keyakinan, tidak peduli sebanyak apapun keagungan Borobudur yang dijelaskan kepada kita, kita tidak akan merasa tergerak untuk pergi ke sana mengumpulkan kebajikan.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya bekerja lima hari seminggu, capek, saya merasa kebutuhan saya lebih terpenuhi dengan rebahan di rumah dibanding ketemu Buddha,” Johnson memberikan contoh, “Kita tidak punya keyakinan bahwa Buddha bisa memberikan solusi. Kita lebih percaya bahwa ranjang kita lebih bisa memberikan solusi, maka kita memilih ranjang. Kita tidak memilih Buddha.”</p></blockquote>



<p>Kita tidak sadar bahwa ranjang kita bukan solusi. Ia hanya bisa memberikan kenyamanan sementara. Kita juga tidak sadar bahwa kenyamanan itu berasal dari kebajikan yang harus kita kumpulkan dengan upaya. Jika kita tidak mengumpulkan cukup karma baik, semahal apapun ranjang yang kita tempati, kita tidak akan bisa beristirahat. Kalaupun kita bisa beristirahat, kita akan kembali merasa lelah saat hari kerja tiba dan diserang oleh berbagai emosi negatif yang membuat kita mengumpulkan lebih banyak sebab penderitaan. Kita perlu mengembangkan kualitas batin hingga terbebas dari samsara seperti yang diajarkan Sang Buddha agar bisa benar-benar berbahagia.</p>



<h4><strong>Ziarah ke Borobudur, upaya membangkitkan keyakinan</strong></h4>



<p>Keyakinan itu perlu dilatih. Agar kita bisa menumbuhkan keyakinan di batin kita, kita membutuhkan bantuan objek-objek eksternal. Karena itulah ada objek-objek suci seperti rupang Buddha, kitab suci, stupa, dan sebagainya. Misalnya dengan melihat rupang Buddha, kita bisa mengingat kualitas-kualitas Buddha, mulai dari kualitas tubuh yang dihiasi 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan, kualitas ucapan yang bisa menjawab pertanyaan semua makhluk dengan satu kata, hingga kualitas batin yang maha tahu dan memiliki welas asih yang sama sekali tidak pilih kasih. Ketika mengingat hal tersebut saat kita melihat sebuah rupang Buddha, kekaguman kita akan tumbuh. Dari situ kita bisa lanjut melakukan analisis hingga membangkitkan tekad untuk mengikuti teladan Buddha. Jadi, objek-objek suci berfungsi untuk membantu kita membangkitkan ketiga jenis keyakinan yang kita butuhkan untuk bisa mengumpulkan kebajikan.</p>



<p>Ziarah juga merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat membantu kita melatih keyakinan dan secara langsung dianjurkan oleh Buddha sendiri. Misalnya ketika kita melihat pohon bodhi tempat Buddha meraih penerangan sempurna di India, kita akan ingat bahwa pencapaian Kebuddhaan yang diraih Pangeran Siddhartha adalah fakta sejarah, bukan dongeng. Kita diingatkan bahwa dulu pernah ada manusia biasa yang mudah marah, mudah iri, dan punya segudang sifat buruk lainnya seperti kita berhasil menaklukkan semua sifat-sifat buruk itu dan meraih tingkat kesucian tertinggi demi kebaikan semua makhluk. Kita pun jadi sadar bahwa kita juga bisa menjadi seperti Beliau. Aspirasi kita akan bangkit dan kita pun akan dengan semangat melatih diri untuk menjadi lebih baik hingga meraih pencapaian yang sama.</p>



<p>Lantas, bagaimana dengan Borobudur? Candi Borobudur sendiri merupakan sebuah ladang kebajikan. Dari sudut pandang Tantra, peneliti dan pakar arkeologi Prof. Noerhadi Magetsari menyatakan bahwa Borobudur adalah sebuah mandala. Namun, umat Buddhis awam pun bisa dengan mudah menemukan aspek-aspek Triratna di Candi Borobudur. Di sana terdapat 504 patung Buddha. Dinding-dinding Candi Borobudur dipenuhi oleh relief Sutra yang dibuat berdasarkan kata-kata Dharma. Di dalam relief tersebut, terdapat tak terhitung banyaknya relief Bodhisatwa yang merupakan Ratna Sangha. Jadi, dapat dikatakan bahwa Candi Borobudur merupakan perlambang Triratna yang lengkap.&nbsp;</p>



<p>Setelah memaparkan hal tersebut, Johnson juga menjelaskan tentang Sila Berlindung atau Tisarana yang dimiliki oleh umat Buddha. Salah satu dari sila-sila yang harus dilatih adalah memandang representasi Triratna sebagai Triratna yang sesungguhnya. Ini berarti terdapat 504 Buddha sungguhan serta Dharma dan Sangha yang tak terhitung banyaknya berdiam di Candi Borobudur. Inilah yang menjadikan Borobudur tempat ziarah yang luar biasa bagi seluruh umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan.</p>



<p>Salah satu sosok yang telah membuktikan manfaat dari praktik Sila Berlindung ini adalah Arya Sariputra, murid utama Buddha Shakyamuni. Di salah satu kehidupan lampau-Nya, Beliau melihat lukisan Buddha dan mempersembahkan pelita sambil membangkitkan tekad untuk bisa bertemu Sang Buddha. Konon itu merupakan salah satu sebab utama yang membuatnya menjadi salah satu murid utama Sang Buddha.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/FDOrRhATYcjpzs6jHcpSRRI_UGKl6pgV0egu2T2kueuaGBKCedfURGTv5abcebd6e6EXGP81EmjWqBcwb8Q5vPptRBMeNNssUIc7AoFBVp37W4JJRivyVNfAUukksT6lpnts0_eN" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Manfaat membangkitkan keyakinan<br>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Kenyataannya, Buddha memang benar-benar hadir di mana-mana, termasuk di Candi Borobudur. Ini dijabarkan secara gamblang dalam kitab-kitab Buddhis. Salah satunya adalah sebuah bait dalam Arya Bhadracarya Pranidhana Raja yang juga terukir di Candi Borobudur itu sendiri.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“..Dengan percaya diri, saya melihat alam semesta ini demikian, seluruhnya dipenuhi oleh para Buddha.”</em></p><p>-Arya Bhadracarya Pranidhana Raja</p></blockquote>



<p>Ketika telah mencapai tingkat kesucian tertentu, seorang praktisi Buddhis akan bisa melihat setiap rupang Buddha sebagai tubuh Buddha yang sesungguhnya. Praktisi yang telah mencapai Marga Akumulasi bisa melihat patung dan lukisan Buddha sebagai tubuh Nirmanakaya yang sesungguhnya. Kemudian, ketika mencapai Marga Penglihatan (mulai dari bhumi Bodhisatwa pertama yang direpresentasikan oleh tingkat pertama Candi Borobudur), sang praktisi akan bisa melihat representasi Buddha sebagai tubuh Sambhogakaya yang sesungguhnya.</p>



<h4><strong>Kondisi Borobudur saat ini</strong></h4>



<p>Anggaplah kita sudah memiliki pemahaman yang tepat tentang pentingnya keyakinan dan fungsi Borobudur untuk membangkitkan keyakinan tersebut. Kemudian, kita datang ke Borobudur untuk melakukan ziarah. Ternyata, saat kita hendak merenungkan kualitas Buddha di Borobudur, orang-orang di sekitar kita malah menduduki stupa, berfoto, menempelkan permen karet, bahkan berpacaran.</p>



<p>Saat ini, Candi Borobudur memang tidak kondusif bagi umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan. Di saat yang sama, wisatawan umum pun pasti kesulitan mendapatkan pengalaman unik di Candi Borobudur karena aktivitas yang dikembangkan di sana lebih berorientasi pada hiburan yang sebenarnya bisa didapatkan di tempat lain.&nbsp;</p>



<p>Johnson memaparkan bahwa permasalahan ini seharusnya bisa diatasi jika umat Buddha dilibatkan dalam pengelolaan Borobudur. Mengingat Sila Berlindung yang dipegang umat Buddha, tentu saja tidak akan ada umat Buddha yang bersandar di stupa, apalagi melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fungsi asli Borobudur ataupun berpotensi merusak. Dengan masukan dari umat Buddha, kesakralan maupun keutuhan bangunan candi tentu akan terjaga.</p>



<p>Candi Borobudur sendiri saat ini memiliki tiga pemangku kepentingan: umat Buddha, Indonesia, dan dunia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita tidak bisa mengatakan borobudur adalah <em>world heritage</em>, maka kita prioritaskan dunia, terus umat buddha dikesampingkan. Tidak bisa juga kita bilang Borobudur adalah <em>world heritage</em>, indonesia berkorbanlah sedikit demi dunia,” cetus Johnson.</p></blockquote>



<p>Jika kita ingin kebutuhan ketiga pemangku kepentingan Borobudur ini terpenuhi, satu-satunya solusi adalah mengelola Borobudur dengan memakai filosofi Buddhadharma sebagai landasan. Dengan demikian, selain umat Buddha bisa khusyuk berziarah di Borobudur, Indonesia dan dunia pun mendapat manfaat dari terjaganya identitas Borobudur sebagai <em>world heritage </em>yang unik dan tiada duanya. Saat ini, kebanyakan wacana pengelolaan Borobudur yang diberitakan masih belum berkaitan dengan filsafat Buddhis sama sekali&#8211;mulai dari pendirian <em>science park, </em>kampung seni, bahkan yang terbaru adalah trayek balap motor. Kalau ini dibiarkan, Borobudur akan kehilangan identitas dan tak ada bedanya taman rekreasi biasa. Di sinilah kesempatan umat Buddha untuk berkontribusi bagi Indonesia dan dunia.</p>



<h4><strong>Keyakinan yang hilang</strong></h4>



<p>Setelah mendengarkan pemaparan Johnson seputar keyakinan, praktik ziarah, dan Candi Borobudur saya merasa sedang berhadapan dengan sebuah lingkaran setan. Di tengah segala macam perhatian yang mengarah pada Candi Borobudur, umat Buddha termasuk saya sendiri lebih banyak bergeming. Segala narasi tentang Borobudur sebagai “piwulang luhur” dan ajakan untuk mengumpulkan kebajikan dan kebijaksanaan di Borobudur tak membuat kita tergerak karena kurangnya keyakinan membuat kita merasa istirahat di akhir pekan jauh lebih penting dan mendesak. Padahal, kita butuh mengembangkan keyakinan agar bisa memiliki semangat dan melakukan upaya untuk mengatasi segala permasalahan kita sampai ke akar. Untuk membangkitkan keyakinan itu, kita seharusnya bisa melakukan ziarah seperti yang dianjurkan Sang Buddha ke Candi Borobudur yang sudah dibangun susah payah oleh nenek moyang kita untuk tujuan tersebut. Namun, Borobudur saat ini tidak kondusif untuk ziarah dan kita sebagai umat Buddha pun tak banyak melakukan usaha untuk memperjuangkannya, tentu saja karena keyakinan yang hilang dalam batin kita semua. Dengan keadaan seperti ini, bukan kita sendiri yang rugi, tapi Candi Borobudur terancam kehilangan identitasnya dan berubah menjadi <em>theme park </em>biasa. Perjuangan nenek moyang kita mendirikan monumen pengumpulan kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk terancam sia-sia karena kurangnya keyakinan kita.</p>



<p>Kemampuan untuk memutus lingkaran setan itu seharusnya ada di tangan kita. Kita bisa mulai dari mempertanyakan sejauh mana keyakinan yang kita miliki terhadap Triratna dan sebutuh apa kita akan karma baik yang baru bisa terhimpun ketika kita memiliki keyakinan tersebut. Kemudian, tanyakan lagi, semampu apa kita membangkitkan keyakinan itu dengan kemampuan diri sendiri yang masih gampang terbuai oleh kesenangan sesaat tanpa mengikuti instruksi Buddha untuk berziarah dan mengandalkan situs suci seperti Candi Borobudur?</p>



<p>Ketika kita bisa melepas kesombongan yang membuat kita merasa tidak membutuhkan bantuan Candi Borobudur ataupun objek-objek suci untuk melatih batin kita, barulah kualitas keyakinan punya ruang untuk tumbuh di dalam diri kita. Setelah itu, barulah kita bisa bicara soal mengumpulkan kebajikan di Candi Borobudur dan bergerak untuk memperjuangkannya.</p>



<p>Lamrim Talk &#8220;Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik&#8221; bisa disaksikan di <a href="https://youtu.be/UuOGS9dcS7w" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sini.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Borobudur Itu Apa Sih?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Sep 2024 12:43:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mandala]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5976</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Borobudur bukan sekadar tempat wisata. Borobudur adalah sumber inspirasi welas asih untuk Indonesia. Simak penjabarannya!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Siang itu, saat udara sedang dingin-dinginnya, saya sedang berbincang dengan kawan-kawan perihal Candi Borobudur. Kami pun bergiliran memberi pendapat tentang apa sih Borobudur itu. Ada yang bilang kalau Borobudur itu tempat berswafoto yang asyik. Ada yang bilang Borobudur itu tempat wisata yang kalau satu kompleksnya dikelilingi dengan jalan kaki bisa bikin keringat mengucur. Nah, ada pula satu kawan saya yang bilang Borobudur lebih dari sekadar tempat wisata ataupun swafoto, yaitu tempat ibadah umat Buddha. Saya pun ikut berpikir, jangan-jangan Borobudur ini bangunan bersejarah yang sangat sakral!&nbsp;</p>



<p>Daripada kita bertanya-tanya, lebih baik kita bahas bareng-bareng sebenarnya Borobudur itu apa. Jangan sampai kita berhenti mengenal Borobudur hanya sebagai bangunan warisan nenek moyang saja.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Kitab Suci Tiga Dimensi (3D)</strong></h4>



<p>Kok Borobudur dibilang kitab suci? Kitab biasanya berbentuk seperti buku dan tebal, mungkin lebih dari 100 halaman. Kita tahu kalau kitab suci agama Buddha itu berupa kumpulan teks yang kalau dikumpulkan mengisi penuh lemari. Borobudur kan bangunan, bukan teks, kok bisa jadi kitab suci?</p>



<p>Sebenarnya, Borobudur bukan sekadar batu yang ditumpuk indah menjadi bangunan bersejarah umat Buddha Nusantara. Tapi, Borobudur adalah sebuah kitab suci 3D yang sangat mewah. Kisah-kisah kehidupan manusia dari sebab dan akibatnya terukir di relief menjadikannya sebagai kitab suci pedoman manusia saat ini.&nbsp;</p>



<p>Berdasarkan informasi dalam buku Kearsitekturan Candi Borobudur yang diterbitkan oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, secara kosmologi Buddhis, Borobudur terdiri atas tiga tingkatan, yaitu <em>Kamadhatu</em>, <em>Rupadhatu</em>, dan <em>Arupadhatu</em>. Tapi, pernyataan ini pernah disangkal dan belum diperbaharui, karena TIGA TINGKATAN ini masih dalam samsara. Padahal, Candi Borobudur adalah sebuah lambang menuju pada Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/wIAllV1mQjLbEfeJS7rzdlhvgwguVVj8CP9KouW-jVeNxo9MaaLL_t11OleNiJsxgXIquFz8EDiD4Y77ruJ4u-W8rUX03viyReCLY46JT9xrzHvtvlqL3OnlewqvsvY0xolXx-Ke" alt="Sumber Foto: Sangha Vajrayana Indonesia"/><figcaption>Sutra &amp; Simbol Buddhis di Candi Borobudur</figcaption></figure>



<p>Mari kita ulas dari strukturnya dahulu. Candi ini terdiri atas sepuluh tingkat yang diduga merujuk pada 10 tingkatan Bodhisatwa dalam <strong>Dasabhumika Sutra</strong>, bagian dari Awatamsaka Sutra. De Casparis, seorang peneliti dari Belanda membuat rekonstruksi ulang nama candi ini dari kata “Bhumisambharabhudara” yang berarti “Gunung Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkat Bodhisatwa” dari Dasabhumika Sutra.</p>



<p>Dalam tradisi Buddhisme Mahayana, terdapat tingkatan kesucian praktisi yang dikenal dengan sebutan “Marga”. Mulai dari marga ke-3, yakni Marga Penglihatan, maka seorang praktisi mulai memasuki 10 tingkatan Bodhisatwa yang disimbolkan dalam 10 tingkatan Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Relief yang terukir pada dinding candi ini berdasar dari sutra dalam kitab suci agama Buddha. Pertama adalah <strong>Gandawyuha, </strong>bagian dari Awatamsaka Sutra yang mengisahkan perjalanan Sudhana mencari guru spiritual untuk mencapai Kebuddhaan. Dikisahkan bahwa Sudhana berguru pada 52 orang kalyanamitta dari berbagai kalangan, mulai dari ratu, kapten kapal, wanita penghibur, hingga seorang budak. Semua gurunya memberinya manfaat, sehingga ia sangat berbakti kepada mereka. Hingga akhirnya pada ujung relief Gandawyuha, Sudhana bertemu dengan Bodhisatwa Samantabhadra yang mengajarkan tujuan dari kebijaksanaan tertinggi adalah dengan memberi manfaat pada semua makhluk.</p>



<p>Dua orang guru Sudhana di relief Gandawyuha, Brahmana Jayosmayatana dan Siwa Mahadewa, adalah tokoh dari tradisi Hindu. Kehadiran tokoh ini menyiratkan adanya sinkretisme yang merupakan corak tradisi Tantrayana sejak awal kemunculannya di India. Ada pula tokoh Vasumitra, wanita penghibur yang menjadi guru Sudhana dan dikatakan dalam Gandawyuha mampu menggunakan belaian dan cumbuan sebagai <em>upaya kausalya </em>untuk membimbing para makhluk ke jalan Dharma. Pemilihan Gandawyuha dan kehadiran tokoh-tokoh ini dalam relief Borobudur menunjukkan bahwa Borobudur juga memiliki kaitan dengan tradisi Tantrayana.</p>



<p>Kemudian dalam relief <strong>Sutra Bhadracari</strong> terdapat doa dedikasi agung Bodhisatwa Samantabhadra yang hingga saat ini masih dilantunkan di setiap biara Buddhis di India, Tibet, dan Indonesia. Doa ini untuk membebaskan penderitaan dari semua makhluk dengan mencapai Kebuddhaan. Tentunya doa ini tidak hanya kita memohon pada Buddha, tapi menjadi pondasi semangat kita untuk menolong banyak makhluk.</p>



<p>Lalu ada pula relief sutra Jataka dan Avadana yang mengisahkan perjuangan Bodhisatwa untuk menyempurnakan <strong>paramita </strong>(<strong>sila</strong>-moral, <strong>ksanti</strong>-kesabaran, <strong>wiriya</strong>-semangat, <strong>dhyana</strong>-ketenangan batin, dan <strong>prajna</strong>-kebijaksanaan) di berbagai kehidupan selama berkalpa-kalpa.</p>



<p>Bodhisatwa akan segera menjadi Buddha setelah menyempurnakan paramita dengan terlahir sebagai manusia. Kisah hidup Bodhisatwa sebagai manusia dijabarkan dalam <strong>Sutra Lalitawistara</strong>. Beliau terlahir menjadi Siddharta Gautama dari rahim Ratu Mahamaya dan akhirnya memutuskan mencari jalan keluar penderitaan manusia setelah melihat empat hal&#8211;orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Beliau melakukan banyak hal seperti bertapa di hutan dan menyiksa diri selama 6 tahun hingga akhirnya beliau mencapai penerangan sempurna.</p>



<p>Untuk mencapai Kebuddhaan tentunya tidak terlepas dari praktik mendasar agama Buddha, yakni meyakini <strong>hukum karma</strong> atau hukum sebab akibat. Karena itulah relief <strong>Sutra Karmawibhangga </strong>yang berisi sebab-akibat perilaku manusia menjadi pondasi dari Candi Borobudur. Dari relief tersebut kita bisa memahami bahwa keburukan apapun yang dilakukan dalam ucapan maupun tindakan akan berbuah buruk, begitu pula kebaikan apapun yang kita lakukan akan berbuah manis juga. Bila kita bisa memahami hukum karma, maka kita bisa menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Stupa</strong></h4>



<p>Ada banyak Stupa yang terpasang di Candi Borobudur. Stupa itu sendiri merupakan objek pemujaan yang populer dalam tradisi Buddhis meski rupang kemudian muncul pada abad II Masehi. Pemujaan Stupa menjadi populer saat Raja Ashoka mendirikan stupa berisi relik Buddha di berbagai tempat. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan relik guru-guru agung, stupa juga menjadi perlambang Dharma dan transformasi spiritual. Ketika kita melihat sebuah stupa, kita ibarat sedang melihat batin Buddha yang tercerahkan sekaligus batin tercerahkan yang akan kita capai di masa mendatang.</p>



<p>Sebuah stupa umumnya terdiri atas beberapa komponen, yaitu kubah, yupa, dan chattra. Kubah berfungsi sebagai tempat menyimpan relik. Yupa<em> </em>merupakan simbol pengorbanan. Pengorbanan yang dimaksud ini sesuai dengan penjelasan Buddha dalam <em>Kutadanta Sutta, </em>bahwa pengorbanan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kebajikan seperti berdana, melatih sila, meditasi, hingga pengorbanan untuk meraih pencerahan.</p>



<p>Chattra merupakan cakram yang berada di atas stupa sebagai simbol payung seremonial, yang merupakan simbol kebangsawanan India Kuno dan masih digunakan hingga sekarang. Di Thailand, chattra digunakan untuk memayungi raja dalam berbagai upacara kenegaraan. Di Tibet, chattra digunakan untuk memayungi Dalai Lama yang berperan sebagai pemimpin spiritual. Chattra juga merupakan simbol pohon Bodhi tempat Buddha mencapai pencerahan/ Chattra di puncak stupa dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada Buddha yang disimbolkan oleh stupa tersebut.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Mandala</strong></h4>



<p>Daud Aris Tanudirjo menjelaskan mandala adalah sebuah lingkaran yang penerapannya memiliki makna kontekstual yang berbeda-beda. Pengertian lain tentang mandala juga dikemukakan oleh Grover (1980) saat ia membahas arsitektur Hindu dan Buddhis. Grover berpendapat bahwa mandala adalah bentuk geometris yang paling hakiki dari bentuk dasar lainnya untuk mendirikan bangunan suci para dewa.&nbsp;</p>



<p>Robert A. Thurman menjelaskan mandala sebagai sebuah matriks atau model alam semesta yang sempurna. Mandala menyimbolkan Kebuddhaan sebagai pembebasan dan kebahagiaan tertinggi yang dicapai seseorang yang telah menyatu dengan lingkungannya dalam kesalingbergantungan.</p>



<p>Berbagai sumber sejarah Jawa Kuno juga menunjukkan adanya konsep mandala dalam bangunan Jawa dan Bali. Contohnya adalah Candi Sewu yang disebut sebagai mandala dalam Prasasti Kelurak (782 M) ataupun Gugusan Gunung Kawi di Bali yang disebut “<em>sanghyang mandala ring Amaravati</em>” (Soekmono, 1974).</p>



<p>Pada situs biara Namgyal (kediaman Y.M.S. Dalai Lama XIV), dikatakan bahwa mandala berarti representasi sebagai rumah atau istana suci tempat tinggal Buddha. Meski memiliki bentuk yang indah, mandala memiliki fungsi religius, bukan untuk dikagumi estetikanya saja.</p>



<p>Berdasarkan perspektif filsafat Buddhis sendiri, Candi Borobudur juga dapat dipandang sebagai sebuah mandala mandala yang sempurna, yaitu mandala dengan ukuran asli yang bisa dimasuki oleh praktisi yoga tantra pada masa itu untuk merenung dan bermeditasi.</p>



<p>Mandala memiliki pintu masuk yang unik berupa ujung wajra. Peneliti Caroline Gammon dalam disertasinya menemukan ujung wajra tersebut di pintu utama Borobudur. Dalam Borobudur International Buddhist Conference tahun 2016, pembicara Y.M. Biksu Bhadra Ruci juga menyatakan bahwa Borobudur adalah mandala pencapaian spiritual manusia.</p>



<p>Lebih lanjut, salah satu peneliti Borobudur bernama Stuterheim (1956) mengemukakan bahwa pada zaman dahulu Candi Borobudur merupakan yang tidak boleh dikunjungi sembarang orang. Ia yakin bahwa Borobudur adalah tempat untuk berlatih meditasi bagi para praktisi yang ingin menjadi Buddha di masa mendatang. Jadi, dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa Candi Borobudur adalah mandala yang merupakan tempat suci dan tidak bisa dimasuki dengan bebas.</p>



<h4><strong>Bukti Peradaban Buddhis Nusantara</strong></h4>



<p>Kemegahan Candi Borobudur membuatnya menjadi salah satu warisan budaya dunia (<em>World Heritage) </em>nomor C. 592 tahun 1991. Pembangunan Candi Borobudur diketahui pada zaman kejayaan Dinasti Syailendra sekitar abad VIII-IX M berkat sebuah pahatan huruf yang ada di relief <em>Karmawibhangga</em>. Menurut peneliti De Casparis yang mengidentifikasi pahatan ini, gaya pahatan huruf yang terdapat di inskripsi tersebut sama dengan yang ada di prasasti Karang Tengah yang berangka 824 M dan prasasti Kahulunan dari 842 M. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintah Samaratungga yang memimpin Dinasti Syailendra pada tahun 782-812 M.&nbsp;</p>



<p>Kita tidak bisa mewawancarai pendiri atau perancang Candi Borobudur, tapi tidaklah mengherankan jika ajaran Buddha yang dipilih sebagai basis pendirian Borobudur dan diangkat menjadi ratusan keping relief nan rumit mewakili nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat Nusantara pada masa itu. Borobudur adalah bukti peradaban Buddhis Nusantara yang menjunjung tinggi welas asih yang universal.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Sumber Inspirasi di Masa Kini</strong></h4>



<p>Buddha mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang ingin menderita, semuanya ingin bahagia. Namun, setahun belakangan ini kalau kita lihat banyak konflik antar golongan terjadi untuk memperebutkan kekuasaan ekonomi, teknologi, bahkan juga militer. Tentunya konflik ini menjadi ancaman kedamaian untuk dunia dan bertolak belakang dengan harapan kita akan kehidupan yang aman, damai, dan bahagia.</p>



<p>Perjuangan Bodhisatwa untuk meraih Kebuddhaan demi semua makhluk yang terukir dalam relief candi beserta simbol-simbol pencerahan dalam setiap elemen Borobudur bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak-Nya. Kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mulai dari tindakan yang sederhana, seperti menyebarkan cinta kasih melalui pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak menimbulkan pertengkaran dengan sesama. Perlahan-lahan, kita pun bisa belajar memandang semua makhluk dengan kasih sayang.</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Tempat Suci Umat Buddha</strong></h4>



<p>Borobudur memang bukan termasuk situs yang berkaitan langsung dengan riwayat hidup Buddha Sakyamuni &#8212; Bodhgaya, Lumbini, Sarnath dan Kushinagar. Meski demikian, seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwasannya Borobudur adalah Kitab Suci 3D yang memuat kisah perjalanan Bodhisatwa yang terlahir kembali dalam berbagai wujud hingga beliau terlahir sebagai manusia dan mencapai pencerahan tertinggi beserta simbol-simbol pencerahan itu sendiri. Borobudur juga merupakan mandala yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang karena tempat ini dipergunakan untuk berlatih meditasi para praktisi yang ingin mencapai Kebuddhaan. Bangunan yang memuat KItab Suci 3D dan mandala ini tentu harus kita hormati sebagai sebuah tempat suci.</p>



<p>Dalam acara Borobudur <em>International Buddhist Conference</em> tahun 2016, Y.M. Biksu Pannavaro juga menyatakan bahwa Candi Borobudur layak menjadi objek pemujaan karena memiliki tiga objek pemujaan dalam pandangan Buddhis, yakni relik Guru Agung Buddha dan orang suci; pohon Bodhi (tempat Buddha mencapai pencerahan); serta foto, gambar, ataupun candi yang mengingatkan kita pada Guru Agung Buddha.&nbsp;</p>



<p>Tentu saja ini tidak berarti masyarakat yang tidak beragama Buddha dilarang datang ke Candi Borobudur. Semua boleh dan bahkan sangat dianjurkan untuk berkunjung untuk mengapresiasi keindahan dan menghayati ajaran bajik yang ada di candi ini. Jika umat Buddha menghormati Candi Borobudur dengan melakukan puja bakti. menghaturkan persembahan, dan merenungkan ajaran Buddha, wisatawan umum turut serta menghormati Candi Borobudur dengan berperilaku sopan, menjaga keutuhan dan kebersihan lingkungan, dan pastinya mengembangkan welas asih dan toleransi yang disimbolkan oleh Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Borobudur adalah salah satu warisan budaya Nusantara untuk dunia yang sangat megah dan bukan hanya sekadar kisah biasa. Nilai-nilai kehidupan yang unggul tentang sebab-akibat (relief <em>Karmawibhangga</em>) dan juga kisah perjalan spiritual Sudhana untuk mencapai Kebuddhaan yang terukir dalam reliefnya menjadikannya sebagai Kitab Suci 3D pedoman hidup untuk kita.</p>



<p>Amatlah disayangkan bila mahakarya nenek moyang kita ini hanya menjadi tempat jalan-jalan atau sekadar swafoto. Oleh sebab itu, kita sebagai ahli waris Borobudur harus menghargainya dengan mengubah pandangan kita yang tadinya menganggap Borobudur tak lebih dari sekadar tempat wisata. Borobudur lebih dari itu karena juga merupakan sebuah tempat suci yang dulunya digunakan oleh calon Buddha di masa mendatang. Saat kita sudah bisa memiliki pemikiran bahwa Borobudur adalah tempat suci untuk beribadah, maka kita pasti menjaga perilaku saat mengunjungi candi ini. Dengan demikian, kesakralan candi dan keutuhan bangunan fisiknya pun akan terjaga dengan baik.</p>



<p>Saat ini, memang kondisi Borobudur jauh dari kata ideal. Pengelolaannya belum melibatkan pendekatan filsafat Buddhis dan tak sedikit pengunjung yang bersikap kurang pantas karena memandang Borobudur sebagai objek wisata biasa. Dengan mulai dari diri sendiri, mudah-mudahan kita sebagai umat Buddha bisa menjadi teladan bagi semua orang untuk sama-sama menghormati dan memelihara Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Daftar Pustaka:</strong></h4>



<p>Stutterheim, W.F. 1956. Chandi Barabudur: Name, Form, dan Meaning dalam Studies In Indonesian Archeology. KITLV translation series. Martinus Nijhoff, hal. 3-63.</p>



<p>Daud Aris Tanudirjo &#8211; “<a href="https://docplayer.info/45917901-Borobudur-sebagai-mandala-masa-lalu-dan-masa-kini.html">Borobudur Sebagai Mandala: Masa Lalu dan Masa Kini</a><em>”&nbsp;</em></p>



<p>Youtube Lamrimnesia &#8211; “<a href="https://youtu.be/jglNUiSZMj4">Ayo Puja Bakti ke Borobudur, Tempat Suci Umat Buddha</a>”</p>



<p>Buddhazine.com &#8211; “<a href="https://buddhazine.com/borobudur-adalah-mandala-pencapaian-spiritual-manusia/">Borobudur Adalah Mandala Pencapaian Spiritual Manusia</a>”</p>



<p>Sangha Vajrayana Indonesia &#8211; “<a href="https://sanghakci.wixsite.com/sanghakadamchoeling/single-post/candi-borobudur-adalah-mandala?fbclid=IwAR2HU4qFtrPss_5aNlOYRfeZ1Xur11f_c2v2lOgsmoLnbMgKjyKMtdbO-ps">Borobudur adalah Mandala</a>”</p>



<p>Stanley Khu &#8211; “<a href="https://borobudurwriters.id/situs/perihal-polemik-chattra-sebuah-usaha-memaknai-ulang-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa</a>”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2024 09:11:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[muara jambi]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9238</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kata terima kasih sangat sering kita ucapkan, tapi belum banyak yang tahu bahwa “terima kasih” adalah ajaran warisan Muara Jambi yang punya arti mendalam.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/"><strong>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</strong></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/">&lt;strong&gt;Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi&lt;/strong&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dosen dan aktivis Buddhis mengungkap rahasia dan makna mendalam dari “terima kasih” dari sejarah Muara Jambi, pada <em>talkshow </em>“Terima Kasih: Unconditional Love Ajaran Klasik dari Muara Jambi”.Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 27 Juli 2024 di Savasana coffee &amp; event space, Yogyakarta ini merupakan bagian dari <em>pre-event</em> Nusantara Dharma Book Festival, festival literasi besutan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara yang akan digelar Oktober 2024.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="TERIMA KASIH: Ajaran Unconditional Love dari Muara Jambi - Road to NDBF 6.0" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/CAuIn5qz_DM?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<h2 id="h-sejarah-muara-jambi-guru-suwarnadwipa">Sejarah Muara Jambi &amp; Guru Suwarnadwipa</h2>



<p>Dr. Hastho Bramantyo, Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, memulai obrolan dengan mengulik masa lalu Muara Jambi sebagai universitas besar pada zaman Sriwijaya. Universitas ini dipimpin oleh guru bernama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang tidak hanya tersohor di Nusantara, tapi juga sampai luar negeri.&nbsp;</p>



<p>Pada masa itu, Guru Suwarnadwipa adalah orang terakhir yang bisa mengajarkan ilmu rahasia dalam agama Buddha yang bisa menghasilkan cinta tanpa syarat kepada semua makhluk. Demi ajaran ini, cendekiawan besar Guru Atisha Dipankara dari India untuk belajar ke Sriwijaya. Beliau melakukan perjalanan selama 13 bulan dan mengenyam pendidikan selama 12 tahun.</p>



<p>Dr. Hastho Bramantyo menegaskan bahwa ajaran Guru Suwarnadwipa ini merupakan warisan spiritual yang masih melekat pada bangsa Indonesia. “Ada pepatah dalam bahasa Jawa, <em>Trahing kusuma rembesing madu</em>, yang artinya silsilah nektar akan merembes sampai keturunannya,” jelasnya. Buktinya ada pada ungkapan “terima kasih” yang berakar dari bahasa Melayu, bahasa “persatuan” Sriwijaya dahulu.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Infografis Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a></p>



<h2>Praktik Terima Kasih Warisan Muara Jambi</h2>



<p>Salah satu latihan yang diajarkan Guru Suwarnadwipa adalah praktik “terima kasih”. Agustino, Direktur Yayasan Pengambangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara menjelaskan bahwa sumber tekstual mengenai ajaran ini sangat terbatas karena dulu bersifat rahasia.. Namun, belakangan ajaran ini didokumentasikan di negeri Tibet dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga orang Indonesia di masa kini bisa kembali mempelajarinya. Salah satunya adalah kitab “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” karya Namkha Pel yang menjadi rujukan dalam acara ini.</p>



<p>&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“‘Terima berarti menerima semua penderitaan semua makhluk dan ‘kasih’ berarti memberikan berkah baik kepada semua makhluk,” jelas Agustino.&nbsp;</p></blockquote>



<p>Agustino menjelaskan bahwa kebanyakan orang akan menyalahkan orang lain sebagai penyebab penderitaan atau menyalahkan diri sendiri sehingga merongrong kesehatan mental seseorang. Ini bisa diatasi dengan praktik “terima kasih” dari Muara Jambi.l.&nbsp;</p>



<p>“Kita punya <em>tools</em> untuk benar-benar <em>happy</em> saat kita kesulitan menghadapi cepatnya perubahan,” ujar Agustino di penghujung sesi, “Indonesia patut berbangga karena telah mempunyai <em>tools</em> ini dan dapat dipelajari banyak orang karena sifatnya yang universal. Jika kita ingin belajar s<em>elf love, unconditional love, compassion</em>, inilah jawabannya.”</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Ajaran ini bermanfaat, jadi harus dibagikan ke seluruh dunia,&#8221; pungkas Dr. Hastho Bramantyo.&nbsp;</p></blockquote>



<p>Penjelasan ajaran “terima kasih” dapat dibaca di buku “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/">Latihan Batin Laksana Sinar Mentari</a>”.&nbsp;</p>



<h2>Tentang Nusantara Dharma Book Festival</h2>



<p><a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 6.0</a>, adalah festival literasi tahunan yang diprakarsai oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN). Rutin diadakan sejak tahun 2019, acara ini berkomitmen untuk mempromosikan pentingnya literasi, warisan spiritual Nusantara, dan manfaatnya bagi kesehatan mental melalui bazar buku, bedah buku, seminar, <em>workshop, </em>lomba, dan pentas seni. Tahun ini, NDBF 6.0 akan kembali diselenggarakan pada 2–6 Oktober 2024 di Sangkring Art Space, D.I. Yogyakarta.&nbsp;</p>



<p>Informasi mengenai Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti melalui Instagram <a href="http://instagram.com/dharmabookfest">@dharmabookfest.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/"><strong>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</strong></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/">&lt;strong&gt;Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi&lt;/strong&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Riwayat Buddha Versi Borobudur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2024 12:55:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[12 aktivitas Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9161</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mau tahu seperti apa riwayat Buddha berdasarkan Sutra Lalitawistara di Candi Borobudur? Yuk simak ringkasannya di sini!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Setiap hari Waisak, kita umumnya diajari untuk memperingati 3 peristiwa penting dalam riwayat Buddha Sakyamuni, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna, dan parinirwana. Namun, kalau kita merujuk Sutra Lalitawistara yang terukir di <a href="https://lamrimnesia.org/?s=borobudur">Candi Borobudur</a>, kita akan menemukan bahwa ternyata ada 12 aktivitas agung sang Buddha yang bisa kita rayakan! Apa saja ke-12 aktivitas tersebut?</p>



<p>Berikut adalah 12 Aktivitas Agung sang Buddha yang disarikan dari Sutra Lalitawistara &amp; Sutra Winayaksudraka:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-576x1024.png" alt="" class="wp-image-9163" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-576x1024.png 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-169x300.png 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-768x1365.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-864x1536.png 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-150x267.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-450x800.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-600x1067.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1.png 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<h2 id="h-1-lahir-sebagai-dewa-shwetaketu">1. <strong>Lahir sebagai Dewa Shwetaketu</strong></h2>



<p>Di Tushita, Bodhisatwa terus-menerus merenungkan Dharma &amp; mempersiapkan kelahiran yang paling cocok untuk menjadi Buddha &amp; menolong sebanyak mungkin makhluk dengan Dharma, yaitu:</p>



<ul><li>Lahir di Jambudwipa, tepatnya di India,</li><li>Lahir dalam kasta terhormat</li><li>Rentang hidup seabad </li><li>Ada wanita yang layak menjadi pasangan</li></ul>



<h2>2. <strong>Keberangkatan dari Alam Tushita</strong></h2>



<p>Para dewa mencoba menahan Bodhisatwa karena dunia dipenuhi ajaran sesat, tapi Bodhisatwa menegaskan bahwa justru ia harus turun dan menaklukkan mereka.</p>



<h2><strong>3. Masuk ke Rahim</strong></h2>



<p>Ratu Mahamaya dari Kapilawastu memberi bermimpi rahimnya dimasuki gajah putih bergading enam dan pikirannya dipenuhi kebahagiaan, bagai konsentrasi terpusat.</p>



<h2>4. <strong>Kelahiran Sang Bodhisatwa</strong></h2>



<p>Ayahnya Raja Suddhodana, Ibunya Ratu Mahamaya. Baru lahir di Taman Lumbini, langsung berjalan 7 langkah ke utara &amp; berbicara! Ia diramalkan bisa menjadi raja dunia atau menjadi Buddha.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Aku akan menjadi yang terunggul di antara semua makhluk hidup.”</em></p><cite>Siddhartha Gautama ketika baru lahir</cite></blockquote>



<h2>5. <strong>Ketangkasan yang Ditunjukkan Sang Bodhisatwa</strong></h2>



<p>Mencari pasangan yang satu visi dalam kebajikan, Bodhisatwa menunjukkan kecerdasan &amp; ketangkasannya, mengungguli 500 pangeran dalam sayembara.</p>



<h2>6. <strong>Menikahi Yasodhara dan Kehidupan di antara Kaum Wanita</strong></h2>



<p>Saat dikurung dalam kebahagiaan di tiga istana, Bodhisatwa tak terlena. Beliau ingat akan tekadnya untuk menjadi pelindung semua makhluk.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-576x1024.png" alt="" class="wp-image-9164" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-576x1024.png 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-169x300.png 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-768x1365.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-864x1536.png 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-150x267.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-450x800.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-600x1067.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2.png 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<h2><strong>7. Penolakan terhadap Samsara</strong></h2>



<p>Melihat penderitaan sakit, tua, dan mati serta kehidupan pertapa, Bodhisatwa meninggalkan kenikmatan duniawi di istana dan fokus mencari cara mengakhiri penderitaan.</p>



<h2>8. <strong>Praktik Kesederhanaan Hidup</strong></h2>



<p>Setelah 6 tahun melakukan pertapaan yang sangat keras, Bodhisatwa menyadari bahwa itu adalah pandangan salah dan menerima dana makanan dari perempuan bernama Sujata.</p>



<p>Sujata mempersembahkan dadih susu dari ribuan sapi yang diolah 7x &amp; dicampur butiran nasi segar. Berkat kebajikan ini, ia diramalkan akan meraih nektar keabadian.</p>



<h2>9. <strong>Kemenangan atas Mara</strong></h2>



<p>Tak goyah oleh ancaman maupun godaan Mara, bumi menjadi saksi kemenangan Bodhisatwa.</p>



<h2>10. <strong>Tercapainya Pencerahan Sempurna</strong></h2>



<p>Terserap dalam 4 tingkat dhyana dan meraih 3 jenis Pengetahuan Tertinggi, Samma Sambuddha telah siap membimbing semua makhluk menuju kebahagiaan sejati!</p>



<h2>11. <strong>Pemutaran Roda Dharma</strong></h2>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td>Peristiwa</td><td>Topik</td><td>Tempat</td><td>Pendengar</td></tr><tr><td>Pemutaran Pertama</td><td>Empat Kebenaran Arya</td><td>Taman Rusa Isipatana, Benares</td><td>Lima Pertapa, majelis dewa-dewi</td></tr><tr><td>Pemutaran Kedua</td><td>Kesunyataan</td><td>Gunung Gridhakuta</td><td>1250 atau 5000 biksu &amp; biksuni, umat awam, majelis besar Bodhisatwa</td></tr><tr><td>Pemutaran Ketiga</td><td>Intisari Realitas Absolut</td><td>Malaya &amp; Waishali</td><td>Bodhisatwa yang telah memasuki Ketiga Yana</td></tr></tbody></table><figcaption>3 kali pemutaran Roda Dharma oleh sang Buddha</figcaption></figure>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Dalam bentuk yang berbeda-beda, menunjukkan kemiripan dengan ilusi, sihir, dan mimpi, dengan pantulan rembulan di permukaan air dan gema, Sang Buddha telah memutar Roda Dharma.”</p><cite>Sutra Lalitawistgara</cite></blockquote>



<h2>12. <strong>Sang Buddha Memasuki Parinirwana</strong></h2>



<p>Seorang Buddha bisa hidup sampai ratusan kalpa, tapi karena Ananda lalai mengajukan permohonan, Beliau akhirnya memberikan pelajaran penting tentang ketidakkekalan dengan memasuki parinirwana di Kushinagar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Jika ajaran yang ingin kalian ikuti terkandung dalam Sutra, ditemukan dalam Winaya dan tidak bertentangan dengan kondisi sejati hal-ihwal, maka kalian harus menerimanya sebagai ajaranku. Jika bukan begitu kasusnya, maka ajaran yang demikian tidak boleh diterima.”</p><cite>-Sabda Buddha sebelum menerima derma terakhir</cite></blockquote>



<p>Referensi: <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/12-aktivitas-agung-sang-begawan/">12 Aktivitas Agung Sang Begawan: Riwayat Sang Buddha Berdasarkan Lalitawistara dan Winayaksudraka</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2024 12:14:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8956</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha? Kenapa umat Buddha menyebutnya Triratna (Tiga Permata) dan berlindung kepadanya? </p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha? Kenapa umat Buddha menyebutnya Triratna dan berlindung kepadanya?&nbsp;</p>



<p>Jika seorang Buddhis tidak pernah mempelajari kualitas-kualitas Triratna, cepat atau lambat, ia akan kehilangan alasan untuk berlindung. Saat ada yang lebih ngetren atau mentereng, ia akan dengan mudah pindah keyakinan. Karena itulah memahami kualitas setiap aspek Triratna adalah <a href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">syarat wajib seseorang untuk Trisarana</a>. Apa saja kualitas masing-masing Ratna? Apa saja perbedaan di antara mereka? Mari kita ulas secara ringkas.</p>



<h2 id="h-kualitas-buddha"><strong>Kualitas Buddha</strong></h2>



<p><strong>Kualitas tubuh Buddha</strong> tentu sudah sering kita dengar, yaitu terdiri atas 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan seorang makhluk agung. Setiap tanda ini bukan tanda biasa seperti tahi lalat atau warna pada kulit, melainkan buah dari 10 juta kebajikan! Merenungkan hal ini juga penting agar kita jadi punya sebab karma untuk memiliki kualitas tersebut. Dalam Sutra Ratnavali, kita dianjurkan untuk merenungkan bait berikut:</p>



<p>“Andaikan kita menggabungkan semua kebajikan di dunia—termasuk kebajikan para Pratyekabuddha, para Śrāvaka (baik yang sedang dalam latihan maupun yang sudah menyelesaikan latihannya), serta para raja cakravartin. Jumlah ini hanya cukup untuk menghasilkan satu lubang pori-pori pada tubuh Buddha. Jika kita menggabungkan semua kebajikan yang akan menghasilkan semua lubang pori-pori pada tubuh Buddha, seratus kali lipat dari jumlah itu dibutuhkan untuk satu tanda sekunder sang Buddha.”</p>



<p><strong>Ucapan Buddha</strong> juga tak kalah luar biasa. Jika dirinci, total ada 60 kualitas ucapan seorang Buddha. Di antara semua kualitas itu, salah satu yang paling gampang diingat adalah bagaimana satu ucapan saja dari sang Buddha bisa dipahami dalam banyak bentuk berbeda. Jika semua makhluk menanyakan sesuatu di waktu yang sama, Buddha bahkan bisa menghadirkan satu tubuh dan satu ucapan untuk menjawab mereka semua.</p>



<p><strong>Kualitas batin</strong> Buddha dapat dirangkum ke dalam dua aspek, yaitu pengetahuan Buddha dan cinta kasih Buddha. Sang Buddha memiliki pengetahuan yang mampu menyadari semua fenomena yang ada secara konvensional sejelas melihat cangkang buah asam di telapak tangan sambil tetap berada dalam konsentrasi terpusat yang merealisasikan langsung sifat tertinggi semua fenomena. Sementara itu, cinta kasih Buddha begitu besar kepada semua makhluk: tidak terbatas, tidak berubah, hadir setiap saat tanpa jeda.</p>



<p>Selain itu, masih ada lagi kualitas dari <strong>aktivitas Buddha</strong> yang digambarkan dalam 9 perumpamaan. Ringkasnya, seorang Buddha bisa menyelesaikan aktivitas-aktivitas tanpa upaya dan tanpa motivasi. Aktivitas Buddha membawa akibat secara spontan dan tanpa upaya, saat waktu yang tepat tiba, yaitu saat ada batin makhluk yang cukup suci untuk ditaklukkan secara spiritual.</p>



<h2><strong>Kualitas Dharma</strong></h2>



<p>Berhubungan dengan kualitas Buddha, Kualitas Dharma adalah mampu menghasilkan atribut-atribut Buddha, termasuk seluruh kualitas luar biasa di atas.&nbsp;</p>



<p>Sederhananya, tujuan utama Dharma adalah mengendalikan batin kita. Jika seseorang bisa mempraktikkan Dharma dengan tekun, setahap demi setahap, batinnya akan semakin terkendali, ia akan bisa meraih kualitas-kualitas agung Buddha, dan kebahagiaan tentu bisa diraih. Inilah kualitas Dharma yang dapat kita renungkan.</p>



<h2><strong>Kualitas Sangha</strong></h2>



<p>Sementara itu, kualitas Sangha sangat beragam tergantung pada tingkatan kesuciannya. Misalnya, praktisi yang telah mencapai Marga Penghimpunan di kendaraan Śrāvaka telah menolak samsara dan mengabdikan diri untuk mengembangkan 13 syarat pencerahan. Ia juga telah mencapai tiga faktor pertama dari 37 faktor pencerahan. Ia pun bisa memproyeksikan emanasi yang bertindak demi makhluk lain serta mulai mengembangkan kebijaksanaan supernormal.</p>



<p>Sangha yang telah mencapai Marga Persiapan telah memperoleh realisasi konseptual terhadap 16 aspek yang berkaitan dengan Empat Kebenaran Arya. Di Marga Penglihatan, salah satu kualitas Sangha adalah realisasi langsung akan kesunyataan. Pada Marga Meditasi, seorang praktisi secara bertahap meninggalkan 81 bentuk klesha.</p>



<p>Sangha yang telah mencapai tingkatan Arahat punya kualitas yang lebih besar lagi. Ia mampu mengubah banyak objek fisik menjadi lebih sedikit, Ia mampu mewujudkan banyak emanasi dan mengubah penampilan bentuk luar, hingga mampu bepergian ke mana pun ada makhluk yang perlu ditaklukkan secara spiritual.&nbsp;</p>



<p>Seorang Pratyekabuddha telah menghimpun kebajikan selama seratus kalpa. Seorang Bodhisatwa memiliki kualitas bajik yang tak terbatas. Ia mengembangkan pemahaman yang kokoh akan kesunyataan lewat belajar, merenung, dan meditasi serta mengatasi pandangan salah yang menganggap segala sesuatu memiliki eksistensi sejati. Kualitas-kualitas ini terus bertambah sejalan dengan <em>bhumi</em> atau tingkatan yang dicapai sang Bodhisatwa. Beberapa contohnya: mampu memproyeksikan 100 emanasi, melihat masa lalu dan masa depan, mengemanasikan 100 tanah Buddha, hidup selama 100 kalpa.</p>



<p>Kitab “Pembebasan di Tangan Kita” memberikan beberapa contoh sosok yang menggambarkan kualitas Sangha. Arya Ananda, setelah Buddha Sakyamuni parinirwana, menaklukkan sejumlah <em>tirthika </em>(penganut aliran sesat) dan membawa 80 ribu makhluk menuju realisasi Kebenaran. Ada pula kisah Mara menurunkan hujan makanan dan permata serta mendatangkan penari untuk mengganggu praktisi Dharma yang sedang mendengarkan pembabaran Dharma oleh Arya Upagupta. Saat Arya Upagupta mengalungkan bunga pada penari panggilan Mara tersebut, ia tiba-tiba terlihat buruk rupa. Gangguan pun sirna.</p>



<h2><strong>Perbedaan Setiap Ratna</strong></h2>



<p>Setelah mempelajari kualitas masing-masing Ratna, seorang Buddhis juga perlu memahami perbedaan di antaranya. Perbedaan ini dapat dikelompokkan menjadi 6 bagian: perbedaan pada karakteristik pengenalnya; perbedaan pada tindakannya; perbedaan pada sikapnya; perbedaan pada praktiknya; perbedaan yang berkaitan dengan ingatan; dan perbedaan pada bagaimana kebajikan seseorang dapat meningkat.</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td>Perbedaan</td><td>Buddha</td><td>Dharma</td><td>Sangha</td></tr><tr><td>Karakteristik Pengenal</td><td>mencapai pencerahan; sempurna pengetahuannya</td><td>akibat kehadiran Buddha; realisasi tergantung sifat murid</td><td>orang-orang yang mempraktikkan Dharma</td></tr><tr><td>Tindakan</td><td>membabarkan Dharma</td><td>menyebabkan lenyapnya objek yang harus ditinggalkan</td><td>mendorong orang untuk semangat mengejar kebajikan</td></tr><tr><td>Sikap</td><td>ibarat nahkoda; dipuja &amp; dihormati</td><td>ibarat kapal; sesuatu yang harus direalisasikan</td><td>ibarat sahabat seperjalanan; jalin hubungan sepatutnya</td></tr><tr><td>Praktik</td><td>dipuja &amp; dihormati</td><td>direalisasikan</td><td>jalin hubungan</td></tr><tr><td>Ingatan</td><td>kualitas Buddha</td><td>kualitas Dharma</td><td>kualitas Sangha</td></tr><tr><td>Meningkatnya kebajikan</td><td>tergantung 1 orang</td><td>tergantung entitas bukan orang</td><td>tergantung banyak orang</td></tr></tbody></table></figure>



<h2><strong>Penutup</strong></h2>



<p>Memiliki kesempatan untuk mengenal Buddha, Dharma, dan Sangha yang memiliki kualitas bajik luar biasa adalah keberuntungan yang juga luar biasa. Terlebih lagi jika kita dapat membangkitkan keyakinan terhadap mereka. Mari bermudita dan bangkitkan tekad untuk melatih Trisarana supaya kualitas-kualitas agung tersebut tumbuh dalam batin kita!</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche<br>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
