Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua

0

oleh Madhuvika

Beberapa waktu lalu Menteri Agama menyatakan dukungan untuk menjadikan Candi Borobudur pusat ibadah agama Buddha dunia. Ini jelas merupakan kabar gembira sekaligus bentuk nyata kuatnya Bhinneka Tunggal Ika di indonesia. Meski umat Buddha di Indonesia jumlahnya kurang dari 1%, ternyata kita masih memiliki tempat di hati pemerintah.

Namun, sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, apakah dengan begitu Candi Borobudur akan menjadi eksklusif bagi umat Buddha saja? 

Tentu saja tidak! Malah sebaliknya, dengan Borobudur ditetapkan sebagai pusat ibadah umat Buddha dan makin diangkat nilai-nilai Buddhisnya, justru candi megah warisan leluhur kita ini akan memberi manfaat yang makin besar kepada semua orang. Bukankah Buddha sendiri mengajarkan welas asih universal yang merangkul semua tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Jadi, umat Buddha secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum seharusnya merasa bangga memiliki monumen agung yang melambangkan nilai-nilai bajik tersebut.

Kalau masih ada sedikit keraguan atau kekhawatiran soal wacana dari Pak Menag ini, mungkin kita bisa balik bertanya. Apakah perlu kita mengaburkan nilai Buddhis Borobudur agar candi ini bisa bermanfaat bagi semua orang? Yuk kita bahas sama-sama!

Tekad Seorang Buddha

Dari sudut pandang historis, adalah fakta bahwa Siddharta Gautama meninggalkan segala bentuk kemewahan demi menolong semua makhluk tanpa terkecuali, tidak peduli apa sukunya, agamanya, rasnya, bahkan spesies dan alam kehidupannya! Itu adalah salah satu elemen kunci yang membuatnya dikenal sebagai seorang “Buddha”. Lantas, bukankah tidak masuk akal kalau menggaungkan nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam Candi Borobudur dianggap mengalienasi 99% warga negara Indonesia hanya karena perbedaan agama?

(Sumber foto: Wikimedia)
Pangeran Siddharta meninggalkan istana untuk menjadi pertapa dalam relief Lalitawistara di Candi Borobudur

Buddhisme adalah ajaran universal yang bisa membawa manfaat kepada siapapun. Pernyataan ini mungkin hanya bisa ditolak oleh orang yang sama sekali tidak mengenal ajaran Buddha. Oleh karena itu, mari kita telusuri lebih lanjut: bagaimana nilai Buddhisme bisa jadi milik semua dan bagaimana mengangkat nilai Buddhis Borobudur bisa menambah manfaat monumen ini untuk seluruh bangsa Indonesia, bahkan dunia?

Sang Buddha dan Ajarannya Bersifat Universal

Sang Buddha sendiri tidak pernah menyatakan bahwa ajaran yang Ia berikan adalah ajaran-Nya sendiri. Beliau sendiri menyatakan bahwa Beliau hanya menemukan cara kerja “hukum alam” yang bekerja apa adanya. Terlepas dari seseorang percaya atau tidak terhadap apa yang diajarkan Sang Buddha, hukum alam ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Contohnya adalah hukum karma atau hukum sebab-akibat dan prinsip ketidakkekalan yang amat sulit disangkal. Ada pula ajaran tentang batin dan faktor mental yang sudah mulai diteliti dan menjadi rujukan di bidang ilmu psikologi. Oleh karenanya, tak sedikit orang yang menerapkan ajaran Buddha sebagai “way of life”. Begitu alamiahnya sebuah ajaran yang menuntun seseorang hidup selaras dengan realitas-realitas di dunia ini.

Secara khusus, Sang Buddha menunjukkan kepada kita semua bahwa tidak ada satu pun makluk hidup yang ingin menderita. Sebaliknya, semua makhluk menginginkan kebahagiaan. Kemudian, Sang Buddha menunjukkan satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan adalah melatih welas asih: sebuah sikap batin yang menganggap penderitaan makhluk lain sama penting dan berat dengan penderitaan diri sendiri sehingga kita perlu menghindari segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti makhluk lain. Sebaliknya, kita harus berusaha melatih diri agar bisa mempersembahkan kebahagiaan bagi semua makhluk. Inilah cara yang ditawarkan oleh ajaran Buddha untuk menghadapi segala macam masalah yang tak terelakkan dan penuh ketidakpastian.

Tapi, apakah ajaran hanya mencakup umat Buddha saja? Tentu tidak, karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ketika Buddha berkata “demi semua makhluk”, kata “semua” di sini benar-benar mencakup semua, bukan hanya yang beragama Buddha saja. Lebih jauh lagi, tak ada satu pun agama di dunia ini yang menyangkal pentingnya cinta kasih dan welas asih terhadap sesama. Bukankah cinta itu indah?

Nilai Buddhis yang Universal bagi Masyarakat Modern

Secara logis, segala sesuatu yang bermula pasti akan berakhir. Hidup kita pun ada masanya. Tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk hal tersebut. Namun, yang pasti yang bisa kita lakukan adalah hidup sebahagia mungkin. Untuk mencapai kebahagiaan itu, tentu kita tidak mau hidup kita diwarnai oleh perselisihan. Kita perlu sebuah kehidupan yang damai. 

Namun, sayangnya sampai hari ini, kita semua masih diliputi oleh berbagai masalah yang diakibatkan oleh kemarahan, iri hati, dan ketakutan. Masyarakat dunia terpecah ke dalam berbagai kelompok. Lihat saja dalam setahun belakangan, berapa banyak konflik antar golongan yang pecah? Negara-negara pun terus berlomba dan bersaing dalam memperebutkan kekuasaan ekonomi, teknologi, dan peralatan militer yang tentunya mengancam kedamaian dunia. Fakta ini sangat bertolak belakang dengan harapan kita akan dunia yang damai dan bahagia.

Mengapa perpecahan ini bisa terjadi? Jika kita renungkan, kita akan menemukan bahwa konflik ini muncul karena adanya rasa perbedaan antara diri kita dan orang lain. Kita jadi merasa perlu membentengi diri. Dunia seolah terbagi ke dalam kubu-kubu bersaing berebut kebahagiaan yang terbatas jumlahnya sehingga harus saling rampas. Mudahnya penyebaran informasi tentang banyaknya konflik membuat kita semakin was-was, belum lagi ada pihak-pihak yang sengaja memperkuat ego kelompok untuk menghimpun kekuatan dalam persaingan. Kita pun tidak bisa merasakan kedamaian. Kita merasa diri kita lebih penting dari yang lain dan kita harus mati-matian melindungi “kebahagiaan” pribadi yang semua. Kita jadi terus-terusan terusik dengan emosi marah, benci, merasa terancam, takut, dan lain sebagainya. 

Hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha, bahwa sikap mementingkan diri sendiri menghasilkan emosi negatif yang menjadi sumber penderitaan kita. 

Seyogyanya Kita Semua adalah Sama

Satu-satunya antidot bagi sikap mementingkan diri sendiri adalah menerapkan welas asih, memandang semua makhluk sama penting dan sama berharganya dengan kita. Buddha mengajarkan kita untuk berlatih, mengubah cara pandang, bahwa penderitaan makhluk lain adalah penderitaan kita juga, sementara kebahagiaan makhluk lain adalah kebahagiaan kita juga. Dengan demikian, ketika kita melihat perpecahan terjadi, kita tidak akan terkurung oleh rasa takut dan melakukan tindakan yang bisa memperparah keadaan. Sebaliknya, kita malah tergerak untuk mencari cara agar bisa meringankan penderitaan semua pihak.

Coba kita ingat kembali masa kecil ketika sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Mereka tidak peduli akan perbedaan seperti warna kulit, suku, agama, kaya, dan miskin. Mereka pun mereka bisa bermain dengan penuh tawa dan bahagia. Jauh sekali dengan kondisi kita semua yang selalu memegang cara pandang bahwa ada diri kita yang “berbeda” dari orang lain. Tapi sayangnya kita tidak bisa selamanya menjadi anak kecil. Pikiran kita ternodai oleh berbagai pengalaman buruk yang terjadi seiring kita tumbuh dewasa. Kita jadi merasa bahwa kita tidak mungkin “sama” dengan yang lain. Namun, dari anak-anak ini, kita bisa tahu bahwa sikap welas asih yang tidak membeda-bedakanlah yang merupakan sifat alami kita. Jadi, secara alamiah, kita semua memiliki benih welas asih seperti rasa sayang dan peduli kepada yang lain.

Lebih lanjut, seorang bayi tidak akan bisa bertahan hidup tanpa asuhan dari orang tua dan keluarga. Setelah bertumbuh dewasa, kita tidak bisa lepas dari peran-peran orang sekitar kita untuk hidup seperti para petani yang menghasilkan makanan pokok, para tukang yang membangunkan rumah serta para penjahit yang menghasilkan pakaian untuk kita. Hal ini membuktikan seyogyanya kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Artinya, diri kita dan semua lainnya saling membutuhkan satu sama lain. Dengan cara pandang yang sama, maka adalah sangat logis bahwa kebahagiaan kita juga bergantung pada kebahagiaan orang lain. 

Dengan menyadari semua hal ini, kita dapat menciptakan sebuah komunitas manusia yang hidup dengan bahagia. Ibarat sebuah rumah, maka dunia ini adalah sebuah rumah dan yang menghuninya adalah anggota keluarga. Seyogyanya kita ingin yang terbaik dan rasa bahagia selalu hadir di antara keluarga kita.

Perenungan seperti ini merupakan sebagian kecil dari penerapan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak metode-metode lainnya dalam ajaran Buddha untuk mengembangkan welas asih dengan kebahagiaan sejati bagi diri sendiri dan semua makhluk yang bisa diterapkan secara universal. Ilmuwan-ilmuwan sekuler juga telah membuktikan bahwa welas asih merupakan sifat dasar manusia dan menggunakan metode-metode dalam Buddhisme sebagai bahan untuk mengembangkan welas asih tersebut.

Nilai Buddhis dalam Candi Borobudur

Ada dua elemen yang membuat sebuah monumen menjadi istimewa. Pertama adalah wujud fisiknya (ukuran, arsitektur, bahan, ornamen, dll.), kedua adalah kisah yang disampaikan oleh bangunan tersebut. Struktur dan relief Candi Borobudur dibangun berdasarkan Sutra-Sutra Buddhis yang membentuk “kisah” dari candi ini. 

(Sumber foto: artserve.anu.edu.au.)
Relief Gandawyuha mengisahkan Putra Sudhana berguru pada orang dari beragam latar belakang demi meraih pencerahan & menolong semua makhluk.

Kisah dalam Candi Borobudur adalah kisah perjalanan spiritual sesosok makhluk untuk menyempurnakan sifat-sifat luhur hingga meraih Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna demi menolong semua makhluk. Ya, welas asih universal juga merupakan narasi utama yang membentuk Candi Borobudur. 

Penjelasan panjang-lebar tentang cara mengatasi permasalahan dengan welas asih tidak akan sampai pada hati orang-orang tanpa sebuah medium. Candi Borobudur, sebuah monumen raksasa nan megah berhias ratusan panel relief nan rumit dan sarat makna, tentu merupakan medium yang luar biasa untuk menggaungkan semangat welas asih yang merangkul semua makhluk ke seluruh Indonesia, bahkan dunia. Bisa jadi inilah yang ada di pikiran leluhur kita dari dinasti Syailendra ketika membangun Borobudur keping demi keping selama puluhan tahun.

(Sumber foto: Britannica.com)

Namun, bagaimana semangat welas asih itu sampai bila kita menceraikan Borobudur dengan statusnya sebagai tempat suci umat Buddha? Tanpa pendekatan filsafat Buddhis, bagaimana kita bisa menghubungkan perjalanan mencapai Kebuddhaan dengan welas asih yang universal? Bukankah amat sayang jika Borobudur hanya dikenal dari sisi fisiknya saja? Batuan akan lapuk dimakan usia. Relief-relief di dinding candi akan semakin memudar. Bagian-bagian candi akan keropos perlahan-lahan. Tanpa “kisah” dari filsafat Buddhis yang membentuk Borobudur, ikon kebanggaan negeri ini hanya akan berjalan menuju kehancuran yang tak terelakkan. Eksistensi nilai Buddhisme yang universal inilah yang akan memungkinkan Borobudur tetap dikenang, dihormati, dan memberi manfaat bahkan ketika bangunannya tak lagi utuh dimakan zaman.

Borobudur Tetap Milik Semua

Selama ini, Borobudur memang masih dikelola sebagai objek wisata dan cagar budaya atas dasar kemegahan fisiknya saja, tercerai dari nilai filosofis di balik pendiriannya. Keterlibatan umat Buddha dalam pengelolaan Borobudur terbatas pada segelintir kegiatan spiritual yang ujung-ujungnya juga dijadikan atraksi wisata. Sebagian umat Buddha pun menjadi yang pertama menolak Borobudur sebagai tempat suci dan pasrah menunggu pemerintah menyatakan hal yang sebaliknya. Borobudur menjadi ibarat raga tanpa jiwa. Inilah harga yang harus dibayar ketika nilai Buddhis Borobudur diredam agar menjadi “milik semua”.

Namun, jika kita telusuri lebih lanjut, Candi Borobudur seharusnya bisa memberi manfaat yang lebih besar untuk seluruh bangsa Indonesia jika candi ini benar-benar bisa menjadi pusat ibadah umat Buddha dunia. Menjadikan Borobudur tempat suci umat Buddha tidak berarti umat agama lain tidak bisa berkunjung ke Borobudur atau mendapatkan manfaat dari keberadaannya. Justru Borobudur akan semakin kokoh sebagai simbol “Bhinneka Tunggal Ika” ketika nilai-nilai Buddhisnya diangkat bersamaan dengan kemegahan bangunannya. Masyarakat Indonesia dan dunia akan mendapatkan inspirasi yang tak ada habisnya dari wujud nyata welas asih yang merangkul semua.

Jadi, saudara-saudaraku yang sedharma, janganlah ragu untuk berbangga dan memperkenalkan Borobudur sebagai tempat suci umat Buddha. Borobudur faktanya memang bangunan Buddha, tapi ajaran Buddha memberikan manfaat untuk semua!

Referensi:

CNN Indonesia – “Menag ingin Borobudur Jadi Rumah Ibadah Umat Buddha Sedunia”

Timlo.net – “Menko PMK Minta Penjelasan Kedudukan Candi Borobudur Bagi Umat Buddha Internasional” 

Dalailama.com – “Resilience Hope and Connection for Well-Being” 

Dalailama.com – “Buddhism, Science, and Compassion” 

Dalailama.com – “Kind and Compassionate Leadership” 

Thubten Jinpa, Ph.D. – Hati Tanpa Gentar

Phabongkha Rinpoche – Pembebasan di Tangan Kita

Share.

About Author

261 views

Leave A Reply

WhatsApp us