Tanpa Buddha, hukum karma akan tetap berjalan, penderitaan masih menjadi corak kehidupan, tapi mampukah kita melampauinya?
Kamu nggak perlu menang lotere atau punya jutaan subscriber untuk merasa jadi orang paling beruntung sedunia. Kalau kamu bisa baca artikel ini, hampir pasti kamu punya 10 keberuntungan tak ternilai yang jauh lebih berharga dibanding hoki tujuh turunan!
Sekarang kita nggak bebas beraktivitas karena COVID-19. Segala macam ketidakbebasan sehari-hari ini bisa bikin kita lupa bahwa kita masih punya kebebasan yang jauh lebih penting dan berharga. Kebebasan seperti apa sih itu?
Kalau sudah terlanjur bikin karma buruk, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita sudah pasti jatuh ke neraka dan nggak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Tenang, ada solusinya!
Karma dalam ajaran Buddh amatlah rumit, tapi penting dipelajari demi meraih kebahagiaan yang tahan lama.
Ketika keadaan tidak bisa diubah, kita harus belajar untuk menerima, menghadapi, dan hidup berdampingan dengan penderitaan tersebut. Buat apa galau?
Belajar itu sepanjang hayat, tidak ada putusnya. Sampai tua pun kita masih harus belajar karena ada hal-hal baru setiap harinya. Bedanya, kalau sekarang itu ego sangat ditinggikan ketika belajar.
Tibet bukan utopia Buddhis yang dibayangkan oleh sineas dan seniman Barat, melainkan negeri yang nyata dengan segala kemelutnya.
Dharma Patron Rutin
Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.
Dharma Patron Non-Rutin
Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.
Infografis


