Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan
    • Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0
    • Belajar Bahagia Melalui Welas Asih: Kebijaksanaan Leluhur dari Borobudur untuk Kehidupan Hari Ini
    • Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2026
    • Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di Unlock Your Potential Festival
    • Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir “Ngerumpi Bijak” Pesta Literasi NDBF 7.0
    • Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Featured » Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0
    Penampilan Tigapagi di Nusantara Dharma Book Festival 7.0. Sumber: tim dokumentasi NDBF 7.0

    Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

    0
    By Iqa Kinanti Nandakasih on November 5, 2026 Artikel, Berita, Featured, Wacana

    Untuk mereka yang tidak pulang, untuk mereka yang tetap menanti dengan harapan.

    Apa musik atau lagu yang pas untuk didengar di tengah kekacauan seperti sekarang? Ketika sejarah kelam dan kehilangan yang tidak kira-kira kembali terulang, mungkin lagu-lagu Tigapagi adalah teman untuk menepi sejenak.

    Sempat hiatus dari panggung, mereka kembali tampil untuk pertama kalinya di Nusantara Dharma Book Festival 7.0 pada tanggal 16 Agustus 2026 lalu di Nara Park, Kota Bandung. NDBF yang diinisiasi oleh Lamrimnesia sendiri merupakan pesta literasi tahunan dalam rangka mengkampanyekan literasi, buku Dharma dan Nusantara, serta ruang temu beragam komunitas seni-budaya di Indonesia. Meski sudah lewat beberapa bulan yang lalu, entah mengapa penampilan Tigapagi di malam itu masih terngiang sampai sekarang. Hening dan hampa. Mungkin karena hal itu. 

    Dibentuk pada tahun 2005, Tigapagi adalah kelompok musik ansambel asal Bandung. Dalam perjalanan musiknya, mereka memadukan eksperimental folk dan chamber pop yang  banyak mengeksplorasi napas musik tradisi, seperti Sunda, Jawa, dan Bali. Mereka tampil dengan intens dan memikat penonton, membawakan beberapa lagu dari dua albumnya, Roekmana’s Repertoire dan Rukiah’s Suites. Roekmana’s Repertoire sendiri merupakan album pertama mereka yang terinspirasi dari seorang budayawan, Agus Roekmana. Album ini menceritakan seorang perempuan bernama Roekmana yang berkecamuk mencari makna hidup dan kebenaran di negerinya dengan latar September 1965. Sementara Rukiah’s Suites terinspirasi dari puisi-puisi Siti Rukiah yang dimuat dalam antologi puisinya berjudul “Tandus”. Siti Rukiah ialah sastrawan perempuan sekaligus anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang menjadi tahanan politik menjelang akhir tahun 1965 di tengah gemuruh G30S. 

    Di malam penutupan pesta literasi NDBF 7.0 itu, “Patung Sembahan” menjadi lagu pembuka.

    Masa Lalu yang Suram, Masa Depan yang Berkabut

    Ada sekelebat pikiran dan perasaan yang cukup bercampur-aduk sepanjang mendengarkan “Patung Sembahan”. Lagu tersebut mengingatkan pada kondisi saat ini yang terasa seperti sedang berdiri di antara dua ruang: masa lalu suram yang meninggalkan trauma dan masa depan yang hanya berisi kabut. 

    Dan entah untuk yang ke berapa kalinya kita harus meyakinkan diri sendiri dan sekitar bahwa masih ada hal baik di sini, tetapi di saat yang sama kita juga menyaksikan bagaimana keadilan dan kesejahteraan itu tidak pernah ada di sepanjang sejarah. Ketika banyak yang (di)hilang(kan) dari hidup ini, trauma kolektif itu tumbuh dengan subur.

    Ketika “Pasir” dan “Batu Tua” dinyanyikan, suasana semakin hening. Lagu “Pasir” menuntun pada perjalanan tentang waktu dan kehilangan, sementara “Batu Tua” bercerita tentang kemelut yang ada di pikiran Roekmana yang memuncak, di mana pencarian-pencarian Roekmana terhalang keterbatasannya yang semakin hari kian menua, serta makna tentang merelakan.

    Yang Tak Kembali, yang Tetap Menanti

    Piala ini sudah kosong / Ruangan pun kini jadi kosong / Dan gelak yang tadi panas / Kini dingin tak terdengar lagi

    Masuk ke babak Rukiah’s Suites. Beberapa lagu yang dibawakan dari album tersebut ialah “Piala Kosong” dan “Pancaran di Persimpangan”. 

    Siti Rukiah dengan pemikiran dan pergerakannya yang progresif di kala itu, terutama ketika bergabung dengan Lekra—menjadi salah satu penggagas Turun ke Bawah (Turba), di mana konsep estetika seni tersebut mengharuskan seluruh seniman Lekra untuk langsung turun, hidup, dan berbaur dengan masyarakat kelas pekerja (buruh dan tani). Tujuannya supaya karya mereka dapat menyentuh perjuangan rakyat secara nyata. Hal tersebut sejalan sebagaimana Lekra sendiri memandang bahwa seni tidak pernah dan tidak boleh dipisahkan dari rakyat. 

    Di malam itu, ‘Rukiah’ baik sebagai seniman maupun sebagai konsep yang digubah Tigapagi menjadi album seketika mengingatkan pada sekelompok perempuan paduan suara bernama Di Atas Lima Puluh Tahun atau Dialita Choir. Keduanya punya latar belakang yang mirip. Anggota Dialita terdiri dari para perempuan penyintas dan keluarga tahanan politik tragedi 1965. Meski dibentuk tahun 2011, lagu-lagu mereka sebenarnya telah lahir sejak masa penahanan, diciptakan secara sembunyi-sembunyi di dalam penjara oleh para anggota Dialita dan sesama tahanan politik lainnya. Beberapa lagu tersebut di antaranya “Ujian”, “Kabut Putih”, “Lagu Untuk Anakku”, “Taman Bunga Plantungan”, dan masih banyak lagi.

    Penampilan Tigapagi malam itu membawa penonton pada satu ruang yang sama bernama ingatan kolektif. Serangkaian ingatan tentang yang tidak kembali, penantian, rumah, dan pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang tidak ada jawabannya. Di balik remang cahaya panggung, kini kita sedang mengulang setiap adegan di peristiwa itu. Dan di balik remang cahaya itu pula, untuk sekali lagi kita mencoba percaya pada harapan dan pulang.

    Artikel ini pertama kali diterbitkan ayobandung.id.

    ndbf 7.0
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleBelajar Bahagia Melalui Welas Asih: Kebijaksanaan Leluhur dari Borobudur untuk Kehidupan Hari Ini
    Next Article Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan
    Iqa Kinanti Nandakasih

    Related Posts

    Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir “Ngerumpi Bijak” Pesta Literasi NDBF 7.0

    Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club

    “Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Leaderboard Ad
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    November 5, 2026

    Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

    November 5, 2026

    Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

    November 3, 2026

    Belajar Bahagia Melalui Welas Asih: Kebijaksanaan Leluhur dari Borobudur untuk Kehidupan Hari Ini

    Store
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.