Bagaimana Jika Berbuat Baik Juga Baik untuk Kita?
“Fokus pada diri sendiri. Jaga energimu. Prioritaskan kebahagiaanmu.” Nasihat seperti ini terdengar di mana-mana hari ini. Namun, bagaimana jika jalan menuju kebahagiaan justru sebaliknya? Bagaimana jika kita paling bahagia bukan ketika sibuk memikirkan diri sendiri, tetapi ketika memikirkan orang lain?
Bayangkan kamu membantu seorang teman yang sedang kesulitan, padahal hari itu kamu sendiri sibuk. Masalahnya mungkin belum selesai. Namun, ada kehangatan yang kamu bawa pulang, sesuatu yang tidak bisa dibeli. Dari mana datangnya perasaan itu?
Apa Kata Penelitian
Pada 2008, Elizabeth Dunn, Lara Aknin, dan Michael Norton memberi peserta penelitian sejumlah uang. Sebagian diminta membelanjakannya untuk diri sendiri, sebagian lagi untuk orang lain. Hasilnya, mereka yang membelanjakan uang untuk orang lain justru merasa lebih bahagia (Dunn dkk., 2008).
Sepuluh tahun kemudian, meta-analisis atas 27 eksperimen dengan 4.045 peserta sampai pada kesimpulan serupa: berbuat baik meningkatkan kesejahteraan (well-being) orang yang melakukannya (Curry dkk., 2018).
Manfaat Bagi Tubuh
Efeknya bahkan sampai ke tubuh. Orang lanjut usia dengan tekanan darah tinggi yang membelanjakan uang untuk orang lain selama beberapa minggu mengalami penurunan tekanan darah (Whillans dkk., 2016). Di Kanada, 106 siswa sekolah menengah yang menjadi relawan pendamping anak-anak selama dua bulan mengalami perbaikan kadar kolesterol dan penanda peradangan (Schreier dkk., 2013).
Orang lanjut usia yang memberi dukungan kepada teman, kerabat, tetangga, dan pasangannya memiliki risiko kematian lebih rendah selama lima tahun pengamatan (Brown dkk., 2003). Meta-analisis terhadap orang berusia 55 tahun ke atas menemukan bahwa mereka yang aktif menjadi relawan memiliki risiko kematian sekitar 24% hingga 47% lebih rendah (Okun dkk., 2013).
Jadi, mana yang sebenarnya lebih baik untuk kita: terus menjaga jarak demi diri sendiri, atau berani hadir untuk orang lain? Mungkinkah memikirkan orang lain bukan berarti mengorbankan kebahagiaan kita, tetapi justru salah satu sumbernya?
Welas Asih: Lebih dari Sekadar Berbuat Baik
Dalam bahasa Indonesia, compassion sering diterjemahkan sebagai welas asih. Dalam bahasa Jawa, welas asih berarti belas kasihan dan kasih sayang. Welas asih terdiri dari tiga unsur (Jinpa, 2015):
1. Kognitif: menyadari penderitaan orang lain dan memahami bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup semua orang, termasuk kita.
2. Afektif: ikut merasakan penderitaan yang dialami orang lain.
3. Intensi: sungguh-sungguh ingin penderitaan itu berkurang.
Ketika melihat seseorang kesulitan, kita mungkin merasa sedih. Itu empati. Welas asih melangkah lebih jauh dan bertanya: Lalu, apa yang bisa kulakukan?
Kapan terakhir kali kamu benar-benar memperhatikan penderitaan orang di sekitarmu? Bukan sekadar menggulir layar melewatinya, tetapi berhenti dan bertanya apa yang bisa kamu lakukan?
Gagasan ini telah lama hidup dalam tradisi Nusantara. Salah satu tempat terbaik untuk menelusurinya adalah Borobudur.
Borobudur: Batu yang Menyimpan Kisah tentang Kehidupan
Borobudur dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 pada masa Wangsa Syailendra. Dindingnya menyimpan lebih dari seribu panel relief naratif tentang kehidupan, pilihan moral, dan perjalanan menuju kebijaksanaan.
Di lorong pertama, yang dilalui peziarah saat berjalan searah jarum jam mengelilingi candi, terpahat rangkaian kisah Jātaka dan Avadāna. Banyak di antaranya mengikuti Jātakamālā (Untaian Kisah Kelahiran), kumpulan 34 kisah karya penyair India Āryaśūra. Jātaka mengisahkan kehidupan-kehidupan lampau Bodhisatwa, calon Buddha, sebelum mencapai pencerahan.
Para tokohnya menghadapi situasi yang masih kita kenali: kelaparan, bahaya, keserakahan, ketakutan, konflik. Berulang kali, mereka harus memilih antara kepentingan pribadi dan kesejahteraan makhluk lain. Nenek moyang kita memahat pilihan-pilihan itu di batu bukan sebagai hiasan, melainkan untuk direnungkan setiap orang yang melewatinya.
Lebih dari seribu tahun kemudian, pilihan yang sama masih kita hadapi. Ketika teman menelepon untuk curhat padahal kamu sedang lelah, kamu angkat atau biarkan berdering? Ketika rekan kerja kewalahan, kamu bantu atau pura-pura tidak tahu? Ketika ada orang kesusahan di pinggir jalan, kamu berhenti atau terus melaju?
Ketika Kebahagiaan Berarti Memberi
Śaśa Jātaka: Kelinci yang Memberikan Dirinya
Dalam Śaśa Jātaka, Bodhisatwa terlahir sebagai seekor kelinci yang hidup bersama seekor berang-berang, serigala, dan monyet. Suatu hari, mereka bertemu seorang brahmana yang kelaparan. Hewan-hewan lain menawarkan apa yang mereka punya. Kelinci yang hanya
makan rumput dan tidak punya apa-apa menawarkan tubuhnya sendiri sebagai makanan, lalu melompat ke dalam api.
Api itu tidak membakarnya. Brahmana itu ternyata Dewa Śakra, raja para dewa, yang menyamar untuk menguji mereka. Ia lalu mengabadikan sosok kelinci di bulan sebagai pengingat akan pengorbanannya, mungkin salah satu asal-usul tertua dari bayangan “kelinci di bulan” di banyak budaya Asia.
Berapa sering kita berkata, “Aku belum punya cukup untuk membantu orang lain”? Belum cukup uang, belum cukup waktu, belum cukup mapan. Kelinci ini tidak menunggu cukup. Ia memberi dari apa yang ada.
Apa yang kita miliki hari ini yang bisa kita berikan? Waktu untuk orang yang kesepian? Perhatian untuk orang yang merasa tidak didengar? Terkadang, yang paling berharga adalah kesediaan kita untuk benar-benar hadir.
Hasti Jātaka: Gajah yang Menyelamatkan Para Pengelana
Dalam Hasti Jātaka, Bodhisatwa terlahir sebagai seekor gajah yang bertemu sekelompok pengelana tersesat dan kelaparan di padang tandus. Sang gajah menunjukkan arah menuju sumber air, lalu mengorbankan dirinya agar mereka bisa bertahan hidup. Ia tidak berhenti pada rasa iba. Ia melihat kebutuhan nyata di depannya, lalu bertindak.
Berapa banyak penderitaan yang kita lihat setiap hari, lalu kita lewati begitu saja? Kita mungkin tidak bisa mengatasi kemiskinan seseorang, tetapi bisakah kita membantunya makan hari ini? Kita tidak bisa menghapus kesedihan seorang teman, tetapi bisakah kita menemaninya?
Dari Welas Asih Pribadi Menuju Kepemimpinan yang Bijaksana
Maitrībala: Raja yang Bersedia Menolong
Dalam kisah Maitrībala, Bodhisatwa terlahir sebagai raja yang memerintah dengan kebajikan. Suatu hari, lima yakṣa yang kelaparan datang dengan menyamar sebagai brahmana. Sang raja memberikan darah dan dagingnya sendiri untuk menolong mereka. Tersentuh oleh kebaikannya, para yakṣa berubah dan menerima ajaran sang raja.
Seorang raja bisa saja memerintahkan orang lain untuk menolong. Maitrībala memilih menanggungnya sendiri. Berapa banyak pemimpin hari ini yang bersedia menanggung kesulitan demi rakyatnya? Dan dalam keluarga, tim, atau komunitas kita sendiri, apakah kita memimpin untuk diri sendiri atau untuk orang-orang yang kita pimpin?
Melampaui Batas In-Group dan Out-Group
Kita mudah peduli kepada orang-orang yang satu kelompok dengan kita: seagama, sesuku, sealiran politik. Mereka adalah in-group, “kita”. Sisanya menjadi out-group, “mereka”.
Penelitian Mina Cikara dan rekan-rekannya (2014) menunjukkan bahwa persaingan antarkelompok dapat menumpulkan empati kita terhadap kelompok lain. Sebagian peserta bahkan merasa senang ketika kelompok lawan mengalami kemalangan. Coba jujur: Pernahkah kamu merasa sedikit puas ketika “mereka” yang berbeda pandangan denganmu tertimpa masalah?
Kisah Maitrībala menjadi jauh lebih menarik jika dibaca dari sudut ini. Para yakṣa adalah out-group dalam arti yang paling nyata: makhluk pemangsa daya hidup manusia, ancaman bagi keselamatan rakyat sang raja. Jika ada pihak yang pantas diusir demi melindungi “kita”, merekalah orangnya.
Namun, Maitrībala tidak melihat musuh. Ia melihat makhluk yang kelaparan dan menderita. Alih-alih menutup pintu, ia memberikan dirinya. Dan justru welas asih itulah yang mengubah para yakṣa, dari ancaman menjadi murid.
Mungkin, ancaman dari “mereka” tidak selalu berakhir dengan membangun tembok yang lebih tinggi. Siapa yang hari ini kita perlakukan sebagai “yakṣa“? Siapa yang kita anggap pantas dijauhi, tanpa pernah kita tanyakan apa yang sebenarnya mereka butuhkan?
Bagi seorang pemimpin negara, ini adalah tanggung jawab. Ia bukan hanya pemimpin bagi yang memilihnya atau bagi mayoritas, tetapi juga bagi mereka yang berbeda pandangan, keyakinan, dan kepentingan.
Sutasoma: Welas Asih kepada yang Mengancam
Dalam Sutasoma Jātaka, Pangeran Sutasoma ditangkap oleh Saudāsa, raja yang telah menjadi pemakan manusia. Sutasoma memohon izin pergi sementara untuk menunaikan janjinya kepada seorang brahmana, dan berjanji akan kembali. Saudāsa melepaskannya, yakin ia tak akan pernah kembali. Tetapi Sutasoma kembali, meskipun tahu kepulangannya berarti maut.
Mengapa ia kembali? Karena ia telah berjanji dan welas asihnya kepada orang yang hendak membunuhnya.
Sutasoma tidak memandang Saudāsa semata sebagai monster. Ia melihat manusia yang terperangkap dalam kekejamannya sendiri. Dalam pandangan Buddhis, orang yang menyakiti orang lain sesungguhnya sedang menanam penderitaan bagi dirinya. Jika Sutasoma lari, ia selamat, tetapi Saudāsa akan terus membunuh. Dengan kembali, Sutasoma membuka satu-satunya kesempatan bagi Saudāsa untuk berubah.
Ketiga unsur welas asih tampak jelas di sini. Sutasoma melihat penderitaan di balik kekejaman Saudāsa (kognitif), ikut merasakan penderitaan yang dialami Saudāsa, meski ia hendak membunuhnya (afektif), dan ingin Saudāsa terbebas dari kebiasaan yang membuat dirinya dan orang lain menderita (intensi).
Saudāsa, yang terbiasa melihat orang berbohong dan lari demi nyawanya, terheran-heran melihat seseorang menepati janji meski taruhannya kematian. Ia mau mendengarkan, dan akhirnya meninggalkan kekejamannya.
Siapa “Saudāsa” dalam hidupmu? Apakah ia adalah orang yang paling sulit kamu maafkan atau yang paling kamu anggap musuh? Apa yang terjadi jika sekali saja kamu mencoba melihat penderitaan di balik perilakunya?
Dari Jātaka ke Kakawin Sutasoma
Kisah ini hidup kembali di Jawa. Pada abad ke-14, di masa Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk, Mpu Tantular menggubah Kakawin Sutasoma. Di dalamnya, Sutasoma kembali menyadarkan raja pemakan manusia, kali ini bernama Porusāda. Kakawin ini juga memuat kisah induk harimau kelaparan yang sangat mirip dengan Vyāghrī Jātaka, kisah pembuka Jātakamālā (Santoso, 1975).
Di tengah hutan, Sutasoma bertemu seekor induk harimau yang begitu lapar hingga hendak memakan anaknya sendiri. Sutasoma menawarkan dirinya sebagai ganti. Sang harimau meminum darahnya hingga Sutasoma wafat, lalu menyesali perbuatannya. Sutasoma kemudian dihidupkan kembali oleh Dewa Indra.
Enam ratus tahun lalu, leluhur kita menempatkan welas asih setinggi itu. Hari ini, seberapa jauh kepedulian kita menjangkau melampaui diri sendiri?
Bhinneka Tunggal Ika: Warisan dari Kakawin Sutasoma
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari pupuh 139, bait 5 kakawin ini. Enam abad setelah dituliskan, ungkapan ini menjadi semboyan negara pada pita Garuda Pancasila yang diresmikan pada 1950.
Semboyan persatuan bangsa kita lahir dari karya yang sama yang mengisahkan welas asih Sutasoma. Mungkinkah persatuan memang tidak bisa dibangun tanpa welas asih kepada mereka yang berbeda dari kita?
Mengapa Mereka Melakukan Semua Itu?
Kelinci yang melompat ke api. Gajah yang mengorbankan dirinya. Raja yang memberikan darahnya kepada para yakṣa. Pangeran yang kembali kepada orang yang hendak membunuhnya. Apa yang sebenarnya mereka kejar?
Jawabannya mungkin mengejutkan: kebahagiaan.
Dalam filsafat Buddhis, kisah-kisah Jātaka menggambarkan perjalanan panjang Bodhisatwa, kehidupan demi kehidupan, menuju kebuddhaan, yaitu keadaan terbebas sepenuhnya dari penderitaan. Dhammapada menyebutnya dengan lugas: nibbānaṃ paramaṃ sukhaṃ, nirwana adalah kebahagiaan tertinggi.
Yang menarik adalah jalannya. Bodhisatwa tidak mencari kebahagiaan dengan menumpuk sesuatu untuk dirinya sendiri, tetapi dengan memberi, menolong, dan mengasihi, bahkan kepada mereka yang mengancamnya.
Lepaskan sejenak label Buddhisnya, dan pesannya terasa universal. Kita semua mencari kebahagiaan. Pertanyaannya: kebahagiaan seperti apa? Kisah-kisah Jātaka menunjukkan kebahagiaan yang berlandaskan welas asih, bukan kebahagiaan yang egosentris.
Lebih dari dua ribu tahun kemudian, laboratorium psikologi sampai pada temuan yang senada: memberi dan memedulikan orang lain menjadi salah satu sumber kebahagiaan,seolah-olah sains modern sedang memvalidasi apa yang telah lama dipahat di dinding Borobudur.
Jadi, kebahagiaan seperti apa yang selama ini kamu kejar?
Apa yang Dapat Kita Pelajari Hari Ini?
Kelinci dan gajah memberi tanpa menunggu cukup. Maitrībala menanggung sendiri kesulitan demi orang lain. Sutasoma mengasihi bahkan orang yang hendak membunuhnya.
Kita mungkin tidak akan pernah berada dalam situasi seperti mereka, tetapisetiap hari kita menghadapi pilihan yang lebih sederhana:
• Apakah kita mau berhenti sejenak untuk mendengarkan orang yang sedang kesulitan?
• Apakah kita memperlakukan orang yang berbeda dari kita dengan adil?
• Apakah kita menggunakan apa yang kita miliki hanya untuk diri sendiri, atau juga untuk orang lain?
Pilihan-pilihan kecil inilah yang sedikit demi sedikit membentuk kebahagiaan kita.
Kebahagiaan yang Tumbuh Bersama
Kita hidup di dunia yang mengukur keberhasilan dari pencapaian pribadi. Namun, jika kebahagiaan hanya bergantung pada apa yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, kapan kita akan merasa cukup?
Welas asih menawarkan jalan lain. Kebahagiaan juga tumbuh dari hubungan yang bermakna dan dari keberanian untuk hadir bagi orang lain. Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, “Apa yang bisa membuatku bahagia?” tetapi juga, “Bagaimana hidupku bisa membawa kebaikan bagi diriku dan orang lain?”
Kita tidak harus menjadi pahlawan dalam kisah besar. Kita bisa mulai hari ini: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi tanpa menunggu cukup, dan melihat bahwa orang yang berbeda dari kita juga memiliki harapan dan kerentanan.
Kebahagiaan ternyata bisa dipelajari. Leluhur kita sudah memahatkan pelajarannya di batu. Jadi, maukah kamu mulai belajar bahagia hari ini melalui welas asih kepada satu orang di dekatmu?
Penulis: Biksu Guna Sagara & Johnson Khuo, untuk JCWF 2026
