Liputan Magha Puja KMB Dhammasena Trisakti School of Management: “The Essentials of Dhamma”

0

oleh Junarsih

Magha Puja merupakan salah satu hari raya agama Buddha. Di hari ini, kita memperingati peristiwa dengan 4 keistimewaan, yaitu berkumpulnya 1.250 biksu yang mengunjungi Buddha tanpa diundang, para biksu tersebut adalah para siswa yang ditahbiskan sendiri oleh Buddha, telah mencapai tingkat kesucian Arahat (tingkat kesucian tertinggi), dan peristiwa tersebut terjadi pada saat bulan purnama. Pada kesempatan tersebut, Buddha membabarkan Ovāda Pāṭimokkha.

Untuk memperingati hari tersebut, Keluarga Mahasiswa Buddhis Trisakti School of Management “Dhammasena” menyelenggarakan Magha Puja dan Seminar Buddhis 2564 B.E./2021 dengan tema “The Essentials of Dhamma” pada Minggu, 14 Maret lalu.

Acara ini dimulai dengan puja bakti terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan seminar yang dipandu oleh moderator Wedyanto Hanggoro bersama dua narasumber Andrie Wongso, motivator nomor 1 di Indonesia, dan Y.M Bhikkhu Uttamo Mahathera, anggota Sangha sekaligus kepala Panti Samadhi Balerejo, Blitar.

Ovāda Pāṭimokkha

Ovāda Pāṭimokkha adalah ajaran yang dibabarkan oleh Buddha saat para biksu datang di Hari Magha Puja. Kedua narasumber sama-sama membahas Ovāda Pāṭimokkha dari dua sudut pandang yang berbeda.  Sebelum lanjut pada pembahasan kedua narasumber, berikut sedikit ulasan tentang Ovāda Pāṭimokkha yang berisi prinsip-prinsip ajaran para Buddha dan sekarang bisa kita temukan di Dhammapada Bab Buddha Vagga syair 183, 184, dan 185:

“Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin; inilah ajaran para Buddha.”

“Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi, ‘Nibbana adalah yang tertinggi’, begitulah sabda para Buddha. Dia yang masih menyakiti orang lain sesungguhnya bukanlah seorang pertama (samana).”

“Tidak menghina, tidak menyakiti, dapat mengendalikan diri sesuai dengan peraturan, memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah ajaran para Buddha.”

Ovāda Pāṭimokkha adalah pondasi penting bagi kita sebagai umat Buddha untuk senantiasa menjaga pikiran, ucapan, dan perbuatan supaya menjadi orang yang berguna untuk diri sendiri dan juga makhluk lain.

Bertanggung Jawab dengan Kehidupan 

Andrie Wongso selanjutnya memaparkan bahwa tiga hal, yakni tidak brbuat jahat, menambah perbuatan baik, serta sucikan hati dan pikiran merupakan esensi dari Dharma yang ada dalam Ovāda Pāṭimokkha. Ia juga berpesan pada anak muda Buddhis harus mengenal ajaran ini supaya mereka bisa menjadi manusia yang bertanggung jawab dengan hidupnya. Ia juga mengatakan secara pribadi bahwa Dhamma mengajarkannya untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab dengan kehidupan baik diri sendiri, orang lain, dan makhluk lain.

Sikap bertanggung jawab yang ditumbuhkan ini adalah dari penerapan hukum karma yang harus benar-benar kita pahami dalam hidup. Apapun yang kita perbuat, pasti kita pula yang akan menerima akibatnya. Bila kita menerima hal-hal yang kurang baik, misal kesulitan ekonomi, maka kita sendiri bisa mengubahnya dengan berusaha untuk mencari pekerjaan maupun membuat lapangan pekerjaan. Usaha untuk mengubah hidup ini adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Di samping itu, kita juga bisa mengubah kehidupan kita dengan mempraktikkan Dharma.

“Esensi dari Dharma ini adalah praktik. Kalau kita punya pengertian, mau praktik dengan wirya (spirit), pasti hidup kita akan berubah,” tuturnya.

Untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik, Andrie menuturkan 5 poin yang bisa dikembangkan berkaitan dengan esensi Dharma.

1. Satria Kehidupan

“Kita bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri,” tutur Andrie Wongso.

Menjadi manusia yang bertanggung jawab dengan kehidupan kita sendiri. Saat kita hidup miskin jangan sampai menyalahkan orang tua atau menyalahkan orang lain. Sebagai umat Buddha yang memahami hukum Karma, kita harus menyadari bahwa ‘kehidupan ini adalah karmaku’ dan tidak perlu untuk menyalahkan orang lain. Yang harus kita perbuat adalah bangkit dari hal-hal yang membuat kita jatuh dalam kemiskinan, mengubah pola pikir, dan memperkaya batin dengan praktik Dharma.

2. Menjadi Manusia Berkualitas

Supaya kita menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap kehidupan, kita pun harus memiliki kualitas-kualitas. Sama seperti saat akan membeli barang, tentu kita memilih barang yang berkualitas. Begitu juga sebagai manusia, kita harus memiliki kualitas agar bisa berguna untuk makhluk lain. Apalagi ketika kita menginginkan kesuksesan, sebagai wujud dari tanggung jawab terhadap hidup, kita harus punya kualitas seperti pikiran yang baik, fisik yang tahan banting, cukup ilmu, punya cinta kasih, dan memiliki teman-teman yang siap berjalan bersama untuk meraih kesuksesan.

3. Mengembangkan Potensi Diri

Ada kutipan dari Andrie Wongso yang berbunyi,

“Efektifkan kekuatan/kelebihan yang kamu miliki pada titik sasaran yang besar dan menantang di tempat kamu berada atau di kesempatan yang bisa kamu ciptakan dengan cerdas (diperhitungkan), cermat (teliti), cekatan (berani dan cepat bergerak).”

Dari kutipan tersebut, kita bisa belajar menggunakan kelebihan kita untuk mengembangkan potensi diri demi memenuhi kualitas-kualitas diri sebagai manusia. Jika ada orang pandai punya banyak ilmu, kalau ilmunya tidak dibagikan pada orang lain, maka ia sendiri tidak akan bisa berkembang. Namun, bila kita punya banyak ilmu dan kita bagikan pada orang lain, maka kita bisa mengembangkan diri. 

4. Profesionalisme

Profesionalisme diri kita akan diuji saat kita mengembangkan diri dalam karir, baik dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja. Saat dalam dunia pendidikan, kita masih sebagai pelajar maupun mahasiswa. Kita pun harus bersikap hormat kepada guru dan dosen sebagai pengajar serta mengerjakan tugas sesuai dengan pengetahuan dan keahlian.

Kalau dalam dunia kerja, kita harus bisa tanggung jawab untuk menyelesaikan setiap pekerjaan yang ada dengan baik. Pengetahuan dan keahlian pun harus dikembangkan demi kualitas pelayanan terbaik. Kita harus bekerja secara terbuka, jujur, dan bisa bekerja dalam tim.

5. Terus Belajar dan Berjuang

Tiada suatu hal yang akan berhenti begitu saja, sama seperti hidup. Kita harus terus belajar dan berjuang dalam hidup supaya bisa menjadi manusia yang bertanggung jawab dengan kehidupan. Belajar tidak hanya dalam tingkat sekolah dan universitas, tapi belajar adalah setiap hari sampai kapan pun. Suatu hari kita pasti melakukan suatu kesalahan. Kita harus belajar dari kesalahan itu untuk menjadi lebih baik. Sama seperti praktik Dharma, kalau kita tidak mau belajar untuk bersikap jujur dan memiliki rasa welas asih, maka kita tidak akan memiliki sikap itu. Tapi kalau kita mau belajar terus-menerus, maka sikap jujur dan welas asih akan tertanam kuat di dalam batin. 

Praktik Pancasila Buddhis

Di samping kita harus terus bertanggung jawab dengan hidup kita sesuai dengan poin-poin di atas, kita juga harus menyeimbanginya dengan tingkah laku yang baik. Sebagai seorang Buddhis, kita sebaiknya mempraktikkan Pancasila Buddhis dengan baik sesuai dengan penuturan Bhikkhu Uttamo.

“Yang paling sering diucapkan, dibahas adalah Dhammapada nomor 183, yaitu kurangi kejahatan, tambah kebajikan, sucikan pikiran. Ini dikatakan intisari Dharma, ajaran para Buddha. Kalau disebut intisari Dharma, ini yang disebut the essentials of Dhamma,” tutur Beliau.

Menurut Bhikkhu Uttamo, praktik Dharma adalah aksi mengurangi kejahatan dan menambah kebajikan. Kebanyakan dari kita tahu antara yang baik dan tidak baik, tetapi kita lebih sering menyimpan tindakan baik dan mengeluarkan tindakan tidak baik. Contohnya, kita tahu kalau memaki orang, bergosip, dan mencuri adalah tindakan buruk. Tapi kita tetap saja melakukannya dengan alasan kalau tidak bergosip karena rasanya kurang pas dan sulit untuk mengendalikannya.

Oleh sebab itu, kita harus mengurangi kejahatan dan menambah kebajikan melalui praktik Pancasila Buddhis.

  1. Tidak Membunuh

Menghilangkan nyawa makhluk lain sama dengan kita tidak punya rasa cinta kasih terhadap mereka.

“Di kosan ada kecoa, semut, tikus ya biarkan. Bisa lakukan kebajikan, semut, tikus, kecoa suruh keluar, ditangkap pakai alat lalu dibuang di tempat yang sepi,” tutur Bhikkhu Uttamo.

Beliau memberi contoh praktik cinta kasih dari hal yang paling sederhana, yakni dengan tidak membunuh serangga dan tikus yang ada di sekitar kita. Alih-alih membunuh, kita bisa menangkap mereka dengan alat, misal tangkap semut pakai plastik. Kita bisa mengisi plastik dengan madu atau gula untuk mengundang semut masuk, lalu taruh si semut di tempat yang jauh dari keramaian seperti kebun. Kalau kita malah membuangnya di tempat ramai, di jalanan misalnya, sama saja kita membuat karma buruk lagi karena membiarkan semut tersebut terinjak orang atau kendaraan di jalanan.

Kita juga bisa mengembangkan cinta kasih dengan memberi sembako pada orang yang membutuhkan. Selain memberi kebahagiaan, kita juga mengondisikan kehidupan bagi orang tersebut.

Yuk baca lebih lanjut tentang cara menghindari tindakan membunuh!

  1. Tidak Mencuri

“Mencuri adalah mengambil hak orang lain,” ujar Bhikkhu Uttamo.

Mengambil barang yang menjadi hak dan milik orang lain adalah tindakan yang tidak baik. Misal mencuri makanan teman, mengambil pacar teman, dan juga menyontek alias mencuri jawaban teman. Kenapa kita suka mencuri? Karena kita tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki. Tidak cukup makan semangkuk sup, masih mengambil makanan orang lain. Merasa iri karena teman punya pacar, akhirnya mengambil pacar teman. Karena tidak puas dengan kinerja sendiri, akhirnya menyontek punya teman.

Untuk mengatasi sikap suka mencuri ini, kita harus mengembangkan kerelaan dengan berbagai cara. Bisa dengan menambah cinta kasih dalam diri, misal berbagi makanan dengan orang lain, belajar bersama, dan sebagai mahasiswa kita juga bisa mendonasikan buku-buku yang sudah kita baca untuk orang yang lebih membutuhkan. Dengan berbagi bersama orang lain, kita bisa melatih diri untuk melepas kemelekatan. 

Yuk baca lebih lanjut tentang cara menghindari tindakan mencuri!

  1. Tidak Berzina

“Mengembangkan rasa puas dengan pasangan yang dimiliki,” tutur Bhikkhu Uttamo.

Rasa tidak puas terhadap pasangan muncul ketika kita melihat rumput tetangga lebih hijau. Padahal, belum tentu juga rumput tetangga lebih hijau. Dalam Sigalovada Sutta dijelaskan mengenai kewajiban suami dan istri dan salah satunya adalah menjaga kesetiaan. Kesetiaan ini harus dipelihara sampai kapan pun, jangan karena perubahan fisik, kita menjadi tidak setia dengan pasangan. Segala sesuatu tidak ada yang kekal, apalagi fisik manusia. Semakin tua, kulit akan mengerut dan metabolisme melambat sehingga badan mudah gemuk. Kalau sudah seperti ini, yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri adalah menjaga hubungan agar tetap harmonis dan menerima kekurangan satu sama lain.

Yuk baca lebih lanjut tentang cara menghindari tindakan seksual yang tidak pantas!

  1. Tidak Berbohong

“Kebohongan yang diucapkan adalah untuk menutupi keakuan, takut dirinya jelek,” tutur Bhikkhu Uttamo.

Kita akan berbohong terhadap orang lain apabila diri kita tidak baik. Kita malah akan bersikap sombong bila diri kita lebih baik dari orang lain. Misalnya, ada teman yang bertanya pada kita nilai ujian, karena nilai kita rendah maka kita membohonginya dnegan berkata ‘saya belum sempat melihat nilai ujian’. Nyatanya kita sudah melihat nilai ujiannya tadi. Ketika nilai ujian kita bagus, kita akan sombong dengan berkata ‘kamu tahu tidak kalau nilaiku A?’. 

Kebohongan dilakukan untuk menutup ego karena takut dipermalukan. Maka dari itu, kita perlu mengembangkan kejujuran. Belum tentu juga teman-teman akan mempermalukan kita karena nilai jelek. Bisa jadi teman-teman membantu kita untuk mempelajari hal-hal yang belum dipahami.

Yuk baca lebih lanjut tentang cara menghindari ucapan yang tidak benar!

  1. Tidak Bermabukan

Mabuk-mabukan adalah kondisi seseorang meminum minuman yang bisa menghilangkan kesadaran sementara waktu. Saat bermabukan, kita bisa melakukan tindakan-tindakan di luar kendali, bisa saja secara tidak sadar kita membunuh, berbohong, mencuri, bahkan memperkosa. Ketika orang lain mengetahui hal ini, kita bisa masuk penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Akhirnya hanya rasa menyesal yang muncul.

Supaya tidak terjerumus dalam tindakan negatif, kita harus mengembangkan kesadaran maksimal dan juga menghindari makanan atau minuman yang bisa membuat kesadaran kita melemah.

Kalau sudah terlanjur melanggar sila, harus gimana? Baca di sini!

Penutup

Dari seminar Buddhis dari KMB Dhammasena ini, kita bisa mengambil nilai-nilai positif dari Buddhadharma seperti mengurangi perbuatan tidak baik dan mengembangkan perbuatan baik yang sudah kita miliki supaya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Perbuatan baik bisa kita kembangkan dengan memperhatikan hal-hal paling mudah yang ada dalam Pancasila Buddhis, yakni dengan mengembangkan cinta kasih untuk menghindari pembunuhan, tidak mencuri dengan mengembangkan sifat rela dalam berdana, tidak berzina dengan mengembangkan sifat setia, selalu jujur untuk menghindari ucapan bohong, dan selalu mengembangkan kesadaran penuh dengan tidak minum atau makan sesuatu yang bisa melemahkan kesadaran.

Share.

About Author

115 views

Leave A Reply

WhatsApp us