BWCF 2020 – Menuju Candi Borobudur Digital

0

oleh Junarsih

Samana Foundation kembali menyelenggarakan Borobudur Writers and Cultural Festival selama lima hari pada tanggal 19-23 November 2020. Banyak peserta dari seluruh penjuru negeri mengikuti acara yang tahunan yang kini berpindah ke ranah digital ini. Sehubungan dengan “perpindahan” ini, ada satu topik bahasan yang unik pada sesi Ceramah Umum 2 yaitu “Digitalisasi Candi Borobudur sebagai Kerja Ontologis” bersama Dr. Fadjar Ibnu Tufail, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pada Sabtu (22/11).

“Digitalisasi adalah membuat dunia secara digital,” tutur Dr. Fadjar Ibnu Tufail mengawali ceramah. Jadi, digitalisasi merupakan penangkapan suatu objek untuk membuat dunia secara digital yang bisa mengubah relasi antara manusia dengan dunia nyata. Kata “ontologi” yang menjadi tema ceramah ini berasal dari bahasa Yunani: onto berarti “ada” dan logos artinya “ilmu”. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang keberadaan suatu hal.

Dr. Fadjar Ibnu Tufail mengatakan bahwa ontologi dikaitkan dengan siapa dan bagaimana letak kita di dunia ini dengan bantuan teknologi digital. Maksudnya adalah siapa saja yang berkaitan dengan suatu hal, misal tempat, dapat diketahui melalui proses digitalisasi untuk membuat dunia sebagai pengalaman. Jadi, tema digitalisasi candi dijadikan sebagai kerja ontologis bertujuan untuk mengetahui tentang keberadaan candi melalui proses digitalisasi.

Mengungkap sisi yang tersembunyi

Pada ceramah ini, Dr. Fadjar Ibnu Tufail lebih menekankan pada ontologi digital dan tradisi. Salah satunya adalah proses visualisasi relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Kita semua tahu bahwa relief ini tersembunyi di bawah candi, tetapi bisa ditampilkan secara virtual dengan visualisasi transparan. Dengan visualisasi ini, tidak hanya relief tersembunyi yang dapat diketahui, tetapi juga susunan tanah bagian dalam candi Borobudur dapat dilihat. Selain itu, berkat kemajuan teknologi, kita juga bisa melihat suatu bangunan bukan hanya dari satu sisi saja, melainkan bisa dari segala sisi.

Dr. Fadjar Ibnu Tufail juga mengatakan bahwa Youtube sebagai ranah pengalaman ontologi tradisi, di mana dunia yang dibentuk berdasarkan proses digital dengan sentuhan nilai dari lingkungan sekitar. Banyak sekali ragam budaya dan tradisi dari berbagai daerah dalam acara Ruwat Rawat Borobudur seperti jaran kepang, topeng ireng, dan berbagai atraksi lainnya yang direkam dan diunggah ke Youtube. Sebagian tarian yang ditampilkan dibuat berdasarkan kisah yang ada di relief Candi Borobudur. Ini adalah bukti bahwa Candi Borobudur sudah selayaknya kita rawat dan lestarikan karena mengandung begitu banyak nilai yang dapat berevolusi menjadi berbagai bentuk kesenian lain yang dapat dipelajari melalui berbagai media, termasuk Youtube. 

Di sisi lain, kita harus menyadari bahwa proses digitalisasi sebagai kerja ontologis menampilkan objek hanya dalam jangka waktu tertentu. Objek yang asli akan berubah seiring dengan kondisi alam, sedangkan objek yang direkam akan tetap utuh seperti pertama kali objek itu diambil. Hal ini dapat berguna dalam dunia arkeologi untuk membantu memperkirakan bagian bentuk suatu candi dari situs yang mungkin tak lagi utuh di kemudian hari. 

Digitalisasi lebih dari sekadar merekam

Pada akhir ceramahnya, Dr. Fadjar Ibnu Tufail menyampaikan bahwa digitalisasi bukan sekadar proses perekaman, melainkan proses membangun alur cerita yang baru untuk dipahami bersama. Pada akhir ceramahnya, Hal imi dikarenakan proses digitalisasi dapat menyimpan objek dalam jangka waktu yang lama dan bisa dipelajari di hari kemudian. 

Dari webinar ini, kita bisa mengambil makna bahwa sebenarnya proses digitalisasi sebagai kerja ontologis ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan memotret maupun merekam segala aktivitas yang dilakukan kemudian diunggah pada platform media sosial seperti Instagram, Facebook, maupun Youtube. Namun, segala aktivitas yang kita rekam harus kegiatan yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini memungkinkan kita untuk meningkatkan kreativitas dan memberi ide baru bagi orang lain untuk belajar bersama.

Proses digitalisasi juga bisa membantu kita untuk mengingat kejadian yang terjadi di masa lalu untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran di masa mendatang karena kita merekam seluruh urutan kejadian sehingga menjadi cerita baru. Misal kita merekam tradisi suatu daerah setiap tahunnya. Dari sana kita bisa belajar bahwa tradisi setiap tahun selalu memiliki inovasi, seperti jenis makanan dan baju yang dikenakan, sehingga bisa membangun persepsi kita dalam melihat dunia lain yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us