1 views

BWCF 2020 – Bhūmiśodhana: Bersih Diri Bersih Lingkungan

0

oleh Silvi Wilanda

Jumat tanggal 20 November 2020 lalu, Dr. Hudaya Kandahjaya, seorang budayawan serta peneliti asal usul Candi Borobudur berkenan untuk membagikan ilmunya lewat ceramah umum “Bhūmiśodhana: Pandangan Agama Buddha Tentang Manusia dan Lingkungan” dalam Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2020. Ceramah umum ini diselenggarakan sejak pukul 10.00 hingga 12.00 WIB secara daring melalui aplikasi Zoom. Topik ceramah umum ini sendiri selaras dengan tema BWCF ke-9, yaitu “Bhūmiśodhana, Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara”.

Ceramah umum dibuka dengan pembedahan kata dari bhūmiśodhana yang berasal dari kata batau bhūmi yang berarti “bumi” atau “tanah” dan kata śodhana yang berasal dari akar kata śudh berarti “membersihkan” atau “menyucikan”. Oleh karena itu, secara harfiah ungkapan bhūmiśodhana atau bhūśodhana berarti “membersihkan atau menyucikan bumi”. Bhūmiśodhana juga dapat dimaknai sebagai ritual pembersihan dan pengeramatan dalam rangka pembangunan tempat atau objek suci. 

Dilihat dari manfaatnya, mempraktikkan bhūmiśodhana tidak hanya dapat membuat kenyamanan bagi para dewa dan banyak makhluk, namun juga bagi diri sendiri. Bagi penulis sendiri, hal ini selaras dengan tahapan pertama dari Enam Praktik Pendahuluan dalam Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim), yaitu praktik bersih-bersih ruangan yang ingin kita gunakan untuk melakukan praktik Dharma. Praktik ini ditujukan untuk menghormati Triratna dan makhluk suci lainnya yang datang ketika kita berpraktik sekaligus upaya yang sering dimaknai sebagai pembersihan diri dari karma buruk.  

Membersihkan diri adalah langkah awal membersihkan lingkungan

Selain melakukan pembersihan lingkungan (eksternal), Buddhaguhya, seorang cendekiawan Buddhisme abad ke-7, menyatakan bahwa penting sekali bagi praktisi Buddhis untuk melakukan pembersihan diri (internal). Bahkan, menurut Beliau, pembersihan internal jauh lebih penting dibanding dengan pembersihan eksternal. Hal ini disebabkan karena segala fenomena eksternal bersifat tidak nyata dan juga tergantung oleh pembersihan internal. Jika diri (internal) kita bersih, maka seyogyanya lingkungan (eksternal) juga akan bersih. Untuk melakukan pembersihan diri, seseorang perlu menempuh Jalan Kesucian (Visuddhimagga) dalam tradisi Theravada atau melakukan pengakuan kesalahan (papasodhana/papadesana) dan ritual tobat Puja Tiada Tara (anuttarapuja) dalam tradisi Mahayana. 

Praktik anuttarapuja selaras dengan kitab Bhadracari yang diabadikan di relief Borobudur dan doa Samantabhadrapranidhana yang diadaptasi menjadi Doa Tujuh Bagian dalam praktik pendahuluan dalam Lamrim.
(Sumber: BWCF 2020)

Lingkungan atau dunia eksternal ditentukan oleh lima keniscayaan di alam semesta (panca-niyama), yaitu sebab-akibat perbuatan (kamma-niyama), ranah fisik atau anorganik (utu-niyama), ranah organik (bija-niyama), kekuatan batin (citta-niyama), dan ranah Dharma (dhamma-niyama). Dari kelimanya, faktor yang paling utama membentuk lingkungan adalah perbuatan (kamma-niyama). Dalam hal ini, pembersihan diri termasuk dalam faktor keniscayaan kamma-niyama. Hal ini selaras dengan penjelasan Buddhaguhya bahwa pembersihan diri lebih penting dibanding pembersihan lingkungan karena pembersihan lingkungan itu sendiri tergantung pada pembersihan diri. 

Tidak hanya terfokus pada hal yang bersifat internal dan spiritual, pembersihan lingkungan juga memerlukan tindakan langsung mengingat selain kamma-niyama, masih ada empat keniscayaan lainnya yang menentukan pembersihan lingkungan. Tindakan langsung yang dapat dilakukan adalah tindakan pencegahan, tindakan penanganan, serta penguasaan berbagai ilmu. Penguasaan berbagai ilmu, di antaranya adalah pengetahuan batin; tata dan komposisi bahasa; logika; penyakit dan pengobatan; seni; matematika; bisnis; teknologi; dan sebagainya. Perlu diingat, penguasaan berbagai ilmu-ilmu ini digunakan untuk menyejahterakan orang lain dan lingkungan, bukan untuk menipu orang lain. Penulis sendiri jadi mengingat berbagai Guru besar Buddhis yang tidak hanya mempelajari pengetahuan Buddhis, tapi juga berbagai ilmu sekuler lainnya bukan untuk tujuan pribadi, namun kesejahteraan banyak makhluk. 

Warisan Welas Asih

Tindakan menjaga kelestarian lingkungan sudah ada sejak Buddhisme di Nusantara mencapai zaman kejayaan, yaitu pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Buktinya adalah ditemukannya Prasasti Talang Tuo yang menceritakan pembangunan taman Sriksetra. Pandangan ekologi serta pembangunan ekosistem untuk kesejahteraan banyak makhluk tertera pada prasasti tersebut. Prasasti ini juga memuat nilai-nilai luhur Buddhis, seperti pengumpulan enam kesempurnaan (paramita) serta empat kediaman luhur (brahmavihara). Pendirian taman sendiri bisa dikatakan sebagai praktik welas asih agung yang memandang semua makhluk setara dengan penuh kasih beserta tekad untuk mempersembahkan kebahagiaan tertinggi untuk semua. Ini juga menjadi bukti bahwa leluhur kita menjunjung pandangan yang bersifat ekosentris (berpusat pada lingkungan), bukan bersifat antroposentris (berpusat pada manusia) yang menjadi penyebab eksploitasi alam yang banyak menimbulkan kerusakan.

Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula aur, buluh, betung, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan… semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung.

Prasasti Talang Tuo (684 M), terjemahan versi  George Cœdès

Kenalan dengan Guru Dharma dari Sriwijaya yuk!

Jadi, benar juga ungkapan “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Jika iman (internal) seseorang bersih, maka lingkungannya seyogyanya juga bersih. Kondisi eksternal dipengaruhi oleh kondisi internal. Jadi, berkaca dengan tantangan yang kita hadapi, yakni COVID-19, barangkali kita perlu membersihkan internal kita terlebih dahulu sekaligus melakukan berbagai upaya nyata lainnya, seperti rajin memakai masker dan konsisten melakukan physical distancing.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us