SEALF 2019 – Butuh Kebajikan untuk Jadi Bijak

0

Yang saya dapat adalah bahwa pemahaman akan sunyata bukan hal yang mudah, kita perlu kebajikan untuk dapat memahami apa itu ketanpaakuan.

oleh Anabelia Winatian

Hari ini, 12 November 2019, adalah hari kedua Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019 di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat. Guru Dagpo Rinpoche memulai sesi pertama pengajaran lebih awal karena mengejar penjelasan yang harus diselesaikan dalam 5 hari sesi pengajaran.

Sesi pagi di mulai dengan puja dan ritual permohonan pengajaran Dharma. Rinpoche kemudian melanjutkan topik kemarin, tentang 6 paramita. Di sesi ini, dibahas tentang Dhyana Paramita dan Prajna Paramita. Rinpoche mengulang beberapa kali betapa pentingnya Dhyana Paramita atau penyempurnaan konsentrasi dalam praktik seorang praktisi dharma.

Dalam sesi pertama ini Rinpoche lebih banyak membacakan teks yang Beliau pegang sebagai wujud trasmisi pembelajaran kepada kita semua. Hal ini dilakukan agar menjaga silsilah ajaran. Rinpoche sendiri mendapatkan transmisi dari silsilah yang tak terputus dari awal Buddha Shakyamuni sehingga kita pun menerima berkah luar biasa dari transmisi ini.

Guru Dagpo Rinpoche bersiap memberikan transmisi Dharma berharga.

Sebenarnya pada sesi pertama, banyak distraksi yang menghalangi saya untuk fokus mendengarkan Rinpoche mengajar. Saya tertidur beberapa kali sehingga banyak hal yang tidak saya dapatkan di sesi pertama. Sesi kedua dimulai dengan persembahan mandala singkat. Rinpoche mengajak kita semua untuk merenungkan kembali motivasi bajik yang mungkin sudah melemah karena jeda waktu antar sesi yang lumayan panjang.

Rinpoche memandu perenungan motivasi ini dengan mengatakan, “Kita mengganggap bahwa kita semua dapat melanjutkan pembelajaran di sesi kedua ini adalah hal biasa saja, kita tidak menganggap nya serius. Mungkin saja selama waktu jeda istirahat, kita mendapatkan kondisi tidak menguntungkan seperti mengalami sakit atau pun meninggal, tidak ada yang tahu. Jadi kita harus mengganggap sekarang ini kita masih bisa melanjutkan pembelajaran merupakan sebuah keberuntungan. Renungkanlah selama sisa hidupku sekarang, aku akan mencapai realisasi-realisasi dari tahapan jalan menuju pencerahan.” Kira-kira seperti itu ungkapan dari Rinpoche.

Rinpoche melanjutkan topik shamatha dan wipashyana di sesi kedua. Shamatha dan wipashyana merupakan cara khusus untuk melatih Dhyana Paramita dan Prajna Paramita. Topik ini cukup membuat sebagian peserta sempoyongan dengan penjabaran-penjabaran nya.

Wajah peserta yang sempoyongan mencoba memahami Prajna Paramita.

Rinpoche memberikan sebuah analogi. Jika ada sebuah pohon yang harus ditebang, maka yang diperlukan adalah sebuah kapak yang tajam dan orang yang mempunyai tangan yang stabil. Kapak yang tajam ibarat kebijaksanaan memahami kesunyataan (wipashyana). Orang yang mempunyai tangan yang stabil adalah analogi untuk orang yang memiliki shamatha. Dengan tangan yang stabil, ayunan kapak pertama dan kedua tetap mengenai satu titik. Dengan hantaman berulang kali di titik yang sama, pohon bisa dengan cepat ditebang. Sama halnya dengan jika kita memiliki kualitas shamatha dan wipashyana, kita akan dapat keluar dari cengkraman samsara.

Buddha mengajarkan Dharma sesuai dengan kapasitas murid-muridnya. Oleh karena itu, terdapat empat aliran filosofis Buddhis di India yang menggunakan cara berbeda untuk menjelaskan berbagai fenomena. Empat aliran filosofis tersebut adalah Waibhashika, Sautantrika, Yogacara, dan Madhyamika. Rinpoche menegaskan tidak ada pertentangan antara keempat aliran di atas karena aliran-aliran tersebut memiliki satu tujuan yaitu mengatasi sikap mencengkram ‘aku’ yang berdiri sendiri.

Ada dua titik ekstrem yang dapat terjadi ketika seseorang salah memahami kesunyataan. Titik ekstrem pertama adalah menjadi nihilis (mengganggap semua tidak ada), bahwa diri itu tidak ada. Akibatnya jika ia ingin membunuh seseorang, hal tersebut menjadi tidak masalah, karena sebenarnya dirinya itu tidak ada. Titik ekstrem kedua adalah mengganggap semua hal itu ada kekal (eternalis), bahwa ada diri yang abadi dan tidak bergantung pada apapun.

Ketanpaakuan dibagi menjadi ketanpaakuan terhadap makhluk atau diri yang berarti ketidakberadaan eksistensi diri dan ketanpaakuan fenomena yang berarti mengacu pada skandha. Rinpoche mengatakan bahwa lebih mudah memahami ketanpaakuan diri daripada ketanpaakuan skandha, meditasikan terlebih dahulu ketanpaakuan diri baru bisa lanjut ke yang lainnya.

Itu semua adalah secuplik dari banyak hal yang dipaparkan Rinpoche hari itu. Yang saya dapat adalah bahwa pemahaman akan sunyata bukan hal yang mudah, kita perlu kebajikan untuk dapat memahami apa itu ketanpaakuan. Adanya empat aliran dalam filosofis Buddhis juga merupakan hasil dari kualitas setiap makhluk yang berbeda-beda dalam memahami ketanpaakuan. Hal ini jelas bukan ada untuk mengadu keunggulan aliran yang satu dengan yang lain, tetapi merupakan cara mahir para guru besar dalam memodifikasi pemahaman mereka agar dapat dipahami oleh orang lain dengan berbagai kapasitas dan latar belakang.

Mengumpulkan kebajikan, ‘modal’ untuk meraih kebijaksanaan.

Sunyata sendiri dari pandangan saya adalah semua hal ada dengan saling bergantung antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada yang dapat berdiri sendiri. Sayangnya, pemahaman keliru kita akan dunia ini (bahwa kita eksis tanpa bergantung) telah mengakar sampai kita kesulitan menerima kenyataan. Butuh banyak kebajikan seperti yang Rinpoche telah katakan. Seiring kebajikan bertambah, kita akan dapat lebih memahami dunia sebagaimana adanya.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us