DAY 7 – Jebakan Itu Bernama ‘Zona Nyaman’

0

Di dalam Lamrim, terdapat 3 motivasi atau tingkatan pemahaman praktisi, yaitu motivasi kecil, motivasi menengah, dan motivasi agung. Di hari ke-7 Indonesia Lamrim Retreat 2018, Yang Mulia Biksu Bhadra Ruci kembali mengingatkan kita tentang ketiga motivasi tersebut. Penjelasannya secara berurutan dari motivasi kecil hingga motivasi agung adalah: aspirasi untuk memperoleh bentuk kelahiran yang membahagiakan di kelahiran mendatang, aspirasi untuk terbebas dari samsara, dan aspirasi mencapai Kebuddhaan demi semua makhluk.

Seseorang memasuki tingkatan motivasi yang lebih tinggi ketika level pemahaman maupun pandangan spiritual seorang praktisi telah meningkat. Jika di motivasi awal praktisi Dharma fokus pada mengumpulkan kebajikan dan mengurangi ketidakbajikan demi kebahagiaan di kehidupan mendatang, praktisi motivasi menengah sudah setingkat lebih lanjut. Di tahap ini, pembebasan dari samsara telah direalisakan dalam batin. Pencapaian besar ini tentu tidak datang dari langit begitu saja, melainkan merupakan buah upaya yang luar biasa besar melalui analisis dan perenungan lebih lanjut mengenai topik lamrim yang telah dipelajari dan juga berkah dari guru spiritual. Tidak bisa dan tidak masuk akal sama sekali jika seorang praktisi ingin memperoleh pencapaian ini jika ia hanya bermalas-malasan, merasa nyaman, dan bahkan terlena oleh kenikmatan duniawi.

Dunia dengan segala kenikmatan indra adalah sebuah zona nyaman. Jika seorang praktisi Dharma terlena dan terperangkap di zona nyaman ini, bukan saja tidak ada perkembangan dan pencapaian yang bisa diraih, batin praktisi tersebut juga dapat merosot pada kehidupan mendatang. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kita membawa kualitas diri kita dari setiap kehidupan ke kehidupan selanjutnya. Jika pada kehidupan sekarang kapasitas seseorang berada pada level tertentu, maka di kehidupan selanjutnya ia pun akan membawa kualitas dengan level tersebut. Tidak mungkin lebih. Maka, jika pada kehidupan sekarang seseorang bermalas-malasan, tidak akan ada perkembangan batin yang akan dibawa sebagai bekal kehidupan selanjutnya. Bahkan, akan sangat mungkin jika batin yang dibawa ke kehidupan selanjutnya merosot dikarenakan buaian kenikmatan duniawi. Untuk itu, kita perlu berupaya, banyak belajar, banyak merenung, banyak menganalisa untuk menaikkan kapasitas sehingga dapat keluar dari samsara. Hal inilah yang disebut dengan praktik Dharma yang sesungguhnya.

Selama seorang mahluk terlahir di alam samsara, tidak peduli apapun bentuk kelahirannya, makhluk tersebut pasti akan merasakan 6 penderitaan samsara secara umum, yaitu: (1) ketidakpastian, (2) ketidakpuasan, (3) keharusan meninggalkan tubuh berulang kali, (4) keharusan terlahir kembali berulang kali, (5) status yang berubah, dan (6) tiadanya teman sejati. Ini semua terjadi dan menyiksa kita bahkan ketika kita terlahir di alam tinggi sekalipun. Selama kita tidak menghentikan siklus tumimbal lahir, kita akan terus mengalami penderitaan tersebut dan tidak menemukan jalan keluar.

Salah satu hal yang turut berkontribusi membuat kita tidak bisa melihat bahwa hidup merupakan penderitaan adalah peran orang tua yang terlalu memanjakan anaknya. Ibarat kisah anak kota dan anak desa; anak desa terbiasa main di luar, terluka, dan kehilangan sehingga terbiasa dengan kenyataan kenyataan bahwa hidup ini menderita, sedangkan anak kota tinggal di rumah ditemani oleh kotak bercahaya alias televisi atau gadget dan hanya melihat dunia rekaan, bukan realita yang sesungguhnya. Fenomena tetaplah sebuah fenomena. Meskipun, fenomena yang dilihat oleh anak desa dan anak kota sama, namun hal yang dirasakan oleh kedua anak tersebut adalah berbeda. Ketika tumbuh dewasa, anak desa bisa lebih kuat menghadapi kondisi yang tak menyenangkan sementara anak kota rawan jatuh depresi karena tak terbiasa dengan kegagalan dan kehilangan.

Terkadang, ada juga fenomena menyakitkan yang membuat batin kita tidak berkembang. Untuk itu, pelajaran bahwa hidup adalah penderitaan sangat diperlukan. Kita masih hidup dengan konsep yang kita buat sendiri. Kita berjuang mati-matian untuk konsep ini. Kita sangat melekat erat padanya dan ketika konsep tersebut runtuh maka kita pun akan runtuh karena konsep ini tidak pasti.

Kita masih berada di alam menderita karena penderitaan tersebut adalah buah dari karma kita. Karma memaksa kita untuk memikul skandha yang mencengkeram. Dengan skandha ini, kita lahir dengan wadah yang bergantung pada alam kehidupan dan memikul penderitaan. Karma dihasilkan oleh klesha atau faktor mental pengganggu, faktor mental yang ketika muncul akan membuat batin kita resah dan bergejolak. Karma tanpa klesha tak akan menghasilkan buah, tapi klesha tanpa karma akan mendorong kita membuat karma baru sehingga kita harus kembali terlahir untuk mengalami akibatnya. Jadi, selama klesha masih ada, kita akan terus berputar-putar dalam samsara. Terdapat 6 klesha utama, yaitu kemelekatan, kemarahan, kesombongan, kebodohan, keragu-raguan, dan pandangan salah. Semua klesha muncul karena adanya pandangan akan “aku” yang dapat berdiri sendiri. “Aku” ini sesungguhnya tidak eksis, namun kita mencengkeram keberadaannya dan menjadikannya pusat dari alam semesta. Kita pun menuntut agar “aku” ini disenangkan, dilayani, dan menjadi lebih dari “yang lain” sehingga memunculkan kemarahan, kecemburuan, kemelekatan, dan sebagainya yang membuat kita menderita. Ketika kita bisa mengatasi pandangan salah ini, klesha kita akan terhenti dan kita pun bisa terbebas dari samsara. Hal ini bisa dicapai salah satunya dengan cara melatih sila untuk mendisiplinkan batin kita agar berfokus pada objek-objek bajik dan menjauh dari objek yang tak bajik sehingga klesha-klesha yang biasanya muncul dengan cepat dapat berkurang dan melemah perlahan-lahan.

Sebagai penutup sesi, Suhu Bhadra Ruci mengajak kita semua untuk memperluas fokus kita agar melihat lebih dari sekedar bajik dan tak bajik (motivasi kecil), tapi juga mulai memikirkan cara menghentikan samsara atau tidak (motivasi menengah). Kita harus benar-benar merealisasi topik motivasi menengah ini, harus paham penderitaan samsara sehingga kita dapat memahami penderitaan semua makhluk dan pada akhirnya dapat menolong semua makhluk untuk bebas dari samsara (motivasi agung).

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us