
Di salah satu platform media sosial, muncul sebuah konten berupa pertanyaan tentang tolok ukur untuk menilai seberapa “meyakinkan” kualitas seseorang dalam membabarkan Dharma. Apakah dari status, lamanya vassa, popularitas, kepiawaian dalam berbicara, hingga pengetahuan yang luas tentang Dharma? Mana yang bisa jadi patokan?
Kualitas Pengajar
Alkisah, ada seorang biksu tua yang hidup pada zaman Buddha. Sang biksu tua baru saja ditahbiskan dan belum memiliki banyak pemahaman tentang Dharma. Suatu hari, tiba gilirannya untuk menerima persembahan dari seorang upasika dan diminta untuk mengajarkan Dharma. Sang biksu tua merasa takut, sebab ia merasa tidak tahu apa-apa tentang Dharma. Sebaliknya, ketika sang biksu tiba di rumah upasika, melihat langkah kaki tenang sang biksu justru membuat upasika sangat gembira dan penuh kekaguman. Ia meyakini bahwa sang biksu tua adalah orang suci yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang besar.
Ketika selesai menerima persembahan, upasika itu bersujud dengan rasa hormat mendalam kemudian duduk tanpa berani mendongak ke arah sang biksu. Sang biksu yang tak kuasa melihat hal tersebut hanya bisa mengucapkan satu kalimat, “Kebodohan dan ketidaktahuan adalah sumber penderitaan.” Dengan cepat sang biksu kemudian berlari meninggalkan rumah upasika. Sementara itu, satu kalimat dari sang biksu tua tersebut membuat upasika merenungkannya berulang-ulang hingga ia larut dalam meditasinya dan mencapai tingkat Sotapanna, yakni tingkat pertama dari 4 tingkat kesucian.
Dari kisah di atas, dapat dipahami bahwa kualitas seorang pembabar Dharma tidak selalu bisa dinilai dari seberapa banyak ilmu yang diungkapkan, status, atau atribut yang dikenakan. Kunci utama dari seorang pembabar Dharma yang berkualitas justru terletak pada realisasinya, di mana setiap ajaran dibabarkan bersumber dari hati yang tulus dan selaras dengan tindakan sehari-hari.
Kesiapan Batin Pendengar
Tidak hanya itu, pendengar memegang peran kunci yang sama pentingnya dalam memahami Dharma. Terlepas dari siapa pun yang mengajarkan, manfaat ajaran baru bisa dirasakan ketika kita terbebas dari tiga sikap bagai cawan yang cacat, yakni cawan terbalik, cawan kotor, dan cawan bocor.
Dalam mendengarkan ajaran, kita perlu menghindari sikap bagai cawan terbalik. Bayangkan sebuah cawan yang diletakkan dalam posisi terbalik; sederas apa pun air jernih yang dituangkan ke atasnya, tidak akan ada setetes pun air yang berhasil masuk ke dalam wadah. Hal ini persis seperti seseorang yang raganya hadir dalam ruangan, tetapi pikiran dan hati tidak tertuju pada ajaran yang sedang disampaikan.
Kita juga harus menghindari sikap bagai cawan yang kotor. Air jernih nan terbaik sekali pun akan menjadi keruh apabila dituangkan ke dalam cawan yang berdebu atau penuh kotoran. Hal serupa juga berlaku dalam konteks mendengarkan Dharma, di mana ketika seseorang mendengarkan ajaran dengan pikiran yang dipenuhi kesombongan, dorongan untuk terus menghakimi, atau mencari celah kesalahan sang pengajar. Sikap seperti ini justru membuat kita tidak akan bisa memahami ajaran secara utuh.
Terakhir, ajaran yang telah berhasil masuk ke dalam wadah yang bersih tetap tidak akan memberi manfaat jangka panjang jika sikap kita bagai cawan bocor. Pada saat mendengarkan, kita mungkin merasa sangat tersentuh, mengangguk setuju, dan mengagumi nilai-nilai yang dibahas. Namun, tanpa merenungkan, mempelajarinya lebih lanjut, atau mempraktikkannya, inti atau pesan dari ajaran yang telah dibabarkan akan lenyap begitu saja tanpa sisa.
Tanpa disadari, dalam mendengarkan Dharma, mungkin selama ini kita lebih sibuk menilai kualitas sang pengajar dari atribut luarnya sampai kita lupa memeriksa kesiapan batin diri sendiri untuk mendengarkan ajaran. Dharma bisa diresapi bukan saat kita menemukan pembabar yang paling hebat, tetapi saat kita cukup rendah hati untuk belajar dari siapa pun. Kira-kira, mana yang lebih sulit: Menyadari kita sedang meremehkan orang lain atau mengakui diri kita sendiri belum tahu apa-apa?
Referensi:
- “Pembebasan di Tangan Kita” Jilid I – Cara Mendengarkan Dharma
- Tripitaka Taisho 雜譬喻經
