Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2026
    • Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di Unlock Your Potential Festival
    • Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir “Ngerumpi Bijak” Pesta Literasi NDBF 7.0
    • Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club
    • “Resonating Earth” Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme
    • Di Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis
    • “Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Featured » Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?
    Sumber: studybuddhism.com

    Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?

    0
    By Iqa Kinanti Nandakasih on October 23, 2026 Artikel, Featured, Wacana
    Sumber: utas dari @ferdianxlee di Threads

    Di salah satu platform media sosial, muncul sebuah konten berupa pertanyaan tentang tolok ukur untuk menilai seberapa “meyakinkan” kualitas seseorang dalam membabarkan Dharma. Apakah dari status, lamanya vassa, popularitas, kepiawaian dalam berbicara, hingga pengetahuan yang luas tentang Dharma? Mana yang bisa jadi patokan?

    Kualitas Pengajar

    Alkisah, ada seorang biksu tua yang hidup pada zaman Buddha. Sang biksu tua baru saja ditahbiskan dan belum memiliki banyak pemahaman tentang Dharma. Suatu hari, tiba gilirannya untuk menerima persembahan dari seorang upasika dan diminta untuk mengajarkan Dharma. Sang biksu tua merasa takut, sebab ia merasa tidak tahu apa-apa tentang Dharma. Sebaliknya, ketika sang biksu tiba di rumah upasika, melihat langkah kaki tenang sang biksu justru membuat upasika sangat gembira dan penuh kekaguman. Ia meyakini bahwa sang biksu tua adalah orang suci yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang besar.

    Ketika selesai menerima persembahan, upasika itu bersujud dengan rasa hormat mendalam kemudian duduk tanpa berani mendongak ke arah sang biksu. Sang biksu yang tak kuasa melihat hal tersebut hanya bisa mengucapkan satu kalimat, “Kebodohan dan ketidaktahuan adalah sumber penderitaan.” Dengan cepat sang biksu kemudian berlari meninggalkan rumah upasika. Sementara itu, satu kalimat dari sang biksu tua tersebut membuat upasika merenungkannya berulang-ulang hingga ia larut dalam meditasinya dan mencapai tingkat Sotapanna, yakni tingkat pertama dari 4 tingkat kesucian.

    Dari kisah di atas, dapat dipahami bahwa kualitas seorang pembabar Dharma tidak selalu bisa dinilai dari seberapa banyak ilmu yang diungkapkan, status, atau atribut yang dikenakan. Kunci utama dari seorang pembabar Dharma yang berkualitas justru terletak pada realisasinya, di mana setiap ajaran dibabarkan bersumber dari hati yang tulus dan selaras dengan tindakan sehari-hari.

    Kesiapan Batin Pendengar

    Tidak hanya itu, pendengar memegang peran kunci yang sama pentingnya dalam memahami Dharma. Terlepas dari siapa pun yang mengajarkan, manfaat ajaran baru bisa dirasakan ketika kita terbebas dari tiga sikap bagai cawan yang cacat, yakni cawan terbalik, cawan kotor, dan cawan bocor. 

    Dalam mendengarkan ajaran, kita perlu menghindari sikap bagai cawan terbalik. Bayangkan sebuah cawan yang diletakkan dalam posisi terbalik; sederas apa pun air jernih yang dituangkan ke atasnya, tidak akan ada setetes pun air yang berhasil masuk ke dalam wadah. Hal ini persis seperti seseorang yang raganya hadir dalam ruangan, tetapi pikiran dan hati tidak tertuju pada ajaran yang sedang disampaikan.

    Kita juga harus menghindari sikap bagai cawan yang kotor. Air jernih nan terbaik sekali pun akan menjadi keruh apabila dituangkan ke dalam cawan yang berdebu atau penuh kotoran. Hal serupa juga berlaku dalam konteks mendengarkan Dharma, di mana ketika seseorang mendengarkan ajaran dengan pikiran yang dipenuhi kesombongan, dorongan untuk terus menghakimi, atau mencari celah kesalahan sang pengajar. Sikap seperti ini justru membuat kita tidak akan bisa memahami ajaran secara utuh.

    Terakhir, ajaran yang telah berhasil masuk ke dalam wadah yang bersih tetap tidak akan memberi manfaat jangka panjang jika sikap kita bagai cawan bocor. Pada saat mendengarkan, kita mungkin merasa sangat tersentuh, mengangguk setuju, dan mengagumi nilai-nilai yang dibahas. Namun, tanpa merenungkan, mempelajarinya lebih lanjut, atau mempraktikkannya, inti atau pesan dari ajaran yang telah dibabarkan akan lenyap begitu saja tanpa sisa.

    Tanpa disadari, dalam mendengarkan Dharma, mungkin selama ini kita lebih sibuk menilai kualitas sang pengajar dari atribut luarnya sampai kita lupa memeriksa kesiapan batin diri sendiri untuk mendengarkan ajaran. Dharma bisa diresapi bukan saat kita menemukan pembabar yang paling hebat, tetapi saat kita cukup rendah hati untuk belajar dari siapa pun. Kira-kira, mana yang lebih sulit: Menyadari kita sedang meremehkan orang lain atau mengakui diri kita sendiri belum tahu apa-apa? 

    Referensi:

    • “Pembebasan di Tangan Kita” Jilid I – Cara Mendengarkan Dharma
    • Tripitaka Taisho 雜譬喻經
    lamrimnesia
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleTiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2026
    Iqa Kinanti Nandakasih

    Related Posts

    Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan

    Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala

    Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Leaderboard Ad
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    October 23, 2026

    Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?

    October 21, 2026

    Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2026

    October 18, 2026

    Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di Unlock Your Potential Festival

    Store
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.