Di perlombaan yang tak pernah usai, ada batin yang menderita setiap hari. Ketika layar dimatikan, ketika tepuk tangan tak lagi terdengar, ketika panggung tak menyisakan penonton, ada pertanyaan yang pelan-pelan merayap naik: Di sepanjang pencapaian yang sudah diraih, mengapa lega begitu semu? Siapakah ‘aku’ jika semua bagian dalam diri dilepaskan dan tidak ada yang harus dibuktikan?
Dari luar, segala pencapaian dan kesuksesan begitu mengagumkan. Benar bahwa ia buah dari kerja keras dan kedisiplinan, tampak pantas bagi orang-orang yang tahu persis ke mana arah tujuannya. Namun dari dalam, kadang rasanya seperti hidup di bawah langit-langit hampa. Belum sempat menikmati pencapaian itu, muncul tuntutan lainnya yang harus dikejar supaya pengakuan dari orang lain tidak redam.
Apa yang diraih rasanya bukan lagi sebuah prestasi, tetapi sebuah keharusan. Begitu hal itu terjadi, istirahat mulai terasa seperti sesuatu yang tidak pantas didapatkan. Hari di mana tubuh butuh diam sejenak terasa seperti sebuah kegagalan.
Kita mengganti tekanan itu dengan kata ambisi, dorongan, kedisiplinan. Kadang kata-kata itu cocok, kadang juga ia menyembunyikan ketakutan. Takut melambat, takut menjadi biasa-biasa saja, takut akan nilai diri terasa lebih kecil karena semuanya diukur berdasarkan hal-hal yang dapat diakui banyak orang. Dan karena pencapaian itu terlihat, ia menjadi tempat termudah untuk mencari pengakuan bahwa keberadaan kita penting dan unggul.
Begitu banyak aspek kehidupan modern yang tanpa sadar menuntut manusia untuk terus menerjemahkan nilai diri ke dalam kotak yang bisa dipahami oleh orang lain ketimbang memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkan diri sendiri. Akibatnya, kita hidup tanpa rasa puas, tidak realistis, melihat segala sesuatu sebagai kompetisi, dan kecenderungan menyiksa diri sendiri. Semua yang dianggap motivasi dan ambisi berubah menjadi penderitaan.
Jauh sebelum peradaban menuntut kita untuk berlari tanpa henti, dengan terang Buddha melihat siklus penderitaan yang diciptakan oleh batin manusia sendiri. Melalui Empat Kebenaran Arya, Buddha membedah penderitaan yang membelenggu setiap makhluk beserta cara mengakhirinya.
Pemutaran Roda Pertama Dharma: Empat Kebenaran Arya
Dalam Buddhisme, Empat Kebenaran Arya (disebut cattāri ariyasaccāni dalam bahasa Pali dan catvaryāryasatyāni dalam bahasa Sanskerta) merupakan ajaran utama yang pertama kali dibabarkan Buddha setelah mencapai pencerahan. Arya secara harfiah bermakna “yang mulia”. Seorang Arya adalah ia yang membaktikan diri di jalan spiritual, berhasil melihat fakta kehidupan apa adanya secara sadar, dan bangkit membebaskan diri dari jerat penderitaan.
Meski dibabarkan ribuan tahun silam, menyandingkan ajaran ini dengan realitas sosial masa kini adalah relevan untuk membedah permasalahan manusia modern. Seperti yang diurai dalam buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya”, ajaran ini hadir supaya manusia menyadari betapa menipunya segala suka dan duka yang ada di muka bumi ini. Jika ilusi kita tentang fenomena duniawi tidak segera disadari, maka pembebasan penuh dari penderitaan itu tidak akan tercapai. Di dalam empat kebenaran itu memuat kebenaran tentang duka sebagai hakikat kita di alam samsara, kebenaran tentang asal-mula duka, kebenaran tentang lenyapnya duka, dan kebenaran jalan menuju lenyapnya duka.
Duka: dari Akar Hingga Cara Menghentikannya
Seseorang tidak akan bisa sembuh jika ia tidak tahu dan berusaha mencari tahu apa yang membuatnya sakit. Itu saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan mencari pengobatan yang tepat untuk rasa sakitnya. Begitu pun dengan duka atau penderitaan.
Untuk mengakhiri duka, yang pertama harus dilakukan adalah memahami duka itu sendiri. Caranya dengan menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal dan menyakitkan. Dalam konteks sosial di mana dunia berisi ajang adu performa, semuanya berubah begitu cepat dan kita dituntut untuk harus selalu bisa mengikuti perubahan itu. Segala tuntutan dan standar sosial membawa manusia pada persaingan yang begitu kuat dan obsesi untuk selalu mendapatkan segalanya. Jika terus terbawa arus, kita tidak lagi bisa mengenali diri sendiri. Pada akhirnya, yang didapatkan hanyalah penderitaan berupa kelelahan batin.
Dijelaskan dalam buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya” bahwa setelah memahami duka, kita perlu untuk mencari tahu sebab duka yang sebenarnya. Kebenaran kedua ini menegaskan bahwa penderitaan yang dirasakan tidak mungkin muncul begitu saja, pasti ada sebabnya. Sering menyalahkan keadaan luar, nyatanya rasa sakit paling perih justru diciptakan oleh kemelekatan di dalam diri sendiri. Ada kehausan untuk harus selalu melampaui ekspektasi dan keengganan untuk gagal. Penderitaan lahir dari keyakinan keliru bahwa nilai diri baru ada ketika kita bisa terus menghasilkan sesuatu yang bisa dijamah mata dan diakui banyak orang.
Ketiga, kebenaran tentang terhentinya duka, yaitu kesadaran bahwa penderitaan bisa dihentikan ketika sebabnya sudah ditemukan. Alih-alih terus mengikuti ego demi mencari kepuasan sesaat, justru nafsu atau kehausan harus dilenyapkan sampai ke akarnya untuk bisa bebas dari penderitaan. Dengan begitu, berbagai tuntutan sosial itu pun tidak lagi membuat kita terbawa arus dan tersiksa oleh keharusan selalu tampil sempurna.
Keempat, kebenaran tentang jalan menuju terhentinya duka melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Inti kebenaran keempat ini adalah mengajarkan kita untuk melatih segala tindak-tanduk dengan kesadaran penuh. Pikiran diajarkan untuk hadir seutuhnya di saat ini tanpa menghakimi diri sendiri. Ketika napas dirasakan, ketika kehidupan itu diresapi, jalan keluar dari penderitaan perlahan sedang dibangun.
Penderitaan Itu Ada untuk Melatih Batin yang Eling
Membaca buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya” menuntun pada pemahaman bahwa gangguan luar, masalah, atau penderitaan itu akan selalu ada dalam kehidupan ini. Karena gangguan luar itu pasti ada, maka fokus utamanya terletak pada bagaimana kita melatih batin untuk memahami akar masalah, merespons, dan mencari jalan keluarnya. Rasa sakit, cemas, dan lelah yang terus menggerogoti bukanlah hukuman dari luar, tetapi akibat dari tangan sendiri yang terlalu erat menggenggam ilusi tentang hal-hal duniawi.
Saat semua atribut, gelar, dan pencapaian itu dilepaskan, yang tersisa hanyalah diri yang penuh celah dan rasa takut untuk melihat diri sendiri. Namun, itu semua harus dihadapi. Dari situ, kita bisa mulai belajar melihat bahwa hidup tidak melulu tentang pencapaian besar. Hidup juga memberi ruang untuk hari-hari yang biasa saja dan dengan segala ketidaksempurnaannya.
Kesadaran ini kemudian dapat menjadi pemantik untuk menumbuhkan kualitas bajik dalam diri. Tidak hanya untuk mengantarkan diri pada kondisi bebas seutuhnya, tetapi juga membuka ruang untuk merangkul mereka yang mengalami derita yang sama.
