Kota Bandung terpilih menjadi tempat diselenggarakannya acara Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) ke-7. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara (Lamrimnesia) ini berlangsung di Nara Park Bandung pada 12–16 Agustus 2026.
NDBF tahun ini berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk bersama-sama secara bergotong royong untuk membangkitkan kesadaran nilai-nilai kemanusiaan, kearifan lokal, keberlangsungan hidup dan nilai spiritual di tengah ancaman krisis, ketidakpastian global, wabah hingga kerusakan alam tidak terkendali. Acara ini mendapatkan apresiasi dari Dirjen Bimas Buddha Provinsi Jawa Barat, NDBF 7.0 dapat menjalin kolaborasi lintas agama sesuai dengan misi kementerian agama menjalin kerukunan umat beragama dalam menghadapi berbagai persoalan.
Sepanjang 12-16 Agustus 2026, Lamrimnesia merangkul 20+ penerbit lokal Bandung dan sekitarnya guna menghidupkan kembali ekosistem literasi masyarakat luas di masa krisis. Pada akhir pekan 15–16 Agustus 2026, acara semakin meriah dengan kehadiran berbagai komunitas, akademisi, seniman, dan praktisi berbagai bidang yang turut berbagi wawasan untuk mengurai persoalan dari luar dan dalam diri.


Gelaran hari Sabtu, 15 Agustus 2026 dibuka lokakarya strategi makan enak di tengah ombang-ambing krisis dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di alam sekitar bersama Lab Pangan, sebuah open kitchen di ruang seni Gelanggang Olah Rasa. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi tentang ketahanan hidup yang telah dibangun sejak lama oleh leluhur kita bersama Lab Pangan, Kampung Adat Cireundeu, Wahu Waste Hubs, dan jurnalis sains & penulis buku “Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan” Ahmad Arif. Selanjutnya, ada bedah buku “Indonesia di Mata India – Kala Tagore Melawat ke Indonesia” guna mengetahui hubungan lintas budaya yang berjalan ribuan tahun yang dipandu oleh Guru Besar ITB Iwan Pranoto dan penulis dari Komunitas Aleut Irfan Pradana Putra.



Sore hari, peserta diajak mengekspresikan diri dan menggali potensi di tengah ketakutan dengan menari bersama Hot Mamah Dance Club. Sebelum menari, para mamah bersama peserta lokakarya juga mengulik ketakutan yang mereka alami sambil berkenalan dengan Arya Tara, sosok feminin dalam peradaban kuno Nusantara yang melambangkan potensi welas asih & kebijaksanaan yang diulas dalam buku “Bebas dari Ketakutan”.


Ketika malam tiba dan suasana semakin syahdu, seniman Monica Hapsari dan Lavenir Choir memandu lokakarya bernyanyi sekaligus saling mendengarkan, melepas beban, juga memancarkan kasih sayang untuk negeri kita dan semua makhluk. Rangkaian acara hari itu lalu ditutup dengan pertunjukan seni tradisi reak dari Bandung Thimoer Art of Reak, dipandu oleh Anggi Nugraha yang memaparkan bagaimana seni tradisi bukanlah hiburan semata, tapi juga media penyemaian dan pelestarian nilai luhur yang diwariskan dari zaman ke zaman.




Selanjutnya, pada 16 Agustus 2026, NDBF dibuka dengan baca senyap bersama komunitas Baca Di Bandung. Selanjutnya, psikolog Yulita Anggelia dan caregiver Mira Dewi Kania berbagi pengalaman sambil membedah buku “Storied Companion” yang mengurai lika-liku menghadapi ketidakpastian dan kehilangan. Personil band Efek Rumah Kaca Cholil Mahmud hadir bersama putranya, Angan Senja (Knogg), untuk mem-breakdown bagaimana soundtrack film “Laut Bercerita” yang berjudul “Matilah Kau Mati” digubah dari kisah dan puisi dari karya Leila S. Chudori tersebut.




Lokakarya bernuansa gerak tubuh kembali diadakan pada sore hari, yaitu meditation in motion bersama seniman senior Marintan Sirait. Usai meditasi gerak, SoulFree Herb menyajikan teh herbal dari bahan-bahan alami yang diracik berdasarkan ilmu warisan leluhur yang berkhasiat untuk kesehatan sistem syaraf. Rangkaian acara ini menuntun peserta untuk menjalin kembali hubungan dengan diri sendiri, satu sama lain, dan alam sekitar.



Setelah itu, pada malam hari, perwakilan komunitas Aksara Rembaka, BandungBergerak, Growing Sisters, dan Wilwatikta Foundation yang aktif berkarya di bidang pengembangan diri, literasi, dan sosial duduk semeja dengan hadirin sambil menikmati rujak dan bertukar wawasan mengenai pentingnya hidup berkomunitas di tengah krisis.


Seluruh rangkaian NDBF akhirnya ditutup dengan pertunjukan band Tigapagi yang memadukan karya sastra ritme musik khas Sunda, dan aransemen musik modern.


“Sebuah festival memang tidak dapat mengubah keadaan dunia tetapi di sini kita bersama-sama untuk menyadari dan menyiapkan langkah untuk lebih peka terhadap yang ada di sekitar kita,” ungkap Monica Hapsari, seniman yang memandu salah satu lokakarya di NDBF..
Sepanjang acara NDBF 7.0 para peserta diajak bersama-sama membangun kembali kehidupan yang lebih sadar, adaptif, dan penuh welas asih di tengah kekacauan zaman yang tak bertepi. Festival ini dapat menjadi momen refleksi betapa pentingnya literasi serta urgensi membangun kebersamaan dan kepekaan dalam menghadapi tantangan krisis.
Informasi mengenai Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti di Instagram @dharmabookfest.
Narahubung:
Satriya Ramadani – +6281392044520
