Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • “Resonating Earth” Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme
    • Di Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis
    • “Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0
    • Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi & Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan
    • Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2026
    • Welas Asih untuk Dunia yang Luka, Sebuah Ulasan Film “Wisdom of Happiness”
    • Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Featured » “Resonating Earth” Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme

    “Resonating Earth” Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme

    0
    By Iqa Kinanti Nandakasih on September 28, 2026 Artikel, Berita, Featured, Wacana

    Dari corona, genosida, krisis iklim, degradasi lingkungan, hilangnya biodiversitas, sampai ke kondisi dunia lainnya yang sedang tidak baik-baik saja, Böseblick Ensemble, sebuah kolektif musik elektronik dan multimedia asal Berlin yang dibentuk tahun 2021, membuka ruang pertukaran antara praktik artistik berbasis suara dan teknologi dengan konteks ekologis serta pengetahuan lokal Bandung pada tanggal 20–21 September 2026. Melalui program seni “Resonating Earth” yang diselenggarakan oleh Jendela Ide Indonesia, Dalemwangi Art Space, dan Goethe Institut Bandung, Böseblick mengajak pegiat dan penikmat seni dari universitas dan komunitas kota Bandung untuk terlibat secara langsung bagaimana praktik mendengarkan suara alam, tubuh, bunyi elektronik dan akustik, material temuan, serta improvisasi dapat membentuk ruang dengar bersama. Kegiatan ini juga turut didukung oleh Lamrimnesia, Kalyana Learning Center, Sesar Lembang Kalcer, dan Bandung Art Month.

    “Resonating Earth” sendiri merupakan residensi singkat dan laboratorium artistik lintas disiplin yang mengeksplorasi bunyi sebagai medium untuk memahami kembali relasi antara manusia, teknologi, lingkungan, dan kehidupan material non-manusia. Dengan pendekatan environmental listening dan more-than-human-relations, eksperimen yang dilakukan para seniman suara Böseblick merupakan kritik terhadap dominasi antroposentris di mana manusia selalu ditempatkan sebagai entitas paling penting dan utama di alam semesta. Padahal, selama ini manusia tidak pernah hidup terpisah dari jaringan ekologis yang menopang kehidupannya.  Alih-alih memandang alam sebagai objek yang pasif, dalam proses kreatif, mereka melihat bahwa alam dan segala material non-manusia memiliki suara dan kehidupan yang selalu berdampingan dengan manusia. 

    Dari pertemuan antara Berlin dan Bandung ini, berbagai perbedaan material, tubuh, pengalaman, serta cara pandang dan mendengar menciptakan ruang untuk menemukan hubungan dan perspektif baru. Ketiga seniman Böseblick: Alessandra Eramo, Kirsten Reese, dan Ariel Orah bereksperimen memadukan instrumen bunyi dan elemen alam melalui praktik individual mereka yang saling terkoneksi. Bagaimana praktik mendengarkan menjadi sebuah metode untuk membangun pengetahuan ekologis; memahami relasi yang kompleks antara manusia dan lingkungan lewat bunyi; teknologi sebagai perangkat yang memperluas sensitivitas manusia terhadap fenomena dan frekuensi; dan praktik seni yang menyatukan kembali kehidupan manusia dan non-manusia adalah serangkaian pijakan dalam eksperimen artistik mereka.

    Body, Memory, Sound & Ecology: Ketika Bunyi Alam Menggerakkan Tubuh dan Ingatan

    Lokakarya “Body, Memory, Sound & Ecology” bersama Alessandra Eramo. Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth

    Alessandra Eramo dalam lokakaryanya tentang “Body, Memory, Sound & Ecology” menggunakan pendekatan tubuh, imajinasi, bunyi, dan memori untuk memaknai hubungan manusia dengan alam, terutama relasi dengan air dan sungai. Para peserta diajak untuk mengeksplorasi suara dari dalam diri sendiri melalui olah vokal serta mendengarkan dan merasakan suara-suara di sekitar. Sembari mendengarkan, ingatan tentang sungai digali kembali. Ingatan itu bisa berupa kesan terhadap sungai itu sendiri hingga memori yang bersifat personal. Adanya eksperimen ini menunjukkan bahwa suara bukan sekadar bunyi, tetapi ia juga menyimpan kekuatan yang mampu menggerakkan tubuh. 

    Salah satu kegiatan yang menarik dalam lokakarya ini adalah semacam pertukaran sekaligus refleksi batin yang berlangsung di Curug Dago. Setelah menyelaraskan diri dengan suasana alam di sana, para peserta dibagi ke dalam dua kelompok; yang satu membawa sebuah batu kali sambil berjalan dan mengeluarkan bunyi dari dalam diri mereka, lalu memberikan batu itu kepada kelompok satunya sebelum mereka bertukar posisi. Mereka ibarat sungai yang membawa memori dalam sedimen-sedimen dari satu titik ke titik lain, saling memberi dan menerima dalam jalinan kesalingbergantungan yang tak terpisahkan. Di sini, peserta diajak untuk kembali belajar mendengarkan, memahami, dan menghargai kehadiran diri, alam, dan satu sama lain.

    Peserta lokakarya “Body, Memory, Sound & Ecology” di Curug Dago. Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth

    Dalam presentasinya, suara-suara yang telah dieksplor para peserta kemudian diterjemahkan ke dalam gerakan tubuh, peniruan bunyi (mimetic sounds), serta dituangkan dalam bentuk gambar maupun tulisan ke atas selembar kertas yang sama. Melalui latihan kolaboratif ini, ritme, struktur, beragam karakter, dan identitas individu melebur menjadi satu-kesatuan suara yang harmonis. 

    Menerjemahkan suara ke dalam bentuk gambar oleh peserta lokakarya “Body, Memory, Sound & Ecology.” Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth

    Soundscape, Field Recording & Sound Archive: Merekam Bentuk Kehidupan Lain yang Luput dari Pandangan Manusia

    Lokakarya “Soundscape, Field Recording & Sound Archive.” Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth

    Dilanjutkan dengan lokakarya selanjutnya oleh Kirsten Reese, “Soundscape, Field Recording & Sound Archive”, pendekatannya berakar pada penyelidikan sosio-ekologis, di mana bunyi diposisikan bukan sekadar objek dengar, tetapi jaringan ekosistem non-manusia yang saling terhubung. Ada tiga poin penting dari presentasi lokakarya kedua ini. Pertama, kita diajak untuk mendengarkan suara alam beserta material non-manusia di sekitar melalui rekaman-rekaman sonik yang dilakukan oleh para peserta. Kedua, manusia dengan air punya ikatan yang tidak terpisahkan, mengingatkan bahwa 70% dari alam semesta dan tubuh manusia tersusun oleh elemen air. Ketiga, karya ini menjadi semacam kritik untuk manusia supaya keluar dari perspektif antroposentris, memperluas cara pandang agar lebih menghargai bentuk-bentuk kehidupan lain di luar manusia yang turut menghidupkan ekosistem.

    Kirsten Reese bersama para peserta lokakarya “Soundscape, Field Recording & Sound Archive.” Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth

    Instrument Building, Waste, Social & Climate Issues: Apa Jadinya Ketika Limah Bisa Bersuara?

    Di penampilan ketiga, Ariel Orah menyoroti dimensi lingkungan dan sosial yang kerap dipinggirkan dalam diskursus keberlanjutan (sustainability). “Instrument Building, Waste, Sosial & Climate Issues” adalah tema yang dibawa dalam presentasinya. Ia bersama para peserta workshop bereksperimen membuat serangkaian alat musik dari sampah-sampah yang mereka temukan di sekitar.

    Aneka sampah yang diinstalasikan menjadi alat musik dalam lokakarya “Instrument Building, Waste, Social & Climate Issues.” Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth

    Ketika alat-alat musik itu dimainkan, seketika sederet sampah yang disusun dan diinstalasikan itu mengeluarkan paduan bunyi yang membentuk sebuah orkestra. Suara-suara bising, dentuman, dan suasana gelap dan liar yang diciptakan melalui pertunjukan mereka tersebut sekilas mengingatkan pada salah satu grup musik eksperimental asal Indonesia, KUNTARI. Mereka punya kemiripan dalam hal mengeksplorasi dan mengadopsi suara-suara alam dan material non-manusia menjadi musik.

    Menyenangkan bisa menyaksikan penampilan Böseblick Ensemble yang turut mengikutsertakan peserta lokakarya dalam proses kreatif mereka. Mendengarkan, merasakan, memberi makna, kemudian mengapresiasi setiap suara yang hadir baik dari dalam diri dan di sekitar adalah sesuatu yang spiritual. Apa yang ketiga senimannya tampilkan merupakan refleksi kritis untuk manusia. Sepanjang peradaban, manusia adalah makhluk yang paling egois di antara makhluk lainnya. Dan eksperimen yang dilakukan ketiga seniman suara Böseblick merupakan refleksi kritis untuk kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa kita selalu beresonansi bersama kekuatan-kekuatan bumi dan kehidupan material lainnya. Selama ini suara atau bunyi yang diciptakan oleh manusia dipandang sebagai sesuatu yang paling nyata. Tapi, apa jadinya jika ternyata suara itu juga muncul dari sampah-sampah? 

    Ariel Orah, seniman suara Böseblick Ensemble. Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth

    “Kehancuran adalah makna yang diciptakan oleh manusia. Alam tidak mengenal tentang kehancuran, sebab ia punya konsep waktu dan kehidupan yang melampaui sejarah peradaban manusia. Jadi, kalau pun kehancuran itu terjadi, ia adalah kehancuran yang diciptakan oleh manusia itu sendiri,”  terang Ariel Orah.

    Böseblick Ensemble
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleDi Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis
    Iqa Kinanti Nandakasih

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Leaderboard Ad
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    September 28, 2026

    “Resonating Earth” Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme

    September 14, 2026

    Di Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis

    September 14, 2026

    “Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0

    Store
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.