Dari corona, genosida, krisis iklim, degradasi lingkungan, hilangnya biodiversitas, sampai ke kondisi dunia lainnya yang sedang tidak baik-baik saja, Böseblick Ensemble, sebuah kolektif musik elektronik dan multimedia asal Berlin yang dibentuk tahun 2021, membuka ruang pertukaran antara praktik artistik berbasis suara dan teknologi dengan konteks ekologis serta pengetahuan lokal Bandung pada tanggal 20–21 September 2026. Melalui program seni “Resonating Earth” yang diselenggarakan oleh Jendela Ide Indonesia, Dalemwangi Art Space, dan Goethe Institut Bandung, Böseblick mengajak pegiat dan penikmat seni dari universitas dan komunitas kota Bandung untuk terlibat secara langsung bagaimana praktik mendengarkan suara alam, tubuh, bunyi elektronik dan akustik, material temuan, serta improvisasi dapat membentuk ruang dengar bersama. Kegiatan ini juga turut didukung oleh Lamrimnesia, Kalyana Learning Center, Sesar Lembang Kalcer, dan Bandung Art Month.
“Resonating Earth” sendiri merupakan residensi singkat dan laboratorium artistik lintas disiplin yang mengeksplorasi bunyi sebagai medium untuk memahami kembali relasi antara manusia, teknologi, lingkungan, dan kehidupan material non-manusia. Dengan pendekatan environmental listening dan more-than-human-relations, eksperimen yang dilakukan para seniman suara Böseblick merupakan kritik terhadap dominasi antroposentris di mana manusia selalu ditempatkan sebagai entitas paling penting dan utama di alam semesta. Padahal, selama ini manusia tidak pernah hidup terpisah dari jaringan ekologis yang menopang kehidupannya. Alih-alih memandang alam sebagai objek yang pasif, dalam proses kreatif, mereka melihat bahwa alam dan segala material non-manusia memiliki suara dan kehidupan yang selalu berdampingan dengan manusia.
Dari pertemuan antara Berlin dan Bandung ini, berbagai perbedaan material, tubuh, pengalaman, serta cara pandang dan mendengar menciptakan ruang untuk menemukan hubungan dan perspektif baru. Ketiga seniman Böseblick: Alessandra Eramo, Kirsten Reese, dan Ariel Orah bereksperimen memadukan instrumen bunyi dan elemen alam melalui praktik individual mereka yang saling terkoneksi. Bagaimana praktik mendengarkan menjadi sebuah metode untuk membangun pengetahuan ekologis; memahami relasi yang kompleks antara manusia dan lingkungan lewat bunyi; teknologi sebagai perangkat yang memperluas sensitivitas manusia terhadap fenomena dan frekuensi; dan praktik seni yang menyatukan kembali kehidupan manusia dan non-manusia adalah serangkaian pijakan dalam eksperimen artistik mereka.
Body, Memory, Sound & Ecology: Ketika Bunyi Alam Menggerakkan Tubuh dan Ingatan

Alessandra Eramo dalam lokakaryanya tentang “Body, Memory, Sound & Ecology” menggunakan pendekatan tubuh, imajinasi, bunyi, dan memori untuk memaknai hubungan manusia dengan alam, terutama relasi dengan air dan sungai. Para peserta diajak untuk mengeksplorasi suara dari dalam diri sendiri melalui olah vokal serta mendengarkan dan merasakan suara-suara di sekitar. Sembari mendengarkan, ingatan tentang sungai digali kembali. Ingatan itu bisa berupa kesan terhadap sungai itu sendiri hingga memori yang bersifat personal. Adanya eksperimen ini menunjukkan bahwa suara bukan sekadar bunyi, tetapi ia juga menyimpan kekuatan yang mampu menggerakkan tubuh.
Salah satu kegiatan yang menarik dalam lokakarya ini adalah semacam pertukaran sekaligus refleksi batin yang berlangsung di Curug Dago. Setelah menyelaraskan diri dengan suasana alam di sana, para peserta dibagi ke dalam dua kelompok; yang satu membawa sebuah batu kali sambil berjalan dan mengeluarkan bunyi dari dalam diri mereka, lalu memberikan batu itu kepada kelompok satunya sebelum mereka bertukar posisi. Mereka ibarat sungai yang membawa memori dalam sedimen-sedimen dari satu titik ke titik lain, saling memberi dan menerima dalam jalinan kesalingbergantungan yang tak terpisahkan. Di sini, peserta diajak untuk kembali belajar mendengarkan, memahami, dan menghargai kehadiran diri, alam, dan satu sama lain.

Dalam presentasinya, suara-suara yang telah dieksplor para peserta kemudian diterjemahkan ke dalam gerakan tubuh, peniruan bunyi (mimetic sounds), serta dituangkan dalam bentuk gambar maupun tulisan ke atas selembar kertas yang sama. Melalui latihan kolaboratif ini, ritme, struktur, beragam karakter, dan identitas individu melebur menjadi satu-kesatuan suara yang harmonis.

Soundscape, Field Recording & Sound Archive: Merekam Bentuk Kehidupan Lain yang Luput dari Pandangan Manusia

Dilanjutkan dengan lokakarya selanjutnya oleh Kirsten Reese, “Soundscape, Field Recording & Sound Archive”, pendekatannya berakar pada penyelidikan sosio-ekologis, di mana bunyi diposisikan bukan sekadar objek dengar, tetapi jaringan ekosistem non-manusia yang saling terhubung. Ada tiga poin penting dari presentasi lokakarya kedua ini. Pertama, kita diajak untuk mendengarkan suara alam beserta material non-manusia di sekitar melalui rekaman-rekaman sonik yang dilakukan oleh para peserta. Kedua, manusia dengan air punya ikatan yang tidak terpisahkan, mengingatkan bahwa 70% dari alam semesta dan tubuh manusia tersusun oleh elemen air. Ketiga, karya ini menjadi semacam kritik untuk manusia supaya keluar dari perspektif antroposentris, memperluas cara pandang agar lebih menghargai bentuk-bentuk kehidupan lain di luar manusia yang turut menghidupkan ekosistem.

Instrument Building, Waste, Social & Climate Issues: Apa Jadinya Ketika Limah Bisa Bersuara?
Di penampilan ketiga, Ariel Orah menyoroti dimensi lingkungan dan sosial yang kerap dipinggirkan dalam diskursus keberlanjutan (sustainability). “Instrument Building, Waste, Sosial & Climate Issues” adalah tema yang dibawa dalam presentasinya. Ia bersama para peserta workshop bereksperimen membuat serangkaian alat musik dari sampah-sampah yang mereka temukan di sekitar.

Ketika alat-alat musik itu dimainkan, seketika sederet sampah yang disusun dan diinstalasikan itu mengeluarkan paduan bunyi yang membentuk sebuah orkestra. Suara-suara bising, dentuman, dan suasana gelap dan liar yang diciptakan melalui pertunjukan mereka tersebut sekilas mengingatkan pada salah satu grup musik eksperimental asal Indonesia, KUNTARI. Mereka punya kemiripan dalam hal mengeksplorasi dan mengadopsi suara-suara alam dan material non-manusia menjadi musik.
Menyenangkan bisa menyaksikan penampilan Böseblick Ensemble yang turut mengikutsertakan peserta lokakarya dalam proses kreatif mereka. Mendengarkan, merasakan, memberi makna, kemudian mengapresiasi setiap suara yang hadir baik dari dalam diri dan di sekitar adalah sesuatu yang spiritual. Apa yang ketiga senimannya tampilkan merupakan refleksi kritis untuk manusia. Sepanjang peradaban, manusia adalah makhluk yang paling egois di antara makhluk lainnya. Dan eksperimen yang dilakukan ketiga seniman suara Böseblick merupakan refleksi kritis untuk kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa kita selalu beresonansi bersama kekuatan-kekuatan bumi dan kehidupan material lainnya. Selama ini suara atau bunyi yang diciptakan oleh manusia dipandang sebagai sesuatu yang paling nyata. Tapi, apa jadinya jika ternyata suara itu juga muncul dari sampah-sampah?

“Kehancuran adalah makna yang diciptakan oleh manusia. Alam tidak mengenal tentang kehancuran, sebab ia punya konsep waktu dan kehidupan yang melampaui sejarah peradaban manusia. Jadi, kalau pun kehancuran itu terjadi, ia adalah kehancuran yang diciptakan oleh manusia itu sendiri,” terang Ariel Orah.
