Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara
    • Neuro-spiritualitas – Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Keempat 2025
    • Segera Terbit Jataka Mala 1 – Kisah Pembangun Karakter dari Borobudur
    • Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu
    • Kenalan dengan 4 Sifat Karma
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2025
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2025
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Wacana » Artikel » Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara
    Foto dari penampilan "We Both Reached for the Gun" dalam Chicago the Musical by ADPRO & Jakarta Arthouse

    Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara

    0
    By karina chandra on April 16, 2026 Artikel, Featured, Wacana

    Ada cerita yang memberikan harapan, menunjukkan bagaimana suatu masalah bisa terpecahkan, bagaimana suatu cita-cita bisa dicapai. Tapi ada juga cerita yang hanya menunjukkan kenyataan apa adanya, kadang dengan sedikit hiperbola, yang menyadarkan kita bahwa kita sedang tidak baik-baik saja dan harus membulatkan tekad untuk mengubah keadaan. Itulah “Chicago”, sebuah cerita yang menunjukkan tragedi dan komedi dalam samsara.

    “Chicago” merupakan salah satu drama musikal Broadway paling populer sepanjang masa. Pada 8–12 April 2025, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, drama musikal ini dipentaskan di Indonesia dalam bahasa Indonesia oleh pemain dan kru orang Indonesia pula. Walau lagu-lagunya tetap menggunakan bahasa Inggris, ADPRO dan Jakarta Art House berhasil mengadaptasi dialog “Chicago” ke dalam bahasa Indonesia, lengkap dengan berbagai referensi terhadap guyonan dan pengalaman yang “Indonesia banget”.

    Ceritanya Tentang Apa Sih?

    Cerita “Chicago” sendiri mengisahkan Roxie Hart dan Velma Kelly, narapidana pembunuhan yang berebut simpati masyarakat agar bisa divonis bebas dari hukuman gantung. Mereka sama-sama “dituntun” oleh seorang pengacara andal bernama Billy Flynn yang siap menghalalkan segala cara untuk memastikan kliennya lolos dari jerat hukum, termasuk mengarang cerita bohong dan memanipulasi pers.

    Foto dari penampilan "We Both Reached for the Gun" dalam Chicago the Musical by ADPRO & Jakarta Arthouse
    Roxie & Billy sukses membangun citra di hadapan pers dalam lagu “We Both Reached for the Gun”
    Sumber: metrotvnews.com

    Nafsu dan ilusi

    Cuplikan pendek di atas harusnya cukup menggambarkan dunia macam apa yang disajikan oleh Chicago: sebuah dunia penuh nafsu dan ilusi. Nafsu duniawi melatarbelakangi lingkaran setan cinta, kekerasan, dan ambisi yang melatari cerita ini. Ilusi melanggengkan upaya pengejaran nafsu tersebut sekaligus menjadi mesin penggerak plot dari awal sampai akhir. Di dunia Chicago, pelaku pembunuhan bisa bebas jika berhasil mengarang cerita sensasional yang memukau media. Benar dan salah ditentukan oleh seberapa mahir sang narapidana dan pengacaranya menarik simpati. Gara-gara itu, hukuman mati yang menjadi aturan bahkan tidak pernah benar-benar dijatuhkan. Sekalinya terjadi, yang menjadi korban adalah seseorang yang tak bersalah, tapi tidak bisa membela diri karena keterbatasan bahasa.

    Dalam kisah Chicago, nafsu dan ilusi bergandengan tangan menciptakan kebingungan. Karena nafsu terhadap cerita sensasional yang menggugah emosi, para wartawan dan juri dengan mudah menilai Roxie dan entah berapa banyak narapidana lainnya tak bersalah. Kalaupun ada yang tidak tertipu, mereka tidak peduli karena nafsu akan kehebohan tadi. Roxie sendiri senang menjadi narapidana karena mendapatkan banyak perhatian. Ketika ia dinyatakan bebas, ia malah sedih karena spotlight sudah meninggalkannya dan berpindah ke orang lain. Baik dan buruk menjadi kabur, penderitaan pun dikira kebahagiaan. 

    Cari tahu bagaimana nafsu keinginan, ketidaktahuan, dan faktor mental negatif lainnya mengecoh batin kita di sini.

    Foto dari penampilan "Roxie" dalam Chicago the Musical by ADPRO & Jakarta Arthouse
    Roxie merayakan status bintang yang didapat sejak menjadi narapidana
    Sumber: Highend Magazine

    Konyol? Pasti. Namun, fenomena ini bukan hanya dongeng di atas panggung. Kebingungan yang sama meliputi kehidupan kita sehari-hari. Semua tahu bahwa di Indonesia berlaku no viral no justice. Selain itu, entah sudah berapa kali kejadian ada kasus yang viral, “pelaku”-nya dirundung habis-habisan, lalu gantian “korban”-nya yang dirundung karena ada sisi lain yang baru terungkap. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Makin dicari makin tak jelas. Lalu, setelah waktu dan energi kita habis disedot untuk mencari tahu benar-salah yang tak bisa didefinisikan secara pasti, semua menghilang tanpa jejak. Sudah ada kehebohan baru yang menuntut perhatian kita.

    Cermin untuk refleksi

    Jika direnungkan lebih dalam lagi, kita mungkin akan menemukan kebingungan yang lebih mendasar. Seperti Roxie yang gagal melihat kebahagiaan dari kebebasan karena mengejar lampu sorot media, kita juga sering gagal melihat kebahagiaan yang sudah ada karena mengejar kesenangan lain yang sesungguhnya bikin menderita. Kita mungkin tidak bercita-cita jadi penyanyi idola, tapi kita haus validasi dari kolega, atasan, teman-teman, atau orang tua kita. Kita mati-matian berusaha menjadi “baik” di mata mereka: dengan mengejar penghasilan sebesar-besarnya, pangkat setinggi-tingginya, posting di media sosial, berburu makanan viral. 

    Saking banyaknya yang kita kejar, kita lupa untuk benar-benar mencari tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. Persis seperti yang diceritakan dalam Chicago, validasi eksternal bisa hilang kapan saja dalam sekejap. Ketika kita kehilangan itu semua, apa yang tersisa?

    “And it’s good, isn’t it? Grand, isn’t it? 
    Great, isn’t it? Swell, isn’t it? 
    Fun, isn’t it? But nothing stays…”

    Lagu “Nowadays” dari “Chicago”

    Foto dari penampilan "Nowadays" dalam Chicago the Musical by ADPRO & Jakarta Arthouse
    Roxie (Putri Indah Kamila) & Velma (Gallaby) dalam pertunjukan penutup yang menegaskan pesan tentang ketidakkekalan samsara
    Sumber: Highend Magazine

    “Chicago” tidak menjawab pertanyaan itu. Lakon ini hanya menunjukkan bagaimana para tokoh menyadari fenomena ini dan masih berputar di dalamnya. Tidak ada yang kekal, hidup memang begini adanya, mau bagaimana lagi? “Chicago” tidak memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik atau kebahagiaan yang lebih tahan lama. Yang menawarkan harapan seperti itu adalah Buddha!

    Nothing stays, so?

    Lebih dari 2500 tahun lalu, Siddhartha Gautama telah menguraikan sifat keberadaan kita di dunia ini: diperbudak nafsu dan tenggelam dalam ilusi. Beliau juga sudah memberikan panduan langkah demi langkah untuk mengurai ilusi itu: sebuah proses yang tidak mudah, memakan waktu lama, tapi terbukti menghasilkan kebahagiaan yang tidak hilang ketika segala hal lain terurai dalam kefanaan dunia.

    Masalahnya, kita sudah tenggelam dalam ilusi nafsu bukan hanya puluhan atau ratusan tahun, melainkan berkehidupan-kehidupan, sejak waktu tak bermula, berkali-kali lipat melebihi umur bumi tempat tinggal kita. Saking lamanya, kita ibarat penghuni penjara yang sudah begitu lama di penjara dengan tingkat keamanan paling tinggi, sampai-sampai kita lupa ada kehidupan di luar penjara. Menyadari kekonyolan kondisi kita yang diperbudak oleh validasi eksternal ibarat celah di dinding penjara yang teramat tebal. Meski celah itu teramat kecil, ada seberkas cahaya yang masuk dan menyadarkan kita bahwa ada dunia yang sangat berbeda di luar sana, dunia yang mungkin lebih bahagia.

    Komedi Tragis yang Menggugah

    Adnan Production dan Jakarta Arthouse menyajikan pementasan “Chicago” yang sangat apik dari segala sisi. Orang-orang yang familiar dengan doktrin Buddhis mungkin sudah paham tentang konsep samsara, ketidakkekalan, penjara nafsu, dan sebagainya. Namun, akting, musik, latar, aransemen, dan keseluruhan aspek lakonnya berpotensi membawa komedi tragis samsara masuk ke tataran rasa, bukan pengetahuan saja. Pertunjukan ini sangat berpotensi menjadi bahan renungan untuk membulatkan tekad kita membebaskan diri dari delusi yang memenjara batin kita.

    review film Buddhis samsara
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleNeuro-spiritualitas – Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf
    karina chandra

    Related Posts

    Kelahiran, Kematian, dan Kemanusiaan dalam Film Mickey 17

    Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?

    Film BISING – Merenungkan Cara Mengolah Emosi

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Leaderboard Ad
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    April 16, 2026

    Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara

    February 26, 2026

    Neuro-spiritualitas – Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf

    February 20, 2026

    Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Keempat 2025

    Store
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.