Candi Borobudur: Tempat Suci atau Asbak Terbesar di Dunia?

0

oleh: Chatresa Jayawardhana 

Senin, 22 Maret 2021, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno mengatakan akan mengembangkan lima destinasi super prioritas untuk mencapai target 150 triliun rupiah dari turis lokal di Indonesia. Candi Borobudur tentu saja masuk sebagai salah satu dari 5 destinasi super prioritas tersebut. “Yang kami siapkan bukan hanya infrastruktur, tapi juga kami fokuskan ekonomi kreatifnya, atraksi, produk fesyen, kuliner, film, musik dan sebagainya” ucap Sandiaga (Sumber: CNN Indonesia).

Sebagai orang Indonesia, saya tentu sangat mendukung rencana Pak Uno. Namun, apakah itu berarti Candi Borobudur sudah dipastikan murni merupakan tempat wisata? Apakah Borobudur yang seharusnya dapat memberi pengetahuan dan mengajarkan makna welas asih dan kebijaksanaan bagi para pencari spiritual hanya akan menjadi sekedar tempat wisata?

Pengelolaan Borobudur yang Buruk

Kita tentu tahu mengelola situs warisan dunia bukanlah hal yang mudah. Kita harus mengapresiasi terobosan-terobosan yang telah banyak dilakukan oleh pihak pengelola. Namun saya sebagai umat Buddha yang merasa bahwa Borobudur memiliki nilai filosofis mendalam bagi umat Buddha seringkali mengalami suatu perasaan campur aduk, yaitu suatu kebahagiaan dan keprihatinan mendalam di saat yang bersamaan.

Kita tahu bahwa Borobudur adalah bangunan religius. Namun, kita juga sering mendengar tentang penggunaan yang tidak sesuai dengan identitas tersebut. Kegiatan hiburan seperti konser musik lebih sering diselenggarakan di Borobudur dibanding aktivitas spiritual keagamaan. Banyak pula wisatawan yang mengabaikan kebersihan, mulai dari membuang puntung rokok, menempelkan permen karet di dinding candi, bahkan sampai ada yang tega buang air kecil di sana. Borobudur bukan gedung pertunjukan, apalagi tempat sampah, tapi ia adalah tempat suci bagi umat Buddha. 

Sumber Foto: Media Indonesia

Sumber Foto: Phinemo

P.T. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (TWC) selaku pengelola aktivitas wisata di Borobudur sempat membuat sebuah terobosan baru, yaitu menyediakan sarung untuk menjaga tata cara berpakaian di Borobudur. Namun, sayangnya sarung yang disediakan tidak sesuai kebutuhan.

Sumber Foto: Liputan 6
Sumber Foto: Viva News

Kalau badan kita setinggi Maria Sharapova, sarung ukuran 140 x 60 cm dari pengelola Borobudur hanya akan nampak seperti rok tenis yang biasa dia pakai. Apalagi turis asing sering berpakaian seperti ingin ke pantai alih-alih ke tempat suci. Para pengunjung juga dapat memilih paket khusus yang tidak mewajibkan mereka menggunakan sarung. Tidak ada yang bisa salahkan mereka karena dalam benak mereka semua, Candi Borobudur adalah hanya benda mati dan peninggalan sejarah yang sudah tidak aktif dipakai lagi, bukan tempat suci. 

Mengapa ini bisa terjadi?

Kalau dipikir-pikir, saya bisa mengajukan beberapa kemungkinan yang menyebabkan berbagai masalah dalam pengelolaan dan penggunaan Borobudur.

  1. Pengelolaan Borobudur tidak melibatkan Kementerian Agama

Candi Borobudur dibagi ke dalam beberapa zona. Zona 1 yang meliputi anak tangga pertama batu candi hingga puncak dikelola oleh Balai Konservasi Borobudur. Zona 2 yang meliputi pelataran dari pagar sampai batu pertama candi dikelola oleh P.T. TWC. Selebihnya merupakan zona 3 yang dikelola oleh pemerintah daerah. Pertanyaannya, kemanakah pihak Kementrian Agama yang seharusnya juga ikut dilibatkan dalam pengelolaan Borobudur yang jelas-jelas kita tahu merupakan monumen Buddhis?

  1. Blueprint Borobudur yang terus berubah

Setiap ada pergantian kepemimpinan dalam lembaga pengelola Borobudur, blueprint pengembangannya pun terus berubah. Tanpa visi jangka panjang yang jelas, proses pengembangan Borobudur akan selamanya menjadi proses bongkar pasang yang tidak pernah selesai.   

Filosofi yang hilang dari hati umat Buddha

Ketika kita memasuki relung-relung relief candi Borobudur, kita perlu mencari jarak yang tepat agar dapat melihat relief tanpa terpotong.  Dari sini saya sadar nenek moyang Indonesia telah membuat televisi wide-screen pertama di dunia dan mungkin sekian puluh juta orang turis tidak ada yang menyadarinya. Namun sayangnya para pengunjung Candi Borobudur berlomba-lomba naik ke puncak candi untuk berswafoto ria, lalu turun secepatnya karena panas dan melewatkan relief berharga tersebut. Lebih banyak orang yang datang untuk foto-foto pemandangan di sekitar candi Borobudur daripada merenungkan seluruh kitab suci yang ada di dalam Candi Borobudur. Iya, candi Borobudur adalah kitab suci agama Buddha dalam bentuk 3 dimensi dengan detail pahatan yang luar biasa jelas. 

Ada sutra apa saja di Borobudur? Tonton di sini!

Setiap kali ada teman atau orang membujuk saya untuk menjelaskan Candi Borobudur, saya selalu bertanya balik kepada mereka, berapakah waktu yang dirimu sediakan untuk mendengarkan penjelasan Candi Borobudur dari saya? Jika tujuanmu ke Candi Borobudur hanya untuk mengumpulkan bukti digital pernah ke puncak candi Borobudur untuk diunggah ke media sosial maka silahkan pilih orang lain sebagai pemandu. Bagi saya,mencapai puncak Candi Borobudur itu bukan prestasi. Bahkan jumlah anak tangga makam raja-raja Mataram di Imogiri jauh lebih banyak daripada jumlah anak tangga di Candi Borobudur. Orang-orang tahu bahwa makam di Imogiri adalah tempat suci dan bersikap hormat di sana sebagaimana mestinya. Namun, mengapa kita tidak bisa memperlakukan Borobudur sebagai tempat suci juga? Apakah karena minimnya edukasi bahwa candi Borobudur merupakan tempat suci umat Buddha?

Sumber Foto: Kumparan

Umat Buddha kurang peduli dengan Borobudur? 

Ketika kita melihat Borobudur hanya sebagai tempat wisata, kita seharusnya bisa mulai mempertanyakan “Kebuddhisan” kita. Apakah kita memperlakukan rupang Buddha, kitab suci, dan stupa seperti barang biasa? Apakah keyakinan kita hanya sebatas ucapan saja? Jangan-jangan kita sendiri yang tidak merasa butuh dan perlu peduli terhadap Borobudur. Makanya kita biasa saja ketika pemerintah hanya memberi jatah 5 hari kepada umat Buddha untuk merayakan Waisak dan 360 hari menjadi tempat wisata. 

Mengapa kita tidak bisa berbangga hati seperti teman kita yang Nasrani atau Muslim? Teman Nasrani saya pernah mengatakan bahwa Yesus dalam pernah marah besar kepada para umat, pedagang, dan imam besar ketika menyaksikan pintu gerbang Bait Allah dijadikan pasar. Saya juga pernah bertanya kepada teman saya yang Muslim. Katanya jika perlakuan terhadap Borobudur terjadi di Mekkah, tentu saja akan banyak umat Muslim dunia yang protes karena mereka semua tahu dan paham nilai tempat suci tersebut. Lalu apakah candi Borobudur tidak pantas kita sebut sebagai tempat suci agama Buddha sehingga bisa kita biarkan begitu saja? 

Mengapa leluhur bangsa kita dulu membangun Borobudur? Apakah mereka berencana menjadikannya tujuan wisata super prioritas yang menghasilkan devisa hingga 150 triliun rupiah? Candi Borobudur dibangun selama 3 periode raja selama lebih dari 200 tahun.  Saya rasa mega project yang tidak dapat dilakukan di zaman modern ini mengandung makna dan filosofis yang lebih dari sekedar menjadi devisa negara.

Sumber Foto: Republika 

Mengapa kita tidak pernah melakukan aksi nyata untuk memperjuangkan Borobudur?  Kita malah melepas puluhan ribu lampion yang malah berpotensi merusak daripada beribadah dan meneladani kisah Lalitavistara ataupun Gandavyuha. Tampaknya kita perlu melakukan restorasi besar-besaran secara spiritual kepada seluruh orang Indonesia, khususnya umat Buddha!

Apabila umat Buddha Indonesia berargumen bahwa pembiaran ini karena tidak tahu dan bukan karena tidak peduli atau tidak menghargai, bukankah ketidaktahuan adalah hal yang harus kita atasi secara pribadi menurut ajaran Buddha? Saya tidak akan pernah menyalahkan pemerintah, karena pemerintah sebagai eksekutor akan melakukan yang terbaik bagi candi Borobudur. Memang saat ini pemerintah hanya bisa melihatnya sebagai candi penghasil devisa saja karena di antara umat Buddha yang jumlahnya sudah sangat sedikit, hanya segelintir yang bersuara untuk Borobudur. 

Meski demikian, kalau umat Buddha mau bersuara, seharusnya Borobudur bisa tetap menjadi tempat suci dengan fungsi pariwisata sebagai fungsi sekunder dan tetap punya nilai ekonomi bagi negara. Gereja Vatikan misalnya, ia masih berfungsi sebagaimana mestinya tempat ibadah, bahkan pusat ibadah umat Katolik sedunia, namun juga bisa berfungsi sebagai tempat wisata yang pantas dan layak dengan berbagai aturan memasuki gereja yang diterapkan dengan ketat. Bahkan beberapa bagian gereja Vatikan tidak boleh difoto dan dipublikasikan. Makanya penjaga Swiss Guard lebih sering difoto dan bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Hal ini tentu bisa diterapkan di Candi Borobudur.

Makna Borobudur

Bagi saya pribadi, Candi Borobudur adalah tempat pembelajaran nyata dan hidup, bukan hanya sekian ratus patung mati yang sudah berusia seribu tahun lebih menuju dua ribu tahun kalau selamat. Sadarkah kita sebagai umat Buddha Indonesia bahwa pahatan relief candi Borobudur tak ada duanya? Sang arsitek pasti menginginkan nilai-nilai Buddhisme Nusantara saat itu terekam jelas dan bertahan sangat lama. Seingat saya, dulu pernah ada yang mengatakan awalnya Hotel Manohara dalam kompleks  Borobudur dibangun sebagai pusat studi bagi arkeolog, sejarawan, budayawan, dan para biksu untuk berdiskusi dan mempelajari Candi Borobudur. Namun, seiring berjalannya waktu ia menjadi hotel biasa. Begitu juga dengan Candi Borobudur, bila tidak dikembalikan fungsinya sebagai tempat suci, pemerintah hanya akan menggunakannya sebagai tempat wisata saja. Titik.

Masihkah kita memerlukan Borobudur?

Saya selalu bertanya kepada diri sendiri dan juga kepada orang-orang yang berdiskusi mengenai Borobudur, apakah kita masih memerlukan candi Borobudur sebagai tempat suci atau rumah ibadah? Bagi saya pribadi jawabannya adalah perlu. Bagaimanapun juga Borobudur merupakan satu-satunya “rumah” atau mandala bagi Panca Tathagata di Indonesia, juga merupakan satu-satunya kitab suci Buddha dalam bentuk tiga dimensi. Ini semua menjadikan Borobudur sebagai sebagai tempat untuk ziarah dan refleksi bagi saya pribadi. Setiap saya melihat relief tersebut, saya diingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, sudah sampai tahap manakah saya dalam mempraktikkan ajaran Buddha?

Dalam penutup artikel National Geographic Indonesia edisi Maret 2010, dikatakan bahwa, “Borobudur bukanlah keheningan. Bukan sekumpulan patung Buddha membisu. Sesungguhnya ia sebuah daya, vitalitas, sebuah rangsangan. Mungkin inilah yang merasuki Nieuwenkamp, saat pertama menjejak dataran tinggi Kedu dan itu pula yang hingga kini terus ditawarkan Borobudur bagi mereka yang haus akan pengetahuan.” Ini sejalan dengan kata-kata Y.M. Biksu Bhadra Ruci, ahli ikonografi candi di Nusantara dan pemerhati Borobudur, dalam suatu acara pembahasan Candi Borobudur, “Kalau dirimu hanya melihat Candi Borobudur sebagai bangunan besar, tinggi yang perlu didaki dan foto-foto di puncaknya, maka dirimu hanya akan selalu mendapatkan panas terik dan lelah dari candi Borobudur. Dan ketika ada orang menyebut Candi Borobudur, hanya akan terbayang lelah dan panas terik serta capek dalam batinmu, bukannya tempat suci yang menenangkan dan menggugah batin.” 

Lalu, pertanyaan selanjutnya: apa arti Candi Borobudur bagimu, kawan?

Apakah candi Borobudur hanyalah gantungan kunci yang dijual 10.000 rupiah dapat 3 dan bisa ditawar?

Apakah Candi Borobudur adalah asbak belaka?

Ataukah Candi Borobudur adalah monumen suci yang harus kita hormati dan kelola sebagaimana mestinya sebagai seorang umat Buddha?

Referensi:

Share.

About Author

912 views

Leave A Reply

WhatsApp us