Yakuza Like A Dragon – “Privilege” itu adalah Kebaikan Hati

0

oleh Samantha J.

Motivator-motivator sering berkata bahwa untuk jadi sukses kita hanya butuh kerja keras. Namun, lahir dalam kondisi tertentu bisa bikin semuanya jauh lebih mudah. Siapa juga yang mau setiap hari bangun pagi tidur pagi lagi demi sesuap nasi kalau bisa lahir di keluarga konglomerat? Walau tentu ada orang besar yang benar-benar mulai dari nol, nggak sedikit orang yang mencapai kesuksesan duniawi di usia muda karena dukungan keluarga yang sejak awal memang kaya raya atau minimal cukup mampu untuk memberi pendidikan dan membukakan kesempatan sejak dini. 

Lahir di keluarga kaya dan terpandang merupakan contoh dari sesuatu yang biasa saya sebut sebagai “privilege”–hak atau keunggulan yang bukan merupakan hasil kerja keras, melainkan bawaan lahir, tempat tinggal, atau “keberuntungan”. Contoh lainnya adalah lahir dalam kelompok mayoritas, berjenis kelamin laki-laki di lingkungan patriarki, dan sebagainya. Orang yang punya privilege biasanya lebih mudah mendapat pekerjaan, pendapatnya lebih didengar, lebih mudah bergaul, dan berbagai “lebih mudah” lainnya. 

Penggambaran konsep privilege oleh kartunis Toby Morris. Baca komik lengkapnya di sini.

Nah, ketika memainkan video game “Yakuza: Like A Dragon”, saya menemukan bahwa ada satu jenis “privilege” yang sangat unik dan langka serta lebih berharga dibanding segala macam privilege lainnya, yaitu kebaikan hati. Kok bisa? Baca sampai habis ya~

Dari mana datangnya privilege?

Dari sudut pandang Buddhis, sebenarnya nggak ada yang bisa dinamakan “privilege” dalam artian “kemudahan yang didapat tanpa usaha”. Segala keberuntungan yang kita miliki di masa sekarang merupakan buah dari karma baik kita di masa lampau, entah itu di kehidupan ini atau di kehidupan-kehidupan sebelumnya. Jadi, alih-alih iri dengan anak-anak crazy rich Asian yang uang jajannya dalam sehari ngalahin gaji kita sebulan, yang perlu kita pikirkan adalah apakah kita mampu melakukan sesuatu agar bisa lahir dengan privilege yang mereka miliki di kehidupan mendatang. 

Buddhadharma punya jawaban yang sangat sederhana, yaitu berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Kalau ingin kaya, banyak-banyaklah berdana. Kalau ingin rupawan, latihlah kesabaran dan banyak-banyak mempersembahkan bunga dan pelita. Kalau ingin lahir di keluarga terpandang, beri bantuan dan perlindungan kepada makhluk lain. Pastikan motivasimu murni, bukan hanya demi keuntungan pribadi, tapi demi keuntungan banyak makhluk. Pastikan juga jalan karmanya lengkap sehingga kebajikan yang kamu terima menjadi lengkap. Karma itu pasti, jadi kalau kamu bisa melakukan semua itu, dijamin kamu bisa meraih semua privilege itu di kehidupan mendatang.

Kalau nggak punya privilege gimana?

Nah, sekarang ada partanyaan lagi… Apakah kita punya kemampuan untuk melakukan semua kebajikan itu? Gaji buat makan aja pas-pasan, mana cukup kalau didanakan? Setiap hari kerja keras, capek, banyak masalah, ditahan-tahan jadinya makin stres dan nambah penyakit, mana bisa sabar? Bagaimana pula mau menolong orang lain kalau diri sendiri ini juga masih sengsara dan butuh pertolongan? 

Di sisi lain, orang yang sudah terlahir kaya punya banyak uang buat didanakan. Lihat saja para koruptor, mereka korupsi satu triliun, satu milyar didanakan ke pendirian tempat ibadah atau yayasan amal. Orang yang hidupnya sudah nyaman tentunya bisa lebih banyak menolong orang lain. Otomatis di kehidupan mendatang dia bakal punya makin banyak privilege, lalu bisa bikin lebih banyak kebajikan, dan kualitas hidupnya terus meningkat. Sementara orang yang saat ini nggak punya apa-apa akan terus menderita berkehidupan-kehidupan karena nggak ada kebaikan yang bisa dia lakukan.

…Tunggu dulu. Kok urusan bikin karma baik jadi kapitalis begini?  Apa benar orang yang terlahir miskin dan jelek nggak bisa melakukan kebaikan dan “ditakdirkan” untuk selamanya sengsara?

Ichiban Kasuga hidup dengan memberi dan menerima kebaikan hati

Nah, saat memainkan Yakuza Like A Dragon, saya berkesempatan “bermain peran” menjadi orang yang benar-benar miskin dan nggak punya apa-apa (ganteng atau nggak sih relatif, ya). Tokoh utama dalam game ini adalah Ichiban Kasuga, seorang yakuza (gangster Jepang) yang masuk penjara untuk menggantikan seniornya. Sejak kecil, hidup Ichiban sangat jauh dari “privilege”. Ia ditinggal orang tuanya, lahir dan dibesarkan di tempat pijat plus-plus, putus sekolah, jadi berandalan, hingga akhirnya jadi yakuza. Sebagai yakuza pun dia dianggap payah. Namun, meskipun serba “kekurangan”, Ichiban punya satu “privilege” luar biasa, yaitu kebaikan hati!

Kenapa kebaikan hati ini saya sebut privilege? Itu karena saya merasa Ichiban bisa bangkit dari titik terendah dalam hidupnya (yang hampir pasti jauh lebih rendah dibanding titik terendah kita semua) berkat kebaikan hati dari lingkungannya. Ia dibesarkan kebaikan hati orang-orang yang bekerja di panti pijat plus-plus tempat dia ditinggalkan. Di satu titik dalam hidupnya, nyawanya diselamatkan oleh orang yang kemudian menjadi pahlawan dalam hidupnya. Setelah belasan tahun di penjara, ia hampir mati dan dibuang di kota asing, ia kembali selamat berkat kebaikan hati sekelompok gelandangan yang mengobati lukanya dan mengajarinya cara bertahan hidup. 

Setelah meminta Ichiban masuk penjara belasan tahun, “keluarga” Ichiban membuangnya ke tong sampah, tapi dia nggak jadi emo dan sinis tuh.

Sebelum memainkan game ini, saya hampir tidak pernah membayangkan seperti apa hidup saya kalau suatu saat saya harus jadi gelandangan. Padahal selama pandemi ini kemungkinan menjadi pengangguran terus meningkat. Ketika penghasilan tetap terhenti, kehilangan tempat tinggal hanya menunggu waktu. Hidup tanpa tempat tinggal dan penghasilan tetap adalah sesuatu yang sangat mengerikan dan tak terbayangkan buat saya, tapi kenyataannya ada jutaan orang yang hidup seperti itu di Indonesia, bahkan dunia. Toh mereka hidup juga. Tidak punya privilege bukan berarti tidak bisa hidup. Sulit, bukan berarti tidak bisa.

Ketika terbangun dalam keadaan sekarat di kota asing tanpa uang sepeser pun, Ichiban Kasuga dalam Yakuza Like A Dragon tidak terlihat takut sama sekali. Bingung sih iya, tapi dia tetap melanjutkan hidupnya dengan percaya diri.

Saya merasa Ichiban bisa tetap optimis seperti itu karena dia memang sudah pernah bertahan hidup dalam kondisi sulit dan berkali-kali ditolong oleh kebaikan hati orang lain. Kebaikan hati ini tidak hanya membantunya melewati kondisi sulit, tapi juga membuatnya bisa dengan mudah memberikan kebaikan pada orang lain. Selain itu, pengalamannya hidup sengsara juga membuatnya lebih bisa berempati pada orang lain dan siap sedia memberikan pertolongan, sama seperti orang lain telah menolongnya saat dia berada dalam keadaan terpuruk. Dia tidak ambil pusing dengan kondisinya yang tidak punya apa-apa, tapi dia akan mencari cara untuk membantu sesuai dengan kemampuannya.

Kalau kita mundur lagi ke konsep Buddhis, ingat kan apa resep untuk hidup yang lancar? Yap! Resepnya adalah karma baik. Apalah karma baik kalau bukan kebaikan hati? 

Sejak masih menjadi yakuza yang notabene adalah “penjahat”, kebaikan hati Ichiban sangat kentara. Dia memilih dipukuli oleh seniornya karena tidak mau mengambil uang dari teman sekolahnya yang berutang pada yakuza untuk mengobati ibunya yang sakit keras. Dia dengan lapang dada menerima permohonan bosnya untuk menyerahkan diri ke polisi menggantikan seniornya dan mendekam di penjara selama belasan tahun. Bahkan porsi besar dari game ini adalah memerankan Ichiban menolong warga kota dalam berbagai situasi, mulai dari mencari kucing hilang sampai memempertaruhkan nyawa menantang grup yakuza yang berkuasa demi menolong pekerja seks komersial yang tidak dia kenal. Pada akhirnya, kebaikan hati Ichiban membuat dia bisa bangkit dari keterpurukan. Ia diberi tempat tinggal dan bahkan sampai mendapat pekerjaan jadi CEO perusahaan untuk menolong orang!

Selain menjunjung nilai Buddhis yang mengutamakan kebahagiaan banyak orang dengan moto “Your Smile is Our Priority”, Ichiban Holdings juga mempromosikan kesetaraan semua makhluk dengan menempatkan ayam di jajaran direksi.

Menolong orang itu sulit

Hidup Ichiban tentunya jauh dari hidup yang damai dan bajik. Seringkali upayanya menolong orang berujung pada baku hantam. Namun, untuk ukuran orang yang sama sekali tidak punya apa-apa–tidak punya rumah, uang, maupun pekerjaan–dia sudah menolong jauh lebih banyak orang dibanding saya yang hidupnya tergolong nyaman dan berkecukupan. 

Saya pernah mengikuti semacam tantangan untuk menolong sejumlah orang di satu tempat dalam jangka waktu tertentu. Dari situ saya tahu bahwa ternyata menolong orang itu tidaklah gampang. Dari sisi saya sendiri ada rasa sungkan karena takut ditolak ketika menawarkan bantuan. Saya takut dianggap sok pahlawan dan membuat kesal orang yang saya tawari bantuan. Saya juga takut bantuan yang saya berikan ternyata malah mempersulit. Ketakutan ini bukan murni karena memikirkan perasaan orang yang ingin saya bantu, tapi separuhnya berasal dari ego saya yang tidak mau terlihat jelek di mata orang. 

Di sisi lain, mencari orang yang butuh dan mau menerima bantuan juga tidak mudah. Setelah mengikuti tantangan ini, saya setuju sekali dengan yang bilang bahwa mau menerima kebaikan dari orang lain merupakan satu bentuk kebaikan tersendiri. Banyak orang yang membutuhkan pertolongan, tapi tidak semuanya bersedia ditolong dan tidak semuanya bisa ditolong dengan kemampuan yang kita miliki.

Sesering apa sih ketemu orang yang butuh bantuan traffic counting?

Saya bisa merasakan kesulitan-kesulitan ini karena tumbuh di lingkungan yang tidak terbiasa dengan kebaikan hati. Sejak kecil saya diajari untuk berhati-hati dengan orang asing. Kalau ada yang menawarkan ini-itu, saya harus curiga. Saya juga dididik untuk tidak boleh “terlalu baik” karena rawan ditipu atau dimanfaatkan. Jadi, memberi dan menerima kebaikan hati seolah bukan bagian dari hidup saya secara alami. 

Saya bukan satu-satunya orang yang memiliki pengalaman seperti ini. Dalam buku “Hati Tanpa Gentar”, Thubten Jinpa, Ph.D. pun menggarisbawahi pandangan yang menganggap kebaikan hati atau welas asih merupakan kelemahan sebagai salah satu permasalahan manusia di zaman sekarang. 

Tentu nggak ada salahnya berhati-hati, tapi lingkungan seperti ini membuat kita cenderung menilai setiap orang selalu berniat buruk dan hanya mencari keuntungan pada pandangan pertama. Karena saya tidak terbiasa ditolong dan tidak biasa menolong, wajar saja kalau saya takut ketika dihadapkan dengan kemungkinan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup seperti sandang, pangan, dan papan. Frase “welas asih” dan “cinta kasih” yang diajarkan di ceramah Dharma di wihara pun tak lebih dari sekadar jargon khas Buddhis yang hanya diingat saat sembahyang dan membaca doa-doa, tapi dilupakan dalam aktivitas sehari-hari.

Kebaikan hati: “privilege” lintas kehidupan

Berkebalikan dari saya, Ichiban punya “privilege” terbiasa dengan kebaikan hati. Karena dia sendiri selalu siap menolong siapapun yang membutuhkan, dia juga bisa yakin bahwa akan ada orang yang bersedia membantunya ketika ia membutuhkannya. Satu hal yang lebih penting lagi, karena Ichiban terbiasa melakukan kebaikan, dia juga mengumpulkan sebab-sebab kebahagiaan di masa mendatang. 

Coba bandingkan dengan kita yang tidak terbiasa menolong dan ditolong. Walau saya bisa hidup nyaman sekarang, apa jaminan saya bisa terus memiliki kenyamanan ini? Saya terus menghabiskan karma baik, tapi karena saya dididik untuk fokus memenuhi kebutuhan diri sendiri, saya tidak banyak memikirkan orang lain dan membuat karma baik baru. Kalaupun saya punya cukup karma baik untuk hidup nyaman sampai mati di kehidupan ini, sangat mungkin saya kehabisan karma baik dan lahir tanpa privilege apapun di kehidupan mendatang. Jangankan privilege deh, bisa lahir jadi manusia pun belum tentu!

Gelandangan saja bisa berpikir ingin kasih hadiah ke anak orang kaya yang kesepian.

Kisah Ichiban juga mengingatkan saya dengan kisah tentang murid-murid Sang Buddha. Ada banyak sekali kisah orang-orang yang sangat miskin mempersembahkan satu-satunya benda yang mereka miliki kepada Triratna. Walau nilai materinya hampir tak ada, ketulusan mereka membuat mereka terlahir di alam bahagia dan bahkan mencapai tingkatan spiritual yang tinggi. Ini semua adalah bukti bahwa sebesar apapun privilege berupa kekayaan, nama baik, wujud fisik, dan hal-hal duniawi lain yang kita miliki tak bisa menjamin kebahagiaan sejati. Justru ada “privilege” yang lebih penting, yaitu kebaikan hati, yang tidak hanya cukup untuk membantu kita menjalani kehidupan ini, tapi juga membantu diri kita untuk berbahagia di kehidupan mendatang hingga meraih kebahagiaan sejati.

Baca kisah kemurahan hati seorang pengemis berbuah kesucian tertinggi di buku “Permata Emas”.

Kebaikan hati harus diperjuangkan

Walau hanyalah karya fiksi, Yakuza Like A Dragon akan menjadi game yang sangat menyebalkan kalau tidak ada logika di balik perkembangan karakter Ichiban Kasuga. Kebaikan hati saja mungkin tidak bisa membuat kita berubah dari gelandangan jadi CEO perusahaan, tapi saya merasa game ini mau menyampaikan pesan bahwa kebaikan hati bisa membantu kita melalui situasi sesulit apapun sehingga pantas diperjuangkan.

Di kehidupan ini, kita telah bertemu dengan Dharma yang membuka mata kita terhadap realita dunia, bahwa segala bentuk kekayaan dan keberuntungan materiil tidaklah kekal dan berpotensi menyebabkan penderitaan. Sebaiknya, kebaikan hati adalah kualitas baik yang bisa mendatangkan kebahagiaan yang lebih tahan lama. Oleh karena itu, mulai dari sekarang, kita harus berusaha memecah perangkap pikiran yang membuat kita memandang kebaikan hati sebagai kelemahan. Bagaimana caranya? Tentunya dengan memaksa diri kita untuk berlatih menolong sesama!

Kita tidak perlu menunggu kaya untuk bisa menolong orang lain. Kita bisa mulai dari orang-orang terdekat kita. Adakah yang sedang membutuhkan pertolongan? Pasti ada banyak, toh dunia ini penuh dengan orang yang menderita. Kalau ada yang bisa kita bantu, jangan sungkan untuk menawarkan bantuan. Kalau ditolak ya tidak apa-apa. Satu hal yang pasti, orang yang menerima kebaikan hati kita pun akan tersentuh untuk memberikan kebaikan pada orang lain. Dengan demikian, semakin banyak orang yang menanam sebab untuk memiliki “privilege” berupa kebaikan hati!

Kalau ternyata tidak ada yang bisa kita lakukan dalam batas kemampuan kita, kita bisa mendoakan orang lain, misalnya dengan melafalkan “Empat Kemuliaan Tanpa Batas” atau meditasi terima kasih. Bangkitkan harapan yang tulus dalam hati kita, “Semoga penderitaannya berkurang. Semoga ia menerima kebahagiaan.” Sambil jalan, kita juga harus menggunakan semua kesempatan yang kita miliki untuk melatih batin kita agar lebih bijaksana dan memiliki berbagai kemahiran.

Sambil menyempurnakan kebijaksanaan agar dapat memberikan pertolongan yang tepat, mari biasakan diri memberi dan menerima kebaikan hati agar kita bisa terus membawa “privilege” berupa kebaikan ini hati di setiap kehidupan hingga kita bisa meraih Kebuddhaan dan mempersembahkan kebahagiaan sejati kepada semua makhluk.

Tulisan opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Lamrimnesia.

Lamrimnesia berkomitmen untuk menyajikan berita dan pengetahuan seputar Buddhadharma dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang dirancang khusus untuk generasi muda Buddhis masa kini. Ini adalah upaya kami untuk mendekatkan Dharma dengan generasi muda sehingga nilai bajiknya terus lestari dan membawa manfaat bagi banyak makhluk.

Ayo lestarikan Dharma bersama-sama dengan menjadi Dharma Patron (donatur) & Dharma Patriot (relawan) Lamrimnesia!

Anda dapat berdana ke:
Yayasan Pelestarian & Pengembangan Lamrim Nusantara
BCA: 0079 388 388
MANDIRI: 119 009 388 388 0

dan/atau mendaftarkan diri sebagai relawan ke:
Call Center Lamrimnesia - 081222816044

Ikuti juga Facebook, Instagram, & Youtube Lamrimnesia untuk mendapatkan konten Buddhis terbaru

Share.

About Author

385 views

Leave A Reply

WhatsApp us