BWCF 20 – Cerita Relief Borobudur: Menilik “Komik” Terbesar di Dunia

0

oleh Vioni Wilanda

Apa yang terlintas di otakmu ketika mendengar “Candi Borobudur”? Tentunya pikiran kita akan menjawab kalau Candi Borobudur adalah Candi Buddhis terbesar di dunia dan itu benar banget! Tapi kamu tahu nggak alasan kenapa candi yang terletak di Jawa Tengah ini bisa disebut sebagai candi terbesar di dunia? Itu dikarenakan Candi Borobudur memiliki 1.545 stupa, 1.472 stupika (stupa yang berukuran kecil), 72 stupa berlubang, dan 1 stupa puncak. Wah! Banyak banget, kan? Oh ya, Mahacandi Borobudur ini juga disebut sebagai komik gigantik karena 2.672 reliefnya yang teruntai bagai komik gigantik berisi banyak cerita bernilai moral, spiritual, dan kultural lho!

Nah, dalam rangka mengenal Candi Borobudur lebih jauh, saya berkesempatan untuk menambah wawasan kita dengan mendengarkan penjelasan mengenai relief Borobudur dalam acara Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF), tepatnya di sesi Bedah Buku Cerita Relief yang berlangsung pada tanggal 22 November 2020 secara online. Acara BWCF sendiri diselenggarakan oleh Samana Foundation untuk kesembilan kalinya dengan tema “Bhumisodhana: Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara”. 

Bedah buku dibawakan oleh Drs. Handaka Vijjananda, Apt. yang merupakan pendiri dari Ehipassiko Foundation. Beliau sangat mahir dalam menjelaskan isi dari ke-5 buku karya Bhikkhu Anandajoti yang berjudul: “Gandavyuha”, “Avadana”, “Lalitavistara”, “Jataka”, dan “Karmavibhanga”. Bhikkhu Anandajoti sendiri merupakan seorang penerjemah kitab suci Buddhis bahasa Pali & Sansekerta yang lahir pada tahun 1953 sekaligus fotografer situs Buddhis di Asia Selatan & Tenggara.

Ikonografi Borobudur

Pak Handaka memulai sesi bedah buku ini dengan menjelaskan ikonografi Borobudur. Beliau memaparkan dengan jelas dan rinci terkait lantai-lantai di Borobudur yang berjumlah 10 ini, terhitung dari lantai 0 sampai dengan lantai 9. Dan ternyata 10 lantai di Borobudur ini didasari oleh 10 tataran Dasabhumika Sutra, lho! Berlanjut ke pembahasan berikutnya yairu mengenai ikon-ikon relief di Borobudur, Beliau menjelaskan bahwa ada relief yang berwujud berbagai jenis makhluk, fauna maupun flora. Di dalam ikon relief flora, ditemukan 31 relief Kalpataru (pohon pengabul harapan). Kita juga dapat menjumpai relief 9 kapal dan relief 9 Stupa dan chatra (payung) di dinding-dinding candi.

Penampang Candi Borobudur
(Sumber: BWCF 2020)
Potret Kehidupan Sehari-Hari di Jawa Kuno

Selanjutnya Pak Handaka menyampaikan penjelasan panel relief-relief di Candi Borobudur. Pertama yaitu relief Karmavibhangga yang bercerita mengenai hukum karma yang digambarkan dalam bentuk kehidupan masyarakat Jawa kuno. Misalnya seperti relief orang-orang yang membayar pajak, akibat karma buruk di neraka, kegiatan menjaring ikan, dan tentunya masih banyak lagi. Relief selanjutnya yaitu relief Lalitawistara mengenai riwayat Buddha Gautama dari lahir sampai pertama kali memutar roda Dharma. Total relief Buddha Shakyamuni yang berada di Borobudur berjumlah 25 relief. Ketiga adalah relief Jataka yang berisi kisah kehidupan lampau Sang Buddha dalam menyempurnakan paramita demi mencapai pencerahan demi semua makhluk.

Kisah epik Sang Buddha dan murid-muridnya juga bisa dibaca di sini!

Lalu ada Relief Avadana yang mengisahkan himpunan legenda epik dari kisah kehidupan lampau Buddha Shakyamuni. Lalu yang terakhir adalah relief Gandavyuha yang menggambarkan perjalanan pencarian pencerahan, mulai dari perjalanan Sudhana mencari sosok guru spiritual, Maitreya yang menyingkap Dharmadhatu, perbuatan bajik Maitreya, dan lain-lain.    

Relief Karmawibhangga
(Sumber: BWCF 2020)
Relief Lalitawistara
(Sumber: BWCF 2020)

Dalam dua jam saja, banyak banget yang bisa kita pelajari dari acara bedah buku ini. Rasanya pun nggak seperti membedah suatu buku, melainkan menjelajahi tiap sudut dari Candi Borobudur. Asyik banget pokoknya! Lalu Pak Handaka menutup acara ini dengan sedikit pesan. Beliau mengatakan kalau kita berkunjung ke Candi Borobudur, mohon agar tetap menjaga candi ini. Pengunjung diharapkan tidak bersandar di dinding relief agar reliefnya tidak terkikis. Sudah banyak relief yang terkikis dan stupa yang hilang. Jika kita tidak bisa memperbaikinya, setidaknya jangan merusaknya. Mari kita jaga dan lestarikan candi Buddhis terbesar di dunia ini!

Share.

About Author

163 views

Leave A Reply

WhatsApp us