ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?

0

Bayangkanlah kegiatan yang sehari-harinya kita lakukan tepat ketika kita bangun pagi hingga terlelap lagi. Momen saat pertama kali kita membuka mata di pagi hari, kita selalu mengorientasikan aktivitas kita kepada sesuatu yang berada di luar kita. Mengingat-ingat PR yang belum dikerjakan jika kita masih bersekolah. Atau mengingat tumpukan pekerjaan yang diberikan atasan jikalau kita sudah bekerja. Lalu kapan kita mempunyai waktu untuk fokus pada pengembangan batin dan spiritual kita?

Begitulah kira-kira sepenggal paragraf pembuka yang dikatakan oleh Biksu Bhadra Ruci pada sesi dalam Indonesia Lamrim Retreat pada tanggal 29 Desember 2017. Lebih jauh, Biksu Bhadra Ruci juga mengajak kita untuk kembali melihat realita yang sering terjadi dalam diri kita ketika menjalani kehidupan manusia yang singkat ini. Kita sering kali mengejar materi bahkan rela mati demi hal-hal tersebut. Kita bisa mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengejar nilai A dalam pelajaran atau untuk menyenangkan hati atasan. Lantas apa bedanya kita dengan dua ekor ajing yang memperebutkan tulang, mempertahankan teritorinya masing-masing, dan beranak pinak?

Tidak ada jaminan bahwa pada kelahiran berikutnya, kita akan kembali terlahir sebagai manusia.

Sepenggal kalimat yang dikutip dari teks Bodhicaryawattara tadi mengingatkan kita untuk tak lupa melakukan refleksi terhadap batin kita. Apakah batin kita mampu membendung karma hitam yang telah kita perbuat dari kehidupan masa lampau sampai saat ini sehingga kita yakin bahwa kita bisa terlahir kembali sebagai manusia yang lengkap sempurna?

Setiap saat, karma dan klesha kita terus menghasilkan sesuatu, dengan setiap hasil tersebut pasti akan matang dan berbuah di satu kehidupan maupun kehidupan berikutnya. Salah satu bentuk nyata bahwa karma akan berbuah misalnya terkait pemahaman kita akan teks ini. Kita bisa memahami tulisan-tulisan ini sebab kita telah menanam bibit karma untuk bisa paham sehingga kita bisa mempersepsi paragraf demi paragraf dengan baik. Sebab-sebab di masa lalu menentukan kualitas kehidupan kita saat ini. Dengan pemahaman akan hal ini, bagaimana kita bisa menjamin kelahiran berikut akan sesuai dengan keinginan kita sementara sebab yang kita buat tidak mendukung terjadinya hal tersebut? Sementara ketika ajal menjelang, sifat dan perilaku yang paling dominanlah yang akan menentukan kelahiran kita, yang umumnya bersifat buruk. Ketika tubuh jasmani yang layaknya selembar kertas yang rapuh ini mendekati kematian, kita kebingungan untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini berada maupun menjadi milik kita. Saat kita tidak mempersiapkan batin, lalu apa arti kehidupan yang selama ini telah kita jalani? Kita butuh timbunan karma baik untuk bisa memahami hidup, memahami samsara, agar kita bisa serius mengejar spiritual dan merefleksikan batin ini dengan metode yang tepat. Kita butuh merawat diri kita sendiri dan memperjuangkan kehidupan pribadi, sebab selama ini sudah terlalu banyak upaya yang kita lakukan untuk memuaskan sesuatu yang berada di luar kita, menyenangkan atasan kita misalnya. Kita perlu merenungkan kehidupan kita untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati yang selama ini selalu kita dambakan adalah dengan menjadi Buddha.

Untuk mencapai hal tersebut, kita perlu menggunakan tubuh jasmani ini sebagai media. Layaknya kapal yang digunakan untuk menyebrang ke pulau yang berada di depan kita, tubuh ini harus senantiasa kita manfaatkan untuk mengembangkan batin dan bukannya menumpuk “sampah” dengan perbuatan buruk! Kebodohan kita akibat tidak menyadari hal ini dikatakan ibarat orang miskin yang menemukan pot emas bertahtakan permata namun dipakai untuk membuang muntah dan digunakan sebagai pispot. Sudah berapa banyaknya detik yang kita habiskan dalam menyia-niyakan potensi menuju Kebuddhaan untuk mengejar materi? Padahal, dengan membuat banyak karma kebajikan, kita sama sekali tidak perlu khawatir jatuh dalam kemiskinan. Dalam hal ini, Biksu Bhadra Ruci menegaskan bahwa bekerja bukanlah sebuah dosa besar. Bekerja merupakan hal yang diperbolehkan, dengan catatan kita tidak terlena di dalamnya. Akan tetapi, kita juga harus menyisihkan waktu untuk praktik Dhamma, misalnya dengan mengingat momen demi momen bahwa pada saat ini, saya tengah menggunakan tubuh manusia yang berharga untuk pengembangan batin. Jangan terus-terusan kita habiskan waktu untuk aktivitas duniawi semata tanpa disertai motivasi bajik, sebab hal ini diibaratkan bagai sekam padi yang ditampi. Tak ada gunanya.

Setiap momen besar yang kita alami diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti terminal dengan setiap terminal yang kita datangi bersifat tidak pasti. Hal ini sangat mirip dengan batin kita yang selalu berkelana dan berubah-ubah. Kita tidak pernah tahu pasti bagaimana batin kita di masa mendatang. Oleh karenanya kita perlu menjinakkan dan menyebabkan sebab-sebab baik karena hidup yang kita peroleh selama ini merupakan perjuangan dan bukan pemberian. Dengan melanjutkan logika tersebut, inilah salah satu alasan mengapa membunuh merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan. Oleh karena hidup bukanlah pemberian, maka kita tak berhak mengambilnya. Kita pun harus memahami bahwa jika kita saja tidak mau menderita, maka setiap makhluk apapun baik besar, kecil, tampak maupun tak tampak memiliki aspirasi yang sama untuk mendapatkan kebahagiaan. Sayangnya zaman ini, kita sering menemukan orang-orang yang merasa tertekan hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Hal ini tidak mengherankan karena di zaman milenial ini, kita sangat dihimpit oleh tuntutan dan keinginan untuk mencapainya dengan instan. Kita juga sering kali lupa bahwa setiap momen, diri kita selalu berubah dan diri kita yang saat ini merupakan kumpulan sebab tak terhingga yang telah kita kumpulkan sejak dahulu. Biksu Bhadra Ruci mencontohkan konsep ini dengan kisah anak kota dan anak kampung. Anak kota yang terbiasa dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan bagi dia dan dimanjakan sehari-hari, akan kesulitan menghadapi tekanan dan realita kehidupan. Ia akan lebih mudah kehilangan harapan yang mungkin saja berujung pada bunuh diri. Beda halnya dengan anak kampung yang terbiasa menerima realita kehidupan dan tidak mendapatkan kenikmatan terus menerus. Kedua anak ini bisa sangat berbeda akibat sebab-sebab yang telah dihimpun sejak kecil.

Oleh karena dasar itulah, kita butuh berlindung. Kita membutuhkan perlindungan Triratna untuk terus membuka wawasan dan mengubah cara pandang kita menuju adanya harapan untuk bisa mendapat kebahagiaan sejati. Dalam sesi hari ini, Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa Buddha adalah obyek yang layak bagi kita untuk berlindung sebab Buddha sendiri sudah bebas dari samsara. Beliau juga mahir membebaskan makhluk yang berada dalam ketakutan layaknya kita yang takut akan kematian dan ketidakpastian. Buddha secara adil dan penuh cinta kasih bertindak untuk kepentingan semua makhluk dan menolong mereka tanpa memandang apakah ia menguntungkan atau merugikan Sang Buddha.

Tidak ada makhluk yang dikutuk, karena pembeda antara aku dan penjahat hanyalah persoalan intensitas dan keberanian.

Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk bahwa Buddha menolong siapapun tanpa menghakimi. Apalah bedanya antara kita dan pembunuh? Jika kita katikan dengan pembelajaran-pembelajaran sebelumnya, kita sama-sama memiliki karma dan klesha. Pembunuh memiliki rasa benci, begitupun kita. Pembunuh memiliki rasa tamak, dan begitu pula halnya dengan kita. Hanyalah kadar dan tingkat keberanian kita yang membedakan. Bisa dikatakan, kita bahkan memiliki posisi yang sama dengan dirinya sebab baik kita maupun pembunuh bisa mencapai potensi yang sama untuk menjadi seorang Buddha. Buddha menerima siapapun untuk menjadi muridnya, bahkan pembunuh sekalipun seperti Angulimala.

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar isu tentang orang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), bagaimana mereka dituding melakukan dosa besar melawan kodrat alam dan menyebabkan seluruh bangsa akan tertimpa azab. Buddha tidak pernah mengatakan bahwa Beliau tidak menerima kaum LGBT untuk menjadi umat dan berpraktik Dharma. Lebih lanjut, Biksu Bhadra Ruci menambahkan bahwa LGBT dari sudut pandang Buddhisme ibarat seseorang yang menyukai bakso dan temannya yang menyukai soto.

Hanya karena temannya menyukai soto, apakah menyukai bakso kemudian menjadi hal yang salah?

Tentunya tidak. Ketika orang-orang dengan orientasi heteroseksual dan homoseksual mempelajari Lamrim, keduanya sama-sama memiliki potensi yang sama untuk mencapai realisasi spiritual. Lantas siapa kita untuk menghakimi bahwa LGBT dan pembunuh lebih buruk daripada kita?

Kita telah disediakan jalan dan tahapan untuk mencapai kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan, kita pun harus senantiasa ingat untuk tidak memboroskan karma baik yang telah kita peroleh. Makanan, air, tempat tinggal yang nyaman, listrik, dan masih banyak hal lainnya yang kita nikmati saat ini. Kesemuanya adalah buah karma baik yang sering kali kita boroskan sehingga ketika tiba waktunya, karma baik kita tidak lagi cukup untuk membuat kita terlahir sebagai manusia, lebih-lebih mencapai kebahagiaan sejati. Pada akhirnya, Buddhisme adalah tentang memilih. Apakah kita ingin bahagia dengan memupuk karma kebajikan atau sebaliknya? Selebihnya hanyalah mengenai bagaimana kita ingin menjalankan dan memaknai kehidupan kita sebagai manusia yang berharga.

Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.
Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: Merry (082163276188)

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us