ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan

0

Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan.

Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!”

Keyakinan ini menjadi headline di hari kelima Indonesia Lamrim Retreat 2017. Biksu Bhadra Ruci melanjutkan pembahasan poin pertama dari bab 4 Lamrim, yaitu bertumpu kepada guru spiritual, akar dari Sang Jalan. Banyak guru-guru besar yang mencapai pencerahan berkat keyakinan dan bakti mereka kepada guru spiritual mereka. Untuk bisa sampai ke sana, kita harus tahu manfaat-manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak memiliki guru spiritual, serta kerugian tidak bertumpu kepada guru dengan benar. Poin-poin tersebut berfungsi untuk menguatkan motivasi kita untuk bertumpu kepada guru spiritual. Setelahnya, barulah kita masuk ke cara berbakti pada guru spiritual melalui pikiran. Poin ini terdiri atas dua bagian: membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual dan membangkitkan rasa hormat dengan mengingat kebaikan guru.

Yang dimaksud dengan membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual adalah meyakini bahwa guru kita adalah Buddha. Kenapa perlu memandang guru sebagai Buddha? Itu karena kita ingin untung, tidak mau rugi. Dengan memandang guru sebagai Buddha yang sesungguhnya, kita akan mendapatkan berkah seorang Buddha pula.

Namun, apa mungkin kita melihat guru kita sebagai Buddha? Untuk itu, kita harus bisa fokus pada kualitas-kualitas baik guru kita. Jika kita melihat beliau memiliki kekurangan, kita harus berpikir lagi, apakah benar guru kita memiliki kekurangan tersebut atau kita melihat kekurangan itu karena batasan persepsi kita.

Dalam berbagai sutra, disebutkan bahwa Buddha akan hadir dalam wujud guru spiritual di zaman kemerosotan. Guru spiritual mewakili para Buddha melakukan aktivitas Buddha, yaitu mengajarkan Dharma kepada kita. Kita sendiri tidak memiliki cukup karma bajik untuk bisa melihat sosok Buddha yang bercahaya dengan 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan. Karena itu, Buddha hadir dalam wujud manusia yang setara dengan kita sehingga kita dapat menerima ajaran darinya. Meskipun wujudnya manusia, tidak mungkin pula guru spiritual kita merupakan manusia biasa. Mana mungkin Buddha mengandalkan manusia biasa untuk menjalankan aktivitas Beliau?

Buddha tidak bisa mencuci dosa kita dengan air, Buddha juga tidak bisa mengambil penderitaan kita, apalagi memindahkan pemahaman beliau ke otak kita. Cara Buddha menolong semua makhluk adalah dengan mengajarkan Dharma.

Buddha selama berkalpa-kalpa berjuang untuk mencapai pencerahan sempurna demi menolong semua makhluk. Apa mungkin Beliau hanya mengajar selama 45 tahun sampai parinirwana, lalu meninggalkan kita semua yang sekarang masih ada di samsara? Tentu tidak begitu. Para Buddha dan Bodhisatwa pasti masih terus bekerja untuk kepentingan semua makhluk. Tapi sekarang kita tidak bisa bertemu Buddha Sakyamuni, lantas bagaimana Beliau bisa mengajarkan Dharma? Jawabannya jelas, Beliau mengajar dalam wujud guru spiritual kita.

Kita tidak bisa benar-benar melihat guru spiritual sebagai Buddha karena persepsi kita tidak bisa diandalkan. Seperti yang telah dijelaskan di hari-hari sebelumnya, kita melihat sesuatu tergantung karma yang kita miliki. Jika kita merasa pacar kita menyebalkan, berarti kita memiliki karma bertemu pacar yang menyebalkan. Jika kita pindah ke planet lain dan pacaran dengan alien, selama kita masih memiliki karma tersebut, kita tetap akan merasa pacar alien kita menyebalkan. Begitu pula dengan persepsi kita terhadap guru spiritual kita. Karma penghalang kita menyebabkan kita melihat guru kita masih memiliki kekurangan. Karena itu, kita makin harus berusaha lebih keras membangkitkan keyakinan terhadap guru dan mempraktikkan Dharma sesuai dengan instruksi beliau untuk mengurangi karma penghalang tersebut.

Dalam praktik bertumpu kepada guru spiritual, seorang murid juga harus memiliki kualitas-kualitas tertentu. Pertama, seorang murid tidak boleh berpihak. Yang dimaksud tidak berpihak adalah tidak keras kepala memegang pandangannya sendiri. Belajar Dharma adalah proses mengubah cara pandang. Jika kita pandangan yang kita miliki saat ini sudah benar, bukankah seharusnya kita sudah mencapai pencerahan? Nyatanya kita belum mencapai pencerahan, karena itulah kita perlu guru yang mengajarkan kita Dharma untuk mengubah cara pandang kita menjadi lebih baik.

Kedua, seorang murid juga harus memiliki kecerdasan agar dapat memahami Dharma. Banyak orang menganggap Buddhadharma adalah agama kolot dan tidak intelek. Namun, jika memang demikian, mana mungkin Buddhadharma bisa bertahan selama 2500 tahun? Guru-guru besar Buddhis juga diakui sebagai filsuf hebat, bahkan mendahului filsuf barat seperti Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Bahkan HH Dalai Lama XIV diakui sebagai tokoh dunia yang diundang untuk berdiskusi di level yang sama dengan ilmuwan-ilmuwan besar. Buddhadharma adalah ajaran yang menggabungkan pemahaman logis dan rasa dari hati. Jika kita tidak cukup cerdas, pasti sulit untuk memahami Dharma, apalagi mempraktikkannya.

Ketiga, seorang murid harus ulet, memiliki rasa hormat yang besar terhadap guru, dan mau mendengarkan instruksi guru dengan penuh perhatian. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa penyebab utama kita gagal membangkitkan keyakinan kepada guru dan Triratna dan gagal mempraktikkan Dharma adalah kemalasan. Kemalasan ini ada tiga jenis: sikap menunda-nunda, beralasan tidak sanggup, atau lebih tertarik pada distraksi yang tak bermanfaat. Jika direnungkan, kita pasti memiliki setidaknya satu dari tiga jenis kemalasan tersebut, atau malah tiga-tiganya. Selama kita tidak berjuang melawan kemalasan tersebut, praktik Dharma kita tidak akan berhasil. Kita tidak akan bisa mengubah batin kita menjadi lebih baik.

Keyakinan pada guru spiritual merupakan dasar utama ketika kita ingin mengembangkan batin kita berdasarkan metode Lamrim dan keyakinan memang tidak dapat langsung muncul. Hal tersebut merupakan suatu kualitas yang harus kita latih setahap demi setahap.

Jadi apakah kita sudah membuat upaya untuk menumbuhkan keyakinan tersebut?

Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.
Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: Merry (082163276188)

Foto-Foto:

Cara kita menyusun persembahan di altar merupakan contoh bukti keyakinan terhadap Triratna.

Mempersembahkan pelita untuk umur panjang guru spiritual, salah satu cara berbakti keapda guru.

 

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us