Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati

0

oleh: BESTRELOAD

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.

Jika kamu seorang Buddhis, pastinya kamu sering mengucapkan kata-kata ini, tapiapakah kamu sudah benar-benar meresapi maknanya?

Kamu pastinya menginginkan kebahagiaan selalu hadir dalam hidupmu, segala cara kamu upayakan untuk mencapainya. Namun, kita harus tahu bahwa kebahagiaan juga merupakan hak dari semua orang—semua makhluk. Kita tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa yang menginginkan kebahagiaan bukan hanya kamu, atau orang tuamu, kerabatmu, maupun temanmu, tapi semua, termasuk orang yang berbeda agama denganmu, musuhmu, hewan-hewan, maupun orang-orang yang tidak kamu kenal, semuanya sama-sama ingin bahagia dan tidak menderita.

Cinta sendiri artinya adalah berharap makhluk lain bahagia atau sering disebut sebagai metta, dan welas kasih adalah berharap makhluk lain tidak menderita atau karuna.

Membangkitkan cinta kasih yang universal memang butuh waktu, maka itu mulailah dari diri kamu sendiri, lalu secara bertahap kamu dapat memberikan pengaruh ke keluargamu, orang-orang sekelilingmu, dan teman-temanmu.  Coba deh bayangkan, jika semua orang bisa memiliki rasa cinta kasih universal dalam diri mereka, tentunya dunia akan menjadi lebih indah dan damai.

Tapi kamu harus berhati-hati lho, karena perbuatan kamu pada seseorang atas dasar rasa cinta kasih, belum tentu baik baginya. Agar perbuatanmu bisa bermanfaat bagi orang yang kamu cintai, kamu butuh kebijaksanaan.

Coba lihat orang tuamu yang mendidikmu dari kecil, mereka menggunakan berbagai macam cara agar kamu menjadi anak yang baik. Cara-cara yang mereka lakukan padamu tidak semuanya manis kan? Kadang mamamu memarahimu saat kamu bandel, atau memberikan hukuman ketika kamu tidak patuh, tapi semua ini dilakukan atas dasar cinta kasih mereka terhadapmu lho.

Sama halnya di Buddhis, karena kebahagiaan yang ingin kita berikanpada orang yang kita cintai seharusnya bukan kebahagiaan yang sementara saja, tapi berikanlah sumber kebahagiaan pada mereka yang kamu cintai. Sumber kebahagiaan yang sejati berkaitan dengan tiga motivasi utama dalam praktik Buddhadharma, yaitu kebahagiaan di kehidupan mendatang, pembebasan samsara, atau pencerahan sempurna.

Pada artikel singkat ini,  kamu akan mengetahui, bagaimana cara mencintai ala Buddhis. Kamu pasti memiliki list orang yang kamu cintai seperti pacar, orang tua, atau saudara. Lakukanlah hal ini untuk menunjukkan rasa cintamu pada mereka.

Ajaklah orang yang kamu cintai untuk berbuat kebaikan, karena akar dari semua kebahagiaan kita adalah berasal dari hukum karma

Kamu pasti pernah mendengar istilah “untuk membantu orang yang kelaparan, memberikan kail dan mengajarkan memancing tentunya lebih bermanfaat daripada memberikannya ikan.” Ada saatnya orang yang kamu cintai membutuhkan ‘ikan’ langsung, karena kebutuhan setiap orang berbeda, tapi cobalah mulai memberikan pengertian pada mereka bahwa semua hal bahagia yang dirasakan berasal dari karma baik yang telah kamu perbuat, jadi perbuatan-perbuatan baik seperti berdana dan membantu orang lain merupakan sebab-sebab bagi kita untuk mendapatkan kebahagiaan.

Jika mereka masih sulit, kamu bisa mulai dari memberikan contoh atau teladan dalam berbuat baik, kemudian mengajak mereka melakukannya bersama-sama, hal ini seperti ‘mengajarkan memancing’ pada mereka. Setelah melakukan perbuatan baik, pasti ada energi positif yang muncul seperti rasa syukur dan senang yang berbeda dari biasanya, atas hal ini kuatkanlah karma positif ini dengan bermudita cita. Halini akan memberikan mereka semangat untuk kembali berbuat baik ke depannya. Pada tahap ini kamu sudah memberikannya satu tahap menuju kebahagiaan yang sejati.

Mulailah bersama-sama menghilangkan sifat-sifat buruk seperti melekat, rasa benci, dan kurang kebijaksanaan, karena itu semua adalah sumber penderitaan kalian

Sang Buddha mengajarkan pada kita bahwa sumber penderitaan kita adalah kekotoran batin atau klesha (yang utama ada 3 yaitu kemelekatan, kebencian, dan kebodohan), ketika kita bisa menghilangkan klesha sepenuhnya, maka kita telah terbebas dari penderitaan.

Maka dari itu kamu seharusnya mengetahui bahwa ketika kamu mengharapkan orang yang kamu cintai bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya berasal dari dalam diri masing-masing, yaitu dengan  menghilangkan sebab dukkha itu sendiri. Maka itu arahkanlah mereka bersama-sama dirimu melatih diri untuk menghilangkan klesha ini.

Mungkin kamu merasa kalau menghilangkan klesha itu “ketinggian”, tapi ingatlah bahwa Dhamma itu indah pada awal, pertengahan, dan akhir, di saat kamu belajar dan dalam proses menghilangkan klesha itu sendiri, kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Menghilangkan klesha tidak serumit kelihatannya, cukup mulai dari menghilangkan sifat-sifat buruk seperti pelit, iri hati, benci, mulai dari yang kasar dulu, setahap demi setahap batinmu akan menjadi lebih stabil, barulah kamu menghilangkan yang halus. Ingat: jangan lupakan diri kamu sendiri, karena kamu baru bisa menolong orang lain saat dirimu sudah tertolong

Cinta kasihmu membuatmu sudah memiliki niat untuk menolong orang lain pada jalan Dhamma, tapi rasanya kok sangat sulit ya? Kamu butuh kapasitas.

Pada saat kamu merasakan hal ini, di sini kamu bisa membangkitkan motivasi tertinggi di Buddhis yaitu menjadi Buddha untuk menolong semua makhluk. Mungkin semua makhluk terlalu jauh bagimu, tapi coba mulailah dari pacarmu dan orang tuamu, apakah kamu sudah bisa menolong mereka? Saya sendiri menyuruh mama saya untuk ke vihara saja sulit.

Saya juga terinspirasi oleh perkataan seorang guru:

“Misalnya ibumu mata duitan, kamu mau menolong ibumu, jadi kamu kasih dia duit, itu bukan menolong, Itu malah mempertebal kemelekatan ibumu. Kamu sama saja mendorong Ibumu ke neraka”

Cobalah bayangkan jika kita memiliki kualitas seorang Buddha, tentunya kita bisa menolong mereka dengan cara yang mahir dan tepat sasaran. Coba kamu baca riwayat hidup Sang Buddha, beliau mengucapkan beberapa kata saja sudah membuat orang-orang mencapai tingkat Arahat, artinya sudah bebas dari penderitaan. Maka dari itu, bayangkan deh kalau kamu saat ini jadi Buddha, kamu akan memberikan kebahagiaan sejati bagi orang tuamu, pacarmu, teman-temanmu. Sayangnya, kamu belum mencapai kapasitas itu kan? Maka itu mulailah bangkitkan motivasi untuk meraih hal tersebut. Dari situ, setahap demi setahap kamu dapat mengembangkan kapasitasmu menjadi orang yang lebih baik. Dalam prosesnya toh kamu juga dapat menolong banyak orang. Ingat, Dhamma itu indah pada awal, proses, dan akhir.

Maka dari itu “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta“ yang kamu ucapkan mulai saat ini jangan hanya di mulut saja, tapi bangkitkanlah pemahaman yang benar, sikap yang benar dan motivasi yang benar untuk mengaplikasikannya di kehidupanmu. Ingatlah cinta kasih dan kebijaksanaan harus berjalan beriringan, tanpa kebijaksanaan pertolonganmu bisa salah sasaran, tanpa cinta kasih kamu bahkan tidak akan mulai menolong.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us