Indonesia Lamrim Retreat 2016: Makmur Sesaat vs Bahagia Jangka Panjang, Pilih yang Mana?

0

25 DESEMBER 2016—Indonesia Lamrim Retreat 2016 telah memasuki hari kedua. Usai kebaktian, pembimbing retret Biksu Bhadraruci menyentil para peserta dengan sebuah pertanyaan: berada di peringkat ke berapakah Dharma dalam urutan prioritas kita? Dari 407 orang peserta retret, sebagian besar tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dsb. Biksu yang tinggal di biara ternyata kalah giat dengan karyawan di kota besar yang bangun subuh-subuh melawan kemacetan untuk berangkat kerja dan pulang larut malam, mati-matian berjuang mengejar target untuk penghasilan maksimal seharga seekor sapi. Dengan demikian kita bisa hidup sejahtera dan berkecukupan, tapi belum tentu bisa membuat bahagia. Padahal kegigihan dan kemampuan yang sama bisa juga diterapkan untuk mempraktikkan Dharma demi meraih kebahagiaan yang dapat dibawa mati.

Biksu Bhadraruci mengingatkan peserta untuk tidak meremehkan ritual dalam agama Buddha. Umat Buddha di Indonesia seringkali menganggap bahwa diri mereka dan Dharma adalah dua alam yang berbeda, apalagi yang bersifat ritual. Padahal ritual ini merupakan metode mempurifikasi karma buruk dan mengumpulkan kebajikan yang menjadi modal untuk bisa memahami dan mempraktikkan apa yang diajarkan setelahnya.

Di Indonesia, tidak banyak individu yang memperlakukan Dharma sebagai instruksi pribadi dalam rangka melatih kapasitas batin. Banyak yang terkesan dan memuji-muji Buddhadharma, tapi tidak banyak yang ketika ditanya apa yang menarik dari Buddhadharma bisa menjawab “Dharma mengubah hatiku”. Kecenderungan ini tak bisa dipisahkan dari perasaan inferior yang dialami umat Buddha di masa lampau yang tidak hanya minoritas, tapi juga sering dituding menyembah berhala. Jika tanpa inovasi Yang Mulia Biksu Ashin Jinarakkhita seperti mengadakan kebaktian setiap Minggu, lengkap dengan kemeriahan lagu-lagu bernuansa Buddhis untuk menarik umat, belum tentu agama Buddha bisa bertahan di Indonesia hingga sekarang.

Rasa inferior ini muncul dari hilangnya tradisi dan identitas agama Buddha di Indonesia. Tradisi yang hilang ini dapat ditemukan dengan mempelajari lamrim, mulai dari melakukan praktik berlindung yang benar, bertumpu pada guru spiritual dengan cara yang benar, memahami hukum karma secara benar, dan masih banyak lagi. Tradisi ini tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari sehingga hidup dan praktik Dharma menjadi harmonis dan berjalan beriringan.

Dengan praktik Dharma yang tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari guna mencapai kebahagiaan sebagai motivasi, peserta Indonesia Lamrim Retreat belajar cara mendengarkan Dharma sesuai dengan bab ke-3 Lamrim, yaitu cara mendengarkan dan mengajarkan ajaran. Dalam mendengarkan atau mempelajari Dharma, pendengar diibaratkan sebuah wadah yang diisi dengan air Dharma. Ada 3 jenis cacat wadah yang harus kita hindari:

  1. Wadah terbalik jelas tidak bisa diisi, sama seperti orang membaca buku Dharma hanya untuk mengisi waktu luang, bukan untuk memasukkannya ke dalam hati.
  2. Wadah yang bocor diisi bagaimanapun juga tidak akan bisa penuh, seperti mendengarkan Dharma tapi tidak fokus, hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
  3. Wadah yang kotor akan mencemari air yang masuk sehingga membuat keracunan saat diminum, seperti Dharma yang didengarkan dengan motivasi yang salah atau untuk mencari-cari kesalahan tidak akan bermanfaat, malah jadi penyebab berbuat karma buruk.

Jadi, dalam mempelajari Dharma, kita haruslah menempatkan diri seperti wadah yang terbuka dan bersih agar dapat merasakan manfaatnya secara penuh.

 

Persembahan tubuh, ucapan, dan batin Buddha oleh Ketua Panitia Pembangunan Biara Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling.

Persembahan tubuh, ucapan, dan batin Buddha oleh Ketua Panitia Pembangunan Biara Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling.

Selanjutnya, orang yang mencari Dharma harus memiliki 6 sikap berikut:

  1. menempatkan diri sebagai pasien yang menderita sakit, yaitu penyakit emosi-emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan yg berlarut-larut, dan segala bentuk ketidakbahagiaan;
  2. memandang Dharma sebagai obat yang dapat menyembuhkan penyakit kita;
  3. memandang Guru sebagai dokter yang mahir, mampu mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit kita dengan obat Dharma;
  4. mempraktikkan Dharma sesuai instruksi, ibarat menebus dan memakan obat secara teratur; obat yang tidak dikonsumsi sesuai resep dokter tidak bisa menyembuhkan penyakit, sama halnya Dharma yang dipraktikkan tidak akan bisa membawa kebahagiaan;
  5. mengenali dan menghormati Sang Buddha yang mempertemukan kita dengan obat Dharma sebagai makhluk suci;
  6. senantiasa dan berharap Dharma dapat bertahan lama agar manfaatnya tidak hanya kita rasakan sendiri, tapi juga dapat sampai ke orang banyak yang menderita ‘penyakit’ serupa.

Sama seperti hari sebelumnya, sesi malam hari diisi dengan memeditasikan apa yang sudah dipelajari pada pagi dan sore hari. Usai meditasi, banyak peserta yang tidak langsung pulang atau kembali ke kamar masing-masing, melainkan langsung praktik memanfaatkan waktu yang terbatas dan berharga untuk mengumpulkan kebajikan atau membahas Dharma yang baru dipelajari dengan sahabat-sahabat lain.

Persembahan mandala sebagai simbol alam semesta untuk memohon pengajaran Dharma.

Persembahan mandala sebagai simbol alam semesta untuk memohon pengajaran Dharma.

Teman-teman yang ingin menyaksikan namun tidak bisa menghadiri acara dapat menyaksikan Livestreaming via buddhayana.tv
Untuk mendapatkan akses dan info jadwal, hubungi:
Sapta: 08984811450
Aprianti: 085375242326

Persembahan dalam kebaktian di awal sesi pengajaran dilengkapi dengan bunyi-bunyian alat musik, salah satunya simbal.

Persembahan dalam kebaktian di awal sesi pengajaran dilengkapi dengan bunyi-bunyian alat musik, salah satunya simbal.

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us