Jalan Tengah Stres

0

Oleh Judy Lief

Hidup penuh dengan hal yang membuat stres. Walau banyak orang menyatakan bahwa kehidupan modern jauh lebih menekan daripada zaman dahulu, saya merasa sangsi. Makhluk hidup selalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup, pangan, dan papan. Selalu ada tekanan untuk menemukan pasangan dan meneruskan keturunan.

Anda dapat mengatakan bahwa pertanyaan tentang penderitaan, atau tekanan, dan bagaimana menyikapinya sungguh pokok dalam Buddhisme. Inilah pertanyaan yang mendorong Buddha memulai perjalanannya, dan sepanjang perkembangannya ajaran Buddha telah mempelajari topik ini dari segala lapisan dan sudut pandang.

Bak peneliti medis, cendekiawan dan praktisi Buddhisme telah mendaftar detail-detail sindrom ini untuk mengobati gejalanya dan menemukan penangkalnya yang terampuh.

Jadi, apa itu stres dan bagaimana pendapat ajaran Buddhisme tentang cara menyikapinya? Bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap stres? Apakah kita harus selalu menghindarinya atau bisakah kita tetap produktif selagi mengalaminya? Sejauh apa stres berakar dalam kehidupan, atau semuanya hanya ciptaan kita sendri? Apa saja gejalanya dan apa pula penangkalnya?

Perasaan tertekan

Perasaan stres dapat dianggap sebagai sekelompok sensasi tak mengenakkan. Kita bisa jadi merasakan stres dalam bentuk tekanan, kekhawatiran, atau perasaan takut pada ruang tertutup. Kadang ada begitu banyaknya tantangan yang menghadang hingga kita seolah merasa tenggelam. Kita merasa tak sanggup, terkuasai oleh semuanya seperti kapal karam. Stres menyudutkan kita seolah tiada jalan keluar. Kita membatu, serasa tercekik oleh kekhawatiran yang membuncah. Saat stres, rasanya tak ada udara. Tak ada ruang. Tak ada kebebasan atau kesegaran. Dalam pengaruh stres, apa yang sebelumnya mudah bisa menjadi seperti mustahil dan ke manapun kita menoleh, rasanya tak ada jalan keluar. Dalam stres kita merasa kalut, seolah kita tengah ditarik hingga hampir putus.

Saat kita merasa tertekan, badan kita terasa tegang seolah menyusut. Secara mental, pemikiran kita semakin kaku dan tak mengalir luwes. Secara emosional, kita resah dan takut. Sedikit saja gangguan dapat membuat kita meledak penuh amarah. Bisa jadi pula kita malah menarik dan menutup diri. Kita lupa cara bernapas, seolah-olah seluruh badan kita adalah segumpal rasa sakit yang berdenyut-denyut.

Saat anda mulai memikirkan segala hal yang dapat membuat anda tertekan, anda tak akan berhenti. Awalnya mungkin persoalan yang dekat seperti kebutuhan membayar sewa atau mencari pekerjaan. Hanya dengan membaca koran, daftar itu bisa dengan cepat bertambah dengan masalah dunia seperti kelaparan, perang, kelebihan populasi, dan kerusakan lingkungan. Kita bahkan bisa menggunakan rasa resah dan tertekan yang kita rasakan terhadap masalah dunia ini sebagai semacam sertifikat bukti bahwa kita peduli, punya empati, dan sensitif.

Ketika kita mengalami stres, kita berusaha mencari seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Kita mengasumsikan bahwa pasti ada faktor luar yang menyebabkan kita merasa seburuk ini, dan bila kita menghilangkan faktor ini maka segalanya akan baik-baik saja. Jika memang ada faktor luar yang berlaku, kita memang bisa menghilangkannya begitu saja. Kita bisa berhenti menemui orang yang mengesalkan kita atau berhenti menyetujui hal yang dapat membuat kita berada di situasi tak mengenakkan. Tetapi, banyak situasi yang tak bisa kita apa-apakan, tak peduli betapapun situasi semacam itu menekan kita.

4 Macam Harapan dan Rasa Takut

Ada banyak peta dan geografi stres dalam ajaran Buddhis. Karena dianggap penting untuk berkomitmen melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan taraf hidup semua makhluk, kita harus paham bagaimana kita sering menjebak diri dalam berlapis-lapis tekanan yang tak perlu, dan bagaimana kita mulai bisa keluar dari jebakan ini.

Untuk memulai, kita harus melihat apa yang melandasi tekanan emosional. Tekanan emosional digambarkan sebagai pola pikir yang mengakar. Karena terlalu banyak pikiran inilah kita membuat situasi tertekan semakin buruk. Dalam kebingungan kita, bukannya mengubah situasi atau sikap, kita malah menuang minyak ke dalam api.

Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda.

Secara klasik, hal ini dijelaskan sebagai siklus harapan dan rasa takut yang tiada akhir, yang mendominasi kehidupan sehari-hari kita dari satu momen ke momen yang lain, dari awal hingga akhir. Filsuf Buddhis Nagarjuna menjelaskan harapan dan rasa takut dalam apa yang dinamainya 8 fokus duniawi: harapan untuk kebahagiaan dan rasa takut akan penderitaan; harapan untuk ketenaran dan rasa takut akan ketidakberartian; harapan untuk pujian dan rasa takut akan kecaman; serta harapan mendapat untung dan rasa takut akan kerugian. Singkatnya, tanpa berkesudahan, kita menghabiskan hidup setengah mati berusaha menahan sebagian hal dan membuang hal lain.

Anda mungkin bertanya: apa salahnya memilih kebahagiaan daripada kesedihan atau memilih pujian daripada kecaman? Bukankah yang kita inginkan memang mengejar kebahagiaan? Bukankah jelas bahwa untung lebih baik daripada rugi? Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda. Masalahnya, harapan selalu bertalian erat dengan pasangannya, rasa takut. Mustahil satu hal muncul tanpa hal yang lain. Ketika kita terperangkap dalam siklus harapan dan rasa takut ini, kita selalu tegang sehingga bahkan pengalaman terbaik kita pun dihantui rasa waswas.

Kebahagiaan vs. Penderitaan

Dalam bentuk pertama harapan dan rasa takut, kita memandang segala sesuatu dalam bentuk kebahagiaan dan penderitaan, kesenangan dan kepedihan. Kita mengharapkan kebahagiaan, namun begitu mendapatkannya, muncullah rasa takut kehilangan. Karena rasa takut ini, kita berusaha menggenggam kebahagiaan begitu eratnya hingga kebahagiaan itu sendiri berubah menjadi sebentuk kepedihan. Begitu penderitaan muncul, pikiran positif macam apapun tak bisa mengusirnya. Semakin kita mengharapkan sebaliknya, semakin sengsaralah kita.

Ketenaran vs. Ketidakberartian

Dalam bentuk kedua harapan dan rasa takut, kita terobsesi pada ketenaran dan takut akan ketidakberartian diri. Kita berlomba-lomba mencapai puncak, lapar akan penghargaan, dan begitu kita tak mendapatkannya kita merasa kesal dan gampang tersinggung. Ketika kita menyadari betapa keras kita harus berusaha agar terlihat sebagai seorang yang istimewa, ketakutan kita akan ketidakberartian meningkat. Di belakang topeng ketenaran, kita menderita karena merasa diri kita kosong dan kesepian.

Pujian vs. Kecaman

Dalam bentuk yang ketiga, kita terobsesi pada pujian dan takut akan kecaman. Kita harus terus-menerus disemangati atau kita mulai meragukan nilai diri. Ketika kita tak memburu pujian, kita sibuk menutupi kesalahan kita agar tak ketahuan. Namun, tak pernah ada cukup pujian untuk memuaskan kita, dan kita tak pernah bebas dari perasaan ingin lebih. Hanya jika kita sempurnalah baru kita bisa terus-menerus mendapatkan pujian, namun sekalipun berusaha menggapainya, kita tak pernah berhasil meraihnya. Satu kesalahan kecil saja dapat memicu ketakutan kita lagi.

Untung vs. Rugi

Akhirnya, dalam jenis terakhir kita terobsesi pada untung-rugi. Kita menginvestasikan harapan tinggi pada tiap situasi, dan mengharapkan apabila terjadi peningkatan, maka kondisinya akan tetap demikian. Begitu menggodanya harapan ini hingga kita melupakan bagaimana mudahnya situasi dapat berbalik. Baru saja kita merayakan kesuksesan diri, kita jatuh terpuruk dan sekali lagi dicengkeram ketakutan. Harapan kita hancur dan kita takut kalau kita akan terus, terus jatuh. Secara sinambung,, segala sesuatu terlihat penuh harapan di satu detik dan musnah di detik berikutnya, dan apapun yang terjadi, kita merasa khawatir.

Siklus harapan dan rasa takut ini memenuhi pikiran kita dan merampas tenaga kita. Tak peduli apapun yang terjadi, kita merasa hal yang lebih baik atau berbeda dapat terjadi. Tak peduli seperti apapun kita, kita merasa bisa jadi lebih baik atau berbeda. Tak pernah ada yang cukup baik, sehingga kita tak pernah merasa tenang.

6 Pola Stres

Cara lain memandang stres adalah melalui anekdot 6 tingkat alam. 6 alam ini adalah alam dewa, alam asura (musuh kaum dewa), alam manusia, alam binatang, alam setan kelaparan, dan alam neraka. Mereka mewakili dunia pengalaman yang kita bentuk dari ketidakacuhan kita, yang kita tinggali dalam rasa takut. Mereka mewakili dunia yang penuh jerih-payah, dan tak peduli seberapa kerasnya kita berjerih-payah, kita tak pernah mendapatkan yang kita inginkan. Dikatakan bahwa kita berpindah dari satu dunia ke dunia lain terus-menerus dan sulit melepaskan diri. Setiap alam punya fokus, bentuk stres,  dan pola harapan-rasa takut masing-masing. Meski kita terperangkap dalam salah satu alam ini, tetap ada cara melepaskan diri dari kemelekatan yang menjerat dan menyebabkan stres dan penderitaan kita.

Alam Dewa dan Tekanan untuk menjadi Perfeksionis

Alam dewa merujuk ke dunia yang penuh keadaban. Alam ini penuh kebahagiaan spiritual, kesenangan material, atau kepuasan psikologis. Kebanggaan dan ketidakacuhan adalah bahan dasarnya, sehingga anda dapat larut dalam ilusi ‘semuanya serba-aku’. Berada dalam alam ini bak mimpi yang jadi nyata. Namun ketika anda mendapat segala yang anda impikan, anda cemas segalanya akan lenyap. Anda mungkin membangun persembunyian, entah dalam bentuk pusat retret spiritual, komunitas tertutup, atau dunia imajinasi. Namun, untuk tetap mempertahankan pulau kesempurnaan yang demikian, anda harus menutup mata dari penderitaan. Anda harus menutup hati karena tak ingin merusak suasana yang melingkupi anda atau merasakan hal tak mengenakkan barang sedikit pun, seperti apa pun itu. Oleh karenanya, anda tak mengacuhkan segala sesuatu yang mengancam kondisi kesenangan ini.

Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.

Rasanya seolah alam ini stresnya sedikit sekali, tetapi di bawah permukaan kebanggaan spiritual dan kedamaian, mengalirlah sungai ketakutan. Anda harus menggenggam diri anda erat-erat untuk memperpanjang pengalaman istimewa anda dan menghalanginya berkurang. Anda berharap pengalaman transendental anda akan terus berlanjut, tapi juga takut anda tak mampu bertahan. Masalahnya, begitu anda menciptakan area terlindung dan memagarinya, entah secara harfiah atau psikologis, anda tak hanya harus berjuang mempertahankannya, namun stres juga akan muncul karena anda tahu pengalaman anda adalah sesuatu yang dibuat-buat, tidak nyata. Namun, ada masa ketika anda melepas usaha itu dan muncullah sesuatu yang baru. Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.

Alam Asura dan Tekanan untuk Mengadu Kehebatan

Alam asura ditandai dengan iri hati, ketergesaan, dan jiwa kompetitif. Dalam alam ini, anda tak pernah puas dengan apa yang anda miliki jika anda melihat ada yang punya lebih. Anda berjuang sepanjang waktu, takut berhenti barang sejenak, takut posisi anda akan dilampaui seseorang. Anda hanya dapat mengukur diri sendiri dalam perbandingan dengan orang lain di depan dan di belakang.

Ini bagaikan lari di mesin treadmill, namun anda tak bisa berhenti. Anda terus berlomba dan melihat segala sesuatu sebagai urusan menang-kalah. Terbakar kecemburuan, anda terkungkung dalam jiwa kompetitif, terjebak dalam pacuan pencapaian tanpa jeda.

Jika anda terus terobsesi kesuksesan dan kegagalan, menang dan kalah, gerakan anda akan terbatasi dan dipenuhi tekanan. Namun, ada kalanya apa yang anda lakukan sudah jelas, dan segalanya menjadi lebih mudah dan efektif. Hal ini memberi anda kesempatan mengintip kemungkinan-kemungkinan lain dalam melakukan sesuatu, cara-cara lain untuk bekerja lebih terampil dan dengan usaha lebih sedikit.

Alam Manusia dan Tekanan karena Kurangnya Kepercayaan Diri

Alam manusia adalah alam hasrat dan kebutuhan akan hubungan. Anda merasa tak utuh dan selalu mencari cara mengisi kekosongan itu. Ketika merasa kesepian, anda berusaha menghubungkan diri dengan orang lain, namun begitu hubungan terbentuk, anda merasa terperangkap dan kecewa. Ketika anda menemukan seseorang yang bisa ‘nyambung’, anda mempertimbangkan apakah anda bisa menemukan orang yang lebih baik. Apapun yang anda lakukan, anda merasa ada sesuatu yang lebih baik yang anda lewatkan.

Di alam manusia, anda terpacu oleh kebutuhan dan kehendak. Anda mengkhawatirkan sosok anda dalam pandangan orang lain dan terobsesi pada ketenaran anda. Walau anda membentuk hubungan-hubungan dengan aneka kepentingan, tak ada yang stabil. Anda selalu merasa tak aman, pikiran anda melompat dari satu hal ke hal lain. Di atas semua itu, anda terlalu banyak berpikir, sehingga segalanya semakin rumit. Di alam manusia, anda tak lagi merasa utuh dan takut pada kerentanan diri anda.

Jika anda kerap mencari pengakuan dari luar, anda akan terus dirundung perasaan tertekan. Namun, dari waktu ke waktu, ada saatnya pemahaman spontan terpercik dalam diri anda. Pemahaman ini begitu jelasnya sehingga anda tak lagi butuh pengakuan dari luar. Anda menemukan bahwa anda tak perlu selalu meragukan diri sendiri. Anda dapat menghargai apa yang anda rasakan meski anda tahu mungkin ada hal yang lebih bagus di luar sana.

Alam Hewan dan Tekanan karena Kebiasaan

Di alam hewan, anda membentuk kebiasaan yang membosankan dan rutin, namun anda kekurangan imajinasi untuk melakukan hal di luar itu dan takut berubah. Anda terpaku pada cara anda dan merasa terancam dengan usulan baru. Anda mungkin mendapat inspirasi untuk berubah sesekali, namun kemalasan dan kelembaman menghentikan anda. Anda tak ingin terjebak, tapi tetap saja anda melakukan hal yang sama berulang-ulang. Anda dipenuhi ketidakacuhan dan takut mencoba hal yang berbeda dari biasanya, meski hal yang biasanya ini kurang memuaskan. Anda menciptakan birokrasi yang penuh peraturan dan prosedur tak jelas.

Seseorang dalam alam ini mungkin terlihat tenang dan mapan, namun ini bukanlah kemapanan yang sesungguhnya. Ini bak bantal pelindung yang melindungi mereka dari energi dan intensitas kehidupan. Keterjebakan dalam alam hewan kadang bisa terasa nyaman, namun rasa itu kemudian akan menjadi berat dan menekan, dan anda takut bahwa hal ini takkan pernah berubah.

Stres dalam alam ini tidak tajam, namun tumpul. Kebiasaan badan dan pikiran anda terasa padat dan liat. Ada energi yang membekukan pemikiran. Sekalipun segalanya terasa sesak, kadang terasa ada bukaan dan sesuatu yang tajam menembusnya. Anda mulai mengerti sengsaranya perasaan ini, yang diperkuat oleh perasaan negatif dan kehilangan yang dimunculkan oleh ketidakacuhan anda pada hal-ihwal di sekeliling anda.

Alam Setan Kelaparan dan Tekanan karena Tak Pernah Merasa Puas

Di alam setan kelaparan, anda mau lebih, lebih banyak lagi, tapi tak pernah merasa puas. Tak peduli betapa banyaknya kekayaan bertimbun, anda tetap merasa miskin. Selalu ada uang lebih yang harus didapat, lebih banyak kekuatan, lebih banyak pengaruh yang bisa anda raih. Jika anda tak bisa bergaul dengan yang terbaik dan terhebat, anda merasa kosong. Anda ditopang keserakahan dan selalu merasa lapar. Tanpa segala harta anda yang mengiringi, anda merasa telanjang, sehingga anda terus menambah lebih banyak lagi. Ada kesenangan dalam memiliki segala yang paling baik dan banyak, namun tak ada titik perhentian dan tak ada kepuasan yang sebenarnya, tak peduli seberapa banyaknya hal-ihwal yang telah anda kumpulkan.

Di alam setan kelaparan, ada kontras kuat antara kemiskinan di dalam dan kekayaan di luar. Kebutuhan memuaskan kelaparan di dalam dapat mendominasi hidup anda, tapi anda dapat keluar dari pola ini dan menyeimbangkan keadaan di dalam dan di luar diri, sehingga penghargaan yang anda berikan pada kekayaan di luar diimbangi dengan pengertian terhadap kekayaan di dalam.

Alam Neraka dan Tekanan karena Pertikaian Tiada Henti

Di alam neraka, anda selalu diliputi amarah. Anda membuat musuh di mana-mana, dan anda selalu bertengkar. Anda selalu resah, defensif, siap menyalak. Anda takut jika anda bersantai, anda akan terancam atau dihancurkan, sehingga anda selalu menyerang lebih dulu. Diri anda seolah panas bagai bara atau beku bagai es. Dipenuhi kebencian, anda menciptakan konflik dan pertikaian dalam berbagai skala. Anda ketakutan dan dipenuhi kepedihan seperti tikus yang tersudut, dan anda hanya bisa terus menyerang.

Campuran rasa benci, pedih, dan marah ini membuat kita sulit bernapas. Melihat dunia dalam pengertian aku vs. mereka, siapapun yang tak setuju dengan anda akan langsung menjadi musuh anda. Kemarahan dan keinginan bertikai ini terus tumbuh. Namun, ada kalanya anda terlepas dari neraca ekstrim ini. Anda keluar dari medan pertempuran dan menikmati perasaan apapun yang anda alami.

3 Pelaku

Mesin penggerak segala jenis stres ini terdiri dari 3 pelaku: keterpakuan pada ego, kemelekatan emosional, dan kebiasaan rutin. Jika anda merenungkan amarah anda, kemiskinan mental, jiwa kompetitif, dan keserakahan, anda akan menemukan ketiganya di sana. Jika anda menyelidiki siklus harapan-ketakutan yang anda rasakan, akan anda temukan bahwa merekalah penyebabnya.

Tiga serangkai ini bak mafia internal yang menuntut uang keamanan tiap hari. Begitu kita lupa diri dan hanya akrab dengan keakuan yang dinamakan ‘saya’, ’aku’, atau ’diri saya’, kita mengeluarkan segala negativitas kita – segala hasrat, ketidakacuhan, kebencian, dll. Begitu semua energi ini terlepas, kita mulai melakukan hal bodoh dan riskan. Kita menuai konsekuensi dari hal yang kita lakukan, dan siklusnya akan dimulai dari awal lagi karena kita akan bereaksi dengan cara yang riskan pula.

Pada dasarnya, sampai kita bisa menembus akar penopang-penopang utama dari stres yang kita alami dalam kehidupan, kita akan terus terlempar dari harapan ke rasa takut dan siklus 6 alam. Tingkat stres kita akan pasang-surut sehingga kita akan mengalami masa baik dan buruk, namun selalu akan ada stres yang bersembunyi dalam segala hal yang kita lakukan.

Stres dan Perkembangan

Mengenal stres tak hanya sekadar untuk mengurangi stres kita dan menjadi santai. Stres dalam jumlah tertentu dibutuhkan untuk berkembang, dan terkadang kita harus sengaja memosisikan diri kita di situasi yang akan membuat kita tertekan. Mudah sekali mencampuradukkan antara kepuasan atau kedamaian dengan kedamaian-semu dari kelembaman dan ketakutan untuk berubah. Guru besar seperti Nagarjuna dan Sakya Pandita mengatakan bahwa untuk belajar kita harus mendorong diri sendiri, dan untuk berkembang kita harus melepaskan diri dari kemudahan. Menurut Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan.” Sakya Pandita menulis, ”Saat belajar, mereka yang bijak akan menderita; Tanpa memaksakan diri, mustahil menjadi bijak”. Kenyataannya, tak ada yang namanya hidup yang bebas stres. Hidup adalah pergerakan, dan pergerakan diliputi tekanan. Tanpa stres, takkan ada jalan, kebijaksanaan, dan pencapaian. Ironisnya, tanpa stres, kita tak bisa merasa nyaman.

Menurut Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan”.

Chögyam Trungpa Rinpoche mendorong murid untuk mencari ‘sisi tajam’ dari sebuah pengalaman. Semua ini menunjukkan bahwa meski stres biasanya menjadi halangan, ia dapat pula menjadi katalis pertumbuhan. Trungpa Rinpoche secara rutin memosisikan muridnya di luar zona nyaman mereka dan mendorong mereka melakukan hal yang sama atas inisiatif sendiri. Ia terutama sekali mengkritik pendekatan yang selalu mencari kenyamanan (memakai baju longgar yang nyaman, berdiam di rumah ber-AC, atau menerima segala sesuatu begitu saja). Ia mengajarkan bahwa ketidaknyamanan bukan sesuatu yang mesti dianggap menyebalkan, melainkan justru sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga disiplin berkelanjutan.

Kita tak hanya harus membiarkan diri kita kadang-kadang tertekan, namun juga harus bisa membiarkan orang lain belajar dengan cara yang sama. Sulit melihat seseorang bergumul sendiri tanpa merasa khawatir dan ingin membantu. Seringkali, anda memang harus membantu. Tapi, realitas tak selalu semudah itu. Contohnya, saya dengar bahwa bila anda merasa kasihan pada kupu-kupu yang tengah berusaha melepaskan diri dari kepompongnya, dan anda ingin memudahkannya dengan membantunya keluar, kupu-kupu ini akan keluar sebagai sosok yang lemah dan mungkin sekali mati. Kupu-kupu butuh stres yang akan mendorongnya keluar sendiri untuk menjadi kuat dan mengeringkan sayap-sayapnya. Sama halnya, seorang tukang kebun ulung memberitahu saya bahwa ketika menanam tumbuhan muda, akan lebih baik bila tak memberinya penopang. Ia berkata bahwa apabila si tunas harus bertahan dari angin dan cuaca, akarnya akan menjadi lebih kuat dan sehat. Dengan contoh ini, sekali lagi, ada pengakuan bahwa perkembangan membutuhkan stres atau rasa sakit. Bunga dalam rumah kaca atau anak yang terlalu dimanja tak punya keterampilan yang cukup untuk bertahan hidup.

Jalan Tengah Stres

Jelaslah bahwa stres dalam jumlah tertentu adalah bagian alami kehidupan, namun seberapa banyak dan stres seperti apa? Bagaimana kita bisa menangani sesuatu yang menantang namun tak berlebihan?

Tradisi Buddhis mengakui realitas stres dan ketidaknyamanan. Penggambaran tentang stres, kepedihan, dan penderitaan yang mengiringi kita baik secara individual maupun kolektif dari awal sampai akhir adalah sesuatu yang realistis (meski tak membuat nyaman). Ajaran sederhana dari kebenaran agung yang pertama, kebenaran tentang penderitaan, mungkin justru yang paling sulit dimengerti dan diterima. Kita terus mengira bahwa dengan memperbaiki ini-itu, mengubah ini-itu, kita dapat menghindarinya. Kita terus berpikir bahwa kalau saja kita lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya, lebih berkuasa, tinggal di suatu tempat lain, lebih muda, lelaki, perempuan, lahir di keluarga lain – dan lain sebagainya – maka keadaan akan berubah. Tapi, keadaan akan tetap sama; segala sesuatu akan tetap seburuk sekarang juga! Karena tidak realistis bila mengharapkan kehidupan yang bebas stress, dan hal inipun memang tak baik juga, lebih masuk akal untuk belajar menghadapi stres yang akan muncul.

Dalam mengatasi stres kita harus mempertimbangkan kondisi yang tengah dihadapi dan bagaimana kita akan menyikapinya. Kadang kita bisa menghilangkan sebab dan kondisi yang membuat kita stres, tapi kadang tidak demikian. Karena itu, penting untuk bisa membedakan antara keduanya. Jika kita bisa mengubah situasi kita jadi lebih baik, kita harus melakukannya. Tak ada gunanya meratapi apa yang tak bisa kita ubah. Dalam situasi ini, kita harus mengubah sikap.

Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.

Kita harus bisa realistis dan jujur pada diri sendiri sehingga takkan menahan diri saat berbuat sesuatu, sementara di sisi lain, kita juga takkan melakukan sesuatu yang sia-sia. Dalam memandang situasi eksternal, kita tak perlu menutupi masalah atau memandang dunia dengan secara naif. Namun, anda juga tak perlu melarutkan diri dalam segala permasalahan dunia yang anda temukan di berita, atau terpaku pada segala keburukan yang anda temui di kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang bertanya pada guru besar Kamboja, Mahagosananda, ihwal caranya mempertahankan keceriaan dan ketenangannya dalam rezim Khmer Merah yang kejam dan mengerikan, ia tersenyum dan berkata, ”Hidup itu ada naik-turunnya”. Ada ajaran mendalam dalam pernyataan ini. Jika kita bersikap begitu, kita bisa melepas harapan-harapan besar kita tentang bagaimana seharusnya hidup kita berjalan. Kita akan jadi lebih bebas dalam menyikapi apapun yang kita hadapi. Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.

Sikap ini berbeda dari sikap pasif atau keterputusan dalam artian sikap acuh tak acuh, kepasrahan, dan fatalisme yang negatif. Sebaliknya, sikap ini membentuk interaksi cerdas dengan dunia, yang tak sekadar reaktif, yang realistis dan tak mengawang-awang. Meminjam ujaran dari Guru besar Mahayana, Shantideva, “Ketika anda bisa berbuat sesuatu, maka lakukanlah. Kenapa harus cemas? Ketika anda tak punya kemampuan atau situasi tak mendukung untuk berbuat apapun, kenapa cemas?” Khawatir dan stres takkan membantu siapapun.

Melatih Batin dan Hati

Yang saya sukai dari Buddhisme adalah kepraktisan dan optimismenya. Anda mungkin jenis orang yang gampang sekali mengalami stres, atau bisa jadi berkulit lebih tebal, atau bahkan tak sadar dengan keadaan sekitar. Yang jelas, anda takkan terjebak stres hanya karena terlahir dengan stres. Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.

Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.

Perkakas utama untuk melatih jiwa adalah praktik pikiran berkesadaran. Melalui praktik ini, anda belajar menenangkan pikiran dan menjinakkannya. Selagi anda memusatkan pikiran pada napas, anda menjadi semakin akrab dengan pikiran anda sendiri. Pikiran menjadi lebih kokoh, seolah beratnya bertambah dan tak lagi mudah goyah oleh terpaan-terpaan ringan. Amat menenangkan untuk tahu bahwa di tengah segala kerusuhan yang berlangsung dalam hati, dalam naik-turunnya kehidupan, selalu ada yang stabil dan bisa diandalkan terkait batin anda. Ketika keadaan menjadi sulit dan stres mulai mengambil alih diri anda, anda dapat menarik kekuatan dari dalam.

Bersama dengan pikiran berkesadaran, ada pula cara melatih hati agar menjadi lebih terbuka dan penuh welas asih. Praktik welas asih menarik anda dari diri sendiri dan mengingatkan anda tentang orang lain. Ketika anda merasa tekanan menghimpit dan menarik diri anda, anda bisa melawan godaan untuk menutup diri. Anda dapat melihat keadaan sekitar dan, melalui welas asih, meraih sudut pandang yang lebih luas.

Stres bertambah kuat ketika pikiran anda melayang dan tak stabil, dan semakin terasa ketika anda terpaku pada diri dan masalah-masalah anda sendiri. Praktik pikiran berkesadaran dan welas asih memberi anda jalan mengatasi permasalahan semacam ini. Tidaklah realistis untuk mengharapkan hidup yang bebas stres, namun ada kemungkinan besar untuk mengubah cara anda menyikapinya. Stres memunculkan kebiasaan buruk di dalam batin dan hati. Daripada menganggapnya sebagai musuh, anggaplah stres sebagai guru, dan bersyukurlah padanya.

(Sumber: Lionsroar.com | diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid)

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us