Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2025
    • Melampaui Gender: Potret Perempuan dalam Sutra Agama Buddha
    • Belajar Dharma dari Ne Zha 2
    • Kelahiran, Kematian, dan Kemanusiaan dalam Film Mickey 17
    • Agama Buddha dan Kemerosotan Moral
    • Lagu Titiek Puspa Yang Wajib Direnungkan
    • Brave Bang Bravern! adalah Anime Religi?
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Featured » Liputan Lamrim Talk – Ziarah ke Borobudur dengan Culture Route, Wisata Sekaligus Praktik Dharma
    Ziarah ke Borobudur dengan Culture Route, Wisata Sekaligus Praktik Dharma
    Ziarah ke Borobudur dengan Culture Route, Wisata Sekaligus Praktik Dharma

    Liputan Lamrim Talk – Ziarah ke Borobudur dengan Culture Route, Wisata Sekaligus Praktik Dharma

    0
    By itsupport on April 19, 2021 Berita, Featured, Wacana

    Borobudur sebagai destinasi wisata super prioritas semestinya dikelola sebagai wisata ziarah dengan konsep culture route. Nilai-nilai budaya dan keagamaan sebagai daya tarik utama akan tetap terjaga dan membuat Borobudur menjadi destinasi yang tidak ada duanya. Wisatawan yang hadir pun bisa mencakup peziarah, bukan hanya pengunjung umum.

    Hal ini disampaikan oleh Agus Hartono, pegiat pariwisata sekaligus Co-Founder Kelana Anantara Nusa, dalam acara “Lamrim Talk Seri Borobudur: Berziarah ke Borobudur Wisata atau Praktik” yang diselenggarakan Yayasan Pelestarian dan Pembangunan Lamrim Nusantara (Lamrimnesia) secara daring pada hari Minggu, 18 April 2021. Selain Agus, business professional dan dharmaduta Johnson Khuo juga menjadi narasumber dalam diskusi ini. 

    Contoh culture route yang sukses adalah Santiago de Compostela yang dirancang berdasarkan perjalanan spiritual Santo Yakobus dari Yerusalem ke Spanyol. Di Borobudur, Agus mengusulkan untuk menghidupkan kembali kata “Dharmawisata” yang pernah digagas oleh Soekarno.

    “Dharmawisata diposisikan sebagai perjalanan reflektif dan proses pencarian untuk mendapatkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran seperti yang diuraikan pada Candi Borobudur,” tutur Agus.

    Rancangan culture route untuk Dharmawisata Borobudur bisa dibuat berdasarkan relief Gandawyuha yang terukir di candi. Wisatawan melakukan napak tilas perjalanan Sudhana mencari sahabat spiritual seperti yang diceritakan dalam relief. Di sepanjang rute, misalnya, dibangun pos-pos dengan instalasi digital yang menampilkan panel relief dan informasi tentang budaya setempat bagi pengunjung umum dan informasi ritual bagi peziarah.

    Agus kemudian mengusulkan perubahan pembagian zonasi kompleks Borobudur untuk menjaga fungsi spiritual candi sekaligus membatasi jumlah wisatawan. Dengan demikian, keutuhan candi terjaga sesuai rekomendasi UNESCO. Saat ini, wisatawan bebas naik ke candi. Akibatnya, terjadi kelebihan kapasitas. Sementara itu, umat Buddha hanya bisa beribadah di area yang jauh dari candi.

    “Sebagai bagian dari pariwisata, saya dan teman-teman pun mengkritik hal ini. Kita harus benar-benar serius memfasilitasi dan mendampingi pengelolaan Borobudur ke depan yang main activity-nya adalah untuk ibadah,” tutur Agus lebih lanjut.

    Agus mengusulkan kompleks Borobudur dibagi sesuai fungsinya. Pertama, ada ruang sakral sekaligus zona konservasi yang memiliki fungsi agama yang sangat dibatasi. Kedua, ruang profan sebagai zona transisi dan pendukung untuk kegiatan dan aktivitas terbatas. Ketiga, ruang publik yang bebas digunakan untuk pariwisata, seni budaya, dan bisnis. 

    Agar ini bisa terwujud, Agus menambahkan, keterlibatan umat Buddha amat dibutuhkan. Sebab, merekalah yang memahami nilai-nilai ajaran yang terkandung dalam Candi Borobudur. Selama ini, pengembangan pariwisata di Borobudur mengandalkan interpretasi bebas dari perspektif arkeologi dan pariwisata serta mengesampingkan interpretasi spiritual dari perspektif Buddhis. 

    Jika ini terus dibiarkan, lanjut Agus, bisa saja anak cucu kita hanya mengenal Borobudur sebagai taman rekreasi. “Kita memerlukan sebuah penyeimbang, jalur budaya, dharmawisata yang benar-benar mengangkat nilai-nilai Borobudur sehingga orang akan tahu bahwa Borobudur adalah jejak adiluhung, nilai-nilai kebaikan, representasi dari Dharma,” tutur Agus.

    Johnson Khuo yang mewakili umat Buddha, juga menyetujui usulan Agus. Johnson memaparkan bahwa Buddhisme yang disimbolkan oleh Borobudur merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia. Dalam sejarah, Buddhisme pernah menjadi bagian dari sejarah Indonesia.

    Johnson mengutip arkeolog dan pakar Borobudur Prof. Noerhadi Magetsari yang menyebut Buddhisme di Nusantara yang berkembang pada masa pendirian Borobudur adalah ajaran yang “murni”. Ajaran itulah yang mengundang Atisha Dipankara Srijnana, biksu besar dari Bengal abad XI, belajar di Nusantara selama belasan tahun sebelum akhirnya membawa ajaran tersebut ke Tibet.

    “Identitas Buddhis ini yang harus kita jaga di Borobudur agar tidak berubah menjadi theme park,” kata Johnson.

    Sama halnya seperti Masjid Agung Demak yang luar biasa memiliki identitas sebagai situs Islamnya Indonesia dan Gereja Katedral Jakarta sebagai situs Katoliknya Indonesia, Borobudur juga harus dijaga identitasnya sebagai situs Buddhis Indonesia. Ini menjadikan Bhinneka Tunggal Ika betul-betul ada.

    Para pembicara juga mengapresiasi video dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengenai pembenahan Borobudur. Rancangan dharmawisata Gandawyuha culture-route tadi diharapkan bisa melengkapi narasi dari Gubernur Jateng tersebut yang masih banyak terfokus pada wahana hiburan dan belum menyentuh aspek filosofis Candi Borobudur.

    Johnson juga mengutip pernyataan guru besar arkeologi UGM, Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc. di situs Buddhazine.com. Menurut Prof. Timbul, Borobudur punya fungsi edukasi, ekonomi, dan yang paling penting, fungsi ideologi. Fungsi edukasi sudah mulai marak, misalnya lewat acara Sound of Borobudur yang mengangkat alat musik tradisional dalam relief. Fungsi ekonomi dan pariwisata juga tampak sedang dikejar oleh pemerintah. Tinggal fungsi ideologinya yang masih kosong dan seharusnya bisa diisi oleh umat Buddha.

    “Ini adalah kesempatan umat Buddha untuk berkontribusi bagi Indonesia dan dunia,” kata Johnson.

    Agama Buddha Indonesia borobudur buddhisme lamrim lamrimnesia Ziarah
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleDana Dharma Waisak untuk Anak Buddhis Indonesia
    Next Article Dilema Beribadah di Borobudur
    itsupport

    Related Posts

    Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis

    Agama Buddha dan Kemerosotan Moral

    Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri

    Leave A Reply Cancel Reply

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    April 30, 2025

    Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis

    April 25, 2025

    Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2025

    April 21, 2025

    Melampaui Gender: Potret Perempuan dalam Sutra Agama Buddha

    Store
    © 2025 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.