Serba-Serbi Lamrim 2: Motivasi Tingkat Awal

1

oleh: Dr. Alexander Berzin

Baca juga Serba-Serbi Lamrim bagian 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis bertahap

Tiga Tingkatan Motivasi dalam Dharma-sejati

Lamrim mempunyai 3 tingkatan motivasi:

  • Motivasi awal– Kita ingin memastikan bahwa kita dapat terlahir kembali dalam salah satu alam yang lebih baik, bukan hanya di kelahiran berikutnya, namun dalam semua kelahiran mendatang.
  • Motivasi menengah – Kita mempunyai motivasi untuk terbebas sepenuhnya dari kelahiran kembali yang tak terkendali (samsara); kita ingin mencapai pembebasan.
  • Motivasi agung – Kita ingin mencapai pencerahan sempurna atau Kebuddhaan demi menolong semua makhluk untuk terbebas dari samsara.

Sangatlah jelas bahwa setiap tingkatan motivasi didasarkan pada asumsi kelahiran kembali. Walaupun demikian, seperti yang telah dibahas sebelumnya, setiap metode yang disediakan dalam 3 tingkatan ini juga dapat diterapkan pada Dharma-ringan. Motivasi-motivasi ini tak boleh dianggap remeh, karena mereka adalah sesuatu yang sungguh luar biasa jika kita dapat mengembangkannya dengan tulus.

Mengatasi Sikap Mengasihani Diri Sendiri Dengan Menghargai Kehidupan Kita Sebagai Manusia Yang Berharga

Dengan motivasi tingkat awal, hal pertama yang harus kita sadari adalah penghargaan terhadap “kehidupan sebagai manusia yang berharga” yang kita miliki. Bahkan dalam Dharma-ringan pun, penghargaan ini sangatlah penting untuk mengatasi sikap mengasihani diri sendiri dan perasaan depresi yang muncul darinya. Kita membayangkan situasi-situasi buruk yang bisa saja kita alami, lalu berusaha untuk menghargai betapa beruntungnya kita karena tak harus mengalami situasi tersebut.

Terdapat banyak situasi buruk yang dapat ditemukan dalam penyajian standar ajaran, namun kita tak perlu membahas semuanya, karena kita dapat membayangkannya secara umum. Sebagai contoh, kita berpikir tentang betapa beruntungnya kita karena tidak hidup di daerah perang atau daerah yang sedang dilanda musim paceklik (yang membuat kita tak mampu memberi makan anak-anak kita). Kita berpikir tentang betapa beruntungnya kita karena tidak hidup di bawah sistem kediktatoran. Contoh ini mungkin lebih mudah dibayangkan oleh para orang tua di Rumania. Sungguh beruntung bahwa kita juga tidak cacat parah, baik secara mental, fisik, atau emosi. Dari sudut pandang Buddhis, kita juga harus merasa beruntung karena kita bukanlah seekor kecoa yang ingin dibunuh oleh semua orang.

Terdapat banyak percabangan dari cara berpikir seperti ini, dan ketika kita benar-benar meilihat diri sendiri secara objektif, kita benar-benar sangat beruntung karena telah memiliki semua kebebasan ini. Tak hanya merenungi semua kebebasan ini, kita juga harus sadar bahwa kita dapat kehilangan mereka kapan saja. Contohnya, apabila kita mengidap penyakit Alzheimer, kita tak lagi bebas melakukan segala sesuatu. Krisis ekonomi yang parah juga akan mengekang kebebasan kita dalam cara tertentu.

Di samping kebebasan-kebebasan ini, kita perlu melihat berbagai faktor yang memperkaya hidup kita. Sebagai contoh, kebanyakan dari kita relatif sehat. Tentunya kita dapat jatuh sakit, namun pada saat ini kita dapat berfungsi dengan baik. Ajaran yang diajarkan Buddha telah diturunkan dan masih tersedia hingga saat ini. Banyak guru dan buku yang dapat kita gunakan sebagai sarana pembelajaran. Jelas kita mempunyai banyak kesempatan yang tersedia untuk kita. Dalam situasi ini, kita perlu menyadari keberuntungan dan kekayaan yang kita miliki, dan benar-benar menghargai betapa beruntungnya kita.

Memikirkan Kematian dan Ketidakkekalan agar Kesempatan Kita yang Berharga Tak Menjadi Sia-sia

Poin berikutnya dalam cakupan awal adalah benar-benar memahami bahwa kehidupan kita yang berharga takkan bertahan selamanya. Hal ini tidak hanya terbatas pada fakta bahwa situasi berubah-ubah selama hidup kita, namun bahwa kita semua akan benar-benar mati. Banyak orang yang mencoba untuk mengabaikan kematian, dan kebanyakan masyarakat memandang kematian sebagai topik yang tabu. Kita benar-benar tidak menerima kenyataan bahwa pada suatu saat kita semua akan mati. Ini termasuk orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang kita kenal, dan diri kita sendiri. Inilah kenyataan.

Terdapat banyak alasan untuk mendukung fakta bahwa kita pasti akan mati. Semua orang yang pernah hidup telah mati, jadi mengapa kita berbeda dari mereka? Sebab utama dari kematian adalah kelahiran; jadi, apabila kita telah mengalami kelahiran, kita juga akan mengalami kematian. Tubuh ini cukup lemah dan akan mulai melemah ketika kita menua. Tubuh ini tidak sekuat yang sering kita kira, malahan mudah sekali terluka dan sakit. Kita perlu meyakinkan diri kita mengenai hal ini secara logis sehingga secara perlahan ia akan meresap hingga ke tingkat emosional.

Sebagai tambahan dari fakta bahwa kita pasti akan mati, kita punya poin kedua: kita tak tahu kapan kita akan mati. Kita tidak mesti menjadi tua atau sakit untuk mati; banyak orang muda dan sehat yang mati jauh sebelum orang tua maupun orang yang sakit. Belakangan ini, sering terjadi kecelakaan pesawat yang besar, namun tak ada satu pun penumpang dalam pesawat yang bakal menyangka bahwa pesawat tumpangan mereka akan jatuh. Kita juga bisa tertabrak oleh bus kapan saja. Teman dekat saya, berumur 54 tahun dan sedang dalam kondisi sehat, meninggal secara mendadak karena serangan jantung dua minggu yang lalu.

Terdapat banyak sekali alasan yang mendukung fakta bahwa kematian bisa datang kapan saja. Kematian tak akan menunggu kita hingga kita menyelesaikan perkerjaan kita, atau menghabiskan makanan kita, atau apa pun yang sedang kita lakukan. Kita tak dapat mengatakan pada kematian, “Tunggu sebentar, biarkan saya menyelesaikan ini terlebih dahulu.” Ketika kematian datang, kehidupan kita pun berakhir begitu saja. Ketika jangka hidup kita berakhir, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk memperpanjangnya. Kita tak dapat menyogok kematian. Kita dapat menggunakan mesin pendukung kehidupan untuk membantu tubuh kita, namun apalah gunanya bertahan dengan kondisi tersebut, karena pada akhirnya hidup kita toh akan berakhir juga.

Poin ketiga mengenai kematian adalah mencari apa yang dapat membantu kita ketika kita berada di ambang kematian. Kita tidak dapat membawa uang sepeser pun, teman, atau keluarga bersama kita. Bahkan walaupun kita membangun sebuah piramida dan memerangkap mereka semua di dalam sana bersama kita ketika kita mati, mereka tetap tidak akan bersama kita. Dari sudut pandang Buddhis, apa yang sebenarnya dapat membantu kita ketika kita mati adalah kebiasaan positif yang kita bangun dalam arus batin kita.

Mungkin kita telah banyak melakukan hal positif dan membantu orang lain, atau mungkin kita telah banyak mengurangi amarah, keserakahan, dst. Hal ini akan berjejak pada arus batin kita. Dari sudut pandang Dharma-ringan, kita akan mati tanpa penyesalan dan merasa bahwa kita telah menjalani kehidupan yang bermanfaat dan positif, terutama jika kita telah merawat orang yang kita cintai atau, dalam skala yang lebih besar, telah memberi kontribusi bagi masyarakat. Kita akan memperoleh ketenangan batin sembari berpikir, “Saya telah menjalani hidup yang baik dan bermanfaat.”

Terkait Dharma-sejati, kita akan mati dengan keyakinan bahwa kebiasaan, kecenderungan, dan insting positif yang berada dalam arus batin kita akan berlanjut hingga kehidupan mendatang. Kita akan mati dengan perasaan, “Dalam kehidupan mendatang, saya akan kembali mendapatkan kehidupan sebagai manusia yang berharga. Saya akan dilahirkan sebagai anak yang mempunyai insting positif.” Kita dapat mengamati hal ini pada anak kecil. Beberapa anak selalu menangis dan marah, sedangkan yang lain selalu tenang dan baik kepada orang lain. Ini adalah hasil dari kebiasaan positif yang telah mereka bentuk dari kehidupan sebelumnya. Ketika kita mempunyai pikiran yang tenang saat kita mati, hal ini akan sangat membantu. Jumlah uang yang kita miliki di dalam bank tidak akan memberi kita kenyamanan sedikit pun, karena pada saat kita mati semua itu hanya akan menjadi angka-angka pada layar komputer.

Memeditasikan Kematian

Menimbang hal-hal di atas, kita harus mulai memeditasikan kematian, di mana kita membayangkan bahwa hari ini adalah hari terakhir kita. Kita bertanya pada diri sendiri: apakah saya siap untuk menerima kematian yang bisa datang kapan saja? Apakah saya akan menyesali cara saya menjalani hidup jika saya mati hari ini?  Poin ini bukan untuk membuat kita depresi, namun untuk mendorong kita menggunakan kehidupan manusia yang berharga ini dan semua kesempatan yang kita punya sekarang dengan baik. Itulah tujuan dari meditasi ini. Tujuannya bukan sekadar membuat kita merasa semakin tua setiap harinya, namun agar kita sadar bahwa kita semakin dekat dengan kematian kita. Setiap hari yang dilewati berarti satu hari yang berkurang dari jangka hidup kita. Waktu semakin habis dan kita tidak tahu berapa banyak yang masih kita miliki. Jadi, kita harus menggunakan hidup kita sebaik mungkin, bukannya malah menghabiskan waktu kita dengan sia-sia. Sungguh sebuah kondisi mental yang sangat buruk jika kita mati dengan kesadaran bahwa kita telah menyia-nyiakan hidup kita, dan penyesalan bahwa seharusnya kita bisa mencapai sesuatu yang lebih baik.

Kita harus membangun kondisi mental saya takkan menyia-nyiakan kesempatan saya” dengan seimbang. Kita tak boleh menjadi fanatik yang hidup dalam ketakutan, yang bermeditasi tanpa henti karena dikejar rasa takut. Kita butuh bersantai dan beristirahat agar kita punya energi yang cukup untuk melanjutkan praktik kita. Kutipan Zen yang paling saya sukai adalah: “Kematian dapat hadir kapan pun. Santai saja.” Jika kita memikirkan hal ini, tentu saja ia benar. Ya, kita dapat mati kapan saja, namun menjadi gelisah dan fanatik karenanya hanya akan menjadi sebentuk penyiksaan diri.

Pesan utamanya adalah untuk memanfaatkan kehidupan berharga sebagai manusia yang kita miliki dengan baik, namun kita harus melakukannya dengan seimbang. Kita boleh saja bersantai ketika kita membutuhkannya, atau jujur pada diri sendiri kalau kita sedang malas. Yang penting, kita harus mencoba mengingat motivasi kita.

Jelasnya, memeditasikan kematian dapat diterapkan baik pada Dharma-ringan maupun Dharma-sejati. Contohnya, ketika terdapat beberapa hal yang belum kita lakukan, seperti memberitahu seseorang bahwa kita menyayanginya dan menghargai apa yang telah ia perbuat, atau meminta maaf dan berbaikan dengan orang lain, makan jangan tunggu lagi. Orang itu bisa saja mati esok harinya, dan kita bisa saja mati esok harinya. Inilah pelajaran Dharma-ringan yang bisa kita peroleh dari memeditasikan kematian. Hal ini sangat berguna dan membantu dalam berbagai hal; jangan menolak kematian, namun bersiap-siaplah untuk menghadapinya. Kita bahkan dapat menvisualisasikan kematian dan pemakaman kita sendiri, yang mungkin dapat membantu untuk membuatnya terasa lebih nyata bagi kita. Yang penting, jangan sampai kita menjadi sakit dan depresi karenanya!

Mengembangkan Rasa Takut untuk Mengalami Kelahiran di Alam Rendah (yang Bisa Saja Terjadi Setelah Kematian Kita)

Kita kemudian dapat mengamati apa yang terjadi setelah kita mati. Dalam Lamrim, terdapat berbagai kelahiran di alam rendah yang mungkin saja kita alami, dan alasan mengapa hal ini perlu dianggap serius. Sekali lagi, poin ini sama sekali tidaklah mudah untuk dipahami, karena Buddhisme tak hanya mengenal kelahiran kembali sebagai binatang, namun juga bentuk-bentuk lainnya yang tak terlihat oleh kita.

Ketika kita mempertimbangkan kelahiran kembali sebagai binatang, kita perlu mengingat bahwa hal ini termasuk semua jenis serangga, ikan, dan spesies lainnya. Terdapat banyak contoh ihwal betapa buruknya kelahiran sebagai binatang, di mana kita akan mengalami segala bentuk ketakutan dan penderitaan. Ketika kita berpikir mengenai kelahiran kembali sebagai binatang, jangan membayangkan kehidupan seekor anjing poodle dengan cat kuku yang tinggal di rumah besar. Sebaliknya, pikirkan kecoa dan tikus yang dijijiki oleh banyak orang, atau serangga-serangga kecil dan ikan yang dimakan hidup-hidup oleh hewan yang lebih besar, dan tentunya hewan-hewan yang dipelihara untuk disembelih di rumah jagal.

Emosi yang dibangkitkan terkait kemungkinan ini sering disebut sebagai “ketakutan”, namun saya kurang yakin apakah itu adalah kata yang tepat, karena ia menyiratkan ketidakberdayaan, seolah-olah tak ada yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya. Namun kenyataannya, kita dapat melakukan sesuatu untuk menghindarinya, dan inilah alasan kenapa saya lebih suka istilah “kengerian”, yang masih menyiratkan kemampuan kita untuk menghindar.

Sebagai contoh, anggaplah kita mesti menghadiri rapat bisnis yang sangat membosankan. Kita ngeri untuk menghadirinya. Rapat tersebut akan sangat membosankan dan buruk, namun kita tidak takut untuk menghadirinya; kita hanya merasa ngeri. Emosi inilah yang harus kita bangkitkan. Kita mempunyai hidup yang sangat penting dan bisa hilang kapan saja, sehingga kita mesti menggunakannya sebaik mungkin untuk memastikan bahwa kita tidak terlahir sebagai seekor kecoa pada kehidupan selanjutnya. Akan sangat buruk untuk menjadi seekor kecoa, dan karena kita benar-benar tak ingin hal itu terjadi, kita tentu harus melakukan sesuatu untuk menghindarinya.

Dalam Dharma-sejati, kita tak hanya membahas kelahiran kembali sebagai binatang, namun juga kelahiran kembali di alam neraka dan sebagai setan. Kita tak perlu malu untuk menyertakannya; tidaklah adil bagi Buddhisme untuk menyembunyikan penjelasan ini. Sebaliknya, kita boleh berpikiran terbuka dan mengatakan, “Saya tidak begitu memahami hal ini.”

Bagaimana Cara Memahami Kondisi Kelahiran Kembali Sebagai Non-Manusia

Kita dapat mengaitkan hal ini dalam hal aktivitas mental, atau dengan kata lain, setiap momen di mana kita mengalami sesuatu. Dalam setiap momen, kita melihat, mengetahui, dan berpikir mengenai sesuatu, dsb. Terdapat suatu bentuk perasaan bahagia dan sedih yang menyertai setiap momen yang kita alami. Hal inilah yang sebenarnya membedakan kita dari komputer. Terdapat aneka informasi dalam komputer, namun komputer tak merasa bahagia atau sedih, dan komputer tak benar-benar mengalami semua informasi yang disimpannya. Fakta bahwa kita mempunyai perasaan bahagia dan sedihlah yang menandakan pengalaman, dan gambaran dari perasaan bahagia dan sedih sangatlah luas. Seberapa luasnya gambaran yang dapat kita alami bergantung pada perangkat keras kita, dengan kata lain, jenis tubuh yang kita miliki.

Hal ini dapat dimengerti tak hanya dalam artian kebahagiaan dan kesedihan, namun juga terkait dengan semua panca indra kita. Beberapa orang dapat melihat lebih jauh dari yang lainnya, beberapa orang dapat mendengar lebih baik dari yang lainnya, dan beberapa orang lebih tahan terhadap panas dan dingin dari yang lainnya. Perihal hewan, seekor anjing dapat mendengar frekuensi yang lebih tinggi dari manusia karena anjing mempunyai jenis tubuh berbeda dengan manusia; perangkat keras yang berbeda mensyaratkan perangkat lunak yang berbeda. Seekor elang dapat melihat lebih jauh dengan mata elangnya daripada apa yang dapat kita lihat dengan mata manusia kita. Jika kemampuan panca indra tiap makhluk saja bervariasi, mengapa kita tak bisa membayangkan bahwa gambaran bahagia dan sedih juga bervariasi?

Perangkat keras manusia yang kita miliki hanya dapat merasakan gambaran kebahagiaan dan kesedihan tertentu, dan juga kenikmatan dan kesakitan tertentu. Rasa sakit yang terlampau luar biasa akan mengirimkan sinyal pada tubuh untuk mematikan indra dan membuat kita jatuh pingsan. Rasa nikmat dalam bentuk gatal terlalu intens sehingga kita mesti menggaruknya. Rasa nikmat dalam hubungan seksual juga setali tiga uang; saking nikmatnya, kita terpaksa harus menghentikannya melalui mekanisme orgasme. Jadi, secara logis, sangat mungkin terdapat jenis perangkat keras lain yang bisa mengalami lebih banyak penderitaan, kenikmatan, kebahagiaan, dan kesakitan. Mengapa tidak?

Isunya hanya perangkat keras yang kita miliki dalam setiap kehidupan kita. Apa yang bisa kita terima bergantung pada jenis tubuh yang kita miliki. Ini adalah cara yang logis untuk mencoba berpikiran terbuka dan mempertimbangkan bentuk kehidupan lainnya yang digambarkan dalam Buddhisme, yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Kita tidak dapat melihat amuba, namun melalui mikroskop, kita dapat melihat dan menerima mereka sebagai suatu bentuk kehidupan. Sama halnya, kita tidak dapat melihat hantu, namun melalui perkembangan pikiran, mungkin saja kita akhirnya bisa melihat mereka.

Versi Dharma-ringan menyederhanakan semua alam lain ke dalam pengalaman manusia. Sebagai contoh, seseorang bisa saja sedang mengalami kekacauan mental, seolah-olah mereka sedang berada di dalam neraka. Hal ini dapat membantu membangkitkan rasa simpati terhadap makhluk neraka dan keinginan untuk tidak menjadi seperti mereka di masa depan. Ini adalah fungsi yang bagus dari Dharma-ringan. Tetapi, Dharma-sejati tidak hanya membahas mengenai pengalaman manusia, namun juga semua jenis pengalaman – kebahagiaan, kenikmatan, dst – yang bisa dialami oleh arus batin dalam tiap masa kehidupan. Dengan cara ini, kita bisa terhindar dari jenis pengalaman buruk di kehidupan mendatang, dan tentunya kita tak ingin mengalami mereka, bukan?

Apakah ada cara untuk menghindarinya? Inilah pertanyaan pentingnya! Pertama-tama, kita harus mempunyai arah yang positif dalam hidup yang akan memungkinkan kita menghindari kelahiran kembali di alam rendah. Arah positif ini bahkan akan sekalian menuntun kita menuju pembebasan dan pencerahan.

Menuntun Hidup ke Jalan yang Benar: Berlindung

Saya tak begitu menyukai istilah “perlindungan,” yang kesannya sedikit terlalu pasif, seolah-olah kita mendatangi Buddha sebagai penyelamat, “O Buddha, selamatkanlah saya!” Kita juga bukan hewan yang dibawa ke suaka margasatwa. Kita sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat aktif, yang sama sekali tidak pasif. Saya lebih suka melukiskannya sebagai memberikan “jalan yang benar” bagi hidup kita; jika kita menjalani jalan ini, kita akan melindungi diri kita dari kelahiran kembali di alam rendah, sekaligus kelahiran kembali yang tak terkendali, dan juga ketidakmampuan untuk membantu orang lain seefektif mungkin.

“Dharma,” sebuah istilah yang biasanya diartikan sebagai ajaran Buddha, sebenarnya merujuk pada cara yang bersifat mencegah. Ia adalah sesuatu yang kita tanamkan dalam diri kita sendiri untuk mencegah atau menghindari masalah dan penderitaan yang akan datang. Kita mencerap cara ini dalam hidup kita untuk menghindari kelahiran kembali di 3 alam rendah, kelahiran kembali yang tak terkendali, dan juga ketidakmampuan untuk membantu orang lain seefektif mungkin.

Apakah jalan yang diindikasikan oleh Buddha? Jalan ini sebenarnya adalah jalan yang telah dicapai oleh Buddha sendiri, yaitu penghentian total dari semua halangan, kekurangan, kebingungan, dan klesha. Pada saat yang bersamaan, Buddha telah mencapai seluruh potensi positif yang dimiliki oleh batin. Inilah jalan yang kita maksud. Inilah yang sebenarnya kita maksud ketika kita berbicara tentang jalan yang benar dalam permata Triratna yang penting dan langka. Dharma adalah apa yang sebenarnya telah dicapai oleh Buddha dan ajaran beliau tentang kemungkinan kita semua untuk juga mencapai hal yang sama. Buddha menunjukkan bahwa seseorang, yakni dirinya sendiri, telah mencapainya secara keseluruhan. Di sisi lain, Sangha bukan hanya orang-orang yang berada di biara atau pusat-pusat Buddhis, atau bahkan sebuah komunitas biara. Sangha, sebagai bagian dari Triratna, merujuk pada orang-orang yang mempunyai realisasi tinggi, yang telah mencapai sebagian dari apa yang telah Buddha capai secara keseluruhan.

Jadi, inilah yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Kita harus meletakkan jalan yang benar ke dalam hidup kita dengan tulus; inilah yang sedang kita kerjakan. Kita bekerja untuk mencapai apa yang telah dicapai oleh Buddha, jalan yang telah diikuti oleh Buddha sepenuhnya, dan cara yang sebagiannya telah dilakukan oleh Sangha. Menapaki jalan ini akan membawa perubahan besar dalam setiap tingkatan hidup kita, karena sekarang hidup kita mempunyai arti dan tujuan. Kita bekerja untuk menghilangkan kekurangan kita dan menyadari potensi kita. Jika kita menempuhnya, maka secara umum kita akan menjadi lebih bahagia secara emosional, karena kita takkan lagi berpikir, “Saya tak tahu apa tujuan dari hidup ini. Saya tak tahu apa yang saya lakukan di sini; hidupku tak bermakna.” Itu adalah kondisi mental yang sangat buruk, dan ketika orang memiliki kondisi mental macam ini, jamaknya hidup mereka hanya berputar di sekitar uang. Walaupun terdengar klise, kenyataannya: “uang tak dapat membeli kebahagiaan.”

Menghindari Perilaku yang Merusak

Sekarang, kita telah mempunyai jalan yang benar dalam hidup kita. Dengan basis ini, bagaimana caranya menghindari kelahiran kembali di alam rendah? Dengan menghindari perilaku yang merusak, baik secara fisik, ucapan, maupun mental. Artinya, kita mencoba untuk menghindari ketiga hal tersebut ketika kita sedang di bawah pengaruh klesha seperti amarah, keserakahan, kemelekatan, kenaifan, kecemburuan, keangkuhan, dst. Cara yang terbaik untuk memanfaatkan tubuh manusia yang berharga ini, dalam tingkatan pemula, adalah dengan menghindari berbuat, berbicara, dan berpikir dengan cara yang merusak.

Namun, kita perlu melakukan hal ini menurut kerangka Buddhis. Secara umum, semua agama mengajarkan untuk tidak berperilaku merusak seperti membunuh atau mencuri, namun dalam Buddhisme, semua itu bukanlah semacam hukum atau aturan. Etika Buddhis tidak dilandasi oleh kepatuhan pada hukum atau aturan seperti: “Patuhilah hukum, atau Anda akan dihukum.” Lagipula, dalam hukum atau aturan sipil, kita bisa menawarkan sogokan atau menyewa seorang pengacara yang andal untuk menghindari hukuman. Selain itu, ketika kita menaati hukum atau aturan, bukan berarti kita adalah orang yang baik, dan sebaliknya, tahanan di dalam penjara tak mesti digolongkan sebagai orang jahat. Kepatuhan bukanlah basis dari etika Buddhis.

Menerapkan Sikap yang Membangun

Sangatlah penting untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sikap yang membangun dalam Buddhisme. Kita dapat memahaminya melalui perspektif perilaku yang merusak. Contohnya, berburu hewan adalah sebentuk pembunuhan. Namun, jika kita tidak pernah berburu atau tidak memiliki ketertarikan untuk berburu, bukan berarti kita sudah memiliki sikap yang membangun. Sikap yang membangun merujuk pada ditekannya keinginan untuk membunuh seekor nyamuk, karena kita mengerti bahwa jika kita melakukannya, itu semata karena amarah dan egoisme. Sebagai tambahan, kita tahu bahwa jika kita membunuh nyamuk tersebut, kita akan menciptakan kebiasaan yang sangat kuat untuk menghadapi apa pun yang tidak kita sukai dengan cara membunuhnya. Jadi, daripada menepuk nyamuk tersebut, kita berdamai dengannya; kita bisa menangkapnya dalam sebuah cangkir lalu membawanya keluar. Inilah sikap yang membangun. Kita menahan diri karena kita memahami hukum karma. Sikap yang demikian membentuk potensi positif yang kuat di dalam batin kita.

Terdapat tingkatan yang lebih tinggi dari sikap ini, yakni: alih-alih membunuh nyamuk tersebut, kita malah memberinya makan. Kita bisa saja mengizinkannya mencicipi sedikit dari darah kita. Lagipula, kita mempunyai banyak darah. Hanya ada sedikit orang yang telah saya temui yang dapat melakukan hal tersebut. Intinya, sekadar tak pernah berburu bukanlah sebuah sikap yang membangun.

Basis dari Etika Buddhis adalah Memahami Hakikat Hukum Karma

Dalam Buddhisme, keseluruhan basis etikanya adalah pemahaman bahwa tindakan tertentu akan menciptakan akibat tertentu, serta pembedaan antara tindakan yang berbahaya dan yang membantu. Sebagai contoh, jika kita bertindak dalam cara yang merusak, hal ini akan menyebabkan kondisi mental yang tidak bahagia. Kita bertindak seperti ini karena kebingungan kita sendiri. Pertama, kita mungkin tidak tahu bahwa jika kita bertindak dalam cara yang merusak, sebenarnya kita sedang merusak atau merugikan diri sendiri, seperti ketika kita kecanduan narkoba atau minuman keras. Sebagai tambahan, kita mungkin saja mempunyai pemikiran yang salah bahwa jika kita mabuk setiap saat, kita akan dapat menghindari masalah kita.

Jadi, dengan memahami basis etika Buddhis, kita menyadari bahwa perilaku yang merusak bukanlah disebabkan oleh hakikat kita sebagai orang jahat, melainkan oleh kebingungan kita sendiri. Jadi, ketika orang lain bertindak dalam cara yang merusak, mereka bukanlah orang jahat yang pantas dihukum; mereka hanya individu yang menderita dan diganggu oleh klesha. Orang seperti ini haruslah menjadi objek dari welas asih kita, dan kita harus membantu mereka untuk menghilangkan kebingungan tersebut. Ya, kita mungkin harus mengurung mereka jika terdapat kemungkinan bahwa mereka akan membahayakan orang lain, namun ini pun harus dilakukan dengan kondisi mental yang berbeda. Kita tak perlu menghukum atau menyakiti mereka, namun harus mencoba untuk menolong mereka sebisa mungkin. Jika kita tidak membantu mereka kembali ke jalan yang benar, mereka akan terus menyimpan kecenderungan untuk berperilaku merusak di kehidupan mereka yang berikutnya, dan akan terus menderita.

Namun, pada tingkatan awal, kita lebih fokus pada diri kita sendiri dan berupaya menghindari situasi buruk di masa yang akan datang; fokus Dharma-ringan adalah kehidupan saat ini, dan fokus Dharma-sejati adalah kehidupan yang akan datang. Kita bisa memulai dari tingkatan yang kita rasa cocok dengan situasi kita, dan tepatnya, beginilah caranya kita menggunakan kehidupan sebagai manusia yang berharga ini, yakni dengan menemukan jalan yang benar. Kita mulai menghargai hidup ini karena kita tahu bahwa kita dapat kehilangannya kapan saja, dan kita ingin memastikan bahwa kita bisa terus memperoleh kehidupan sebagai manusia yang berharga ke depannya.  Kita butuh kehidupan sebagai manusia karena akan memakan waktu yang sangat lama sebelum kita dapat mencapai tujuan utama kita: pembebasan dan pencerahan. Ibarat Dharma-ringan yang menjadi langkah awal menuju Dharma-sejati, cakupan awal yang sedang kita bahas kali ini adalah langkah awal menuju cakupan menengah dan agung.

Ringkasan

Motivasi awal dimulai dengan menghargai kehidupan kita sebagai manusia yang berharga ini. Kita memiliki tubuh ini, kita mempunyai kesempatan ini, dan di atas segalanya, kita mempunyai kecerdasan seorang manusia; hampir tak ada yang tidak dapat kita capai jika kita benar-benar mau berusaha.

Situasi luar biasa yang sedang kita alami ini tidak akan bertahan selamanya. Tak peduli seberapa kaya kita, atau seberapa terkenalnya kita, atau seberapa banyak teman yang kita punya, atau seberapa kuatnya tubuh kita, kita tetap akan mati. Lebih buruk dari itu, juga tidak ada cara untuk mengetahui kapan waktu kita di dunia ini akan habis. Jika kita benar-benar menyadari kematian, maka mustahil kita dapat hidup dalam sebuah kehidupan yang ‘normal’.

Ketika kita melihat bahwa hidup ini sungguh rapuh dan dapat berakhir kapan saja, kita akan mulai berpikir tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Karena terdapat begitu banyak kondisi yang memungkinkan, dan kebanyakan dari mereka sungguh mengerikan (dan sangat mungkin menjadi kehidupan kita yang berikutnya), tak ada solusi selain membentangkan jalan yang benar bagi hidup kita.

Jalan yang benar ini mendesak kita untuk menahan atau menjauhkan diri dari perilaku merusak yang akan menyebabkan penderitaan di masa mendatang, serta melibatkan diri pada perilaku membangun yang akan menyebabkan kebahagiaan di masa mendatang. Dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa kehidupan mendatang kita berada dalam kondisi yang lebih baik.

Sumber: studybuddhism.org | diterjemahkan oleh: WIlliam Kristanto | disunting oleh: Stanley Khu

Share.

About Author

WhatsApp us