<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>welas asih - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/welas-asih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Mar 2022 08:11:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>welas asih - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2022 08:55:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[6 praktik pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Atisha]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Sesajen]]></category>
		<category><![CDATA[warisan budaya]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6813</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Praktik sesajen adalah bentuk ungkapan syukur dan cara berkomunikasi dengan alam sejak zaman leluhur hingga kini. Praktik ini juga ada dalam tradisi Buddhis Nusantara, lho!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Jumat (18/2) Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) mengadakan Lamrim Talk via aplikasi Zoom dengan tajuk “Apakah Persembahan Sama dengan Sesajen?” bersama Sramanera Guna Sagara sebagai narasumber dan Stiven Piu sebagai moderator.&nbsp;</p>



<p>Sebelum acara dimulai, moderator mengungkapkan terlebih dahulu alasan diselenggarakan acara ini. Stiven menuturkan bahwa pertengahan Januari lalu, kita sempat dihebohkan dengan video viral seorang pria yang menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru. Pria tersebut juga mengatakan kalau sesajen dapat membuat Tuhan murka dan menjadi pemicu erupsi gunung tersebut. Hal ini menyebabkan pria tersebut ditangkap oleh polisi. Banyak pihak yang mengatakan pria ini dianggap tidak menghargai tradisi Indonesia berhubung sesajen sudah menjadi bagian dari budaya Nusantara sejak lama.</p>



<p>Menanggapi peristiwa tersebut, Sramanera Guna Sagara berkata, “Ada sekelompok orang yang protes, nggak terima kejadian ini terjadi. Sebenarnya praktik sesajen ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan pemuda itu.”</p>



<p>Menurut Sramanera, kasus ini menyinggung banyak pihak yang masih peduli dengan budaya, identitas kebangsaan, dan kebhinekaan. Bahkan Beliau juga menambahkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh pria tersebut bisa menyinggung leluhur bangsa Indonesia. Apalagi praktik sesajen yang berlangsung tidaklah seperti yang diungkapkan pria itu.</p>



<p>Terkait dengan ungkapan Sramanera tentang “menyinggung leluhur bangsa Indonesia”, Beliau kemudian menjelaskan bahwa bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari praktik persembahan. Sebelum pasar berkembang seperti saat ini, para leluhur mengandalkan alam untuk memperoleh makanan demi menunjang kehidupan. Mereka juga memiliki keyakinan besar terhadap kekuatan alam dan dewa yang telah membantu kehidupan manusia. Karena itu, para leluhur memberikan sesajen sebagai berkomunikasi dengan alam, khususnya untuk mengungkapkan rasa syukur tersebut.&nbsp;</p>



<p>Bagi Sramanera, praktik sesajen untuk mengungkapkan rasa syukur ini adalah bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki hati yang baik. Tidak hanya berlaku di masa lampau, praktik seperti ini pun masih bisa kita temui di banyak kebudayaan di Nusantara masa kini, misalnya di Pulau Bali.</p>



<p>Penulis: Junarsih</p>



<h4><strong>Persamaan Persembahan dan Sesajen</strong></h4>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kata sesajen berasal dari bahasa Jawa Kuno. Kata dasarnya adalah saji, yang berarti sesuatu yang dipersiapkan, dipersembahkan dalam bentuk makanan, buah, dan sebagainya. Persembahan sendiri adalah sesuatu yang dihaturkan pada makhluk yang statusnya lebih tinggi,” ujar Sramanera.</p></blockquote>



<p>Persembahan dan sesajen sama-sama disiapkan terlebih dahulu sebelum dihaturkan pada objek penerimanya. Akan tetapi dalam teks Jawa Kuno, “sesajen” lebih umum digunakan dibanding “persembahan” karena tidak ada pembagian untuk leluhur yang posisinya lebih tinggi atau tidak. Lebih lanjut, Sramanera merujuk dua teks Jawa Kuno, Adi Parwa dan Ramayanam, yang membahas sesajen dan persembahan.&nbsp;</p>



<p>Dalam teks Adi Parwa dikatakan: <em>dupadipa suganda vastralangkala sasajening abhiseka</em> yang artinya bahwa dupa, wewangian, pakaian, perhiasan adalah sesajian dalam abhiseka. Sedangkan dalam teks Ramayanam dikatakan: <em>sajining yatna tarumadang sriweksa samidapuspa gandapala </em>berarti kayu sriweksa, kayu bakar, bunga, wewangian, dan buah-buahan adalah sesajian.&nbsp;</p>



<h4><strong>Negeri Tibet Berutang pada Indonesia Perihal Praktik Persembahan</strong></h4>



<p>Ternyata, budaya persembahan di Nusantara juga menyebar sampai ke negeri Tibet. Sramanera menceritakan pada abad ke-11, seorang guru Dharma termasyhur bernama Guru Atisha berangkat dari India menuju Serling (Sumatera saat ini). Di sana, Beliau bertemu dengan Guru Besar Serlingpa Dharmakirti. Selama belajar di Serling, Guru Atisha memperoleh banyak hal, salah satunya adalah pengetahuan tentang praktik persembahan.&nbsp;</p>



<p>Praktik persembahan yang diajarkan Guru Dharmakirti kini dikenal dengan sebutan <em>Jorchoy</em> atau Praktik Pendahuluan, yaitu serangkaian praktik pemurnian dan pengumpulan kebajikan untuk mengawali hari. Guru Atisha belakangan kembali ke India, lalu pergi ke Tibet dengan membawa ajaran praktik persembahan ini dan dipraktikkan hingga sekarang serta menyebar ke seluruh dunia bersamaan dengan menyebarnya Buddhisme Tibet.</p>



<p><em>Cari tahu lebih lanjut tentang praktik persembahan warisan Guru Dharmakirti </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Awali_Harimu_Dengan_Ini_Sebuah_Meto?id=je9DEAAAQBAJ"><em>di sini</em></a><em>!</em></p>



<h4><strong>Persembahan yang Dilakukan Seorang Buddhis</strong></h4>



<p>Ajaran praktik persembahan telah ada sejak masa Guru Besar Serlingpa Dharmakirti, sehingga bisa dikatakan bahwa praktik ini juga merupakan bagian dari tradisi Buddhis. Sramanera berpendapat kalau persembahan dalam Buddhis itu sangat luas maknanya dan mudah dilakukan. Misalnya seseorang bisa mempersembahkan waktu dan tenaga untuk beraktivitas demi kepentingan semua makhluk. Bisa juga melalui persembahan makan dan minum.</p>



<p>Sramanera menambahkan bila seorang Buddhis hendak melakukan persembahan, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membangkitkan motivasi bajik. Dengan motivasi tersebut, praktisi membersihkan ruangan dan tempat untuk melakukan persembahan. Setelah bersih barulah persembahan untuk Guru dan Buddha sebagai ladang kebajikan diletakkan. Selanjutnya, praktisi bisa mulai melantunkan doa-doa seperti Doa Tujuh Bagian serta memanjatkan permohonan.&nbsp;</p>



<p>Permohonan terhadap Guru dan Buddha bertujuan agar kita mencapai kondisi matang untuk praktik Dharma. Saat melantunkan permohonan ini, kita harus memiliki keyakinan bahwa ladang kebajikan benar-benar hadir di hadapan kita. Dengan berkeyakinan penuh saat membuat permohonan, maka praktik persembahan yang kita lakukan akan membuahkan hasil.</p>



<p>Di akhir acara, Beliau menjawab sebuah pertanyaan yang menarik, yaitu berapa lama sebaiknya persembahan dihaturkan di altar. Beliau kemudian berkata, “Kalau bisa ganti dalam tiap berapa menit sekali itu malah sangat bagus. Nggak ada aturan berapa lama persembahan ada di altar. Minimal kita ganti sehari sekali.”</p>



<p>Meski tidak ada aturan baku perihal berapa lama persembahan harus diletakkan di altar, lebih baik bila kita sering menggantinya agar persembahan itu tidak kotor terkena debu. Bagaimanapun juga, hal yang terpenting dari praktik persembahan persembahan untuk Guru dan Buddha adalah keyakinan dan kemurnian objek persembahannya.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Jadi, praktik sesajen adalah tradisi menyuguhkan aneka benda untuk berkomunikasi dengan alam dan mengungkapkan rasa syukur yang diwariskan oleh leluhur bangsa kita. Sementara itu, persembahan sifatnya lebih khusus karena dihaturkan kepada makhluk yang lebih tinggi statusnya. Dalam Buddhisme, kita bisa mengumpulkan kebajikan dengan menghaturkan persembahan kepada Triratna.</p>



<p>Hal terpenting saat memberi persembahan adalah keyakinan dan motivasi kita untuk bisa praktik Dharma&nbsp; demi mencapai Kebuddhaan sehingga bisa menolong semua makhluk dari penderitaan.</p>



<p>Penulis: Junarsih</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>LamTalk &#8211; Spirit Doll Teman Sementara, Bukan Selamanya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/17/lamtalk-spirit-doll-teman-sementara-bukan-selamanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2022 10:27:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Cemas]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sex Doll]]></category>
		<category><![CDATA[Spirit Doll]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6804</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari sudut pandang Buddhis, spirit doll bisa jadi solusi sementara untuk mengatasi kesepian dan trauma berhubungan dengan sesama manusia. Namun itu hanya solusi sementara.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/lamtalk-spirit-doll-teman-sementara-bukan-selamanya/">LamTalk – Spirit Doll Teman Sementara, Bukan Selamanya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/lamtalk-spirit-doll-teman-sementara-bukan-selamanya/">LamTalk &#8211; Spirit Doll Teman Sementara, Bukan Selamanya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Minggu (13/2), Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) menggelar Lamrim Talk bertajuk “Dari Spirit Doll Sampai Sex Doll: Antara Cinta dan Cemas” digelar untuk membahas isu tentang <em>spirit doll</em> ramai dibicarakan beberapa waktu lalu. Acara masih dibawakan oleh narasumber kesayangan yaitu Stanley Khu, kepala editor penerbit YPPLN, dan moderator Yushua Adi Putra, Dharma Patriot Lamrimnesia.</p>



<h4><strong>Dua Sisi </strong><strong><em>Spirit Doll</em></strong></h4>



<p>Stanley memandang fenomena <em>spirit doll</em> dan <em>sex doll</em> dari dua sisi, yakni secara spiritual dan psikologis. Menurutnya, dari segi spiritual, benda apapun seperti boneka, pohon, dan patung bisa memiliki <em>spirit</em>/roh maupun tidak bergantung pada orang-orang mempercayainya atau tidak.&nbsp;</p>



<p>Dari sisi psikologis, Stanley mengatakan bahwa saat kita kesepian, kita pasti membutuhkan teman. Namun, biasanya hubungan antarmanusia tidak pernah sederhana, bahkan dengan diri sendiri saja sangat kompleks. Dalam konteks pertemanan, bisa ada beragam kerumitan yang muncul, misalnya ada teman memberi saran baik, tapi kita malas mendengarnya. Atau saat kita mentraktir mereka, mereka malah membuat kita tersinggung dengan kritikannya. Hal inilah yang membuat kita sulit untuk memahami orang lain.&nbsp;</p>



<p>Berbeda dengan manusia, boneka hanya diam dan tidak menolak apapun yang kita lakukan terhadapnya. Karena boneka tidak bisa mengungkapkan kritik maupun saran, berhubungan dengan boneka menjadi cara mengatasi kesepian yang lebih praktis, baik dengan dijadikan teman atau untuk pemenuhan kebutuhan seksual. Namun, kepraktisan ini bisa menjauhkan kita dari realitas dan hanya memperoleh kebahagiaan jangka pendek saja.&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<h4><strong><em>Spirit Doll, </em></strong><strong>Welas Asih, dan Karma</strong></h4>



<p>Ketika ditanya perihal pandangan Buddhis terhadap memberi kasih sayang terhadap boneka, Stanley menjawab:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Sebenarnya apapun yang berpotensi untuk memunculkan welas asih dan cinta kasihmu itu ya baik, ya.”</p></blockquote>



<p>Menurut Stanley, beberapa orang mungkin mengalami trauma berat sehingga kesulitan berkomunikasi dengan manusia. Untuk mengatasi trauma, bisa bisa saja seseorang menggunakan boneka sebagai sarana pemantik welas asih dalam diri mereka. Melalui boneka, mereka bisa menyalurkan kasih sayang, tapi sifatnya hanya sementara. Kalau kita mau pencerahan, berwelas asih terhadap boneka tentu tidak cukup. Tujuan akhirnya adalah kita tetap perlu berwelas asih terhadap semua makhluk hidup.&nbsp;</p>



<p>Selanjutnya, Stanley menuturkan bahwa tak ada hal di kehidupan kita yang terjadi secara kebetulan. Semua ada karena karma, tidak terkecuali dengan <em>spirit doll</em> maupun <em>sex doll</em>. Jika ada hubungan di kehidupan saat ini, karma tersebut otomatis tentu akan berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Jika pada kehidupan saat ini memelihara <em>spirit doll</em>, bisa saja nanti berhubungan lagi di kehidupan mendatang walau kondisinya belum tentu sama.&nbsp;</p>



<h4><strong>Hati-Hati dengan “Milikku”</strong></h4>



<p>Di akhir sesi, Stanley berpesan terhadap orang-orang yang memiliki <em>spirit doll </em>berdasar sudut pandang Buddhis:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita dalam hidup secara konstan harus berhati-hati dengan hal-hal yang dipersepsikan sebagai miliki kita, yang dijadikan wahana untuk menempelkan ego kita. Ego sebenarnya menular!”</p></blockquote>



<p>Kita biasa memandang segala hal yang ada di sekitar kita sebagai milik kita–milik &#8220;aku&#8221;, baik itu <em>spirit doll</em>, benda mati lainnya, dan juga makhluk hidup. Kalau kita memiliki pasangan, maka rasa cemburu dan marah bisa muncul meski pasangan melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan kita. Kalau mobil kita lecet, “aku” yang merasa disakiti. Semakin banyak “aku” yang kita miliki, semakin banyak pula penderitaan yang kita miliki, dan semakin lama pula kita mencapai pencerahan.&nbsp;<br>Jadi, tak ada salahnya memiliki <em>spirit doll</em>, tapi jangan sampai melekat terhadapnya, apalagi sampai menjadikannya satu-satunya cara untuk menghalau penderitaan yang kita alami.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/lamtalk-spirit-doll-teman-sementara-bukan-selamanya/">LamTalk – Spirit Doll Teman Sementara, Bukan Selamanya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/lamtalk-spirit-doll-teman-sementara-bukan-selamanya/">LamTalk &#8211; Spirit Doll Teman Sementara, Bukan Selamanya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Spirit Doll &#038; Krisis Kasih Sayang</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2022 09:32:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6740</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kenapa orang mau piara spirit doll? Kenapa nggak adopsi anak atau hewan peliharaan? Ini dia pembahasan fenomena spirit doll dari kaca mata Buddhis.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll & Krisis Kasih Sayang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll &#038; Krisis Kasih Sayang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="577" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-577x1024.jpg" alt="" class="wp-image-6835" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-577x1024.jpg 577w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-scaled-600x1065.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-768x1364.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-865x1536.jpg 865w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-1153x2048.jpg 1153w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-150x266.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-450x799.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-1200x2131.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-scaled.jpg 1442w" sizes="(max-width: 577px) 100vw, 577px" /></figure>



<p>Bisa menyayangi tanpa risiko ditolak. Katanya, bisa juga berkomunikasi dengan dunia lain dan minta pertolongan duniawi. Mendengar hal ini, siapa yang tidak tertarik mengadopsi <em>spirit doll?</em></p>



<p>Terlepas dari motif mengikuti tren atau “latah” karena melihat para <em>influencer </em>mulai mengadopsinya, fenomena adopsi <em>spirit doll </em>belakangan menjadi sesuatu yang sangat hangat diperbincangkan. Fenomena ini menarik untuk dibahas–bukan kontroversi benar-salahnya, melainkan alasan yang melandasi fenomena ini. Apa yang membuat seseorang memperlakukan “bayi” boneka layaknya makhluk hidup? Hal apa yang membuat memilih merawat boneka, bukan bayi manusia atau hewan peliharaan?</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/yB2u0DDP35PIlejv7AHDHZr3viUNcuNKJawCRJJPKr8cZf5Q0AqU_fcMj2yGUfDLqUMxrSnMilcnDP5NPQ3cL7XTDpoQ6QKNdqVxUiEv1DC1lbhcACoQcZGJ1dMt6RyIpTrKX6EO" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Ivan Gunawan dan dua “anak”nya</em><br><em>Sumber foto: Kompas.com</em></p>



<h4><strong>Kebutuhan Emosional Dasar</strong></h4>



<p>Sebelum membahas pertanyaan tersebut, penting bagi kita untuk mengetahui kebutuhan emosional dasar yang kita butuhkan sebagai manusia. Sejak lahir, semua makhluk hidup memiliki kebutuhan untuk bisa mengasihi dan dikasihi. Kita semua paham betul bahwa biarpun hal ini terdengar mudah, sebagian besar orang tidak memperoleh kasih sayang yang diharapkan, dan sebaliknya tidak mampu memberikan kasih sayang kepada orang lain. Orang tua yang cuek, teman-teman yang menjaga jarak, pasangan yang memberikan cinta bersyarat, serta budaya ketimuran yang tak jarang membuat kita merasa <em>awkward </em>ketika mengungkapkan perasaan menjadi tembok untuk saling bertukar kasih. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa kesepian.</p>



<h4><strong>Sudah Berusaha, Tapi&#8230;</strong></h4>



<p>Ada pula orang yang sudah berusaha untuk menyayangi seseorang dengan sepenuh hati dan jiwa, namun tidak mendapat balasan dan bahkan mungkin memperoleh penolakan. Untuk sebagian orang yang mengalami hal ini, penolakan menjadi pengalaman yang menyakitkan. Banyak yang memutuskan untuk menarik diri, tapi perasaan ingin disayang dan menyayangi yang secara naluriah dimiliki setiap manusia tetap ada.</p>



<p>Berhubungan dengan manusia menelurkan risiko–risiko ditolak, dikhianati, disalahkan, dan masih banyak lainnya. Tidak hanya dengan manusia, bahkan hewan pun bisa memberikan reaksi yang tidak diharapkan. Ketika kita berusaha menyenangkan kucing peliharaan kita misalnya, kucing kita tetap bisa galak dan mencakar kita tanpa ampun. Ego kita berpendar seolah memberikan sinyal: “Aku sudah memberikan cinta tak bersyarat lho! Kenapa aku malah mendapatkan perlakuan seperti ini? Sungguh tidak adil!”.&nbsp;</p>



<h4><strong>Cinta yang “Pasti Berbalas”</strong></h4>



<p>Berbeda dengan makhluk hidup, <em>spirit doll </em>tidak rewel. Ia juga tidak bisa beraktivitas sendiri layaknya ayah, ibu, kakak, adik, dan pacar kita. Lebih lanjut, pengadopsi juga diyakinkan bahwa <em>spirit doll </em>akan “merespons” pemilik dengan positif. Memberikan kasih sayang dengan merawat, mengajak bicara, memeluknya tidak akan membuat kita merasa tertolak. Mengapa? Sebab <em>spirit doll </em>tidak akan merespons kita dengan penolakan.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/qGL4mriJoJGPy3JzF2jYZDNa-x94mij8J7USMWUsSHJC_B4xezuv44IJcL-BAopxmR5pZo006YooKmmS7VjnzH3--IGh7gyCARWiLI7MdqHTY0Gp-S_ADfxuWK0LRyP83Ka5H3uE" alt=""/><figcaption><em>Testimoni para </em>adopter spirit doll <em>di media sosial</em></figcaption></figure></div>



<p>Selain menyayangi, kita juga bisa dengan bebas melakukan hal apapun terhadapnya tanpa dibebani tanggung jawab. Ketika berhubungan dengan orang lain, kita sering kali harus mengorbankan sesuatu. Akan tetapi, bisa saja tanpa disadari kita malah membuat orang tersebut menderita. Akhirnya, alih-alih merasa bahagia, kita malah merasa bersalah dan merasa tidak pantas menyayangi orang lain. Beda halnya dengan “mengasuh” <em>spirit doll, spirit doll </em>tidak akan merasa sakit atau kecewa dengan perlakuan yang kita berikan. Jika motivasi kita memiliki “<em>spirit doll”, </em>adalah seperti ini, bukankah artinya kita hanya sedang menghindar dari ketakutan dan kecemasan kita akan krisis kasih sayang?</p>



<p>Pertanyaannya: benarkah kebahagiaan sesungguhnya bisa kita peroleh dengan semata memuaskan diri untuk bisa diterima dan melindungi ego dari penolakan? Sebagian orang percaya bahwa jika kita berwelas asih kepada orang lain, kita akan dimanfaatkan dan yang terburuk–dikhianati. Padahal, welas asih yang sesungguhnya justru membebaskan kita dari hal-hal tersebut.&nbsp;</p>



<h4><strong>Yang sebenarnya kita butuhkan adalah&#8230;</strong></h4>



<p>Welas asih mengingatkan kita akan pengalaman bersama kita sebagai makhluk hidup. Misalnya, jika aku tidak ingin menderita, maka dia dan kamu pun sama halnya tidak ingin menderita. Kita sadar bahwa orang yang menyakiti kita atau tidak bisa melihat kebaikan kita pun sebenarnya merasa sakit. Mereka sakit karena klesha mengikat mereka sehingga menyakiti orang lain.</p>



<p>Welas asih menyadarkan kita bahwa kebahagiaan sebenarnya bukan terletak pada penghindaran rasa sakit dan kesedihan. Toh rasa sakit tidak bisa dihindari selama kita masih berada di samsara. Kebahagiaan bisa dirasakan ketika hal-hal ini tidak lagi mengganggu kita. Kita bisa tetap menyadari penderitaan yang kita rasakan, sambil di sisi lain tetap berupaya untuk peduli terhadap orang lain.</p>



<p>Welas asih bukan berarti membenarkan perbuatan jahat orang lain. Welas asih membantu kita berdamai dengan ketakutan dalam diri kita–ketakutan ditolak, dikhianati–yang juga dimiliki oleh semua orang, tak terkecuali mereka yang menyakiti kita. Berhubung ketakutan ini ada dalam diri setiap orang (walau bentuk dan intensitasnya bisa beragam), tidak akan tercipta titik temu jika tak ada pihak yang lebih dulu memulai untuk melawan ketakutan itu dan melatih welas asih.</p>



<h4><strong>Saatnya Kita Bercermin</strong></h4>



<p>Fenomena adopsi <em>spirit doll </em>ini sebenarnya tidak seharusnya dijadikan sebagai senjata untuk menyerang pihak tertentu. Malah, fenomena ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk meningkatkan kualitas batin kita. Fenomena hanyalah fenomena. Ia datang dan pergi seiring berlalunya waktu. Baik atau tidaknya hal ini, hanya kita masing-masinglah yang bisa menilainya dalam diri kita. Kita tidak bisa melihat dengan jelas batin orang lain seperti mengetahui sejelas-jelasnya motivasi seseorang dalam mengadopsi <em>spirit doll. </em>Meskipun bisa jadi dilandasi oleh motivasi yang tidak murni, siapa yang tahu kalau-kalau orang-orang yang mengadopsi <em>spirit doll </em>sebenarnya punya niat melatih welas asih?&nbsp;</p>



<p>Beruntungnya, biarpun kita tidak bisa melihat batin orang lain, kita bisa dengan jelas melihat batin kita. Fenomena ini justru jadi penanda bagi kita untuk kembali bercermin:</p>



<ol id="block-17a90999-9d3a-4609-b9d6-2b78e6ea7b2a"><li>Apakah saat ini kasih sayang yang kita berikan kepada orang lain masih bersifat pamrih?</li><li>Apakah ego kita takut disalahkan ketika kasih sayang kita disalahartikan oleh orang lain?</li><li>Apakah saat ini masih sulit bagi kita untuk meruntuhkan ego ketika kasih sayang yang diberikan tidak berbalas?</li><li>Apa yang masih menghalangi kita dari melatih welas asih?</li></ol>



<p>Selain jadi penanda, fenomena <em>spirit doll</em> ini mungkin bisa juga jadi pengingat bagi kita untuk berupaya belajar menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Misalnya, belajar menerima penolakan dari gebetan atau menerima kesalahan yang pernah kita perbuat kepada anak atau sanak saudara kita ketika kita berusaha peduli. Kemudian, kita bisa perlahan-lahan berlatih untuk berwelas asih kepada orang di sekitar kita. Misalnya, dengan menanyakan kabar, mendengarkan ketika pihak lain tengah berbicara, atau memberi hadiah sederhana. Dengan begitu, kita mungkin akan menyadari bahwa welas asih yang sesungguhnya bisa berarti mencintai orang lain tanpa merasa takut. Bagaimana menurutmu?</p>



<p>Penulis: Shierlen Octavia</p>



<p>Referensi:&nbsp;<br>“Hati Tanpa Gentar” &#8211; Thupten Jinpa, Ph.D</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll & Krisis Kasih Sayang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll &#038; Krisis Kasih Sayang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Review Buddhis Belle (2021): Menolong Diri Sendiri dengan Menolong Orang Lain</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/17/review-buddhis-belle-2021-menolong-diri-sendiri-dengan-menolong-orang-lain/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2022 10:32:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Belle]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicita]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mamoru Hosoda]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6702</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ada ilmu welas asih khas Buddhis yang bisa membantu pemulihan trauma dalam film Belle (2021), anime karya Mamoru Hosoda yang mendapatkan standing ovation 14 menit di Cannes Film Festival.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/review-buddhis-belle-2021-menolong-diri-sendiri-dengan-menolong-orang-lain/">Review Buddhis Belle (2021): Menolong Diri Sendiri dengan Menolong Orang Lain</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/review-buddhis-belle-2021-menolong-diri-sendiri-dengan-menolong-orang-lain/">Review Buddhis Belle (2021): Menolong Diri Sendiri dengan Menolong Orang Lain</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#8220;Aku nggak bisa bantu apa-apa&#8221; bukan alasan untuk berkecil hati dan mematikan keinginan untuk menolong orang lain. Itulah yang saya dapat saat menonton film &#8220;Belle&#8221; (竜とそばかすの姫, <em>Ryū to Sobakasu no Hime</em>, atau &#8220;Naga dan Putri Wajah Berbintik&#8221;), adaptasi dongeng “Si Cantik dan Si Buruk Rupa” paling anyar dan segar karya Mamoru Hosoda. Ini dia <em>review </em>Buddhis anime Belle (2021).</p>



<p>&#8220;Belle&#8221; menceritakan kisah seorang gadis remaja pemalu dengan trauma masa lalu bernama Suzu yang menjadi idola di dunia virtual bernama &#8220;U&#8221;. Semasa kecil, Suzu bersama ibunya gemar bernyanyi dan menciptakan lagu. Namun, sejak sang ibu meninggal saat berusaha menyelamatkan seorang anak kecil tak dikenal, duka yang Suzu rasakan membuatnya tidak bisa bernyanyi lagi. Selain itu, ia juga minder karena merasa kurang cantik dengan wajah yang berbintik-bintik. Untungnya di dunia &#8220;U&#8221;, setiap orang terlahir kembali dengan penampilan baru sesuai dengan potensi terdalam mereka.&nbsp;</p>



<p>Suzu di dunia &#8220;U&#8221; adalah penyanyi cantik bernama Bell. Meski sebagian orang mengkritisi, sebagian lagi memujanya dan merasa tersentuh oleh nyanyiannya. Menjadi Bell adalah titik balik dalam perjalanan Suzu untuk menemukan kembali kepercayaan dirinya.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/nYMupm8WQGpM75zRedk9nPn3oDpRRyd98Soo8HQ4KosB0qg_iRiqZwC3SdPviKFCzpCrc8jil5ybAsOyt98mDHH2XqEwtmFhw34QAIArPH8mPZTWXsMZBhzw9h8lKIU-4gvmJkow" alt=""/><figcaption>Bell sang putri lagu, alter ego Suzu dalam dunia virtual “U”</figcaption></figure>



<p>Suatu hari, konser Bell &#8220;dikacaukan&#8221; oleh sosok misterius berwujud monster buruk rupa nan buas yang dipanggil &#8220;Si Naga&#8221;. Rasa penasaran dan kepedulian Bell terhadap Si Naga yang tampaknya begitu dibenci di dunia &#8220;U&#8221; menjadi langkah awal dalam babak baru dalam proses pemulihan Suzu. Tidak tahan menyaksikan penderitaan Si Naga dan manusia nyata di baliknya, Suzu berhasil keluar dari dukanya sendiri demi menolong orang lain yang tidak dia kenal sama sekali, persis seperti ibunya dulu.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/A8TmqBmLA1hu4Gj_j5_c12241txncE4uGacJMj-ac5PxX5yvXImB3ABxhVlNnkgX776MSlXB7BImvPJeXaYwKxuDzaMBsbo4ALqQKZ1BngN6mU8I3wWpxSHUB_E49xrqgD1c_Ic2" alt=""/><figcaption>Bell berusaha untuk mengenal dan memahami Si Naga</figcaption></figure>



<p>Demi mendapatkan kepercayaan Si Naga, Suzu melakukan tindakan yang luar biasa berani. Demi menolong Si Naga, Suzu tidak hanya melakukan tindakan yang berani, tapi juga berbahaya. Pada akhirnya, tidak satu pun tindakan Suzu bisa dibilang benar-benar berdampak pada persoalan yang menjerat Si Naga. Meski begitu, tindakan Suzu tidak sia-sia. Berkat tindakan-tindakan itu, si Naga dan Suzu sendiri sama-sama menemukan keberanian dan semangat baru untuk keluar dari keputusasaan dan berjuang mengubah keadaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/q_239wfQWMnq2zZTCjx2l4HNl6l5N135JOTDKXSegVmzgA-FeZurzoMoJbVSIv-7KgIk1-nuJ7pDbXxhT1X2EAvIlm3d8TkwbH_de8spJ_dLudxbiyRsrjS5a-7f3iyvjmzsejBG" alt=""/><figcaption>Detik-detik menuju “tindakan berbahaya” yang dilakukan Bell untuk Si Naga</figcaption></figure>



<p><em>Bagaimana bisa memikirkan makhluk lain mengatasi penderitaan kita? Baca di </em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>sini</em></a><em>.</em></p>



<p>Ketika menonton film ini, saya teringat dengan pengalaman saya sendiri melihat begitu banyak teman yang merasa down belakangan ini. Entah kenapa, dalam dua pekan terakhir, banyak sekali yang bercerita di media sosial tentang berbagai kecemasan yang menghantui. Kecemasan ini bentuknya beragam, kebanyakan merasa resah tanpa sebab yang jelas, ada juga yang merasa tidak berharga, hidup tidak berarti, bahkan ada yang setengah &#8220;bercanda&#8221; mempertimbangkan bunuh diri.&nbsp;</p>



<p>Meski beberapa di antaranya merupakan teman akrab, saya tidak cukup dekat untuk menjadi tempat curhat mereka. Karena kami tidak biasa bertukar cerita, saya pun tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka. Ada juga yang bercerita lebih rinci dan terang-terangan meminta pertolongan, tapi antara saya tidak mampu menolong atau saya bukanlah orang yang mereka harapkan untuk menolong.</p>



<p>Saya ingin menolong, tapi saya merasa tidak berdaya, jadi saya tidak melakukan apa-apa.</p>



<p>Film &#8220;Belle&#8221; membuat saya berpikir bahwa jangan-jangan saya memasang standar terlalu tinggi terhadap tindakan &#8220;menolong&#8221;. Saya mengira menolong orang berarti kita harus bisa langsung mengangkat dan mengakhiri penderitaan orang yang ingin kita tolong. Padahal, seperti dalam film &#8220;Belle&#8221;, bisa jadi bukan itu yang dibutuhkan. Ada kalanya orang yang menderita hanya butuh dibuat sadar bahwa ada orang yang peduli padanya, bahwa dia berhak bahagia dan kebahagiaannya itu layak diperjuangkan. Dengan demikian, dia jadi bisa menemukan semangat untuk bertahan menghadapi penderitaan dan berjuang untuk mencari solusi.&nbsp;</p>



<p>Menyelesaikan permasalahan orang memang butuh kemampuan khusus yang tidak bisa dilakukan semua orang, tapi siapapun bisa peduli pada orang lain dan menunjukkan kepedulian itu. Orang itu belum tentu bisa langsung melihat atau menerimanya, tapi kita bisa bersabar dan berusaha berulang kali semampu kita hingga orang itu suatu saat bisa membuka hati dan percaya.</p>



<p>Dalam film &#8220;Belle&#8221;, ada percakapan antara Suzu dan ayahnya yang membuat saya terkesan. Sang ayah memuji tindakan &#8220;nekad&#8221; yang dilakukan Suzu untuk menunjukkan kepeduliannya pada Si Naga. Sang ayah mengatakan bahwa Suzu punya hati yang penuh welas asih berkat didikan ibunya. Percakapan ini mengingatkan saya bahwa hati yang berwelas asih&#8211;yang tidak tahan melihat penderitaan orang lain dan mau berjuang untuk menolong&#8211;tidak tumbuh dengan sendirinya, tapi bisa diajarkan dan perlu dipelihara.&nbsp;</p>



<p>Setiap kali saya mundur dengan alasan &#8220;nggak bisa bantu apa-apa&#8221; ketika rasa ingin menolong itu muncul, saya ternyata sedang mematikan potensi welas asih yang ada dalam diri saya sedikit demi sedikit. Sebaliknya, kalau saya &#8220;menurunkan standar&#8221; untuk bentuk pertolongan yang bisa saya berikan dan tetap berusaha melakukan sesuatu, minimal membuat orang yang ingin saya tolong tahu bahwa ada satu lagi orang yang ingin dia berbahagia, itu bisa menyuburkan potensi welas asih yang saya miliki.&nbsp;</p>



<p>Bahkan, welas asih yang saya ulurkan pada orang itu bisa jadi membantunya lebih berwelas asih juga, setidaknya pada dirinya sendiri, karena dia jadi bisa melihat dan merasakan bahwa kebaikan hati itu nyata dan bisa diperjuangkan. Contohnya adalah tokoh Suzu sendiri. Dalam film ini, Suzu dikelilingi oleh orang-orang baik yang senantiasa menunjukkan kepedulian padanya. Tanpa welas asih dari lingkungannya, campuran puja-puji dan celaan bertubi-tubi yang menjadi bagian dari ketenarannya di dunia virtual hanya akan menjadi perangkap yang membuatnya makin terpuruk.</p>



<p><em>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/10/yakuza-like-a-dragon-privilege-itu-adalah-kebaikan-hati/">Yakuza Like A Dragon &#8211; Privilege Itu adalah Kebaikan Hati</a></em></p>



<p>Kita mungkin tidak selalu bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi orang lain. Namun, kita bisa menjadi bagian dari lingkungan yang baik dan sumber semangat bagi orang tersebut. Di saat yang sama, kita pun bisa belajar untuk sedikit mengurangi kebiasaan kita yang terlalu mementingkan diri sendiri dan menemukan kebahagiaan dari mementingkan makhluk lain.</p>



<p>Film “Belle” dapat disaksikan langsung di bioskop terdekat. Saksikan <em>trailer</em>-nya <a href="https://youtu.be/ChneY1MSVFw">di sini</a>.</p>



<p>Penulis: Samantha J.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/review-buddhis-belle-2021-menolong-diri-sendiri-dengan-menolong-orang-lain/">Review Buddhis Belle (2021): Menolong Diri Sendiri dengan Menolong Orang Lain</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/review-buddhis-belle-2021-menolong-diri-sendiri-dengan-menolong-orang-lain/">Review Buddhis Belle (2021): Menolong Diri Sendiri dengan Menolong Orang Lain</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Review Buddhis Guardian (2018): Siapa Takut Jadi Baik?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/12/17/buddhist-review-guardian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2021 12:19:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Guardian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<category><![CDATA[Zhen Hun]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6557</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari segala bentuk ketakutan, takut berbuat baik adalah ketakutan yang paling perlu kita atasi. Guo Changcheng, si penakut dari serial web Guardian, bisa mengajari kita tentang hal itu.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/12/17/buddhist-review-guardian/">Review Buddhis Guardian (2018): Siapa Takut Jadi Baik?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/12/17/buddhist-review-guardian/">Review Buddhis Guardian (2018): Siapa Takut Jadi Baik?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Guo Changcheng adalah seorang penakut, tapi dia juga lebih pemberani dibanding pahlawan mana pun. Kenapa? Karena saat dia sedang sangat ketakutan sekali pun, dia tetap berani untuk menjadi baik! Ini dia <em>review </em>Buddhis serial web Guardian (2018).</p>



<p><strong>Magang jadi “polisi gaib”</strong></p>



<p>“Guardian” adalah serial web produksi Tiongkok tahun 2018 yang mengisahkan unit investigasi khusus yang menangani tindak kriminal yang berkaitan dengan hal-hal gaib.&nbsp;</p>



<p>Selain plot seru dan pemeran utama yang ganteng maksimal, satu lagi hal menarik yang bikin saya lanjut nonton sampai habis adalah anak magang baru di unit investigasi bernama Guo Changcheng (biasa dipanggil Xiao Guo). Kemunculan pertamanya adalah saat dia datang ke kantor &amp; berkenalan dengan anggota tim investigasi untuk pertama kali.&nbsp;</p>



<p>Dari satu adegan itu, saya dibuat penasaran tentang bagaimana dia bisa terus bekerja di situ. Kenapa penasaran? Ya jangankan ketemu kriminal ajaib, baru ketemu rekan kerja yang “tidak biasa” saja, dia sangat ketakutan sampai pingsan berkali-kali!</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/6re_JwZqboUSVgvpbYI6gNnGgZnPShZGjOfP7Vbj5XGYBurQsBtn_mAUZRWEi5YSA99gdIZkhw4DVKriC-Mqu-5sO7wiPENVj06MrZstt1BloPBvN81dkYjTEzmKpbgTm2iDPD1P" alt=""/><figcaption>Xiao Guo pingsan saat tahu bakal sekantor dengan manusia ular &amp; hantu.</figcaption></figure></div>



<p>Meski menerima Xiao Guo karena dia keponakan wakil menteri, bos tim investigasi (bintang utama serial ini) juga tidak memanjakan pegawai barunya. Xiao Guo dipasangkan dengan mentor paling dingin dan galak serta diberi tugas yang nggak bisa dibilang mudah. Dalam situasi normal saja Xiao Guo tergolong orang penakut. Sekarang, dia harus berurusan dengan mayat dan pembunuh berkekuatan super.</p>



<p><strong>Berani Berbuat Baik</strong></p>



<p>Xiao Guo mungkin takut akan banyak hal, tapi dia lebih pemberani dibanding banyak orang (termasuk saya) dalam satu hal: dia berani berbuat baik!</p>



<p>Pemuda ini paling nggak tahan melihat orang kesusahan. Ketika dia bertemu kakek-kakek yang tersesat, dia nggak bisa nggak membantu walau terancam terlambat ke kantor. Meski gemetaran dan tergagap-gagap, dia selalu berusaha menghibur korban &amp; orang-orang terdekat mereka dalam setiap kasus yang dia temui. Meski ketakutan setengah mati, dia tidak pernah membenci walau dikhianati. Dia bahkan bisa memahami dan ikut bersedih dengan penderitaan yang membuat si pelaku melakukan kejahatan.&nbsp;</p>



<p>Dari ringkasan saya di atas, mungkin Xiao Guo terkesan seperti tokoh utama sinetron yang superbaik dari sononya, yang tertindas tapi tetap sempurna tak bercela. Namun, kalau sahabat nonton serialnya langsung, sahabat akan melihat bahwa Xiao Guo nggak melakukan itu semua dengan gampang.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh6.googleusercontent.com/04uAl___A5doeFdGGLOFaFlNNPNolWyP7_0XwtOFbFnbAkzVXU6HTiQQJhhmU63CGJ0DTSx0tUXmW7ldQVkZgT2oD8Zr9b7dg6FxFWxIZRExQwgtEdiOMxuS4QqZ2UDoSAyrLLB6" alt="" width="580" height="405"/><figcaption>Antara omelan dan panggilan sayang</figcaption></figure></div>



<p>Xiao Guo punya krisis kepercayaan diri yang berat dan selalu merasa dirinya nggak berguna, nggak bisa apa-apa. Meski nggak selalu dengan maksud melukai, perlakuan orang-orang di sekitarnya pun mendukung pemikirannya itu. Bahkan di situasi yang tergolong aman pun dia masih terlihat ragu-ragu. Meski begitu, pada akhirnya dia tetap memutuskan untuk bertindak demi kebaikan orang lain semampunya.</p>



<p>Melihat Xiao Guo yang seperti itu, saya jadi bercermin lagi kepada diri saya sendiri. Berapa kali saya terpikir ingin menolong orang tapi nggak jadi? Ketakutan saya mungkin lebih banyak dan lebih nggak berdasar dibanding ketakutan Xiao Guo pada adu jotos dan hal-hal gaib: takut ditolak lah, takut dikira pansos lah, takut dikibulin lah. Xiao Guo juga merasakan ketakutan yang sama, tapi dia nggak batal bertindak dan dengan rela menerima setiap kerugian yang mungkin dia alami saat dia memutuskan untuk menolong orang.</p>



<p>Saya mungkin lebih berani kalau berhadapan dengan mayat atau makhluk gaib, tapi kalau soal berbuat baik, Xiao Guo jauh lebih pemberani dibanding saya.</p>



<p><strong>Berani Peduli</strong></p>



<p>Meski dibentak goblok berkali-kali, ada kalanya Xiao Guo tampak sama bijaknya dengan tokoh-tokoh lain, atau bahkan lebih. Ketika memikirkan ulang semua kasus-kasus yang telah dia lewati, termasuk kasus tragis yang menjatuhkan banyak korban jiwa sekaligus membuat dia merasakan sakitnya dibenci orang yang selama ini dekat dengannya dan sering dia tolong gara-gara satu kesalahpahaman, dia bisa menyadari kenapa semua tragedi itu bisa terjadi.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/JGHd_dcTXaGkXn3g_Nn29RFDr58izdZ_MdsqdXqb9V5ucCpeWiVTAUkHXzj1rgMsqgHALKRlIUbhsRluSo6YAW3BhDYNSKY1-_8f-hNNMH6-1tihdDrKw7U1bu9m84C_F5EJp0EU" alt=""/></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/wq2RxuEbc6FoymOIzNbsog91Vvdii2QwSMmJJcWQPoIprlk4OLIRoZ1aOwKa7vhpMau8eMcU4CpfcXzFNt6wVwU35EUoKJuX6AsJGvhfl_6X_nVFMA0bCcMWgZkfODMWnP0L-6PC" alt=""/><figcaption>Xiao Guo: “Kalau kita lebih peduli sama orang-orang di sekitar kita, ini semua mungkin nggak akan terjadi.”</figcaption></figure></div>



<p>Secara sederhana, Xiao Guo menunjukkan satu hal paling mendasar dari ajaran Buddha tentang cara meraih kebahagiaan tertinggi. Untuk bisa mengatasi penderitaan, Buddha mengajarkan bahwa kita perlu mengurangi sikap mementingkan diri sendiri. Semua latihan dan penalaran dalam Dharma tujuannya ya untuk itu.&nbsp;</p>



<p>Buddha mengajak kita untuk mengikis ego kita pelan-pelan, memperbaiki pola pikir kita dari yang keliru mengira ada “aku” yang berdiri sendiri dan lebih penting dari “yang lain” menjadi sadar bahwa semua makhluk dan fenomena di dunia ini saling bergantung. Dari situ, kita akan menyadari bahwa kebahagiaan semua makhluk sama dengan kebahagiaan kita dan kita jadi mau memperjuangkannya. Buddha bisa jadi seorang Buddha karena berangkat dari situ dan sekarang Beliau sedang berusaha mengajari kita cara untuk sampai ke sana.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/fMAcr20VuVWZ75RbHgTkZn1iOTI-_sHKL_35qN_4wSwrGywe36FIzSIiqGjMZmACIF9rutrMEJacZGenIP7RjyIM_IMvkT6JV9-wgWSjh1-hAAfk7AYNJNOq-OejHj2QQV0wdY4h" alt=""/></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/AuQIdh43nmZNs2z1w37Zq84tUxROcIsCHHq5VMIw4soubY1Cpl6jbBfR4t3fP4V845RHldR3jyZgiOmM0mCu_HR2rPCJNOh2sKrePu--dEI5VYoSoEPcNosYE5VdDJGUKQLNsOZJ" alt=""/></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/deD4jOZGfPD-eUkfHxaJ-KP55K9MvSyXIkimSMtxuF30CU1b4UZkeKP0gJz1kehIEPFOKBeVvJvyPk7O-9kX9xIJ6TAOo52LevB5uLMRFOgPW6a7uM8Xacxu08i4tNRbzpZF9HH3" alt=""/><figcaption>Mentor galak: “Kamu nggak doain kebahagiaan diri kamu sendiri?”<br>Xiao Guo: “Ada kok! Kalau orang lain bahagia, aku juga bahagia.”</figcaption></figure></div>



<p>Dengan kemampuan kita yang terbatas seperti sekarang, hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah sesekali berhenti mikirin diri sendiri barang sejenak dan mengalihkan pikiran kita untuk peduli sama orang lain. Persis seperti yang dilakukan Xiao Guo.</p>



<p>Rasa takut ditolak, takut ditipu, dan berbagai ketakutan lain yang muncul saat kita mau peduliin orang lain ada karena kita tanpa sadar merasa kenyamanan kita lebih penting dibanding keselamatan mereka. Kalau tawaran kita untuk menolong ditolak, memang siapa yang rugi? Cuma ego kita yang terluka kan? Toh kita nggak bakal mati. Kalau kita menolong, eh ternyata yang kita tolong penipu, siapa yang rugi? Kita bahkan bisa mensyukuri kerugian itu sebagai karma buruk yang berbuah sekarang, jadi penderitaan kita di masa depan sedikit berkurang.&nbsp;</p>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/10/yakuza-like-a-dragon-privilege-itu-adalah-kebaikan-hati/">Baca juga: Yakuza Like A Dragon &#8211; <em>Privilege </em>Itu Adalah Kebaikan Hati</a></p>



<p><strong>Mulai dari yang gampang dulu</strong></p>



<p>Tentunya Buddha juga nggak akan menganjurkan kita untuk tiba-tiba menyumbangkan seluruh harta benda ke penipu modus mama minta pulsa. Kebijaksanaan kita dalam menilai situasi dan kapasitas kita untuk menampung orang lain di dalam hati harus ditingkatkan sedikit demi sedikit. Tapi, kalau kita tunggu kebijaksanaan kita sempurna baru mau peduli sama orang, kapan kita bisa maju? Welas asih kita akan sulit terasah. Hati kita bisa-bisa keburu beku. Kalau sudah begitu, buat apa banyak ilmu?</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Pada awalnya, Sang Penuntun menyarankan derma sayuran dan sebagainya. Setelah terbiasa, kelak seseorang akan mampu berderma dagingnya sendiri.”</p><cite>-Arya Shantidewa (dikutip dari <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">“Lakon Hidup Sang Penerang”</a>)</cite></blockquote>



<p>Untuk mulai berlatih peduli itulah kita perlu keberanian berbuat baik. Berani berbuat baik versi Xiao Guo bukanlah nekad menantang penjahat berkelahi atau terjun ke teritori musuh seorang diri. Berani berbuat baik versi Xiao Guo adalah rela dibentak bos karena terlambat demi menolong kakek yang tersesat atau rela malu dan tergagap-gagap demi menghibur orang yang berduka. Dari keberanian-keberanian kecil itu, Xiao Guo dikisahkan mampu menjaga hati yang baik dan berani di hadapan kesulitan yang berkali-kali lipat lebih besar, lebih berbahaya.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/HdPRkq_kIDjLuZxNzXIp5Np0rL_qnrkH9GnLT2qGbgU9dNbfA5rW0IXTXHyD7YuRaqQKrJqrHMoC3c1ees3UqMxts-6DOVdq_kt-EitisgGL94YcRr5PITMJ9qmARYGgeHCvnqHB" alt=""/><figcaption>Bocah yang tadinya dikit-dikit ketakutan sampai pingsan bisa punya hati yang cukup kuat untuk melawan hasutan gaib</figcaption></figure></div>



<p>Kalau kita juga mulai berani berbuat baik mulai dari hal-hal kecil seperti Xiao Guo dari sekarang, suatu saat kita juga pasti bisa berani melakukan kebaikan yang lebih besar. Mengakhiri penderitaan kita dan semua makhluk pun akan berhenti jadi sekadar wacana.</p>



<p>&#8212;</p>



<p><em>Serial web “Guardian” bisa ditonton di </em><a href="https://youtube.com/playlist?list=PLsjCUCcrsjAELaxHCQ9oNmxj7gcAqlLzH"><em>sini</em></a><em>.</em></p>



<p>Penulis: Samantha J.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/12/17/buddhist-review-guardian/">Review Buddhis Guardian (2018): Siapa Takut Jadi Baik?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/12/17/buddhist-review-guardian/">Review Buddhis Guardian (2018): Siapa Takut Jadi Baik?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Melestarikan Dharma Nusantara yang Kembali Ke Tanah Air</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/09/26/melestarikan-dharma-nusantara-yang-kembali-ke-tanah-air/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2021 19:36:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Dharma Patron lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Dagpo Rinpoche]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Melestarikan Dharma Nusantara yang Kembali Ke Tanah Air]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6277</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA merupakan kitab kumpulan pengajaran Dharma Guru Dagpo Rinpoche di Indonesia selama tiga dasawarsa.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/09/26/melestarikan-dharma-nusantara-yang-kembali-ke-tanah-air/">Melestarikan Dharma Nusantara yang Kembali Ke Tanah Air</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/09/26/melestarikan-dharma-nusantara-yang-kembali-ke-tanah-air/">Melestarikan Dharma Nusantara yang Kembali Ke Tanah Air</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Akan segera diabadikan untuk kepentingan semua makhluk:</p>



<p class="has-text-align-center">SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA<br>Kumpulan Karya Dagpo Lama Rinpoche Losang Jamphel Jhampa Gyatso<br>Ulasan atas Kitab Pembebasan di Tangan Kita</p>



<p>SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA merupakan kitab kumpulan pengajaran Dharma Guru Dagpo Rinpoche di Indonesia selama tiga dasawarsa. Sejak tahun 2019 hingga saat ini, 3 volume buku telah berhasil diterbitkan.&nbsp;</p>



<p>Tahun ini, bertepatan dengan 100 tahun pengajaran Dharma “Pembebasan di Tangan Kita” oleh Phabongkha Rinpoche, akan diterbitkan edisi khusus dari buku SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA berisi ulasan kitab “Pembebasan di Tangan Kita” yang dibabarkan Guru Dagpo Rinpoche di Indonesia dalam 5 tahun acara South East Asia Lamrim Festival.</p>



<p>Kitab ini diterbitkan untuk menghargai jerih payah Guru Dagpo Rinpoche dalam mengajarkan Dharma di Indonesia dengan mengabadikan ajaran Beliau lewat buku sehingga lebih banyak makhluk yang dapat menikmati manfaat dari Dharma luar biasa ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-26-at-7.34.50-AM-819x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-6290"/></figure>



<h4><strong>TENTANG “PEMBEBASAN DI TANGAN KITA”</strong></h4>



<p>Sebagai salah satu kitab Lamrim, “Pembebasan di Tangan Kita” memiliki ikatan erat dengan Nusantara. Lamrim sendiri merupakan cara mempelajari Buddhadharma menyeluruh dan sistematis yang diturunkan dari karya Guru Atisha Dipamkara Srijnana, murid mahaguru Dharma Nusantara abad X, Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.</p>



<p>Ajaran Guru Suwarnadwipa dibawa ke Tibet oleh Guru Atisha dan dilestarikan di sana, dipelajari dan diulas kembali turun-temurun oleh guru agung, hingga sampai pada Phabongkha Rinpoche yang mengajarkannya selama 24 hari berturut-turut. Pembabaran ini kemudian diabadikan secara tertulis menjadi kitab “Pembebasan di Tangan Kita”.&nbsp;</p>



<p>Ajaran luhur ini kembali ke Bumi Nusantara melalui Guru Dagpo Rinpoche yang mengajarkannya selama 5 tahun di rangkaian acara Southeast Asia Lamrim Festival yang dihadiri lebih dari 1000 orang.</p>



<h4><strong>PENJELASAN PROYEK</strong></h4>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td>Judul</td><td>SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHAKumpulan Karya Dagpo Lama Rinpoche Losang Jamphel Jhampa GyatsoUlasan atas Kitab Pembebasan di Tangan Kita</td></tr><tr><td>Oleh</td><td>Guru Dagpo Rinpoche</td></tr><tr><td>Jumlah Volume</td><td>5 Jilid</td></tr><tr><td>Jumlah Halaman</td><td>± 220 s.d. 364 halaman</td></tr><tr><td>Jumlah Cetak</td><td>500 eksemplar untuk masing-masing jilid buku</td></tr><tr><td>Isi Buku</td><td>Transkripsi pengajaran Guru Dagpo Rinpoche atas kitab “Pembebasan di Tangan Kita” karya Phabongkha Rinpoche di South East Asia Lamrim Festival (SEALF) selama 5 tahun di Indonesia.<br>Jilid 1. SEALF 2010 (di Aubrey Villa Ciwidey, Gambung)<br>Memperbaiki motivasi, mengupas Dharma, sampai manfaat pertama bertumpu pada guru spiritual.<br>Jilid 2. SEALF 2011 (di Villa Istana Bunga, Lembang) <br>Manfaat pertama bertumpu pada guru spiritual sampai akhir pembahasan praktik motivasi awal.<br>Jilid 3. SEALF 2012 (di Villa Istana Bunga, Lembang) <br>Penderitaan samsara sampai akhir pembahasan praktik motivasi menengah.<br>Jilid 4. SEALF 2014 (di Villa Istana Bunga, Lembang) <br>Praktik motivasi agung, mulai dari manfaat bodhicita sampai praktik &#8220;Terima &amp; Kasih&#8221;, salah satu cara mengembangkan bodhicita warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.<br>Jilid 5. SEALF 2019 (di Prasadha Jinarakkhita, Jakarta)<br>Cara melatih 6 Paramita sampai akhir pembahasan praktik motivasi agung (akhir kitab &#8220;Pembebasan di Tangan Kita&#8221;).</td></tr><tr><td>Target Penyaluran</td><td>Anggota Sangha, Dharmaduta, dan umat Buddha di seluruh Indonesia.</td></tr><tr><td>Jadwal Terbit</td><td>5 tahun atau lebihPerkiraan terbit 1 jilid per tahun<br>Jilid 1 dijadwalkan terbit sekitar November/Desember 2021</td></tr></tbody></table></figure>



<p></p>



<h4><strong>ESTIMASI ANGGARAN PROYEK</strong></h4>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="498" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-1024x498.png" alt="" class="wp-image-6280" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-1024x498.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-600x292.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-300x146.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-768x373.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-1536x746.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-2048x995.png 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-150x73.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-450x219.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/09/Tabel-01-1200x583.png 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>*(oleh Dharma Patriot)</figcaption></figure></div>



<h4><strong>DUKUNG KAMI!</strong></h4>



<p>Dalam momen istimewa ini, bantu kami mengabadikan ajaran Guru Dagpo Rinpoche &amp; aktivitas pelestarian dan pengembangan Dharma lainnya (penerbitan dan penyaluran buku Dharma, penyelenggaraan kegiatan Dharma, biaya operasional dan mobilisasi relawan) dengan menjadi Dharma Patron Lamrimnesia!</p>



<p>Dharma Patron Lamrimnesia adalah penyokong kegiatan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara yang dijalankan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) melalui dukungan materi.</p>



<h4><strong>Tentang YPPLN: </strong><a href="https://lamrimnesia.org/tentang-kami/"><strong>lamrimnesia.org/tentang-kami/</strong></a><strong>&nbsp;</strong></h4>



<h4 class="has-text-align-center"><strong>Jadilah Dharma Patron Lamrimnesia!</strong></h4>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><strong>Dharma Patron non Rutin</strong>, dengan pilihan:<br><br>Sederhana (sukarela*)<br>Welas Asih Rp200.100,-Bijaksana Rp800.100,-Sampurna Rp4.800.100,-<br><br>Salurkan dana Anda:<br>BCA 0079 388 388 atau MANDIRI 119 009 388 388 0<br><br>A.n. Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara</td><td class="has-text-align-center" data-align="center"><br><br><br><br><strong>Dharma Patron Rutin Lamrimnesia</strong> Selama 3 tahun**<br><br>untuk mendukung kesinambungan aktivitas Lamrimnesia secara rutin setiap bulan (jumlah sukarela)<br></td></tr></tbody></table></figure>



<p></p>



<p>Apresiasi untuk Dharma Patron:&nbsp;<br>Paket Sederhana &amp; Welas Asih &#8211; 1 buku Dharma<br>Paket Bijaksana &#8211; 1 Buku Dharma, 1 Kumpulan Kutipan Dharma<br>Paket Sampurna &#8211; 1 Set Kitab “Pembebasan di Tangan Kita”<br>Dharma Patron Rutin:&nbsp; buku Dharma tak berbayar terbaru, diskon khusus buku Dharma berbayar (jika telah berkontribusi 3 bulan atau lebih)</p>



<p>*Tambahkan Rp100,- pada nominal donasi Anda</p>



<p>**Estimasi terbit 1 jilid per tahun (5 jilid dalam 5 tahun+)</p>



<p>Alokasi dana Dharma Patron:<br>&#8211; Penerbitan &amp; Penyaluran Buku Dharma (<strong>S</strong> ALUR)<br>&#8211; Penyelenggaraan Kegiatan Dharma (<strong>A</strong> JAR)<br>&#8211; Mobilisasi Dharma Patriot &amp; Biaya Operasional (<strong>P</strong> ROMOSI &amp; <strong>A</strong> JAK)</p>



<p><strong>Konfirmasi Dana Dharma Patron non Rutin:</strong><br>Kirim pesan ke Call Center Lamrimnesia dengan format: DharmaPatron100</p>



<p>Atau klik tautan <a href="https://lamrimnesia.org/dpatron100">https://lamrimnesia.org/dpatron100</a>&nbsp;</p>



<p><strong>Pendaftaran Dharma Patron Rutin:</strong><br>Daftar di tautan:<strong> </strong><a href="https://lamrimnesia.org/pendaftaran-dharma-patron-rutin/"><strong>https://lamrimnesia.org/pendaftaran-dharma-patron-rutin/</strong></a></p>



<p>Atau kirim pesan ke Call Center Lamrimnesia dengan format:<br>“Saya ingin menjadi Dharma Patron Rutin”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/09/26/melestarikan-dharma-nusantara-yang-kembali-ke-tanah-air/">Melestarikan Dharma Nusantara yang Kembali Ke Tanah Air</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/09/26/melestarikan-dharma-nusantara-yang-kembali-ke-tanah-air/">Melestarikan Dharma Nusantara yang Kembali Ke Tanah Air</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 14:55:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara Dharma Book Festival 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6183</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalai Lama memberikan solusi untuk kegalauan generasi muda Indonesia, yaitu welas asih &#038; kebijaksanaan di NDBF 3.0</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rabu, 11 Agustus 2021 – Penerima Nobel Perdamaian 1989 Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab pertanyaan pelajar Indonesia tentang cara mengatasi kecemasan dan emosi negatif dalam acara daring “Grand Buddha Goes to School – Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV”.&nbsp;</p>



<p>Beliau “berkunjung” atas undangan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia) yang bekerja sama dengan komunitas Buddhis Kadam Choeling Indonesia (KCI) untuk berbagi wawasan kepada generasi muda di Indonesia tentang Jataka Mala, karya sastra Buddhis klasik yang terukir di Candi Borobudur.</p>



<p>Acara yang dimulai pukul 10.30 WIB ini dihadiri sekitar 1000 pelajar dari 60 sekolah, universitas, dan organisasi via aplikasi Zoom serta disaksikan lebih dari 2000 penonton umum di Indonesia via situs dan Youtube Lamrimnesia, termasuk perwakilan Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera dari Sangha Theravada Indonesia dan Tim Staf Khusus Presiden RI. </p>



<p>Acara ini juga disiarkan dalam 16 bahasa kepada lebih dari 30.000 peserta mancanegara via media sosial resmi Dalai Lama. Acara dimoderatori oleh penulis dan musisi Dewi Lestari. Aktor Morgan Oey juga hadir dan memimpin persembahan mandala untuk memohon pengajaran Dharma.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV kemudian memberikan pemaparan singkat mengenai nilai-nilai Buddhis secara umum, dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari pelajar Indonesia yang mencakup beragam topik seperti pandemi, sejarah dan budaya, toleransi dalam beragama, hingga kecemasan yang umum dialami remaja.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6191" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1024x576.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-768x432.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1200x675.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h4><strong>Keharmonisan dalam Beragama</strong></h4>



<p>“Salah satu komitmen saya adalah mendukung keharmonisan beragama,” tutur Y.M.S. Dalai Lama XIV saat membuka sesi, “Semua agama mengandung pesan yang sama, yaitu cinta kasih dan kebaikan hati.”</p>



<p>Dalam penjelasan pembuka, Y.M.S. Dalai Lama XIV secara khusus mengajak umat Buddha di Indonesia untuk aktif mempromosikan semangat persatuan umat manusia dan keharmonisan dalam beragama.&nbsp;</p>



<p>Sehubungan dengan topik ini, Beltran Dano (20) dari Bandung bertanya di sesi tanya-jawab tentang cara umat Buddha yang merupakan minoritas di Indonesia menghadapi tekanan kelompok intoleran dari agama mayoritas. Y.M.S. Dalai Lama XIV mengatakan bahwa umat Buddha memiliki kesempatan yang sangat baik untuk belajar mengembangkan welas asih dan membagikan nilai kebaikan universal dari Buddhadharma kepada orang lain.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV mencontohkan sahabat-sahabatnya yang bukan Buddhis bisa mendapatkan manfaat dari Buddhisme. Buddhadharma memang mengambil pandangan ilmiah tentang pikiran dan emosi. Tradisi Nalanda secara khusus memuat metode mengurangi emosi negatif dan meningkatkan emosi positif sehingga kita bisa meraih kesehatan batin dan lebih bahagia. Ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang tertarik untuk mempelajarinya tanpa perlu membuat komitmen keagamaan. Jadi, sebagai umat Buddha, kita bisa membagikan hal ini dengan saudara-saudara kita yang beragama lain untuk turut menciptakan dunia yang lebih damai.</p>



<p>“Dengan pengetahuan mendalam dipadukan dengan cinta kasih dan welas asih, anda akan mencapai kemajuan dan bisa berbagi dengan saudara sebangsa. Dengan begitu Anda bisa membangun keharmonisan,” pesan Y.M.S. Dalai Lama XIV.</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bertuhan-beragama-dan-hal-hal-lain-yang-belum-selesai/">Jelajahi nilai mendasar dalam Buddhisme biar kamu bisa berbagi!</a></em></p>



<h4><strong>Menghadapi Kecemasan Generasi Muda</strong></h4>



<p>Langit Jingga (17) dari Bali bertanya dalam bahasa Tibet tentang cara membantu orang-orang yang merasa cemas dan takut akibat pandemi. Menjawab pertanyaan ini, Y.M.S. Dalai Lama XIV mengingatkan kita tentang ketidakkekalan, bahwa pandemi maupun berbagai permasalahan lain yang sedang terjadi di dunia ini suatu saat akan berakhir. Oleh karena itu, apapun yang terjadi, kita tidak boleh berputus asa dan harus mempertahankan harapan.</p>



<p>“Kalau sampai putus asa, maka di sanalah letak kegagalan yang sebenarnya,” tegas Beliau.</p>



<p>Pertanyaan lain yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini datang dari Keenan Avalokita (17). Keenan bertanya tentang cara menyeimbangkan antara menjadi diri sendiri dan berusaha diterima orang lain. Baginya, ini adalah dilema yang bisa membuat dirinya murung dan dicap negatif oleh orang-orang di sekitarnya.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menanggapi pertanyaan ini dengan menceritakan sedikit sejarah Tibet dan pengalaman Beliau sendiri sebagai pengungsi dari Tibet yang harus pindah ke negara baru. Beliau mengatakan bahwa selama kita menggunakan kebijaksanaan dan memiliki hati yang penuh welas asih, kita tidak perlu ragu mempertahankan nilai-nilai yang kita anut. Walaupun awalnya orang-orang di sekitar kita memiliki pandangan lain, lama-kelamaan mereka pasti bisa memahami kita dan bahkan mendukung nilai-nilai tersebut.</p>



<p>“Kami orang Tibet adalah orang-orang yang teguh dan berani,” ujar Beliau, “tetapi itu tidak berarti kami menggunakan kekerasan. Semangat Tibet kami adalah keteguhan dan welas asih, kualitas-kualitas yang telah menarik kekaguman bahkan di antara beberapa orang Cina.”</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>Ubah kegalauanmu menjadi keberanian &amp; welas asih dengan buku ini.</em></a></p>



<h4><strong>Candi Borobudur dan Candi di Hati Kita</strong></h4>



<p>Indivara Chaesa Putri (16) bertanya kepada Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang cara melestarikan Candi Borubudur dan kapan Beliau bisa berkunjung ke sana.&nbsp;</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah candi luar biasa. Candi ini memuat ajaran berdasarkan tradisi yang sama dengan yang Beliau anut, yaitu Tradisi Nalanda. Namun, penting bagi kita untuk mengisi “candi” yang ada di dalam diri kita, yaitu batin, dengan cinta kasih dan welas asih. Jika “candi” dalam diri kiri kita kosong, maka candi semegah Borobudur pun juga menjadi candi kosong yang tak bernilai.</p>



<p><em><a href="https://lamrimnesia.org/2021/04/30/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Baca juga: &#8220;Memaknai Borobudur dengan Keyakinan&#8221;</a></em></p>



<h4><strong>Praktik Dharma Dulu dan Kini</strong></h4>



<p>Pertanyaan menarik lainnya datang dari Reyhans Luthfi Hudoyo (19), mahasiswa STABN Sriwijaya Tangerang. Reyhans membandingkan kondisi kita saat ini dengan orang-orang di zaman Sang Buddha yang tampaknya begitu mudah meraih tingkat kesucian hanya dengan sekali mendengarkan pengajaran Dharma, lalu meminta nasihat dari Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang cara melatih batin di masa kini.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6193" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menyatakan bahwa Beliau tidak percaya bahwa tingkat kesucian bisa diraih tanpa upaya. Bahkan Pangeran Siddhartha pun harus berjuang keras selama 6 tahun, baru bisa meraih penerangan sempurna.&nbsp;</p>



<p>Beliau kemudian mengajarkan cara praktik Dharma untuk melatih batin di masa kini yang juga menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya seputar mengelola ekspektasi dan meraih kedamaian batin di tengah semakin banyaknya distraksi akibat perkembangan zaman.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa murid-murid Sang Buddha mulai dari belajar atau mendengarkan pengajaran Dharma, merenungkannya untuk meningkatkan pemahaman, lalu memeditasikannya dengan menerapan <em>samatha&nbsp; </em>(kestabilan batin) dan <em>wipashyana </em>(pandangan mendalam) dalam perenungannya. Dari situ, barulah batin mereka berubah secara mendalam.</p>



<p>Lebih lanjut, Y.M.S. Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa sebab penderitaan kita adalah sikap mementingkan sendiri. Ini bisa diatasi dengan memeditasikan kesalingbergantungan yang bisa dipelajari melalui filsafat Madhyamika. Beliau kemudian memberi “tips” melatih batin. Pertama, kita perlu mengendalikan diri agar tidak gampang terseret oleh kesadaran indra. Dari situ, kita bisa melatih kestabilan batin.&nbsp;</p>



<p>Dengan batin yang stabil, kita bisa menggunakan kecerdasan untuk mengamati diri kita sendiri dan mempertanyakan di mana letaknya “aku”. Semakin banyak kita belajar dan berlatih, kita akan bisa melihat kebenaran, bahwa tidak ada “aku” yang berdiri sendiri yang selama ini menjadi akar dari semua emosi negatif seperti kemelekatan dan kecemburuan yang membuat kita menderita.</p>



<p>“Berlandaskan pada aktivitas belajar, setelah belajar kita berdoa, dan mengembangkan kapasitas pribadi kita hingga maksimal, kita semua memiliki kemungkinan untuk mencapai Kebuddhaan,” terang Y.M.S. Dalai Lama XIV</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product-category/toko-buku-online/buddhis/lamrim/">Mulai praktik belajar, merenung, dan meditasimu dengan panduan lengkap ini.</a></em></p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV juga mengutip tiga ayat dari &#8216;Memasuki Jalan Tengah&#8217; (Madhyamakavatara) karya Chandrakirti berkenaan dengan proses melatih batin dengan Dharma yang telah Beliau jelaskan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Diterangi oleh berkas-berkas cahaya kebijaksanaan,</em><br><em>Bodhisatwa melihatnya sejelas buah amalaki di telapak tangan yang terbuka,</em><br><em>Bahwa ketiga alam di keseluruhannya tidak terlahirkan sejak dari awalnya,Dan melalui kekuatan kebenaran konvensional, ia menempuh perjalanan menuju penghentian.</em><br><br><em>Walau batinnya mampu menetap terus-menerus dalam penghentian,</em><br><em>Beliau juga membangkitkan welas asih untuk para makhluk yang tak memiliki perlindungan,</em><br><em>Melaju maju lebih jauh lagi, Beliau juga bersinar cemerlang melalui kebijaksanaannya,</em><br><em>Semua yang lahir dari ucapan Buddha dan Buddha-Buddha menengah.</em><br><br><em>Laksana para raja angsa menjulang ke depan melampaui angsa-angsa ahli lainnya,</em><br><em>Dengan sayap-sayap putih kebenaran konvensional dan tertinggi yang berkembang lebar,</em><br><em>Didorong oleh kekuatan angin-angin kebajikan, Bodhisatwa akan menyeberangi</em><br><em>Hingga pantai seberang yang unggul, samudra kualitas-kualitas Para Penakluk.”</em></p><cite>&#8220;Memasuki Jalan Tengah&#8221; (<em>Madhyamakavatara</em>) &#8211; Arya Chandrakirti</cite></blockquote>



<p><strong>Pentingnya Bodhicita, Kunci Kebahagiaan Warisan Nusantara</strong></p>



<p>Sebelum mengakhiri sesi, Y.M.S. Dalai Lama XIV mengajak peserta melakukan meditasi welas asih bersama-sama. Beliau kemudian memberikan penjelasan tentang pentingnya bodhicita yang bisa didefinisikan sebagai sikap altruistik yang mementingkan makhluk lain. Bodhicita ini penting bagi kita untuk mengumpulkan kebajikan dan sikap positif. Dengan bodhicita, barulah kita bisa memenuhi tujuan diri kita sendiri dan semua makhluk.</p>



<p>“Kisah luar biasa dalam Jataka muncul dari bodhicita. Dengan bodhicita, kita bisa mengumpulkan kebajikan luar biasa. Dari kebajikan luar biasa, kita bisa menghimpun kebijaksanaan luar biasa. Dari kebajikan dan kebijaksanaan ini, Kebuddhaan bisa dicapai,” terang Y.M.S. Dalai Lama XIV.</p>



<p>Bodhicita inilah yang menggerakkan Bodhisatwa untuk melakukan berbagai aktivitas untuk menolong orang lain dan membangkitkan tekad untuk mencapai Kebuddhaan. Ini sejalan dengan nasihat dari Arya Shantidewa dalam karyanya, “Lakon Hidup Sang Penerang” (Bodhisatwa-caryawatara):</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Seseorang yang tak menukar kebahagiaannya dengan penderitaan makhluk lain pastinya tak akan meraih Kebuddhaan. Bagaimana ia bisa meraih kebahagiaan dalam samsara?</em><br><br><em>Dengan menaiki kereta perang bodhicita, yang menghalau semua perasaan putus asa dan letih, orang berakal mana yang akan patah semangat selagi ia melaju melewati kegembiraan demi kegembiraan?”</em></p><cite>&#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; <em>(Bodhisatwa-caryawatara)</em> &#8211; Arya Shantidewa</cite></blockquote>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV kemudian kembali memberikan tips yang bisa kita terapkan: ketika kita sudah bertekad untuk membantu makhluk lain, melayani makhluk lain, kita bisa membangkitkan tekad seperti Arya Shantidewa:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Selama angkasa masih ada,&nbsp;</em><br><em>dan selama semua makhluk masih ada,&nbsp;</em><br><em>semoga saya bisa menetap di dunia ini&nbsp;</em><br><em>untuk mengatasi penderitaan semua makhluk.”&nbsp;</em></p><cite>&#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; (<em>Bodhisatwa-caryawatara</em>) &#8211; Arya Shantidewa</cite></blockquote>



<p>Saat mengakhiri sesi, Y.M.S. Dalai Lama memberitahu kita semua bahwa instruksi tentang bodhicita ini merupakan ajaran dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (B. Tibet: Lama Serlingpa), guru Dharma asal Nusantara yang hidup pada abad X. Guru Atisha Dipamkara, pandit besar dari India yang belakangan mereformasi Buddhadharma di Tibet, secara khusus berlayar ke Indonesia untuk mempelajari ajaran ini dari Guru Suwarnadwipa.</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">Yuk kenalan dengan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti!</a></em></p>



<p><strong>Pembuka Festival Buku Dharma</strong></p>



<p>“Grand Buddha Goes to School – Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” merupakan acara pembuka dari rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0 yang diselenggarakan oleh Lamrimnesia. Dengan tema khusus “Membaca untuk Meningkatkan Ketangguhan Mental di Kala Pandemi”, NDBF 3.0 menghadirkan bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca generasi muda Indonesia. Seluruh acara diselenggarakan secara daring di situs NDBF &amp; media sosial Lamrimnesia.</p>



<p>&#8212;</p>



<p>“Grand Buddha Goes to School: Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” adalah acara pertama dalam rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0.</p>



<p>Ikuti bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>istimewa lainnya di NDBF 3.0 yang pastinya tak kalah inspiratif dan bisa meningkatkan ketangguhan batinmu di kala pandemi.</p>



<p>Kunjungi <a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">ndbf.lamrimnesia.com</a> &amp; ikuti media sosial Lamrimnesia untuk mendapatkan informasi &amp; kabar terbaru seputar NDBF 3.0!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inilah Cara Meditasi Welas Asih ala Buku “Hati Tanpa Gentar”</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/06/22/inilah-cara-meditasi-welas-asih-ala-buku-hati-tanpa-gentar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2021 09:48:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6102</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dengan meditasi welas asih, kita bisa membantu diri sendiri dan semua makhluk terbebas dari penderitaan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/06/22/inilah-cara-meditasi-welas-asih-ala-buku-hati-tanpa-gentar/">Inilah Cara Meditasi Welas Asih ala Buku “Hati Tanpa Gentar”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/06/22/inilah-cara-meditasi-welas-asih-ala-buku-hati-tanpa-gentar/">Inilah Cara Meditasi Welas Asih ala Buku “Hati Tanpa Gentar”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Welas asih adalah salah satu sifat unggul yang dimiliki oleh seorang Buddha. Dengan kekuatan welas asih yang dimilikinya, Buddha dapat membebaskan semua makhluk dari samsara. Kita pun bisa melatih welas asih dengan berbagai cara melalui ucapan, pikiran, maupun tindakan. Di lain sisi, welas asih juga bisa kita latih dengan cara memeditasikannya.</p>



<p>Bagaimana cara memeditasikan welas kasih?</p>



<p>Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Lamrimnesia mengadakan <em>workshop </em>meditasi welas asih berdasarkan buku “Hati Tanpa Gentar” yang ditulis oleh Thubten Jinpa pada Jumat, 11 Juni lalu bersama Sramaneri Tenzin Tshojung sebagai narasumber via aplikasi Zoom.</p>



<p>Sebelum memasuki sesi meditasi, Sramaneri Tenzin menguraikan terlebih dahulu pengertian welas asih.</p>



<h4><strong>Apa Itu Welas Asih?</strong></h4>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Welas asih itu sesuatu yang dekat dengan kita tapi terasa jauh dengan kita, karena kita tidak sering bercengkerama dengannya,” ujar Sramaneri.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Banyak definisi welas asih dari psikologi. Tapi dari buku ini, welas asih adalah perasaan prihatin terhadap penderitaan makhluk lain, tidak terkotak-kotakan hanya pada manusia saja tapi juga makhluk lain – anjing, kucing, dan sebagainya. Keadaan kita melihat hal tersebut, kita ada satu rasa ‘aku ingin menghilangkan (penderitaan makhluk itu)’, ini namanya welas asih,” imbuh Sramaneri Tenzin Tshojung.</p></blockquote>



<p>Secara singkat, pengertian welas asih adalah perasaan ingin menghilangkan penderitaan dari makhluk lain. Lebih lanjut, Sramaneri menjelaskan hubungan antara welas asih dan buku “Hati Tanpa Gentar”.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Tanpa gentar ini karena kita berani. Seperti orang yang punya welas asih, berani bertindak seperti pahlawan. berani mencintai berani menerima penderitaan. Kita pernah disakiti oleh orang yang dicintai ya kita harus menghadapinya,” tutur Beliau.</p></blockquote>



<p>Dalam sesi ini, Sramaneri menguraikan bahwa saat kita berani untuk bertindak, kita juga harus berani menerima konsekuensinya. Seperti saat kita berwelas asih terhadap semua makhluk, ya kita harus terima risikonya. Kita menyayangi orang tua dan harus menerima risikonya bila suatu hari nanti mereka pergi meninggalkan kita. Sama juga seperti saat kita berwelas asih terhadap anak-anak, kita pun harus siap dengan konsekuensinya bahwa suatu hari nanti mereka bisa berwelas asih terhadap kita, tapi bisa juga tidak. Saat kita menolong teman pun bisa saja balasan yang kita terima tidak mengenakkan hati, misalnya dicaci maki atau dijauhi.</p>



<p>Kemudian, sesi dilanjutkan dengan penjelasan tentang motivasi yang tepat dalam melatih welas asih dan metode praktiknya.</p>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/15/y-m-s-dalai-lama-xiv-kita-perlu-welas-asih-untuk-melawan-virus-corona/"><em>Baca juga: “Y.M.S. Dalai Lama XIV: Kita Perlu Welas Asih untuk Melawan Virus Corona</em></a><em>”</em></p>



<h4><strong>Meditasi Welas Asih</strong></h4>



<p>Secara sederhana, Sramaneri memaknai meditasi sebagai suatu bentuk pembiasaan diri kita terhadap sesuatu yang ingin kita kondisikan. Beliau mengatakan bahwa kita selama ini sudah menjadi praktisi meditasi untuk aktivitas-aktivitas yang tidak baik, salah satunya adalah “kemalasan”. Setiap hari kita terbiasa untuk membiasakan diri dengan kemalasan tetapi belum tentu terbiasa untuk hal-hal yang bajik. Maka dari itu, dalam <em>workshop </em>ini, Sramaneri mengajak kita untuk mulai membiasakan diri dengan hal yang bajik, yaitu welas asih.</p>



<p>Sramaneri kemudian menuturkan dua jenis meditasi, yaitu meditasi konsentrasi dan meditasi analitik. Meditasi konsentrasi adalah pembiasaan diri untuk fokus pada objek tertentu, misal kita membiasakan diri untuk memperhatikan keluar masuknya napas, sementara meditasi analitik adalah memikirkan suatu objek atau topik untuk kemudian dianalisis, misalnya welas asih. Meditasi juga memberi kita berbagai manfaat, seperti memberi kedamaian dalam batin, memperbaiki suasana hati, mengatasi rasa kesepian, dan membuat kita lebih percaya diri.&nbsp;</p>



<p>Setelah menjelaskan tentang apa itu welas asih dan meditasi, Sramaneri kemudian mengajak kita untuk sejenak mempraktikkan beberapa meditasi berdasarkan buku “Hati Tanpa Gentar”.</p>



<h4><strong>Praktik Meditasi Welas Asih</strong></h4>



<p>Mula-mula Sramaneri mengajak para peserta untuk melakukan meditasi pernapasan. Dalam sesi ini peserta diajak untuk mengamati pernapasan masing-masing dan mencatat semua perasaan yang muncul saat meditasi, termasuk semua pikiran yang berkeliaran.</p>



<p>Setelah meditasi pernapasan usai, Sramaneri kemudian menjelaskan tentang beberapa kesulitan yang dialami oleh pemula ketika meditasi. Salah satu yang dibahas adalah pikiran yang mengembara. Beliau mengatakan bahwa ini normal terjadi bagi pemula karena pikiran kita terbiasa untuk mengembara dan jarang isitirahat. Saat kita duduk mengawali meditasi, pikiran pasti lari ke sana kemari dan kadang kita tidak menyadarinya. Untuk itu, Sramaneri menyarankan agar kita memperhatikan saja apa yang sedang terjadi dalam pikiran untuk perlahan melatih fokus kita. Selanjutnya beliau mengajak peserta untuk memeditasikan batin yang luas dan memantapkan niat untuk mengetahui tujuan kita untuk selanjutnya masuk pada praktik meditasi welas asih.</p>



<p>Sebelum lanjut untuk praktik meditasi welas asih, Sramaneri menguraikan terlebih dahulu tiga poin kunci welas asih, yakni pemahaman tentang penderitaan yang berhubungan dengan diri sendiri, pemahaman bahwa semua makhluk merasakan penderitaan yang sama dan memiliki keinginan untuk bahagia, serta melihat semua makhluk hidup saling bergantungan. Dengan dasar tiga hal itu, barulah praktik meditasi welas asih dipraktikkan. Dalam sesi ini, Sramaneri mengajak para peserta untuk membayangkan orang-orang terkasih seperti orang tua, sahabat, dan semua makhluk yang sedang menderita sehingga kita bisa memunculkan motivasi untuk membebaskan mereka dari penderitaan itu.</p>



<p>Tetapi, kadang kita kesulitan untuk menumbuhkan welas asih dalam diri. Sramaneri mengungkapkan bahwa kesulitan kita untuk menumbuhkan welas asih adalah karena kita kurang menyayangi diri sendiri. Untuk menumbuhkan welas asih dalam hal ini, Sramaneri memberi beberapa tips, seperti menerima penderitaan, belajar memaafkan diri sendiri, menerima diri sendiri, baik terhadap diri sendiri, dan menjadi teman terbaik yang bijak untuk diri sendiri.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Dari <em>workshop</em> meditasi welas asih bersama Sramaneri Tenzin Tshojung ini, saya bisa lebih memahami bahwa welas asih juga bisa kita latih melalui meditasi. Mulai dari meditasi pernapasan, melihat batin secara luas, memantapkan niat, kemudian masuk dalam meditasi welas asih. Saya pun menjadi lebih paham bahwa ketika kita tidak bisa menumbuhkan welas asih dalam diri, itu bisa jadi karena kita belum bisa menerima penderitaan dan juga belum bisa memaafkan diri sendiri.</p>



<p>Saya teringat beberapa hari setelah mengikuti <em>workshop </em>ini, saya mengalami sesuatu yang membuat saya terus menyalahkan diri sendiri setiap hari dan tidak bisa beraktivitas dengan baik. Sikap menyalahkan diri sendiri secara terus menerus ini membuat saya menderita &#8212; setiap hari hanya bisa marah-marah. Tapi setelah mempraktikkan meditasi welas asih secara perlahan, dan memang tidak mudah untuk langsung fokus, saya bisa merasakan manfaatnya sedikit demi sedikit. Saya mulai bisa mengoreksi diri sendiri dan perlahan meredam amarah.&nbsp;</p>



<p>Maka dari itu, ke depannya saya akan terus berlatih untuk menerima penderitaan dalam diri agar bisa menumbuhkan welas asih untuk diri sendiri dan juga untuk semua makhluk agar mereka dapat terbebas dari samsara.</p>



<p>&#8212;<br>Buku “Hati Tanpa Gentar” karya Thubten Jinpa, Ph.D. bisa diundang di <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/hati-tanpa-gentar/">sini</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/06/22/inilah-cara-meditasi-welas-asih-ala-buku-hati-tanpa-gentar/">Inilah Cara Meditasi Welas Asih ala Buku “Hati Tanpa Gentar”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/06/22/inilah-cara-meditasi-welas-asih-ala-buku-hati-tanpa-gentar/">Inilah Cara Meditasi Welas Asih ala Buku “Hati Tanpa Gentar”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 May 2021 12:04:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[candi borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim talk]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[morgan oey]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6068</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Morgan Oey bicara soal nilai bajik universal di Candi Borobudur dan mengajak anak muda Indonesia untuk turut mempromosikannya.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari Candi Borobudur, kita bisa belajar untuk menjadi lebih bahagia dengan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Hal ini dicetuskan aktor Morgan Oey dalam Lamrim <em>Talk </em>Seri Borobudur “Beken Bangunannya, Beken Nilai Bajiknya” yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia) hari Jumat, 30 April 2021. Dalam acara ini, Morgan didampingi oleh Melyana, <em>content creator </em>Lamrimnesia yang belakangan ini banyak membagikan informasi seputar Candi Borobudur.</p>



<p>Sebagai narasumber utama, Morgan bercerita tentang inspirasi dari Candi Borobudur yang berpengaruh dalam kehidupannya sehari-hari serta peran anak muda dalam melestarikan dan mempromosikan nilai bajik candi tersebut.</p>



<h4><strong>Inspirasi Welas Asih Candi Borobudur</strong></h4>



<p>Ketika pertama datang ke Borobudur, Morgan terkesan dengan kemegahan bangunannya. Ia kemudian menelusuri relief yang ada di dinding candi dari bawah sampai atas. Ia menemukan praktik welas asih dan hukum sebab-akibat dari relief riwayat Buddha dan kisah-kisah lain dari kitab suci Buddhis yang bisa menjadi pedoman hidup. Selain itu, ada juga nilai keberagaman yang diwakilkan oleh relief perjalanan Sudhana belajar pada 50+ guru dari berbagai latar belakang.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>That’s what I love about</em> ajaran Buddha yang sangat mengajarkan kita untuk nggak men-<em>judge</em> orang<em>,</em>” komentar Morgan.</p></blockquote>



<p>Morgan bercerita bahwa ia pernah mendengar dan terinspirasi oleh ajaran Buddha sebelum pergi ke Candi Borobudur. Lalu, ketika Morgan melihat poin-poin dalam ajaran Buddha yang dia kenali terukir di relief candi, misalnya momen Pangeran Siddhartha meninggalkan kejayaan duniawinya demi mencari obat bagi penderitaan semua makhluk, muncul rasa takjub yang membuat pesan positif dalam relief tersebut makin merasuk dalam hati.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Sejak kecil, saya diajarkan untuk selalu berbagi kebahagiaan dengan orang yang lebih membutuhkan. Ketika saya ke Candi Borobudur dan melihat ajaran Buddha yang terukir di relief, <em>it makes me complete,</em>” tutur Morgan.</p></blockquote>



<h4><strong>Praktik Welas Asih, Praktik Berbagi</strong></h4>



<p>Morgan kemudian bercerita tentang aktivitasnya di organisasi Indorelawan sebagai penerapan dari sebagian kecil bentuk welas asih yang selama ini ia latih. Dengan visi “mengubah niat baik menjadi aksi baik hari ini”, Morgan bersama Indorelawan menghubungkan organisasi-organisasi sosial dengan orang-orang yang ingin berkontribusi untuk menolong sesama secara sukarela. Salah satu kampanye yang diusung Morgan adalah melakukan minimal 10 jam aksi baik dalam setahun.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Ketika kita berbagi kebahagiaan dengan teman-teman yang membutuhkan, pasti rasa bahagianya itu beda. <em>It’s priceless, </em>nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, nggak bisa diukur dengan materi juga” ujar Morgan.</p></blockquote>



<p>Praktik welas asih seperti ini amat penting bagi generasi muda masa kini yang sulit bahagia karena terbebani oleh berbagai ekspektasi yang berasal dari ego.</p>



<p>“Dengan ada praktik welas asih yang bisa kita dapat dari nilai kebajikan di Candi Borobudur, sedikit demi sedikit kita bisa belajar mengurangi kadar ego dalam diri kita,” jelas Morgan, “Dengan lebih berempati sama orang, melakukan sesuatu untuk orang sekecil apapun itu, itu mungkin yang sedikit demi sedikit bisa mengikis ego dalam diri yang nantinya akan menjadi ekspektasi dalam hidup kita.”</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Nanti kalau misalnya kita lebih <em>care </em>sama orang, lebih <em>care </em>sama sekitar kita, kita akan bahagia.”</p></blockquote>



<h4>Anak Muda Harus Peduli</h4>



<p>Agar nilai welas asih dan keberagaman yang ada di Candi Borobudur ini bisa sampai ke banyak orang, generasi muda tentu memiliki peran penting.</p>



<p>“Nantinya anak mudalah yang harus menjaga dan merawat Candi Borobudur,” tegas Morgan. Ia kemudian menjelaskan bahwa anak muda Indonesia bisa mulai dari mengenal apa itu Candi Borobudur, sejarahnya, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Setelah kenal, maka barulah akan ada rasa sayang sehingga mereka mau turut menjaga candi tersebut. Kemudian anak muda Indonesia bisa memaksimalkan potensi dunia maya untuk mempopulerkan Candi Borobudur tidak hanya sebagai objek wisata, tapi juga tempat suci umat Buddha dunia yang mengandung nilai-nilai universal.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita perlu tahu dulu apa itu Candi Borobudur, kenapa ada Candi Borobudur. Rasa penasaran akan timbul. Pelan-pelan kita akan tahu bahwa Candi Borobudur itu ada nilai bajiknya yang bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” terang Morgan.</p></blockquote>



<p>Ada banyak sekali peserta acara yang mengirimkan pertanyaan kepada Morgan seputar Candi Borobudur maupun aktivitas Morgan sehari-hari. Salah satu topik yang banyak ditanyakan adalah pengelolaan candi serta persepsi masyarakat yang masih memandang situs keagamaan tersebut sebagai objek wisata biasa. Akibatnya, banyak terjadi <em><a href="https://lamrimnesia.org/2021/04/27/dilema-beribadah-di-borobudur/">mistreatment</a></em> yang berpotensi merusak Candi Borobudur dan menenggelamkan nilai-nilai bajiknya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Menduduki stupa atau menginjak patung itu di luar akal sehat. Pengelola Candi Borobudur harus lebih tegas menerapkan aturan yang sesuai untuk tempat suci,” kata Morgan, “Sebagai non-Buddhis, kita juga harus menghormati.”</p></blockquote>



<p>Di akhir acara, para pengisi acara menyimpulkan bahwa candi warisan leluhur kita ini tidak hanya memiliki bangunan yang megah dan relief yang indah, tapi juga nilai filosofis yang bisa membuat kita lebih bahagia, yaitu welas asih dan keberagaman. Bisa dibilang bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Candi Borobudur adalah simbol dari Bhinneka Tunggal Ika.</a> Karena nilainya universal, umat Buddha maupun bukan boleh datang asal tetap bersikap hormat selayaknya di tempat suci. Agar itu bisa terwujud, anak muda perlu seperti Morgan, bangga dengan Borobudur karena nilai luhurnya serta melestarikan dan peduli terhadap Candi Borobudur, lalu mempromosikan Borobudur dengan karya agar candi ini bisa beken bangunannya sekaligus beken nilai bajiknya.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2021 05:40:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[guru Dharma Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[peninggalan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban Hindu Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[prasasti kerajaan Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5843</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di zaman peradaban Hindu-Buddha dulu, ternyata ada guru Dharma Nusantara yang berdampak pada perkembangan Buddha Dharma dunia lho! Beliau adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya. Apa ajarannya?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg" alt="Infografis Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (Lama Serlingpa), Guru Dharma Nusantara dari Kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha" class="wp-image-5850" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-768x1366.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1152x2048.jpg 1152w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1200x2134.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled.jpg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure>



<p>oleh Junarsih</p>



<p>Untuk mengingat Guru Besar Buddhis di Nusantara pada zaman Sriwijaya, yakni Suwarnadwipa Dharmakirti, Lamrimnesia menyelenggarakan bedah buku <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">&#8220;Untaian Kelahiran yang Berharga&#8221;</a> pada Jumat, 29 Januari 2021. Kedua narasumber sekaligus penulis buku, Nayaka Sangha Agung Vajrayana SAGIN Y.M Lobsang Gyatso Sthavira dan Kepala Editor YPPLN Stanley Khu memaparkan dengan jelas tentang Sriwijaya dan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Lebih dari 124 orang mengikuti acara ini via aplikasi Zoom.</p>



<p>Nakapala sebagai moderator menyampaikan sedikit pengantar untuk mengawali acara. “Sekilas hari ini kita akan membedah buku Untaian Kelahiran yang Berharga. Buku ini berisi tentang riwayat tokoh-tokoh yang berjuang dalam mempraktikkan Dharma yang mampu menjadi rujukan kita untuk menumbuhkembangkan keyakinan dan mengikuti teladan mereka. Dan salah satu tokoh tersebut adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.” tuturnya.</p>



<h4><strong>Buddhisme Mahayana di Sriwijaya</strong></h4>



<p>“Pada suatu ketika di masa lampau, ada Kerajaan Sriwijaya. Ia terletak di Pulau Sumatera.&nbsp; Kerajaan ini pernah berjaya sebagai sebuah peradaban, sebagai pusat dari tradisi filosofis besar yang kita kenal sebagai Buddhisme,” tutur Stanley Khu mengawali pemaparan Sriwijaya zaman dulu.</p>



<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Buddhisme adalah sistem pemikiran dan moralitas yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni. Buddhisme mulanya adalah sebuah gerakan spiritual yang menawarkan alternatif dari Brahmanisme di India yang kemudian bergerak menuju kawasan Asia, terutama di Asia Tenggara serta Asia Timur seperti China, Korea, dan Jepang. Melalui jalur Asia Tenggara, kemudian Buddhisme sampai di Sumatera termasuk kawasan perdagangan Internasional di Sriwijaya.</p>



<p>“Terdapat aktivitas keagamaan yang intens selama era perdagangan yang hiruk-pikuk di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara,” Stanley Khu menambahkan. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Nicolaas Johannes Krom, seorang filsuf barat, bahwa kalau dilihat dari kondisi geografis Nusantara, terdapat hubungan erat antara Buddhisme dan perdagangan.&nbsp;</p>



<p>“Menurut sejarahnya, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh yang berubah-ubah dari Asia Selatan. Misal pada abad ke-3 dan ke-4 mendapat pengaruh dari Antrapadesh, Sri Lanka. Sedangkan pengaruh Mahayana dari sisi Timur Laut India di daerah Bihar itu sangat kentara pada periode abad ke-7 sampai ke-10.” jelas Stanley Khu. Abad ke-7 sampai ke-10 ini adalah periodenya Sriwijaya sehingga tradisi Mahayana sangat kental di Sriwijaya. Kemudian pada abad ke-11, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh dari Asia Selatan, tepatnya dari Tamil Nadu, Dinasti Chola yang menginvasi Sriwijaya.</p>



<p>Catatan yang membuktikan Sriwijaya memiliki tradisi Mahayana terdapat dalam Prasasti Talang Tuo yang ditemukan di Palembang dan dibuat pada tahun 684M. Singkat isi dari prasasti tersebut adalah harapan para penguasa agar semua kebun, telaga, dan bendungan dapat berkontribusi untuk kesejahteraan semua makhluk, semoga bodhicita atau batin pencerahan tumbuh dalam diri setiap makhluk, dan semoga semua makhluk mencapai pencerahan. “Prasasti ini juga membuktikan hubungan Buddhisme di Nalanda dan Sriwijaya,” imbuh Stanley Khu. Di Nalanda sendiri terdapat asrama untuk menampung biksu-biksu dari Nusantara.</p>



<p>“Dari sedikit gambaran ini, entah karena mentalitas atau psikologi, kita nggak tahu, Asia Tenggara maritim atau lautan cenderung lebih mudah menyerap kebudayaan baru dan menerima perubahan,” ujarnya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Islam dan kolonialisme yang juga tidak melalui banyak pergolakan.&nbsp;</p>



<p>“Pulau Jawa menyaksikan perkembangan tradisi ini selama masa Dinasti Syailendra,” tutur Stanley Khu. Pada masa Dinasti Syailendra kita bisa melihat kekayaan budaya dilihat dari kemegahan monumen yang dibangun pada era itu, seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.</p>



<p>Lalu apa karakteristik dari Dinasti Syailendra? Corak utama dari dinasti ini adalah orientasi Internasional Nusantara dari para penguasanya. Misalnya sebuah inskripsi dari Ratu Boko bertarikh tahun 792 yang mewartakan bahwa terdapat wihara untuk biksu-biksu Sinhala yang diberi nama Abhayagiri. Di Sri Lanka sendiri, di tempat bernama Anuradhapura memang dulu ada wihara dengan nama serupa, yakni Abhayagiri. Di wihara ini, ajarannya tergolong unik karena merupakan sinkretisme dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Sifat plural mereka ini menimbulkan pergesekan dengan komunitas lain sehingga mereka harus mencari tempat lain. Kalau ingin berpindah mereka bisa mencari tempat lain di Srilanka, tetapi mereka malah pergi ke Jawa untuk memenuhi undangan dari Dinasti Syailendra untuk menetap ke Jawa.&nbsp;</p>



<h4><strong>Sriwijaya Itu Apa Sebenarnya?</strong></h4>



<p>“Apa itu Sriwijaya?” Stanley Khu menjelaskan dengan nada seperti bertanya. Sriwijaya adalah kerajaan kota berbasis perdagangan yang kemakmurannya berdasarkan penguasa dalam mengontrol pengiriman barang di sepanjang Selat Malaka sehingga menjadi titik ini sebagai transit bagi para kaum pedagang dari wilayah Nusantara lain dan dari Semenanjung Melayu. Layaknya Islam setelah berabad-abad kemudian, Buddhisme bisa menyebar dengan apik di sepanjang jalur perdagangan.</p>



<p>Sistem pemerintahan Sriwijaya memiliki struktur yang longgar, jadi mau pindah ibukota di mana saja tetap bisa. Kekuatan militernya tidak terlalu kuat, sedangkan di bidang administratif sangat kuat. Sriwijaya dinamai sebagai Suwarnadwipa oleh orang Inda karena mereka bisa menemukan emas di sana.</p>



<p>Perputaran ilmu pengetahuan luar biasa terjadi di Sriwijaya dibuktikan dengan datangnya biksu China untuk belajar di sana. Biksu China bernama Yi-Jing berlayar menuju Sumatera dengan tujuan untuk belajar gramatika dan tata berperilaku di Sriwijaya. Dalam diari Yi-Jing, beliau meninggalkan China pada tahun 671 dan menuju Sumatera dengan kapal kepunyaan raja Sriwijaya. Yi-Jing belajar di Sriwijaya selama enam bulan. Kegiatan Yi-Jing di Sriwijaya ini juga menjadi contoh lain orientasi internasional para penguasa Sriwijaya.&nbsp;</p>



<p>“Penguasa Sriwijaya mengutus Yi-Jing menuju kerajaan lain yang namanya Melayu. Lalu dari sana YI-Jing menuju Kedah tempat ia menantikan angin. Karena dulu kan nggak ada pesawat, jadi pulang-pergi harus naik kapal dan menunggu angin yang akan meneruskan perjalanannya ke India. Karena ia di Sriwijaya hanya untuk belajar, konon katanya belajar gramatika dan tata cara berperilaku,” imbuh Stanley Khu. Pendidikan filsafat Buddhis yang yang lengkap pada masa itu ada di India seperti Nalanda dan Vikramasila, jadi Yi-Jing harus meneruskan perjalanannya menuju India. Kurang lebih 17 tahun Yi-Jing menghabiskan hidupnya di Nalanda. Yi-Jing juga membawa kitab yang konon mengandung lima ratus ribu bait ajaran menuju Sriwijaya.</p>



<p>Kesan positif yang didapat Yi-Jing selama tinggal di Sriwijaya membuatnya menganjurkan peziarah China untuk belajar di Sriwijaya sebelum bertolak ke India. Yi-Jing tetap belajar di Sriwijaya setelah pulang dari India selama 7 tahun terhitung sejak tahun 688-695M sebelum akhirnya ia pulang ke China.</p>



<p>“Dalam diarinya, Yi-Jing juga mencatat ada lima guru Buddhis yang tersohor seantero dunia. Dan yang menarik, ada satu orang dari Sriwijaya. Namanya Sakyakirti. Secara historis kita memang tidak menemukan catatan tentang guru ini,” Imbuh Stanley Khu.</p>



<p>“Selanjutnya kita membahas tentang geopolitik Sriwijaya. Sebenarnya Sriwijaya ini kisah apa sih? Ya kisah geopolitik. Pada masa lampau, jalur-jalur dagang di Asia akan berujung pada tempat kecil bernama Selat Malaka. Dalam catatan perjalanan Tommy Perez setelah Portugis menginvasi Malaka tahun 1511, terdapat ungkapan bahwa siapapun yang mampu menguasai Selat Malaka akan memegang tenggorokan Venesia, Italia. Kelihatannya tidak begitu nyambung, tetapi seluruh barang-barang sebelum masuk ke Eropa harus ditampung dulu di Malaka. Selat Malaka ini pendek sekali, diapit oleh dua samudera, yakni Samudera Pasifik di sebelah Timur dan Samudera Hindia di sebelah Barat, juga diapit oleh Semenanjung Melayu dan Pulau Sumatera di sisi lain.</p>



<p>Karena selat ini merupakan selat terpendek di dunia, ia pun menjadi jalur maritim alternatif dan paling sibuk pada zaman dulu. Saat itu, selat ini dikuasai oleh hanya satu kerajaan, yaitu Sriwijaya, berbeda dengan sekarang Selat Malaka dibagi menjadi tiga kawasan, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia.</p>



<p>“Lokasi Sriwijaya yang strategis, terdapat banyak hal yang bisa dibahas terkait eksistensinya. Pasti banyak risalah, sumber pustaka, sumber historis! Sayangnya bukan begitu kasusnya. Pengetahuan tentang Sriwijaya ironisnya baru muncul pada abad ke-20,” ujar Stanley Khu. Baru setelah seribu tahun kerajaan ini eksis saat seorang sarjana Prancis, George Coedes menyusun ulang bukti adanya Sriwijaya. Beruntungnya ada beberapa prasasti yang menjadi bukti peradaban Sriwijaya di Sumatera, salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang pada tahun 1920 dan bertarikh 683. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Tua serta ditemukan beberapa kosa kata Sanskerta yang berbunyi &#8220;Sriwijaya&#8221;.</p>



<p>Bukti eksistensi Sriwijaya lebih banyak ditemukan pada sumber sejarah dari Tiongkok, bukan dari India meski ada hubungan cukup kental antara Nalanda dan Sriwijaya. Hal ini dikarenakan Tiongkok memiliki pengarsipan sejarah yang lebih baik dibanding India. Namun, nama Sriwijaya di Tiongkok bisa berubah-ubah karena di Tiongkok sendiri sering terjadi pergantian dinasti yang masing-masing menggunakan kata berbeda untuk menyebut Sriwijaya.</p>



<h4><strong>Siapakah Suwarnadwipa Dharmakirti?</strong></h4>



<p>“Indonesia adalah tempat suci yang dikagumi banyak orang, tidak hanya India, tapi juga Tibet,” tutur Y.M Lobsang Gyatso Sthavira mengawali giliran untuk menguraikan tentang Mahaguru Suwarnadwipa Dharmakirti.&nbsp;</p>



<p>“Nama lain Guru Suwarnadwipa Dharmakirti adalah Serlingpa Chokyi Dragpa dalam tradisi Lamrim.”</p>



<p>Lebih lanjut, Beliau menjelaskan bagaimana Guru Suwarnadwipa merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra. Pada saat itu, Sriwijaya sangat didominasi oleh Hindu. Namun, sebagai seorang anak raja (pangeran), Beliau mempromosikan Buddhisme dan menganjurkan rakyat untuk berlindung pada Triratna.</p>



<p>Kemudian, pangeran menuju Bodhgaya, India, tempat Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung yang lengkap dan sempurna. Di Bodhgaya, banyak makhluk bijaksana yang memiliki kualitas baik seperti cendekiawan dan praktisi meditasi yang berkumpul. Pangeran menumbuhkan rasa hormat serta sujud pada satu di antara pada makhluk bijaksana tersebut, yakni Guru Maha Sri Ratna. Lalu pangeran menemani sang Guru selama tujuh hari, tetapi pada hari ke-8 pangeran kehilangan sosok Guru Maha Sri Ratna. Akhirnya pangeran tidak sengaja tertidur dan bermimpi bertemu dua penyanyi cilik yang melantunkan syair berikut:</p>



<p>“<em>Setelah meninggalkan keluarga, pelayan, dan aneka kebahagiaan di negeri sendiri. Satu akibat yang marak tak dapat menelusuri di manakah gerangan orang yang dicari. Sejak lama kehilangan ataukah cepat kehilangan. Keturunan murni mulia tapi miskin kebijaksanaan</em>.”</p>



<p>Saat terbangun, Guru Maha Sri Ratna sudah berada di hadapan pangeran. Setelah memberikan penghormatan, pangeran mempersembahkan mandala sebagai simbol persembahan semesta raya sambil memohon supaya diterima sebagai murid. Setelah menerima persembahan, Guru Maha Sri Ratna menahbiskan pangeran sebagai biksu. Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, Serlingpa Chokyi Dragpa adalah nama yang diberikan Guru Maha Sri Ratna kepada pangeran.</p>



<p>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dikenal dengan ajaran bodhicita. Ajaran inilah yang mengundang keingintahuan Guru Atisha Dipamkara Srijnana untuk menuju Sriwijaya dari India dengan berlayar selama 13 bulan dan belajar kurang lebih 12 tahun di Sriwijaya.&nbsp;</p>



<h4><strong>Keistimewaan Suwarnadwipa Dharmakirti</strong></h4>



<p>Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya pada Y.M Lobsang Gyatso Sthavira tentang keistimewaan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dalam hal ibadah dan pelayanan umat dibanding guru lainnya pada zaman tersebut.</p>



<p>Y.M. Lobsang Gyatso Sthavira menyatakan bahwa Beliau belum menemukan catatan spesifik mengenai ibadah dan pelayanan umat pada masa Guru Suwarnadwipa. Namun, berdasarkan teks yang ada, diketahui bahwa Beliau adalah pangeran Buddhis yang memegang pandangan filosofis <em>citramata</em>, jadi kemungkinan besar praktik Beliau adalah Prajnaparamita (Penyempurnaan Kebijaksanaan). Kalau Beliau melakukan pelayanan pada umat, kemungkinan sama seperti yang kita temukan di teks Guru Shantidewa, yaitu <em>Bodhisatwa-caryavatara</em> (Lakon Hidup Sang Penerang/Bodhisatwa) karena teks itulah yang diturunkan dari Guru Swarnadwipa ke Guru Atisha.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, ada pula praktik atau pelayanan itu dulunya bersifat rahasia dan tidak mudah diperoleh, yaitu praktik <em>lojong </em>(latihan batin) atau <em>tonglen </em>(praktik terima kasih) yang bertujuan untuk mengembangkan welas asih, khususnya bodhicita. Dengan berlandaskan pada bodhicita serta sejalan dengan posisi Beliau sebagai pangeran yang mengayomi negaranya, pelayanan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti diberikan secara menyeluruh untuk semua rakyat. Sifat welas asih Beliau melampaui perbedaan suku, agama dan ras.&nbsp;</p>



<p><em>Apa yang diajarkan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di Sriwijaya? Baca ulasannya dalam buku </em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>“Latihan Batin Laksana Sinar Mentari”</em></a><em> karya Namkha Pel!</em></p>



<p>“Jadi kalau sudah belajar bodhicita maka sikap intoleran tidak akan berkembang, dan semuanya menjadi toleransi,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira. Sifat welas asih inilah membuat Guru Suwarnadwipa Dharmakirti tetap membimbing semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan tertinggi dan kedamaian yang sesungguhnya meskipun ada yang berlaku tidak baik terhadapnya.&nbsp;</p>



<p>Y.M Lobsang Gyatso Sthavira juga berpesan agar semua umat Buddha, baik itu romo pandita ataupun umat awam, untuk meneladani Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dengan menolong semua yang membutuhkan tanpa pilih kasih. Kita seharusnya menolong mulai dari yang paling menderita dahulu, bukan berdasarkan yang seagama dulu. “Kalau kita kan masih punya ego, jadi harus belajar Madhyamika supaya pandangannya gak pilih-pilih. Atau belajar bodhicita, menyamakan diri kita dengan orang lain sama persis, makhluk lain juga sama, ingin bahagia, tidak ingin menderita, ini yang harus direalisasikan,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira.&nbsp;<br></p>



<p><em>Artikel ini pertama kali dterbitkan di </em><a href="https://buddhazine.com/suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/"><em>Buddhazine.com</em></a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
