<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>It's Lamrim It's Buddhism - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/its-lamrim-its-buddhism/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Nov 2025 10:56:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>It's Lamrim It's Buddhism - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kenalan dengan 4 Sifat Karma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2025 10:56:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10226</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Banyak yang salah kaprah soal karma. Ini penjelasan karma yang sesungguhnya menurut Buddha!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Karma adalah pacarku<br>Karma adalah Tuhan<br>Karma adalah angin semilir di rambutku di akhir pekan<br>Karma adalah pikiran yang menenangkan.&#8221;</p><cite>Taylor Swift</cite></blockquote>



<p>Siapa yang sudah sering mendengar penggalan lagu di atas? Siapa yang baru pertama kali dengar? Seperti apa reaksimu? Mungkin ada yang berpikir:<em> kok bisa-bisanya sih menganggap karma sebagai pacar? Apakah Taylor Swift Buddhis? Tapi kayaknya enggak gitu juga deh…</em></p>



<p>Di masyarakat umum, kita mungkin lebih sering mendengar kata “karma” digunakan dalam nuansa yang lebih negatif, misalnya saat seseorang kena celaka, ada yang berceletuk, “Rasain tuh kena karma!” Atau saat ada yang dijahati orang dan tidak bisa membalas, terlontarlah ujaran berikut, “Awas kau kena karma!”</p>



<p>Bagi seorang Buddhis, karma tak seharusnya dipandang sebagai kutukan, apalagi “dimanfaatkan” sebagai balas dendam dari semesta. Karma hanyalah kenyataan hidup yang tak bisa dihindari ataupun diingkari. Dan sama halnya dengan segala hal yang alami di dunia ini, hidup kita akan lebih bahagia kalau kita bisa “berkawan” dengan karma, atau bahkan sampai “pacaran” seperti di penggalan lagu Taylor Swift tadi.</p>



<p>Pertanyaannya: kok bisa “memadu kasih” dengan karma bikin kita lebih bahagia? Kalau memang bisa, bagaimana caranya mengakrabkan diri dengan karma?</p>



<h2><strong>Karma adalah akar semua kebahagiaan</strong></h2>



<p>Struktur Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim) menempatkan topik karma di “puncak” latihan motivasi awal, yaitu pada subbab memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang. Kata-kata persisnya adalah “Membangkitkan keyakinan terhadap karma dan akibat-akibatnya, akar dari semua kebahagiaan”.</p>



<p>Kata “akar” digunakan bukan hanya agar kalimatnya terdengar puitis. Kata tersebut ada sebagai penekanan bahwa semua kebahagiaan bisa diraih jika kita meyakini hukum karma. Perlu diingat juga bahwa “yakin” dalam Buddhadharma bukan sekadar keyakinan buta, tapi keyakinan yang berlandaskan pada pemahaman yang menyeluruh terhadap apa yang diyakini.</p>



<p>Dengan kata lain, jika kita benar-benar mempelajari apa itu karma sampai memahami cara kerjanya, kita pasti bisa meraih kebahagiaan apapun yang kita inginkan.</p>



<h2><strong>Sebenarnya karma itu apa sih?</strong></h2>



<p>Kata “karma” umumnya dipakai untuk membicarakan “hukum karma”, yaitu hukum sebab-akibat yang menentukan segala hal di semesta ini. Bahkan setitik debu yang menempel di baju kita pun merupakan akibat dari suatu sebab.</p>



<p>Lebih khususnya lagi, kata “karma” sendiri bisa diartikan sebagai dorongan mental yang mengarahkan kita untuk melakukan suatu tindakan, baik melalui tubuh, ucapan, atau bahkan tindakan mental. Dari sini, karma bisa dipandang sebagai niat ataupun perbuatan yang nanti akan menghasilkan akibat. Kadang kata “karma” dipakai untung merujuk pada akibat dari suatu tindakan.</p>



<p>Karma itu sendiri sangatlah kompleks Hanya seorang Sammasambuddha yang bisa mengetahui secara persis sebab-akibat karma dari suatu fenomena.</p>



<p>Untungnya, kita bisa mulai memahami rumitnya karma dari 4 sifatnya yang sudah dirangkum dalam penjelasan sederhana dalam Lamrim.</p>



<h2><strong>Sifat pertama: karma itu pasti</strong></h2>



<p>Jika kita menanam biji mangga, maka yang tumbuh pastilah mangga, tidak mungkin apel. Begitu juga karma. Suatu tindakan buruk pasti hasilnya tak menyenangkan. Sebaliknya, tindakan baik pasti menghasilkan hal baik pula.</p>



<p>Sifat ini bisa jadi pegangan kita setiap kali ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kalau itu hal yang bermanfaat dan disadari niat baik, kita bisa yakin bahwa kita akan panen kebaikan dari hal tersebut. Kalaupun kita gagal atau hasilnya tidak sesuai harapan, minimal kita jadi punya tabungan karma baik yang akan menguntungkan kita di masa depan.</p>



<p>Sebaliknya, kita juga tidak perlu buang-buang tenaga untuk membalas atau memaki orang yang semena-mena, baik yang sifatnya personal seperti tukang utang yang lebih galak dari pemberi utang sampai yang masif seperti koruptor dan penjahat perang. Cepat atau lambat, mereka pasti kena imbasnya. Bukan berarti kita tidak perlu mendukung upaya untuk membuat mereka berhenti merugikan orang lain, ya. Tapi kalau memang tidak ada yang bisa dilakukan, keyakinan pada kepastian karma akan melindungi kita dari rasa putus asa akibat “ketidakadilan dunia” dan mencegah kita melukai diri sendiri gara-gara menghujat atau membalas dendam atas dasar kemarahan.</p>



<h2><strong>Sifat kedua: karma berlipat ganda</strong></h2>



<p>Lanjut lagi dengan analogi tanaman, satu biji yang kecil bisa tumbuh jadi pohon besar dan berbuah banyak. Begitu juga dengan karma, satu tindakan kecil bisa menghasilkan akibat yang besar.&nbsp;</p>



<p>Banyak sekali kisah-kisah satu karma buruk kecil berujung pada kelahiran di alam rendah yang mengerikan. Dalam Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu, ada kisah biksu yang terlahir kembali sebagai kera selama ratusan kehidupan karena menghina orang. Ada juga orang yang terlahir kembali menjadi monster laut berkepala delapan belas karena disuruh ibunya mencemooh sesama anggota Sangha.</p>



<p>Sebaliknya, banyak juga kisah tindakan yang sangat kecil menghasilkan kebajikan yang luar biasa besar. Salah satu murid Buddha Sakyamuni selalu memiliki koin emas di tangannya berkat mempersembahkan emas hasil menjual kayu bakar pada Buddha Kasyapa di kehidupan lampaunya. Kera di Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu tadi juga akhirnya terlahir kembali sebagai manusia dalam kondisi yang sangat bajik dan mencapai tingkat kesucian berkat berdana madu kepada Buddha.</p>



<p>Sifat karma yang satu ini adalah <em>reminder </em>buat kita untuk berusaha menghindari karma buruk sekecil apapun karena akibatnya bisa luar biasa berat. Ngeri? Banget. Tapi di sisi lain, kita bisa optimis menghimpun karma baik yang enggak kalah luar biasa besar dari tindakan-tindakan kecil.</p>



<h2><strong>Sifat ketiga: kita tidak akan mengalami akibat karma yang tidak dilakukan</strong></h2>



<p>Kamu mungkin punya tanah yang subur, yang rajin kita rawat dengan pupuk kualitas terbaik, air melimpah. Tapi kok enggak ada yang tumbuh ya? Astaga! Ternyata bijinya belum ada!&nbsp;</p>



<p>Ini sangat sering terjadi di zaman sekarang. Banyak orang kerja keras bagaikan kuda, berharap bisa mencapai financial freedom di umur 30. Pengeluaran ditekan sesedikit mungkin. Makan sendiri pun diirit-irit. Berdana? Boro-boro. Eh ujung-ujungnya bukannya kaya, malah bangkrut karena sakit dan harus keluar banyak uang untuk berobat.</p>



<p>Mungkin ada yang berpikir, “Kan hemat pangkal kaya. Ini udah hemat, kok masih gagal juga? Karma gak adil dong.”</p>



<p>Ternyata selama ini kita salah paham antara sebab dan kondisi. Menurut hukum karma, sebab kelimpahan materi adalah kemurahan hati. Kerja keras, <em>upgrade skill,</em> dan <em>financial planning</em> adalah kondisi yang dibutuhkan agar karmanya bisa berbuah, seperti tanaman yang butuh air, sinar matahari, dan tanah yang subur untuk bisa tumbuh dengan baik. Masalahnya, semua kondisi itu akan sia-sia kalau kita lupa menyiapkan sebab yang sesuai.</p>



<p>Jadi, kalau kita merasa usaha kita tak kunjung membuahkan hasil, kita bisa cek ulang: apakah kita sudah menyiapkan sebab yang sesuai?</p>



<p>Ada satu <em>angle </em>lain tentang sifat karma yang satu ini. Kenapa bisa ada satu orang selamat ketika terjadi kecelakaan yang menewaskan ratusan orang? Kenapa bisa ada satu rumah lolos ketika satu kawasan dilanda bencana?&nbsp;</p>



<p>Umumnya orang akan bilang sebabnya adalah mukjizat luar biasa, tapi sebenarnya ini cuma cara karma bekerja, <em>business as usual. </em>Satu orang yang selamat dari kecelakaan itu mungkin pernah bikin sebab karma yang bikin dia kena musibah, tapi dia enggak punya karma untuk meninggal karena musibah itu.&nbsp;Dari sini kita jadi tahu bahwa kita tidak perlu cemas berlebih soal masa depan. Kalau kita tidak mau kena musibah, ya tinggal jangan bikin sebabnya.</p>



<p>Masalahnya, kita kan enggak tahu ya kita udah bikin karma aja dari kehidupan lampau. Tadi pagi turun dari kasur kaki kanan dulu atau kaki kiri dulu aja kita enggak ingat. Terus gimana dong?</p>



<h2><strong>Sifat keempat: karma yang sudah dilakukan tidak akan hilang begitu saja</strong></h2>



<p>Kenal Arya Maudgalyayana (B. Pali: Moggallana), murid Buddha yang paling sakti? Beliau bisa terbang, punya ilmu kebal, bahkan konon bisa “jalan-jalan” ke neraka, tapi meninggal dikeroyok rampok. Kesaktiannya mendadak “hilang” ketika harus menghadapi buah karma buruk membunuh orang tuanya di kehidupan lampau. Ada juga Arya Nagarjuna, filsuf besar yang konon berumur ratusan tahun, akhirnya meninggal terpenggal karena karma buruk memotong kepala seekor semut.</p>



<p>Dari sifat karma yang satu ini, kita bisa belajar bahwa ada hal-hal tak menyenangkan yang tidak bisa kita hindari. Kita enggak tahu karma apa saja yang sudah kita himpun dari berkehidupan-kehidupan lalu. Misalnya kita punya karma dapat bos toksik, kita lari ke planet Mars pun kita masih kan ketemu bos yang toksik<em> </em>sampai karma buruk kita habis.</p>



<p>Kok kayak takdir? Iya, tapi bedanya konsep karma sama takdir, kita mengalami penderitaan ini dan itu bukan karena ada sosok di atas langit yang sengaja ngerjain kita. Semua yang kita alami sekarang itu ya gara-gara ulah diri kita sendiri di masa lampau.</p>



<p>Tapi, kerennya Buddhadharma adalah kita enggak dibiarkan tenggelam dalam rasa bersalah. Iya, memang masalah kita sekarang itu kita yang bikin sendiri, tapi ketika kita mengalami si masalah itu, satu karma buruk kita sudah berkurang. Bagus kan? Dan kita bisa banget dari sekarang bikin karma baik yang banyak buat mempersiapkan masa depan yang lebih bahagia.&nbsp;</p>



<p>Lagipula, kata-kata persis dari sifat karma yang satu ini adalah “tidak akan hilang begitu saja”, bukan “tidak bisa hilang sama sekali”. Ternyata ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memurnikan atau melemahkan karma buruk yang terlanjur kita himpun. Praktiknya enggak gampang, jadi tetap lebih baik jangan bikin karma buruk sama sekali. Tapi, ini mengingatkan kita bahwa kita enggak perlu berkecil hati, minder, apalagi putus asa ketika terlanjur bikin karma buruk.</p>



<p>Baca tentang praktik pemurnian karma buruk di <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/">sini</a>.</p>



<h2 id="h-sudah-siap-pdkt-dengan-karma"><strong>Sudah siap PDKT dengan karma?</strong></h2>



<p>Percaya enggak percaya, kebanyakan terapi atau <em>healing </em>emosional itu sebenarnya cuma penerapan konsep karma yang dibungkus ulang. Penerimaan diri, misalnya. Gimana caranya kita bisa menerima diri sendiri? Ya, pahami kepastian karma. <em>Manifesting</em>? Aslinya dedikasi karma baik kok. Dasarnya ya dari karma baik bisa berlipat ganda dan enggak akan hilang begitu saja. <em>Be present</em>? Kita bisa hadir sepenuhnya di momen saat ini kalau kita enggak mencemaskan masa depan. Gimana supaya bisa enggak cemas? Ingat kita enggak akan mengalami karma yang tidak kita perbuat plus praktikin purifikasi buat karma yang udah terlanjur lewat.</p>



<p>Setelah tahu sifat-sifat karma, langkah berikutnya adalah belajar tentang jenis-jenis karma yang perlu kita hindari dan kita himpun, macam-macam akibat karma, komponen atau jalan karma, faktor yang menentukan beratnya suatu karma, dan pembahasan khusus tentang karma yang dibutuhkan untuk punya kualitas matang seperti kaya, rupawan, terkenal, dsb. di masa depan.</p>



<p>Ketika kita benar-benar akrab dengan karma dan kita 100% yakin, sampai masuk ke hati, hidup kita akan jadi super damai dan ringan. Kita bakal bisa berdamai dengan masa lalu dan melakukan yang terbaik buat masa depan. Jangkauannya bukan cuma buat satu kehidupan ini saja, tapi sampai kehidupan mendatang, bahkan sampai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna! Yakin deh, pacar idaman kamu aja enggak bisa menemani kamu dan memberimu rasa aman sampai sejauh itu!</p>



<p>Referensi:</p>



<ul><li><a href="https://www.tokopedia.com/lamrimnesiastore/pembebasan-di-tangan-kita-set-jilid-i-ii-iii-oleh-phabongkha-rinpoche-buku-agama-buddha-1729813382775605075?extParam=ivf%3Dfalse%26keyword%3Dpembebasan+di+tangan+kita%26search_id%3D20251117065526496E05E1AEA0A90B5Q5V%26src%3Dsearch">Pembebasan di Tangan Kita</a> Jilid II karya Phabongka Rinpoche</li><li><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma_Akibatnya?id=OZiWDwAAQBAJ">Karma dan Akibatnya</a> karya Guru Dagpo Rinpoche</li></ul><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2025 11:01:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9915</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Residen cabul, dosen cabul, tindakan ceroboh yang menewaskan asisten masinis... Apa kata Buddhis tentang kemerosotan moral?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Akhir-akhir ini banyak sekali tindakan tercela yang dilakukan manusia. Baru-baru ini, Indonesia digemparkan oleh kasus <a href="https://www.metrotvnews.com/read/NgxCDr25-kasus-pemerkosaan-residen-anestesi-cerminan-kerapuhan-tata-kelola">residen di rumah sakit yang menggunakan anestesi untuk membius dan mencabuli pendamping pasien</a>. Ada pula <a href="https://www.detik.com/jogja/berita/d-7865726/aksi-cabul-pak-profesor-nodai-kampus-biru-ugm">dosen universitas ternama yang melakukan kekerasan seksual</a>. Satu lagi yang tak habis pikir, sebuah truk menerobos palang perlintasan kereta api dan menyebabkan <a href="https://kumparan.com/kumparannews/asisten-masinis-tewas-kai-bawa-kasus-ka-jenggala-vs-truk-ke-ranah-hukum-24qPiv1DLAR">kecelakaan yang menewaskan asisten masinis</a>.</p>



<p>Dunia seolah sedang mengalami kemerosotan.&nbsp;Menurut data Badan Pusat Statistik (2023), terjadi peningkatan kejadian kejahatan pada tahun 2022 yaitu 372.965 kejadian. Padahal tahun 2021, kejadian kejahatan sudah mengalami penurunan dari 247.218 menjadi 239.481 kejadian.</p>



<p>Kenapa manusia seolah makin &#8220;gak ada akhlak&#8221;? Merosotnya moralitas ini ternyata sejalan dengan fenomena besar dalam siklus alam semesta dalam kosmologi Buddhis, salah satunya soal penurunan usia hidup manusia.</p>



<h2 id="h-teknologi-makin-maju-tapi-usia-hidup-manusia-tetap-berkurang"><strong>Teknologi makin maju, tapi usia hidup manusia tetap berkurang</strong></h2>



<p>Semakin ke sini, usia manusia sudah mengalami penurunan. Dulunya manusia yang hidup sampai umur 90–100 tahun masih bisa sehat dan beraktivitas, tapi sekarang bisa kita lihat sendiri, lansia usia 70 tahun ke atas banyak yang sudah tak berdaya dan bergantung pada obat-obatan. Rata-rata jangka hidupnya juga hanya berkisar sampai 60-80 tahun.&nbsp;</p>



<p>Menurut Buddhis, akan ada masanya ketika manusia tidak mempraktikkan kebajikan dan tak lagi melatih sila sehingga rata-rata jangka hidupnya tinggal&nbsp;10 tahun.&nbsp;</p>



<p>Saat Buddha Sakyamuni hidup di India, usia rata-rata manusia ialah 100 tahun. Diperkirakan bahwa setiap satu abad, usia manusia memendek selama satu tahun. Buddha hidup sekitar 25 abad lalu sementara usia rata-rata manusia sekarang ini adalah 75 tahun. Jadi, teori ini tampaknya ada benarnya.</p>



<p>Lebih lanjut, fenomena ini dapat diteliti dari sudut pandang karma.</p>



<h2><strong>Karma, Sila, dan Usia Manusia</strong></h2>



<p>Sebab langsung <a href="https://play.google.com/store/books/details/Kemuliaan_Kelahiran_Sebagai_Manusia?id=Us38DwAAQBAJ&amp;hl=en-US&amp;pli=1">terlahir dengan tubuh manusia</a> adalah melatih disiplin moral atau <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-2-sila-paramita/">SILA</a>. Buddhisme mendefinisikan<strong> sila sebagai batin yang menghindari perbuatan yang membahayakan orang lain dengan berpaling bahkan dari motivasi untuk melakukan perbuatan tersebut.</strong></p>



<p>Coba kita lihat dunia kita sekarang. Selain <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/">pembunuhan</a>, <a href="https://lamrimnesia.org/2018/02/23/saya-berjanji-melatih-diri-menghindari-tindakan-seksual-yang-tidak-pantas-yakin-sudah-mempraktikkannya/">perkosaan</a>, <a href="https://lamrimnesia.org/2018/05/15/hindari-hal-ini-untuk-melatih-menghindari-berbohong/">penipuan</a>, dan tindak kriminal lainnya semakin marak, sadarkah kita bahwa kita juga makin sering mewajarkan hal-hal yang sebenarnya menyakiti makhluk lain?</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Eksploitasi alam &amp; perusakan habitat itu baik, kan demi perkembangan ekonomi.&#8221;</em></p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Kerja lembur bagaikan kuda itu baik, kan manusia harus produktif.&#8221;</em></p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Menghujat dan mendoakan orang lain menderita itu baik, kan orangnya pantas digituin.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Ketika sila merosot, karma baik yang menjadi sebab kelahiran dengan tubuh manusia pasti berkurang. Seiring dengan berkurangnya sebab tersebut, tentunya lama hidup manusia secara umum juga berkurang sebanding dengan kemerosotan praktik sila. </p>



<p>Pertanyaan berikutnya, kalau umur manusia berkurang, memangnya kenapa?</p>



<h2><strong>Ini yang akan terjadi saat usia manusia makin merosot!</strong></h2>



<p>Dikatakan bahwa seorang Sammâsambuddha tidak akan muncul apabila usia rata-rata manusia lebih pendek dari 100 tahun karena waktunya tidak cukup untuk kebanyakan orang memahami Dharma. Hidup manusia akan terus memendek sampai sisa 10 tahun. Tinggi badan juga akan berkurang, sampai akhirnya kita akan semakin agresif, suka berperang, dan sering bertikai satu sama lain. Masa-masa itu sangat mengerikan.</p>



<p>Namun, setelahnya, akan datang periode emas dimana manusia akan hidup sampai 80.000 tahun. Lalu, usia akan kembali menurun dan saat itulah Buddha Maitreya akan turun dari Surga Tusita untuk mengajarkan Dharma.&nbsp;</p>



<p>Mungkin ada yang berpikir: kita percepat saja kemerosotan zaman, biar umur manusia cepat memendek biar kita cepat-cepat sampai ke zaman Buddha Maitreya. Namun, ada satu masalah yang tak boleh kita lupakan.</p>



<h2>Memangnya punya modal ketemu Buddha?</h2>



<p>Kalau kita tidak melatih sila, kita akan menghimpun banyak karma buruk dan lahir di alam-alam rendah. Walau dunia cepat “kiamat” dan siklus berputar sampai Buddha Maitreya hadir, kira-kira waktu itu kita ada di alam mana?</p>



<p>Justru sekarang saat ajaran Buddha masih ada, moralitas belum sampai di titik terendahnya, kita harus banyak-banyak menghimpun kebajikan dan melatih sila biar minimal tidak jatuh ke alam rendah. Tak lupa, buat dedikasi supaya kita bisa dengan cepat meraih pencerahan dan menerima bimbingan langsung dari Buddha Maitreya.</p>



<h2><strong>Jangan putus asa di hadapan kemerosotan moral</strong></h2>



<p>Selama usia manusia belum benar-benar memendek, <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/">kita masih punya kesempatan</a> buat bangkit dan hidup selaras dengan sila. Kita masih bisa <a href="https://lamrimnesia.org/2020/08/03/gimana-caranya-bikin-karma-baik/">menghimpun sebab</a> untuk jadi bagian dari zaman keemasan dan meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Apalagi berlatih sila ini tidak khusus untuk umat Buddha saja, tapi juga bisa bermanfaat bagi semua makhluk. Bayangkan aja kalau semua orang bisa menahan diri untuk tidak menyakiti satu sama lain, dunia akan jadi lebih indah dan damai kan?</p>



<p><strong>Topik ini akan dibahas lebih lanjut dalam <a href="https://www.instagram.com/p/DIVmwB_ycdE/?img_index=1">Lamrimnesia Talk &#8220;Kenapa Manusia Makin Gak Ada Akhlak?&#8221;</a> pada Minggu, 13 April 2025, <em>live</em> di <a href="https://www.tiktok.com/@lamrimnesia_?_t=ZS-8vSZH2lIc2J&amp;_r=1">Tiktok Lamrimnesia</a>.</strong></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/12/agama-buddha-menghadapi-kemerosotan-moral/">Agama Buddha dan Kemerosotan Moral</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Nov 2024 07:57:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9570</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mengupas faktor-faktor penyebab karma bajik dan karma tak bajik  menjadi berlipat ganda hingga 10 juta kali.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><strong>Jawabannya</strong> M<strong>UNGKIN</strong></p>



<p>Ada banyak faktor yang menyebabkan karma bajik dan karma tak bajik menjadi berlipat ganda.</p>



<h2 id="h-apa-aja-faktornya">Apa aja faktornya?</h2>



<p>1. Sifat Umum Karma</p>



<p>Salah satu dari 4 sifat umum karma adalah karma berkembang pesat. Tindakan seremeh apa pun bisa berkembang menjadi himpunan karma yang besar. Konsepnya sama seperti menanam benih pohon apel. Benih yang sangat kecil akan bertumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah yang sangat banyak. Begitu juga dengan karma!</p>



<p>2. Penerima</p>



<p>Karma yang ditujukan pada Triratna, para Bodhisatwa, dan anggota Sangha memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan kalau ditujukan untuk penerima lain.</p>



<p>3. Pendukung</p>



<p>Semakin banyak sila yang dijaga, semakin besar kekuatan karma yang dilakukan. Semakin besar pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki, semakin ringan kesalahan yang dilakukan. Begitu juga sebaliknya.</p>



<p>4. Objek</p>



<p>Pemberian Dharma atau ajaran jauh lebih unggul daripada pemberian materi. Pemberian materi yang tertinggi adalah pemberian badan jasmani.</p>



<p>5. Sikap</p>



<p>Ada 2 aspek: intensitas &amp; durasi. Semakin kuat pemikiran di balik sebuah tindakan, baik itu motivasi ataupun faktor mental pengganggu, karmanya akan semakin kuat. Semakin sering &amp; semakin lama suatu tindakan dilakukan, dampaknya juga semakin besar.</p>



<p>6. Waktu</p>



<p>Ada 4 hari di mana Sang Buddha menunjukan kekuatan luar biasa demi kepentingan semua makhluk. Pada hari-hari tersebut, baik kebajikan maupun ketidakbajikan akan berlipat ganda sebanyak 10 juta kali.</p>



<p>Yang terdekat saat ini adalah <a href="https://lamrimnesia.org/2023/11/28/balas-jasa-terindah-untuk-ibu-paling-beruntung/">Lhabab Duchen</a> (tahun ini: 22 November 2024), hari di mana Sang Buddha kembali dari mengajarkan Dharma kepada ibunya &amp; para dewa di Surga Trāyastriṃśa.</p>



<p>Kita bisa mengikuti teladan Buddha untuk melakukan sesuatu untuk orang tersayang dengan menghimpun kebajikan berlipat ganda di hari ini dan melimpahkan jasanya untuk mereka, misalnya dengan chanting Sutra/Mantra, praktik berdana, dan menolong orang yang membutuhkan bantuan. Lakukan dengan motivasi bajik untuk meraih kebahagiaan yang tahan lama bagi diri sendiri dan semua makhluk.</p>



<p>Referensi:</p>



<p> <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=OZiWDwAAQBAJ">“Karma dan Akibatnya”</a> karya Guru Dagpo Rinpoche.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Riwayat Buddha Versi Borobudur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2024 12:55:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[12 aktivitas Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9161</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mau tahu seperti apa riwayat Buddha berdasarkan Sutra Lalitawistara di Candi Borobudur? Yuk simak ringkasannya di sini!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Setiap hari Waisak, kita umumnya diajari untuk memperingati 3 peristiwa penting dalam riwayat Buddha Sakyamuni, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna, dan parinirwana. Namun, kalau kita merujuk Sutra Lalitawistara yang terukir di <a href="https://lamrimnesia.org/?s=borobudur">Candi Borobudur</a>, kita akan menemukan bahwa ternyata ada 12 aktivitas agung sang Buddha yang bisa kita rayakan! Apa saja ke-12 aktivitas tersebut?</p>



<p>Berikut adalah 12 Aktivitas Agung sang Buddha yang disarikan dari Sutra Lalitawistara &amp; Sutra Winayaksudraka:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-576x1024.png" alt="" class="wp-image-9163" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-576x1024.png 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-169x300.png 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-768x1365.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-864x1536.png 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-150x267.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-450x800.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1-600x1067.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/1-1.png 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<h2 id="h-1-lahir-sebagai-dewa-shwetaketu">1. <strong>Lahir sebagai Dewa Shwetaketu</strong></h2>



<p>Di Tushita, Bodhisatwa terus-menerus merenungkan Dharma &amp; mempersiapkan kelahiran yang paling cocok untuk menjadi Buddha &amp; menolong sebanyak mungkin makhluk dengan Dharma, yaitu:</p>



<ul><li>Lahir di Jambudwipa, tepatnya di India,</li><li>Lahir dalam kasta terhormat</li><li>Rentang hidup seabad </li><li>Ada wanita yang layak menjadi pasangan</li></ul>



<h2>2. <strong>Keberangkatan dari Alam Tushita</strong></h2>



<p>Para dewa mencoba menahan Bodhisatwa karena dunia dipenuhi ajaran sesat, tapi Bodhisatwa menegaskan bahwa justru ia harus turun dan menaklukkan mereka.</p>



<h2><strong>3. Masuk ke Rahim</strong></h2>



<p>Ratu Mahamaya dari Kapilawastu memberi bermimpi rahimnya dimasuki gajah putih bergading enam dan pikirannya dipenuhi kebahagiaan, bagai konsentrasi terpusat.</p>



<h2>4. <strong>Kelahiran Sang Bodhisatwa</strong></h2>



<p>Ayahnya Raja Suddhodana, Ibunya Ratu Mahamaya. Baru lahir di Taman Lumbini, langsung berjalan 7 langkah ke utara &amp; berbicara! Ia diramalkan bisa menjadi raja dunia atau menjadi Buddha.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Aku akan menjadi yang terunggul di antara semua makhluk hidup.”</em></p><cite>Siddhartha Gautama ketika baru lahir</cite></blockquote>



<h2>5. <strong>Ketangkasan yang Ditunjukkan Sang Bodhisatwa</strong></h2>



<p>Mencari pasangan yang satu visi dalam kebajikan, Bodhisatwa menunjukkan kecerdasan &amp; ketangkasannya, mengungguli 500 pangeran dalam sayembara.</p>



<h2>6. <strong>Menikahi Yasodhara dan Kehidupan di antara Kaum Wanita</strong></h2>



<p>Saat dikurung dalam kebahagiaan di tiga istana, Bodhisatwa tak terlena. Beliau ingat akan tekadnya untuk menjadi pelindung semua makhluk.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-576x1024.png" alt="" class="wp-image-9164" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-576x1024.png 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-169x300.png 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-768x1365.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-864x1536.png 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-150x267.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-450x800.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2-600x1067.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/06/2-2.png 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<h2><strong>7. Penolakan terhadap Samsara</strong></h2>



<p>Melihat penderitaan sakit, tua, dan mati serta kehidupan pertapa, Bodhisatwa meninggalkan kenikmatan duniawi di istana dan fokus mencari cara mengakhiri penderitaan.</p>



<h2>8. <strong>Praktik Kesederhanaan Hidup</strong></h2>



<p>Setelah 6 tahun melakukan pertapaan yang sangat keras, Bodhisatwa menyadari bahwa itu adalah pandangan salah dan menerima dana makanan dari perempuan bernama Sujata.</p>



<p>Sujata mempersembahkan dadih susu dari ribuan sapi yang diolah 7x &amp; dicampur butiran nasi segar. Berkat kebajikan ini, ia diramalkan akan meraih nektar keabadian.</p>



<h2>9. <strong>Kemenangan atas Mara</strong></h2>



<p>Tak goyah oleh ancaman maupun godaan Mara, bumi menjadi saksi kemenangan Bodhisatwa.</p>



<h2>10. <strong>Tercapainya Pencerahan Sempurna</strong></h2>



<p>Terserap dalam 4 tingkat dhyana dan meraih 3 jenis Pengetahuan Tertinggi, Samma Sambuddha telah siap membimbing semua makhluk menuju kebahagiaan sejati!</p>



<h2>11. <strong>Pemutaran Roda Dharma</strong></h2>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td>Peristiwa</td><td>Topik</td><td>Tempat</td><td>Pendengar</td></tr><tr><td>Pemutaran Pertama</td><td>Empat Kebenaran Arya</td><td>Taman Rusa Isipatana, Benares</td><td>Lima Pertapa, majelis dewa-dewi</td></tr><tr><td>Pemutaran Kedua</td><td>Kesunyataan</td><td>Gunung Gridhakuta</td><td>1250 atau 5000 biksu &amp; biksuni, umat awam, majelis besar Bodhisatwa</td></tr><tr><td>Pemutaran Ketiga</td><td>Intisari Realitas Absolut</td><td>Malaya &amp; Waishali</td><td>Bodhisatwa yang telah memasuki Ketiga Yana</td></tr></tbody></table><figcaption>3 kali pemutaran Roda Dharma oleh sang Buddha</figcaption></figure>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Dalam bentuk yang berbeda-beda, menunjukkan kemiripan dengan ilusi, sihir, dan mimpi, dengan pantulan rembulan di permukaan air dan gema, Sang Buddha telah memutar Roda Dharma.”</p><cite>Sutra Lalitawistgara</cite></blockquote>



<h2>12. <strong>Sang Buddha Memasuki Parinirwana</strong></h2>



<p>Seorang Buddha bisa hidup sampai ratusan kalpa, tapi karena Ananda lalai mengajukan permohonan, Beliau akhirnya memberikan pelajaran penting tentang ketidakkekalan dengan memasuki parinirwana di Kushinagar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Jika ajaran yang ingin kalian ikuti terkandung dalam Sutra, ditemukan dalam Winaya dan tidak bertentangan dengan kondisi sejati hal-ihwal, maka kalian harus menerimanya sebagai ajaranku. Jika bukan begitu kasusnya, maka ajaran yang demikian tidak boleh diterima.”</p><cite>-Sabda Buddha sebelum menerima derma terakhir</cite></blockquote>



<p>Referensi: <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/12-aktivitas-agung-sang-begawan/">12 Aktivitas Agung Sang Begawan: Riwayat Sang Buddha Berdasarkan Lalitawistara dan Winayaksudraka</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/06/18/riwayat-buddha-versi-borobudur/">Riwayat Buddha Versi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Buddha Dharma Ternyata Ada Tekniknya!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/06/05/cara-belajar-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 07:57:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9155</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belajar Dharma atau belajar menjadi Buddhis ternyata ada tekniknya. Pemula maupun yang sudah lama beragama Buddha wajib tahu agar praktiknya tak sia-sia!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/06/05/cara-belajar-dharma/">Belajar Buddha Dharma Ternyata Ada Tekniknya!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/06/05/cara-belajar-dharma/">Belajar Buddha Dharma Ternyata Ada Tekniknya!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sejak kapan Anda mengenal Buddhadharma? Ada yang sudah mengenal Dharma sejak kecil, ada juga yang dapat pelajaran di sekolah, ada juga yang baru mempelajari Buddhadharma secara mandiri di usia dewasa. Pertanyaannya adalah: apakah Dharma sudah memberikan dampak pada hidup kita? Apakah kita merasakan mendapatkan manfaat dari Dharma? Atau rasanya hidup kita bisa baik-baik saja dengan atau tanpa Dharma?</p>



<p>Buddha mengajarkan Dharma untuk mengubah batin kita: dari yang gampang marah jadi lebih sabar, dari yang serakah jadi lebih murah hati, dari yang hanya mementingkan diri sendiri jadi peduli pada orang lain. Dengan belajar Dharma, seharusnya kita bisa berubah dari tidak bahagia atau terus menghimpun sebab ketidakbahagiaan menjadi “siap” bahagia dan dengan senang hati menghimpun sebab-sebabnya. Namun, sama seperti kemahiran lain yang ada teknik-tekniknya, belajar Dharma juga ada tekniknya. Tanpa teknik ini, Dharma hanya akan “numpang lewat”. Padahal kita sudah “investasi” banyak sekali karma baik selama berkehidupan-kehidupan supaya bisa bertemu Buddhadharma di kehidupan ini, tapi karena tidak tahu cara belajarnya, investasi kita jadi tidak bisa “dicairkan”. Rugi dong!</p>



<p>Biar tidak rugi, yuk kita pelajari teknik belajar Dharma berikut ini!</p>



<h2 id="h-1-renungkan-manfaatnya">1. <strong>Renungkan Manfaatnya</strong></h2>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Melalui mendengar, Dharma dipahami<br>Melalui mendengar, kejahatan dihalau<br>Melalui mendengar, yang tak berguna ditinggalkan<br>Melalui mendengar, Nirwana dicapai”</p><cite>Udana-varga</cite></blockquote>



<p>Pertama, kita harus ingat manfaat dari belajar Dharma, yaitu bikin kita tahu apa yang seharusnya ditinggalkan dan apa yang harus dikembangkan supaya bisa bahagia. Beberapa contohnya sudah disebut sekilas di atas. Misalnya dengan belajar tentang karma, kita bisa berhenti melakukan karma buruk dan menghimpun karma baik; dengan belajar batin dan faktor mental dalam Abhidharma, kita bisa mengurangi kemarahan dan jadi lebih sabar di segala situasi. Seiring dengan berkurangnya karma buruk, penderitaan kita tentu akan berkurang. Seiring dengan berkurangnya sifat-sifat buruk, kita akan makin percaya diri, disukai banyak orang, dan semua urusan mulai dari karir sampai percintaan akan lancar.</p>



<p>Kemudian, semakin banyak kita belajar, ketidaktahuan kita berkurang, kebijaksanaan kita bertambah. Lama-kelamaan, kita pun bisa menjadi seperti Buddha yang bersih dari segala bentuk ketidaktahuan, memiliki kemahatahuan, dan karenanya bebas dari segala macam penderitaan.</p>



<h2>2. <strong>Hormati ajaran &amp; pengajarnya</strong></h2>



<p>Air tidak akan mengalir ke tempat yang tinggi, begitu juga dengan Dharma. Kalau kita belajar Dharma dengan tinggi hati, Dharma yang kita pelajari tidak akan masuk ke hati. Meskipun Guru yang mengajarkan Dharma tidak berpendidikan tinggi, tidak mahir bicara, atau sekadar “tidak cocok” dengan kita, kita tetap tidak boleh memandang rendah, apalagi menganggap remeh.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, kadang kejadiannya bukan kita sengaja sombong, tapi tidak sadar&nbsp; bahwa kita <em>take </em>Dharma <em>for granted. </em>Kita menganggap kegiatan ceramah Dharma atau membaca buku Dharma adalah aktivitas biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang penting dan bisa mengubah hidup. Atau kita merasa bahwa apapun yang akan kita pelajari bukanlah sesuatu yang baru, jadi tidak perlu diperhatikan secara saksama.&nbsp;</p>



<p>Hal ini bisa diatasi dengan menjalankan tradisi mengikuti pengajaran Dharma. Tradisi ini ada untuk mengondisikan batin kita agar memandang Dharma sebagai sesuatu yang berharga dan patut dihormati. Dengan bernamaskara dan duduk di lantai misalnya, kita secara fisik menempatkan diri kita di “bawah” dan sebagai orang yang memohon agar Dharma diajarkan kepada kita. Ketika kita duduk diam mendengarkan dengan sudut pandang seperti ini, Dharma tentu dapat mengalir lancar ke batin kita.</p>



<p>Secara khusus, ada sikap-sikap yang perlu kita jaga sebagai wujud sikap hormat terhadap Dharma dan Guru Dharma:</p>



<ul><li>Bebas dari kesombongan</li><li>Mendengarkan pada saat yang tepat</li><li>Bersikap menghormati</li><li>Bersikap sopan</li><li>Bersikap bebas dari kemarahan</li><li>Mendengarkan tanpa niat mencari kesalahan</li><li>Bebas dari pandangan meremehkan</li><li>Menganggap guru memiliki kekurangan (fisik tidak menarik, nada bicara tidak mengenakkan, kata-kata buruk, dsb.)</li></ul>



<h2>3. <strong>Cara Belajar yang Sesungguhnya</strong></h2>



<p>Setelah tahu manfaat belajar Dharma dan punya sikap yang sesuai, kita bisa lanjut mempelajari dan menerapkan teknik belajar yang sesungguhnya! Teknik ini terbagi jadi 2, yaitu hal yang harus dihindari dan pemikiran yang harus dikembangkan.</p>



<h3><strong>Jangan Menjadi Wadah yang Cacat</strong></h3>



<p>Bayangkan kita adalah wadah yang hendak menampung air Dharma. Agar Dharma yang masuk bisa tertampung dengan baik, kita sebagai wadah tentu harus berada dalam kondisi yang baik pula. Karena itu, kita harus memastikan agar kita tidak memiliki kondisi-kondisi berikut:</p>



<ul><li><strong>Terbalik </strong>&#8211; hanya tubuh yang membaca atau mendengarkan Dharma, tapi pikiran melayang ke mana-mana. Dharma tak ada yang masuk ke otak, apalagi batin.</li><li><strong>Kotor </strong>&#8211; belajar dengan motivasi yang salah, misalnya untuk mencari bahan ceramah supaya kita dihormati dan disukai</li><li><strong>Bocor </strong>&#8211; sudah susah-payah belajar, tapi langsung melupakan apa yang dipelajari &amp; tidak dipraktikkan</li></ul>



<p>Sebaliknya, kita harus berupaya mengembangkan 6 pemikiran berikut:</p>



<ul><li><strong>Kita adalah orang sakit</strong></li></ul>



<p>Kita berputar-putar di samsara karena membawa banyak penyakit: penyakit marah, penyakit serakah, sombong, penyakit malas, dsb. Kalau dirangkum, intinya sih semua penyakit kita berasal dari klesha dalam batin kita. Penyakit ini sangat parah, sangat berbahaya, dan sudah kita derita sejak waktu yang tak bermula. Kalau sakit sehari-dua hari saja kita sudah panik cari obat, masa sakit yang demikian lama dan parah kita biarkan saja?</p>



<ul><li><strong>Dharma adalah obatnya</strong></li></ul>



<p>Saat tahu bahwa ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit kita, tentunya kita akan semangat mencari obat itu sampai ketemu. Apa obat untuk penyakit akibat klesha? Dharmalah satu-satunya yang bisa! Kita perlu mencari Dharma dengan motivasi dan pemikiran yang sama untuk mendapatkan hasil maksimal.</p>



<ul><li><strong>Buddha atau Guru Dharma adalah dokter yang mahir</strong></li></ul>



<p>Kalau kita sembarangan makan obat tanpa diagnosis dari dokter, kita bisa makan obat yang salah, baik dari segi jenis maupun dosis. Karena itulah kita perlu mencari dokter yang mahir untuk memberi kita diagnosis yang tepat sekaligus resep obat yang manjur.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Ketika orang sakit menemukan seorang dokter, kita akan dengan senang hati mendengarkan apa yang dikatakan dokter tersebut dan memperlakukannya dengan hormat.”</p><cite>Phabongkha Rinpoche, Pembebasan di Tangan Kita Jilid I</cite></blockquote>



<ul><li><strong>Praktik Dharma dengan sungguh-sungguh pasti bisa menyembuhkan penyakit</strong></li></ul>



<p>Meski punya dokter yang mahir dan obat yang manjur kalau kita tidak pernah minum obatnya dengan benar. Inilah yang mungkin banyak terjadi pada umat Buddha di Indonesia: banyak belajar Dharma, tapi tidak merasakan manfaatnya.</p>



<p>Agar Dharma tak sekadar lewat, kita harus “minum” obat Dharma dengan merenungkan dan memeditasikan apa yang kita pelajari. Sedikit demi sedikit, pemikiran kita akan semakin selaras dengan Dharma. Kita perlu mengambil waktu “makan”, yaitu mendengarkan Dharma yang baru diajarkan, untuk mengaitkan Dharma tersebut dengan kehidupan kita. Jika tidak, kita akan menjadi bebal terhadap Dharma.</p>



<ul><li><strong>Memandang Buddha sebagai makhluk suci</strong></li></ul>



<p>Dharma diajarkan sang Buddha. Selain sebagai sosok Guru, Buddha juga menjadi bukti sekaligus target masa depan yang bisa kita capai jika kita serius belajar dan praktik Dharma. Semakin tinggi “target”-nya, setinggi itulah hasil yang akan kita dapatkan. Kita juga akan menghormati apa yang diajarkan sesuai dengan “level” Guru yang mengajar, bukan?</p>



<p>Dengan menyadari bahwa Buddha adalah makhluk suci, otoritas sempurna yang bebas dari kesalahan sekecil apapun, kita juga jadi tahu bahwa ajaran Beliau bebas dari kesalahan sekecil apapun dan kita bisa mengatasi semua kesalahan yang kita miliki jika kita belajar Dharma dengan serius. Ini sekaligus menjati latihan mengingat Buddha.</p>



<ul><li><strong>Berharap Dharma bertahan untuk waktu yang lama</strong></li></ul>



<p>Belajar Dharma butuh proses yang panjang. Buddha Sakyamuni saja harus berlatih selama berkalpa-kalpa dan melalui proses kelahiran dan kematian yang tak terhingga banyaknya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau sebelum belajar &amp; praktik kita tuntas, eh Buddhadharma dilarang oleh negara atau bahkan hilang dari muka bumi?</p>



<p>Supaya kita bisa belajar dan praktik Dharma sampai tuntas, kita harus dengan tulus mengharapkan Dharma bertahan lama. Secara khusus, kita perlu merenungkan bahwa aktivitas mempelajari Dharma yang sedang kita lakukan ini akan berkontribusi untuk mempertahankan Dharma di dunia.</p>



<p>Teknik-teknik ini ada dalam bab 3 Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan yang merangkum keseluruhan ajaran Buddha menjadi topik-topik urut untuk dipelajari. Ketika pertama kali dijelaskan, pembelajaran Dharma dilakukan secara langsung dengan Guru menjelaskan, murid mendengar. Di zaman sekarang, proses studi Dharma sudah berkembang pesat. Selain mendengarkan pengajaran Dharma secara langsung, kita bisa mendapatkan pengetahuan Dharma dari buku, video, dsb. Meski begitu, teknik “mendengarkan” Dharma tetap bisa dan perlu diterapkan dalam setiap upaya kita mempelajari dan mempraktikkan Buddhadharma.</p>



<p>Sudah siap mencoba teknik belajar yang satu ini?</p>



<p>Referensi:</p>



<ul><li><a href="https://play.google.com/store/books/details/Pembebasan_di_Tangan_Kita_Jilid_1_Pendahuluan?id=1WGIDwAAQBAJ&amp;hl=en_US&amp;gl=US&amp;pli=1">Pembebasan di Tangan Kita Jilid I</a> &#8211; Phabongkha Rinpoche</li><li><a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">&#8220;Jangan Sampai Obat Menjadi Racun&#8221;</a> &#8211; Y.M. Biksu Bhadra Ruci dalam ILR 2017</li></ul><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/06/05/cara-belajar-dharma/">Belajar Buddha Dharma Ternyata Ada Tekniknya!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/06/05/cara-belajar-dharma/">Belajar Buddha Dharma Ternyata Ada Tekniknya!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buddhis Butuh Baca Biografi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2024 15:47:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9079</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca biografi ternyata merupakan langkah pertama seorang Buddhis menuju pencerahan. Kok bisa?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Biografi adalah jenis karya sastra yang berisi riwayat hidup seseorang, mulai dari identitas pribadi, tempat kelahiran, informasi latar belakang pendidikan, riwayat pekerjaan, hubungan, kematian, dan lain sebagainya. Dari membaca biografi, kita bisa mendapatkan inspirasi, motivasi, dan bahkan solusi dari pengalaman hidup tokoh yang diceritakan.</p>



<h2 id="h-apa-hubungan-biografi-dengan-buddhis"><strong>Apa hubungan biografi dengan Buddhis?</strong></h2>



<p>Dalam <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/">Lamrim</a>, panduan <em>step by step</em> menuju pencerahan yang berkaitan erat dengan peradaban Buddhis Nusantara, membaca biografi adalah langkah pertama untuk mencapai pencerahan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Tidak hanya kurangnya keyakinan, kebijaksanaan, atau kegigihan yang akan mencegah seorang praktisi untuk memperoleh hasil pencapaian spiritual; ia juga tidak akan memperoleh apapun dari Dharma yang palsu.”</p><cite>Phabongkha Rinpoche, Pembebasan di Tangan Kita Jilid I</cite></blockquote>



<p>Lewat biografi, kita akan mengetahui asal-usul seorang guru dan dari mana beliau mendapatkan ajaran. Kita juga bisa melihat bagaimana sang guru berperilaku, apakah sesuai dengan ajaran tersebut? Terakhir, kita juga bisa mengetahui kualitas dan pencapaian-pencapaian sang guru. Hal ini sangatlah penting karena dari situ kita bisa mengetahui kualitas dan pencapaian apa yang bisa kita raih jika mengikuti ajarannya.</p>



<h2><strong>B</strong>uddhis perlu baca biografi siapa?</h2>



<p><strong>Biografi yang wajib dibaca seorang Buddhis pertama-tama tentunya adalah biografi Buddha Sakyamuni selaku Guru utama. Selanjutnya, seorang Buddhis perlu mengenal tokoh-tokoh penting dari tradisi yang sedang atau hendak dia pelajari. </strong>Praktisi Lamrim, misalnya, dianjurkan untuk mempelajari biografi Buddha Sakyamuni, Guru Atisha Dipamkara Srijnana, dan Je Tsongkhapa. Terakhir, seorang Buddhis perlu mempelajari riwayat guru spiritual pribadinya.</p>



<p>Bab 1 Lamrim “Keagungan Sumber Ajaran” merincikan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana, pelopor Lamrim yang merupakan murid dari Mahaguru Buddhis asal Nusantara, <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Guru Suwarnadwipa Dharmakirti</a>. Di sini, dikisahkan bagaimana Guru Atisha dilahirkan dalam keluarga terhormat, yaitu sebagai pangeran di keluarga kerajaan Benggala, lalu mewarisi ajaran Dharma baik Sutra maupun Tantra dari banyak cendekiawan dan filsuf agung yang diakui oleh institusi pendidikan monastik resmi seperti Nalanda dan Vikramasila. </p>



<p>Perjalanan Guru Atisha ke Sriwijaya pada abad X dan pertemuannya dengan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti juga dijelaskan dengan rinci mengingat sang Guru Dharma Nusantara keturunan Dinasti Shailendra ini merupakan Guru utama Beliau. Dengan kata lain, Lamrim yang dikembangkan dari karya <a href="https://play.google.com/store/books/details/Bodhipathapradipa_Pelita_Sang_Jalan_Menuju_Pencera?id=K5mWDwAAQBAJ&amp;gl=US&amp;pli=1">Guru Atisha, Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipa)</a>, juga berasal dari Nusantara.</p>



<h2><strong>Biografi adalah sumber inspirasi Buddhis</strong></h2>



<p><span style="font-size: inherit; color: var(--body-color); font-family: var(--text-font);">Lebih dari sekadar informasi, biografi juga menginspirasi</span>. Biografi Buddha Sakyamuni, misalnya, mengisahkan kelahiran bakal Buddha yang penuh pertanda ajaib, kecerdasan dan ketangkasan-Nya yang luar biasa sejak masih beranjak dewasa, hingga welas asih agung yang mendorong Beliau untuk meninggalkan harta, takhta, dan wanita demi mengakhiri penderitaan semua makhluk dan kebijaksanaan sempurna yang Beliau raih. Keren sekali bukan? </p>



<p>Selain membuktikan betapa agungnya seorang Buddha, biografi Buddha Sakyamuni juga menunjukkan seperti apa masa depan yang akan diraih oleh orang yang mengikuti ajaran-Nya. Biografi Buddha dapat membangkitkan rasa kagum yang bisa diubah menjadi semangat mempraktikkan Dharma guna meraih apa yang sang Buddha telah raih.</p>



<h2>Cara Buddhis baca biografi Buddha dan Guru Dharma</h2>



<p>Manfaat di atas tidak dapat diraih jika seorang Buddhis membaca biografi Buddha dan Guru-Guru Dharma secara asal-asalan. Cara pandang yang tepat harus diterapkan sebagaimana diterangkan oleh Guru Dagpo Rinpoche dalam bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Dianjurkan untuk tidak membaca riwayat mereka seperti halnya kita membaca sebuah sejarah atau kisah. Kita harus membacanya sebagai satu aspirasi. Artinya, setelah membacanya, kita harus membuat sebuah harapan bahwa kelak kita pun dapat mengikuti teladan guru-guru besar ini.”</p><cite>Guru Dagpo Rinpoche, Sumati Mañjuśrī Maitreya Samudra Śāstra Saṃgraha Jilid I</cite></blockquote>



<p>Tertarik untuk mulai baca biografi Buddha dan Guru-Guru Dharma? Temukan koleksinya di <a href="https://store.lamrimnesia.com/product-category/toko-buku-online/biografi/">sini</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2024 12:14:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8956</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha? Kenapa umat Buddha menyebutnya Triratna (Tiga Permata) dan berlindung kepadanya? </p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha? Kenapa umat Buddha menyebutnya Triratna dan berlindung kepadanya?&nbsp;</p>



<p>Jika seorang Buddhis tidak pernah mempelajari kualitas-kualitas Triratna, cepat atau lambat, ia akan kehilangan alasan untuk berlindung. Saat ada yang lebih ngetren atau mentereng, ia akan dengan mudah pindah keyakinan. Karena itulah memahami kualitas setiap aspek Triratna adalah <a href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">syarat wajib seseorang untuk Trisarana</a>. Apa saja kualitas masing-masing Ratna? Apa saja perbedaan di antara mereka? Mari kita ulas secara ringkas.</p>



<h2 id="h-kualitas-buddha"><strong>Kualitas Buddha</strong></h2>



<p><strong>Kualitas tubuh Buddha</strong> tentu sudah sering kita dengar, yaitu terdiri atas 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan seorang makhluk agung. Setiap tanda ini bukan tanda biasa seperti tahi lalat atau warna pada kulit, melainkan buah dari 10 juta kebajikan! Merenungkan hal ini juga penting agar kita jadi punya sebab karma untuk memiliki kualitas tersebut. Dalam Sutra Ratnavali, kita dianjurkan untuk merenungkan bait berikut:</p>



<p>“Andaikan kita menggabungkan semua kebajikan di dunia—termasuk kebajikan para Pratyekabuddha, para Śrāvaka (baik yang sedang dalam latihan maupun yang sudah menyelesaikan latihannya), serta para raja cakravartin. Jumlah ini hanya cukup untuk menghasilkan satu lubang pori-pori pada tubuh Buddha. Jika kita menggabungkan semua kebajikan yang akan menghasilkan semua lubang pori-pori pada tubuh Buddha, seratus kali lipat dari jumlah itu dibutuhkan untuk satu tanda sekunder sang Buddha.”</p>



<p><strong>Ucapan Buddha</strong> juga tak kalah luar biasa. Jika dirinci, total ada 60 kualitas ucapan seorang Buddha. Di antara semua kualitas itu, salah satu yang paling gampang diingat adalah bagaimana satu ucapan saja dari sang Buddha bisa dipahami dalam banyak bentuk berbeda. Jika semua makhluk menanyakan sesuatu di waktu yang sama, Buddha bahkan bisa menghadirkan satu tubuh dan satu ucapan untuk menjawab mereka semua.</p>



<p><strong>Kualitas batin</strong> Buddha dapat dirangkum ke dalam dua aspek, yaitu pengetahuan Buddha dan cinta kasih Buddha. Sang Buddha memiliki pengetahuan yang mampu menyadari semua fenomena yang ada secara konvensional sejelas melihat cangkang buah asam di telapak tangan sambil tetap berada dalam konsentrasi terpusat yang merealisasikan langsung sifat tertinggi semua fenomena. Sementara itu, cinta kasih Buddha begitu besar kepada semua makhluk: tidak terbatas, tidak berubah, hadir setiap saat tanpa jeda.</p>



<p>Selain itu, masih ada lagi kualitas dari <strong>aktivitas Buddha</strong> yang digambarkan dalam 9 perumpamaan. Ringkasnya, seorang Buddha bisa menyelesaikan aktivitas-aktivitas tanpa upaya dan tanpa motivasi. Aktivitas Buddha membawa akibat secara spontan dan tanpa upaya, saat waktu yang tepat tiba, yaitu saat ada batin makhluk yang cukup suci untuk ditaklukkan secara spiritual.</p>



<h2><strong>Kualitas Dharma</strong></h2>



<p>Berhubungan dengan kualitas Buddha, Kualitas Dharma adalah mampu menghasilkan atribut-atribut Buddha, termasuk seluruh kualitas luar biasa di atas.&nbsp;</p>



<p>Sederhananya, tujuan utama Dharma adalah mengendalikan batin kita. Jika seseorang bisa mempraktikkan Dharma dengan tekun, setahap demi setahap, batinnya akan semakin terkendali, ia akan bisa meraih kualitas-kualitas agung Buddha, dan kebahagiaan tentu bisa diraih. Inilah kualitas Dharma yang dapat kita renungkan.</p>



<h2><strong>Kualitas Sangha</strong></h2>



<p>Sementara itu, kualitas Sangha sangat beragam tergantung pada tingkatan kesuciannya. Misalnya, praktisi yang telah mencapai Marga Penghimpunan di kendaraan Śrāvaka telah menolak samsara dan mengabdikan diri untuk mengembangkan 13 syarat pencerahan. Ia juga telah mencapai tiga faktor pertama dari 37 faktor pencerahan. Ia pun bisa memproyeksikan emanasi yang bertindak demi makhluk lain serta mulai mengembangkan kebijaksanaan supernormal.</p>



<p>Sangha yang telah mencapai Marga Persiapan telah memperoleh realisasi konseptual terhadap 16 aspek yang berkaitan dengan Empat Kebenaran Arya. Di Marga Penglihatan, salah satu kualitas Sangha adalah realisasi langsung akan kesunyataan. Pada Marga Meditasi, seorang praktisi secara bertahap meninggalkan 81 bentuk klesha.</p>



<p>Sangha yang telah mencapai tingkatan Arahat punya kualitas yang lebih besar lagi. Ia mampu mengubah banyak objek fisik menjadi lebih sedikit, Ia mampu mewujudkan banyak emanasi dan mengubah penampilan bentuk luar, hingga mampu bepergian ke mana pun ada makhluk yang perlu ditaklukkan secara spiritual.&nbsp;</p>



<p>Seorang Pratyekabuddha telah menghimpun kebajikan selama seratus kalpa. Seorang Bodhisatwa memiliki kualitas bajik yang tak terbatas. Ia mengembangkan pemahaman yang kokoh akan kesunyataan lewat belajar, merenung, dan meditasi serta mengatasi pandangan salah yang menganggap segala sesuatu memiliki eksistensi sejati. Kualitas-kualitas ini terus bertambah sejalan dengan <em>bhumi</em> atau tingkatan yang dicapai sang Bodhisatwa. Beberapa contohnya: mampu memproyeksikan 100 emanasi, melihat masa lalu dan masa depan, mengemanasikan 100 tanah Buddha, hidup selama 100 kalpa.</p>



<p>Kitab “Pembebasan di Tangan Kita” memberikan beberapa contoh sosok yang menggambarkan kualitas Sangha. Arya Ananda, setelah Buddha Sakyamuni parinirwana, menaklukkan sejumlah <em>tirthika </em>(penganut aliran sesat) dan membawa 80 ribu makhluk menuju realisasi Kebenaran. Ada pula kisah Mara menurunkan hujan makanan dan permata serta mendatangkan penari untuk mengganggu praktisi Dharma yang sedang mendengarkan pembabaran Dharma oleh Arya Upagupta. Saat Arya Upagupta mengalungkan bunga pada penari panggilan Mara tersebut, ia tiba-tiba terlihat buruk rupa. Gangguan pun sirna.</p>



<h2><strong>Perbedaan Setiap Ratna</strong></h2>



<p>Setelah mempelajari kualitas masing-masing Ratna, seorang Buddhis juga perlu memahami perbedaan di antaranya. Perbedaan ini dapat dikelompokkan menjadi 6 bagian: perbedaan pada karakteristik pengenalnya; perbedaan pada tindakannya; perbedaan pada sikapnya; perbedaan pada praktiknya; perbedaan yang berkaitan dengan ingatan; dan perbedaan pada bagaimana kebajikan seseorang dapat meningkat.</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td>Perbedaan</td><td>Buddha</td><td>Dharma</td><td>Sangha</td></tr><tr><td>Karakteristik Pengenal</td><td>mencapai pencerahan; sempurna pengetahuannya</td><td>akibat kehadiran Buddha; realisasi tergantung sifat murid</td><td>orang-orang yang mempraktikkan Dharma</td></tr><tr><td>Tindakan</td><td>membabarkan Dharma</td><td>menyebabkan lenyapnya objek yang harus ditinggalkan</td><td>mendorong orang untuk semangat mengejar kebajikan</td></tr><tr><td>Sikap</td><td>ibarat nahkoda; dipuja &amp; dihormati</td><td>ibarat kapal; sesuatu yang harus direalisasikan</td><td>ibarat sahabat seperjalanan; jalin hubungan sepatutnya</td></tr><tr><td>Praktik</td><td>dipuja &amp; dihormati</td><td>direalisasikan</td><td>jalin hubungan</td></tr><tr><td>Ingatan</td><td>kualitas Buddha</td><td>kualitas Dharma</td><td>kualitas Sangha</td></tr><tr><td>Meningkatnya kebajikan</td><td>tergantung 1 orang</td><td>tergantung entitas bukan orang</td><td>tergantung banyak orang</td></tr></tbody></table></figure>



<h2><strong>Penutup</strong></h2>



<p>Memiliki kesempatan untuk mengenal Buddha, Dharma, dan Sangha yang memiliki kualitas bajik luar biasa adalah keberuntungan yang juga luar biasa. Terlebih lagi jika kita dapat membangkitkan keyakinan terhadap mereka. Mari bermudita dan bangkitkan tekad untuk melatih Trisarana supaya kualitas-kualitas agung tersebut tumbuh dalam batin kita!</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche<br>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menjadi Buddhis &#8211; Tolok Ukur Trisarana</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Feb 2024 13:51:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8934</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memangnya ada cara menjadi Buddhis? Bukannya Buddhisme bukan agama, melainkan filsafat hidup atau way of life? Ini penjelasannya dalam Lamrim!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis – Tolok Ukur Trisarana</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis &#8211; Tolok Ukur Trisarana</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memangnya ada cara menjadi Buddhis? Bukannya Buddhisme bukan agama, melainkan filsafat hidup atau <em>way of life? </em></p>



<p>Buddha mengajarkan “Dharma” yang secara harfiah berarti kebenaran. Tidak peduli agama atau kepercayaan apa yang dianut seseorang, semua bisa menemukan potongan-potongan kebenaran dengan berbagai cara. Ketika ia hidup sesuai dengan kebenaran yang ia temukan itu, ia dapat dikatakan menjadi seorang “Buddhis” dalam artian “hidup sesuai dengan ajaran Buddha”. Namun, tentu lain halnya ada yang kita ingin menjadi “Buddhis” dalam artian “pengikut Buddha”. Walau tetap tidak perlu ganti KTP, menjadi Buddhis dalam artian ini tetap ada tata caranya!</p>



<p>Menjadi pengikut Buddha berarti bertumpu pada-Nya, mempelajari dan mengikuti keseluruhan ajaran-Nya (Dharma), dan hidup harmonis dengan sesama pengikut Buddha yang lain (Sangha), atau dalam konsep Buddhis dikenal dengan istilah “Trisarana” (Tiga Perlindungan). Trisarana berarti kita berlindung kepada Triratna (Tiga Permata) yang terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Kita juga memiliki keyakinan bahwa Triratna dapat menolong kita untuk bebas dari kelahiran di alam rendah, bebas dari penderitaan samsara, hingga meraih Kebuddhaan demi kebaikan semua makhluk.</p>



<h2 id="h-ritual-hanyalah-awal"><strong>Ritual Hanyalah Awal</strong></h2>



<p>Umat Buddha di Indonesia mengenal upacara “pengambilan” Trisarana yang dikenal dengan istilah “visudhi”. Dengan mengikuti upacara ini, sang umat akan “resmi” menjadi seorang Buddhis. Ia juga akan diberikan nama khusus dan kartu visudhi sebagai bukti. Selain itu, ada bait-bait Trisarana yang menjadi bagian wajib dalam puja bakti di wihara. Isinya adalah sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Buddham Saranam Gacchami</em> &#8211; Aku berlindung kepada Buddha<br><em>Dhammam Saranam Gacchami</em> &#8211; Aku berlindung kepada Dharma<br><em>Sangham Saranam Gacchami</em> &#8211; Aku berlindung kepada Sangha</p></blockquote>



<p>Ritual ini penting sebagai salah satu cara menanamkan sebab agar seseorang bisa mempraktikkan Trisarana sepenuhnya. Namun, praktiknya sendiri ada di setiap momen dalam keseharian, bukan sebatas ucapan dan upacara saja. Langkah-langkah Trisarana (dan lantas menjadi Buddhis) telah dirangkum dari berbagai khotbah Buddha dan ulasannya dalam Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Bagi Ketiga Jenis Praktisi. Kita pertama-tama perlu alasan yang kuat untuk melakukan Trisarana, mengenali masing-masing objek perlindungan, lalu mempelajari tolok ukur Trisarana dan manfaatnya, hingga mempraktikkan serangkaian ikrar agar kita punya pegangan yang kokoh terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha.</p>



<h2><strong>Tolok Ukur Trisarana</strong></h2>



<p>Setelah memahami <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">sebab-sebab Trisarana</a> dan mengenali objek-objeknya, ada satu hal lagi yang perlu dipelajari: apa tolok ukur seseorang sudah Trisarana? Tolok ukur ini perlu dipelajari bukan untuk menghakimi orang, menilai apakah si anu dan si itu sudah cukup Buddhis atau belum, melainkan untuk memberi diri kita sendiri acuan mengenai cara berlindung kepada Triratna dan menjadi Buddhis yang seutuhnya.</p>



<p>Lamrim merangkum tolok ukur Trisarana ke dalam 4 poin. Penjelasannya berdasarkan kitab “Pembebasan di Tangan Kita” adalah sebagai berikut:</p>



<ol><li>Trisarana setelah mempelajari kualitas setiap aspek Triratna</li><li>Trisarana setelah mempelajari perbedaan dalam Triratna</li><li>Trisarana dengan menyatakan keyakinan pada Triratna</li><li>Trisarana dengan menyangkal keyakinan terhadap ajaran lain</li></ol>



<h2><strong>Mencegah Keyakinan Buta</strong></h2>



<p>Mempelajari kualitas setiap aspek Triratna dan perbedaan-perbedaannya sangatlah penting. Jika kita tidak memahami dua hal tersebut, tentu tak ada alasan bagi kita untuk mengandalkan Triratna sebagai perlindungan. Jika kita ngotot bertrisarana dengan keadaan demikian, “keyakinan” yang kita bangkitkan hanyalah sebatas keyakinan buta yang tidak didasari oleh pemahaman logis. Sangat mungkin kita akan kehilangan keyakinan tersebut sebelum bisa mendapatkan manfaat apapun dari Buddhisme. Atau kalaupun kita masih bertahan, manfaat yang kita dapat tak akan maksimal. Banyaknya umat Buddha yang pindah agama kemungkinan besar terjadi karena hal ini.</p>



<h2><strong>Pernyataan dan Penyangkalan</strong> dalam Menjadi Buddhis</h2>



<p>Poin ketiga dari tolok ukur Trisarana, yaitu “menyatakan keyakinan pada Triratna” terdiri atas 3 jenis pernyataan, yaitu: (1) menyatakan keyakinan pada Buddha sebagai orang yang mengajarkan kita bagaimana menemukan Trisarana; (2) menyatakan keyakinan pada Dharma sebagai perlindungan yang sesungguhnya; dan (3) menyatakan keyakinan pada Sangha sebagai teman yang membantu kita menemukan Triśaraṇa. </p>



<p>Saat membuat pernyataan ini, kita benar-benar mempercayakan diri kita kepada Buddha yang ibarat seorang dokter, Dharma sebagai obat, dan Sangha sebagai perawat bagi hidup kita. Upacara visudhi dan pelafalan Trisarana dalam puja bakti rutin adalah contoh praktik dari poin ini.</p>



<p>Berikutnya, mMenyangkal keyakinan lain ini juga penting untuk memastikan agar kita tidak salah mengikuti sosok yang masih terikat samsara atau melakukan praktik-praktik yang tidak akan membantu kita mencapai kebahagiaan sejati. Saat ini, ada banyak sekte atau kelompok yang “mirip” dengan Buddhisme atau bahkan memang mengajarkan praktik Buddhis dengan tujuan khusus mengatasi persoalan di kehidupan saat ini. Jika seorang pengikut Buddha tidak bisa memisahkan praktik-praktik tersebut dengan praktik Buddhis sejati dengan pembebasan dan pencerahan sempurna sebagai tujuan utama, ia akan terjebak dan semakin jauh dari kebahagiaan sejati.</p>



<h2>Menjadi Buddhis Berarti <strong>Keyakinan Sejalan dengan Logika</strong></h2>



<p>Di era sekarang ini, tak sedikit orang yang memandang praktik Trisarana sebelah mata, bahkan di kalangan Buddhis sendiri. Saking bangganya dengan ajaran Buddha yang seringkali digadang-gadang sebagai ajaran spiritual yang paling logis dan saintifik, ada yang menganggap bahwa Trisarana itu sebatas mempelajari teks Dharma atau menghimpun karma baik. Ekspresi keyakinan seperti menghormati rupang Buddha dan memohon atau berdoa kepada Buddha saat kita mengalami kesulitan dianggap “bukan ajaran Buddha”. Ini terjadi karena “Buddha” hanya dipahami sebagai sosok historis yang telah lama wafat, lantas memotong praktik “Trisarana” menjadi “Dwisarana” secara prinsip.</p>



<p>Pandangan ini dapat dengan mudah dipatahkan dengan memahami kualitas Buddha. Lebih lanjut, orang-orang yang telah mempelajari dan merenungkan kitab-kitab filosofis Buddhis akan menemukan betapa pentingnya Trisarana secara utuh. Pembelajaran dan perenungan yang mereka lakukan membawa mereka pada kesimpulan bahwa praktik Trisarana adalah sesuatu yang logis.&nbsp;</p>



<p>Lalu, jika para cendekiawan saja ber-Trisarana, bagaimana dengan orang lain yang tidak berkesempatan untuk mempelajari banyak risalah secara mendalam, tapi ingin menjadi pengikut Buddha? Tentunya semakin penting buat orang-orang seperti ini, termasuk penulis sendiri, untuk sepenuhnya memercayakan diri kepada Triratna.</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche<br>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis – Tolok Ukur Trisarana</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis &#8211; Tolok Ukur Trisarana</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sing Penting Yakin</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2023 05:26:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7890</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa yang membedakan seorang Buddhis dengan penganut agama lain? Jawabannya adalah Buddhis berlindung pada Triratna alias Tisarana. Tapi berlindung dari apa? Yuk kita simak!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Elvan</p>



<p>Melanjutkan bahasan topik sebelumnya, <em>kan</em> katanya <s>sakitnya karena diguna-guna</s> <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">YOLO itu nggak <em>bener</em> adanya karena habis mati ternyata kita ada kehidupan selanjutnya lagi</a>. Bukan cuma sekali, tapi berulang kali, banyak <em>deh </em>pokoknya. Nah, terus karena nggak ada jaminan bahwa setelah kita mati sekarang itu <em>next</em>-nya kita nggak bakal “turun kasta”, jadi apa yang mesti kita lakukan <em>dong</em>? Jawabannya ya kita harus bisa memastikan kelahiran kembali kita yang selanjutnya itu di alam bahagia. Dalam Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, itu bisa kita capai dengan praktik berlindung atau Tisarana dan meyakini hukum karma. Di sini, kita akan mengupas lebih lanjut terkait berlindung dulu <em>ygy</em>.</p>



<p>Bagi seorang Buddhis, setelah ada pemikiran bahwa ternyata jargon YOLO bukan solusi atas sistematika, retorika, dan problematika kehidupan, maka kita perlu memahami apa itu berlindung kepada Triratna. Istilah lainnya adalah Trisarana (B. Sansekerta: <em>tri </em>= tiga, <em>sarana </em>= berlindung). Berlindung terhadap tiga yang apa? Ya Triratna itu, alias tiga permata, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Tentunya segala hal harus dimulai dari melihat sebabnya terlebih dahulu, alias motivasinya. Kita makan karena apa? Karena lapar perut, bukan lapar mata ya. Kita minum boba karena apa? Karena lagi <em>pengen </em>hedon, bukan karena lagi <em>ngabisin </em>duit <em>harrom </em>hasil judi bola ya. Jadi, mengulik sebab kita melakukan sesuatu itu penting supaya kita bisa menentukan apakah sesuatu yang akan kita lakukan itu tepat atau tidak, bermanfaat atau tidak. Kalau itu sudah bisa dipastikan, kita juga akan menjalankannya dengan lebih lancar.</p>



<h4 id="h-2-1-sebab-berlindung"><strong>2+1 Sebab Berlindung</strong></h4>



<p>Terkait berlindung ini, sebabnya harus jelas. Kalau dirangkum jadi 1 hal, maka jawabannya adalah sesuai judul artikel ini, <em>sing penting yakin</em>. Kalau dipecah jadi 2 hal, maka jawabannya adalah <strong>yakin</strong> bahwa di kehidupan yang akan datang, kita akan susah “naik kasta” dan jauh lebih mungkin “turun kasta” (dengan kata lain, <strong>takut lahir ke alam rendah</strong>) serta <strong>yakin </strong>bahwa <strong>Triratna ini dapat menolong kita</strong>.&nbsp;</p>



<p>Bagi orang-orang yang sudah ada sedikit benih untuk menapak tilas jejak Buddha, maka yakin-nya <em>nambah </em>1, yaitu <strong>yakin</strong> bahwa lautan <em>samsara </em>ini tak enak, mau “kasta” tinggi ataupun rendah, <strong>dan </strong>melihat bahwa semua makhluk juga sama-sama terjebak di sini. Jadi motivasi yang ini lebih condong pada <strong>welas asih</strong> yang bikin kita ingin mengakhiri penderitaan makhluk lain juga, makanya kita berlindung kepada Triratna yang punya kemampuan itu.</p>



<p>Apapun ceritanya, bukan teh botol So*ro solusinya, melainkan <em>sing penting yakin </em>jawabannya!</p>



<h4><strong>Yakin gimana, Bos?</strong></h4>



<p>Agaknya si keyakinan yang pertama ini (atau lebih tepatnya ketakutan akan terlahir di alam rendah) sudah dibahas panjang lebar pada artikel sebelumnya. Maka yang perlu di-<em>highlight </em>pada artikel ini adalah keyakinan yang kedua, bahwa Triratna dapat menolong kita keluar dari <em>samsara</em>. Kenapa bisa begitu? Jawaban sederhananya <em>sih, </em>ya karena objek perlindungan berupa Triratna ini sudah bebas dari <em>samsara</em>. Ya logikanya kalau “berlindung” direduksi maknanya menjadi “meminta tolong”, maka kita pasti akan meminta tolong untuk suatu hal yang tidak mampu kita lakukan, namun mampu dilakukan orang lain. Contohnya seorang pengacara yang <em>gak ngerti </em>urusan desain akan “meminta tolong” arsitek/desainer interior untuk mendekorasi ruang kerjanya. Tidak mungkin yang dimintai tolong adalah tukang ledeng <em>kan </em>ya.</p>



<p>Hal yang sama juga berlaku untuk sebab berlindung ini. Yang kita mintai tolong haruslah sosok yang ahli di bidangnya. Dengan logika matematika sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa makhluk yang masih dalam <em>samsara</em> ini, untuk keluar dari <em>samsara</em>, ya mesti minta tolong ke yang sudah keluar. Bukan ke yang masih sama-sama <em>nyebur</em>.</p>



<p>Nah, terus <em>gimana </em>bisa memastikan bahwa sosok Triratna ini memang sudah keluar dari <em>samsara</em>, sehingga kita bisa mengandalkan perlindungan-Nya? Tentu kita harus kenalan lebih dekat dulu <em>dong </em>dengan masing-masing bagian dari Triratna ini. Tapi itu akan kita bahas di kesempatan selanjutnya. Ditunggu, ya! Jangan lupa, <em>sing penting yakin</em>.</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche<br>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2022 07:34:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[alam rendah]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7506</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mau tahu seperti apa rasanya lahir di neraka, hantu kelaparan, atau binatang? Buddha punya jawabannya dan kita perlu merenungkannya. Jangan diabaikan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Pernah ga sih kalian ketemu teman atau orang yang hidupnya YOLO banget gitu? YOLO itu adalah singkatan dari <em>You Only Live Once.&nbsp;</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Eh, kok lu tiap minggu <em>check out</em> keranjang Shopee mulu, sih? Gak ada niat buat hemat gitu?”<br>“Yaelah bro, kita YOLO aja lah. Ngapain hidup harus serius-serius amat, sih.”</p></blockquote>



<p>Orang-orang dengan prinsip seperti ini berpikiran bahwa kita hanya hidup sekali saja. Sebenarnya, slogan ini bisa memiliki makna positif maupun negatif tergantung pada penggunaannya. Pada konteks percakapan sebelumnya, tentu saja ini merupakan contoh pemaknaan YOLO secara negatif, yang artinya ia hanya sibuk berfoya-foya menghabiskan uang untuk membeli sesuatu yang belum tentu berguna. Padahal, uangnya mungkin bisa saja ditabung atau diinvestasikan dan kemudian digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna di masa mendatang. Jika kita melihat sudut pandang yang lebih positif, slogan YOLO juga bisa memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat selama kita masih mampu bernapas untuk membuat hidup kita menjadi lebih bermakna.&nbsp;</p>



<p>Tapi <em>guys</em>, sebelum kita terjun lebih dalam tentang YOLO ini, kita perlu menelusuri keabsahan dari kata-kata gaul ini. Apakah benar bahwa kita hanya hidup sekali saja? Pernahkah kita berpikir bahwa setelah kehidupan ini berakhir, apakah semuanya akan selesai begitu saja? Jika memang begitu adanya, berarti semua perbuatan yang telah kita lakukan di kehidupan ini tidak akan membawa akibat apa pun dong? Terus, kenapa bisa ada orang yang terlahir di keluarga kaya, sedangkan yang lainnya terlahir di keluarga miskin? Lah, siapa dong yang nentuin kalo gitu? Apabila dilanjutkan, akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul nantinya. Jika kalian penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kalian bisa menguliknya lebih lanjut di artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a>”.</p>



<h4><strong>Kehidupan Setelah Mati</strong></h4>



<p>Secara singkat, kita (terutama Buddhis) meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali saja. Setelah kematian, kita akan dilahirkan kembali ke alam yang lebih tinggi atau alam rendah. Sayangnya, kita tidak bisa dengan bebas memilih untuk dilahirkan ke alam yang mana karena itu semua bergantung pada karma yang telah kita perbuat. Jika selama kehidupan ini kita lebih banyak memupuk karma yang bajik, kita akan memiliki kesempatan untuk terlahir kembali di alam manusia atau pun alam yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika kita lebih banyak mengumpulkan ketidakbajikan, maka kita akan otomatis terjatuh ke alam rendah. Kemungkinan ini menjadikan perenungan akan penderitaan di alam rendah sebagai tahapan penting setelah <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">merenungkan tentang kematian</a> dalam instruksi Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) karena dapat menjadi dorongan kuat untuk melanjutkan praktik Dharma ke tahapan yang selanjutnya.</p>



<h4><strong>Tiga Alam Rendah</strong></h4>



<p>Berbicara tentang alam rendah, Buddhisme mengategorikan alam-alam tersebut menjadi tiga bagian, yakni alam neraka, binatang, dan hantu kelaparan.&nbsp;</p>



<p>Untuk alam neraka sendiri, setidaknya ada empat pembagian lagi, yaitu neraka besar, neraka berdekatan, neraka dingin, dan neraka sebagian. Bahkan jika kita ingin membahas lebih detail lagi, setiap neraka tersebut masih ada pembagiannya lagi loh! Jika teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut tentang pembagiannya, bisa dibaca lebih lanjut di buku “<a href="https://play.google.com/store/books/details?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche (hal. 222-248). Satu hal yang pasti, tidak ada satu pun alam neraka yang nyaman untuk ditempati.&nbsp;</p>



<p>Jika kalian pernah merasakan perihnya tersayat oleh pisau atau mungkin tidak sengaja tertusuk oleh jarum, maka kalian bisa membayangkan bahwa penderitaan di alam neraka jauh berkali-kali lipat lebih sakit dibandingkan itu. Mungkin agak sulit jika kita membayangkan diri kita yang sedang dipotong-potong dengan pisau atau dilempar ke dalam tungku besi panas yang penuh dengan kobaran api. Jika kalian pernah menggoreng sesuatu dan tidak sengaja terkena percikan minyak panasnya, nah itulah bagian yang sangat amat kecil dari keseluruhan penderitaan di alam neraka! Bukan, kita bukan sedang membahas cerita tentang psikopat atau semacamnya. Tapi, memang benar begitulah mengerikannya penderitaan di alam neraka.&nbsp;</p>



<p>Di atas neraka, ada alam hantu kelaparan. Secara umum, penghuni alam ini memiliki tiga jenis penderitaan. Yang pertama adalah halangan eksternal untuk mendapatkan makanan/minuman. Misalnya, ketika mereka menemukan mata air saat sedang kehausan, air tersebut tiba-tiba akan hilang saat mereka akan meminumnya. Kemudian, ada yang disebut sebagai halangan internal, contohnya hantu-hantu yang memiliki perut buncit tapi mulut mereka hanya seukuran mata jarum sehingga sangat sulit untuk menyantap makanan. Terakhir adalah penderitaan berupa halangan di dalam makanan/minuman itu sendiri karena apapun yang mereka santap akan berubah menjadi kobaran api.&nbsp;</p>



<p>Nah, selanjutnya kita membahas tentang penderitaan di alam binatang. Kebetulan, para binatang ini tinggal di alam yang sama dengan kita sebagai manusia sehingga kita bisa mengamati dengan jelas bagaimana kehidupan mereka. Syukur-syukur jika kita kebetulan bisa terlahir sebagai anjing atau kucing yang tinggal di rumah keluarga yang kaya sehingga kita bisa mengonsumsi Royal Canin setiap hari. Namun, seberapa besar sih kemungkinan kita bisa terlahir sebagai salah satu dari binatang peliharaan tersebut? Bayangkan jika kita terlahir sebagai ayam yang harus disembelih untuk dikonsumsi, sebagai singa di hutan yang harus saling berburu mangsa untuk bertahan hidup, atau sebagai ikan di perairan lautan dalam yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana. Secara umum, para binatang ini mengalami penderitaan berupa saling memakan satu sama lain, dungu dan bodoh, kepanasan dan kedinginan, kelaparan dan kehausan, serta dieksploitasi.</p>



<h4><strong>Kita Bisa Kena!</strong></h4>



<p>Setelah kita mengetahui semua bentuk penderitaan di alam rendah, kita perlu merenungkan bahwa dengan kondisi kita saat ini, sangat mungkin sekali bagi kita untuk terjatuh ke salah satu dari alam tersebut setelah kita meninggal nanti. Jika kita ingin hitung-hitungan peluang kita untuk terjatuh ke alam rendah ini, cukup ingat kembali kembali aktivitas apa saja yang sudah kita lakukan selama 24 jam terakhir, baik dari pikiran, ucapan, dan perbuatan. Apakah batin kita sudah cukup bajik hari ini atau kita malah sibuk iri dengan kesuksesan orang lain, kesal dengan bos kita yang ngomel terus di kantor, atau bahkan masih menyimpan dendam dengan mantan kita? Ketika aktivitas kita masih didominasi oleh hal-hal yang tidak bajik, sebenarnya itu merupakan sinyal kuat bahwa alam rendah akan menjadi destinasi kelahiran kita selanjutnya.&nbsp;</p>



<p>Kita juga bisa membandingkan jumlah makhluk yang terlahir di alam rendah dan alam manusia. Cukup hitung berapa banyak jumlah semut di satu sarang, tak terhitung! Ada berapa banyak sarang semut di dunia ini? Itu baru jumlah semut. Kita belum menghitung jumlah spesies binatang lainnya yang tak terhingga banyaknya. Apalagi jika kita menambahkan total seluruh makhluk yang terlahir di setiap kategori dari alam neraka hingga hantu kelaparan. Sudah terbayangkan seberapa besar kemungkinan kita untuk terpeleset ke alam rendah tersebut?</p>



<p>Dengan memahami penderitaan di alam rendah, seharusnya kita bisa memunculkan rasa takut yang akan memotivasi kita untuk mengurangi segala aktivitas tidak bajik yang sudah menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Mumpung kita masih terlahir sebagai manusia, kita masih memiliki kemampuan untuk menciptakan sebab-sebab yang bajik untuk menghindari kejatuhan terlahir di alam rendah. Apabila kita sudah terlanjur lahir di alam rendah tersebut, akan sangat sulit bagi kita bahkan hanya untuk sekadar memikirkan tentang Dharma karena sepanjang saat kita hanya akan merasakan penderitaan dan penyiksaan tiada akhir.&nbsp;</p>



<p>Jadi, selagi kita masih diberi kesempatan hari ini, yuk kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena <em>you don’t only live once</em>!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
