<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Lamrim Retreat 2017 - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/kegiatan/indonesia-lamrim-retreat-2017/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lamrimnesia.org/kegiatan/indonesia-lamrim-retreat-2017/</link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 Sep 2018 06:25:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Indonesia Lamrim Retreat 2017 - Lamrimnesia</title>
	<link>https://lamrimnesia.org/kegiatan/indonesia-lamrim-retreat-2017/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Darimanakah Rasa Kesepian itu Muncul?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/08/09/darimanakah-rasa-kesepian-itu-muncul/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2018 05:03:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[#lamrim #lamrimnesia #buddha #buddhism #tripitaka #dhamma #dharma #apaitulamrim]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhist]]></category>
		<category><![CDATA[ILIB]]></category>
		<category><![CDATA[itslamrimitsbuddhism]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[sharelove]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4073</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pernahkah kamu mengalami malam minggu di rumah sendirian, sementara teman-temanmu posting status di media sosial tentang aktivitas mereka, lalu kamu mati gaya? Atau saat ajakanmu diabaikan di group chat, kamu merasa tidak ada orang yang mengerti dirimu? Barangkali kamu pernah berada di suatu komunitas, kamu tidak merasakan kedekatan dengan orang-orangnya. Ujung-ujungnya, kamu merasakan perasaan kesepian [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/08/09/darimanakah-rasa-kesepian-itu-muncul/">Darimanakah Rasa Kesepian itu Muncul?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/08/09/darimanakah-rasa-kesepian-itu-muncul/">Darimanakah Rasa Kesepian itu Muncul?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernahkah kamu mengalami malam minggu di rumah sendirian, sementara teman-temanmu </span><i><span style="font-weight: 400;">posting</span></i><span style="font-weight: 400;"> status di media sosial tentang aktivitas mereka, lalu kamu mati gaya? Atau saat ajakanmu diabaikan di </span><i><span style="font-weight: 400;">group chat</span></i><span style="font-weight: 400;">, kamu merasa tidak ada orang yang mengerti dirimu? Barangkali kamu pernah berada di suatu komunitas, kamu tidak merasakan kedekatan dengan orang-orangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ujung-ujungnya, kamu merasakan perasaan kesepian yang membuatmu sedih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kamu analisis lebih jauh, apa sumber masalah dari perasaan kesepian itu? Hal ini terjadi karena banyak faktor. Kamu mungkin belum memberikan usaha yang cukup untuk membangun relasi dengan orang lain. </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ah, masa sih? Nyatanya orang yang lebih disukai dan ada yang tidak, ada orang yang lebih mudah masuk ke satu kelompok baru, ada yang tidak. Kok bisa begitu?</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebabnya ada pada hukum karma! Intisari dari hukum karma adalah kamu memperoleh hasil dari perbuatan yang kamu tanamkan. Karma bisa berbuah pada perasaan, maka dari itu perasaan kesepian itu pasti merupakan buah karma yang kamu lakukan di masa lampau, secara spesifik adalah ucapan yang memecah belah. Ucapan yang memecah belah sendiri disebut dengan Pisunavācā, yang merupakan salah satu pelanggaran sila ke empat pada Buddhis juga. Akibat dari ucapan memecah belah adalah:</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><b>Akibat yang matang sepenuhnya</b><span style="font-weight: 400;">: yaitu terlahir di alam rendah</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><b>Akibat yang serupa penyebabnya</b><span style="font-weight: 400;">: </span>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">berpisah persahabatan dengan teman dekat,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">terbunuh di tangan sahabat,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memiliki sedikit teman  atau pengikut,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">tidak menikmati persahabatan yang panjang,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">dibenci orang lain tanpa sebab </span></li>
</ul>
</li>
<li style="font-weight: 400;"><b>Akibat yang menentukan lingkungan</b><span style="font-weight: 400;">: tinggal di lingkungan yang hancur berantakan.</span></li>
</ul>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Apa yang bisa kuperbuat jika memang karmaku sudah begitu?”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dagpo Rinpoche mengatakan bahwa Perasaan kesepian yang kamu rasakan itu merupakan hal yang tidak ada gunanya sama sekali. Coba direnungkan, kamu merasa kesepian, terus kenapa? Apakah kesendirianmu menghambat aktivitasmu sehari-hari? Jangan sampai waktumu habis untuk meratapi kesendirian. Kamu masih bisa mengisi waktumu dengan aktivitas yang bermakna. Kamu juga bisa menciptakan sebab untuk menjadi dekat dengan orang-orang di sekitarmu dengan melakukan hal positif untuk mereka, misalnya menyapa dan menanyakan kabar, memberi bantuan jika diperlukan, bagi-bagi makanan, dan sebagainya. Dan pastinya, setelah memahami karma yang mengakibatkan perasaan kesepianmu sekarang, jaga batin dan ucapanmu agar tidak mengulangi sebabnya, yaitu ucapan-ucapan memecah belah. </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Tapi sebenarnya apa sih ucapan memecah belah itu?</span></i><span style="font-weight: 400;"> Tunggu artikel berikutnya, ya!</span></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/08/09/darimanakah-rasa-kesepian-itu-muncul/">Darimanakah Rasa Kesepian itu Muncul?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/08/09/darimanakah-rasa-kesepian-itu-muncul/">Darimanakah Rasa Kesepian itu Muncul?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[dharmapatriot]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jan 2018 09:50:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[retreat]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3892</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Berakhir sudah rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat yang telah berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga menyambut tahun baru 2018 pada tanggal 1 Januari 2018 kemarin. Usai sudah pembabaran Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa selama 11 hari 10 malam yang berlangsung di Prasadha Jinarakkhita oleh Biksu Bhadra Ruci. Dimulai dari pembangkitan motivasi bajik untuk mulai belajar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berakhir sudah rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat yang telah berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga menyambut tahun baru 2018 pada tanggal 1 Januari 2018 kemarin. Usai sudah pembabaran Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa selama 11 hari 10 malam yang berlangsung di Prasadha Jinarakkhita oleh Biksu Bhadra Ruci. Dimulai dari pembangkitan motivasi bajik untuk mulai belajar dan praktik Dharma, sumber keagungan ajaran, kelahiran manusia yang berharga, perenungan terhadap kematian, dukkha, pembangkitan rasa muak akan samsara, hingga pembulatan tekad bodhicitta. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi ulasan dan diskusi setiap malamnya bersama dengan para peserta dan anggota Sangha.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesi terakhir dalam Indonesia Lamrim Retreat dibuka dengan memantapkan keyakinan dengan merenungkan seluruh pengajaran selama 10 hari ke belakang. Dalam retret ini, kita telah mengenali kerugianan, keuntungan, dan ketertarikan kita pada berbagai hal di dunia melalui perenungan. Dari situ kita telah membuat sebuah langkah yang baik untuk mengawali praktik Dharma. Kemudian, kita belajar tentang berbagai motivasi dalam praktik Dharma  yang sesuai dengan kapasitas diri kita masing-masing dan membangkitkannya dalam batin. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam praktik Dharma, kita perlu membangkitkan keyakinan yang kuat dengan mengenali bahwa sumber ajaran tersebut memiliki silsilah yang langsung dan otentik dari Buddha Shakyamuni sendiri. Setelah memahami akan hal ini, kita butuh merenungkan kelahiran kita sebagai manusia yang berharga dan harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar kita tidak terjatuh ke alam rendah dan terus menerus terjebak dalam lingkaran kelahiran di samsara. Oleh karena itu kita mulai belajar untuk menolak jerat samsara dengan merenungkan bahwa sesungguhnya seluruh kenikmatan yang kita rasakan pada intinya merupakan dukkha yang disebabkan oleh banyaknya karma dan klesha atau kotoran batin yang memperkuat ego kita. Kita perlu melatih diri untuk mengurangi rasa ingin selalu dinomorsatukan dan merasa diri paling penting. Setelah perasaan muak tersebut muncul, timbullah sebuah pemikiran bahwa jika kita mengalami penderitaan di alam samsara, maka pastilah orang tua kita juga mengalami hal yang serupa. Kemudian jika kita mengingat jumlah kelahiran kita yang tak terbatas, semua makhluk juga pastilah pernah menjadi ibu-ibu kita di kehidupan yang lampau. Saat muncul rasa iba tersebut, muncullah sebuah aspirasi ingin membebaskan semua makhluk dari penderitaan tiada ujung tersebut. Untuk melihat penjelasan mendetail dari setiap topik, telah dirilis berita harian mengenai sesi pengajaran setiap harinya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menumbuhkan tidak hanya sekedar pengetahuan tetapi juga perasaan pada hati kita, para peserta retret bersama-sama mengucapkan bait-bait perlindungan terhadap Triratna dan membangkitkan bodhicitta, yaitu tekad untuk menolong semua makhluk. Biksu Bhadra Ruci juga meringkas materi yang telah dibabarkan dari awal hingga penghujung sesi dan membacakan bait-bait dalam Baris-Baris Pengalaman. Dengan senantiasa diajak untuk berpikir, merenung, dan merasakan penderitaan makhluk lain yang merupakan ibu-ibu kita dari kelahiran yang berjumlah tak terhingga, kita diajak untuk memantapkan aspirasi untuk mencapai pencerahan sempurna. Kita juga selalu diminta untuk mengingat dan mengulang janji tersebut setiap harinya untuk semakin memperkuat motivasi tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tiada pencapaian yang bisa diperoleh tanpa perjuangan. Sama halnya ketika kita begitu menginginkan tercapainya cita-cita yang kita miliki di dunia ini, realisasi spiritual merupakan sesuatu yang patut kita tuju. Bersemangatlah dalam mengembangkan batin dan melangkah bersama komunitas yang baik. Sampai kita semua berjumpa lagi dengan batin yang lebih bajik dan bijak, para pejuang spiritual!</span></p>
<p>Foto-Foto:</p>
<figure id="attachment_3896" aria-describedby="caption-attachment-3896" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img class="wp-image-3896 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3896" class="wp-caption-text">Persembahan mandala, bagian dari praktik pendahuluan yang mengawali sesi terakhir Indonesia Lamrim Retreat 2017</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3895" aria-describedby="caption-attachment-3895" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3895 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3895" class="wp-caption-text">Acara diakhiri dengan persembahan khatag atau selendang putih kepada Biksu Bhadra Ruci selaku pembimbing retret. Setelah dipersembahkan, khatag dikalungkan kembali kepada peserta retret.</figcaption></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2017 06:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anatta]]></category>
		<category><![CDATA[anicca]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3877</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret</span> <span style="font-weight: 400;">yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di alam rendah adalah dengan melihat batin. Lihatlah sifat klesha</span> <span style="font-weight: 400;">apa yang paling dominan dan dekat dengan kehidupan keseharian kita. Salah satu cara pertama untuk menghindari kelahiran di alam rendah adalah dengan mengembangkan rasa takut terhadap hal tersebut. Sangat penting untuk kita sadari bahwa ketika pertama kali dilahirkan, jam menuju kematian kita sudah ditekan dan kita hanya menunggu jam itu berbunyi. Setelah itu, kita perlu paham betul dan yakin bahwa kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang paling berharga. Oleh sebab itu tidak tepat jika dikatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang pesimis. Topik mengenai kematian harus dijadikan motivasi bagi kita untuk mempertahankan kelahiran tersebut. Kematian bukanlah topik yang harus dihindari karena dengan merealisasi hal tersebut, kita bisa menghargai kelahiran kita. Hal ini karena jika kita tidak bisa melihat kelahiran dan kematian sebagai penderitaan, maka akan sulit untuk membangkitkan rasa menolak samsara. Samsara pada dasarnya amat sulit untuk kita tolak sebab batin kita selalu pergi dan melekat pada suatu obyek dan fenomena yang bersifat netral, misalnya uang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika tiba waktunya ajal menjelang, cobalah bayangkan hal apa yang sebenarnya kita takutkan? Kita acap kali takut akan meninggalkan hal-hal yang saat ini berada bersama dan menjadi milik kita. Kita memikirkan harta, sahabat, sanak keluarga, dan segudang hal lainnya yang berharga bagi kita. Padahal saat mati, hal apa yang bermanfaat bagi kita? Seperti biasanya, Biksu Bhadra Ruci memberikan sebuah perumpamaan untuk menjawab hal tersebut. Manusia ibarat memiliki empat orang istri. Ketika mengantar kepergian kita, istri pertama hanya mengantar peti mati kita hingga ke depan pintu. Sementara istri kedua kita mengantar hingga perempatan jalan menuju kuburan. Untunglah istri ketiga mengantar hingga kita tiba di kuburan. Namun, hanya istri keempatlah yang benar-benar mengikuti hingga kita masuk ke dalam kuburan. Melalui kisah di atas, istri pertama adalah harta dan materi yang selama ini kita kejar. Istri kedua adalah teman-teman yang kita tinggalkan. Istri ketiga merupakan perlambang dari keluarga kita, entah itu ayah, ibu, istri atau suami, anak, dan sanak saudara yang dekat dengan kita. Tak ada satupun dari mereka yang mampu membagi dan menanggung beban kematian kita. Hanyalah istri keempat, yaitu karma dan kebajikan kitalah yang akan menemani kita bahkan hingga kehidupan-kehidupan berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kaitannya dengan samsara, Biksu Bhadra Ruci mengajak kita untuk merefleksikan hal apa yang sebenarnya membuat kita tidak sadar akan kepastian kematian dan masih terlena dalam samsara. Selama ini, kita selalu berpikir bahwa kita takut akan kondisi yang tidak aman. Kita khawatir kita tidak punya cukup uang untuk menghidupi kita dalam beberapa hari atau beberapa tahun ke depan. Apakah benar demikian? Sebab jikalau kita memang takut akan kondisi yang tidak aman, kita seharusnya lebih takut mati dan jatuh ke neraka dibandingkan memikirkan kondisi keuangan kita saat ini. Kita takut tidak bisa hidup dengan nyaman dibandingkan dengan kehilangan rasa aman. Kita takut kita tidak bisa mendapatkan makanan enak, tempat tinggal nyaman ber-AC. Kita takut tidak bisa memenuhi tuntutan jasmani yaitu tuntutan dari “aku”. Kita sangat takut tidak bisa melayani ego kita. Dengan kata lain, kita tidak memiliki keyakinan yang teguh terhadap hukum karma, Triratna, dan bahkan pada segala hal yang kita praktikkan. Selama ini kita terbelenggu oleh karma dan klesha yang merantai skandha.</span> <span style="font-weight: 400;">Jika tanaman bisa tumbuh dengan bantuan pot, maka tempat tumbuh karma kita terletak pada perasaan. Kita butuh pembebasan, yaitu kondisi di mana kita telah terlepas dari belenggu tersebut. Perasaan pembebasan tersebut diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti saat Indonesia merdeka dari imperialisme penjajah.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk bisa mengembangkan rasa muak terhadap samsara, kita perlu memahami kerugian samsara. Secara umum, samsara memiliki arti mengembara. Samsara bukanlah kondisi yang akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Bahkan dalam bahasa Indonesia, kata sengsara diserap dari kata samsara. Agar bisa memperoleh kebebasan dari penjara, narapidana harus terlebih dahulu berkeinginan untuk bebas. Hal ini karena ketika rasa tersebut timbul, maka narapidana akan mencari segala macam cara untuk bisa segera terbebas dari hal tersebut. Begitu pula halnya dalam memperjuangkan kebebasan dari samsara. Kita harus pertama kali mengembangkan rasa muak terhadap samsara. </span><span style="font-weight: 400;">Seperti kata Je Tsongkhapa, </span><b>kita tidak dapat mencapai aspirasi terbebas dari samsara tanpa merenungkan dukkha.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">aspirasi untuk bebas dari samsara datang dari mengetahui kerugian samsara. Untuk mengetahui kerugian samsara, </span><b>kita perlu menelusuri sebab dukkha dan menapaki jalan untuk menghentikan hal tersebut.</b><span style="font-weight: 400;"> Hal ini mirip dengan kondisi kita ketika kita sakit. Saat sakit, kita perlu memahami dan mempelajari sebab-sebab penyakit tersebut dan mencari obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit. Ironisnya, tidak mudah memahami penderitaan samsara oleh karena rasanya yang nikmat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seringkah kita berpikir bahwa terlahir di alam surga lebih menyenangkan dibandingkan terlahir sebagai manusia? Padahal ketika tiba waktunya karma kebajikan telah kita habiskan di alam surga, kita akan dengan segera terjatuh ke alam rendah. Jika kita bisa naik, maka akan sangat mudah untuk terjun bebas ke bawah. Hal ini merupakan sebuah contoh untuk menjelaskan cacat samsara karena harus </span><b>jatuh dari status tinggi ke status rendah</b><span style="font-weight: 400;">. Banyak sekali kita menemukan orang-orang yang mula-mula kaya kemudian jatuh miskin kemudian merasa menderita dan tidak dapat menerima kenyataan. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa keadaan kita saat ini bisa dengan mudah berubah pada tiap momen yang berlalu. Kondisi ini terus berulang kali terjadi dan jika yang kita rasakan hanya perasaan lelah tanpa rasa kapok, tidak akan ada perubahan yang bisa terjadi dalam diri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cacat lainnya dalam samsara adalah karena sifatnya yang </span><b>penuh ketidakpastian</b><span style="font-weight: 400;">. Dalam satu waktu, kita mungkin terlahir bahagia namun di kali lain hidup bisa berubah menjadi sangat menyengsarakan. Sebagai contoh, hubungan kita dengan orang tua, teman, musuh, dan lainnya bisa saling berkebalikan dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Pada suatu masa, istri yang sangat kita sayangi bisa terlahir sebagai ikan yang kita makan dan musuh yang sangat kita benci bisa terlahir sebagai putra yang kita timang-timang sepanjang hari. Samsara juga cacat karena tidak memberikan kepuasan. Ketika kita mendapatkan 1 Rupiah, kita menginginkan 10 Rupiah. Namun saat kita mendapatkan 10 Rupiah, kita tetap tak bisa merasa puas. Kita terus menerus menginginkan hal yang lebih setiap kali mendapatkan sesuatu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita juga </span><b>tidak memiliki teman sejati</b><span style="font-weight: 400;"> selama di samsara. Tepat ketika kita bangun hingga tertidur, lahir dan mati, manusia selalu menjalani semuanya sendirian. Pada akhirnya, dikatakan dalam teks <a href="http://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang (<em>Bodhisatwa-caryawattara</em>)</a> apalah guna orang-orang tercinta yang hanya bisa merintangi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di samping itu, </span><b>kita juga harus meninggalkan tubuh kita berulang kali</b><span style="font-weight: 400;">. Tak peduli telah berapa kali terlahir sebagai dewa di surga, kita harus mengalami kelahiran lagi di tempat-tempat seperti neraka. Kita telah terlahir selama tak terhingga jumlahnya di setiap alam kehidupan, namun tak ada satupun yang mampu membawa kita kepada sesuatu yang berkelanjutan. Tak ada satupun obyek yang tidak pernah kita miliki sebelumnya dalam samsara. Namun lagi-lagi, tak ada satupun dari hal tersebut yang mampu kita andalkan. </span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Saking banyaknya kelahiran telah kita lalui, bahkan samudra-samudra di dunia tak mampu menampung air mata yang tumpah karena patah hati. Masih maukah kita jatuh cinta dan patah hati berulang kali dan terjebak dalam samsara tiada akhir?</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal penting yang tak boleh luput untuk direnungkan adalah fenomena lahir, tua, sakit, dan mati. Kita sering kali tidak merasa bahwa hal-hal tersebut merupakan penderitaan sebab kita buta. Kita tidak sadar bahwa hal tersebut adalah masalah bagi diri kita. Kita sering mengejar sesuatu yang semu tanpa memahami betul konsep dan karakter hal-hal yang kita kejar. Persepsi dan realita yang kita alami kerap kali memiliki jarak yang jauh sehingga kita selalu menderita dan dikecewakan. Akan tetapi, kita tidak sadar bahwa kita terus dikecewakan sehingga kita terus mengejar hal tersebut bagaikan kuda yang mengenakan kacamata kuda dengan batang yang digantung sayuran di depan matanya. Ia akan terus mengejar sayuran yang ada di depannya tanpa mengetahui bahwa harapan untuk mendapatkannya tak akan pernah tercapai. Lebih dari itu, perasaan senang yang selama ini kita anggap merupakan kebahagiaan pada akhirnya bukanlah kebahagiaan. Hal ini dikarenakan kondisi yang bisa membuat kita merasakan perasaan senang tersebut tidak ajeg. Saat kita duduk terlalu lama di atas bantal duduk, kita merasa pegal kemudian pindah ke sofa. Namun ketika kita beranggapan bahwa kita merasa nyaman duduk di sofa, mulai timbullah masalah lainnya seperti merasa panas dan lain sebagainya. Ketika timbul rasa senang, maka sudah dapat dipastikan ketidaksenangan akan mengikuti. Lantas di mana lagi rasa senang yang tadinya kita rasakan berada? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berjuanglah dengan sungguh-sungguh dalam mencapai kebebasan samsara di tengah kehidupan yang mengelabui kita dalam segala kenikmatannya. Biksu Bhadra Ruci mengingatkan kita mengenai bagaimana samsara dengan mudahnya menjebak kita bagaikan kukusan bertingkat enam. Kita hanya bisa terus naik, turun, naik, turun, berputar, tanpa pernah bisa benar-benar keluar dari kukusan tersebut. Lihat dan pahamilah esensi samsara dan kehidupan. Ketika tiba saatnya kita bisa merasakan muak terhadap kekayaan dan segala jenis tipu muslihat kebahagiaan samsara, saat itulah kita bisa yakin bahwa kita telah menolak samsara dan meniti jalan menuju kebahagiaan sejati.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2017 05:53:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[happiness]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[LGBT]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3874</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bayangkanlah kegiatan yang sehari-harinya kita lakukan tepat ketika kita bangun pagi hingga terlelap lagi. Momen saat pertama kali kita membuka mata di pagi hari, kita selalu mengorientasikan aktivitas kita kepada sesuatu yang berada di luar kita. Mengingat-ingat PR yang belum dikerjakan jika kita masih bersekolah. Atau mengingat tumpukan pekerjaan yang diberikan atasan jikalau kita sudah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bayangkanlah kegiatan yang sehari-harinya kita lakukan tepat ketika kita bangun pagi hingga terlelap lagi. Momen saat pertama kali kita membuka mata di pagi hari, kita selalu mengorientasikan aktivitas kita kepada sesuatu yang berada di luar kita. Mengingat-ingat PR yang belum dikerjakan jika kita masih bersekolah. Atau mengingat tumpukan pekerjaan yang diberikan atasan jikalau kita sudah bekerja. Lalu kapan kita mempunyai waktu untuk fokus pada pengembangan batin dan spiritual kita?</p>
<p>Begitulah kira-kira sepenggal paragraf pembuka yang dikatakan oleh Biksu Bhadra Ruci pada sesi dalam Indonesia Lamrim Retreat pada tanggal 29 Desember 2017. Lebih jauh, Biksu Bhadra Ruci juga mengajak kita untuk kembali melihat realita yang sering terjadi dalam diri kita ketika menjalani kehidupan manusia yang singkat ini. Kita sering kali mengejar materi bahkan rela mati demi hal-hal tersebut. Kita bisa mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengejar nilai A dalam pelajaran atau untuk menyenangkan hati atasan. Lantas apa bedanya kita dengan dua ekor ajing yang memperebutkan tulang, mempertahankan teritorinya masing-masing, dan beranak pinak?</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>Tidak ada jaminan bahwa pada kelahiran berikutnya, kita akan kembali terlahir sebagai manusia.</p></blockquote>
<p>Sepenggal kalimat yang dikutip dari teks Bodhicaryawattara tadi mengingatkan kita untuk tak lupa melakukan refleksi terhadap batin kita. Apakah batin kita mampu membendung karma hitam yang telah kita perbuat dari kehidupan masa lampau sampai saat ini sehingga kita yakin bahwa kita bisa terlahir kembali sebagai manusia yang lengkap sempurna?</p>
<p>Setiap saat, karma dan klesha kita terus menghasilkan sesuatu, dengan setiap hasil tersebut pasti akan matang dan berbuah di satu kehidupan maupun kehidupan berikutnya. Salah satu bentuk nyata bahwa karma akan berbuah misalnya terkait pemahaman kita akan teks ini. Kita bisa memahami tulisan-tulisan ini sebab kita telah menanam bibit karma untuk bisa paham sehingga kita bisa mempersepsi paragraf demi paragraf dengan baik. Sebab-sebab di masa lalu menentukan kualitas kehidupan kita saat ini. Dengan pemahaman akan hal ini, bagaimana kita bisa menjamin kelahiran berikut akan sesuai dengan keinginan kita sementara sebab yang kita buat tidak mendukung terjadinya hal tersebut? Sementara ketika ajal menjelang, sifat dan perilaku yang paling dominanlah yang akan menentukan kelahiran kita, yang umumnya bersifat buruk. Ketika tubuh jasmani yang layaknya selembar kertas yang rapuh ini mendekati kematian, kita kebingungan untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini berada maupun menjadi milik kita. Saat kita tidak mempersiapkan batin, lalu apa arti kehidupan yang selama ini telah kita jalani? Kita butuh timbunan karma baik untuk bisa memahami hidup, memahami samsara, agar kita bisa serius mengejar spiritual dan merefleksikan batin ini dengan metode yang tepat. Kita butuh merawat diri kita sendiri dan memperjuangkan kehidupan pribadi, sebab selama ini sudah terlalu banyak upaya yang kita lakukan untuk memuaskan sesuatu yang berada di luar kita, menyenangkan atasan kita misalnya. Kita perlu merenungkan kehidupan kita untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati yang selama ini selalu kita dambakan adalah dengan menjadi Buddha.</p>
<p>Untuk mencapai hal tersebut, kita perlu menggunakan tubuh jasmani ini sebagai media. Layaknya kapal yang digunakan untuk menyebrang ke pulau yang berada di depan kita, tubuh ini harus senantiasa kita manfaatkan untuk mengembangkan batin dan bukannya menumpuk “sampah” dengan perbuatan buruk! Kebodohan kita akibat tidak menyadari hal ini dikatakan ibarat orang miskin yang menemukan pot emas bertahtakan permata namun dipakai untuk membuang muntah dan digunakan sebagai pispot. Sudah berapa banyaknya detik yang kita habiskan dalam menyia-niyakan potensi menuju Kebuddhaan untuk mengejar materi? Padahal, dengan membuat banyak karma kebajikan, kita sama sekali tidak perlu khawatir jatuh dalam kemiskinan. Dalam hal ini, Biksu Bhadra Ruci menegaskan bahwa bekerja bukanlah sebuah dosa besar. Bekerja merupakan hal yang diperbolehkan, dengan catatan kita tidak terlena di dalamnya. Akan tetapi, kita juga harus menyisihkan waktu untuk praktik Dhamma, misalnya dengan mengingat momen demi momen bahwa pada saat ini, saya tengah menggunakan tubuh manusia yang berharga untuk pengembangan batin. Jangan terus-terusan kita habiskan waktu untuk aktivitas duniawi semata tanpa disertai motivasi bajik, sebab hal ini diibaratkan bagai sekam padi yang ditampi. Tak ada gunanya.</p>
<p>Setiap momen besar yang kita alami diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti terminal dengan setiap terminal yang kita datangi bersifat tidak pasti. Hal ini sangat mirip dengan batin kita yang selalu berkelana dan berubah-ubah. Kita tidak pernah tahu pasti bagaimana batin kita di masa mendatang. Oleh karenanya kita perlu menjinakkan dan menyebabkan sebab-sebab baik karena hidup yang kita peroleh selama ini merupakan perjuangan dan bukan pemberian. Dengan melanjutkan logika tersebut, inilah salah satu alasan mengapa membunuh merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan. Oleh karena hidup bukanlah pemberian, maka kita tak berhak mengambilnya. Kita pun harus memahami bahwa jika kita saja tidak mau menderita, maka setiap makhluk apapun baik besar, kecil, tampak maupun tak tampak memiliki aspirasi yang sama untuk mendapatkan kebahagiaan. Sayangnya zaman ini, kita sering menemukan orang-orang yang merasa tertekan hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Hal ini tidak mengherankan karena di zaman milenial ini, kita sangat dihimpit oleh tuntutan dan keinginan untuk mencapainya dengan instan. Kita juga sering kali lupa bahwa setiap momen, diri kita selalu berubah dan diri kita yang saat ini merupakan kumpulan sebab tak terhingga yang telah kita kumpulkan sejak dahulu. Biksu Bhadra Ruci mencontohkan konsep ini dengan kisah anak kota dan anak kampung. Anak kota yang terbiasa dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan bagi dia dan dimanjakan sehari-hari, akan kesulitan menghadapi tekanan dan realita kehidupan. Ia akan lebih mudah kehilangan harapan yang mungkin saja berujung pada bunuh diri. Beda halnya dengan anak kampung yang terbiasa menerima realita kehidupan dan tidak mendapatkan kenikmatan terus menerus. Kedua anak ini bisa sangat berbeda akibat sebab-sebab yang telah dihimpun sejak kecil.</p>
<p>Oleh karena dasar itulah, kita butuh berlindung. Kita membutuhkan perlindungan Triratna untuk terus membuka wawasan dan mengubah cara pandang kita menuju adanya harapan untuk bisa mendapat kebahagiaan sejati. Dalam sesi hari ini, Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa Buddha adalah obyek yang layak bagi kita untuk berlindung sebab Buddha sendiri sudah bebas dari samsara. Beliau juga mahir membebaskan makhluk yang berada dalam ketakutan layaknya kita yang takut akan kematian dan ketidakpastian. Buddha secara adil dan penuh cinta kasih bertindak untuk kepentingan semua makhluk dan menolong mereka tanpa memandang apakah ia menguntungkan atau merugikan Sang Buddha.</p>
<p>Tidak ada makhluk yang dikutuk, karena pembeda antara aku dan penjahat hanyalah persoalan intensitas dan keberanian.</p>
<p>Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk bahwa Buddha menolong siapapun tanpa menghakimi. Apalah bedanya antara kita dan pembunuh? Jika kita katikan dengan pembelajaran-pembelajaran sebelumnya, kita sama-sama memiliki karma dan klesha. Pembunuh memiliki rasa benci, begitupun kita. Pembunuh memiliki rasa tamak, dan begitu pula halnya dengan kita. Hanyalah kadar dan tingkat keberanian kita yang membedakan. Bisa dikatakan, kita bahkan memiliki posisi yang sama dengan dirinya sebab baik kita maupun pembunuh bisa mencapai potensi yang sama untuk menjadi seorang Buddha. Buddha menerima siapapun untuk menjadi muridnya, bahkan pembunuh sekalipun seperti Angulimala.</p>
<p>Akhir-akhir ini kita banyak mendengar isu tentang orang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), bagaimana mereka dituding melakukan dosa besar melawan kodrat alam dan menyebabkan seluruh bangsa akan tertimpa azab. Buddha tidak pernah mengatakan bahwa Beliau tidak menerima kaum LGBT untuk menjadi umat dan berpraktik Dharma. Lebih lanjut, Biksu Bhadra Ruci menambahkan bahwa LGBT dari sudut pandang Buddhisme ibarat seseorang yang menyukai bakso dan temannya yang menyukai soto.</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>Hanya karena temannya menyukai soto, apakah menyukai bakso kemudian menjadi hal yang salah?</p></blockquote>
<p>Tentunya tidak. Ketika orang-orang dengan orientasi heteroseksual dan homoseksual mempelajari Lamrim, keduanya sama-sama memiliki potensi yang sama untuk mencapai realisasi spiritual. Lantas siapa kita untuk menghakimi bahwa LGBT dan pembunuh lebih buruk daripada kita?</p>
<p>Kita telah disediakan jalan dan tahapan untuk mencapai kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan, kita pun harus senantiasa ingat untuk tidak memboroskan karma baik yang telah kita peroleh. Makanan, air, tempat tinggal yang nyaman, listrik, dan masih banyak hal lainnya yang kita nikmati saat ini. Kesemuanya adalah buah karma baik yang sering kali kita boroskan sehingga ketika tiba waktunya, karma baik kita tidak lagi cukup untuk membuat kita terlahir sebagai manusia, lebih-lebih mencapai kebahagiaan sejati. Pada akhirnya, Buddhisme adalah tentang memilih. Apakah kita ingin bahagia dengan memupuk karma kebajikan atau sebaliknya? Selebihnya hanyalah mengenai bagaimana kita ingin menjalankan dan memaknai kehidupan kita sebagai manusia yang berharga.</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Dec 2017 07:16:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bakti]]></category>
		<category><![CDATA[berkah]]></category>
		<category><![CDATA[blessing]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3864</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebelum berharap berkah dari Buddha, sadarkah bahwa dalam menjalani keseharian, kita sering kali membuang-buang waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Padahal, kita sangat merindu-rindukan berkah untuk hadir dalam diri kita? Apakah mungkin bermalas-malasan akan memberikan berkah bagi kita? Hari keenam Indonesia Lamrim Retreat 2017 dibuka oleh Biksu Bhadra Ruci dengan mengajak para peserta untuk [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum berharap berkah dari Buddha, sadarkah bahwa dalam menjalani keseharian, kita sering kali membuang-buang waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Padahal, kita sangat merindu-rindukan berkah untuk hadir dalam diri kita? Apakah mungkin bermalas-malasan akan memberikan berkah bagi kita?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hari keenam Indonesia Lamrim Retreat 2017 dibuka oleh Biksu Bhadra Ruci dengan mengajak para peserta untuk merenungkan mengenai bagaimana kita sering menyia-nyiakan kelahiran sebagai manusia yang berharga. Lebih lanjut, hal ini diibaratkan oleh Arya Nagarjuna bagaikan timbunan permata yang disia-siakan dan pada akhirnya tidak bermanfaat. Tubuh kita ibarat permata yang kita sia-siakan dengan tidak menyadari kebebasan dan keberuntungan yang kita miliki. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seberapa sering kita menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan dengan melakukan hal yang tak berguna, menunda-nunda pekerjaan, dan berdalih bahwa kita tidak sanggup melakukan suatu hal sebelum benar-benar mencobanya? Hal ini bisa terjadi karena kita masih kurang melihat kualitas diri. Kita tidak bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk dalam diri. Kita bahkan tidak mengenali hal-hal apa yang menarik bagi kita. Yang lebih parahnya, batin kita seringkali tidak mampu berkompromi dan masih bersikap seperti anak-anak. Padahal, jasmani kita terus menua sementara kematangan batin tidak mengenal ukuran waktu. Tubuh kita akan mati dengan membawa batin yang tidak matang. Lama-kelamaan, hal-hal tersebut bisa beracun dan menjadi “penyakit” bagi batin. Oleh karena itulah, kita perlu menyadari kualitas diri yang bisa kita capai dengan mencari obat yang tepat untuk menyembuhkan “penyakit” tersebut. Obat tersebut yakni dengan merenungkan Lamrim dengan mengajak diri sendiri bicara pada setiap aktivitas.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Before you do, ask.</span></i></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Untuk merasakan perubahan yang tepat, tanyakanlah dirimu setiap saat. Apa yang kulakukan? </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk apa aku melakukan hal tersebut? Berapa lama hal tersebut akan memakan waktu kita? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu diarahkan ke dalam batin kita untuk menumbuhkan rasa bahwa kita butuh untuk berubah dan belajar. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa dalam proses belajar, kita membutuhkan seorang sosok guru yang mampu menuntun kita. Sama halnya dengan guru di sekolah yang mengajarkan kita untuk membaca huruf-huruf dan aksara hingga kita bisa membaca artikel ini pada saat ini, guru spiritual adalah seseorang yang mampu menuntun kita menuju berkembangnya batin. Mengapa bukan Buddha? Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa timbunan karma buruk yang kita miliki sehingga kita tak bisa melihat sosok Buddha. Lantas, bagaimana mungkin Buddha bisa secara langsung mendorong kita mencapai realisasi? Dalam hal ini, guru spiritual merupakan jembatan antara diri kita dengan Buddha. Hanyalah karena kebaikan guru spiritual kepada kitalah, saat ini kita mampu bertemu dengan ajaran Dharma. Sebab siapa lagi orang yang mau, rela, dan berkapasitas untuk membimbing diri kita yang bebal ini selain guru spiritual?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena kebaikan luar biasa tersebut, maka kita perlu mengembangkan rasa hormat kita layaknya kita menghormati guru yang telah berjasa menghindarkan kita dari buta huruf. Pengembangan rasa hormat itu tak lain dengan mengingat kebaikan-kebaikan guru spiritual. Pertama, ingatlah bahwa </span><b>guru spiritual kita lebih baik dibandingkan seluruh Buddha</b><span style="font-weight: 400;"> yang pernah ada. Guru dikatakan melebihi Buddha sebab meskipun Buddha telah menyelamatkan banyak sekali makhluk, Buddha tidak bisa menyelamatkan diri kita. Faktanya, saat ini kita masih terjebak dalam samsara. Untuk lebih memahami hal ini, Geshe Potowa memberikan sebuah perumpamaan. Guru merupakan seseorang yang memberikan kita makanan ketika kita merasakan lapar yang amat sangat. Sementara Buddha adalah sosok yang memberikan kita makanan ketika kita berada dalam kondisi yang makmur. Jika kita merenungkan hal ini, kita akan menyadari bahwa guru lebih berharga dibandingkan dengan Buddha dalam hal pertolongan. Kedua, </span><b>ingatlah kebaikan guru spiritual dalam mengajar Dharma</b><span style="font-weight: 400;">. Di zaman di mana Dharma begitu langka untuk dijumpai dan bertemu dengan Buddha dan Bodhisatwa secara langsung merupakan hal yang sulit, hanya guru spiritual kitalah yang mau menunjukkan Dharma, memberitahu kita tentang realisasi, pencapaian, dan menuntun kita secara spiritual. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Poin ketiga yang membantu kita mengembangkan rasa hormat terhadap guru adalah karena </span><b>kebaikan gurulah yang memberkahi batin kita</b><span style="font-weight: 400;">. Begitu banyaknya</span><i><span style="font-weight: 400;"> klesha</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan karma buruk yang telah kita perbuat menyebabkan kita semakin jauh dari Dharma sehingga meskipun berkalpa-kalpa tahun telah berlalu dan para Buddha sudah lahir, kita tidak bisa mencapai realisasi. Namun, karena adanya berkah yang kita terima ketika kita melakukan praktik-praktik seperti memohon kepada guru-guru kita, realisasi spiritual dapat dibangkitkan dalam batin kita. Bayangkanlah ketika ada seseorang yang menyelamatkan narapidana dari penjara, kemudian memberikan orang tersebut kemakmuran. Betapa luar biasa baiknya sang penyelamat! Bukankah hal ini mirip, bahkan tidak sebanding dengan guru kita yang tiada lelah membimbing kita untuk keluar dari alam rendah, membersihkan kita dari perbuatan buruk, dan memberi kemakmuran bagi kita serta mengajarkan kita kebenaran sejati? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal terakhir yang perlu kita ingat dan renungkan adalah kebaikan </span><b>guru menggunakan materi-materi untuk mendekatkan murid-murid kepadanya</b><span style="font-weight: 400;">. Selama ini kita mungkin berpikir bahwa hanya karena upaya kita sendirilah, kita bisa memperoleh berbagai bentuk kesenangan, kebahagiaan, dan ketenaran yang mungkin saat ini kita nikmati. Akan tetapi, ingatlah poin sebelumnya bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">klesha</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau kotoran batin kita begitu kuat dan karma buruk yang kita miliki tak terhingga banyaknya. Seluruh kualitas baik yang saat ini kita miliki tak terlepas dari kebaikan hati guru spiritual. Guru spiritual bisa hadir dan menjelma dalam berbagai bentuk. Untuk lebih memahami hal ini, bayangkanlah bahwa Buddha layaknya bulan yang bersinar di langit dengan banyak sekali tempayan berisi air jernih di dalamnya. Air jernih tersebut memantulkan bayangan bulan yang berada di langit. Hal ini memberikan kita perumpamaan bahwa meskipun hanya ada satu Buddha yang selama ini kita ketahui, Buddha termanifestasi dalam beragam bentuk. Dan salah satunya, adalah guru spiritual kita yang saat ini hadir bersama dengan kita dan membabarkan ajaran agung untuk mendorong perubahan dalam batin kita. Tanpa intervensi guru spiritual, akan sangat sulit bagi kita untuk belajar Dharma. Segala kesuksesan, kebaikan apapun yang kita alami sangat bergantung pada sebab yang mengeluarkan hasil yang baik pula, dengan sebab utama untuk memperoleh hal tersebut adalah bertumpu pada guru spiritual dengan benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, belajarlah untuk dirimu sendiri demi masa mendatang yang lebih baik. Semakin banyak pencapaian kualitas spiritual yang kita peroleh, di situlah perubahan batin akan kita rasakan. Teruslah berupaya dalam pengembangan batin dan dengan bertumpu pada guru spiritual. </span><b>Bangkitkan keyakinan dan rasa bakti terhadap guru, berbaktilah dengan memberikan persembahan materi, sikap hormat, dan yang paling penting, mempraktikkan instruksi yang diberikan</b><span style="font-weight: 400;">. Sebab hanya dengan hal itulah, kita bisa mendapatkan berkah yang selalu kita nantikan&#8211;bukan berupa materi, harta, ketenaran, maupun segala kenikmatan fisik yang tidak dapat kita bawa pada kehidupan berikut, melainkan sesuatu dalam diri yang meningkat dan berubah lebih baik hari lepas hari.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-3867" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818.jpg" alt="" width="1968" height="1108" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818.jpg 1968w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-768x432.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-1536x865.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1968px) 100vw, 1968px" /><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-3870" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875.jpg" alt="" width="1968" height="1312" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875.jpg 1968w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1968px) 100vw, 1968px" /></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Dec 2017 01:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3854</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!” [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan ini menjadi </span><i><span style="font-weight: 400;">headline</span></i><span style="font-weight: 400;"> di hari kelima Indonesia Lamrim Retreat 2017. Biksu Bhadra Ruci melanjutkan pembahasan poin pertama dari bab 4 Lamrim, yaitu bertumpu kepada guru spiritual, akar dari Sang Jalan. Banyak guru-guru besar yang mencapai pencerahan berkat keyakinan dan bakti mereka kepada guru spiritual mereka. Untuk bisa sampai ke sana, kita harus tahu manfaat-manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak memiliki guru spiritual, serta kerugian tidak bertumpu kepada guru dengan benar. Poin-poin tersebut berfungsi untuk menguatkan motivasi kita untuk bertumpu kepada guru spiritual. Setelahnya, barulah kita masuk ke cara berbakti pada guru spiritual melalui pikiran. Poin ini terdiri atas dua bagian: membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual dan membangkitkan rasa hormat dengan mengingat kebaikan guru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual adalah meyakini bahwa guru kita adalah Buddha.<strong> Kenapa perlu memandang guru sebagai Buddha?</strong> Itu karena kita ingin untung, tidak mau rugi. <strong>Dengan memandang guru sebagai Buddha yang sesungguhnya, kita akan mendapatkan berkah seorang Buddha pula.</strong> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, <strong>apa mungkin kita melihat guru kita sebagai Buddha?</strong> Untuk itu, kita harus bisa <strong>fokus pada kualitas-kualitas baik guru kita.</strong> Jika kita melihat beliau memiliki kekurangan, kita harus berpikir lagi, apakah benar guru kita memiliki kekurangan tersebut atau kita melihat kekurangan itu karena batasan persepsi kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Dalam berbagai sutra, disebutkan bahwa Buddha akan hadir dalam wujud guru spiritual di zaman kemerosotan. Guru spiritual mewakili para Buddha melakukan aktivitas Buddha, yaitu mengajarkan Dharma kepada kita.</strong> Kita sendiri tidak memiliki cukup karma bajik untuk bisa melihat sosok Buddha yang bercahaya dengan 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan. Karena itu, Buddha hadir dalam wujud manusia yang setara dengan kita sehingga kita dapat menerima ajaran darinya. Meskipun wujudnya manusia, tidak mungkin pula guru spiritual kita merupakan manusia biasa. Mana mungkin Buddha mengandalkan manusia biasa untuk menjalankan aktivitas Beliau?</span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Buddha tidak bisa mencuci dosa kita dengan air, Buddha juga tidak bisa mengambil penderitaan kita, apalagi memindahkan pemahaman beliau ke otak kita. Cara Buddha menolong semua makhluk adalah dengan mengajarkan Dharma. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Buddha selama berkalpa-kalpa berjuang untuk mencapai pencerahan sempurna demi menolong semua makhluk. Apa mungkin Beliau hanya mengajar selama 45 tahun sampai parinirwana, lalu meninggalkan kita semua yang sekarang masih ada di samsara? Tentu tidak begitu. Para Buddha dan Bodhisatwa pasti masih terus bekerja untuk kepentingan semua makhluk. Tapi sekarang kita tidak bisa bertemu Buddha Sakyamuni, lantas bagaimana Beliau bisa mengajarkan Dharma? Jawabannya jelas, Beliau mengajar dalam wujud guru spiritual kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak bisa benar-benar melihat guru spiritual sebagai Buddha karena <strong>persepsi kita tidak bisa diandalkan</strong>. Seperti yang telah dijelaskan di hari-hari sebelumnya, kita melihat sesuatu tergantung karma yang kita miliki. Jika kita merasa pacar kita menyebalkan, berarti kita memiliki karma bertemu pacar yang menyebalkan. Jika kita pindah ke planet lain dan pacaran dengan alien, selama kita masih memiliki karma tersebut, kita tetap akan merasa pacar alien kita menyebalkan. Begitu pula dengan persepsi kita terhadap guru spiritual kita. Karma penghalang kita menyebabkan kita melihat guru kita masih memiliki kekurangan. Karena itu, kita makin harus berusaha lebih keras membangkitkan keyakinan terhadap guru dan mempraktikkan Dharma sesuai dengan instruksi beliau untuk mengurangi karma penghalang tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam praktik bertumpu kepada guru spiritual, <strong>seorang murid juga harus memiliki kualitas-kualitas tertentu</strong>. Pertama, seorang murid <strong>tidak boleh berpihak</strong>. Yang dimaksud tidak berpihak adalah tidak keras kepala memegang pandangannya sendiri. Belajar Dharma adalah proses mengubah cara pandang. Jika kita pandangan yang kita miliki saat ini sudah benar, bukankah seharusnya kita sudah mencapai pencerahan? Nyatanya kita belum mencapai pencerahan, karena itulah kita perlu guru yang mengajarkan kita Dharma untuk mengubah cara pandang kita menjadi lebih baik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, seorang murid juga harus <strong>memiliki kecerdasan</strong> agar dapat memahami Dharma. Banyak orang menganggap Buddhadharma adalah agama kolot dan tidak intelek. Namun, jika memang demikian, mana mungkin Buddhadharma bisa bertahan selama 2500 tahun? Guru-guru besar Buddhis juga diakui sebagai filsuf hebat, bahkan mendahului filsuf barat seperti Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Bahkan HH Dalai Lama XIV diakui sebagai tokoh dunia yang diundang untuk berdiskusi di level yang sama dengan ilmuwan-ilmuwan besar. Buddhadharma adalah ajaran yang menggabungkan pemahaman logis dan rasa dari hati. Jika kita tidak cukup cerdas, pasti sulit untuk memahami Dharma, apalagi mempraktikkannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga, seorang murid harus<strong> ulet, memiliki rasa hormat yang besar terhadap guru</strong>, dan mau <strong>mendengarkan instruksi guru dengan penuh perhatian</strong>. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa penyebab utama kita gagal membangkitkan keyakinan kepada guru dan Triratna dan gagal mempraktikkan Dharma adalah kemalasan. Kemalasan ini ada tiga jenis: sikap menunda-nunda, beralasan tidak sanggup, atau lebih tertarik pada distraksi yang tak bermanfaat. Jika direnungkan, kita pasti memiliki setidaknya satu dari tiga jenis kemalasan tersebut, atau malah tiga-tiganya. Selama kita tidak berjuang melawan kemalasan tersebut, praktik Dharma kita tidak akan berhasil. Kita tidak akan bisa mengubah batin kita menjadi lebih baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan pada guru spiritual merupakan dasar utama ketika kita ingin mengembangkan batin kita berdasarkan metode Lamrim dan keyakinan memang tidak dapat langsung muncul. Hal tersebut merupakan suatu kualitas yang harus kita latih setahap demi setahap. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi apakah kita sudah membuat upaya untuk menumbuhkan keyakinan tersebut?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<figure id="attachment_3859" aria-describedby="caption-attachment-3859" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3859 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg" alt="" width="702" height="394" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-scaled-600x337.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-768x431.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1536x863.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-2048x1150.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1200x674.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3859" class="wp-caption-text">Cara kita menyusun persembahan di altar merupakan contoh bukti keyakinan terhadap Triratna.</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3857" aria-describedby="caption-attachment-3857" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3857 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3857" class="wp-caption-text">Mempersembahkan pelita untuk umur panjang guru spiritual, salah satu cara berbakti keapda guru.</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Dec 2017 01:04:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[6 praktik pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[milarepa]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[swarnadwipa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3841</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?” Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?”</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, Dharma sebagai obat penyakit, dan guru Dharma sebagai dokter yang mahir yang mengobati kita. Namun, itu saja tidak cukup. Kita juga harus sadar bahwa kita perlu meminum obat Dharma untuk menyembuhkan penyakit kita. Dengan kata lain, kita harus secara langsung menyatukan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana caranya menyatukan praktik Dharma dengan kehidupan sehari-hari? Pertama-tama kita harus banyak belajar dan memahami semua teori-teori Dharma, baik dari pengajaran langsung dari guru ataupun dari buku-buku. Ini adalah proses studi. Berikutnya, ketika kita menghadapi masalah dalam hidup sehari-hari, gunakan teori yang telah kita pelajari untuk menentukan keputusan atau kesimpulan apa yang harus kita ambil untuk mengatasi masalah tersebut. Ini adalah tahap kontemplasi. Terakhir, kita harus membiasakan batin kita dengan kesimpulan tersebut. Inilah yang disebut meditasi. Ketiga tahapan dalam praktik Dharma&#8211;studi, kontemplasi, dan meditasi&#8211;merupakan cara untuk mengubah batin kita agar sesuai dengan Dharma. Jika kita senantiasa sadar dan menjalankan ketiga praktik tersebut, otomatis ego kita akan berkurang dan batin kita akan semakin berkembang.</span></p>
<p><b>Bertumpu Pada Guru Spiritual</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah melewati tiga bab pertama Lamrim, Biksu Bhadra Ruci lanjut menjelaskan bab keempat, yaitu bagaimana murid dibimbing dengan instruksi yang sesungguhnya. Di sini ada dua bagian:</span><b> bertumpu pada guru spiritual akar dari Sang Jalan</b><span style="font-weight: 400;"> dan </span><b>bagaimana setelah bertumpu murid dibimbing untuk mengembangkan batin</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Topik bertumpu pada guru spiritual sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu sesi meditasi dan di antara sesi meditasi. Yang dimaksud sesi meditasi di sini bukanlah duduk diam di depan altar. Sesi meditasi adalah keseluruhan proses studi, kontemplasi, dan meditasi terhadap topik-topik Lamrim yang kita lakukan dalam aktivitas kita sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesi meditasi dibagi ke dalam tiga poin: pendahuluan, praktik utama, dan kesimpulan. Pendahuluan, atau yang juga dikenal dengan istilah </span><b>6 Praktik Pendahuluan</b><span style="font-weight: 400;">, merupakan ritual yang diwariskan oleh Guru Serlingpa Dharmakirti dari Sriwijaya. Keenam praktik ini adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membersihkan ruangan dan menyusun simbol tubuh, ucapan, dan batin Buddha di atas altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membuat dan menata persembahan di altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">duduk dengan nyaman dalam postur meditasi, trisarana, dan membangkitkan bodhicitta,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memvisualisasikan ladang kebajikan,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan Doa Tujuh Bagian,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan permohonan kepada guru-guru silsilah</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ritual merupakan cara kita berkomunikasi dengan para Buddha. Ritual 6 Praktik Pendahuluan ini merupakan cara untuk mengumpulkan energi positif yang kita butuhkan untuk menempa batin kita dari para Buddha dan guru-guru silsilah Lamrim, hingga guru kita sendiri.</span></p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://store.lamrimnesia.com/product/permata-hati/"><i><span style="font-weight: 400;">Temukan penjelasan lengkap 6 Praktik Pendahuluan di buku Permata Hati bagi Mereka yang Beruntung</span></i></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah 6 Praktik Pendahuluan, kita masuk ke </span><b>praktik utama</b><span style="font-weight: 400;">. Bagian ini terdiri atas empat poin, yaitu </span><b>manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak bertumpu kepada guru spiritual atau melakukannya dengan tidak benar, cara berbakti kepada guru melalui pikiran, dan cara berbakti kepada guru melalui tindakan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual itu seperti seorang</span> <span style="font-weight: 400;">konsultan bisnis serba bisa. Agar bisnis kita lancar dan untung besar, kita butuh masukan dari macam-macam konsultan: mulai dari konsultan bisnis, konsultan </span><i><span style="font-weight: 400;">marketing, </span></i><span style="font-weight: 400;">konsultan pajak, dan lain-lain. Guru adalah satu orang dengan semua kemampuan tersebut yang memberi kita petunjuk untuk menjalankan hidup kita agar kita mendapatkan manfaat maksimum. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual mengajak kita melihat bahwa kehidupan kita tidak berlangsung saat ini saja, tapi kita masih akan lahir dan mati berkali-kali setelahnya. Maka dari itu, beliau mengarahkan kita untuk melakukan investasi jangka panjang, yaitu menggunakan kelahiran kita sebagai manusia sekarang untuk menanamkan sebab-sebab kebahagiaan dari masa mendatang, baik itu kebahagiaan dalam bentuk kelahiran di alam tinggi, pembebasan dari samsara, hingga pencapaian Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna. Guru spiritual membimbing kita untuk melatih batin hingga bisa mencapai ketiga tujuan yang sesuai dengan tiga jenis praktisi tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertumpu pada guru spiritual sendiri merupakan investasi dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">high cost, high risk, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> high gain. </span></i><span style="font-weight: 400;">Kita harus mengorbankan banyak hal untuk bisa bertumpu kepada seorang guru spiritual dengan benar. Jika berhasil, manfaatnya amatlah besar. Sebaliknya, jika kita gagal atau membuat kesalahan, maka kerugiannya juga amatlah besar. Untuk mencegah kesalahan dalam bertumpu pada guru spiritual, amatlah penting bagi kita untuk membangkitkan keyakinan terhadap guru spiritual yang merupakan perwujudan dari Triratna dan semua Buddha serta menyempurnakan sikap mendengarkan Dharma yang telah dijelaskan di bab sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh praktik bertumpu pada guru spiritual yang amat terkenal adalah kisa Milarepa, meditator agung yang mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan. Beliau awalnya adalah seorang penjahat yang menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan satu desa. Namun, ia bertemu dengan Guru Marpa yang menggemblengnya habis-habisan. Selama belasan tahun Milarepa tanpa lelah melayani Marpa dengan susah-payah&#8211;mulai dari membajak sawah, harus tidur di kandang hewan, bahkan berulang kali membangun dan merobohkan benteng seorang diri dengan tangan kosong. Milarepa tidak pernah mengeluh dan menjalankan tugas dari gurunya dengan rela, hingga akhirnya ia ditugaskan untuk bermeditasi seorang diri di sebuah gua. Milarepa bermeditasi dengan memandang gurunya sebagai Buddha yang sesugguhnya dan akhirnya berhasil mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa membayar mahal selama bertumpu pada gurunya? Sudah pasti. Nyatanya ia disiksa habis-habisan selama ia berguru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa mencapai hasil yang amat besar dari investasinya? Ini tak perlu diragukan lagi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kisah Milarepa membuktikan bahwa bertumpu pada guru spiritual benar-benar merupakan investasi </span><i><span style="font-weight: 400;">high risk high gain.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Tak perlu diragukan lagi, bertumpu pada guru spiritual adalah tahapan yang amat penting. Namun, Biksu Bhadra Ruci juga mengingatkan kita agar bisa realistis, tidak terlalu idealis dan tidak terlalu naif dalam mencari guru spiritual. Jangan sampai kita terjebak dalam bayangan hubungan guru-murid yang dramatis seperti dalam riwayat guru-guru besar. Kita harus siap dengan kenyataan bahwa guru spiritual tidak akan hanya menyenangkan kita. Sebaliknya, beliau akan memaksa kita berhadapan dengan hal-hal yang sulit kita terima dan melakukan hal-hal sulit yang tidak kita sukai agar batin kita bisa berkembang dan mencapai realisasi Dharma sejati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, siapkah kita untuk berinvestasi pada praktik bertumpu pada guru spiritual?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<figure id="attachment_3844" aria-describedby="caption-attachment-3844" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3844 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3844" class="wp-caption-text">Indonesia Lamrim Retreat 2017 di Gedung Prasadha Jinarakkhita dihadiri lebih dari 300 peserta</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3845" aria-describedby="caption-attachment-3845" style="width: 684px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3845 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg" alt="" width="684" height="1024" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg 684w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled-600x899.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-768x1150.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1025x1536.jpg 1025w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1367x2048.jpg 1367w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-450x674.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1200x1798.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled.jpg 1709w" sizes="(max-width: 684px) 100vw, 684px" /><figcaption id="caption-attachment-3845" class="wp-caption-text">Mengundang ladang kebajikan, bagian dari 6 Praktik Pendahuluan warisan Guru Serlingpa Dharmakirti</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3851" aria-describedby="caption-attachment-3851" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3851 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3851" class="wp-caption-text">Proses pembelajaran Lamrim berbasis pada pembelajaran Dharma, dilanjutkan dengan perenungan dan meditasi sehingga batin kita selaras dengan hasil pembelajaran kita</figcaption></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2017 00:30:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[cara mendengarkan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3829</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam dua hari pertama Indonesia Lamrim Retreat 2017, Biksu Bhadra Ruci berkali-kali menganalogikan Dharma sebagai obat bagi batin kita. Masih berkaitan dengan pembahasan bab ketiga Lamrim tentang cara mendengarkan Dharma, beliau juga menyebutkan bermacam-macam ‘penyakit’ kita yang bisa diobati dengan mendengarkan Dharma. Sakit Kurang Motivasi Kita memiliki kelahiran sebagai manusia yang bebas dan beruntung. Kita [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam dua hari pertama Indonesia Lamrim Retreat 2017, Biksu Bhadra Ruci berkali-kali menganalogikan Dharma sebagai obat bagi batin kita. Masih berkaitan dengan pembahasan bab ketiga Lamrim tentang cara mendengarkan Dharma, beliau juga menyebutkan bermacam-macam ‘penyakit’ kita yang bisa diobati dengan mendengarkan Dharma.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Kurang Motivasi</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita memiliki kelahiran sebagai manusia yang bebas dan beruntung. Kita bisa bertemu Buddhadharma dan mempelajarinya dengan leluasa. Sayangnya, kita menganggap keberuntungan tak ternilai ini biasa-biasa saja, malah menyia-nyiakannya. Kita tidak sadar kalau kita bisa mati kapan saja, tersiksa di alam rendah selama berkalpa-kalpa, eh saat akhirnya bisa jadi manusia lagi, malah lahir di zaman purba yang tak ada Dharma. Kita tidak sadar betapa </span><i><span style="font-weight: 400;">urgent-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya kita mempelajari Dharma sekarang mumpung memiliki modal yang amat langka. Akibatnya, kita tidak punya motivasi yang kuat untuk belajar Dharma. Kita jadi kurang menghargai kesempatan belajar Dharma dan cenderung bersikap dengan tidak tepat. Kelahiran kita yang amat berharga pun terancam sia-sia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk mengatasi penyakit ini, kita harus kembali merenungkan apa yang kita punya: kelahiran manusia yang bebas dan beruntung. Berapa banyak sih orang yang bisa seperti kita, punya waktu dan kesempatan sembilan hari </span><i><span style="font-weight: 400;">full</span></i><span style="font-weight: 400;"> mendengarkan Dharma? Masa kita sia-siakan? Belum lagi umur kita selalu berkurang. Kematian bisa datang kapan saja. Jika kita tidak mempersiapkan diri memperbaiki batin kita dengan mendengarkan Dharma dari sekarang, apa jadinya kita di kehidupan mendatang? </span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Kurang Keyakinan</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Kurangnya keyakinan kita terhadap Triratna menyebabkan kita tidak mendengarkan Dharma dengan sikap yang benar. Dari keyakinan muncul rasa hormat dan sayang. Jika kita yakin Buddha, Dharma, dan Sangha bisa menolong kita, kita tentunya akan bersikap penuh hormat kepada mereka. Kita akan sangat menghargai setiap sesi pengajaran Dharma yang bisa kita hadiri dan bersikap sepantasnya serta mempraktikkannya.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Kurang Konsentrasi</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Di penjelasan tentang cara sesungguhnya mendengarkan Dharma dalam teks Lamrim, kita diingatkan untuk menghindari sikap yang salah ibarat tiga jenis cacat pada wadah. Cacat jenis pertama adalah wadah terbalik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita tidak benar-benar konsentrasi saat sesi pengajaran Dharma, apapun yang diajarkan tidak akan masuk ke batin kita. Saat pikiran kita melayang memikirkan macam-macam, Dharma yang diajarkan guru hanya terdengar sayup-sayup. Batin kita ibarat wadah terbalik, tak peduli apapun Dharma yang dituangkan, sedikit pun tak ada yang tertampung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Solusinya sudah dibahas di hari sebelumnya. Kita harus duduk diam, mendengarkan Dharma dengan seksama dan penuh hormat. Bagaimanapun juga, yang kita dengarkan adalah ajaran yang bisa menyelamatkan kita dari penderitaan. Bukankah sudah sepantasnya kita mengeluarkan usaha ekstra untuk menghormati dan meresapinya?</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Angkuh</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini berhubungan dengan jenis cacat wadah kedua, yaitu wadah yang kotor. Kadang kita dengan sombongnya datang ke sesi pengajaran Dharma hanya untuk ‘mengetes’ atau mencari-cari kesalahan orang yang memberikan pengajaran Dharma. Kita datang dengan memegang kuat pandangan bahwa kita sendiri sebenarnya sudah cukup berilmu, lalu menolak semua ajaran yang tidak kita sukai. Karena kita datang dengan batin penuh kotoran keangkuhan, Dharma yang dituangkan ke batin kita tercemar dan menjadi racun bagi kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk mencegah ini terjadi, kita harus introspeksi diri. Jika memang kita sudah berpengetahuan banyak dan tak butuh Dharma, tentunya kita sudah pencerahan. Tapi buktinya kita masih di samsara. Kita masih butuh belajar. Belajar itu sendiri tak ada yang menyenangkan. Ibarat batu giok yang tak diasah, tak mungkin bisa jadi perhiasan. Dalam belajar Dharma, kita akan dihadapkan dengan banyak kesulitan dan mendengar banyak hal yang tidak menyenangkan, barulah kita bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Lupa</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Jenis cacat wadah ketiga yang harus dihindari adalah wadah yang bocor. Ini adalah kondisi ketika kita tidak bisa mempertahankan ajaran yang kita dengar, masuk kuping kiri lalu keluar kuping kanan. Dharma yang kita dengar pun tak bisa memberi manfaat bagi diri kita.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Tak Bisa Puas</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelanjutan dari menghindari tiga jenis cacat sebuah wadah, cara mendengarkan Dharma yang sesungguhnya adalah mengamati sikap yang bermanfaat dari enam pemikiran. Dengan kata lain, ada enam macam pemikiran yang yang harus kita kembangkan agar bisa mendengarkan Dharma dengan efektif. Dari enam pemikiran tersebut, yang pertama adalah menyadari bahwa diri kita adalah pasien yang sakit. Masalahnya, kita sendiri tidak sadar kita sakit apa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu penyakit terbesar kita di samsara adalah tak bisa puas. Kita terus mengejar karir, harta, ambisi, dan sebagainya. Ketika sudah mendapatkannya, kita masih ingin lagi dan lagi. Kita berjuang seperti itu karena mengira kebahagiaan berada di luar diri kita sehingga harus kita kejar. Padahal, objek di luar diri kita bukan kebahagiaan. Kitalah yang mengomentari objek tersebut sebagai ‘menyenangkan’, ‘tidak menyenangkan’, atau netral. ‘Komentar’ ini pun beda antara orang yang satu dengan lainnya. Jika benar kebahagiaan tersebut terletak pada objek di luar, bukankah harusnya semua orang harusnya merasakan kebahagiaan yang sama? Misalnya jika kita senang melihat mawar berwarna putih dan sebab kebahagiaan adalah mawar putih tersebut, berarti semua orang yang melihat mawar putih juga akan merasa bahagia. Dunia ini akan dipenuhi mawar putih karena bisa membuat semua orang bahagia. Namun, kenyataannya tidak demikian. </span><span style="font-size: 14px;">Di dunia ada berbagai jenis barang yang semuanya dibuat untuk membahagiakan kita dan jenisnya ada banyak. Artinya semua orang berusaha mencari kebahagiaannya sendiri-sendiri dengan membuat barang pemuas sesuai dengan selera masing-masing. Karena kepuasan orang berbeda-beda, dapat disimpulkan bahwa</span><span style="font-size: 14px;"> bahagia atau tidak adalah tergantung pada diri setiap orang, bukan tergantung objek di luar diri kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kenyataannya, kebahagiaan berasal dari dalam diri kita. Jika kita memiliki batin yang matang, kita bisa melihat semua fenomena apa adanya. Kita pun bisa legowo, puas, lapang dada menerima realita. Ketika kita sudah bisa menerima realita, kita tidak lagi menderita. Kita pun bisa bahagia. Sayangnya amatlah sulit mencapai kematangan batin seperti itu. Kita sendiri tidak sadar bahwa kita menderita sakit dari kegagalan kita untuk merasa puas. Jika kita tidak sadar kita sakit, mana mungkin kita mau mencari obat? Jika kita tidak sadar kita menderita, mana mungkin kita bisa mendengarkan Dharma dengan benar?</span></p>
<p>&#8212;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ternyata ada banyak sekali penyakit yang kita derita, tapi obatnya sudah di depan mata. Sisanya tergantung dari kita sendiri, maukah kita mendengarkan Dharma dengan sikap yang benar agar bisa ‘menyembuhkan’ sakit batin kita?</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<figure id="attachment_3831" aria-describedby="caption-attachment-3831" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3831 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3831" class="wp-caption-text">Persembahan mandala untuk memohon pengajaran Dharma</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3834" aria-describedby="caption-attachment-3834" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3834 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1024x682.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3834" class="wp-caption-text">Berdiri saat guru memasukin ruangan, salah satu bentuk sikap hormat terhadap Dharma dan guru Dharma</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3832" aria-describedby="caption-attachment-3832" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3832 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3832" class="wp-caption-text">Happy bertemu obat Dharma di ILR 2017</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2017 00:35:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[cara mendengarkan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3820</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dharma adalah obat bagi batin. Namun, jika tidak ‘dikonsumsi’ dengan benar, obat pun bisa berubah jadi racun. Peringatan ini mengawali hari kedua Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci, tanggal 24 Desember 2017. Dharma adalah ajaran untuk mengubah batin kita agar menjadi orang yang lebih baik. Jangan sampai kita mendengarkan Dharma bukannya untuk memperbaiki [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-size: 14px; color: #606569;">Dharma adalah obat bagi batin. Namun, jika tidak ‘dikonsumsi’ dengan benar, obat pun bisa berubah jadi racun.</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Peringatan ini mengawali hari kedua Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci, tanggal 24 Desember 2017. Dharma adalah ajaran untuk mengubah batin kita agar menjadi orang yang lebih baik. Jangan sampai kita mendengarkan Dharma bukannya untuk memperbaiki diri, tapi malah sekedar untuk bahan ceramah atau mengritik orang lain. Selama berada di samsara, kita tak punya pilihan mau terlahir seperti apa karena karma dan klesha yang dihimpun sejak kehidupan lampau. Jasmani kita rapuh, sedikit saja ketidaknyamanan membuat kita terganggu. Parahnya lagi, pikiran buruk seringkali muncul di batin, awalnya seukuran ulat, lama-lama sebesar ular, hingga tumbuh menjadi naga dan menelan kita. Satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan mendengarkan Dharma dan mengarahkannya kepada diri kita sendiri. Ceret hati kita harus terisi penuh dengan Dharma yang direnungkan, dan dipraktikkan. Barulah kemudian kita bisa membagikannya dengan orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah mengingatkan kita untuk membangkitkan motivasi yang benar dalam mendengarkan Dharma, Biksu Bhadra Ruci mulai melanjutkan penjelasan Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa, khususnya yang termasuk bab kedua dalam kurikulum Lamrim, yaitu <strong>keagungan ajaran yang disajikan untuk membangkitkan rasa hormat terhadap instruksi</strong>. Setelah memastikan bahwa kita belajar sumber Dharma yang benar, kita juga harus yakin terhadap keunggulan Dharma itu sendiri, khususnya Lamrim yang mencakup keseluruhan Dharma dengan susunan yang runut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Keagungan pertama, semua ajaran Buddha bebas dari pertentangan</strong>. Kadang kita melihat aliran tertentu menganggap aliran lain sesat atau inferior, padahal jika kita mampu melihat keseluruhan struktur ajaran Buddha, kita akan paham bahwa semua aliran tersebut memiliki letak dan fungsi masing-masing dalam keseluruhan tahapan praktik menuju pencapaian Kebuddhaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Keagungan kedua, semua kitab dikenali sebagai instruksi pribadi</strong>. Jika dipelajari dan dipraktikkan dengan benar, Dharma akan mengubah kita menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Masalahnya, apakah kita sudah menerima keseluruhan Dharma sebagai instruksi untuk kita praktikkan? Seringkali, kita malah pilih-pilih, hanya mau mempraktikkan instruksi yang menyenangkan kita. Jika ada instruksi yang tidak kita sukai, kita akan mati-matian mencari </span><i><span style="font-weight: 400;">second opinion&#8211;</span></i><span style="font-weight: 400;">ke dukun lah, peramal lah, dan sebagainya. Padahal, Buddha mengajarkan Dharma untuk mengubah kita, jadi tidak mungkin isinya hanya menyenangkan kita. Jika semua instruksi yang kita terima menyenangkan hati kita, kita bukanlah praktisi Dharma, melainkan praktisi Mara!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Keagungan ketiga, pemikiran mendasar Sang Buddha dengan mudah dipahami</strong>. Sudah sangat jelas bahwa Dharma berasal dari pemikiran Sang Buddha. Lalu, <strong>keagungan keempat adalah kita bisa bebas dari kesalahan besar menolak Dharma.</strong> Ketika kita bisa melihat ajaran Buddha sebagai sebuah tahapan latihan yang urut, kita tidak akan lagi membeda-bedakan ajaran, misalnya mengatakan, “Ini ajaran untuk Pratyeka, bukan untuk Bodhisatwa”. Dengan berkata demikian, kita telah melakukan kesalahan besar menolak Dharma. Namun, jika kita familiar dengan struktur Lamrim, kita akan tahu bahwa semua merupakan ajaran Buddha yang harus dipelajari secara berurutan, tergantung praktisi Dharma seperti apa diri kita ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Praktisi Dharma ada tiga jenis. Yang pertama adalah praktisi yang belajar Dharma untuk kebahagiaan di kehidupan mendatang. Jika kita bodoh di kehidupan ini, maka kita harus berjuang, mengandalkan prinsip hukum karma untuk menciptakan sebab-sebab agar tidak jadi bodoh lagi di kehidupan mendatang. Jika tidak, makin bodohlah kita di kehidupan mendatang. Apakah kita sudah sampai di tahap ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Praktisi jenis kedua adalah praktisi yang telah menolak samsara. Kita ibarat sebuah telur dengan enam lubang indera di cangkangnya yang mencerap fenomena di luar cangkang, lalu batin kita mengomentari fenomena tersebut. Kita berpindah pindah dari senang menjadi tidak senang ataupun netral. Walau berhasil mendapatkan kehidupan mendatang yang lebih baik, kita terus lahir dan mati lagi, dan setiap kali kita mencari kebahagiaan, tapi kita tetap tidak bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Semua hal tidak kekal dan terus berubah karena merupakan kumpulan dari bagian-bagian yang tak berinti. Setiap kebahagiaan yang kita temukan pun akan berubah menjadi penderitaan. Inilah samsara. Ketika menyadari hal ini, akan muncul rasa muak terhadap samsara. Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyadari penderitaan tersebut? Atau jangan-jangan kita masih menganggap ‘nikmat’ samsara lebih banyak daripada penderitaannya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang ketiga adalah praktisi yang menolak samsara sekaligus berusaha menyelamatkan makhluk lain dari samsara tersebut. Kita bisa bebas dari samsara, tapi bagaimana dengan orang tua kita dan makhluk lain? Praktisi di tahap ini pun membangkitkan bodhicitta, tekad untuk menjadi Buddha agar bisa menolong semua makhluk keluar dari samsara. Mungkinkah kita mencapai tahapan ini jika belum sepenuhnya menolak samsara?</span></p>
<figure id="attachment_3358" aria-describedby="caption-attachment-3358" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3358 size-medium" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-300x300.png" alt="" width="300" height="300" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-300x300.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-336x336.png 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-600x600.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-150x150.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-768x768.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-450x450.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n.png 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-3358" class="wp-caption-text"><a href="http://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">Baca penjelasan lengkap tentang tiga jenis praktisi Lamrim di sini.</a></figcaption></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah mengetahui tentang tiga kategori praktisi di atas, kita harus merenung. Sudah sampai manakah kita? Jika kita tidak termasuk dalam ketiganya dan hanya peduli pada kehidupan saat ini saja, maka kita bukanlah praktisi Dharma!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Bab berikutnya dalam Lamrim adalah cara mendengarkan dan mengajarkan Dharma</strong>. Seperti yang telah dijelaskan di awal, Dharma yang tidak didengarkan dengan benar dapat menjadi racun bagi kita, semakin banyak yang didengar, hati kita malah semakin membatu. Oleh karena itu, sangatlah penting mendengarkan Dharma dengan cara yang benar. Pertama, kita harus ingat manfaat dari mendengarkan Dharma, yaitu menghapuskan ketidaktahuan kita dan menggantinya dengan pengetahuan akan kebenaran. Kedua, kita harus bersikap hormat terhadap Dharma dan guru yang mengajarkan Dharma. Poin ini tertanam dalam berbagai tradisi pengajaran Dharma yang kita ikuti sekarang, seperti bernamaskara dan duduk di lantai. </span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Melalui tradisi tersebut, kita ditempatkan di posisi murid yang siap mendengarkan ajaran. Ego kita dikikis sehingga dapat menerima Dharma dan mau mempraktikkannya.</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika mendengarkan Dharma dengan seksama, kita menerima informasi dan mengingatnya. Informasi tersebut tertoreh di arus kesadaran kita. Ketika jasmani kita mati, informasi yang telah tertoreh tersebut akan terbawa ke kehidupan selanjutnya bersama arus kesadaran kita. Ketika kita menerima Dharma, kita juga harus membandingkannya dengan diri kita sendiri. Apakah hidup kita sudah sesuai dengan ajaran tersebut? Jika belum, kita harus bisa jujur dan mengakuinya lalu menarik kesimpulan untuk berubah, jangan malah berkilah dan mengabaikannya. Kemudian, kita harus membiasakan batin kita dengan kesimpulan tersebut dengan memeditasikannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agar dapat mengingat Dharma seperti itu, kita harus bisa duduk diam, mendengar dengan perhatian penuh. Jika kita tidak berusaha mencurahkan seluruh perhatian kita untuk mendengarkan Dharma, ajaran tidak akan menempel di batin kita, melainkan hanya lewat sambil lalu. Jika kita tidak bisa mengingat Dharma yang kita dengar, maka kita tidak punya bahan untuk merenung, apalagi meditasi. Sebanyak apapun kita bermeditasi dan melakukan pengumpulan kebajikan lainnya, batin kita tidak akan berubah jika kita tidak bisa mengingat Dharma dan menggunakannya untuk menganalisis batin kita. Dharma gagal menjadi obat bagi batin kita. Meditasi dan ritual-ritual pun hanya menjadi pelarian untuk mendapatkan ketenangan sesaat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menutup sesi, Biksu Bhadra Ruci mengajak kita mempraktikkan langsung Dharma yang telah kita ‘dengar’ sepanjang sesi. Kita semua diajak untuk merenung sejenak, perhatikan napas, rasakan bagaimana waktu kita terus berkurang. Kita berkesempatan mendengarkan Dharma selama dua hari, sudahkah kita menggunakannya sebagai obat untuk batin kita? Kita juga telah hidup sekian lama dan waktu kita di kehidupan ini terus berkurang. Apakah kita telah memanfaatkan waktu tersebut dengan tepat, atau malah menyia-nyiakannya?</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</span></i><i><span style="font-weight: 400;"><br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<figure id="attachment_3822" aria-describedby="caption-attachment-3822" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3822 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3822" class="wp-caption-text">Menyambut guru Dharma dengan hormat, contoh praktik cara mendengarkan Dharma.</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3823" aria-describedby="caption-attachment-3823" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3823 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1024x682.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3823" class="wp-caption-text">Peserta retret mendengarkan pengajaran Dharma dengan antusias.</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3821" aria-describedby="caption-attachment-3821" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3821 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3821" class="wp-caption-text">Sesi review dan perenungan di malam hari.</figcaption></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2017 00:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3809</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kita ini orang seperti apa? Kita perlu membangkitkan motivasi bajik agar praktik Dharma kita membawa hasil yang baik, kira-kira demikian pesan Biksu Bhadra Ruci saat membuka rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat 2017. Namun, bagaimana caranya kita bisa membangkitkan motivasi tersebut? Motivasi seperti apa yang perlu kita bangkitkan? Jawabannya ada di hari pertama retret, 23 Desember [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Kita ini orang seperti apa?</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita perlu membangkitkan motivasi bajik agar praktik Dharma kita membawa hasil yang baik, kira-kira demikian pesan Biksu Bhadra Ruci saat membuka rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat 2017. Namun, bagaimana caranya kita bisa membangkitkan motivasi tersebut? Motivasi seperti apa yang perlu kita bangkitkan? Jawabannya ada di hari pertama retret, 23 Desember 2017. Motivasi untuk praktik Dharma dapat kita temukan dari sifat dasar ajaran Buddha, yaitu melihat ke diri sendiri. Kita ini orang seperti apa? Apakah kita membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Atau jangan-jangan kehadiran kita menyusahkan orang-orang di sekitar kita? Coba direnung-renungkan, lalu putuskan untuk tidak menyia-nyiakan kelahiran kita sebagai manusia yang amat berharga dengan menjadi orang yang lebih baik dan bermakna dari diri kita sekarang. ‘Lebih baik’ seperti apa tergantung dari hasil perenungan kita. Itulah yang bisa mendorong kita untuk memulai belajar dan mempraktikkan Dharma.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah membangkitkan motivasi, kita bisa mulai mempelajari Lamrim, sebuah metode belajar Buddhadharma yang menarik intisari dari semua ajaran Buddha dalam tahapan-tahapan menuju pencerahan. Lamrim ini juga berasal dari bangsa kita sendiri, dapat ditelusuri hingga ke Guru Swarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Dengan mempelajari Lamrim, kita bukan lagi sekedar ‘umat biasa’ yang hanya sembahyang kepada Buddha di saat butuh, melainkan orang yang betul-betul menapaki jalan bertahap untuk mencapai pencerahan seperti Sang Buddha sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Biksu Bhadra Ruci membacakan bait-bait awal dari teks “Baris-Baris Pengalaman” karya Je Tsongkhapa. Teks ini juga dikenal sebagai ‘Lamrim Kecil’ karena mencakup keseluruhan Lamrim dalam bait-bait singkat hasil dari pengalaman spiritual Je Tsongkhapa sendiri. Bait-bait pertama ini berisi pujian dan penghormatan terhadap kualitas Sang Buddha dan guru-guru Dharma agung lainnya, sesuai dengan bab pertama Lamrim, yaitu keagungan sumber ajaran untuk memastikan sumber Dharma yang terpercaya. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bagian tersebut dengan situasi yang sering kita jumpai sehari-hari, misalnya mencari jalan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">google maps.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ketika menuju tempat baru hanya dengan mengandalkan </span><i><span style="font-weight: 400;">google maps,</span></i><span style="font-weight: 400;"> kadang petanya bisa keliru sehingga kita tersesat. Demikian pula untuk urusan spiritual, kalau kita tidak menyelidiki kepada siapa kita belajar, tentu batin kita akan tersesat. Karena itu penting sekali untuk mengetahui sumber ajaran yang akan kita terapkan untuk mengembangkan batin kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sumber ajaran atau guru seperti apakah yang bisa kita andalkan? Pertama kita lihat apakah orang-orang yang mempraktikkan ajaran tersebut bisa mencapai realisasi seperti sang guru. Buddha mengajarkan Dharma lebih dari 2500 tahun yang lalu, banyak yang mempraktikkan ajaran beliau telah menemukan kebahagiaan sejati. Begitu pula Je Tsongkhapa yang mengajarkan kembali Dharma Sang Buddha melalui Lamrim, sejak beliau parinirwana 600 tahun yang lalu, telah banyak guru-guru yang mencapai realisasi spiritual dengan mengandalkan karya-karya beliau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, apakah guru tersebut hidup sesuai dengan apa yang beliau ajarkan? Ada anekdot: seorang guru mengajak pengikutnya pergi ke surga, tapi guru ini sendiri tidak mau ke surga. Bagaimana mungkin ajaran dari sumber seperti ini bisa dipercaya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, Biksu Bhadra Ruci menjelaskan lebih lanjut keagungan guru-guru yang disebut dalam teks Baris-Baris Pengalaman, khususnya Buddha Sakyamuni. Sebagai umat Buddha, tentunya kita harus khatam riwayat Sang Buddha dan merenungkannya. Kita bisa melihat riwayat Buddha digambarkan dengan begitu agung di relief Lalitawistara yang terukir di Candi Borobudur. Beliau adalah anak raja, berpendidikan tinggi, mahir dalam segala ilmu, tapi sudahkah kita benar-benar yakin pada Beliau? Atau jangan-jangan kita lebih yakin pada ucapan peramal atau makhluk yang tak tampak?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di akhir sesi, kita semua diajak untuk merenung, seberapa besar kita yakin pada Sang Buddha dan guru-guru Dharma. Belajar Dharma memiliki implikasi yang besar, tidak hanya di kehidupan ini tapi juga untuk memastikan nasib kita di kehidupan selanjutnya. Sudahkah kita belajar dari sumber yang tepat? Ingat kembali keagungan Sang Buddha dan kebaikan yang telah dicapai berbagai praktisi Dharma. Bandingkan dengan diri kita, kenali sejauh mana keyakinan kita. Kenali pula seperti apa kondisi dari kita saat ini, masalah apa saja yang kita alami. Dari mengenali diri sendiri dengan cara-cara tersebut, kita akan menemukan langkah selanjutnya yang harus kita ambil dalam praktik Dharma kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8212;</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran Dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Foto-Foto:</p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-3816 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /></p>
<figure id="attachment_3814" aria-describedby="caption-attachment-3814" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3814 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3814" class="wp-caption-text">Sesi pengajaran Dharma diawali dengan ritual 6 Praktik Pendahuluan sesuai tradisi dari Guru Swarnadwipa Dharmakirti</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3813" aria-describedby="caption-attachment-3813" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3813 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1024x682.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3813" class="wp-caption-text">Peserta ILR 2017 yang 70% terdiri atas anak muda mendengarkan sesi pengajaran dari Biksu Bhadra Ruci</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3811" aria-describedby="caption-attachment-3811" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3811 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3811" class="wp-caption-text">Peserta ILR 2017 berkesempatan praktik langsung pengumpulan kebajikan melalui persembahan pelita</figcaption></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
