<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Featured - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/featured-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lamrimnesia.org/featured-2/</link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 May 2026 10:36:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Featured - Lamrimnesia</title>
	<link>https://lamrimnesia.org/featured-2/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rahasia Praktik Self-Compassion: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 10:36:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10340</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ini cara bertahap membangun self-compassion atau welas asih pada diri sendiri untuk memulihkan trauma menurut Buddhisme.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik <em>Self-Compassion</em>: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik &lt;em&gt;Self-Compassion&lt;/em&gt;: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam perjalanan spiritual yang kita tempuh, sering kali hambatan terbesar tidak datang dari luar, melainkan dari dalam labirin pikiran kita sendiri. Kita cenderung menjadi kritikus yang paling kejam bagi diri sendiri; menuntut kesempurnaan yang mustahil, menghakimi setiap kegagalan dengan bengis, dan memikul beban trauma masa lalu seolah-olah itu adalah identitas permanen yang tidak bisa diubah.</p>



<p>Namun, dalam tradisi Buddhis, mulai dari jalur Sutra, kurikulum bertahap Lamrim, hingga kedalaman Tantra, terdapat sebuah benang merah yang sangat jelas: <em>self-compassion</em> (welas asih pada diri sendiri) bukanlah bentuk pemanjaan diri atau kelemahan, melainkan fondasi vital bagi transformasi batin yang sejati.</p>



<h1 id="h-fondasi-sutra-dan-lamrim-menghargai-kendaraan-spiritual">Fondasi Sutra dan Lamrim: Menghargai &#8220;Kendaraan&#8221; Spiritual</h1>



<p>Dalam perspektif Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan), salah satu topik awal yang paling krusial adalah perenungan mengenai <a href="https://lamrimnesia.org/tag/kelahiran-manusia/">Kelahiran Manusia yang Berharga <em>(Precious Human Rebirth)</em></a>. Tubuh dan batin manusia yang kita miliki saat ini bukanlah sekadar tumpukan materi biologis yang muncul secara kebetulan. Keduanya adalah sarana atau &#8220;kendaraan spiritual&#8221; yang sangat langka, sulit didapatkan, dan memiliki potensi luar biasa untuk mencapai pencerahan.</p>



<p>Bayangkan Anda memiliki sebuah kendaraan satu-satunya di dunia, sebuah kapal istimewa yang dapat membawa Anda melintasi samudera penderitaan (<a href="https://play.google.com/store/books/details/Memahami_Duka_dan_Terbebas_Darinya_Sebuah_Ulasan_A?id=oqOqDwAAQBAJ&amp;hl=en-US&amp;pli=1">samsara</a> &#8211; siklus kematian &amp; kelahiran kembali yang tak berujung) menuju pantai kebahagiaan sejati (<a href="https://www.instagram.com/p/DM7qZVtS8RV/">nirwana </a>&#8211; akhir dari siklus &amp; penderitaan). Apakah Anda akan membiarkan mesinnya rusak karena tidak terawat? Apakah Anda akan membiarkan bodinya berkarat atau membiarkan tangki bahan bakarnya kosong hingga mogok di tengah jalan? Tentu tidak.</p>



<p>Begitu pula dengan diri kita. Menjaga kesehatan fisik serta stabilitas mental melalui <em>self-compassion</em> merupakan bentuk tanggung jawab etis agar kita dapat berfungsi optimal dalam belajar Dharma maupun beraktivitas sehari-hari.</p>



<p>Dalam hal ini, <em>self-compassion</em> bermanifestasi secara konkret melalui tindakan disiplin yang mencakup, misalnya:</p>



<ul><li>nutrisi yang bijak: memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh demi menjaga kesehatan tubuh agar bisa beraktivitas secara optimal;&nbsp;</li><li>keprimaan fisik: berolahraga secara teratur sebagai upaya menjaga &#8220;mesin&#8221; tubuh agar kuat menopang pembelajaran maupun aktivitas kita;&nbsp;</li><li>kesehatan mental melalui resiliensi: membangun ketangguhan batin agar kita memiliki cadangan energi saat menghadapi tekanan hidup yang tak terelakkan.</li></ul>



<p>Tanpa batin yang stabil dan tubuh yang sehat, kita tidak akan memiliki energi yang cukup untuk belajar Dharma, melakukan meditasi yang mendalam, apalagi melayani makhluk lain dengan optimal.</p>



<p><em>Self-compassion</em> adalah cara kita memastikan bahwa &#8220;kendaraan&#8221; ini tetap berada dalam kondisi prima.</p>



<h1>Perspektif Tantra: <em>Divine Pride</em> vs Persepsi Biasa</h1>



<p>Naik ke level yang lebih dalam, yaitu dalam praktik Tantra, konsep <em>self-compassion</em> ini berkaitan erat dengan latihan kebanggaan Istadewata <em>(divine pride)</em>. Ini adalah sebuah praktik canggih di mana seorang praktisi berlatih untuk melihat dirinya bukan sebagai sosok yang terbatas, melainkan sebagai manifestasi dari kualitas tercerahkan para Buddha (Istadewata).&nbsp;</p>



<p>Hambatan terbesar dalam latihan ini adalah persepsi biasa <em>(ordinary perception)</em>. Persepsi biasa adalah kacamata buram yang membuat kita terjebak dalam pandangan keliru yang melihat diri kita sebagai sosok yang &#8220;buruk&#8221;, &#8220;penuh dosa&#8221;, &#8220;cacat secara permanen&#8221;, atau &#8220;korban trauma yang tak berdaya&#8221;. Selama kita masih berkubang dalam narasi negatif ini, mustahil bagi kita untuk membangkitkan <em>divine pride.</em></p>



<p>Bagaimana mungkin kita bisa merasakan martabat seorang Buddha jika di saat yang sama kita masih menghina diri sendiri? Bagaimana kita bisa memvisualisasikan diri sebagai makhluk suci jika batin kita masih dipenuhi dengan kebencian terhadap diri sendiri <em>(self-hatred)</em>?&nbsp;</p>



<p>Di sinilah <em>self-compassion</em> berperan sebagai penawar awal yang membersihkan kotoran persepsi biasa tersebut.</p>



<h1>Elaborasi Langkah Praktis Transformasi</h1>



<p>Untuk menjembatani diri dari persepsi biasa menuju <em>divine pride</em>, kita perlu memahami strategi regulasi dan meditasi analitik secara lebih mendalam:</p>



<h2>1. Mawas Diri &amp; Regulasi Somatik <em>(Help Now! Strategies)</em></h2>



<p>Ketika kita menyadari batin berada di luar kondisi optimal (<em>zone of well-being</em>), baik dalam kondisi <em>hyper-arousal</em> (cemas, marah, panik) maupun <em>hypo-arousal</em> (depresi, mati rasa, lemas), kita membutuhkan intervensi somatik. Regulasi mandiri ini adalah bentuk nyata dari mencintai diri sendiri. </p>



<p>Beberapa strategi praktis yang bisa dilakukan segera, misalnya:</p>



<ul><li>membasuh wajah dengan air dingin atau meminum segelas air hangat untuk memberikan sinyal kepada sistem saraf bahwa Anda aman,</li><li>mendorong tembok dengan tangan sekuat tenaga selama beberapa detik untuk melepaskan energi stres yang terperangkap dalam otot,</li><li>dan teknik-teknik serupa lainnya.</li></ul>



<p>Tujuannya bukan untuk menghilangkan masalah, melainkan untuk mengembalikan batin ke &#8220;zona resiliensi&#8221; agar proses berpikir bijaksana dapat kembali aktif.</p>



<h2>2. <em>Cognitive Reappraisal</em></h2>



<p>Pada dasarnya, ini adalah meditasi analitik untuk mengubah cara pandang yang sempit <em>(narrow-minded view)</em> terhadap suatu kejadian. Kita berupaya melakukan interpretasi ulang menggunakan perspektif yang lebih luas <em>(broader view)</em> guna mengubah respons perilaku <em>(response behavior)</em> dari yang awalnya destruktif menjadi konstruktif. Meskipun demikian, kita perlu berhati-hati. Teknik seperti ini dapat dengan mudah tergelincir menjadi <em>self-talk</em> berupa lamunan yang tidak bermanfaat jika tidak distrukturkan dengan baik.</p>



<h3>Analogi Angsa Raja: Memilih &#8220;Sari Susu&#8221; dalam Pikiran</h3>



<p>Guru Atisha pernah menekankan pentingnya menjadi seperti angsa raja. Dalam legenda kuno, angsa ini mampu memisahkan sari susu murni dari campuran air. Dalam konteks <em>self-talk</em>, &#8220;air&#8221; melambangkan lamunan destruktif, ruminasi kesalahan masa lalu, dan kritik diri yang melumpuhkan. Sebaliknya, &#8220;sari susu&#8221; melambangkan introspeksi yang sehat, pembelajaran dari kesalahan, dan pengenalan akan potensi kebajikan.</p>



<p>Praktik <em>cognitive reappraisal</em> menuntut kita untuk jeli. Ketika pikiran berkata, &#8220;Aku telah gagal total,&#8221; angsa raja dalam diri kita harus bekerja: </p>



<ul><li>buang &#8220;air&#8221; berupa generalisasi buruk tersebut, dan </li><li>ambil &#8220;sari susu&#8221;-nya berupa pelajaran berharga yang bisa dipetik.</li></ul>



<p>Kita harus berhenti membuang waktu pada dialog internal yang hanya menambah beban batin, dan mulai fokus pada meditasi analitik yang membebaskan.</p>



<p>Tiga objek perenungan utama yang paling membantu ketika kita berupaya melakukan <em>cognitive reappraisal</em> dalam rangka menjaga <em>self-compassion</em>:</p>



<ol><li><em>Common humanity</em>: ingatlah bahwa penderitaan adalah sifat alami samsara. Saat Anda merasa gagal, sadarilah bahwa jutaan makhluk juga merasakan hal yang sama. Anda tidak terisolasi dalam kegagalan tersebut. Penderitaan kita biasanya makin terasa berat karena kita menambahkannya dengan lapisan penderitaan kedua, yaitu perasaan terisolasi dan penghakiman diri. Ketika mengalami kegagalan, kita sering kali merasa seolah-olah hanya kita satu-satunya orang di dunia yang mengalami nasib buruk tersebut. Perasaan &#8220;terpisah&#8221; dari kemanusiaan inilah yang kemudian memicu narasi batin yang kejam, di mana kita mulai mencela diri sendiri.</li><li><em>Making Strengths Visible</em>: Otak manusia memiliki &#8220;bias negatif&#8221;. Kita perlu secara sengaja melakukan meditasi mudita atas kualitas baik kita, sekecil apa pun itu, untuk menyeimbangkan persepsi diri.</li><li><em>Be Kind to Yourself</em>: Ini adalah komitmen untuk tidak &#8220;memukul&#8221; diri sendiri saat terjatuh. Jika hari ini Anda belum berhasil bermeditasi atau menjaga kesabaran, katakan: &#8220;Tidak apa-apa, mari pelan-pelan dicoba lagi.&#8221;</li></ol>



<h1>Kedalaman Sunyata: Kunci Tertinggi Transformasi Trauma</h1>



<p>Puncak dari <em>self-compassion</em> dan rahasia utama mengubah trauma menjadi kekuatan terletak pada pemahaman akan sunyata. Mengapa trauma dan kritik diri begitu menyakitkan? Karena kita melihatnya sebagai sesuatu yang &#8220;nyata&#8221;, &#8220;solid&#8221;, dan &#8220;permanen&#8221;.</p>



<p>Kita sering berpikir, &#8220;Saya ADALAH orang yang rusak karena trauma ini.&#8221; Dalam meditasi analitik, kita perlu menemukan bahwa identitas &#8220;diri yang rusak&#8221; hanyalah label yang muncul dari sekumpulan sebab dan kondisi yang saling bergantungan.</p>



<p>Identitas tersebut pada hakikatnya adalah sunya dari keberadaan yang berdiri sendiri. Karena ia sunya, maka ia tidak permanen. Karena ia tidak permanen, maka trauma tersebut tidak memiliki kuasa untuk mendefinisikan Anda selamanya! </p>



<p>Trauma hanyalah sebuah peristiwa yang lewat dalam ruang batin yang luas, bukan warna asli dari batin itu sendiri.Memahami sunyata berarti memahami bahwa kegagalan dan kesalahan Anda tidak bersifat inheren. Anda bukan kegagalan Anda.</p>



<p>Kesadaran akan kesunyataan ini memberikan ruang bagi kemunculan <em>divine pride</em>. Kita menyadari bahwa di balik awan mendung persepsi biasa dan trauma, hakikat batin kita, <em>Buddha Nature</em>, tetaplah murni, tidak ternoda, dan jernih seperti ruang angkasa.</p>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2024/12/05/healing-muara-jambi/">Baca juga: Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi</a></p>



<h1>Penutup</h1>



<p><em>Self-compassion</em> adalah jembatan emas yang menghubungkan manusia yang terluka dengan potensi sucinya.&nbsp;</p>



<p>Dengan menjaga kendaraan tubuh (Sutra/Lamrim), meregulasi sistem saraf (intervensi somatis), mendisiplinkan pikiran (analogi angsa raja), dan menyadari kekosongan identitas (sunyata), kita tidak lagi melihat trauma sebagai beban, melainkan sebagai bahan bakar untuk menumbuhkan welas asih yang tak terbatas, baik bagi diri sendiri maupun bagi semua makhluk.</p>



<p>Inilah martabat sejati seorang praktisi: berdiri dengan teguh di atas fondasi kasih sayang, menuju pencerahan yang mulia.</p>



<p>Penulis: Johnson Khuo</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik <em>Self-Compassion</em>: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik &lt;em&gt;Self-Compassion&lt;/em&gt;: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Review Musikal Chicago &#8211; Merenungkan Komedi Tragis Samsara</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 03:35:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[review film Buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10296</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagi Buddhis, drama musikal Chicago tidak memberikan solusi atau harapan, tapi memaparkan kenyataan samsara untuk direnungkan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago &#8211; Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ada cerita yang memberikan harapan, menunjukkan bagaimana suatu masalah bisa terpecahkan, bagaimana suatu cita-cita bisa dicapai. Tapi ada juga cerita yang hanya menunjukkan kenyataan apa adanya, kadang dengan sedikit hiperbola, yang menyadarkan kita bahwa kita sedang tidak baik-baik saja dan harus membulatkan tekad untuk mengubah keadaan. Itulah “Chicago”, sebuah cerita yang menunjukkan tragedi dan komedi dalam samsara.</p>



<p>“Chicago” merupakan salah satu drama musikal Broadway paling populer sepanjang masa. Pada 8–12 April 2025, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, drama musikal ini dipentaskan di Indonesia dalam bahasa Indonesia oleh pemain dan kru orang Indonesia pula. Walau lagu-lagunya tetap menggunakan bahasa Inggris, ADPRO dan Jakarta Art House berhasil mengadaptasi dialog “Chicago” ke dalam bahasa Indonesia, lengkap dengan berbagai referensi terhadap guyonan dan pengalaman yang &#8220;Indonesia banget&#8221;.</p>



<h2><strong>Ceritanya Tentang Apa Sih?</strong></h2>



<p>Cerita &#8220;Chicago&#8221; sendiri mengisahkan Roxie Hart dan Velma Kelly, narapidana pembunuhan yang berebut simpati masyarakat agar bisa divonis bebas dari hukuman gantung. Mereka sama-sama &#8220;dituntun&#8221; oleh seorang pengacara andal bernama Billy Flynn yang siap menghalalkan segala cara untuk memastikan kliennya lolos dari jerat hukum, termasuk mengarang cerita bohong dan memanipulasi pers.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2.png" alt="Foto dari penampilan &quot;We Both Reached for the Gun&quot; dalam Chicago the Musical by ADPRO &amp; Jakarta Arthouse " class="wp-image-10299" width="720" height="480" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2.png 720w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-600x400.png 600w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption>Roxie &amp; Billy sukses membangun citra di hadapan pers dalam lagu “<em>We Both Reached for the Gun</em>”<br>Sumber: <a href="https://www.metrotvnews.com/read/KZmCQJm2-teater-musikal-nasional-diyakini-dapat-menembus-pasar-global">metrotvnews.com</a></figcaption></figure></div>


<h2 id="h-nafsu-dan-ilusi"><strong>Nafsu dan ilusi</strong></h2>



<p>Cuplikan pendek di atas harusnya cukup menggambarkan dunia macam apa yang disajikan oleh Chicago: sebuah dunia penuh nafsu dan ilusi. Nafsu duniawi melatarbelakangi lingkaran setan cinta, kekerasan, dan ambisi yang melatari cerita ini. Ilusi melanggengkan upaya pengejaran nafsu tersebut sekaligus menjadi mesin penggerak plot dari awal sampai akhir. Di dunia Chicago, pelaku pembunuhan bisa bebas jika berhasil mengarang cerita sensasional yang memukau media. Benar dan salah ditentukan oleh seberapa mahir sang narapidana dan pengacaranya menarik simpati. Gara-gara itu, hukuman mati yang menjadi aturan bahkan tidak pernah benar-benar dijatuhkan. Sekalinya terjadi, yang menjadi korban adalah seseorang yang tak bersalah, tapi tidak bisa membela diri karena keterbatasan bahasa.</p>



<p>Dalam kisah Chicago, nafsu dan ilusi bergandengan tangan menciptakan kebingungan. Karena nafsu terhadap cerita sensasional yang menggugah emosi, para wartawan dan juri dengan mudah menilai Roxie dan entah berapa banyak narapidana lainnya tak bersalah. Kalaupun ada yang tidak tertipu, mereka tidak peduli karena nafsu akan kehebohan tadi. Roxie sendiri senang menjadi narapidana karena mendapatkan banyak perhatian. Ketika ia dinyatakan bebas, ia malah sedih karena <em>spotlight</em> sudah meninggalkannya dan berpindah ke orang lain. Baik dan buruk menjadi kabur, penderitaan pun dikira kebahagiaan.&nbsp;</p>



<p><em>Cari tahu bagaimana nafsu keinginan, ketidaktahuan, dan faktor mental negatif lainnya mengecoh batin kita </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;gl=US"><em>di sini</em></a><em>.</em></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image.png" alt="Foto dari penampilan &quot;Roxie&quot; dalam Chicago the Musical by ADPRO &amp; Jakarta Arthouse " class="wp-image-10297" width="675" height="449" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image.png 900w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-768x511.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-600x399.png 600w" sizes="(max-width: 675px) 100vw, 675px" /><figcaption>Roxie merayakan status bintang yang didapat sejak menjadi narapidana<br>Sumber: <a href="https://highend-magazine.okezone.com/read/chicago-the-musical-jakarta-2026-sukses-hadirkan-standar-internasional-dalam-bahasa-indonesia-7yy1q1">Highend Magazine</a></figcaption></figure></div>


<p>Konyol? Pasti. Namun, fenomena ini bukan hanya dongeng di atas panggung. Kebingungan yang sama meliputi kehidupan kita sehari-hari. Semua tahu bahwa di Indonesia berlaku <em>no viral no justice. </em>Selain itu, entah sudah berapa kali kejadian ada kasus yang viral, “pelaku”-nya dirundung habis-habisan, lalu gantian “korban”-nya yang dirundung karena ada sisi lain yang baru terungkap. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Makin dicari makin tak jelas. Lalu, setelah waktu dan energi kita habis disedot untuk mencari tahu benar-salah yang tak bisa didefinisikan secara pasti, semua menghilang tanpa jejak. Sudah ada kehebohan baru yang menuntut perhatian kita.</p>



<h2><strong>Cermin untuk refleksi</strong></h2>



<p>Jika direnungkan lebih dalam lagi, kita mungkin akan menemukan kebingungan yang lebih mendasar. Seperti Roxie yang gagal melihat kebahagiaan dari kebebasan karena mengejar lampu sorot media, kita juga sering gagal melihat kebahagiaan yang sudah ada karena mengejar kesenangan lain yang sesungguhnya bikin menderita. Kita mungkin tidak bercita-cita jadi penyanyi idola, tapi kita haus validasi dari kolega, atasan, teman-teman, atau orang tua kita. Kita mati-matian berusaha menjadi “baik” di mata mereka: dengan mengejar penghasilan sebesar-besarnya, pangkat setinggi-tingginya, <em>posting</em> di media sosial, berburu makanan viral.&nbsp;</p>



<p>Saking banyaknya yang kita kejar, kita lupa untuk benar-benar mencari tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. Persis seperti yang diceritakan dalam Chicago, validasi eksternal bisa hilang kapan saja dalam sekejap. Ketika kita kehilangan itu semua, apa yang tersisa?</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“And it&#8217;s good, isn&#8217;t it? Grand, isn&#8217;t it? </em><br><em>Great, isn&#8217;t it? Swell, isn&#8217;t it? </em><br><em>Fun, isn&#8217;t it? But nothing stays…”</em></p><cite>Lagu &#8220;Nowadays&#8221; dari &#8220;Chicago&#8221;</cite></blockquote>



<p></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-1024x682.png" alt="Foto dari penampilan &quot;Nowadays&quot; dalam Chicago the Musical by ADPRO &amp; Jakarta Arthouse " class="wp-image-10298" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-1024x682.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-768x512.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-1200x800.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-600x400.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1.png 1280w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Roxie (Putri Indah Kamila) &amp; Velma (Gallaby) dalam pertunjukan penutup yang menegaskan pesan tentang ketidakkekalan samsara<br>Sumber: <a href="https://highend-magazine.okezone.com/read/chicago-the-musical-jakarta-2026-sukses-hadirkan-standar-internasional-dalam-bahasa-indonesia-7yy1q1">Highend Magazine</a></figcaption></figure></div>


<p>&#8220;Chicago” tidak menjawab pertanyaan itu. Lakon ini hanya menunjukkan bagaimana para tokoh menyadari fenomena ini dan masih berputar di dalamnya. Tidak ada yang kekal, hidup memang begini adanya, mau bagaimana lagi? “Chicago” tidak memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik atau kebahagiaan yang lebih tahan lama. Yang menawarkan harapan seperti itu adalah Buddha!</p>



<h2><strong><em>Nothing stays, so?</em></strong></h2>



<p>Lebih dari 2500 tahun lalu, Siddhartha Gautama telah menguraikan sifat keberadaan kita di dunia ini: diperbudak nafsu dan tenggelam dalam ilusi. Beliau juga sudah memberikan <a href="https://lamrimnesia.org/2019/06/14/lamrim-in-a-nutshell/">panduan langkah demi langkah</a> untuk mengurai ilusi itu: sebuah proses yang tidak mudah, memakan waktu lama, tapi terbukti menghasilkan kebahagiaan yang tidak hilang ketika segala hal lain terurai dalam kefanaan dunia.</p>



<p>Masalahnya, kita sudah tenggelam dalam ilusi nafsu bukan hanya puluhan atau ratusan tahun, melainkan berkehidupan-kehidupan, sejak waktu tak bermula, berkali-kali lipat melebihi umur bumi tempat tinggal kita. Saking lamanya, kita ibarat penghuni penjara yang sudah begitu lama di penjara dengan tingkat keamanan paling tinggi, sampai-sampai kita lupa ada kehidupan di luar penjara. Menyadari kekonyolan kondisi kita yang diperbudak oleh validasi eksternal ibarat celah di dinding penjara yang teramat tebal. Meski celah itu teramat kecil, ada seberkas cahaya yang masuk dan menyadarkan kita bahwa ada dunia yang sangat berbeda di luar sana, dunia yang mungkin lebih bahagia.</p>



<h2><strong>Komedi Tragis yang Menggugah</strong></h2>



<p>Adnan Production dan Jakarta Arthouse menyajikan pementasan “Chicago” yang sangat apik dari segala sisi. Orang-orang yang familiar dengan doktrin Buddhis mungkin sudah paham tentang <a href="https://play.google.com/store/books/details/Memahami_Duka_dan_Terbebas_Darinya_Sebuah_Ulasan_A?id=oqOqDwAAQBAJ&amp;hl=en_NZ">konsep samsara, ketidakkekalan, penjara nafsu, dan sebagainya.</a> Namun, akting, musik, latar, aransemen, dan keseluruhan aspek lakonnya berpotensi membawa komedi tragis samsara masuk ke tataran rasa, bukan pengetahuan saja. Pertunjukan ini sangat berpotensi menjadi bahan renungan untuk membulatkan tekad kita membebaskan diri dari delusi yang memenjara batin kita.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago &#8211; Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Neuro-spiritualitas &#8211; Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 19:17:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10285</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ternyata Trisarana atau berlindung pada Triratna bisa berpengaruh ke sistem saraf lho! Kok bisa? Ini penjelasan Trisarana menurut neurosains, Sutra, dan Tantra</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas – Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas &#8211; Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seringkali dalam perjalanan spiritual, kita terjebak dalam apa yang disebut sebagai &#8220;<em>bypass</em> intelektual.&#8221; Kita mengumpulkan konsep, menghafal definisi, dan merasa telah mengalami kemajuan hanya karena logika kita telah menyetujui sebuah teori. Namun, sebenarnya ada jurang yang lebar antara mengetahui jalan dan menapaki jalan tersebut.</p>



<p>Dalam tradisi <a href="https://www.instagram.com/reels/DEB1Dq9ysTw/">Je Tsongkhapa</a>, biasanya dikenal adanya tiga jenis kebijaksanaan:</p>



<ol type="1"><li>kebijaksanaan dari belajar</li><li>kebijaksanaan dari refleksi, dan</li><li>kebijaksanaan dari meditasi.</li></ol>



<p>Hal ini sejalan dengan apa yang Beliau sampaikan dalam &#8220;<a href="https://play.google.com/store/books/details/Je_Tsongkhapa_RISALAH_AGUNG_TAHAPAN_JALAN_MENUJU_P?id=UHg9EQAAQBAJ">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan</a>&#8221; (<em>Mahabodhipathakrama</em>):</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;<em>Seseorang harus mencapai pemahaman yang lahir dari belajar, kemudian melalui refleksi yang tepat, ia harus mencapai pemahaman yang lahir dari refleksi. Setelah itu, dengan membiasakan diri secara berulang-ulang terhadap objek yang telah dipahami secara meyakinkan melalui refleksi, ia harus mengembangkan pemahaman yang lahir dari meditasi.&#8221;</em></p><cite>Je Tsongkhapa</cite></blockquote>



<p>Jika kita membedahnya melalui lensa neurobiologi modern, kita akan menemukan bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak informasi yang tersimpan di otak, melainkan seberapa dalam informasi itu terintegrasi dalam sistem saraf.</p>



<h2 id="h-kebijaksanaan-dari-belajar-dimensi-kognitif-dan-insight"><strong>Kebijaksanaa</strong>n dari belajar<strong>: Dimensi Kognitif dan &#8220;<em>Insight</em>&#8220;</strong></h2>



<p>Kebijaksanaan dari belajar adalah gerbang pertama. Dalam konteks Buddhis, ambil contoh saat membahas topik Trisarana atau berlindung kepada Triratna. Tahap ini melibatkan pemahaman logis tentang mengapa seseorang perlu Trisarana, apa saja kualitas Triratna sebagai perlindungan, dan sikap-sikap disiplin seperti apa yang mencerminkan seseorang yang berlindung pada Triratna.</p>



<p><em>Baca ringkasan tentang Trisarana secara kognitif <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/20/apa-kamu-sudah-berlindung-trisarana-coba-jawab-pertanyaan-pertanyaan-ini-dulu/">di sini</a>.</em></p>



<p>Secara neurologis, ini adalah aktivitas <em>prefrontal cortex</em>. Kita membangun peta kognitif. Namun, jika berhenti di sini, kebijaksanaan tersebut hanyalah &#8220;data.&#8221; Ia belum menjadi bagian dari eksistensi kita.</p>



<p>Sama halnya pula, banyak praktisi yang fasih berbicara tentang kasih sayang atau ketenangan, tetapi sistem sarafnya masih berada dalam mode <em>fight-or-flight</em> yang kronis.</p>



<p>Ini adalah indikasi bahwa kebijaksanaan tersebut masih &#8220;tertahan di kepala&#8221; dan belum turun ke tubuh.</p>



<h2><strong>Kebijaksanaan dari Refleksi &amp; Meditasi: Masuk ke Dimensi Somatik</strong></h2>



<p>Perbedaan mendasar antara belajar dengan refleksi dan meditasi terletak pada keterlibatan tubuh:</p>



<ul><li>Refleksi bukan sekadar berpikir keras, melainkan merasakan kebenaran sebuah konsep dalam realitas pengalaman kita.</li><li>Meditasi, dalam bentuknya yang paling dalam, adalah stabilisasi dari rasa tersebut.</li></ul>



<p>Di sinilah kita perlu menambahkan dimensi somatik. Tanpa keterlibatan sistem saraf, kebijaksanaan dari refleksi dan kebijaksanaan dari meditasi mungkin hanya menjadi lamunan intelektual yang canggih.</p>



<p>Pertanyaan krusialnya adalah: Apakah kebijaksanaan ini memengaruhi cara sel-sel tubuhmu berperilaku?</p>



<h2><strong>Membedah Trisarana Melalui Tubuh</strong></h2>



<p>Mari sekali lagi kita ambil contoh praktis dari topik Trisarana. Secara teori, berlindung pada Triratna dilakukan karena:</p>



<ul><li>adanya rasa takut terhadap penderitaan dan</li><li>keyakinan pada kualitas objek pelindung.</li></ul>



<p>Bagaimana fenomenologi dari ketakutan dan keyakinan? Tubuh tidak pernah berbohong. Jika kita mengatakan kita &#8220;berlindung&#8221; tetapi tubuh kita tetap tegang, maka secara biologis, kita belum benar-benar berlindung:</p>



<ul><li>Saat takut: Bagaimana ekspresi tubuhmu? Biasanya muncul dalam bentuk bahu yang naik, napas yang dangkal di dada, otot perut yang keras, atau detak jantung yang cepat. Ini adalah aktivasi sistem saraf simpatetik.</li><li>Saat yakin dan berlindung (pada Triratna): Jika berlindung itu efektif, seharusnya terjadi pergeseran biologis. Keyakinan <em>(faith/conviction)</em> bukan lagi sekadar konsep, melainkan sebuah rasa aman.</li></ul>



<h2><strong>Indikator Tubuh yang Terintegrasi</strong></h2>



<p>Jika kebijaksanaan dari merenung dan kebijaksanaan dari meditasi seseorang telah bekerja, maka saat dia menyatakan &#8220;aku berlindung&#8221;, tubuhnya akan menunjukkan tanda-tanda berikut:</p>



<ul><li>Napas: Bergeser dari dada ke diafragma, menjadi lebih lambat dan halus.</li><li>Sistem Saraf: Aktivasi sistem saraf parasimpatetik (saraf vagus), yang menurunkan alarm bahaya di otak (amigdala).</li><li><em>Zone of Wellbeing</em>: Tubuh masuk ke dalam jendela toleransi (<em>window of tolerance</em>), di mana seseorang merasa terjaga namun sekaligus tenang.</li></ul>



<h2><strong>Integrasi Somatik dalam Metode Mendalam</strong></h2>



<p>Hal yang sama berlaku secara krusial ketika kita mempraktikkan metode-metode mendalam dari Je Rinpoche, seperti teknik &#8220;Mengambil Hasil sebagai Jalan&#8221; (<em>Taking the result as the path</em>).</p>



<p>Ambil contoh: visualisasi cahaya amerta dari Ladang Kebajikan. Bayangkan saat kita melakukan praktik di mana cahaya amerta dari Ladang Kebajikan masuk ke dalam diri, dan kita membayangkan bahwa diri kita memperoleh realisasi Dharma.</p>



<p>Atau contoh lain di penghujung meditasi Wajrasatwa, saat kita membayangkan cahaya amerta memurnikan semua kesalahan dan diri kita menjadi benar-benar bersih seperti kristal.</p>



<p><em>Baca lebih lanjut tentang visualisasi ladang kebajikan di buku <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Awali_Harimu_Dengan_Ini_Sebuah_Meto?id=je9DEAAAQBAJ">&#8220;Awali Hari dengan Ini&#8221;</a> dan &#8220;<a href="https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1181948">Ini yang Harus Kuperbuat</a>&#8220;</em></p>



<p>Secara teknis, pikiran Anda melakukan visualisasi. Namun, bagaimana respons saraf dan somatik tubuh saat menerima cahaya amerta tersebut?</p>



<p>Jika visualisasi itu &#8220;nyata&#8221; bagi sistem saraf, seharusnya ada sensasi fisik, seperti: pelepasan ketegangan di area <em>solar plexus</em>, rasa hangat yang menjalar, atau pelunakan otot-otot wajah.</p>



<p>Jika tubuh tetap kaku dan waspada saat cahaya &#8220;pembersihan&#8221; itu turun, berarti ada diskoneksi. Anda sedang melakukan simulasi mental, bukan transformasi biologis.</p>



<h2><strong>Integrasi Somatik dalam Praktik Tantra</strong></h2>



<p>Dalam praktik Tantra, saat seseorang memeditasikan pembangkitan diri sebagai istadewata tertentu, misalnya Awalokiteswara, tantangannya bahkan jauh melampaui imajinasi visual.</p>



<p>Pertanyaannya: Apakah tubuh dan sistem saraf kita benar-benar memasuki kondisi parasimpatetik yang mencerminkan kualitas welas asih tak terbatas dari Sang Mahakarunika?</p>



<p>Seringkali, pikiran membayangkan diri sebagai Awalokiteshwara, tetapi sistem saraf tidak mempercayainya. Sistem saraf mungkin masih terjebak dalam kondisi “<em>re-living”</em> trauma masa lalu atau masih sedang tersulut emosi terpendam.</p>



<p>Jika kita memvisualisasikan diri sebagai istadewata yang penuh kedamaian namun rahang kita mengatup keras dan perut kita melilit karena kecemasan, maka “istadewata” tersebut hanyalah topeng kognitif di atas sistem saraf yang sedang menderita.</p>



<p></p>



<h2><strong>Hambatan Utama: Buta Somatik</strong></h2>



<p>Masalahnya, kita seringkali &#8220;bicara seharusnya.&#8221; Kita tahu seharusnya merasa aman saat berlindung, sehingga kita memanipulasi pikiran kita untuk berpikir bahwa kita aman, padahal tubuh kita sedang berteriak sebaliknya.</p>



<p>Untuk benar-benar &#8220;konek&#8221; dan masuk ke dimensi meditasi yang transformatif, seseorang perlu belajar untuk membaca tubuhnya sendiri terlebih dahulu, atau kadang disebut sebagai literasi somatik:</p>



<ul><li>Dapatkah kita merasakan ketegangan di rahang saat memikirkan ketakutan?</li><li>Dapatkah kita merasakan sensasi hangat atau ekspansi di dada saat memikirkan kualitas yang mulia?</li><li>Dapatkah kita merasakan aliran amerta Wajrasatwa sebagai perubahan nyata dalam tekanan darah atau detak jantung Anda?</li></ul>



<p>Tanpa kemampuan ini, praktik spiritual hanya menjadi latihan mental yang kering. Kita menjadi &#8220;kepala yang berjalan,&#8221; yang terputus dari mesin biologis yang sebenarnya mengendalikan reaksi emosional kita.</p>



<h2><strong>Kesimpulan: Menuju Kebijaksanaan yang Utuh</strong></h2>



<p>Kebijaksanaan yang sejati adalah kebijaksanaan yang menubuh (<em>embodied wisdom</em>). Ini adalah kondisi di mana tidak ada lagi jarak antara apa yang diketahui oleh otak dan apa yang dirasakan oleh sel.</p>



<p>Integrasi antara “<em>insight”</em> intelektual dan respons somatik yang teregulasi adalah kunci dari transformasi yang nyata. Kebijaksanaan dari belajar memberi kita peta, tetapi hanya melalui refleksi dan meditasi yang melibatkan tubuhlah kita benar-benar sampai di tujuan.</p>



<p>Pikiran bisa menciptakan narasi dan alasan, tetapi tubuh tidak bisa berbohong. Jika perlindunganmu belum menyentuh sistem sarafmu, dan jika amerta Wajrasatwamu belum melembutkan ketegangan ototmu, maka perjalananmu baru saja dimulai di permukaan.</p>



<p>Penulis: Johnson Khuo<br><br><br><br><br></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas – Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas &#8211; Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2026 06:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10250</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, compassion (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah compassion adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita. Pemahaman ini tampak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, <em>compassion</em> (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah <em>compassion</em> adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita.</p>



<p>Pemahaman ini tampak masuk akal. Berbagai penelitian dalam psikologi positif mendukung gagasan bahwa altruisme dan perilaku menolong berkaitan dengan kebahagiaan dan kesehatan. Orang yang meluangkan waktu, tenaga, atau sumber daya untuk membantu orang lain cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Beberapa studi longitudinal bahkan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas relawan berkorelasi dengan penurunan risiko kematian, terutama ketika motivasinya benar-benar altruistik—yakni ingin membantu orang lain, bukan sekadar mencari manfaat pribadi.</p>



<p>Singkatnya, menolong orang lain memang baik, bukan hanya secara moral, tetapi juga secara psikologis dan biologis.</p>



<p>Namun, di titik inilah muncul sebuah ironi.</p>



<p>Di balik semua narasi indah tentang <em>compassion</em>, kita sering menjumpai paradoks yang mengganggu:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em><strong>“Orang-orang yang tampak sangat penuh compassion di ruang publik justru mudah marah, pahit, atau tidak sabar di ruang privat.”</strong></em></p></blockquote>



<p>Fenomena ini muncul pada aktivis sosial, pekerja kemanusiaan, guru, tenaga kesehatan, pemuka agama, terapis, relawan, bahkan orang tua yang berjuang keras demi keluarganya.</p>



<p>Secara publik mereka terlihat heroik, tetapi secara personal mereka rapuh. Ada kelelahan kronis, kepahitan, bahkan kemarahan tersembunyi yang tidak sejalan dengan citra moral yang mereka pegang.</p>



<p>Mengapa bisa demikian?</p>



<p>Fenomena ini mengajak kita untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:</p>



<p>Apakah <em>compassion</em> benar-benar berawal dari moralitas?</p>



<p>Ataukah <em>compassion</em> justru harus berakar pada kondisi tubuh (<em>bodily state</em>) yang teregulasi, sebelum berkembang menjadi nilai, niat, dan tindakan?</p>



<p>Seyogyanya, <em>compassion</em> terlebih dahulu harus mampu menjalankan fungsinya dalam meregulasi tubuh. Barulah kemudian ia dapat berkembang menjadi tindakan moral yang sehat dan berkelanjutan.</p>



<p><em>Compassion</em> seharusnya berakar pada fisiologi sebelum berkembang menjadi aturan etika.</p>



<p>Sebelum menjadi nilai, niat, dan tindakan, <em>compassion</em> perlu bermula sebagai kondisi sistem saraf yang teregulasi di dalam tubuh.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> terintegrasi di tingkat tubuh, tubuh akan:</p>



<ul><li>Memperoleh rasa aman yang benar-benar dirasakan (<em>felt sense of safety</em>);</li><li>Mengaktivasi sistem saraf parasimpatetis, khususnya sistem ventral vagal, yang pada gilirannya membuat napas lebih lembut, otot lebih rileks, dan ritme jantung lebih stabil;</li><li>Memiliki kapasitas untuk tetap hadir bersama penderitaan—baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain—tanpa perlu kolaps atau bereaksi secara agresif.</li></ul>



<p>Dalam kondisi ini, <em>compassion</em> muncul secara alami. Ia tidak dipaksakan. Tubuh pun cukup teregulasi untuk menghadirkan keterbukaan.</p>



<p><em>Compassion</em> yang bersifat moralitas semata tanpa melibatkan regulasi tubuh akan berubah menjadi kewajiban.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> diperlakukan hanya sebagai tindakan moral—sesuatu yang seharusnya dilakukan—ia sering kali berujung pada:</p>



<ul><li>Kepahitan dan kelelahan; serta</li><li>Superioritas moral atau agresi tersembunyi.</li></ul>



<p>Bukan karena <em>compassion</em> itu keliru, melainkan karena ia dipaksakan tanpa integrasi pada level tubuh.</p>



<p>Tubuh yang terdisregulasi namun dipaksa menjalankan compassion secara moral sering kali memunculkan:</p>



<ul><li>Mudah tersinggung;</li><li>Mati rasa secara emosional;</li><li>Inkonsistensi (ramah pada orang asing, keras pada orang terdekat);</li><li>Keterbelahan antara “kebaikan publik” dan “kepahitan privat”.</li></ul>



<p>Dalam situasi seperti ini, <em>compassion</em> sesungguhnya digerakkan oleh tekanan superego, bukan oleh kapasitas yang benar-benar terwujud di dalam tubuh.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, kita tidak sedang “memutuskan” untuk berwelas asih. Kita mendapati diri kita merespons dengan kepedulian.</p>



<p>Hal ini menyerupai cara seorang ibu atau pengasuh yang tenang secara alami menenangkan bayi yang menangis—bukan karena pertimbangan moral, melainkan karena sistem sarafnya mampu melakukan regulasi bersama antara pengasuh dan bayi.</p>



<p>Kehadiran hormon oksitosin, aktivitas sistem vagal, dan kemampuan mengamati pengalaman tubuh <em>(meta-awareness)</em> berperan sangat penting di sini.</p>



<p><em>Compassion</em> muncul ketika tubuh:</p>



<ul><li>Merasa berdaya;</li><li>Merasa terhubung; dan</li><li>Tidak sedang kewalahan.</li></ul>



<p>Baru setelah <em>compassion</em> hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, ia dapat diekspresikan menjadi tindakan atau etika yang nyata ke luar.</p>



<p>Jika <em>compassion</em> tidak dapat diakses secara internal pada level tubuh, ia tidak akan berkelanjutan secara eksternal.</p>



<p>Orang-orang yang kekurangan <em>self-compassion</em> yang terwujud di dalam tubuh sering kali:</p>



<ul><li>Hanya mengetahui “kata-kata yang benar”, dalam arti mampu mengajarkan atau mengkhotbahkan compassion;</li><li>Namun tetap keras, tidak sabar, atau menghukum diri sendiri dan orang-orang terdekat.</li></ul>



<h3 id="h-penting-untuk-diingat-ini-bukan-kemunafikan-melainkan-keterbatasan-sistem-saraf-ini-bukan-kegagalan-moral"><strong>Penting untuk diingat: ini bukan kemunafikan, melainkan keterbatasan sistem saraf. Ini bukan kegagalan moral.</strong></h3>



<p>Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemikiran kognitif untuk menuju ke <em>compassion</em> jika tubuh belum belajar mengenali rasa aman yang menyertainya.</p>



<p>Ini adalah proses internalisasi nilai.</p>



<p><em>Compassion</em> sebagai moralitas baru dapat hadir ketika ia telah berakar di dalam tubuh.</p>



<p>Tindakan moral yang lahir dari kondisi tubuh yang penuh <em>compassion</em>:</p>



<ul><li>Tidak bersifat reaktif;</li><li>Tidak digerakkan oleh ego; dan</li><li>Lebih selaras dengan realitas.</li></ul>



<p>Dengan demikian, etika dan moralitas seharusnya menunggangi fisiologi tubuh—bukan sebaliknya.</p>



<h3 id="h-bagi-mereka-yang-bekerja-dalam-bidang-pengasuhan-kepemimpinan-spiritual-atau-kerja-kemanusiaan-compassion-tanpa-regulasi-tubuh-berisiko-menciptakan-luka"><strong><strong>Bagi mereka yang bekerja dalam bidang pengasuhan, kepemimpinan spiritual, atau kerja kemanusiaan, <em>compassion</em> tanpa regulasi tubuh berisiko menciptakan luka.</strong></strong></h3>



<p>Karena itu, pelatihan <em>compassion</em> seharusnya mencakup:</p>



<ul><li>Literasi sistem saraf;</li><li>Praktik somatik;</li><li>Pengalaman rasa aman, relaksasi, dan kemampuan regulasi bersama; serta</li><li>Belajar merasakan sebelum belajar bertindak.</li></ul>



<p>Di sinilah <strong><em>power of tracking</em></strong> menjadi sangat penting, yaknibkemampuan untuk mengamati:</p>



<ul><li>Apa yang sedang dipikirkan <em>(thoughts)</em>;</li><li>Apa yang sedang dirasakan <em>(emotions)</em>; dan</li><li>Sensasi tubuh (<em>bodily sensations</em>) yang menyertai keduanya.</li></ul>



<p>Singkatnya, <em>compassion</em> tidak seharusnya dipahami semata sebagai kewajiban moral yang harus dicapai, melainkan juga sebagai kondisi tubuh (<em>bodily state</em>) yang teregulasi. Hanya dari kondisi inilah seseorang mampu tetap terbuka terhadap penderitaan tanpa harus mengeras ataupun berpaling.</p>



<h3 id="h-hanya-ketika-compassion-hidup-terintegrasi-di-dalam-tubuh-ia-dapat-berkembang-menjadi-moralitas-tindakan-dan-tanggung-jawab-tanpa-membakar-orang-yang-membawanya"><strong><strong><strong>Hanya ketika <em>compassion</em> hidup terintegrasi di dalam tubuh, ia dapat berkembang menjadi moralitas, tindakan, dan tanggung jawab—tanpa membakar orang yang membawanya.</strong></strong></strong></h3>



<p>Penulis : <em>Johnson Khuo</em> (Co Founder &#8211; Ayurjnana Wellness and Spirit Center)<br>Tulisan ini pertama kali terbit di <a href="https://kumparan.com/johnson-khuo/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu-26d4ZMJi9Rq" target="_blank" rel="noreferrer noopener">kumparan.com</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenalan dengan 4 Sifat Karma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2025 10:56:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10226</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Banyak yang salah kaprah soal karma. Ini penjelasan karma yang sesungguhnya menurut Buddha!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Karma adalah pacarku<br>Karma adalah Tuhan<br>Karma adalah angin semilir di rambutku di akhir pekan<br>Karma adalah pikiran yang menenangkan.&#8221;</p><cite>Taylor Swift</cite></blockquote>



<p>Siapa yang sudah sering mendengar penggalan lagu di atas? Siapa yang baru pertama kali dengar? Seperti apa reaksimu? Mungkin ada yang berpikir:<em> kok bisa-bisanya sih menganggap karma sebagai pacar? Apakah Taylor Swift Buddhis? Tapi kayaknya enggak gitu juga deh…</em></p>



<p>Di masyarakat umum, kita mungkin lebih sering mendengar kata “karma” digunakan dalam nuansa yang lebih negatif, misalnya saat seseorang kena celaka, ada yang berceletuk, “Rasain tuh kena karma!” Atau saat ada yang dijahati orang dan tidak bisa membalas, terlontarlah ujaran berikut, “Awas kau kena karma!”</p>



<p>Bagi seorang Buddhis, karma tak seharusnya dipandang sebagai kutukan, apalagi “dimanfaatkan” sebagai balas dendam dari semesta. Karma hanyalah kenyataan hidup yang tak bisa dihindari ataupun diingkari. Dan sama halnya dengan segala hal yang alami di dunia ini, hidup kita akan lebih bahagia kalau kita bisa “berkawan” dengan karma, atau bahkan sampai “pacaran” seperti di penggalan lagu Taylor Swift tadi.</p>



<p>Pertanyaannya: kok bisa “memadu kasih” dengan karma bikin kita lebih bahagia? Kalau memang bisa, bagaimana caranya mengakrabkan diri dengan karma?</p>



<h2><strong>Karma adalah akar semua kebahagiaan</strong></h2>



<p>Struktur Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim) menempatkan topik karma di “puncak” latihan motivasi awal, yaitu pada subbab memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang. Kata-kata persisnya adalah “Membangkitkan keyakinan terhadap karma dan akibat-akibatnya, akar dari semua kebahagiaan”.</p>



<p>Kata “akar” digunakan bukan hanya agar kalimatnya terdengar puitis. Kata tersebut ada sebagai penekanan bahwa semua kebahagiaan bisa diraih jika kita meyakini hukum karma. Perlu diingat juga bahwa “yakin” dalam Buddhadharma bukan sekadar keyakinan buta, tapi keyakinan yang berlandaskan pada pemahaman yang menyeluruh terhadap apa yang diyakini.</p>



<p>Dengan kata lain, jika kita benar-benar mempelajari apa itu karma sampai memahami cara kerjanya, kita pasti bisa meraih kebahagiaan apapun yang kita inginkan.</p>



<h2><strong>Sebenarnya karma itu apa sih?</strong></h2>



<p>Kata “karma” umumnya dipakai untuk membicarakan “hukum karma”, yaitu hukum sebab-akibat yang menentukan segala hal di semesta ini. Bahkan setitik debu yang menempel di baju kita pun merupakan akibat dari suatu sebab.</p>



<p>Lebih khususnya lagi, kata “karma” sendiri bisa diartikan sebagai dorongan mental yang mengarahkan kita untuk melakukan suatu tindakan, baik melalui tubuh, ucapan, atau bahkan tindakan mental. Dari sini, karma bisa dipandang sebagai niat ataupun perbuatan yang nanti akan menghasilkan akibat. Kadang kata “karma” dipakai untung merujuk pada akibat dari suatu tindakan.</p>



<p>Karma itu sendiri sangatlah kompleks Hanya seorang Sammasambuddha yang bisa mengetahui secara persis sebab-akibat karma dari suatu fenomena.</p>



<p>Untungnya, kita bisa mulai memahami rumitnya karma dari 4 sifatnya yang sudah dirangkum dalam penjelasan sederhana dalam Lamrim.</p>



<h2><strong>Sifat pertama: karma itu pasti</strong></h2>



<p>Jika kita menanam biji mangga, maka yang tumbuh pastilah mangga, tidak mungkin apel. Begitu juga karma. Suatu tindakan buruk pasti hasilnya tak menyenangkan. Sebaliknya, tindakan baik pasti menghasilkan hal baik pula.</p>



<p>Sifat ini bisa jadi pegangan kita setiap kali ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kalau itu hal yang bermanfaat dan disadari niat baik, kita bisa yakin bahwa kita akan panen kebaikan dari hal tersebut. Kalaupun kita gagal atau hasilnya tidak sesuai harapan, minimal kita jadi punya tabungan karma baik yang akan menguntungkan kita di masa depan.</p>



<p>Sebaliknya, kita juga tidak perlu buang-buang tenaga untuk membalas atau memaki orang yang semena-mena, baik yang sifatnya personal seperti tukang utang yang lebih galak dari pemberi utang sampai yang masif seperti koruptor dan penjahat perang. Cepat atau lambat, mereka pasti kena imbasnya. Bukan berarti kita tidak perlu mendukung upaya untuk membuat mereka berhenti merugikan orang lain, ya. Tapi kalau memang tidak ada yang bisa dilakukan, keyakinan pada kepastian karma akan melindungi kita dari rasa putus asa akibat “ketidakadilan dunia” dan mencegah kita melukai diri sendiri gara-gara menghujat atau membalas dendam atas dasar kemarahan.</p>



<h2><strong>Sifat kedua: karma berlipat ganda</strong></h2>



<p>Lanjut lagi dengan analogi tanaman, satu biji yang kecil bisa tumbuh jadi pohon besar dan berbuah banyak. Begitu juga dengan karma, satu tindakan kecil bisa menghasilkan akibat yang besar.&nbsp;</p>



<p>Banyak sekali kisah-kisah satu karma buruk kecil berujung pada kelahiran di alam rendah yang mengerikan. Dalam Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu, ada kisah biksu yang terlahir kembali sebagai kera selama ratusan kehidupan karena menghina orang. Ada juga orang yang terlahir kembali menjadi monster laut berkepala delapan belas karena disuruh ibunya mencemooh sesama anggota Sangha.</p>



<p>Sebaliknya, banyak juga kisah tindakan yang sangat kecil menghasilkan kebajikan yang luar biasa besar. Salah satu murid Buddha Sakyamuni selalu memiliki koin emas di tangannya berkat mempersembahkan emas hasil menjual kayu bakar pada Buddha Kasyapa di kehidupan lampaunya. Kera di Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu tadi juga akhirnya terlahir kembali sebagai manusia dalam kondisi yang sangat bajik dan mencapai tingkat kesucian berkat berdana madu kepada Buddha.</p>



<p>Sifat karma yang satu ini adalah <em>reminder </em>buat kita untuk berusaha menghindari karma buruk sekecil apapun karena akibatnya bisa luar biasa berat. Ngeri? Banget. Tapi di sisi lain, kita bisa optimis menghimpun karma baik yang enggak kalah luar biasa besar dari tindakan-tindakan kecil.</p>



<h2><strong>Sifat ketiga: kita tidak akan mengalami akibat karma yang tidak dilakukan</strong></h2>



<p>Kamu mungkin punya tanah yang subur, yang rajin kita rawat dengan pupuk kualitas terbaik, air melimpah. Tapi kok enggak ada yang tumbuh ya? Astaga! Ternyata bijinya belum ada!&nbsp;</p>



<p>Ini sangat sering terjadi di zaman sekarang. Banyak orang kerja keras bagaikan kuda, berharap bisa mencapai financial freedom di umur 30. Pengeluaran ditekan sesedikit mungkin. Makan sendiri pun diirit-irit. Berdana? Boro-boro. Eh ujung-ujungnya bukannya kaya, malah bangkrut karena sakit dan harus keluar banyak uang untuk berobat.</p>



<p>Mungkin ada yang berpikir, “Kan hemat pangkal kaya. Ini udah hemat, kok masih gagal juga? Karma gak adil dong.”</p>



<p>Ternyata selama ini kita salah paham antara sebab dan kondisi. Menurut hukum karma, sebab kelimpahan materi adalah kemurahan hati. Kerja keras, <em>upgrade skill,</em> dan <em>financial planning</em> adalah kondisi yang dibutuhkan agar karmanya bisa berbuah, seperti tanaman yang butuh air, sinar matahari, dan tanah yang subur untuk bisa tumbuh dengan baik. Masalahnya, semua kondisi itu akan sia-sia kalau kita lupa menyiapkan sebab yang sesuai.</p>



<p>Jadi, kalau kita merasa usaha kita tak kunjung membuahkan hasil, kita bisa cek ulang: apakah kita sudah menyiapkan sebab yang sesuai?</p>



<p>Ada satu <em>angle </em>lain tentang sifat karma yang satu ini. Kenapa bisa ada satu orang selamat ketika terjadi kecelakaan yang menewaskan ratusan orang? Kenapa bisa ada satu rumah lolos ketika satu kawasan dilanda bencana?&nbsp;</p>



<p>Umumnya orang akan bilang sebabnya adalah mukjizat luar biasa, tapi sebenarnya ini cuma cara karma bekerja, <em>business as usual. </em>Satu orang yang selamat dari kecelakaan itu mungkin pernah bikin sebab karma yang bikin dia kena musibah, tapi dia enggak punya karma untuk meninggal karena musibah itu.&nbsp;Dari sini kita jadi tahu bahwa kita tidak perlu cemas berlebih soal masa depan. Kalau kita tidak mau kena musibah, ya tinggal jangan bikin sebabnya.</p>



<p>Masalahnya, kita kan enggak tahu ya kita udah bikin karma aja dari kehidupan lampau. Tadi pagi turun dari kasur kaki kanan dulu atau kaki kiri dulu aja kita enggak ingat. Terus gimana dong?</p>



<h2><strong>Sifat keempat: karma yang sudah dilakukan tidak akan hilang begitu saja</strong></h2>



<p>Kenal Arya Maudgalyayana (B. Pali: Moggallana), murid Buddha yang paling sakti? Beliau bisa terbang, punya ilmu kebal, bahkan konon bisa “jalan-jalan” ke neraka, tapi meninggal dikeroyok rampok. Kesaktiannya mendadak “hilang” ketika harus menghadapi buah karma buruk membunuh orang tuanya di kehidupan lampau. Ada juga Arya Nagarjuna, filsuf besar yang konon berumur ratusan tahun, akhirnya meninggal terpenggal karena karma buruk memotong kepala seekor semut.</p>



<p>Dari sifat karma yang satu ini, kita bisa belajar bahwa ada hal-hal tak menyenangkan yang tidak bisa kita hindari. Kita enggak tahu karma apa saja yang sudah kita himpun dari berkehidupan-kehidupan lalu. Misalnya kita punya karma dapat bos toksik, kita lari ke planet Mars pun kita masih kan ketemu bos yang toksik<em> </em>sampai karma buruk kita habis.</p>



<p>Kok kayak takdir? Iya, tapi bedanya konsep karma sama takdir, kita mengalami penderitaan ini dan itu bukan karena ada sosok di atas langit yang sengaja ngerjain kita. Semua yang kita alami sekarang itu ya gara-gara ulah diri kita sendiri di masa lampau.</p>



<p>Tapi, kerennya Buddhadharma adalah kita enggak dibiarkan tenggelam dalam rasa bersalah. Iya, memang masalah kita sekarang itu kita yang bikin sendiri, tapi ketika kita mengalami si masalah itu, satu karma buruk kita sudah berkurang. Bagus kan? Dan kita bisa banget dari sekarang bikin karma baik yang banyak buat mempersiapkan masa depan yang lebih bahagia.&nbsp;</p>



<p>Lagipula, kata-kata persis dari sifat karma yang satu ini adalah “tidak akan hilang begitu saja”, bukan “tidak bisa hilang sama sekali”. Ternyata ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memurnikan atau melemahkan karma buruk yang terlanjur kita himpun. Praktiknya enggak gampang, jadi tetap lebih baik jangan bikin karma buruk sama sekali. Tapi, ini mengingatkan kita bahwa kita enggak perlu berkecil hati, minder, apalagi putus asa ketika terlanjur bikin karma buruk.</p>



<p>Baca tentang praktik pemurnian karma buruk di <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/">sini</a>.</p>



<h2 id="h-sudah-siap-pdkt-dengan-karma"><strong>Sudah siap PDKT dengan karma?</strong></h2>



<p>Percaya enggak percaya, kebanyakan terapi atau <em>healing </em>emosional itu sebenarnya cuma penerapan konsep karma yang dibungkus ulang. Penerimaan diri, misalnya. Gimana caranya kita bisa menerima diri sendiri? Ya, pahami kepastian karma. <em>Manifesting</em>? Aslinya dedikasi karma baik kok. Dasarnya ya dari karma baik bisa berlipat ganda dan enggak akan hilang begitu saja. <em>Be present</em>? Kita bisa hadir sepenuhnya di momen saat ini kalau kita enggak mencemaskan masa depan. Gimana supaya bisa enggak cemas? Ingat kita enggak akan mengalami karma yang tidak kita perbuat plus praktikin purifikasi buat karma yang udah terlanjur lewat.</p>



<p>Setelah tahu sifat-sifat karma, langkah berikutnya adalah belajar tentang jenis-jenis karma yang perlu kita hindari dan kita himpun, macam-macam akibat karma, komponen atau jalan karma, faktor yang menentukan beratnya suatu karma, dan pembahasan khusus tentang karma yang dibutuhkan untuk punya kualitas matang seperti kaya, rupawan, terkenal, dsb. di masa depan.</p>



<p>Ketika kita benar-benar akrab dengan karma dan kita 100% yakin, sampai masuk ke hati, hidup kita akan jadi super damai dan ringan. Kita bakal bisa berdamai dengan masa lalu dan melakukan yang terbaik buat masa depan. Jangkauannya bukan cuma buat satu kehidupan ini saja, tapi sampai kehidupan mendatang, bahkan sampai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna! Yakin deh, pacar idaman kamu aja enggak bisa menemani kamu dan memberimu rasa aman sampai sejauh itu!</p>



<p>Referensi:</p>



<ul><li><a href="https://www.tokopedia.com/lamrimnesiastore/pembebasan-di-tangan-kita-set-jilid-i-ii-iii-oleh-phabongkha-rinpoche-buku-agama-buddha-1729813382775605075?extParam=ivf%3Dfalse%26keyword%3Dpembebasan+di+tangan+kita%26search_id%3D20251117065526496E05E1AEA0A90B5Q5V%26src%3Dsearch">Pembebasan di Tangan Kita</a> Jilid II karya Phabongka Rinpoche</li><li><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma_Akibatnya?id=OZiWDwAAQBAJ">Karma dan Akibatnya</a> karya Guru Dagpo Rinpoche</li></ul><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Andai Semua Pejabat +62 seperti Kwik Kian Gie</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/07/30/andai-semua-pejabat-62-seperti-kwik-kian-gie/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2025 10:26:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonom]]></category>
		<category><![CDATA[Kwik Kian Gie]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Politikus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10135</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Menjadi pejabat di pemerintahan itu harusnya gimana sih? Nilai apa saja yang perlu kita berikan untuk masyarakat? Ini adalah nilai-nilai yang dipraktikkan Pak Kwik Kian Gie selama hidup.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/07/30/andai-semua-pejabat-62-seperti-kwik-kian-gie/">Andai Semua Pejabat +62 seperti Kwik Kian Gie</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/07/30/andai-semua-pejabat-62-seperti-kwik-kian-gie/">Andai Semua Pejabat +62 seperti Kwik Kian Gie</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><strong>Profil Singkat</strong></p>



<p>Kwik Kian Gie adalah seorang ekonom Indonesia yang sangat kritis. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri pada masa pemerintahan Gus Dur. Pak Kwik Kian Gie juga menjadi sosok panutan bagi banyak generasi muda, termasuk mahasiswa ekonomi dan penggiat kebijakan publik.&nbsp;</p>



<p>Sosok Pak Kwik dikenal sebagai pemikir independen, ekonom yang jujur, dan tokoh publik yang tidak pernah takut menyuarakan kebenaran, bahkan ketika bertentangan dengan arus kebijakan pemerintah.</p>



<p><strong>Berkarya demi banyak orang</strong></p>



<p>Sebagai seorang pejabat, Beliau tidak sibuk memperkaya diri. Pak Kwik Kian Gie mementingkan kepentingan rakyat. Tujuan hidup yang dipegangnya sejak muda, yaitu harus berkarya demi orang banyak, tetap dipegang hingga akhir hayatnya.</p>



<p><strong>Praktik Sila</strong></p>



<p>Di era banyaknya koruptor yang bertebaran di Indonesia, Pak Kwik Kian Gie dikenal sangat bersih dari praktik korupsi. Ia tidak tergoda oleh kekuasaan, selalu mengedepankan rasionalitas dan kepentingan bangsa dalam setiap pandangannya. Dalam berbagai kesempatan, ia pernah menolak jabatan yang tidak sesuai hati nuraninya.&nbsp;</p>



<p><strong>Memikirkan rakyat</strong></p>



<p>Pak Kwik dikenal memegang kuat prinsip keberpihakan pada rakyat kecil. Ia selalu menjadi garda terdepan saat kebijakan ekonomi dinilai terlalu menguntungkan korporasi dan investor asing.&nbsp; Baginya, Indonesia tidak bisa diatur dengan mempertimbangkan untung-rugi. Melainkan negara kita harus dikelola supaya bisa memberikan manfaat kepada banyak masyarakat secara adil.</p>



<p>Semua kebijakan yang dibuatnya selalu berpegang pada argumentasi yang berbasis data dan logika, bukan kepentingan politik yang merugikan rakyat.</p>



<p><strong>Berkarya sampai akhir hayat</strong></p>



<p>Kepedulian pada Indonesia sangat besar. Hal yang ditunjukkan bahwa tulisan dan masukan yang tetap rutin dilontarkan Pak Kwik yang sudah tidak lagi menjabat.</p>



<p>Ia menulis kolom di media nasional, menghadiri forum diskusi, dan memberi kritik terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Ia tidak akan diam meskipun suaranya termasuk minoritas. Sampai akhir hidupnya, ia masih aktif menyampaikan pandangan melalui berbagai media, seperti YouTube dan wawancara dengan media independen.</p>



<p>Selamat Jalan, Pak Kwik Kian Gie.</p>



<p>Semoga kebaikanmu bisa mengantarkanmu kembali lahir menjadi manusia dengan 18 permata. Semoga keluargamu tidak berlarut dalam kesedihan dan bisa tegar dalam menghadapi kehilangan.</p>



<p><em>“Kwik Kian Gie bukan hanya ekonom. Ia adalah nurani yang hidup dalam sistem yang sering kali membunuh nurani. Ia adalah suara jernih dalam ruang yang kian bising oleh kompromi dan kepentingan.&#8221;</em><em>Sumber: </em><a href="http://kompas.com"><em>Kompas.com</em></a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/07/30/andai-semua-pejabat-62-seperti-kwik-kian-gie/">Andai Semua Pejabat +62 seperti Kwik Kian Gie</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/07/30/andai-semua-pejabat-62-seperti-kwik-kian-gie/">Andai Semua Pejabat +62 seperti Kwik Kian Gie</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Persona 3, 4, 5, Game Bertahap Menuju Pencerahan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/07/29/persona-3-4-5-game-bertahap-menuju-pencerahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2025 17:22:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[review game Buddhis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10129</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seri video game Persona 3, Persona 4, dan Persona 5 ternyata menggambarkan tahapan praktik Buddhis sesuai dengan 3 motivasi Lamrim.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/07/29/persona-3-4-5-game-bertahap-menuju-pencerahan/">Persona 3, 4, 5, Game Bertahap Menuju Pencerahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/07/29/persona-3-4-5-game-bertahap-menuju-pencerahan/">Persona 3, 4, 5, Game Bertahap Menuju Pencerahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Siapa yang pernah main Persona? Seri video game buatan ATLUS ini bisa dibilang merupakan salah satu seri video <em>game </em>paling beken di kalangan penggemar <em>role playing game</em> dan Jejepangan. Sebagai pemain, kita bisa berperan sebagai remaja SMA Jepang yang punya kekuatan spesial, mengungkap misteri yang berkaitan erat dengan isu sosial, juga menjalani kehidupan sekolah, menjalin hubungan persahabatan dan asmara, hingga kerja sambilan. Selain itu, kalau kita menyelami tema cerita yang diangkat seri ini (khususnya Persona 3, 4, dan 5), ternyata kita bisa menemukan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/08/tiga-jenis-motivasi-praktisi-dharma/">“simulasi” praktik Dharma ala Lamrim</a> lho! Coba kita bedah satu per satu…</p>



<h2><strong>Pertempuran Melawan Klesha</strong></h2>



<p>Seperti kebanyakan game bergenre serupa, pemain bisa bertarung melawan beraneka ragam monster dengan kekuatan super. Namun, dalam seri persona, monster ini bukan monster biasa. Mereka disebut “<em>shadow</em>”, manifestasi dari emosi negatif atau sisi gelap diri yang disembunyikan. Walau ada sedikit perbedaan, secara umum konsepnya sama. Semakin emosi negatif ini menjadi-jadi, semakin kuat pula monster yang harus dihadapi.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdqZzE5w47AkeEUNEKwOZjS4FvRwZ0MQn8dLWJKR0jWJZBj9IBYQdLDMBTdCPZH0891UyEI_z7SJLFYczfEMTYQXt6LRSEiX-eg3tbZapn_8KcKKED9oR8O2zZ22xH9xo09vqGlUw?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption><em>Game spin-off </em>Persona 5: The Phantom X terang-terangan menghadirkan Moha, Raga (B. Pali: <em>Lobha</em>), dan Dvesha (B. Pali: Dosa) sebagai musuh yang harus dikalahkan &#8211; Sumber: <a href="https://megamitensei.fandom.com/wiki/Moha">Megami Tensei Wiki</a></figcaption></figure>



<p>Bagaimana cara melawan <em>shadow</em>? Tokoh-tokoh dalam serial <em>game </em>ini menggunakan kekuatan yang disebut “Persona”. Persona ini sendiri merupakan manifestasi dari diri masing-masing karakter yang sesungguhnya dan sudah diterima seutuhnya dalam wujud dewa, makhluk mistis, atau tokoh-tokoh dalam legenda. Saat bertarung, pemain perlu mempelajari kelemahan yang dimiliki <em>shadow </em>dan menyerang dengan <em>skill </em>Persona yang sesuai.</p>



<p>Sebagai seorang Buddhis, bergumul dengan emosi negatif adalah aktivitas kita sehari-hari. Bisa dikatakan bahwa praktik Buddhis yang sesungguhnya adalah mengendalikan batin, termasuk mengelola berbagai macam emosi yang kita rasakan. Untuk menaklukkan klesha (faktor mental negatif) yang mendasari emosi negatif seperti rasa marah, iri, cemas dan sebagainya, kita butuh hal-hal positif seperti kemurahan hati, kesabaran, welas asih, atau kebijaksanaan. Kualitas ini bisa kita temukan dalam Dharma dan digambarkan dalam wujud para Buddha dan Bodhisatwa.&nbsp;</p>



<p>Jadi, kalau dalam<em> game </em>kita memanggil Persona untuk menaklukkan <em>shadow, </em>di dunia nyata kita mengandalkan Triratna untuk menaklukkan “<em>shadow</em>” dalam pikiran kita! Selain itu, setiap klesha kita juga punya kelemahan terhadap sifat bajik tertentu, sama seperti <em>shadow </em>yang punya kelemahan dan lebih efektif jika diserang dengan <em>skill </em>Persona tertentu. Semua bisa kita pelajari lewat Dharma.<em>&nbsp;</em></p>



<p><em>Baca tentang kelemahan “shadow” dalam batinmu skill lawannya di </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;hl=en-US&amp;pli=1"><em>sini</em></a><em>.</em></p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdrrrNYAoSjjMgIjHtWSnLdT9c79_difVXOWbXp4ohHF0vg9Dk2rSlqKPI5mKyhDh6xnCXFnscR_df5UV7ndZhRKpQveb4jW6cu1kkyzYjm5y5xUA0oEXy0SXnjIaSeItvkXXHDsw?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption>Pemain yang berhasil menyerang kelemahan <em>shadow </em>akan mendapatkan kesempatan menyerang lagi &#8211; Sumber: <a href="https://www.gematsu.com/2016/08/persona-5-phantom-thieves-code-names-revealed-new-screenshots">gematsu.com</a></figcaption></figure>



<p><strong><em>Memento Mori</em> &#8211; Persona 3 &amp; Perenungan Kematian</strong></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Opening Persona 3 [HD]" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/XxNAwZ-A88w?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Persona 3 bercerita tentang merebaknya “penyakit” yang disebut Apathy Syndrome. Penderita penyakit ini secara fisik baik-baik saja, tapi mereka menghabiskan waktu dengan bengong, tidak ada keinginan untuk melakukan apapun, seolah segalanya sia-sia, tinggal tunggu ajal menjemput. Diduga penyebabnya tersembunyi dalam “<em>dark hour</em>”, waktu “tambahan” tepat saat pergantian hari pukul 12 malam. Selama <em>dark hour, </em>orang-orang terlelap sementara <em>shadow </em>berkeliaran. Namun, sekelompok remaja yang memiliki potensi khusus bisa tetap bangun saat <em>dark hour</em> dan memanggil Persona untuk melawan <em>shadow.&nbsp;</em></p>



<p>Bagaimana cara mereka memanggil Persona? Mereka harus membangkitkan potensi penuh mereka dengan menempatkan diri mereka di ambang kematian, digambarkan dengan menembak kepala mereka sendiri dengan semacam pistol.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeuGAemgv9id0St1D7lzAZ39iPmYjORV7nA-3R6l-3YADfLFb1RYC8d3yw83lomhp3LY6mIwfCc-SUlCgst57y4bCLCIR9JGQ6uA9q4bqg1zRwaHSbHUCDMnRc40ZVCfN7B9y9Y?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption>Tokoh utama Persona 3 memanggil Persona dengan menembakkan <em>evoker &#8211; </em>Sumber: <a href="https://kotaku.com/persona-3-reload-ui-loses-the-originals-best-feature-1851225937">Kotaku</a></figcaption></figure></div>


<p><a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Kematian dan ketidakkekalan dalam Buddhadharma merupakan topik yang sangat penting</a>, khususnya di motivasi awal dalam struktur Lamrim, yaitu memastikan kebahagiaan di kelahiran berikutnya. Karena <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/tabu-ngomongin-kematian-sampai-kapan-lari-dari-kenyataan/">kematian pasti tiba</a>, tapi <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">waktunya tak pasti</a>, ia ibarat baterai super yang mendorong kita untuk memanfaatkan waktu yang kita miliki saat ini sebaik-baiknya dan memaksimalkan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">potensi kelahiran kita sebagai manusia</a>.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, penggambaran Apathy Syndrome juga menjadi cermin untuk kita: apakah kita sudah memanfaatkan kelahiran kita sebagai manusia yang berharga ini? Jika kita hanya makan, tidur, sekolah karena disuruh, untuk tanpa berupaya meraih sesuatu yang benar-benar berarti, maka kematian akan menjadi momok yang menyedot habis seluruh energi kita.&nbsp;</p>



<p>Sebaliknya, Dharma menunjukkan bahwa kita punya untuk memanfaatkan tubuh manusia ini semaksimal mungkin, pertama-tama untuk memastikan kita lahir kembali di alam bahagia di kehidupan mendatang. Kita pun bisa jadi seperti para tokoh Persona 3 yang menjadikan ingatan akan kepastian kematian sebagai motivasi alih-alih tragedi.</p>



<h2 id="h-reach-out-to-the-truth-persona-4-kabut-ketidaktahuan"><strong><em>Reach Out to the Truth</em></strong><strong> &#8211; Persona 4 &amp; Kabut Ketidaktahuan</strong></h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Persona 4 The Animation - Reach Out To The Truth" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/Fpa79C3VkXg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sebelum ada media sosial, ada televisi yang identik dengan hiburan, pertunjukan, dan kepura-puraan. Namun, di Personal 4, semua orang justru “bermain peran” di dunia nyata untuk menutupi hasrat terdalamnya yang bersembunyi di dunia di balik televisi. Dunia dalam TV ini sendiri bisa diakses pada malam hari saat hujan deras. Di dalamnya, <em>shadow </em>bersembunyi di balik kabut dan menjadi ganas setiap kabut itu hilang sebulan sekali. Di saat yang sama, pembunuhan berantai menjadi momok di kota kecil yang menjadi latar cerita.</p>



<p>Tokoh-tokoh Persona 4 masuk ke dunia di balik TV dan berhadapan dengan <em>shadow </em>dalam bentuk diri mereka sendiri, diri yang menuntut keinginan egoisnya terpenuhi. Ketika mereka merespon tuntutan si ego ini dengan penolakan, ia berubah menjadi monster yang mengamuk.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXckzaHp4Lp7l1WyIg2S9iazjDkngrmrU1FgfaDEXXvafNtSXfyXqGIoXatv7AONYu7SnrQo2e67bmRvef2NAk0-IcTys_GLHsWzfgGzsTGf1bvdTxY4tPW4C7v779xNL5no8t8J?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption><em>Yukiko, gadis sempurna ahli waris penginapan tradisonal Jepang, berhadapan dengan </em>shadow<em>-nya yang ingin kabur dari tanggung jawab</em></figcaption></figure></div>


<p>Namun, ketika monster ini berhasil ditenangkan dan si tokoh berani menerima, ia berubah menjadi Persona dan menjadi kekuatan bagi para tokoh yang menuntun mereka untuk mengungkap misteri satu per satu.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXc9Lzo3mj1wgsncEGidnlhwX_RY-sUp9HvJ-sfhKf7BYwN9BrllyCkXENxXXF8IJW4VmCfeCqoCZgQEF2YGws2jP9aqgqDjjNmTgiy69fReEwN2okKzyu-qlGT5Y-ECQPUAjcLs1Q?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/></figure>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeOaNGIKFHphHipH8Tz513QeoO6Wb1Mwkjzxpi_Q8yuic12g8laHFWfjhWKpfzZOtOXdyacgryujQuhcJBSW7YuNqVqKTpp6lCHzjPBVYHww_1ey6dT0UVB7z4yBNXT5idBhy8f?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/></figure>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfBNx3Si9Bul-x89cStL7VG9BIA5XYkkBIjPOUxKfly3qQDclolT607q_EJ9Plr9JU5Y-Q5FP_c7KJcYWxjnqtRkUEurXFjk04HwQcQ7DlFgKU5b4BIvPUIMVW23DvAR1jS6I2rQg?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption>Sumber: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=TQJD3HFOGZs">Youtube Lacry</a></figcaption></figure>



<p>Buddha telah mengungkap bahwa setiap hal yang kita lakukan selama ini sesungguhnya hanyalah untuk melayani “tuan” berupa ego yang mementingkan diri sendiri, hasil dari kumpulan karma dan klesha yang mengikuti selama berkehidupan-kehidupan.&nbsp;</p>



<p>Kita bersikap ramah karena ingin disayang, membantu supaya dipedulikan, membagikan cerita lucu supaya diperhatikan, dan masih banyak lagi gebrakan yang kita buat. Hal-hal yang kita kira “sifat” atau “kepribadian” ternyata hanyalah cara untuk memenuhi suatu kebutuhan yang tidak kita sadari keberadaannya.&nbsp;</p>



<p>Di tengah banjir distraksi seperti media sosial, hiburan, dan kesibukan sehari-hari, kita tidak sempat mengambil waktu untuk mengenal diri kita sendiri. Kita seolah-olah hidup dalam <a href="https://lamrimnesia.org/2023/05/12/kiat-buddhis-hadapi-spiritualitas-digital/">kabut</a>. Jangankan melihat ke mana kita melangkah, tangan kita sendiri pun tidak terlihat jelas. Akibatnya, kita bahkan terpaksa melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan dan mengalami berbagai macam penderitaan sementara akarnya tidak pernah terurus. Namun, kabut ini “menyenangkan”. Dia melindungi kita dari perihnya penderitaan samsara. Ketika Buddha datang dan menunjukkan kebenaran bahwa hidup ini sebenarnya menderita, kabut itu mulai memudar, tapi kita jadi harus mengalami ketidaknyamanan yang luar biasa.</p>



<p>Ketika kita memberanikan diri untuk menghadapi kebenaran yang “tidak nyaman” itu, lalu duduk diam tanpa distraksi dan melihat ke dalam, barulah kita bisa melihat diri kita yang sesungguhnya, menerima dia apa adanya, lalu mengubah dia pelan-pelan agar bisa meraih kebahagiaan sungguhan sesuai dengan apa yang Buddha ajarkan.</p>



<p>Setelah menangkap pelaku pembunuhan berantai dalam Persona 4, pemain akan ditanya berulang kali apakah sudah “puas” dengan jawaban yang mereka dapat.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXf10taFnAsgIbJ_aJeBezw4k_xoPOJYXJq6FLGM2barXYXgMuulXAGk3AJXJ8d0BrJO0Lztr3FjqK1jGN_qdboR8AEOY9JMmaQic3mTwLHhk4ITr_MMtjczys6se9jJolFGFpRB?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/></figure>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfHzb9REKHvn2TMDpu7-HLno3wuTj3Oa9Tv2ibS1tiXtRwy-hfpG2wLzll1T7J3BrmagXydGV3xBuo-tq8bPt7E6ssnqSjgIJMMDc_8Tg80rztJt0SQJPreqY07BrH93C4A-TvS?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption>Sumber: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=sh4XuMIIQvA">Youtube CB Zero</a></figcaption></figure>



<p>Saat itu, kondisinya adalah si pembunuh sudah ketahuan, tokoh utama sedang bersiap-siap pulang ke kota asalnya, tapi kabut dalam dunia TV juga keluar ke dunia nyata dan memengaruhi orang-orang. Jika diiyakan, maka kisah berakhir dengan para tokoh melanjutkan hidup apa adanya tanpa mengungkap misteri apapun. Kota masih terselimut kabut, warganya makin linglung dan pelan-pelan berubah menjadi <em>shadow</em>. Namun, jika pemain memilih untuk terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya, barulah permasalahan bisa dituntaskan sampai ke akar.</p>



<p>Titik ini mirip dengan proses perkembangan praktisi Buddhis dari motivasi awal ke motivasi menengah dalam struktur Lamrim. Katakanlah kita sudah aman dari kelahiran di alam rendah, apakah kita akan puas sampai di situ saja? Kalau sekarang kita mati dan lahir kembali jadi dewa, karma baik kita akan habis, lalu kita harus mati dan lahir lagi di alam rendah. Belum lagi setiap alam kehidupan juga tidak luput dari penderitaan karena ketidakpastian, ketidakpuasan, dan sebagainya karena ketidaktahuan yang membuat kita salah memahami realita, terikat klesha, dan terus menghimpun karma sehingga terjebak dalam siklus lahir dan mati. Satu-satunya jalan keluar adalah berjuang untuk memotong rantai karma dan klesha dengan merealisasikan kebenaran sejati.</p>



<p><em>Reach out to Buddha’s Truth </em>dengan membaca <a href="https://play.google.com/store/books/details/Memahami_Duka_dan_Terbebas_Darinya_Sebuah_Ulasan_A?id=oqOqDwAAQBAJ&amp;hl=en">buku ini</a>.</p>



<h2><strong><em>Wake Up Get Up Get out There</em> &#8211; Persona 5 &amp; Berani Berjuang untuk Banyak Orang</strong></h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Persona 5 - Opening Cinematic" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/0jm8nnHqx80?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika pertama kali diumumkan, Persona 5 hadir dengan <em>teaser </em>seperti ini:</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdI25QvnTrXf1M3Df8c3L1COvq0nzzDOMLWBsBEE_WgC1iVtMGTW1RrueQVGHmnpJn6nYKrEtYZ_tMSppvpMZiEraVDNqh9UVeYh9VQ2HTAdIVL3KNLlOqNOUq6yrlK88A80C56?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption>“Kau adalah budak. Mau berdaya?” &#8211; Sumber: <a href="https://whatsageek.com/video-games/persona-5-know-far">whatsageek.com</a></figcaption></figure>



<p>Analogi budak, narapidana, dan penjara cukup umum digunakan untuk menggambarkan situasi kehidupan di samsara dalam kitab-kitab Buddhis. Sebaliknya, tujuan akhir umat Buddha seringkali disebut dengan istilah “pembebasan”. Logikanya sangat sederhana. Siapapun yang terpenjara pasti ingin bebas.&nbsp;</p>



<p>Namun, Persona 5 tidak menawarkan kebebasan. Ia menawarkan “pemberdayaan”. Buddha mungkin tidak menggunakan istilah yang sama, tapi pemberdayaan ini cukup cocok menggambarkan praktisi Buddhis motivasi agung dalam struktur Lamrim yang bercita-cita meraih pencerahan tertinggi untuk menolong semua makhluk meraih pembebasan. Kita yang selama ini diperbudak oleh karma dan klesha ternyata bukan hanya bisa membebaskan diri, tapi juga jadi “berdaya” dalam artian bisa menolong orang lain untuk bebas juga.</p>



<p><em>Baca kiat berdaya ala Buddhis di negeri +62 </em><a href="https://lamrimnesia.org/2021/11/09/umat-buddha-bisa-apa-untuk-indonesia/"><em>di sini</em></a><em>.</em></p>



<p>Kisah Persona 5 sendiri dibuka dengan seorang remaja ditangkap polisi karena menolong orang. Ceritanya ada perempuan yang ditindas oleh pejabat yang sedang mabuk. Remaja ini tidak bisa tinggal diam dan mencoba mengintervensi, tapi malah kena tuntut. Remaja ini pun harus pindah kota untuk menjalani periode pengawasan dan bertemu kawan-kawan senasib: orang tertindas yang berhasil bangkit dan menolong orang lain yang tertindas seperti mereka.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXds7xso-fN8EGJsOjEJyojvAexC92uCWUBLYMx9x-dXxfC9TPdy2W_bRgc1s8EOXRVDdk16S-cAfrmmiVuNtv7nkopyTOJ-s2iptqw6g37HhUQ9vMqFda5SMotkaJDkT9CDXQ-SsQ?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/></figure>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfoEVoFu2jCDTeV7E4sykdVdB6m2O2kw2sNmFjmTH5pgFdaLTGjDVF9OFYubY2ZxaxJ9rq98PE-5w-8eLaySjCeW0MeBZrFCCLt_c8JH7u1aeFRbRdZ8kMwcXfO3dWFXKygyrBCOg?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption>Di sekolah baru, tokoh utama Persona 5 berurusan dengan guru pelaku tindak kekerasan bersama dengan teman-teman barunya yang menjadi korban <em>&#8211; </em>Sumber: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=-Mm0nmjhZ30">Youtube Keeduh</a></figcaption></figure>



<figure class="wp-block-embed aligncenter is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Ryuji Full Awakening + Battle - Persona 5 (English)" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/B4iIDeCjdBk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div><figcaption><em>Ketika melihat teman-temannya ditindas di dunia dalam pikiran si guru, Persona Ryuji bangkit</em></figcaption></figure>



<p>Kebuddhaan yang lengkap diraih dengan prinsip yang sama. Pertama-tama, kita harus menyadari penderitaan kita sendiri dulu di samsara ini. Setelah muncul rasa tidak tahan akan penderitaan itu, kita melihat bahwa semua makhluk mengalami penderitaan yang sama, termasuk orang-orang yang kita sayangi.&nbsp;</p>



<p>Persona 5 secara khusus menunjukkan bagaimana orang-orang “jahat” sesungguhnya hanyalah orang yang dunianya terdistorsi oleh klesha. Mereka begitu melekat pada sesuatu, entah itu harta, reputasi, masa lalu, dan masih banyak lagi. Hal yang mereka lekati ini digambarkan dalam wujud “harta” yang disimpan dalam “istana”, lalu para pahlawan kita yang belakangan dikenal sebagai “Phantom Thieves of Heart” masuk ke istana ini dan “mencuri” harta tersebut untuk menyadarkan mereka. Istana di sini adalah dunia versi si budak klesha yang berkaitan erat dengan apa yang mereka lekati. Sesungguhnya, kita semua di samsara melihat dunia dengan distorsi seperti ini dan menderita karenanya.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeRNztyNKb3VmFVC5PYSbPS1dwFJNNydU-1zC9BmkfGxn48He_AYZIMR2vFrVm-vFVPVE_DP1Y3XIp6f4tSiK2U2OLvkYR4f2-MT6Z9ZTZq9Z6cgUCh7FbZ0wqaDO4mI69vAXR2bg?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption><em>Seorang CEO rakus yang semasa kecil menyukai hal-hal berbau luar angkasa melihat dirinya sebagai alien dan pegawainya sebagai robot &#8211; </em>Sumber: <a href="https://www.thegamer.com/persona-5-royal-okumura-boss/">The Gamer</a></figcaption></figure>



<p>Lebih lanjut, di tahapan motivasi agung, kita juga akan belajar bahwa ternyata kita dan semua makhluk saling terhubung dan saling berutang budi. Ini bahkan menjadi fitur khas dari Persona 3 sampai 5 yang dikenal dengan istilah “Social Link” (Persona 3) atau “Confidant” (Persona 5). Dalam fitur ini, pemain akan bertemu dengan berbagai macam orang dan mendapatkan <em>upgrade skill</em> atau bantuan khusus seiring dengan meningkatnya kedekatan dengan orang-orang tersebut. Konsep ini juga bisa mengingatkan kita dengan Sudhana berguru pada beragam orang yang ia temui di perjalanan dalam <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/31/ndbf-3-0-kekuatan-harta-takhta-dan-wanita-dalam-relief-borobudur/">Sutra Gandawyuha</a> yang terukir di Candi Borobudur.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfFDkcDuOvBSwUpdl3eq6OxT83S3nind3fa683IGfuXuA8HFl8oGAnNli_JfqFuNx89S4P7kEnHsCDDP23yTL2d6rLJ5z-nxmeeB4OGxMbvRFTTjfWZE0b4jkSr0DazhdGiG1DfWw?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption><em>Social Link </em>favorit penulis dari Persona 3, pemuda yang tinggal menunggu ajal menghabiskan sisa waktunya untuk menulis buku cerita anak. Karyanya menginspirasi banyak orang dan bahkan masih disinggung di Persona 5 &#8211; Sumber: <a href="https://gamerant.com/persona-3-reload-akinari-kamiki-sun-social-link-guide-p3r/">gamerant.com</a></figcaption></figure>



<p>Ketika kita bisa merasakan kedekatan dengan makhluk lain, kita jadi tidak tahan melihat mereka menderita seperti kita sehingga kita tergerak, berani mengambil keputusan besar untuk meraih kesempurnaan agar bisa menolong mereka juga.&nbsp;</p>



<p>Jalan menuju kesempurnaan itu tidak gampang. Memunculkan rasa kedekatan itu saja butuh proses yang panjang. <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Untungnya Indonesia punya ilmunya</a>. Setelah itu, kita akan banyak berkorban, sama seperti tokoh-tokoh Persona 5 yang harus mengorbankan kenyamanan pribadi mereka demi kebaikan banyak orang. Tapi sama seperti tokoh dalam <em>game </em>yang berani melakukan itu semua berkat kekuatan Persona, kita juga bisa mencapai Kebuddhaan karena kita punya Buddha, Dharma, dan Sangha.</p>



<p><em>Spill </em>komitmen latihan menjadi <s>Phantom Thief of Hearts</s> Bodhisatwa <a href="https://www.tokopedia.com/lamrimnesiastore/janji-setia-bodhisatwa-oleh-dagpo-rinpoche">di sini</a>.</p>



<h2><strong>Keren ya </strong><strong><em>game</em></strong><strong>-nya ada Buddhis-Buddhisnya. Terus </strong><strong><em>so what?</em></strong></h2>



<p>Serunya memanggil Persona dan melawan <em>shadow </em>bisa kita bawa untuk melawan kotoran batin kita sehari-hari. Sama juga seperti Persona yang naik level dan makin cepat mengalahkan musuh semakin sering bertarung, begitu juga batin kita. Masalah yang muncul bertubi-tubi bisa kita lihat sebagai proses <em>grinding</em> untuk menaikkan level batin kita. Kita jadi bisa menghadapi masalah dengan semangat alih-alih berputus asa.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXenDxLdT0poOfi95UgLHGYtCx67mivbOh6hC_p3gaHvNGvfP1D36kYBRL-P12hKKNpStDKmLNEqEB9_ROS2PJvRsCMiLvBwpOcoR8ZKMAa7yNe69Njd6sGYZ0nHVy5MwCMEexUSuw?key=uTcuhuWeUYVYBxydbkbqGg" alt=""/><figcaption>Kalau Persona statusnya <em>strength, magic, endurance, dst., </em>mungkin “Persona” kita statusnya adalah dana, sila, kshanti, wirya, dhyana, dan prajna &#8211; Sumber: <a href="https://www.reddit.com/r/Persona5/comments/9j89wn/my_yoshitsune_build/">Reddit</a></figcaption></figure>



<p>Selain itu, jika kamu merasa tokoh-tokoh atau cerita Persona itu keren dan menyentuh, ingatlah kesamaan kisah mereka dengan motivasi dan topik-topik dalam praktik Dharma. Ingat juga bahwa kita bisa jadi keren seperti mereka dengan melatih hal yang sama. Ini berlaku bukan buat Persona saja, tapi bisa untuk banyak hal yang punya nilai serupa.</p>



<p>Persona hanyalah satu dari sekian banyak seri <em>game, </em>komik, film, dan media hiburan lain yang ada nilai Buddhisnya kalau kita gali. <a href="https://lamrimnesia.org/2025/03/16/brave-bang-bravern-adalah-anime-religi/">Bahkan di anime robot pun ada</a>! Itu belum tentu karena yang bikin Buddhis atau memang sengaja masukin nilai Buddhis, tapi karena Dharma memang cuma kebenaran tentang dunia kita apa adanya. Seiring dengan pengetahuan kita tentang Buddhadharma meningkat, kita akan makin sering melihat Dharma dalam segala hal!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/07/29/persona-3-4-5-game-bertahap-menuju-pencerahan/">Persona 3, 4, 5, Game Bertahap Menuju Pencerahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/07/29/persona-3-4-5-game-bertahap-menuju-pencerahan/">Persona 3, 4, 5, Game Bertahap Menuju Pencerahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jika Mata Dibalas Mata, Kita Akan Perang Dunia Ketiga</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/06/26/perang-dunia-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 10:32:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10091</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Meski perang yang pecah di bumi ini jauh dari kita, kita tetap perlu refleksi. Bagaimana Buddhis seharusnya memandang perang dan konflik?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/06/26/perang-dunia-buddhis/">Jika Mata Dibalas Mata, Kita Akan Perang Dunia Ketiga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/06/26/perang-dunia-buddhis/">Jika Mata Dibalas Mata, Kita Akan Perang Dunia Ketiga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ada ungkapan yang mengatakan, “Jika mata dibalas dengan mata, maka seluruh dunia akan buta.” Kini, tampaknya dunia sedang merasakannya. Meski semakin banyak hal yang bisa dilihat dan dijangkau, tampaknya orang-orang malah semakin “buta”.</p>



<p>Berkat teknologi, kita bisa dengan cepat tahu apa yang terjadi di belahan dunia lain. Seharusnya ini adalah hal yang positif. Kita jadi bisa tahu banyak hal baru. Kita bisa bertemu dan berinteraksi hal-hal yang tadinya terlalu jauh untuk kita jangkau. Kita membayangkan batas antarnegara menjadi kabur dan kita semua bisa menjadi satu warga dunia yang saling terhubung, saling mendukung.&nbsp;</p>



<p>Namun, ketika mengintip warna media sosial tempat “seluruh warga dunia menjadi satu”, saya melihat realita yang hampir bertolak belakang. Narasi-narasi bernada kebencian antar golonganantargolongan sepintas tampak mendominasi. “Cepat tahu apa yang terjadi di belahan dunia lain” menjadi pedang bermata dua, terlihat dari betapa cepat kabar Trump selaku presiden Amerika Serikat memberlakukan tarif impor mencekik ke negara-negara yang dianggap “tidak menguntungkan AS” ataupun mengesahkan peraturan-peraturan diskriminatif terhadap imigran dan pelajar asing dengan dalih “melawan antisemitisme”. Penyebaran yang cepat berarti reaksi yang cepat pula. tak terhitung banyaknya komentar yang menghujat AS, kelompok konservatif, Yahudi, zionis, atau label-label lain yang dibalas lagi dengan kebencian yang tak kalah kuat.&nbsp;</p>



<p>Mungkin ada yang berpikir debat kusir di internet tidak cukup nyata, tidak perlu diambil pusing. Namun, kita bisa melihat media massa maupun pemerintah berbagai negara mulai mengambil sikap yang juga melanggengkan pandangan “kami vs mereka”. Tidak perlu melihat jauh-jauh, tendensi presiden kita yang sangat pro-militer dengan alasan “melindungi bangsa dari ancaman asing” adalah salah satunya. Puncaknya adalah Trump melangkahi senat dengan menitahkan militer AS untuk menjatuhkan bom di Iran untuk menanggapi serangan Iran terhadap Israel.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1024x683.png" alt="" class="wp-image-10094" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1024x683.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-768x512.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1200x800.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-600x400.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image.png 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><a href="https://abcnews.go.com/Politics/us-hits-3-iranian-nuclear-sites-trump-plunging/story?id=123081409">Donald Trump, presiden Amerika Serikat, ketika berbicara tentang serangan AS terhadap Iran</a></figcaption></figure></div>


<p>Sebelum Trump berulah pun sebenarnya sentimen “kami vs mereka” ini sudah sangat terasa di jagad maya. Sejak Israel terang-terangan menyerang Palestina, seluruh dunia akhirnya melek dengan isu ini dan getol menyerukan pemboikotan terhadap Israel dan hujatan terhadap kaum Yahudi. Kemarahan terhadap Yahudi ini dianggap sah karena mereka telah melakukan kejahatan terhadap suatu kaum. Sebaliknya, kaum Yahudi juga memiliki trauma menjadi korban kejahatan kemanusiaan di tangan Nazi Jerman pada era perang dunia lalu. Tak jarang trauma ini diungkit kembali di tengah-tengah aksi kemarahan terhadap (seharusnya) penjahat perang dan jadi menyakiti mereka yang tidak terlibat. Kaum Yahudi seluruh dunia dan orang-orang yang bersimpati pada penderitaan mereka pun terpancing untuk ikut-ikutan marah. Mereka juga merasa kemarahan mereka “sah” karena melihat diri mereka sebagai korban.</p>



<p><em>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah?</a></em></p>



<p>Sasaran kemarahan mereka yang bersimpati pada kaum Yahudi adalah umat Muslim. Palestina sendiri identik dengan komunitas Muslim dan umat Muslim sedunia merasakan solidaritas yang sangat kuat dengan mereka. Di jagad maya Indonesia sendiri, seruan untuk mendukung Palestina dan menentang zionis terdengar sangat lantang, bahkan terkadang melebihi dukungan untuk bencana kemanusiaan yang terjadi di dalam negeri atau negara-negara lain yang lebih dekat secara geografis. Komunitas Muslim dunia sendiri masih belum pulih dari stereotip negatif akibat aksi terorisme berkedok agama dan friksi imigran dari Timur Tengah yang mencari suaka ke negara-negara Eropa. Ini pun menjadi justifikasi serangan terhadap umat Muslim dan balasan yang tak kalah tajam.</p>



<p>Konflik antara pendukung Israel dan Palestina hanyalah salah satu contoh dari berbagai isu sosial yang membuat dunia seolah terbelah walau bisa jadi pemicunya merupakan yang terparah. Ada juga persoalan tentang gender dan orientasi seksual, ras, bentuk tubuh, dan masih banyak lagi. Meski topiknya berbeda, polanya sama. Masing-masing pihak yang berseteru merasa kemarahannya sah karena mereka terlebih dulu disakiti.</p>



<p>Adakah yang bertanya mengapa ini bisa terjadi? Atau semua menganggap kekacauan ini sudah sewajarnya, bahwa manusia memang akan selalu berkonflik?</p>



<p>Selama enam tahun Siddhartha Gautama duduk merenungkan obat untuk kelahiran, usia tua, sakit, dan mati, tak pernah ada catatan eksplisit mengenai pertanyaan apa saja yang Beliau renungkan. Namun, bukan tak mungkin pertanyaan di atas sempat muncul barang sepintas karena sekarang kita bisa menemukan jawabannya dalam khasanah ajaran sang Buddha.</p>



<h2 id="h-karma-di-balik-konflik"><strong>Karma di Balik konflik</strong></h2>



<p>Siapapun yang cukup akrab dengan Buddhisme pasti pernah mendengar ungkapan “aku mewarisi karmaku sendiri”. Ini umumnya diartikan sebagai pemikiran bahwa apapun yang dialami seseorang merupakan akibat dari karma yang diperbuatnya di masa lampau. Pertanyaannya, bagaimana dengan penderitaan yang dialami oleh suatu suku, kelompok, atau bangsa? Apakah ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang “kebetulan” melakukan karma yang sama?&nbsp;</p>



<p>Dari sini kita bisa melihat betapa kompleksnya karma. Tentu saja sekian juta orang Palestina tidak “kebetulan” melakukan karma buruk yang sama sehingga sama-sama ditindas tentara Israel. Karma seperti ini disebut “<a href="https://studybuddhism.com/en/advanced-studies/lam-rim/karma-advanced/collective-karma-and-natural-disasters">karma kolektif</a>”, suatu karma yang matangnya dialami oleh banyak orang secara bersamaan karena mereka dulu bersama-sama terlibat dalam karma penyebabnya.  Pengalaman setiap individu mungkin berbeda karena tindakan persis yang dilakukan masing-masing orang di masa lampau juga beragam, jadi meski sama-sama dilanda perang, ada yang meninggal, ada yang bertahan hidup, dan ada yang “aman” di negara lain. Namun, mereka tetap memiliki kesamaan sebagai satu bangsa.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" width="500" height="249" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-4.png" alt="" class="wp-image-10098" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-4.png 500w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-4-300x149.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-4-150x75.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-4-450x224.png 450w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" /></figure></div>


<p>Setelah memahami soal adanya karma kolektif ini, apakah “ditindas kelompok lain” masih bisa menjadi alasan yang sah untuk balas menyakiti kelompok penindas tersebut? Penindasan dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan, tapi jika siapapun yang bertindak sebagai hakim atau algojo untuk “menghukum” pelakunya, hanya akan menghimpun karma buruk bagi dirinya sendiri. Jika “penghukuman” ini dilakukan secara berkelompok, maka karma kolektif baru pun terbentuk. Dengan begitu, konflik tidak akan pernah berakhir.&nbsp;</p>



<p>Lebih lanjut, ketika kelompok lain ikut melakukan “penghukuman” atas nama solidaritas, entah itu dengan serangan militer, kekerasan terhadap perseorangan, atau hujatan di media sosial, maka satu kelompok baru terlibat dalam lingkaran setan karma buruk kolektif ini. “Jika mata dibalas dengan mata, seluruh dunia akan buta” pun menjadi benar adanya.</p>



<h2><strong>Ketidaktahuan yang Mengakar</strong></h2>



<p>Ketika pemberitaan tentang konflik menjadi makanan sehari-hari, kita terkadang melupakan bahwa semua pihak yang terlibat pada dasarnya sama: takut akan penderitaan dan ingin bisa bahagia. Namun, kebodohan batin yang mengakar sejak berkehidupan-kehidupan lampau membuat orang salah fokus sehingga memunculkan konsep ada “aku” dan “yang lain”. Dari situ, muncullah sikap membeda-bedakan: teman harus disayang, musuh harus dilawan.&nbsp;</p>



<p>Ketika setiap hari muncul berita yang menyoroti konflik, orang-orang melihat “kelompok itu menyakiti kelompokku”, padahal kenyataannya adalah “kelompok itu sedang mencari kebahagiaan sama sepertiku, tapi cara yang mereka tahu ternyata menyusahkan orang lain”. Kesalahpahaman ini bukan hanya menjadi biang kerok perang antar negara atau golongan, tapi juga mendasari berbagai permasalahan kita sehari-hari. Misalnya ketika dikritik, hal pertama yang muncul di pikiran kita adalah “si anu sedang menyerang saya”, padahal si anu hanya ingin mengemukakan pendapat. Kenyataannya, kita sendiri pun pernah mengkritik hanya untuk menyampaikan isi pikiran tanpa keinginan untuk sengaja menyerang orang tertentu bukan?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10099" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-1536x1536.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-2048x2048.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-1200x1200.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/pzudaldn6o581-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>


<p>Hal ini jadi semakin konyol ketika terjadi pada kita saat menyaksikan pemberitaan konflik internasional. Apa yang dilakukan oleh orang lain di belahan dunia lain entah bagaimana caranya bisa membuat kita begitu terluka sehingga kita tidak tahan untuk bereaksi dengan amarah. Di satu sisi, bisa berempati dengan orang-orang yang jauh adalah hal positif, begitu pula dengan kesadaran tentang apa yang adil dan tidak adil. Namun, seperti yang telah dibahas sebelumnya, kemarahan yang bersifat reaktif akan menjadi sebab karma buruk baru yang memperparah keadaan.&nbsp;</p>



<p><em>Baca tentang definisi, bahaya, dan penawar untuk kemarahan di <a href="https://play.google.com/store/books/details/Kesabaran_Penawar_Kemarahan?id=pAP5DwAAQBAJ&amp;hl=en-US">sini</a> dan di <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Citta_Cetasika?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;hl=en-US">sini</a>.</em></p>



<p>Ketika respon kita mentok pada mengekspresikan kemarahan, melontarkan hujatan yang kita anggap “sanksi sosial” ke awanama di media sosial, dan mendukung persekusi terhadap pihak yang kita anggap “pantas menderita” tanpa proses perenungan apapun, hampir pasti pengaruh kemarahan dan kebencian pada saat itu lebih kuat dibanding welas asih. Satu orang melakukan hal tersebut akan mendatangkan karma buruk bagi diri sendiri. Bayangkan apa yang terjadi ketika 100 orang melakukan hal yang sama? Lebih lanjut, bayangkan apa yang terjadi ketika kemarahan reaktif seperti itu dianggap benar? Berapa banyak orang yang ikut melakukan, didorong untuk melakukan, atau bahkan merasa terkucilkan ketika tidak melakukan hal tersebut? Sebesar apa dampak karmanya?</p>



<h2><strong>Lawan dari Ketidaktahuan</strong></h2>



<p>Ketidaktahuan dalam Buddhisme disebut “<em>avidya</em>”. Secara harfiah, kata ini dibentuk dari bahasa Sanskerta “<em>vidya</em>” yang diberi awalan negasi “<em>a-</em>”. Kata “<em>vidya</em>” sendiri berarti kebijaksanaan. Sama halnya dengan kasus ini. Jika kemarahan reaktif disebabkan oleh ketidaktahuan, maka ketika ketidaktahuan itu diatasi, kita akan memiliki kebijaksanaan untuk melihat realita sebagaimana adanya dan menentukan sikap yang terbaik bagi semua pihak.</p>



<p>Lantas, seperti apa realita itu? Jika mereka yang diliputi ketidaktahuan melihat dunia terdiri atas kubu-kubu yang berselisih, maka realita yang sesungguhnya adalah sebaliknya, bahwa semua orang pada dasarnya sama: sama-sama takut menderita dan mendambakan kebahagiaan. Namun, masing-masing orang hanya bisa memperjuangkan kebahagiaan mereka dengan cara yang mereka tahu dalam batasan karma, pengetahuan, dan pengalaman mereka. Begitu kita membayangkan diri kita berdiri di posisi orang lain, kita akan menemukan bahwa tidak ada siapapun yang bisa kita salahkan.</p>



<p>Selain itu, hubungan kita dengan orang lain juga tidak kekal. Orang yang memusuhi kita di kehidupan ini bisa jadi merupakan sahabat dekat kita di masa lampau. Bahkan dalam lingkup kehidupan ini pun kita pasti pernah mengalami atau setidaknya menyaksikan fenomena serupa. Buat apa kita menghabiskan tenaga untuk bersitegang sekarang?</p>



<p>Buddha bahkan mengungkap kebenaran yang lebih radikal: bahwa semua makhluk, termasuk penjahat perang dan orang-orang yang adu hujat dengan kita di media sosial, sesungguhnya pernah menjadi ibu kita. Ini mungkin terjadi karena setiap makhluk telah mengalami tak terhingga kelahiran dalam siklus lahir-mati di samsara ini.&nbsp;</p>



<h2><strong>Kalau mata tidak dibalas dengan mata, dibalas dengan apa?</strong></h2>



<p>Setelah mengetahui semua realita ini, jelas bahwa membalas kebencian dengan kebencian bukan hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga sia-sia dan tidak masuk akal. Sebagai gantinya, Buddha menganjurkan kita untuk memadamkan api kemarahan dengan cinta kasih.</p>



<p>Cinta kasih ini tentu tidak bisa dipaksakan muncul tiba-tiba, apalagi dalam konteks perselisihan di jagad maya tempat orang-orang bisa berseteru tanpa saling mengenal. Namun, setidaknya kita bisa mengendalikan diri agar tidak lanjut menyakiti. Ini penting untuk menghentikan siklus pelaku-korban yang telah dijabarkan sebelumnya. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="490" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1-1024x490.png" alt="" class="wp-image-10095" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1-1024x490.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1-300x144.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1-768x367.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1-150x72.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1-450x215.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1-600x287.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-1.png 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya adalah ahlinya mengembangkan cinta kasih secara aktif. Baca tentang ajaran Beliau  di </em><a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/"><em>sini</em></a><em>.</em></figcaption></figure>



<p>Dalam skala pribadi, kita perlu benar-benar memahami cara karma dan batin bekerja. Minimal kita bisa mengenali emosi atau faktor mental apa yang muncul saat kita hendak “membela” sesuatu dan karma macam apa yang kira-kira akan kita himpun. Jadi, kita punya kesadaran penuh atas tindakan yang kita pilih alih-alih sekadar terbawa arus. Jika kita terpancing ingin marah-marah pada penindas, misalnya, kita bisa mengalihkan perhatian kita dan tenaga kita pada kebutuhan korban, membagikan cara-cara menyalurkan bantuan, memberikan semangat untuk aksi-aksi kemanusiaan, atau bahkan menghimpun kebajikan untuk dilimpahkan pada berakhirnya penderitaan dan terwujudnya perdamaian. </p>



<p>Dalam skala yang lebih besar, kita bisa mempelajari gerakan-gerakan tanpa kekerasan seperti perjuangan Mahatma Gandhi untuk kemerdekaan India dan Y.M.S. Dalai Lama untuk pelestarian budaya Tibet. Tidak ada gerakan yang sempurna, tapi setidaknya kita perlu membuka wawasan tentang opsi lain dalam memperjuangkan keadilan. Ternyata ada lho cara-cara selain menyerukan perang atau balas dendam!</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" width="800" height="534" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-2.png" alt="" class="wp-image-10096" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-2.png 800w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-2-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-2-768x513.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-2-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-2-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/06/image-2-600x401.png 600w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption>Nelson Mandela, Y.M.S. Dalai Lama XIV, Mahatma Gandhi &#8211; Pejuang Kemanusiaan yang Diabadikan di Museum Patung Lilin Madame Tussauds, Amsterdam</figcaption></figure>



<p>Jika pemahaman Dharma kita sudah lebih mendalam, kita akan menyadari bahwa penderitaan ataupun rasa tidak nyaman yang kita alami adalah karma buruk yang perlu kita tanggung. Ini termasuk komentar, kiriman media sosial, ataupun berita apapun yang membuat kita kesal atau resah meskipun tidak secara langsung ditujukan kepada kita. Setelah menyadari hal tersebut, kita makin mantap untuk mengambil kendali atas reaksi kita terhadap karma tersebut: apakah kita mau mengikuti dorongan kemarahan atau menenangkan diri untuk mencari solusi yang lebih bijak?</p>



<p>Lebih lanjut lagi, ketika batin kita sudah lebih matang, kita akan bisa melihat segala bentuk perselisihan dari sudut pandang Buddhis: bahwa semua pihak sama-sama sedang menderita dalam siklus kebencian di samsara. Keinginan untuk menolong akan mengalir secara alami dan tercermin dalam setiap tindakan kita. Kita bahkan mungkin bisa punya cukup kemampuan dan kebijaksanaan untuk membuka mata orang-orang di sekitar kita sehingga mereka juga tidak ikut meneruskan siklus kebencian yang terlanjur terjadi. Satu orang ini akan mengajak satu orang lain, dan begitu seterusnya hingga karma kolektif baru tercipta: suatu karma kolektif yang berlandaskan kebijaksanaan dan welas asih sehingga menghasilkan dunia yang damai dan tercerahkan alih-alih buta akibat balas dendam yang tak ada akhirnya.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/06/26/perang-dunia-buddhis/">Jika Mata Dibalas Mata, Kita Akan Perang Dunia Ketiga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/06/26/perang-dunia-buddhis/">Jika Mata Dibalas Mata, Kita Akan Perang Dunia Ketiga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2025 15:15:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hari buruh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10028</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hari Buruh setiap tahun biasa diwarnai dengan unjuk rasa. Kenapa buruh harus berdemo? Apa pandagan Buddhis tentang demo buruh?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2>Buruh demo bukan untuk foya-foya, tapi biar hidupnya tidak sengsara.</h2>



<p><a href="https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7891909/sejarah-hari-buruh-1-mei-yang-ditetapkan-jadi-hari-libur-nasional">Hari buruh</a> adalah hari peringatan internasional atas jasa dan upaya buruh dalam memperjuang hak-haknya di tempat kerja. Tanggal ini diambil dari unjuk rasa buruh di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886. Saat itu, 4 orang dihukum mati hanya karena memperjuangkan hak dasar buruh sebagai manusia.</p>



<p>Di Indonesia, para buruh juga biasa melakukan unjuk rasa setiap tahun pada hari Buruh.</p>



<h3 id="h-kenapa-setiap-tahun-demo-terus-apa-selama-ini-tidak-pernah-didengar-oleh-pemerintah"><strong>Kenapa setiap tahun demo terus? Apa selama ini tidak pernah didengar oleh pemerintah?</strong></h3>



<p>Didengar sih mungkin, tapi apakah sudah ditindaklanjuti? Sebelum jauh-jauh bahas pemerintah, apakah sesama rakyat yang tidak ikut berdemo sudah “mendengar” apa yang disuarakan oleh buruh?</p>



<p>Enam poin yang disuarakan oleh para buruh pada hari ini menurut Presiden Partai Buruh Said Iqbal (<a href="https://money.kompas.com/read/2025/04/30/194656726/6-tuntutan-buruh-akan-disuarakan-di-monas-pada-may-day-2025">Kompas, 2025</a>):</p>



<ol><li>Hapus <em>outsourcing</em>.&nbsp;</li><li>Upah layak.&nbsp;</li><li>Bentuk Satgas PHK (pemutusan hubungan kerja).</li><li>Meminta pemerintah mengesahkan RUU Ketenagakerjaan yang baru.</li><li>Meminta disahkannya RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT).&nbsp;</li><li>Berantas korupsi dan sahkan RUU Perampasan Aset.</li></ol>



<p>Dari keenam poin tersebut jika kita tarik benang merahnya para buruh bukan hanya menuntut kenaikan gaji, tapi mereka ingin:</p>



<ul><li>diakui sebagai manusia, bukan alat produksi.</li><li>punya perlindungan hukum.</li><li>dilibatkan dalam pengambilan kebijakan.</li><li>hidup dengan layak</li></ul>



<p>Mengapa buruh selalu ingin kenaikan gaji? Tentunya bukan hanya buat liburan ke Bali atau buat beli iPhone kok. Mereka semata-mata butuh bayar kontrakan, susu anak, ongkos kerja, dan sekali-sekali merasakan hidup normal tanpa dihantui rasa cemas tak bisa menyambung hidup.</p>



<p>Coba bayangkan, masih banyak buruh yang penghasilannya belum tentu cukup untuk:</p>



<ul><li>Sewa bulanan kontrakan kecil&nbsp;</li><li>Makan tiga kali sehari untuk satu keluarga</li><li>Ongkos ke tempat kerja</li><li>Biaya sekolah anak</li><li>Kebutuhan kesehatan dasar</li></ul>



<p>Padahal idealnya gaji itu setidaknya cukup untuk memenuhi sandang, pangan, papan.&nbsp;Jangankan buruh pabrik, buruh kantoran pun banyak yang kesulitan!</p>



<h2>Kenapa harus demo? Kenapa tidak kerja lebih keras?</h2>



<p>Jika masih ada yang berpikir buruh kerah biru yang bergaji rendah itu hanya malas atau kurang kerja keras, sudah <a href="https://tirto.id/mitos-buruh-malas-dibikin-belanda-digaungkan-penguasa-pribumi-f7Ls">banyak penelitian dan pembahasan yang mematahkan mitos tersebut</a>. Bahkan kalaupun ada buruh yang benar-benar &#8220;berpikiran pendek&#8221;, gaji UMR tapi motor N-Max, bayangkan bagaimana rasanya ada di posisi mereka: miskin sejak kecil tanpa harapan bisa mencapai keadaan yang lebih baik. Jika ada uang lebih sedikit, siapa yang tidak tergoda untuk mengejar sedikit kesenangan di tengah hidup panjang yang sudah pasti penuh derita?</p>



<p>Buruh pabrik di Indonesia 70% adalah lulusan SD (<a href="https://investor.id/business/395868/belum-sesuai-harapan-ini-tantangan-buruh-indonesia">investor.id</a>), tapi itu bukan karena mereka bodoh atau malas,, tapi karena pendidikan masih tak terjangkau. Buruh bukan anti belajar, tapi mereka belum mendapatkan ruang untuk bernapas.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXctr-HKig_PfAEvxeWg-vSUUkLSMmyNfxmhSFtP8QcNWtwUNAGw9jHd5tsxE3iD1mLtNc0EPzADSBpydS8Fi3LVyolPx7PL0MZyYiOSVlS0xzy2m09VnwtKBnRPA2kh_d8rIPUg?key=mnSQF1AbOIPm6Cv7n-KyNFRu" alt=""/><figcaption><a href="https://www.hukumonline.com/klinik/a/ditegur-atasan-karena-belajar-pada-jam-kerja-lt4fdea98432ab6/">hukumonline.com &#8211; “Ditegur Atasan Karena Belajar pada Jam Kerja”</a></figcaption></figure></div>


<p class="has-text-align-center"><img style="" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdnmhsGCrUtRlZ7wqouGhZ3Lh9Vd8kgjbHMooCUvCxyatiMebHNuMEhI0BfiYnJSoG2QwgFFbmZndewyxQ0UFcn03K0xrKEd9cO1PCdpELj3bQv96A8ymBTeEFtcsPlj_3cISY?key=mnSQF1AbOIPm6Cv7n-KyNFRu"></p>



<p class="has-text-align-center"><a href="https://lamrimnesia.org/2023/06/28/audiobook/"><em>Iwan Pranoto &#8211; &#8220;Mengembalikan Budaya Belajar&#8221;</em></a></p>



<h2>Buruh, Karma, dan Kesalingbergantungan</h2>



<p>Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kemiskinan bukan hanya disebabkan oleh kurang usaha, tapi karena permasalahan struktural. Dalam hal ini, pemerintah dan korporasi yang memegang keputusan. Hari Buruh sendiri secara historis merupakan bukti nyata bahwa unjuk rasa merupakan salah satu cara yang efektif untuk mendesak pihak-pihak tersebut untuk memikirkan orang banyak alih-alih mementingkan diri sendiri.</p>



<p>Dari sudut pandang Buddhis, hidup miskin dan terjebak dalam pekerjaan yang tidak layak merupakan buah <a href="https://play.google.com/store/books/details/Karma_Akibatnya?id=OZiWDwAAQBAJ&amp;hl=en-US">karma</a> buruk di masa lampau. Sebaliknya, kesejahteraan materi dan pekerjaan mapan merupakan buah karma baik. Siapapun yang merasa hidupnya berkekurangan tentu perlu bisa menerima karma buruknya, introspeksi diri, dan berupaya untuk menghimpun lebih banyak kebajikan untuk kehidupan yang lebih baik. Namun, karma baik baru bisa berbuah jika kondisinya mendukung. </p>



<p>Unjuk rasa untuk memperjuangkan hak buruh bisa jadi merupakan salah satu kondisi yang dibutuhkan untuk mewujudkan kondisi tersebut. Apakah orang yang berunjuk rasa pastilah orang-orang yang tidak terima karma mereka? Apa mereka tidak pernah bekerja keras dalam profesinya atau berupaya mengumpulkan karma baik. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang berhak menghakimi. Namun, adalah fakta bahwa tanpa unjuk rasa kaum buruh pada  1 Mei 1886 dan tahun-tahun berikutnya, kehidupan manusia secara umum mungkin lebih buruk dari sekarang. Kerja 18–20 jam sehari, siapa yang tahan? </p>



<p>Jika kamu buruh yang sudah mapan (ya, selama kamu kerja dengan orang lain dan terima gaji, kamu tetap buruh walau jabatanmu <em>general manager </em>sekalipun), bermuditalah atas karma baikmu, tapi ingat juga bahwa batas waktu kerja 40 jam seminggu, jaminan sosial, dan banyak hal lain yang kamu punya sekarang merupakan hasil perjuangan buruh di masa lampau. Jangan nyinyir dengan perjuangan buruh di masa sekarang. Demo mungkin sedikit mengurangi kenyamanannmu, tapi ini menentukan hidup-mati banyak makhluk yang sesungguhnya berjasa bagi hidupmu.</p>



<p>Jika kamu buruh yang masih berusaha memperjuangkan hak, bermuditalah atas perjuanganmu. Kamu hebat bisa bertahan sampai hari ini dan mau capek untuk kepentingan banyak orang. Jaga motivasi bajik, jangan tersulut emosi, ingat tetap menghimpun karma baik dan dedikasikan agar perjuanganmu berhasil dan memberikan manfaat untuk banyak orang dalam jangka panjang.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/30/hari-buruh-buddhis/">Merenungkan Demo Hari Buruh dari Sudut Pandang Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2025</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/04/25/yppln-triwulan-pertama-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2025 11:52:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Triwulan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9948</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ini dia aktivitas pelestarian &#038; pengembangan Buddha Dharma oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Dharma Januari-Maret 2025!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/25/yppln-triwulan-pertama-2025/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2025</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/25/yppln-triwulan-pertama-2025/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2025</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 300 Dharma Patron, 118 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan pertama tahun 2023! Ini dia aktivitas pelestarian dan pengembangan Dharma yang telah kita lakukan bersama:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-9949" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-9956" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Newsletter-Jan-Maret-2025.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1080" height="1920" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-9951" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-9952" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-9953" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<p>Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara?&nbsp;<br>Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia!</p>



<p>Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Care – +685 2112 2014 1</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/25/yppln-triwulan-pertama-2025/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2025</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/25/yppln-triwulan-pertama-2025/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2025</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
