Anak-anak keracunan dan tewas, tetapi yang diidamkan adalah generasi cemerlang. Tanah adat dirampas, tetapi yang dijunjung adalah pembangunan. Hutan dan pohon dibakar, tetapi yang terus dibicarakan adalah masa depan.
29 Oktober 2026, Braga menjadi ruang bagi Aksi Kamisan Bandung dan Jatinangor. Aksi tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga warga sipil lainnya. Tuntutan utamanya adalah pembebasan massa aksi. Terhitung sejak 20 Oktober 2026, ada puluhan kasus penangkapan, penculikan, dan kriminalisasi terhadap massa aksi yang dilakukan oleh Polda Jabar. Selama 2 tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran, tak terhitung berapa banyak kasus penyelewengan kekuasaan yang menyebabkan hak dan ruang hidup direnggut, mulai dari Makanan Bergizi Gratis (MBG), ketimpangan sosial, pendidikan, dan kesehatan, pembakaran hutan dan lahan secara sengaja hampir di seluruh wilayah Indonesia, pajak terus dinaikkan, korupsi merajalela, diskriminasi kelompok minoritas dan rentan, hingga pembungkaman dan maraknya penangkapan warga sipil.
Bukan aksi musiman, sejak 18 Januari 2007, Aksi Kamisan digelar secara rutin tiap Kamis untuk menyuarakan tuntutan penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, terutama di zaman Orde Baru, sekaligus sebagai cara untuk merawat ingatan kolektif. Walau begitu, aksi ini sudah digagas sejak tahun 2006 dalam pertemuan Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK), dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) yang mencari cara-cara alternatif untuk memperjuangkan hak-hak korban pelanggaran HAM berat. Alih-alih membuahkan hasil yang diharapkan, para penyintas dan keluarga korban sampai hari ini tak kunjung mendapatkan keadilan.
Aksi Kamisan sendiri terinspirasi dari Association Madres de Plaza de Mayo (AMPM) atau “Ibu-Ibu Plaza de Mayo” di Argentina. Sejak April 1977, mereka meminta keadilan atas pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim militer Jorge Rafael yang mengakibatkan sekitar 30.000 orang dibunuh, diculik, dan dihilangkan secara paksa. Setiap hari Selasa sore, mereka yang beraksi mengenakan simbol kain kerudung dan pakaian berwarna putih sebagai simbol duka. Tidak hanya Aksi Kamisan, gerakan mereka juga menginspirasi banyak aktivis HAM di banyak negara.
Dengan semua kegelisahan, kemarahan, dan rasa pesimis akibat rentetan kasus penyelewengan kekuasaan di negeri ini, kini yang terus mengusik benak penulis adalah pertanyaan tentang masa depan seperti apa yang sedang diupayakan? Penulis memutuskan hadir dalam Aksi Kamisan sore itu dengan membawa semua kecamuk yang ada.
“Hidup korban! Jangan Diam! Lawan!” dengan lantang dilontarkan berkali-kali. Di saat yang sama, penulis sedikit teralihkan oleh wajah orang-orang yang berlalu-lalang. Ada yang memerhatikan poster-poster kemudian beranjak pergi, ada yang melengos begitu saja, ada yang ngomel karena aksi tersebut membuat jalanan macet, dan ada juga yang meneriakkan semangat. Pandangan penulis kemudian beralih ke para massa aksi. Marah, kecewa, lelah, tetapi juga ada semangat yang tak padam. Mereka secara bergiliran menyuarakan tuntutannya, ada pula yang membacakan puisi. Ragam persoalan, tetapi harapannya sama: keadilan dan kesejahteraan ruang dan hak hidup sesama makhluk ditegakkan.
Melebur bersama massa aksi, menyaksikan mereka tak berhenti berjuang dan bersuara di jalanan dengan berbagai risiko besar yang harus dihadapi, hingga rela mengesampingkan urusan pribadi demi mewakili mereka yang tidak bisa bersuara, sedikit bisa menambal rasa pesimis penulis dalam melihat negeri ini. Dari aksi protes dan hujan-hujanan di sore itu, untuk sekali lagi penulis meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada kekuatan di antara kita.
Welas Asih di Ruang Aksi

Sosok yang pertama kali terlintas di kepala ketika membicarakan Aksi Kamisan adalah Maria Catarina Sumarsih. Ia adalah ibu dari Bernardinus Realino Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang tewas tertembak dalam Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998. Hampir 28 tahun berlalu, Sumarsih tetap setia berdiri setiap Kamis sore di depan Istana Merdeka dengan payung hitamnya, menuntut keadilan untuk sang anak beserta korban pelanggaran HAM berat lainnya. Keteguhannya menyalakan api solidaritas hingga Aksi Kamisan terus berlipat ganda dan berjejaring ke berbagai kota, termasuk di Braga sore itu.
Di tengah barisan payung hitam, simbol tiga jari belakangan ikut diacungkan. Terinspirasi dari Revolusi Prancis, simbol ini berarti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, di mana ia dijadikan lambang perlawanan sipil terhadap represi kekuasaan yang kian mempersempit ruang hidup dan demokrasi. Di balik ketegaran Sumarsih, payung-payung hitam, dan acungan tiga jari itu sesungguhnya ada satu hal yang sama-sama sedang dirawat: welas asih.
“Turun ke jalan adalah salah satu bentuk cinta terhadap diri sendiri sekaligus merawat nurani kepada sesama dan memperpanjang napas perjuangan!” terang salah seorang orator Aksi Kamisan 29 Oktober lalu.
Semua hal ini mengingatkan penulis pada buku yang pernah dibaca, seperti “Hati Tanpa Gentar” yang ditulis oleh Thubten Jinpa. Buku ini memaparkan tentang melatih batin untuk berwelas asih kepada diri sendiri, orang-orang yang kita cintai, dan lingkaran yang lebih luas, serta manfaat welas asih dalam kehidupan kolektif kita. Berangkat dari ajaran atau nilai-nilai universal dalam Buddhisme, buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan.
Welas asih sebetulnya ada di dalam diri setiap orang. Ia adalah dorongan batin yang menolak melihat makhluk lain menderita. Bedanya hanya terletak pada sejauh mana rasa itu dilatih dan dipraktikkan. Mengasihi diri sendiri tidak bisa dipisahkan dengan kepedulian terhadap sekitar, persis seperti orasi yang disuarakan di jalanan. Gerakan hari ini pun semakin meluas; protes yang muncul tak lagi cuma membicarakan kepentingan manusia, tapi juga alam, satwa, dan seluruh ekosistem yang ikut terancam oleh kesewenang-wenangan kekuasaan.
Masihkah Ada Harapan?

Di sela-sela aksi, penulis sempat berbincang singkat dengan Marha, seorang mahasiswi program studi Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia. Kepeduliannya terhadap kawan-kawan disabilitas membuka pilu lain yang masih tidak terjamah secara utuh baik dari pemerintah maupun gerakan-gerakan kolektif kita. Baginya, hadir di Braga bukan sekadar bentuk solidaritas simbolis, melainkan upaya mendesak agar ruang aman dan akses yang setara benar-benar terwujud.
Mewakili kawan-kawan disabilitas, salah satu hal yang paling menyulitkan mereka di masa sulit ini adalah akses dan jaminan kesehatan yang sangat timpang. Ada sekitar 80 titik puskesmas di Kota Bandung, tetapi hanya satu puskesmas yang cukup mudah diakses oleh penyandang disabilitas. Tak hanya itu, trotoar yang tidak layak juga seringkali menjadi hambatan bagi mereka untuk beraktivitas. Kenyataan ini menunjukkan ironi yang menyesakkan. Ketika krisis ekonomi, kenaikan pajak, hingga pemangkasan subsidi makin mencekik warga biasa, kelompok rentan adalah pihak yang pertama kali dan paling parah terdorong ke jurang keterpurukan.
Bagi Marha, rutin turun ke jalanan adalah cara ia meyakinkan dirinya bahwa kita masih punya harapan untuk memperbaiki negeri ini. “Prabowo-Gibran harus lengser,” terangnya. Namun di sisi lain, hal itu juga tidak menjamin bahwa sistem negara akan berbenah jika pemerintahan selanjutnya punya pola kebijakan yang sama seperti yang sudah-sudah. Selain itu, konflik horizontal yang terus terjadi dan aksi protes yang terpecah-pecah membuat semuanya terasa lebih berat. Kita memang sudah lebih sadar bahwa ketidakadilan juga berdampak bagi unsur kehidupan lain yang menopang kehidupan kita. Namun, kesadaran itu sering kali patah di tengah jalan karena kita masih mudah diadu domba. Kita kerap disibukkan oleh pertengkaran antarsesama korban, merasa isu kelompok sendiri paling penting, dan akhirnya gagal membangun barisan yang utuh.
Dalam artikel ulasan buku “Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan” penulis pernah menulis tentang bagaimana konflik horizontal ini menggerogoti ekosistem pergerakan kolektif kita. Buku tersebut menjelaskan cara melatih empat kemuliaan batin: Upeksha (keseimbangan batin), Maitri (cinta kasih tanpa batas), Karuna (welas asih tanpa batas), dan Mudita (sukacita tanpa batas). Keempat laku ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk belajar memandang penderitaan setiap makhluk secara setara, sehingga empati kita tidak lagi berhenti pada sekat kelompok sendiri.
Pada akhirnya, melebur bersama orang-orang di jalanan menyadarkan bahwa perjuangan kita masih panjang. Memang tidak ada jaminan untuk kita menang melawan rezim ini. Namun, mereka yang berdiri puluhan tahun di bawah payung hitam dan melewati berbagai cuaca membuktikan bahwa perjuangan ini hanya bisa bertahan kokoh selama welas asih terus dirawat.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di ayobandung.id.
