Di media sosial, di surat kabar, di realita sehari-hari, berbagai tuntutan dan permasalahan struktural terus terjadi tanpa henti. Ada yang kehilangan keluarga, kehilangan ruang hidup, kehilangan harapan, kehilangan diri sendiri. Pertanyaannya bukan lagi tentang apa yang harus dilakukan agar tidak kehilangan diri di tengah kekacauan, tetapi bagaimana cara untuk tetap terhubung dengan diri sendiri tanpa mengaburkan kepedulian atas segala persoalan di luar sana?
Pada tanggal 2-4 Oktober lalu, digelar acara Unlock Your Potential Festival yang diinisiasi oleh Kalyana Learning Center, sebuah pusat kegiatan belajar masyarakat yang menyediakan berbagai program pengembangan diri di Kota Bandung. Acara tersebut menjadi titik temu berbagai individu untuk bisa bergerak, bernapas, dan mengekspresikan diri di tengah kondisi dunia seperti sekarang. Dalam salah satu rangkaian acaranya, NgeRujak (Ngerumpi Bijak) “Di Zaman Begini, Aku Bisa Apa?” bersama Lamrimnesia, para peserta diajak mengambil jeda sejenak untuk kembali mengenal diri sendiri dan merawat kepedulian bagi sesama di ruang hidup sekitar. Mulai dari semangat hidup, mengenal potensi diri, dan bergerak dengan apa yang dimiliki saat ini adalah serangkaian materi yang dibawakan dalam sesi NgeRujak.
NgeRujak sendiri merupakan rubrik siniar Youtube dari Lamrimnesia, sebuah yayasan nonprofit yang bergerak dalam bidang penerbitan buku dan pendidikan berbasis filsafat Buddhis. Melalui rubrik ini, berbagai topik keseharian dibahas dari sudut pandang Buddhisme yang universal untuk saling menguatkan di masa sulit. Meski hadir dalam format digital, sesi ini juga merambah langsung ke ruang masyarakat untuk menghadirkan pengalaman kolektif yang lebih nyata.

Dari hari pertama hingga hari ketiga, sesi NgeRujak di Unlock Your Potential Festival diawali dengan melatih napas. Para peserta duduk dalam posisi yang nyaman, menarik napas perlahan dan mendalam, lalu memusatkan perhatian pada udara yang dihirup. Setelah menahannya beberapa detik, udara diembuskan perlahan sambil mengeluarkan bunyi “hah”. Aktivitas ini diulang beberapa kali dengan tujuan mengondisikan pikiran agar lebih fokus dan tenang. Menarik dan membuang napas seperti ini sebenarnya adalah respons yang secara alami tubuh lakukan saat kita berada di bawah tekanan. Dengan mengaktifkan berbagai indera yang dimiliki selama sesi, peserta diajak untuk merasakan kehadiran diri secara utuh dan menghargai hal-hal berharga yang masih dimiliki saat ini.
Namun, ada satu hal yang terbesit jika menghubungkan latihan napas dengan membaca berita belakangan, sekadar bisa bernapas hari ini nyatanya adalah sebuah privilese. Tidak semua orang dan makhluk lainnya bisa merasakannya, sebab penindasan sistemik di luar sana terus merampas ruang-ruang hidup mereka.
Mengambil Jeda untuk Apa?

Di tengah banyaknya derita dan derasnya informasi, ada kalanya semuanya terasa terlalu penuh. Kita menjadi kelimpungan dan kehilangan diri sendiri. Sementara, kehadiran diri yang utuh dan seimbang adalah hal yang dibutuhkan untuk kita bisa tetap peduli, bersuara, dan merangkul sesama. Lantas, kita mulai bertanya, “Ketika harapan mulai pergi, apa lagi yang tersisa saat ini?“
Tubuh adalah hal paling realistis yang kita punya ketika harapan-harapan itu meredup. Tubuh itu ada dan menemani kita setiap saat. Ia merupakan instrumen pertama yang bisa digunakan untuk mengenali cara kerja atau potensi dalam diri. Selama latihan napas, dengan tubuh itulah para peserta diajak untuk mengingat momen-momen paling membahagiakan atau hal yang paling dihargai dari hidup dan diri sendiri. Ini adalah cara untuk kembali menemukan jalan menuju kehidupan yang penuh energi, terhubung dengan diri sendiri, dan merawat hal-hal yang bermakna dalam hidup. Kemudian, pertanyaan lainnya muncul, “Jika semua orang sibuk menenangkan dirinya, siapa yang akan punya waktu untuk peduli kepada sekitar?”
Welas Asih untuk Diri Sendiri dan Sekitar

Di zaman begini, orang-orang mencari berbagai cara agar tetap bisa waras dan merawat diri. Apakah itu salah? Tidak. Ada kalanya tubuh, pikiran, dan batin memang butuh untuk diistirahatkan sebentar. Bahkan kita semua mendambakan ketenangan, tidak terbatas pada manusia. Hanya saja, cara-cara dan hasil dari ‘kesadaran’ atau ‘ketenangan diri’ yang selama ini ditemukan di masyarakat modern lebih sering menjebak individunya, di mana seseorang tidak lagi peduli dan menarik diri ketika bertemu dengan persoalan yang terjadi di masyarakat akibat dari kecanduan akan ‘ketenangan batin’ itu sendiri.
Sebuah buku berjudul “Hati Tanpa Gentar” sekilas dibahas dalam sesi diskusi. Buku tersebut membahas manfaat dan cara-cara melatih batin untuk berwelas asih dalam kehidupan sehari-hari. Welas asih dimulai dengan mengembangkan rasa peduli terhadap diri sendiri. Tujuannya supaya kita bisa merawat dan mengasihi diri dengan kebaikan, pengertian, serta tidak larut dalam penghakiman diri yang berlebihan, terutama ketika sedang berhadapan dengan masa sulit. Karena kita adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain, kepedulian terhadap diri sendiri itu juga harus meluas ke sekitar. Berwelas asih kepada sekitar adalah cara untuk membangun kembali kehidupan yang seimbang, terhubung, dan saling menguatkan.
Dalam welas asih, terdapat latihan menetapkan niat dan membuat dedikasi. Menetapkan niat atau motivasi bertujuan untuk mengarahkan batin agar setiap tindakan atau aktivitas yang dijalankan selama satu hari bisa memberi kebahagiaan bagi banyak makhluk. Sementara, latihan membuat dedikasi merupakan pelengkap yang merefleksikan kembali tindakan atau aktivitas kita sehubungan dengan niat awal.
Para peserta kemudian bersama-sama mempraktikkan latihan tersebut, diawali dengan latihan napas seperti yang telah dipaparkan, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan reflektif: apa harapan atau hal baik yang ingin diberikan untuk diri sendiri, untuk sekitar, dan untuk dunia?
Dari situ, ada satu hal penting yang selama ini luput dan dimunculkan kembali di sesi NgeRujak sebagai refleksi kritis: mengambil jeda, melatih batin, atau memulihkan diri seharusnya bukan untuk menutup mata dari masalah yang terjadi di luar, tetapi untuk mengisi ulang kewarasan dan energi supaya kita bisa kembali bekerja secara optimal dalam memperpanjang napas kepedulian terhadap sekitar. Antara diri sendiri dan sekitar, keduanya seharusnya berjalan secara beriringan.
Belajar Mendengarkan

Di samping materi-materi tentang menemukan potensi dan keutuhan diri yang dibawakan, sesi NgeRujak juga mengajak untuk kembali belajar tentang sesuatu yang selama ini penting, tetapi disepelekan: mendengarkan. Kapan terakhir kali kita hadir secara utuh untuk mendengarkan ke dalam dan ke luar?
Mendengarkan dalam konteks ini bukan sebatas mendengarkan orang lain berbicara, tetapi mendengarkan juga adalah belajar memahami apa yang dibutuhkan diri sendiri dan apa yang dibutuhkan di sekitar kita. Kita sering terlalu fokus dengan masalah dalam diri sampai tidak punya waktu atau bahkan tidak ingin mendengarkan penderitaan sesama. Atau dalam kasus lain, ‘mendengar’ terasa sulit karena kita terlalu sering mengkritik diri sendiri sampai lupa bahwa ada banyak potensi positif dalam diri yang bisa digunakan untuk hal-hal bermakna, baik untuk diri sendiri maupun banyak makhluk.
Dengan kegelisahan, pengalaman, dan perspektif yang beragam, sesi NgeRujak membuka ruang bagi para peserta untuk bersama-sama mendengar tanpa menghakimi dan bisa saling terhubung. Kita butuh jeda sejenak untuk mengisi energi, kita punya tubuh untuk mengeksplorasi potensi diri. Namun, ketika bergerak sendirian dan mencari jalan pulang ke diri sendiri terasa berat, kita punya sekitar untuk berbagi, bertahan, dan saling menjaga.
