Sebuah potret peradaban tak tertandingi menjulang tinggi. Gedung-gedung pencakar langit berhias cahaya mewah, sains dan teknologi melaju pesat, hidup kian kemilau. Kita hidup di puncak kemegahan, menyatu dalam sebuah etalase yang disebut kemajuan. Di saat yang sama, ingar-bingar itu membuat manusia semakin terperosok dalam kekacauan.
Dengan jubah merahnya, seorang guru yang amat dihormati karena welas asihnya muncul di layar kaca. Ingatan masih berkelindan bagaimana sang guru kala itu, Dalai Lama ke-14, seakan duduk di hadapan penonton secara langsung.
“Wisdom of Happiness”, film dokumenter yang mengisahkan perjalanan spiritual, perjuangan, dan pesan-pesan kedamaian dari Dalai Lama ke-14, seorang pemimpin spiritual Tibet yang juga pernah menjadi pemimpin negara. Dokumenter garapan Barbara Miller dan Philip Delaquis itu tayang pertama kali tahun 2024 dan kembali diputar pada akhir Juni 2026 lalu menjelang peringatan World Tibet Day pada tanggal 6 Juli, bertepatan dengan ulang tahun Dalai Lama ke-14.
Ketentraman batin menjadi tema besarnya. Alih-alih dibawa melambung jauh ke kehidupan mendatang sebagaimana yang terdapat dalam Buddhisme, Dalai Lama justru menarik topik itu ke kehidupan saat ini. Berbagai isu penting yang saling terhubung diangkat dalam film itu, yaitu perjuangan Tibet meraih pembebasan, pendidikan, krisis alam, hingga kesetaraan gender. Ketika mata teduh itu disorot, film dimulai.
Dalai Lama dan Perjuangan Tibet
Film dibuka dengan potret Dalai Lama kecil, sebuah jejak masa kecil bocah usil yang sering membuat ayahnya kesal, kedekatannya dengan ibunya yang penuh belas kasih, hingga masa suka-dukanya belajar di biara. Saat itu, ia harus pisah dari orang tuanya dan dibesarkan di Lhasa, ibukota Tibet, dengan tata cara kehidupan biara yang keras. Layaknya anak-anak lain, Dalai Lama kecil selalu mencari ibunya ketika dimarahi guru. Baru saja kenangan itu diceritakan, kondisi memilukan ditampilkan. Kelaparan, penindasan, dan pembantaian adalah kondisi Tibet yang mewakili kekacauan dunia sekarang.
Cina pertama kali menginvasi Tibet pada tahun 1948 dengan maksud menguasai seluruh wilayah Tibet dan menjadikannya negara komunis. Berdasarkan Perjanjian Tujuh Belas Pasal tahun 1951 (perjanjian antara pemerintah pusat Cina dengan pemerintah Tibet tentang langkah-langkah pembebasan Tibet secara damai), Cina berjanji tidak akan mengubah sistem politik Tibet, status, fungsi, dan wewenang Dalai Lama, akan menghormati kepercayaan dan budaya rakyat Tibet. Nyatanya, perjanjian itu dilanggar. Biara-biara dihancurkan, rakyat Tibet menjadi korban kerja paksa, tanah mereka dirampas, hingga etnosida digalakkan. Sampai saat ini, mereka masih hidup dalam represi.
Melawan dengan Welas Asih
Pada 9 Maret 1959, pecahlah aksi pemberontakan rakyat Tibet yang dikenal sebagai Pemberontakan Lhasa. Seluruh rakyat bersatu melindungi Dalai Lama dari ancaman penculikan sekaligus melakukan protes terhadap penindasan yang berlangsung di Tibet. Situasi berbahaya memaksa Dalai Lama harus lari ke pengasingan, India. Kala itu, hatinya dipenuhi rasa cemas, sedih, dan kacau karena harus meninggalkan rakyatnya yang berjuang.
Di tengah remuk redam negerinya, Dalai Lama memilih jalan perlawanan tanpa kekerasan. Tidak mudah untuk teguh di pilihan itu melihat bagaimana hak-hak hidup rakyatnya dirampas. Namun, membalas darah dengan darah bukan jalan keluar. Bagi Dalai Lama, kekerasan akan semakin menjauhkan dunia dari perdamaian dan hanya menciptakan siklus penderitaan baru. Pertanyaannya, bisakah penindasan benar-benar ditebas tanpa harus mengangkat senjata sama sekali?
Represi selalu memancing kita untuk bertarung di gelanggang amarah, membuat kita tak ubahnya seperti penindas. Kita menjadi asing dengan cinta kasih dan hilang kedamaian. Di saat manusia sedang berduka hebat akibat penindasan, welas asih adalah bentuk perlawanan tertinggi. Ia lahir dari kemarahan yang menolak diam ketika penindasan terjadi. Pikiran yang berwelas asih adalah pikiran yang tangguh; sebuah fondasi manusia untuk bangkit, mengatasi, dan melewati masa-masa terpuruk.
Alam, Cermin Kehancuran Manusia
Manusia dan alam ibarat satu tubuh; saling bergantung. Rentetan badai, kekeringan ekstrem, dan berbagai kerusakan alam hari ini tak lain adalah pantulan dari kemanusiaan kita yang babak belur karena saling menghancurkan.
Luka yang diderita rakyat Tibet mewakili luka di seluruh belahan bumi. Kehancuran itu menjalar ke alam. Tibet, dengan salju lebatnya adalah jantung ekologis bagi seluruh Asia. Wilayah ini menjadi sumber mata air utama yang mengalirkan kehidupan ke sungai-sungai besar Asia, seperti di India, Bhutan, Bangladesh, Nepal, dan Pakistan. Sayangnya, di bawah dominasi eksploitatif Cina yang diperparah oleh pemanasan global, perannya sebagai penyeimbang ekosistem kini menyusut hingga berdampak buruk pada seluruh kehidupan.
Kemilau Peradabannya, Terkubur Kemanusiaannya
Layaknya prinsip dasar fisika kuantum, asumsi pribadi dan fakta sering kali berlawanan. Dengan ilmu pengetahuan modern yang didukung berbagai penelitian objektif, kita bisa belajar menghadapi fakta dan persepsi pribadi dengan jernih. Sains juga membuktikan betapa menakjubkannya otak manusia merancang kehidupan yang lebih baik. Kini kita semua menggantungkan harapan pada kemajuan itu demi satu tujuan: kebahagiaan.
Kemajuan peradaban modern yang menawarkan beribu kenyamanan dan hidup serba praktis tengah kita nikmati bersama. Di balik itu, ada harga mahal yang harus dibayar. Persaingan begitu beringas, manusia terjerumus dalam budaya konsumtif dan tamak. Demi memuaskan hasrat yang selalu ingin ‘lebih’, kita tidak lagi ragu merusak kehidupan makhluk lain.
Kerusakan itu ditelanjangi di film itu. Manusia cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati. Batin tentram begitu sulit diraih, pendidikan merosot jadi sekadar ajang adu otak dan otot, manusia kini bagai robot tanpa perasaan. Sebuah pandangan menarik kemudian ditawarkan: sains dan Buddhisme perlu dipadukan. Ketika sains berambisi menaklukkan dunia luar lewat kemajuan teknologi, Buddhisme hadir menyentuh ruang terdalam manusia untuk menambal kekosongan batin. Jika otak dan batin berjalan seimbang, krisis kemanusiaan perlahan bisa diatasi.
Perempuan dan Kekuatan Welas Asihnya
Perempuan punya peran sentral dalam menciptakan kedamaian. Kita sudah sering menjumpai selebaran, buku, dan berbagai aksi memperjuangkan kesetaraan gender. Nyatanya, hingga hari ini ketimpangan itu masih subur. Masih banyak perempuan yang tidak mendapatkan hak setara dalam pendidikan, pekerjaan, bahkan kebebasan berpikir.
Dunia saat ini didominasi oleh pemimpin laki-laki yang kerap mengedepankan ego dan unjuk kekuatan otot. Mereka lebih sering mengabaikan perasaannya sendiri yang berdampak buruk pada gaya kepemimpinannya. Kekerasan, penindasan, pembantaian, kehancuran—inilah kenyataan yang tersaji di depan mata hingga hari ini.
Ada anggapan keliru yang terlanjur mengkristal di masyarakat bahwa kepekaan perempuan adalah sebuah kelemahan. Padahal, hal itu yang membuat perempuan memiliki cinta kasih melimpah dan naluri merawat kehidupan. Dunia butuh lebih banyak perempuan di kursi pemimpin untuk mewujudkan perdamaian dan kebahagiaan sesama tanpa harus melakukan kekerasan.
Dalam Buddhisme, ada sosok Arya Tara yang mewakili energi feminin dan dianggap sebagai ibu dari segala Buddha. Lahir dari air mata Awalokiteshwara (perwujudan Boddhisatwa welas asih tanpa batas yang mampu mendengar tangisan dunia) karena melihat penderitaan makhluk tak kunjung berakhir, Arya Tara hadir untuk memberikan pertolongan dengan cepat. Di tengah dunia carut-marut dan pembantaian terus terjadi di siang bolong, bukankah kita sangat membutuhkan kehadiran banyak sosok seperti Tara?
Pengetahuan Kuno tentang Batin Damai
Sebuah pertanyaan perlu dijawab bersama: Kita semua mendambakan kebahagiaan, tapi mengapa yang kita berikan kepada sesama justru penderitaan?
Kita sibuk menuntut dunia damai, tetapi batin sendiri hampa. Alih-alih membenahi batin, manusia lebih suka lari dari riuh masalah. Sayangnya, tindakan itu hanya akan menciptakan kerusakan baru bagi diri sendiri dan sekitar.
Dalai Lama memberikan sebuah pengetahuan kuno tentang batin damai yang kini terasa asing. Tarik napas mendalam, tahan dan diam sejenak, rasakan semua hal baik lewat udara kehidupan itu, lalu hembuskan segala bising di kepala pelan-pelan. Hasilnya tentu tidak muncul dengan cepat sebab pelatihan batin membutuhkan waktu. Sebulan, mungkin juga bertahun-tahun.
Film kembali menyoroti wajah Dalai Lama. Di balik kerutannya, terpancar keteguhan dan perjuangan panjang. Wajahnya seakan merangkum semua kelembutan yang terus ia berikan di tengah kehancuran dunia. Dan di ujung film itu, wajah sang guru perlahan menghilang, meninggalkan welas asihnya untuk kita semua.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di Kumparan
