“Karma adalah pacarku
Taylor Swift
Karma adalah Tuhan
Karma adalah angin semilir di rambutku di akhir pekan
Karma adalah pikiran yang menenangkan.”
Siapa yang sudah sering mendengar penggalan lagu di atas? Siapa yang baru pertama kali dengar? Seperti apa reaksimu? Mungkin ada yang berpikir: kok bisa-bisanya sih menganggap karma sebagai pacar? Apakah Taylor Swift Buddhis? Tapi kayaknya enggak gitu juga deh…
Di masyarakat umum, kita mungkin lebih sering mendengar kata “karma” digunakan dalam nuansa yang lebih negatif, misalnya saat seseorang kena celaka, ada yang berceletuk, “Rasain tuh kena karma!” Atau saat ada yang dijahati orang dan tidak bisa membalas, terlontarlah ujaran berikut, “Awas kau kena karma!”
Bagi seorang Buddhis, karma tak seharusnya dipandang sebagai kutukan, apalagi “dimanfaatkan” sebagai balas dendam dari semesta. Karma hanyalah kenyataan hidup yang tak bisa dihindari ataupun diingkari. Dan sama halnya dengan segala hal yang alami di dunia ini, hidup kita akan lebih bahagia kalau kita bisa “berkawan” dengan karma, atau bahkan sampai “pacaran” seperti di penggalan lagu Taylor Swift tadi.
Pertanyaannya: kok bisa “memadu kasih” dengan karma bikin kita lebih bahagia? Kalau memang bisa, bagaimana caranya mengakrabkan diri dengan karma?
Karma adalah akar semua kebahagiaan
Struktur Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim) menempatkan topik karma di “puncak” latihan motivasi awal, yaitu pada subbab memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang. Kata-kata persisnya adalah “Membangkitkan keyakinan terhadap karma dan akibat-akibatnya, akar dari semua kebahagiaan”.
Kata “akar” digunakan bukan hanya agar kalimatnya terdengar puitis. Kata tersebut ada sebagai penekanan bahwa semua kebahagiaan bisa diraih jika kita meyakini hukum karma. Perlu diingat juga bahwa “yakin” dalam Buddhadharma bukan sekadar keyakinan buta, tapi keyakinan yang berlandaskan pada pemahaman yang menyeluruh terhadap apa yang diyakini.
Dengan kata lain, jika kita benar-benar mempelajari apa itu karma sampai memahami cara kerjanya, kita pasti bisa meraih kebahagiaan apapun yang kita inginkan.
Sebenarnya karma itu apa sih?
Kata “karma” umumnya dipakai untuk membicarakan “hukum karma”, yaitu hukum sebab-akibat yang menentukan segala hal di semesta ini. Bahkan setitik debu yang menempel di baju kita pun merupakan akibat dari suatu sebab.
Lebih khususnya lagi, kata “karma” sendiri bisa diartikan sebagai dorongan mental yang mengarahkan kita untuk melakukan suatu tindakan, baik melalui tubuh, ucapan, atau bahkan tindakan mental. Dari sini, karma bisa dipandang sebagai niat ataupun perbuatan yang nanti akan menghasilkan akibat. Kadang kata “karma” dipakai untung merujuk pada akibat dari suatu tindakan.
Karma itu sendiri sangatlah kompleks Hanya seorang Sammasambuddha yang bisa mengetahui secara persis sebab-akibat karma dari suatu fenomena.
Untungnya, kita bisa mulai memahami rumitnya karma dari 4 sifatnya yang sudah dirangkum dalam penjelasan sederhana dalam Lamrim.
Sifat pertama: karma itu pasti
Jika kita menanam biji mangga, maka yang tumbuh pastilah mangga, tidak mungkin apel. Begitu juga karma. Suatu tindakan buruk pasti hasilnya tak menyenangkan. Sebaliknya, tindakan baik pasti menghasilkan hal baik pula.
Sifat ini bisa jadi pegangan kita setiap kali ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kalau itu hal yang bermanfaat dan disadari niat baik, kita bisa yakin bahwa kita akan panen kebaikan dari hal tersebut. Kalaupun kita gagal atau hasilnya tidak sesuai harapan, minimal kita jadi punya tabungan karma baik yang akan menguntungkan kita di masa depan.
Sebaliknya, kita juga tidak perlu buang-buang tenaga untuk membalas atau memaki orang yang semena-mena, baik yang sifatnya personal seperti tukang utang yang lebih galak dari pemberi utang sampai yang masif seperti koruptor dan penjahat perang. Cepat atau lambat, mereka pasti kena imbasnya. Bukan berarti kita tidak perlu mendukung upaya untuk membuat mereka berhenti merugikan orang lain, ya. Tapi kalau memang tidak ada yang bisa dilakukan, keyakinan pada kepastian karma akan melindungi kita dari rasa putus asa akibat “ketidakadilan dunia” dan mencegah kita melukai diri sendiri gara-gara menghujat atau membalas dendam atas dasar kemarahan.
Sifat kedua: karma berlipat ganda
Lanjut lagi dengan analogi tanaman, satu biji yang kecil bisa tumbuh jadi pohon besar dan berbuah banyak. Begitu juga dengan karma, satu tindakan kecil bisa menghasilkan akibat yang besar.
Banyak sekali kisah-kisah satu karma buruk kecil berujung pada kelahiran di alam rendah yang mengerikan. Dalam Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu, ada kisah biksu yang terlahir kembali sebagai kera selama ratusan kehidupan karena menghina orang. Ada juga orang yang terlahir kembali menjadi monster laut berkepala delapan belas karena disuruh ibunya mencemooh sesama anggota Sangha.
Sebaliknya, banyak juga kisah tindakan yang sangat kecil menghasilkan kebajikan yang luar biasa besar. Salah satu murid Buddha Sakyamuni selalu memiliki koin emas di tangannya berkat mempersembahkan emas hasil menjual kayu bakar pada Buddha Kasyapa di kehidupan lampaunya. Kera di Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu tadi juga akhirnya terlahir kembali sebagai manusia dalam kondisi yang sangat bajik dan mencapai tingkat kesucian berkat berdana madu kepada Buddha.
Sifat karma yang satu ini adalah reminder buat kita untuk berusaha menghindari karma buruk sekecil apapun karena akibatnya bisa luar biasa berat. Ngeri? Banget. Tapi di sisi lain, kita bisa optimis menghimpun karma baik yang enggak kalah luar biasa besar dari tindakan-tindakan kecil.
Sifat ketiga: kita tidak akan mengalami akibat karma yang tidak dilakukan
Kamu mungkin punya tanah yang subur, yang rajin kita rawat dengan pupuk kualitas terbaik, air melimpah. Tapi kok enggak ada yang tumbuh ya? Astaga! Ternyata bijinya belum ada!
Ini sangat sering terjadi di zaman sekarang. Banyak orang kerja keras bagaikan kuda, berharap bisa mencapai financial freedom di umur 30. Pengeluaran ditekan sesedikit mungkin. Makan sendiri pun diirit-irit. Berdana? Boro-boro. Eh ujung-ujungnya bukannya kaya, malah bangkrut karena sakit dan harus keluar banyak uang untuk berobat.
Mungkin ada yang berpikir, “Kan hemat pangkal kaya. Ini udah hemat, kok masih gagal juga? Karma gak adil dong.”
Ternyata selama ini kita salah paham antara sebab dan kondisi. Menurut hukum karma, sebab kelimpahan materi adalah kemurahan hati. Kerja keras, upgrade skill, dan financial planning adalah kondisi yang dibutuhkan agar karmanya bisa berbuah, seperti tanaman yang butuh air, sinar matahari, dan tanah yang subur untuk bisa tumbuh dengan baik. Masalahnya, semua kondisi itu akan sia-sia kalau kita lupa menyiapkan sebab yang sesuai.
Jadi, kalau kita merasa usaha kita tak kunjung membuahkan hasil, kita bisa cek ulang: apakah kita sudah menyiapkan sebab yang sesuai?
Ada satu angle lain tentang sifat karma yang satu ini. Kenapa bisa ada satu orang selamat ketika terjadi kecelakaan yang menewaskan ratusan orang? Kenapa bisa ada satu rumah lolos ketika satu kawasan dilanda bencana?
Umumnya orang akan bilang sebabnya adalah mukjizat luar biasa, tapi sebenarnya ini cuma cara karma bekerja, business as usual. Satu orang yang selamat dari kecelakaan itu mungkin pernah bikin sebab karma yang bikin dia kena musibah, tapi dia enggak punya karma untuk meninggal karena musibah itu. Dari sini kita jadi tahu bahwa kita tidak perlu cemas berlebih soal masa depan. Kalau kita tidak mau kena musibah, ya tinggal jangan bikin sebabnya.
Masalahnya, kita kan enggak tahu ya kita udah bikin karma aja dari kehidupan lampau. Tadi pagi turun dari kasur kaki kanan dulu atau kaki kiri dulu aja kita enggak ingat. Terus gimana dong?
Sifat keempat: karma yang sudah dilakukan tidak akan hilang begitu saja
Kenal Arya Maudgalyayana (B. Pali: Moggallana), murid Buddha yang paling sakti? Beliau bisa terbang, punya ilmu kebal, bahkan konon bisa “jalan-jalan” ke neraka, tapi meninggal dikeroyok rampok. Kesaktiannya mendadak “hilang” ketika harus menghadapi buah karma buruk membunuh orang tuanya di kehidupan lampau. Ada juga Arya Nagarjuna, filsuf besar yang konon berumur ratusan tahun, akhirnya meninggal terpenggal karena karma buruk memotong kepala seekor semut.
Dari sifat karma yang satu ini, kita bisa belajar bahwa ada hal-hal tak menyenangkan yang tidak bisa kita hindari. Kita enggak tahu karma apa saja yang sudah kita himpun dari berkehidupan-kehidupan lalu. Misalnya kita punya karma dapat bos toksik, kita lari ke planet Mars pun kita masih kan ketemu bos yang toksik sampai karma buruk kita habis.
Kok kayak takdir? Iya, tapi bedanya konsep karma sama takdir, kita mengalami penderitaan ini dan itu bukan karena ada sosok di atas langit yang sengaja ngerjain kita. Semua yang kita alami sekarang itu ya gara-gara ulah diri kita sendiri di masa lampau.
Tapi, kerennya Buddhadharma adalah kita enggak dibiarkan tenggelam dalam rasa bersalah. Iya, memang masalah kita sekarang itu kita yang bikin sendiri, tapi ketika kita mengalami si masalah itu, satu karma buruk kita sudah berkurang. Bagus kan? Dan kita bisa banget dari sekarang bikin karma baik yang banyak buat mempersiapkan masa depan yang lebih bahagia.
Lagipula, kata-kata persis dari sifat karma yang satu ini adalah “tidak akan hilang begitu saja”, bukan “tidak bisa hilang sama sekali”. Ternyata ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memurnikan atau melemahkan karma buruk yang terlanjur kita himpun. Praktiknya enggak gampang, jadi tetap lebih baik jangan bikin karma buruk sama sekali. Tapi, ini mengingatkan kita bahwa kita enggak perlu berkecil hati, minder, apalagi putus asa ketika terlanjur bikin karma buruk.
Baca tentang praktik pemurnian karma buruk di sini.
Sudah siap PDKT dengan karma?
Percaya enggak percaya, kebanyakan terapi atau healing emosional itu sebenarnya cuma penerapan konsep karma yang dibungkus ulang. Penerimaan diri, misalnya. Gimana caranya kita bisa menerima diri sendiri? Ya, pahami kepastian karma. Manifesting? Aslinya dedikasi karma baik kok. Dasarnya ya dari karma baik bisa berlipat ganda dan enggak akan hilang begitu saja. Be present? Kita bisa hadir sepenuhnya di momen saat ini kalau kita enggak mencemaskan masa depan. Gimana supaya bisa enggak cemas? Ingat kita enggak akan mengalami karma yang tidak kita perbuat plus praktikin purifikasi buat karma yang udah terlanjur lewat.
Setelah tahu sifat-sifat karma, langkah berikutnya adalah belajar tentang jenis-jenis karma yang perlu kita hindari dan kita himpun, macam-macam akibat karma, komponen atau jalan karma, faktor yang menentukan beratnya suatu karma, dan pembahasan khusus tentang karma yang dibutuhkan untuk punya kualitas matang seperti kaya, rupawan, terkenal, dsb. di masa depan.
Ketika kita benar-benar akrab dengan karma dan kita 100% yakin, sampai masuk ke hati, hidup kita akan jadi super damai dan ringan. Kita bakal bisa berdamai dengan masa lalu dan melakukan yang terbaik buat masa depan. Jangkauannya bukan cuma buat satu kehidupan ini saja, tapi sampai kehidupan mendatang, bahkan sampai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna! Yakin deh, pacar idaman kamu aja enggak bisa menemani kamu dan memberimu rasa aman sampai sejauh itu!
Referensi:
- Pembebasan di Tangan Kita Jilid II karya Phabongka Rinpoche
- Karma dan Akibatnya karya Guru Dagpo Rinpoche
