<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>lamrim - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/lamrim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Apr 2026 03:03:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>lamrim - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Neuro-spiritualitas &#8211; Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 19:17:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10285</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ternyata Trisarana atau berlindung pada Triratna bisa berpengaruh ke sistem saraf lho! Kok bisa? Ini penjelasan Trisarana menurut neurosains, Sutra, dan Tantra</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas – Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas &#8211; Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seringkali dalam perjalanan spiritual, kita terjebak dalam apa yang disebut sebagai &#8220;<em>bypass</em> intelektual.&#8221; Kita mengumpulkan konsep, menghafal definisi, dan merasa telah mengalami kemajuan hanya karena logika kita telah menyetujui sebuah teori. Namun, sebenarnya ada jurang yang lebar antara mengetahui jalan dan menapaki jalan tersebut.</p>



<p>Dalam tradisi <a href="https://www.instagram.com/reels/DEB1Dq9ysTw/">Je Tsongkhapa</a>, biasanya dikenal adanya tiga jenis kebijaksanaan:</p>



<ol type="1"><li>kebijaksanaan dari belajar</li><li>kebijaksanaan dari refleksi, dan</li><li>kebijaksanaan dari meditasi.</li></ol>



<p>Hal ini sejalan dengan apa yang Beliau sampaikan dalam &#8220;<a href="https://play.google.com/store/books/details/Je_Tsongkhapa_RISALAH_AGUNG_TAHAPAN_JALAN_MENUJU_P?id=UHg9EQAAQBAJ">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan</a>&#8221; (<em>Mahabodhipathakrama</em>):</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;<em>Seseorang harus mencapai pemahaman yang lahir dari belajar, kemudian melalui refleksi yang tepat, ia harus mencapai pemahaman yang lahir dari refleksi. Setelah itu, dengan membiasakan diri secara berulang-ulang terhadap objek yang telah dipahami secara meyakinkan melalui refleksi, ia harus mengembangkan pemahaman yang lahir dari meditasi.&#8221;</em></p><cite>Je Tsongkhapa</cite></blockquote>



<p>Jika kita membedahnya melalui lensa neurobiologi modern, kita akan menemukan bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak informasi yang tersimpan di otak, melainkan seberapa dalam informasi itu terintegrasi dalam sistem saraf.</p>



<h2 id="h-kebijaksanaan-dari-belajar-dimensi-kognitif-dan-insight"><strong>Kebijaksanaa</strong>n dari belajar<strong>: Dimensi Kognitif dan &#8220;<em>Insight</em>&#8220;</strong></h2>



<p>Kebijaksanaan dari belajar adalah gerbang pertama. Dalam konteks Buddhis, ambil contoh saat membahas topik Trisarana atau berlindung kepada Triratna. Tahap ini melibatkan pemahaman logis tentang mengapa seseorang perlu Trisarana, apa saja kualitas Triratna sebagai perlindungan, dan sikap-sikap disiplin seperti apa yang mencerminkan seseorang yang berlindung pada Triratna.</p>



<p><em>Baca ringkasan tentang Trisarana secara kognitif <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/20/apa-kamu-sudah-berlindung-trisarana-coba-jawab-pertanyaan-pertanyaan-ini-dulu/">di sini</a>.</em></p>



<p>Secara neurologis, ini adalah aktivitas <em>prefrontal cortex</em>. Kita membangun peta kognitif. Namun, jika berhenti di sini, kebijaksanaan tersebut hanyalah &#8220;data.&#8221; Ia belum menjadi bagian dari eksistensi kita.</p>



<p>Sama halnya pula, banyak praktisi yang fasih berbicara tentang kasih sayang atau ketenangan, tetapi sistem sarafnya masih berada dalam mode <em>fight-or-flight</em> yang kronis.</p>



<p>Ini adalah indikasi bahwa kebijaksanaan tersebut masih &#8220;tertahan di kepala&#8221; dan belum turun ke tubuh.</p>



<h2><strong>Kebijaksanaan dari Refleksi &amp; Meditasi: Masuk ke Dimensi Somatik</strong></h2>



<p>Perbedaan mendasar antara belajar dengan refleksi dan meditasi terletak pada keterlibatan tubuh:</p>



<ul><li>Refleksi bukan sekadar berpikir keras, melainkan merasakan kebenaran sebuah konsep dalam realitas pengalaman kita.</li><li>Meditasi, dalam bentuknya yang paling dalam, adalah stabilisasi dari rasa tersebut.</li></ul>



<p>Di sinilah kita perlu menambahkan dimensi somatik. Tanpa keterlibatan sistem saraf, kebijaksanaan dari refleksi dan kebijaksanaan dari meditasi mungkin hanya menjadi lamunan intelektual yang canggih.</p>



<p>Pertanyaan krusialnya adalah: Apakah kebijaksanaan ini memengaruhi cara sel-sel tubuhmu berperilaku?</p>



<h2><strong>Membedah Trisarana Melalui Tubuh</strong></h2>



<p>Mari sekali lagi kita ambil contoh praktis dari topik Trisarana. Secara teori, berlindung pada Triratna dilakukan karena:</p>



<ul><li>adanya rasa takut terhadap penderitaan dan</li><li>keyakinan pada kualitas objek pelindung.</li></ul>



<p>Bagaimana fenomenologi dari ketakutan dan keyakinan? Tubuh tidak pernah berbohong. Jika kita mengatakan kita &#8220;berlindung&#8221; tetapi tubuh kita tetap tegang, maka secara biologis, kita belum benar-benar berlindung:</p>



<ul><li>Saat takut: Bagaimana ekspresi tubuhmu? Biasanya muncul dalam bentuk bahu yang naik, napas yang dangkal di dada, otot perut yang keras, atau detak jantung yang cepat. Ini adalah aktivasi sistem saraf simpatetik.</li><li>Saat yakin dan berlindung (pada Triratna): Jika berlindung itu efektif, seharusnya terjadi pergeseran biologis. Keyakinan <em>(faith/conviction)</em> bukan lagi sekadar konsep, melainkan sebuah rasa aman.</li></ul>



<h2><strong>Indikator Tubuh yang Terintegrasi</strong></h2>



<p>Jika kebijaksanaan dari merenung dan kebijaksanaan dari meditasi seseorang telah bekerja, maka saat dia menyatakan &#8220;aku berlindung&#8221;, tubuhnya akan menunjukkan tanda-tanda berikut:</p>



<ul><li>Napas: Bergeser dari dada ke diafragma, menjadi lebih lambat dan halus.</li><li>Sistem Saraf: Aktivasi sistem saraf parasimpatetik (saraf vagus), yang menurunkan alarm bahaya di otak (amigdala).</li><li><em>Zone of Wellbeing</em>: Tubuh masuk ke dalam jendela toleransi (<em>window of tolerance</em>), di mana seseorang merasa terjaga namun sekaligus tenang.</li></ul>



<h2><strong>Integrasi Somatik dalam Metode Mendalam</strong></h2>



<p>Hal yang sama berlaku secara krusial ketika kita mempraktikkan metode-metode mendalam dari Je Rinpoche, seperti teknik &#8220;Mengambil Hasil sebagai Jalan&#8221; (<em>Taking the result as the path</em>).</p>



<p>Ambil contoh: visualisasi cahaya amerta dari Ladang Kebajikan. Bayangkan saat kita melakukan praktik di mana cahaya amerta dari Ladang Kebajikan masuk ke dalam diri, dan kita membayangkan bahwa diri kita memperoleh realisasi Dharma.</p>



<p>Atau contoh lain di penghujung meditasi Wajrasatwa, saat kita membayangkan cahaya amerta memurnikan semua kesalahan dan diri kita menjadi benar-benar bersih seperti kristal.</p>



<p><em>Baca lebih lanjut tentang visualisasi ladang kebajikan di buku <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Awali_Harimu_Dengan_Ini_Sebuah_Meto?id=je9DEAAAQBAJ">&#8220;Awali Hari dengan Ini&#8221;</a> dan &#8220;<a href="https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1181948">Ini yang Harus Kuperbuat</a>&#8220;</em></p>



<p>Secara teknis, pikiran Anda melakukan visualisasi. Namun, bagaimana respons saraf dan somatik tubuh saat menerima cahaya amerta tersebut?</p>



<p>Jika visualisasi itu &#8220;nyata&#8221; bagi sistem saraf, seharusnya ada sensasi fisik, seperti: pelepasan ketegangan di area <em>solar plexus</em>, rasa hangat yang menjalar, atau pelunakan otot-otot wajah.</p>



<p>Jika tubuh tetap kaku dan waspada saat cahaya &#8220;pembersihan&#8221; itu turun, berarti ada diskoneksi. Anda sedang melakukan simulasi mental, bukan transformasi biologis.</p>



<h2><strong>Integrasi Somatik dalam Praktik Tantra</strong></h2>



<p>Dalam praktik Tantra, saat seseorang memeditasikan pembangkitan diri sebagai istadewata tertentu, misalnya Awalokiteswara, tantangannya bahkan jauh melampaui imajinasi visual.</p>



<p>Pertanyaannya: Apakah tubuh dan sistem saraf kita benar-benar memasuki kondisi parasimpatetik yang mencerminkan kualitas welas asih tak terbatas dari Sang Mahakarunika?</p>



<p>Seringkali, pikiran membayangkan diri sebagai Awalokiteshwara, tetapi sistem saraf tidak mempercayainya. Sistem saraf mungkin masih terjebak dalam kondisi “<em>re-living”</em> trauma masa lalu atau masih sedang tersulut emosi terpendam.</p>



<p>Jika kita memvisualisasikan diri sebagai istadewata yang penuh kedamaian namun rahang kita mengatup keras dan perut kita melilit karena kecemasan, maka “istadewata” tersebut hanyalah topeng kognitif di atas sistem saraf yang sedang menderita.</p>



<p></p>



<h2><strong>Hambatan Utama: Buta Somatik</strong></h2>



<p>Masalahnya, kita seringkali &#8220;bicara seharusnya.&#8221; Kita tahu seharusnya merasa aman saat berlindung, sehingga kita memanipulasi pikiran kita untuk berpikir bahwa kita aman, padahal tubuh kita sedang berteriak sebaliknya.</p>



<p>Untuk benar-benar &#8220;konek&#8221; dan masuk ke dimensi meditasi yang transformatif, seseorang perlu belajar untuk membaca tubuhnya sendiri terlebih dahulu, atau kadang disebut sebagai literasi somatik:</p>



<ul><li>Dapatkah kita merasakan ketegangan di rahang saat memikirkan ketakutan?</li><li>Dapatkah kita merasakan sensasi hangat atau ekspansi di dada saat memikirkan kualitas yang mulia?</li><li>Dapatkah kita merasakan aliran amerta Wajrasatwa sebagai perubahan nyata dalam tekanan darah atau detak jantung Anda?</li></ul>



<p>Tanpa kemampuan ini, praktik spiritual hanya menjadi latihan mental yang kering. Kita menjadi &#8220;kepala yang berjalan,&#8221; yang terputus dari mesin biologis yang sebenarnya mengendalikan reaksi emosional kita.</p>



<h2><strong>Kesimpulan: Menuju Kebijaksanaan yang Utuh</strong></h2>



<p>Kebijaksanaan yang sejati adalah kebijaksanaan yang menubuh (<em>embodied wisdom</em>). Ini adalah kondisi di mana tidak ada lagi jarak antara apa yang diketahui oleh otak dan apa yang dirasakan oleh sel.</p>



<p>Integrasi antara “<em>insight”</em> intelektual dan respons somatik yang teregulasi adalah kunci dari transformasi yang nyata. Kebijaksanaan dari belajar memberi kita peta, tetapi hanya melalui refleksi dan meditasi yang melibatkan tubuhlah kita benar-benar sampai di tujuan.</p>



<p>Pikiran bisa menciptakan narasi dan alasan, tetapi tubuh tidak bisa berbohong. Jika perlindunganmu belum menyentuh sistem sarafmu, dan jika amerta Wajrasatwamu belum melembutkan ketegangan ototmu, maka perjalananmu baru saja dimulai di permukaan.</p>



<p>Penulis: Johnson Khuo<br><br><br><br><br></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas – Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/02/26/trisarana-dan-neurosains/">Neuro-spiritualitas &#8211; Mengapa Trisarana Harus Sampai ke Sistem Saraf</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2026 06:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10250</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, compassion (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah compassion adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita. Pemahaman ini tampak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, <em>compassion</em> (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah <em>compassion</em> adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita.</p>



<p>Pemahaman ini tampak masuk akal. Berbagai penelitian dalam psikologi positif mendukung gagasan bahwa altruisme dan perilaku menolong berkaitan dengan kebahagiaan dan kesehatan. Orang yang meluangkan waktu, tenaga, atau sumber daya untuk membantu orang lain cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Beberapa studi longitudinal bahkan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas relawan berkorelasi dengan penurunan risiko kematian, terutama ketika motivasinya benar-benar altruistik—yakni ingin membantu orang lain, bukan sekadar mencari manfaat pribadi.</p>



<p>Singkatnya, menolong orang lain memang baik, bukan hanya secara moral, tetapi juga secara psikologis dan biologis.</p>



<p>Namun, di titik inilah muncul sebuah ironi.</p>



<p>Di balik semua narasi indah tentang <em>compassion</em>, kita sering menjumpai paradoks yang mengganggu:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em><strong>“Orang-orang yang tampak sangat penuh compassion di ruang publik justru mudah marah, pahit, atau tidak sabar di ruang privat.”</strong></em></p></blockquote>



<p>Fenomena ini muncul pada aktivis sosial, pekerja kemanusiaan, guru, tenaga kesehatan, pemuka agama, terapis, relawan, bahkan orang tua yang berjuang keras demi keluarganya.</p>



<p>Secara publik mereka terlihat heroik, tetapi secara personal mereka rapuh. Ada kelelahan kronis, kepahitan, bahkan kemarahan tersembunyi yang tidak sejalan dengan citra moral yang mereka pegang.</p>



<p>Mengapa bisa demikian?</p>



<p>Fenomena ini mengajak kita untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:</p>



<p>Apakah <em>compassion</em> benar-benar berawal dari moralitas?</p>



<p>Ataukah <em>compassion</em> justru harus berakar pada kondisi tubuh (<em>bodily state</em>) yang teregulasi, sebelum berkembang menjadi nilai, niat, dan tindakan?</p>



<p>Seyogyanya, <em>compassion</em> terlebih dahulu harus mampu menjalankan fungsinya dalam meregulasi tubuh. Barulah kemudian ia dapat berkembang menjadi tindakan moral yang sehat dan berkelanjutan.</p>



<p><em>Compassion</em> seharusnya berakar pada fisiologi sebelum berkembang menjadi aturan etika.</p>



<p>Sebelum menjadi nilai, niat, dan tindakan, <em>compassion</em> perlu bermula sebagai kondisi sistem saraf yang teregulasi di dalam tubuh.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> terintegrasi di tingkat tubuh, tubuh akan:</p>



<ul><li>Memperoleh rasa aman yang benar-benar dirasakan (<em>felt sense of safety</em>);</li><li>Mengaktivasi sistem saraf parasimpatetis, khususnya sistem ventral vagal, yang pada gilirannya membuat napas lebih lembut, otot lebih rileks, dan ritme jantung lebih stabil;</li><li>Memiliki kapasitas untuk tetap hadir bersama penderitaan—baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain—tanpa perlu kolaps atau bereaksi secara agresif.</li></ul>



<p>Dalam kondisi ini, <em>compassion</em> muncul secara alami. Ia tidak dipaksakan. Tubuh pun cukup teregulasi untuk menghadirkan keterbukaan.</p>



<p><em>Compassion</em> yang bersifat moralitas semata tanpa melibatkan regulasi tubuh akan berubah menjadi kewajiban.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> diperlakukan hanya sebagai tindakan moral—sesuatu yang seharusnya dilakukan—ia sering kali berujung pada:</p>



<ul><li>Kepahitan dan kelelahan; serta</li><li>Superioritas moral atau agresi tersembunyi.</li></ul>



<p>Bukan karena <em>compassion</em> itu keliru, melainkan karena ia dipaksakan tanpa integrasi pada level tubuh.</p>



<p>Tubuh yang terdisregulasi namun dipaksa menjalankan compassion secara moral sering kali memunculkan:</p>



<ul><li>Mudah tersinggung;</li><li>Mati rasa secara emosional;</li><li>Inkonsistensi (ramah pada orang asing, keras pada orang terdekat);</li><li>Keterbelahan antara “kebaikan publik” dan “kepahitan privat”.</li></ul>



<p>Dalam situasi seperti ini, <em>compassion</em> sesungguhnya digerakkan oleh tekanan superego, bukan oleh kapasitas yang benar-benar terwujud di dalam tubuh.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, kita tidak sedang “memutuskan” untuk berwelas asih. Kita mendapati diri kita merespons dengan kepedulian.</p>



<p>Hal ini menyerupai cara seorang ibu atau pengasuh yang tenang secara alami menenangkan bayi yang menangis—bukan karena pertimbangan moral, melainkan karena sistem sarafnya mampu melakukan regulasi bersama antara pengasuh dan bayi.</p>



<p>Kehadiran hormon oksitosin, aktivitas sistem vagal, dan kemampuan mengamati pengalaman tubuh <em>(meta-awareness)</em> berperan sangat penting di sini.</p>



<p><em>Compassion</em> muncul ketika tubuh:</p>



<ul><li>Merasa berdaya;</li><li>Merasa terhubung; dan</li><li>Tidak sedang kewalahan.</li></ul>



<p>Baru setelah <em>compassion</em> hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, ia dapat diekspresikan menjadi tindakan atau etika yang nyata ke luar.</p>



<p>Jika <em>compassion</em> tidak dapat diakses secara internal pada level tubuh, ia tidak akan berkelanjutan secara eksternal.</p>



<p>Orang-orang yang kekurangan <em>self-compassion</em> yang terwujud di dalam tubuh sering kali:</p>



<ul><li>Hanya mengetahui “kata-kata yang benar”, dalam arti mampu mengajarkan atau mengkhotbahkan compassion;</li><li>Namun tetap keras, tidak sabar, atau menghukum diri sendiri dan orang-orang terdekat.</li></ul>



<h3 id="h-penting-untuk-diingat-ini-bukan-kemunafikan-melainkan-keterbatasan-sistem-saraf-ini-bukan-kegagalan-moral"><strong>Penting untuk diingat: ini bukan kemunafikan, melainkan keterbatasan sistem saraf. Ini bukan kegagalan moral.</strong></h3>



<p>Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemikiran kognitif untuk menuju ke <em>compassion</em> jika tubuh belum belajar mengenali rasa aman yang menyertainya.</p>



<p>Ini adalah proses internalisasi nilai.</p>



<p><em>Compassion</em> sebagai moralitas baru dapat hadir ketika ia telah berakar di dalam tubuh.</p>



<p>Tindakan moral yang lahir dari kondisi tubuh yang penuh <em>compassion</em>:</p>



<ul><li>Tidak bersifat reaktif;</li><li>Tidak digerakkan oleh ego; dan</li><li>Lebih selaras dengan realitas.</li></ul>



<p>Dengan demikian, etika dan moralitas seharusnya menunggangi fisiologi tubuh—bukan sebaliknya.</p>



<h3 id="h-bagi-mereka-yang-bekerja-dalam-bidang-pengasuhan-kepemimpinan-spiritual-atau-kerja-kemanusiaan-compassion-tanpa-regulasi-tubuh-berisiko-menciptakan-luka"><strong><strong>Bagi mereka yang bekerja dalam bidang pengasuhan, kepemimpinan spiritual, atau kerja kemanusiaan, <em>compassion</em> tanpa regulasi tubuh berisiko menciptakan luka.</strong></strong></h3>



<p>Karena itu, pelatihan <em>compassion</em> seharusnya mencakup:</p>



<ul><li>Literasi sistem saraf;</li><li>Praktik somatik;</li><li>Pengalaman rasa aman, relaksasi, dan kemampuan regulasi bersama; serta</li><li>Belajar merasakan sebelum belajar bertindak.</li></ul>



<p>Di sinilah <strong><em>power of tracking</em></strong> menjadi sangat penting, yaknibkemampuan untuk mengamati:</p>



<ul><li>Apa yang sedang dipikirkan <em>(thoughts)</em>;</li><li>Apa yang sedang dirasakan <em>(emotions)</em>; dan</li><li>Sensasi tubuh (<em>bodily sensations</em>) yang menyertai keduanya.</li></ul>



<p>Singkatnya, <em>compassion</em> tidak seharusnya dipahami semata sebagai kewajiban moral yang harus dicapai, melainkan juga sebagai kondisi tubuh (<em>bodily state</em>) yang teregulasi. Hanya dari kondisi inilah seseorang mampu tetap terbuka terhadap penderitaan tanpa harus mengeras ataupun berpaling.</p>



<h3 id="h-hanya-ketika-compassion-hidup-terintegrasi-di-dalam-tubuh-ia-dapat-berkembang-menjadi-moralitas-tindakan-dan-tanggung-jawab-tanpa-membakar-orang-yang-membawanya"><strong><strong><strong>Hanya ketika <em>compassion</em> hidup terintegrasi di dalam tubuh, ia dapat berkembang menjadi moralitas, tindakan, dan tanggung jawab—tanpa membakar orang yang membawanya.</strong></strong></strong></h3>



<p>Penulis : <em>Johnson Khuo</em> (Co Founder &#8211; Ayurjnana Wellness and Spirit Center)<br>Tulisan ini pertama kali terbit di <a href="https://kumparan.com/johnson-khuo/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu-26d4ZMJi9Rq" target="_blank" rel="noreferrer noopener">kumparan.com</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Dharma Lewat OST Wicked</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Nov 2024 10:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9614</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belajar Dharma tidak hanya melalui pengajaran dan membaca buku, kita dapat mempelajari Dharma lewat lirik lagu di film Wicked.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em style="font-weight: bold;"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">What is this feeling</mark></strong></em><em><strong> </strong>so sudden and new</em><br><em>I felt the moment I laid eyes on you</em><br><em>My pulse is rushing, my head is reeling</em><br><em>My face is flushing, oh, what is this feeling?</em><br><em>Fervid as a flame, <strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">does it have a name?</mark></strong></em></p>



<p>Pernahkah kita berusaha mengenal diri kita &amp; emosi-emosi yang muncul di batin kita sampai sedetail ini? Padahal udah diajarin lho sama Buddha, termasuk mana yang perlu dikembangin, mana yang perlu dilawan, lengkap dengan penawar-penawarnya.</p>



<p>Ketika kita nggak kenal diri kita dan emosi apa yang muncul di batin kita, kita bakal bikin diri kita dan banyak orang menderita. Sebaliknya, kalau kita udah mengenal diri dan bisa mengendalikan batin, kita bisa memberi manfaat ke banyak orang. Sama kayak Elphaba yang bikin kerusakan kalau ngamuk, tapi jadi sakti ketika udah bisa menerima dan mengendalikan diri!</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;gl=US">Citta &amp; Cetasika</a> dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/healing-emotions/">Healing Emotions</a>.</p>



<p></p>



<p><em>One short day,</em><strong><em> </em></strong><em>this</em><strong><em> <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">precious human rebirth</mark></em></strong><br><em>One short day full of so much to do</em><br><em>Every way that you look in the city</em><br><em>There’s something exquisite</em><br><em>you’ll want to visit</em><br><em>Before<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color"> </mark></em><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color"><em>your life’s</em></mark></strong><em> through</em></p>



<p>Kelahiran kita sebagai manusia yang sangat berharga ini seperti satu hari yang singkat di Emerald City. Banyak banget yang menarik untuk dilakukan, tapi waktu kita terbatas karena kematian bisa datang kapan aja. Pastinya kita nggak mau dong pergi sebelum melakukan sesuatu yang berarti?</p>



<p>Seperti Elphaba &amp; Glinda yang datang ke Emerald City dengan tekad untuk mewujudkan cita-cita mereka, kita juga harus manfaatin kelahiran kita sebagai manusia sebaik-baiknya untuk mewujudkan cita-cita penerangan sempurna!</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=Us38DwAAQBAJ">Kemuliaan Kelahiran sebagai Manusia</a>, <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Ini yang Harus Kuperbuat</a>, dan <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>.</p>



<p></p>



<p>&#8220;<em>Something has changed within me</em><br><em>Something is not the same</em><br><em>I’m through with playing by the</em><br><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">rules of cyclic existence</mark></em></strong><br><em>Too late for second guessing,</em><br><em>too late to go back to sleep</em><br><em>It’s time to </em><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">trust Triratna</mark></em></strong><em>,</em><br><em>close my eyes, and leap</em><br><em>It’s time to try </em><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">defying samsara!</mark></em></strong></p>



<p>Kita ini jauh lebih beruntung dari Elphaba. Tak perlu bisa sihir dan ketemu Wizard untuk tahu samsara ini “jahat”. Kita juga punya guru yang baik, tulus mikirin kebahagiaan kita, dan sudah duluan menunjukkan penderitaan di balik “baiknya” kenikmatan sesaat.</p>



<p>Elphaba aja bisa ninggalin kesempatan untuk berkuasa dan dipuja-puja demi kebahagiaan kaum yang tertindas. Buddha, Guru kita, sudah melakukannya teladan ini berulang kali, sejak ribuan tahun yang lalu. Kapan kita mulai ikutin teladan Beliau dengan serius berjuang demi kebahagiaan semua makhluk?</p>



<p>Baca juga: <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/12-aktivitas-agung-sang-begawan/">12 Aktivitas Agung Sang Begawan</a>, <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang</a>, dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/janji-setia-bodhisatwa/">Janji Setia Bodhisatwa</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 07:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgrimage Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6011</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa keyakinan, mengumpulkan kebajikan di Borobudur hanya akan jadi slogan kosong belaka</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Apa yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar ajakan “Ayo mengumpulkan kebajikan di Borobudur”? Tentu saja kemungkinan terbaiknya adalah menyambut dengan penuh semangat. Namun, tak sedikit juga yang mengeluh. Ada yang mengeluhkan jarak. Ada pula yang mengeluhkan banyaknya wisatawan yang membuat suasana tidak khusyuk. Ada juga yang berpikir begini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Buat apa ke Borobudur? Ke wihara juga bisa.”</p></blockquote>



<p>Pembahasan ini muncul dalam Lamrim Talk Seri Borobudur bertajuk “Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik”, persisnya dalam pemaparan Johnson Khuo, seorang Dharmaduta, praktisi bisnis, dan pecinta Borobudur.</p>



<p>Sebelum kita bisa mengajak seseorang untuk mengumpulkan kebajikan di Borobudur, kita harus tahu bahwa candi warisan nenek moyang kita itu memiliki satu fungsi yang lebih fundamental, yaitu sebagai situs ziarah untuk membangkitkan keyakinan atau <em>sraddha. </em>Fungsi ini juga berhubungan dengan sebab dari keluhan-keluhan tadi, yaitu kurangnya keyakinan dalam batin kita.</p>



<h4><strong>Ziarah, Praktik yang Diajarkan Sang Buddha</strong></h4>



<p>Dalam Mahaparinibbana Sutta dijelaskan bahwa sebelum Buddha parinirwana, Buddha mengajarkan praktek ziarah ke tempat-tempat tertentu yang bisa membangkitkan keyakinan. Instruksi untuk berziarah juga ada dalam Kanon Sansekerta, salah satunya adalah Sutra Gandawyuha yang mengisahkan peziarahan Sudhana untuk menemui para kalyanamitra yang menunjukkan jalan mencapai Kebuddhaan. Sutra ini juga terukir di Candi Borobudur. Dalam kelas Tantra tertentu, praktisi memiliki kewajiban melakukan ziarah ke situs-situs tertentu. Salah satu situs tersebut bahkan ada di Indonesia, yaitu Candi Bahal.</p>



<p>Johnson juga memaparkan perjalanan tokoh-tokoh Buddhis yang dikenal melakukan peziarahan, mulai dari Raja Ashoka yang berziarah untuk menyebarkan relik Buddha dan mendirikan stupa hingga Biksu Tang Xuanzang yang perjalanannya ke Nalanda menjadi inspirasi bagi hikayat “Perjalanan ke Barat” dan film “Kera Sakti”. Tidak hanya itu, Johnson juga menjelaskan bagaimana Nusantara menjadi salah satu tujuan peziarahan, dibuktikan dengan catatan perjalanan I-Tsing dan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana. Bahkan peziarahan Guru Atisha yang mencari guru ke Suwarnadwipa tidak hanya membuatnya meraih kemajuan spiritual yang luar biasa, tapi juga menjadi cikal-bakal Buddhisme Tibet yang berkembang di masa kini.</p>



<p>Kembali pada pembahasan tentang esensi dari praktik ziarah itu sendiri, Johnson menegaskan bahwa kata kunci dari ziarah adalah <strong>keyakinan</strong>. Beliau pun kembali menyebutkan kutipan dari Mahaparinibbana Sutta sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Inilah tempat yang bisa membangkitkan <strong>keyakinan</strong>… Para biksu, biksuni, upasaka, dan upasika yang penuh <strong>keyakinan</strong>, jika datang ke sini dan berpikir… Jika mereka meninggal di tempat-tempat tersebut, maka mereka akan terlahir di alam surgawi.”</p></blockquote>



<h4><strong>Apa maksudnya KEYAKINAN?</strong></h4>



<p>Ketika menjelaskan cara kerja batin, Sang Buddha mengajarkan tentang faktor mental yang mewarnai batin setiap orang. Ketika faktor mental pengganggu muncul di batin kita, kita akan merasa gelisah. Tindakan yang kita lakukan pun akan menjadi karma buruk yang kemudian membuat kita tidak bahagia. Sebaliknya, jika faktor mental bajik yang muncul, batin kita akan menjadi positif. Tindakan kita pun akan menjadi karma bajik yang mendatangkan kebahagiaan.</p>



<p>Keyakinan (Sansekerta: <em>Sraddha</em>; Pali: <em>Sadha</em>) adalah satu dari 11 faktor mental bajik yang bisa kita kembangkan. Dalam kitab Abidharma-samuccaya, keyakinan didefinisikan sebagai sebuah kepastian, kejelasan, dan pengharapan yang ditujukan pada objek yang memiliki kualitas-kualitas unggul. Keyakinan memiliki fungsi sebagai penyokong aspirasi. Dalan kitab Ratnolka-dharani, keyakinan dijabarkan dengan bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Keyakinan adalah pelopor, dan, ibarat seorang ibu, sang penghasil.</em><br><em>Ia menjaga dan meningkatkan segala kualitas unggul.</em><br><em>Ia mengenyahkan keraguan dan membebaskanmu dari keempat sungai besar.</em><br><em>Keyakinan menandakan kota kebahagiaan dan kebajikan.”</em></p></blockquote>



<p>Keyakinan yang dimaksud di sini tentu bukan keyakinan pada sembarang objek, melainkan keyakinan kepada Triratna yang terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Keyakinan di sini juga bukan berarti secara buta meyakini atau memuja Triratna, melainkan yakin yang didasari oleh pemahaman logis dan perasaan yang nyata.</p>



<p>Johnson menjelaskan bahwa dalam Buddhisme, keyakinan terbagi ke dalam tiga tahapan. Pertama adalah yakin karena kagum dengan kualitas eksternal, misalnya karena penampilan Buddha yang luar biasa: rupawan, bercahaya keemasan, dan dihiasi banyak sekali tanda-tanda yang mengagumkan.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/vtIPIHtINbrhl63vFATlSkTG7ch1PSuGfgwUQa-QTtBSHhTIdQLRuILzmmKouwQ5V9uCf8fE6F34PPGkU6vbkgS0pD6KDrYgO5kNCzo6vSneKWBdPCC0vebw6usaHaxRZKeCLncX" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Berikutnya adalah yakin karena hasil analisis, misalnya analisis terhadap hukum karma atau sebab-akibat. Kalau tadi kita kagum pada kualitas eksternal yang dimiliki Sang Buddha, kita bisa lanjut mencari tahu sebab dari kualitas itu. Kita pun akan menemukan bahwa kualitas itu merupakan hasil dari sepuluh juta kebajikan yang Beliau kumpulkan karena didorong oleh welas asih-Nya kepada semua makhluk. Kita pun semakin yakin pada Buddha karena paham bahwa Beliau telah berjuang menyempurnakan diri demi kita semua.&nbsp;</p>



<p>Tahapan terakhir dari keyakinan adalah keinginan yang kuat untuk menjadi seperti sosok yang kita yakini. Jadi, kita tidak berhenti pada kagum atau mengidolakan saja, tapi juga membangkitkan tekad untuk mengikuti jejak Sang Buddha untuk menjadi seperti-Nya sesuai dengan apa yang Beliau ajarkan.</p>



<h4><strong>Tanpa keyakinan, tidak ada usaha, tidak ada kebajikan</strong></h4>



<p>Kualitas bajik perlu dikembangkan setahap demi setahap. Tahapan ini dijelaskan Abhidharma-samuccaya &amp; Mahabodhipatakrama. Bermula dari keyakinan, muncullah aspirasi (<em>chanda</em>), yaitu keinginan kuat untuk memiliki kualitas-kualitas dari objek yang kita yakini. Aspirasi ini menghasilkan wirya atau batin yang bersemangat untuk mewujudkan aspirasi bajik. Wirya ini adalah obat dari segala macam kemalasan, baik itu sikap menunda-nunda, teralihkan oleh hal lain yang lebih menarik, maupun rasa tidak mampu. Dengan adanya wirya, kita akan meraih kelenturan (<em>prasrabhi</em>), yaitu kondisi di mana tubuh dan batin kita bisa dengan mudah melakukan berbagai aktivitas bajik sesuai dengan keinginan kita. Dengan demikian, kita pun bisa mengatasi semua halangan dan meraih semua kualitas baik yang kita cita-citakan. Kebajikan dan kebijaksanaan yang kita butuhkan untuk menjadi seperti Sang Buddha bukan lagi sekadar angan!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/2q0UZdHboL8DkTiGDtQyu7h5mpH9Z5ux0lWfsblBxoBpkYOrzqnBicSG2EuCsCs52CpFrAKJAaqKpyevjnGUQbe6hAduevWv_4HEhP0rWvcowX9JGl-N68IHTEIpIuJiVSO81_5P" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Keyakinan sendiri dalam praktiknya memiliki dua aspek, yaitu pemahaman dan perasaan. Kalau kita tidak punya keyakinan, tidak peduli sebanyak apapun keagungan Borobudur yang dijelaskan kepada kita, kita tidak akan merasa tergerak untuk pergi ke sana mengumpulkan kebajikan.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya bekerja lima hari seminggu, capek, saya merasa kebutuhan saya lebih terpenuhi dengan rebahan di rumah dibanding ketemu Buddha,” Johnson memberikan contoh, “Kita tidak punya keyakinan bahwa Buddha bisa memberikan solusi. Kita lebih percaya bahwa ranjang kita lebih bisa memberikan solusi, maka kita memilih ranjang. Kita tidak memilih Buddha.”</p></blockquote>



<p>Kita tidak sadar bahwa ranjang kita bukan solusi. Ia hanya bisa memberikan kenyamanan sementara. Kita juga tidak sadar bahwa kenyamanan itu berasal dari kebajikan yang harus kita kumpulkan dengan upaya. Jika kita tidak mengumpulkan cukup karma baik, semahal apapun ranjang yang kita tempati, kita tidak akan bisa beristirahat. Kalaupun kita bisa beristirahat, kita akan kembali merasa lelah saat hari kerja tiba dan diserang oleh berbagai emosi negatif yang membuat kita mengumpulkan lebih banyak sebab penderitaan. Kita perlu mengembangkan kualitas batin hingga terbebas dari samsara seperti yang diajarkan Sang Buddha agar bisa benar-benar berbahagia.</p>



<h4><strong>Ziarah ke Borobudur, upaya membangkitkan keyakinan</strong></h4>



<p>Keyakinan itu perlu dilatih. Agar kita bisa menumbuhkan keyakinan di batin kita, kita membutuhkan bantuan objek-objek eksternal. Karena itulah ada objek-objek suci seperti rupang Buddha, kitab suci, stupa, dan sebagainya. Misalnya dengan melihat rupang Buddha, kita bisa mengingat kualitas-kualitas Buddha, mulai dari kualitas tubuh yang dihiasi 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan, kualitas ucapan yang bisa menjawab pertanyaan semua makhluk dengan satu kata, hingga kualitas batin yang maha tahu dan memiliki welas asih yang sama sekali tidak pilih kasih. Ketika mengingat hal tersebut saat kita melihat sebuah rupang Buddha, kekaguman kita akan tumbuh. Dari situ kita bisa lanjut melakukan analisis hingga membangkitkan tekad untuk mengikuti teladan Buddha. Jadi, objek-objek suci berfungsi untuk membantu kita membangkitkan ketiga jenis keyakinan yang kita butuhkan untuk bisa mengumpulkan kebajikan.</p>



<p>Ziarah juga merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat membantu kita melatih keyakinan dan secara langsung dianjurkan oleh Buddha sendiri. Misalnya ketika kita melihat pohon bodhi tempat Buddha meraih penerangan sempurna di India, kita akan ingat bahwa pencapaian Kebuddhaan yang diraih Pangeran Siddhartha adalah fakta sejarah, bukan dongeng. Kita diingatkan bahwa dulu pernah ada manusia biasa yang mudah marah, mudah iri, dan punya segudang sifat buruk lainnya seperti kita berhasil menaklukkan semua sifat-sifat buruk itu dan meraih tingkat kesucian tertinggi demi kebaikan semua makhluk. Kita pun jadi sadar bahwa kita juga bisa menjadi seperti Beliau. Aspirasi kita akan bangkit dan kita pun akan dengan semangat melatih diri untuk menjadi lebih baik hingga meraih pencapaian yang sama.</p>



<p>Lantas, bagaimana dengan Borobudur? Candi Borobudur sendiri merupakan sebuah ladang kebajikan. Dari sudut pandang Tantra, peneliti dan pakar arkeologi Prof. Noerhadi Magetsari menyatakan bahwa Borobudur adalah sebuah mandala. Namun, umat Buddhis awam pun bisa dengan mudah menemukan aspek-aspek Triratna di Candi Borobudur. Di sana terdapat 504 patung Buddha. Dinding-dinding Candi Borobudur dipenuhi oleh relief Sutra yang dibuat berdasarkan kata-kata Dharma. Di dalam relief tersebut, terdapat tak terhitung banyaknya relief Bodhisatwa yang merupakan Ratna Sangha. Jadi, dapat dikatakan bahwa Candi Borobudur merupakan perlambang Triratna yang lengkap.&nbsp;</p>



<p>Setelah memaparkan hal tersebut, Johnson juga menjelaskan tentang Sila Berlindung atau Tisarana yang dimiliki oleh umat Buddha. Salah satu dari sila-sila yang harus dilatih adalah memandang representasi Triratna sebagai Triratna yang sesungguhnya. Ini berarti terdapat 504 Buddha sungguhan serta Dharma dan Sangha yang tak terhitung banyaknya berdiam di Candi Borobudur. Inilah yang menjadikan Borobudur tempat ziarah yang luar biasa bagi seluruh umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan.</p>



<p>Salah satu sosok yang telah membuktikan manfaat dari praktik Sila Berlindung ini adalah Arya Sariputra, murid utama Buddha Shakyamuni. Di salah satu kehidupan lampau-Nya, Beliau melihat lukisan Buddha dan mempersembahkan pelita sambil membangkitkan tekad untuk bisa bertemu Sang Buddha. Konon itu merupakan salah satu sebab utama yang membuatnya menjadi salah satu murid utama Sang Buddha.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/FDOrRhATYcjpzs6jHcpSRRI_UGKl6pgV0egu2T2kueuaGBKCedfURGTv5abcebd6e6EXGP81EmjWqBcwb8Q5vPptRBMeNNssUIc7AoFBVp37W4JJRivyVNfAUukksT6lpnts0_eN" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Manfaat membangkitkan keyakinan<br>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Kenyataannya, Buddha memang benar-benar hadir di mana-mana, termasuk di Candi Borobudur. Ini dijabarkan secara gamblang dalam kitab-kitab Buddhis. Salah satunya adalah sebuah bait dalam Arya Bhadracarya Pranidhana Raja yang juga terukir di Candi Borobudur itu sendiri.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“..Dengan percaya diri, saya melihat alam semesta ini demikian, seluruhnya dipenuhi oleh para Buddha.”</em></p><p>-Arya Bhadracarya Pranidhana Raja</p></blockquote>



<p>Ketika telah mencapai tingkat kesucian tertentu, seorang praktisi Buddhis akan bisa melihat setiap rupang Buddha sebagai tubuh Buddha yang sesungguhnya. Praktisi yang telah mencapai Marga Akumulasi bisa melihat patung dan lukisan Buddha sebagai tubuh Nirmanakaya yang sesungguhnya. Kemudian, ketika mencapai Marga Penglihatan (mulai dari bhumi Bodhisatwa pertama yang direpresentasikan oleh tingkat pertama Candi Borobudur), sang praktisi akan bisa melihat representasi Buddha sebagai tubuh Sambhogakaya yang sesungguhnya.</p>



<h4><strong>Kondisi Borobudur saat ini</strong></h4>



<p>Anggaplah kita sudah memiliki pemahaman yang tepat tentang pentingnya keyakinan dan fungsi Borobudur untuk membangkitkan keyakinan tersebut. Kemudian, kita datang ke Borobudur untuk melakukan ziarah. Ternyata, saat kita hendak merenungkan kualitas Buddha di Borobudur, orang-orang di sekitar kita malah menduduki stupa, berfoto, menempelkan permen karet, bahkan berpacaran.</p>



<p>Saat ini, Candi Borobudur memang tidak kondusif bagi umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan. Di saat yang sama, wisatawan umum pun pasti kesulitan mendapatkan pengalaman unik di Candi Borobudur karena aktivitas yang dikembangkan di sana lebih berorientasi pada hiburan yang sebenarnya bisa didapatkan di tempat lain.&nbsp;</p>



<p>Johnson memaparkan bahwa permasalahan ini seharusnya bisa diatasi jika umat Buddha dilibatkan dalam pengelolaan Borobudur. Mengingat Sila Berlindung yang dipegang umat Buddha, tentu saja tidak akan ada umat Buddha yang bersandar di stupa, apalagi melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fungsi asli Borobudur ataupun berpotensi merusak. Dengan masukan dari umat Buddha, kesakralan maupun keutuhan bangunan candi tentu akan terjaga.</p>



<p>Candi Borobudur sendiri saat ini memiliki tiga pemangku kepentingan: umat Buddha, Indonesia, dan dunia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita tidak bisa mengatakan borobudur adalah <em>world heritage</em>, maka kita prioritaskan dunia, terus umat buddha dikesampingkan. Tidak bisa juga kita bilang Borobudur adalah <em>world heritage</em>, indonesia berkorbanlah sedikit demi dunia,” cetus Johnson.</p></blockquote>



<p>Jika kita ingin kebutuhan ketiga pemangku kepentingan Borobudur ini terpenuhi, satu-satunya solusi adalah mengelola Borobudur dengan memakai filosofi Buddhadharma sebagai landasan. Dengan demikian, selain umat Buddha bisa khusyuk berziarah di Borobudur, Indonesia dan dunia pun mendapat manfaat dari terjaganya identitas Borobudur sebagai <em>world heritage </em>yang unik dan tiada duanya. Saat ini, kebanyakan wacana pengelolaan Borobudur yang diberitakan masih belum berkaitan dengan filsafat Buddhis sama sekali&#8211;mulai dari pendirian <em>science park, </em>kampung seni, bahkan yang terbaru adalah trayek balap motor. Kalau ini dibiarkan, Borobudur akan kehilangan identitas dan tak ada bedanya taman rekreasi biasa. Di sinilah kesempatan umat Buddha untuk berkontribusi bagi Indonesia dan dunia.</p>



<h4><strong>Keyakinan yang hilang</strong></h4>



<p>Setelah mendengarkan pemaparan Johnson seputar keyakinan, praktik ziarah, dan Candi Borobudur saya merasa sedang berhadapan dengan sebuah lingkaran setan. Di tengah segala macam perhatian yang mengarah pada Candi Borobudur, umat Buddha termasuk saya sendiri lebih banyak bergeming. Segala narasi tentang Borobudur sebagai “piwulang luhur” dan ajakan untuk mengumpulkan kebajikan dan kebijaksanaan di Borobudur tak membuat kita tergerak karena kurangnya keyakinan membuat kita merasa istirahat di akhir pekan jauh lebih penting dan mendesak. Padahal, kita butuh mengembangkan keyakinan agar bisa memiliki semangat dan melakukan upaya untuk mengatasi segala permasalahan kita sampai ke akar. Untuk membangkitkan keyakinan itu, kita seharusnya bisa melakukan ziarah seperti yang dianjurkan Sang Buddha ke Candi Borobudur yang sudah dibangun susah payah oleh nenek moyang kita untuk tujuan tersebut. Namun, Borobudur saat ini tidak kondusif untuk ziarah dan kita sebagai umat Buddha pun tak banyak melakukan usaha untuk memperjuangkannya, tentu saja karena keyakinan yang hilang dalam batin kita semua. Dengan keadaan seperti ini, bukan kita sendiri yang rugi, tapi Candi Borobudur terancam kehilangan identitasnya dan berubah menjadi <em>theme park </em>biasa. Perjuangan nenek moyang kita mendirikan monumen pengumpulan kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk terancam sia-sia karena kurangnya keyakinan kita.</p>



<p>Kemampuan untuk memutus lingkaran setan itu seharusnya ada di tangan kita. Kita bisa mulai dari mempertanyakan sejauh mana keyakinan yang kita miliki terhadap Triratna dan sebutuh apa kita akan karma baik yang baru bisa terhimpun ketika kita memiliki keyakinan tersebut. Kemudian, tanyakan lagi, semampu apa kita membangkitkan keyakinan itu dengan kemampuan diri sendiri yang masih gampang terbuai oleh kesenangan sesaat tanpa mengikuti instruksi Buddha untuk berziarah dan mengandalkan situs suci seperti Candi Borobudur?</p>



<p>Ketika kita bisa melepas kesombongan yang membuat kita merasa tidak membutuhkan bantuan Candi Borobudur ataupun objek-objek suci untuk melatih batin kita, barulah kualitas keyakinan punya ruang untuk tumbuh di dalam diri kita. Setelah itu, barulah kita bisa bicara soal mengumpulkan kebajikan di Candi Borobudur dan bergerak untuk memperjuangkannya.</p>



<p>Lamrim Talk &#8220;Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik&#8221; bisa disaksikan di <a href="https://youtu.be/UuOGS9dcS7w" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sini.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Borobudur Itu Apa Sih?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Sep 2024 12:43:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mandala]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5976</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Borobudur bukan sekadar tempat wisata. Borobudur adalah sumber inspirasi welas asih untuk Indonesia. Simak penjabarannya!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Siang itu, saat udara sedang dingin-dinginnya, saya sedang berbincang dengan kawan-kawan perihal Candi Borobudur. Kami pun bergiliran memberi pendapat tentang apa sih Borobudur itu. Ada yang bilang kalau Borobudur itu tempat berswafoto yang asyik. Ada yang bilang Borobudur itu tempat wisata yang kalau satu kompleksnya dikelilingi dengan jalan kaki bisa bikin keringat mengucur. Nah, ada pula satu kawan saya yang bilang Borobudur lebih dari sekadar tempat wisata ataupun swafoto, yaitu tempat ibadah umat Buddha. Saya pun ikut berpikir, jangan-jangan Borobudur ini bangunan bersejarah yang sangat sakral!&nbsp;</p>



<p>Daripada kita bertanya-tanya, lebih baik kita bahas bareng-bareng sebenarnya Borobudur itu apa. Jangan sampai kita berhenti mengenal Borobudur hanya sebagai bangunan warisan nenek moyang saja.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Kitab Suci Tiga Dimensi (3D)</strong></h4>



<p>Kok Borobudur dibilang kitab suci? Kitab biasanya berbentuk seperti buku dan tebal, mungkin lebih dari 100 halaman. Kita tahu kalau kitab suci agama Buddha itu berupa kumpulan teks yang kalau dikumpulkan mengisi penuh lemari. Borobudur kan bangunan, bukan teks, kok bisa jadi kitab suci?</p>



<p>Sebenarnya, Borobudur bukan sekadar batu yang ditumpuk indah menjadi bangunan bersejarah umat Buddha Nusantara. Tapi, Borobudur adalah sebuah kitab suci 3D yang sangat mewah. Kisah-kisah kehidupan manusia dari sebab dan akibatnya terukir di relief menjadikannya sebagai kitab suci pedoman manusia saat ini.&nbsp;</p>



<p>Berdasarkan informasi dalam buku Kearsitekturan Candi Borobudur yang diterbitkan oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, secara kosmologi Buddhis, Borobudur terdiri atas tiga tingkatan, yaitu <em>Kamadhatu</em>, <em>Rupadhatu</em>, dan <em>Arupadhatu</em>. Tapi, pernyataan ini pernah disangkal dan belum diperbaharui, karena TIGA TINGKATAN ini masih dalam samsara. Padahal, Candi Borobudur adalah sebuah lambang menuju pada Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/wIAllV1mQjLbEfeJS7rzdlhvgwguVVj8CP9KouW-jVeNxo9MaaLL_t11OleNiJsxgXIquFz8EDiD4Y77ruJ4u-W8rUX03viyReCLY46JT9xrzHvtvlqL3OnlewqvsvY0xolXx-Ke" alt="Sumber Foto: Sangha Vajrayana Indonesia"/><figcaption>Sutra &amp; Simbol Buddhis di Candi Borobudur</figcaption></figure>



<p>Mari kita ulas dari strukturnya dahulu. Candi ini terdiri atas sepuluh tingkat yang diduga merujuk pada 10 tingkatan Bodhisatwa dalam <strong>Dasabhumika Sutra</strong>, bagian dari Awatamsaka Sutra. De Casparis, seorang peneliti dari Belanda membuat rekonstruksi ulang nama candi ini dari kata “Bhumisambharabhudara” yang berarti “Gunung Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkat Bodhisatwa” dari Dasabhumika Sutra.</p>



<p>Dalam tradisi Buddhisme Mahayana, terdapat tingkatan kesucian praktisi yang dikenal dengan sebutan “Marga”. Mulai dari marga ke-3, yakni Marga Penglihatan, maka seorang praktisi mulai memasuki 10 tingkatan Bodhisatwa yang disimbolkan dalam 10 tingkatan Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Relief yang terukir pada dinding candi ini berdasar dari sutra dalam kitab suci agama Buddha. Pertama adalah <strong>Gandawyuha, </strong>bagian dari Awatamsaka Sutra yang mengisahkan perjalanan Sudhana mencari guru spiritual untuk mencapai Kebuddhaan. Dikisahkan bahwa Sudhana berguru pada 52 orang kalyanamitta dari berbagai kalangan, mulai dari ratu, kapten kapal, wanita penghibur, hingga seorang budak. Semua gurunya memberinya manfaat, sehingga ia sangat berbakti kepada mereka. Hingga akhirnya pada ujung relief Gandawyuha, Sudhana bertemu dengan Bodhisatwa Samantabhadra yang mengajarkan tujuan dari kebijaksanaan tertinggi adalah dengan memberi manfaat pada semua makhluk.</p>



<p>Dua orang guru Sudhana di relief Gandawyuha, Brahmana Jayosmayatana dan Siwa Mahadewa, adalah tokoh dari tradisi Hindu. Kehadiran tokoh ini menyiratkan adanya sinkretisme yang merupakan corak tradisi Tantrayana sejak awal kemunculannya di India. Ada pula tokoh Vasumitra, wanita penghibur yang menjadi guru Sudhana dan dikatakan dalam Gandawyuha mampu menggunakan belaian dan cumbuan sebagai <em>upaya kausalya </em>untuk membimbing para makhluk ke jalan Dharma. Pemilihan Gandawyuha dan kehadiran tokoh-tokoh ini dalam relief Borobudur menunjukkan bahwa Borobudur juga memiliki kaitan dengan tradisi Tantrayana.</p>



<p>Kemudian dalam relief <strong>Sutra Bhadracari</strong> terdapat doa dedikasi agung Bodhisatwa Samantabhadra yang hingga saat ini masih dilantunkan di setiap biara Buddhis di India, Tibet, dan Indonesia. Doa ini untuk membebaskan penderitaan dari semua makhluk dengan mencapai Kebuddhaan. Tentunya doa ini tidak hanya kita memohon pada Buddha, tapi menjadi pondasi semangat kita untuk menolong banyak makhluk.</p>



<p>Lalu ada pula relief sutra Jataka dan Avadana yang mengisahkan perjuangan Bodhisatwa untuk menyempurnakan <strong>paramita </strong>(<strong>sila</strong>-moral, <strong>ksanti</strong>-kesabaran, <strong>wiriya</strong>-semangat, <strong>dhyana</strong>-ketenangan batin, dan <strong>prajna</strong>-kebijaksanaan) di berbagai kehidupan selama berkalpa-kalpa.</p>



<p>Bodhisatwa akan segera menjadi Buddha setelah menyempurnakan paramita dengan terlahir sebagai manusia. Kisah hidup Bodhisatwa sebagai manusia dijabarkan dalam <strong>Sutra Lalitawistara</strong>. Beliau terlahir menjadi Siddharta Gautama dari rahim Ratu Mahamaya dan akhirnya memutuskan mencari jalan keluar penderitaan manusia setelah melihat empat hal&#8211;orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Beliau melakukan banyak hal seperti bertapa di hutan dan menyiksa diri selama 6 tahun hingga akhirnya beliau mencapai penerangan sempurna.</p>



<p>Untuk mencapai Kebuddhaan tentunya tidak terlepas dari praktik mendasar agama Buddha, yakni meyakini <strong>hukum karma</strong> atau hukum sebab akibat. Karena itulah relief <strong>Sutra Karmawibhangga </strong>yang berisi sebab-akibat perilaku manusia menjadi pondasi dari Candi Borobudur. Dari relief tersebut kita bisa memahami bahwa keburukan apapun yang dilakukan dalam ucapan maupun tindakan akan berbuah buruk, begitu pula kebaikan apapun yang kita lakukan akan berbuah manis juga. Bila kita bisa memahami hukum karma, maka kita bisa menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Stupa</strong></h4>



<p>Ada banyak Stupa yang terpasang di Candi Borobudur. Stupa itu sendiri merupakan objek pemujaan yang populer dalam tradisi Buddhis meski rupang kemudian muncul pada abad II Masehi. Pemujaan Stupa menjadi populer saat Raja Ashoka mendirikan stupa berisi relik Buddha di berbagai tempat. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan relik guru-guru agung, stupa juga menjadi perlambang Dharma dan transformasi spiritual. Ketika kita melihat sebuah stupa, kita ibarat sedang melihat batin Buddha yang tercerahkan sekaligus batin tercerahkan yang akan kita capai di masa mendatang.</p>



<p>Sebuah stupa umumnya terdiri atas beberapa komponen, yaitu kubah, yupa, dan chattra. Kubah berfungsi sebagai tempat menyimpan relik. Yupa<em> </em>merupakan simbol pengorbanan. Pengorbanan yang dimaksud ini sesuai dengan penjelasan Buddha dalam <em>Kutadanta Sutta, </em>bahwa pengorbanan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kebajikan seperti berdana, melatih sila, meditasi, hingga pengorbanan untuk meraih pencerahan.</p>



<p>Chattra merupakan cakram yang berada di atas stupa sebagai simbol payung seremonial, yang merupakan simbol kebangsawanan India Kuno dan masih digunakan hingga sekarang. Di Thailand, chattra digunakan untuk memayungi raja dalam berbagai upacara kenegaraan. Di Tibet, chattra digunakan untuk memayungi Dalai Lama yang berperan sebagai pemimpin spiritual. Chattra juga merupakan simbol pohon Bodhi tempat Buddha mencapai pencerahan/ Chattra di puncak stupa dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada Buddha yang disimbolkan oleh stupa tersebut.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Mandala</strong></h4>



<p>Daud Aris Tanudirjo menjelaskan mandala adalah sebuah lingkaran yang penerapannya memiliki makna kontekstual yang berbeda-beda. Pengertian lain tentang mandala juga dikemukakan oleh Grover (1980) saat ia membahas arsitektur Hindu dan Buddhis. Grover berpendapat bahwa mandala adalah bentuk geometris yang paling hakiki dari bentuk dasar lainnya untuk mendirikan bangunan suci para dewa.&nbsp;</p>



<p>Robert A. Thurman menjelaskan mandala sebagai sebuah matriks atau model alam semesta yang sempurna. Mandala menyimbolkan Kebuddhaan sebagai pembebasan dan kebahagiaan tertinggi yang dicapai seseorang yang telah menyatu dengan lingkungannya dalam kesalingbergantungan.</p>



<p>Berbagai sumber sejarah Jawa Kuno juga menunjukkan adanya konsep mandala dalam bangunan Jawa dan Bali. Contohnya adalah Candi Sewu yang disebut sebagai mandala dalam Prasasti Kelurak (782 M) ataupun Gugusan Gunung Kawi di Bali yang disebut “<em>sanghyang mandala ring Amaravati</em>” (Soekmono, 1974).</p>



<p>Pada situs biara Namgyal (kediaman Y.M.S. Dalai Lama XIV), dikatakan bahwa mandala berarti representasi sebagai rumah atau istana suci tempat tinggal Buddha. Meski memiliki bentuk yang indah, mandala memiliki fungsi religius, bukan untuk dikagumi estetikanya saja.</p>



<p>Berdasarkan perspektif filsafat Buddhis sendiri, Candi Borobudur juga dapat dipandang sebagai sebuah mandala mandala yang sempurna, yaitu mandala dengan ukuran asli yang bisa dimasuki oleh praktisi yoga tantra pada masa itu untuk merenung dan bermeditasi.</p>



<p>Mandala memiliki pintu masuk yang unik berupa ujung wajra. Peneliti Caroline Gammon dalam disertasinya menemukan ujung wajra tersebut di pintu utama Borobudur. Dalam Borobudur International Buddhist Conference tahun 2016, pembicara Y.M. Biksu Bhadra Ruci juga menyatakan bahwa Borobudur adalah mandala pencapaian spiritual manusia.</p>



<p>Lebih lanjut, salah satu peneliti Borobudur bernama Stuterheim (1956) mengemukakan bahwa pada zaman dahulu Candi Borobudur merupakan yang tidak boleh dikunjungi sembarang orang. Ia yakin bahwa Borobudur adalah tempat untuk berlatih meditasi bagi para praktisi yang ingin menjadi Buddha di masa mendatang. Jadi, dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa Candi Borobudur adalah mandala yang merupakan tempat suci dan tidak bisa dimasuki dengan bebas.</p>



<h4><strong>Bukti Peradaban Buddhis Nusantara</strong></h4>



<p>Kemegahan Candi Borobudur membuatnya menjadi salah satu warisan budaya dunia (<em>World Heritage) </em>nomor C. 592 tahun 1991. Pembangunan Candi Borobudur diketahui pada zaman kejayaan Dinasti Syailendra sekitar abad VIII-IX M berkat sebuah pahatan huruf yang ada di relief <em>Karmawibhangga</em>. Menurut peneliti De Casparis yang mengidentifikasi pahatan ini, gaya pahatan huruf yang terdapat di inskripsi tersebut sama dengan yang ada di prasasti Karang Tengah yang berangka 824 M dan prasasti Kahulunan dari 842 M. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintah Samaratungga yang memimpin Dinasti Syailendra pada tahun 782-812 M.&nbsp;</p>



<p>Kita tidak bisa mewawancarai pendiri atau perancang Candi Borobudur, tapi tidaklah mengherankan jika ajaran Buddha yang dipilih sebagai basis pendirian Borobudur dan diangkat menjadi ratusan keping relief nan rumit mewakili nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat Nusantara pada masa itu. Borobudur adalah bukti peradaban Buddhis Nusantara yang menjunjung tinggi welas asih yang universal.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Sumber Inspirasi di Masa Kini</strong></h4>



<p>Buddha mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang ingin menderita, semuanya ingin bahagia. Namun, setahun belakangan ini kalau kita lihat banyak konflik antar golongan terjadi untuk memperebutkan kekuasaan ekonomi, teknologi, bahkan juga militer. Tentunya konflik ini menjadi ancaman kedamaian untuk dunia dan bertolak belakang dengan harapan kita akan kehidupan yang aman, damai, dan bahagia.</p>



<p>Perjuangan Bodhisatwa untuk meraih Kebuddhaan demi semua makhluk yang terukir dalam relief candi beserta simbol-simbol pencerahan dalam setiap elemen Borobudur bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak-Nya. Kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mulai dari tindakan yang sederhana, seperti menyebarkan cinta kasih melalui pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak menimbulkan pertengkaran dengan sesama. Perlahan-lahan, kita pun bisa belajar memandang semua makhluk dengan kasih sayang.</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Tempat Suci Umat Buddha</strong></h4>



<p>Borobudur memang bukan termasuk situs yang berkaitan langsung dengan riwayat hidup Buddha Sakyamuni &#8212; Bodhgaya, Lumbini, Sarnath dan Kushinagar. Meski demikian, seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwasannya Borobudur adalah Kitab Suci 3D yang memuat kisah perjalanan Bodhisatwa yang terlahir kembali dalam berbagai wujud hingga beliau terlahir sebagai manusia dan mencapai pencerahan tertinggi beserta simbol-simbol pencerahan itu sendiri. Borobudur juga merupakan mandala yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang karena tempat ini dipergunakan untuk berlatih meditasi para praktisi yang ingin mencapai Kebuddhaan. Bangunan yang memuat KItab Suci 3D dan mandala ini tentu harus kita hormati sebagai sebuah tempat suci.</p>



<p>Dalam acara Borobudur <em>International Buddhist Conference</em> tahun 2016, Y.M. Biksu Pannavaro juga menyatakan bahwa Candi Borobudur layak menjadi objek pemujaan karena memiliki tiga objek pemujaan dalam pandangan Buddhis, yakni relik Guru Agung Buddha dan orang suci; pohon Bodhi (tempat Buddha mencapai pencerahan); serta foto, gambar, ataupun candi yang mengingatkan kita pada Guru Agung Buddha.&nbsp;</p>



<p>Tentu saja ini tidak berarti masyarakat yang tidak beragama Buddha dilarang datang ke Candi Borobudur. Semua boleh dan bahkan sangat dianjurkan untuk berkunjung untuk mengapresiasi keindahan dan menghayati ajaran bajik yang ada di candi ini. Jika umat Buddha menghormati Candi Borobudur dengan melakukan puja bakti. menghaturkan persembahan, dan merenungkan ajaran Buddha, wisatawan umum turut serta menghormati Candi Borobudur dengan berperilaku sopan, menjaga keutuhan dan kebersihan lingkungan, dan pastinya mengembangkan welas asih dan toleransi yang disimbolkan oleh Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Borobudur adalah salah satu warisan budaya Nusantara untuk dunia yang sangat megah dan bukan hanya sekadar kisah biasa. Nilai-nilai kehidupan yang unggul tentang sebab-akibat (relief <em>Karmawibhangga</em>) dan juga kisah perjalan spiritual Sudhana untuk mencapai Kebuddhaan yang terukir dalam reliefnya menjadikannya sebagai Kitab Suci 3D pedoman hidup untuk kita.</p>



<p>Amatlah disayangkan bila mahakarya nenek moyang kita ini hanya menjadi tempat jalan-jalan atau sekadar swafoto. Oleh sebab itu, kita sebagai ahli waris Borobudur harus menghargainya dengan mengubah pandangan kita yang tadinya menganggap Borobudur tak lebih dari sekadar tempat wisata. Borobudur lebih dari itu karena juga merupakan sebuah tempat suci yang dulunya digunakan oleh calon Buddha di masa mendatang. Saat kita sudah bisa memiliki pemikiran bahwa Borobudur adalah tempat suci untuk beribadah, maka kita pasti menjaga perilaku saat mengunjungi candi ini. Dengan demikian, kesakralan candi dan keutuhan bangunan fisiknya pun akan terjaga dengan baik.</p>



<p>Saat ini, memang kondisi Borobudur jauh dari kata ideal. Pengelolaannya belum melibatkan pendekatan filsafat Buddhis dan tak sedikit pengunjung yang bersikap kurang pantas karena memandang Borobudur sebagai objek wisata biasa. Dengan mulai dari diri sendiri, mudah-mudahan kita sebagai umat Buddha bisa menjadi teladan bagi semua orang untuk sama-sama menghormati dan memelihara Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Daftar Pustaka:</strong></h4>



<p>Stutterheim, W.F. 1956. Chandi Barabudur: Name, Form, dan Meaning dalam Studies In Indonesian Archeology. KITLV translation series. Martinus Nijhoff, hal. 3-63.</p>



<p>Daud Aris Tanudirjo &#8211; “<a href="https://docplayer.info/45917901-Borobudur-sebagai-mandala-masa-lalu-dan-masa-kini.html">Borobudur Sebagai Mandala: Masa Lalu dan Masa Kini</a><em>”&nbsp;</em></p>



<p>Youtube Lamrimnesia &#8211; “<a href="https://youtu.be/jglNUiSZMj4">Ayo Puja Bakti ke Borobudur, Tempat Suci Umat Buddha</a>”</p>



<p>Buddhazine.com &#8211; “<a href="https://buddhazine.com/borobudur-adalah-mandala-pencapaian-spiritual-manusia/">Borobudur Adalah Mandala Pencapaian Spiritual Manusia</a>”</p>



<p>Sangha Vajrayana Indonesia &#8211; “<a href="https://sanghakci.wixsite.com/sanghakadamchoeling/single-post/candi-borobudur-adalah-mandala?fbclid=IwAR2HU4qFtrPss_5aNlOYRfeZ1Xur11f_c2v2lOgsmoLnbMgKjyKMtdbO-ps">Borobudur adalah Mandala</a>”</p>



<p>Stanley Khu &#8211; “<a href="https://borobudurwriters.id/situs/perihal-polemik-chattra-sebuah-usaha-memaknai-ulang-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa</a>”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buddhis Butuh Baca Biografi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2024 15:47:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9079</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca biografi ternyata merupakan langkah pertama seorang Buddhis menuju pencerahan. Kok bisa?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Biografi adalah jenis karya sastra yang berisi riwayat hidup seseorang, mulai dari identitas pribadi, tempat kelahiran, informasi latar belakang pendidikan, riwayat pekerjaan, hubungan, kematian, dan lain sebagainya. Dari membaca biografi, kita bisa mendapatkan inspirasi, motivasi, dan bahkan solusi dari pengalaman hidup tokoh yang diceritakan.</p>



<h2 id="h-apa-hubungan-biografi-dengan-buddhis"><strong>Apa hubungan biografi dengan Buddhis?</strong></h2>



<p>Dalam <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/">Lamrim</a>, panduan <em>step by step</em> menuju pencerahan yang berkaitan erat dengan peradaban Buddhis Nusantara, membaca biografi adalah langkah pertama untuk mencapai pencerahan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Tidak hanya kurangnya keyakinan, kebijaksanaan, atau kegigihan yang akan mencegah seorang praktisi untuk memperoleh hasil pencapaian spiritual; ia juga tidak akan memperoleh apapun dari Dharma yang palsu.”</p><cite>Phabongkha Rinpoche, Pembebasan di Tangan Kita Jilid I</cite></blockquote>



<p>Lewat biografi, kita akan mengetahui asal-usul seorang guru dan dari mana beliau mendapatkan ajaran. Kita juga bisa melihat bagaimana sang guru berperilaku, apakah sesuai dengan ajaran tersebut? Terakhir, kita juga bisa mengetahui kualitas dan pencapaian-pencapaian sang guru. Hal ini sangatlah penting karena dari situ kita bisa mengetahui kualitas dan pencapaian apa yang bisa kita raih jika mengikuti ajarannya.</p>



<h2><strong>B</strong>uddhis perlu baca biografi siapa?</h2>



<p><strong>Biografi yang wajib dibaca seorang Buddhis pertama-tama tentunya adalah biografi Buddha Sakyamuni selaku Guru utama. Selanjutnya, seorang Buddhis perlu mengenal tokoh-tokoh penting dari tradisi yang sedang atau hendak dia pelajari. </strong>Praktisi Lamrim, misalnya, dianjurkan untuk mempelajari biografi Buddha Sakyamuni, Guru Atisha Dipamkara Srijnana, dan Je Tsongkhapa. Terakhir, seorang Buddhis perlu mempelajari riwayat guru spiritual pribadinya.</p>



<p>Bab 1 Lamrim “Keagungan Sumber Ajaran” merincikan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana, pelopor Lamrim yang merupakan murid dari Mahaguru Buddhis asal Nusantara, <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Guru Suwarnadwipa Dharmakirti</a>. Di sini, dikisahkan bagaimana Guru Atisha dilahirkan dalam keluarga terhormat, yaitu sebagai pangeran di keluarga kerajaan Benggala, lalu mewarisi ajaran Dharma baik Sutra maupun Tantra dari banyak cendekiawan dan filsuf agung yang diakui oleh institusi pendidikan monastik resmi seperti Nalanda dan Vikramasila. </p>



<p>Perjalanan Guru Atisha ke Sriwijaya pada abad X dan pertemuannya dengan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti juga dijelaskan dengan rinci mengingat sang Guru Dharma Nusantara keturunan Dinasti Shailendra ini merupakan Guru utama Beliau. Dengan kata lain, Lamrim yang dikembangkan dari karya <a href="https://play.google.com/store/books/details/Bodhipathapradipa_Pelita_Sang_Jalan_Menuju_Pencera?id=K5mWDwAAQBAJ&amp;gl=US&amp;pli=1">Guru Atisha, Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipa)</a>, juga berasal dari Nusantara.</p>



<h2><strong>Biografi adalah sumber inspirasi Buddhis</strong></h2>



<p><span style="font-size: inherit; color: var(--body-color); font-family: var(--text-font);">Lebih dari sekadar informasi, biografi juga menginspirasi</span>. Biografi Buddha Sakyamuni, misalnya, mengisahkan kelahiran bakal Buddha yang penuh pertanda ajaib, kecerdasan dan ketangkasan-Nya yang luar biasa sejak masih beranjak dewasa, hingga welas asih agung yang mendorong Beliau untuk meninggalkan harta, takhta, dan wanita demi mengakhiri penderitaan semua makhluk dan kebijaksanaan sempurna yang Beliau raih. Keren sekali bukan? </p>



<p>Selain membuktikan betapa agungnya seorang Buddha, biografi Buddha Sakyamuni juga menunjukkan seperti apa masa depan yang akan diraih oleh orang yang mengikuti ajaran-Nya. Biografi Buddha dapat membangkitkan rasa kagum yang bisa diubah menjadi semangat mempraktikkan Dharma guna meraih apa yang sang Buddha telah raih.</p>



<h2>Cara Buddhis baca biografi Buddha dan Guru Dharma</h2>



<p>Manfaat di atas tidak dapat diraih jika seorang Buddhis membaca biografi Buddha dan Guru-Guru Dharma secara asal-asalan. Cara pandang yang tepat harus diterapkan sebagaimana diterangkan oleh Guru Dagpo Rinpoche dalam bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Dianjurkan untuk tidak membaca riwayat mereka seperti halnya kita membaca sebuah sejarah atau kisah. Kita harus membacanya sebagai satu aspirasi. Artinya, setelah membacanya, kita harus membuat sebuah harapan bahwa kelak kita pun dapat mengikuti teladan guru-guru besar ini.”</p><cite>Guru Dagpo Rinpoche, Sumati Mañjuśrī Maitreya Samudra Śāstra Saṃgraha Jilid I</cite></blockquote>



<p>Tertarik untuk mulai baca biografi Buddha dan Guru-Guru Dharma? Temukan koleksinya di <a href="https://store.lamrimnesia.com/product-category/toko-buku-online/biografi/">sini</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menjadi Buddhis &#8211; Tolok Ukur Trisarana</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Feb 2024 13:51:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8934</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memangnya ada cara menjadi Buddhis? Bukannya Buddhisme bukan agama, melainkan filsafat hidup atau way of life? Ini penjelasannya dalam Lamrim!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis – Tolok Ukur Trisarana</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis &#8211; Tolok Ukur Trisarana</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memangnya ada cara menjadi Buddhis? Bukannya Buddhisme bukan agama, melainkan filsafat hidup atau <em>way of life? </em></p>



<p>Buddha mengajarkan “Dharma” yang secara harfiah berarti kebenaran. Tidak peduli agama atau kepercayaan apa yang dianut seseorang, semua bisa menemukan potongan-potongan kebenaran dengan berbagai cara. Ketika ia hidup sesuai dengan kebenaran yang ia temukan itu, ia dapat dikatakan menjadi seorang “Buddhis” dalam artian “hidup sesuai dengan ajaran Buddha”. Namun, tentu lain halnya ada yang kita ingin menjadi “Buddhis” dalam artian “pengikut Buddha”. Walau tetap tidak perlu ganti KTP, menjadi Buddhis dalam artian ini tetap ada tata caranya!</p>



<p>Menjadi pengikut Buddha berarti bertumpu pada-Nya, mempelajari dan mengikuti keseluruhan ajaran-Nya (Dharma), dan hidup harmonis dengan sesama pengikut Buddha yang lain (Sangha), atau dalam konsep Buddhis dikenal dengan istilah “Trisarana” (Tiga Perlindungan). Trisarana berarti kita berlindung kepada Triratna (Tiga Permata) yang terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Kita juga memiliki keyakinan bahwa Triratna dapat menolong kita untuk bebas dari kelahiran di alam rendah, bebas dari penderitaan samsara, hingga meraih Kebuddhaan demi kebaikan semua makhluk.</p>



<h2 id="h-ritual-hanyalah-awal"><strong>Ritual Hanyalah Awal</strong></h2>



<p>Umat Buddha di Indonesia mengenal upacara “pengambilan” Trisarana yang dikenal dengan istilah “visudhi”. Dengan mengikuti upacara ini, sang umat akan “resmi” menjadi seorang Buddhis. Ia juga akan diberikan nama khusus dan kartu visudhi sebagai bukti. Selain itu, ada bait-bait Trisarana yang menjadi bagian wajib dalam puja bakti di wihara. Isinya adalah sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Buddham Saranam Gacchami</em> &#8211; Aku berlindung kepada Buddha<br><em>Dhammam Saranam Gacchami</em> &#8211; Aku berlindung kepada Dharma<br><em>Sangham Saranam Gacchami</em> &#8211; Aku berlindung kepada Sangha</p></blockquote>



<p>Ritual ini penting sebagai salah satu cara menanamkan sebab agar seseorang bisa mempraktikkan Trisarana sepenuhnya. Namun, praktiknya sendiri ada di setiap momen dalam keseharian, bukan sebatas ucapan dan upacara saja. Langkah-langkah Trisarana (dan lantas menjadi Buddhis) telah dirangkum dari berbagai khotbah Buddha dan ulasannya dalam Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Bagi Ketiga Jenis Praktisi. Kita pertama-tama perlu alasan yang kuat untuk melakukan Trisarana, mengenali masing-masing objek perlindungan, lalu mempelajari tolok ukur Trisarana dan manfaatnya, hingga mempraktikkan serangkaian ikrar agar kita punya pegangan yang kokoh terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha.</p>



<h2><strong>Tolok Ukur Trisarana</strong></h2>



<p>Setelah memahami <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">sebab-sebab Trisarana</a> dan mengenali objek-objeknya, ada satu hal lagi yang perlu dipelajari: apa tolok ukur seseorang sudah Trisarana? Tolok ukur ini perlu dipelajari bukan untuk menghakimi orang, menilai apakah si anu dan si itu sudah cukup Buddhis atau belum, melainkan untuk memberi diri kita sendiri acuan mengenai cara berlindung kepada Triratna dan menjadi Buddhis yang seutuhnya.</p>



<p>Lamrim merangkum tolok ukur Trisarana ke dalam 4 poin. Penjelasannya berdasarkan kitab “Pembebasan di Tangan Kita” adalah sebagai berikut:</p>



<ol><li>Trisarana setelah mempelajari kualitas setiap aspek Triratna</li><li>Trisarana setelah mempelajari perbedaan dalam Triratna</li><li>Trisarana dengan menyatakan keyakinan pada Triratna</li><li>Trisarana dengan menyangkal keyakinan terhadap ajaran lain</li></ol>



<h2><strong>Mencegah Keyakinan Buta</strong></h2>



<p>Mempelajari kualitas setiap aspek Triratna dan perbedaan-perbedaannya sangatlah penting. Jika kita tidak memahami dua hal tersebut, tentu tak ada alasan bagi kita untuk mengandalkan Triratna sebagai perlindungan. Jika kita ngotot bertrisarana dengan keadaan demikian, “keyakinan” yang kita bangkitkan hanyalah sebatas keyakinan buta yang tidak didasari oleh pemahaman logis. Sangat mungkin kita akan kehilangan keyakinan tersebut sebelum bisa mendapatkan manfaat apapun dari Buddhisme. Atau kalaupun kita masih bertahan, manfaat yang kita dapat tak akan maksimal. Banyaknya umat Buddha yang pindah agama kemungkinan besar terjadi karena hal ini.</p>



<h2><strong>Pernyataan dan Penyangkalan</strong> dalam Menjadi Buddhis</h2>



<p>Poin ketiga dari tolok ukur Trisarana, yaitu “menyatakan keyakinan pada Triratna” terdiri atas 3 jenis pernyataan, yaitu: (1) menyatakan keyakinan pada Buddha sebagai orang yang mengajarkan kita bagaimana menemukan Trisarana; (2) menyatakan keyakinan pada Dharma sebagai perlindungan yang sesungguhnya; dan (3) menyatakan keyakinan pada Sangha sebagai teman yang membantu kita menemukan Triśaraṇa. </p>



<p>Saat membuat pernyataan ini, kita benar-benar mempercayakan diri kita kepada Buddha yang ibarat seorang dokter, Dharma sebagai obat, dan Sangha sebagai perawat bagi hidup kita. Upacara visudhi dan pelafalan Trisarana dalam puja bakti rutin adalah contoh praktik dari poin ini.</p>



<p>Berikutnya, mMenyangkal keyakinan lain ini juga penting untuk memastikan agar kita tidak salah mengikuti sosok yang masih terikat samsara atau melakukan praktik-praktik yang tidak akan membantu kita mencapai kebahagiaan sejati. Saat ini, ada banyak sekte atau kelompok yang “mirip” dengan Buddhisme atau bahkan memang mengajarkan praktik Buddhis dengan tujuan khusus mengatasi persoalan di kehidupan saat ini. Jika seorang pengikut Buddha tidak bisa memisahkan praktik-praktik tersebut dengan praktik Buddhis sejati dengan pembebasan dan pencerahan sempurna sebagai tujuan utama, ia akan terjebak dan semakin jauh dari kebahagiaan sejati.</p>



<h2>Menjadi Buddhis Berarti <strong>Keyakinan Sejalan dengan Logika</strong></h2>



<p>Di era sekarang ini, tak sedikit orang yang memandang praktik Trisarana sebelah mata, bahkan di kalangan Buddhis sendiri. Saking bangganya dengan ajaran Buddha yang seringkali digadang-gadang sebagai ajaran spiritual yang paling logis dan saintifik, ada yang menganggap bahwa Trisarana itu sebatas mempelajari teks Dharma atau menghimpun karma baik. Ekspresi keyakinan seperti menghormati rupang Buddha dan memohon atau berdoa kepada Buddha saat kita mengalami kesulitan dianggap “bukan ajaran Buddha”. Ini terjadi karena “Buddha” hanya dipahami sebagai sosok historis yang telah lama wafat, lantas memotong praktik “Trisarana” menjadi “Dwisarana” secara prinsip.</p>



<p>Pandangan ini dapat dengan mudah dipatahkan dengan memahami kualitas Buddha. Lebih lanjut, orang-orang yang telah mempelajari dan merenungkan kitab-kitab filosofis Buddhis akan menemukan betapa pentingnya Trisarana secara utuh. Pembelajaran dan perenungan yang mereka lakukan membawa mereka pada kesimpulan bahwa praktik Trisarana adalah sesuatu yang logis.&nbsp;</p>



<p>Lalu, jika para cendekiawan saja ber-Trisarana, bagaimana dengan orang lain yang tidak berkesempatan untuk mempelajari banyak risalah secara mendalam, tapi ingin menjadi pengikut Buddha? Tentunya semakin penting buat orang-orang seperti ini, termasuk penulis sendiri, untuk sepenuhnya memercayakan diri kepada Triratna.</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche<br>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis – Tolok Ukur Trisarana</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">Cara Menjadi Buddhis &#8211; Tolok Ukur Trisarana</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2024 08:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Kalsel]]></category>
		<category><![CDATA[bencana alam 2021]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi Semeru]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Sulbar]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor Sumedang]]></category>
		<category><![CDATA[SJ182]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5763</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Indonesia diterpa bencana alam beruntun di awal 2021. Kenapa bencana terjadi dan apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang Buddhis?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Januari, bulan pertama di tahun 2021 ini membuat Indonesia harus lebih sabar dengan berbagai bencana yang ada. Mulai dari pandemi COVID-19 yang sudah ada sejak tahun 2020, pesawat Sriwijaya Air yang jatuh, tanah longsor di Sumedang, banjir di Kepulauan Riau; Sumatera Barat; Kalimantan Selatan; dan Jawa timur, gempa bumi di Majene dan Alor, sampai Gunung Merapi dan juga Semeru yang meletus.</p>



<p><strong>Mengapa Bencana bisa Terjadi?</strong></p>



<p>Tidak ada yang tahu kapan suatu bencana bisa terjadi. Tidak ada juga yang bisa mengetahui secara pasti sebab dari terjadinya suatu bencana. Ada banyak sekali sebab-sebab yang saling bergantung di balik terjadinya suatu fenomena.&nbsp;</p>



<p>Dalam Buddhisme, segala fenomena yang terjadi di dunia dijelaskan oleh suatu hukum, yakni <em>Pañcaniyāmadhamma </em>atau lima hukum alam. Kelima hukum tersebut di antaranya:</p>



<ol><li><strong><em>Utuniyāma</em></strong>, hukum tentang berbagai gejala alam yang bersifat fisik dan anorganik, misalnya cuaca, iklim, terbentuknya tata surya, dsb.</li><li><strong><em>Bijaniyāma</em></strong>, hukum alam seputar tumbuh-tumbuhan dan genetika/penurunan sifat.</li><li><strong><em>Kammaniyāma</em></strong>, hukum sebab-akibat, misalnya perbuatan baik pasti berakibat baik, perbuatan buruk pasti berakibat buruk.</li><li><strong><em>Cittaniyāma</em></strong>, hukum kepastian atau keteraturan kesadaran. Segala jenis proses berpikir saat sadar maupun tidak sadar, kekuatan pikiran, hingga telepati diatur oleh hukum ini.</li><li><strong><em>Dhammaniyāma</em></strong>, hukum tentang sebab-sebab keselarasan dari suatu gejala yang khas, misalnya keajaiban alam saat seorang calon Buddha lahir. Listrik dan gelombang juga termasuk di sini.</li></ol>



<p>Dari kelima hukum alam tersebut jadi mana yang mengatur bencana alam? Jawabannya adalah <em>utuniyāma</em> dan <em>kammaniyāma</em>. Segala bencana yang berkaitan dengan alam seperti gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, dan banjir adalah kinerja dari <em>utuniyāma</em>. Namun, <em>niyama-niyama</em> yang lain juga turut terlibat dalam terjadinya suatu fenomena. Misalnya banjir merupakan akibat dari maraknya aktivitas penggundulan hutan. Karma kolektif dari orang-orang yang tinggal di suatu lokasi juga berpengaruh. Selain itu, ada lagi faktor lain seperti tempat dan waktu yang mendukung. Jadi, setiap kejadian bargantung pada banyak sekali sebab-sebab yang saling berkaitan, termasuk bencana.</p>



<p><strong>Apa yang Harus Kita Perbuat Saat Ini?</strong></p>



<p>Kalau sedang banyak bencana seperti ini, saya jadi teringat waktu masih tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. Di sana sering sekali terjadi gempa. Berhubung saat itu saya masih kecil, saya belum tahu harus berbuat apa. Sekarang pun mungkin banyak di antara kita yang merasakan hal yang sama. Berikut ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk menghadapi bencana yang telah terjadi sekaligus mempersiapkan diri untuk kemungkinan bencana di masa mendatang.</p>



<p><strong>1. Merenungkan Ketidakkekalan</strong></p>



<p>Ketika banyak bencana terjadi secara beruntun, sangat wajar jika muncul pikiran, “Bagaimana kalau bencana ini terjadi padaku atau orang-orang yang kusayangi?”</p>



<p>Jika kita tinggal di daerah rawan bencana, kita bisa mempersiapkan diri secara fisik, misalnya dengan mencari tahu tentang bencana yang mungkin terjadi, mempelajari cara evakuasi, dan menyiapkan perbekalan darurat. Namun, persiapan batin juga sama atau bahkan malah lebih penting.</p>



<p>Banyaknya bencana yang terjadi di sekitar kita adalah momen yang paling pas untuk mempersiapkan batin kita untuk menerima perubahan. Buddha mengajarkan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Nyawa kita, harta benda kita, dan orang-orang yang kita sayangi bisa hilang kapan saja, baik itu karena bencana alam atau kejadian lain. Itu semua bergantung pada karma kita dan orang-orang di sekitar kita.</p>



<p>Saat ini, bencana sudah terjadi di sekitar kita dan tak ada jaminan kita tidak akan mengalaminya. Jika kita sadar akan kemungkinan ini dan bisa menerimanya dengan legowo, ketika bencana benar-benar terjadi, kita tak akan tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut.</p>



<p>Bahkan jika saat ini kita atau orang-orang terkasih telah menjadi korban bencana, merenungkan ketidakkekalan bisa membantu kita untuk lebih menerima keadaan. Lebih jauh lagi, kita juga akan menyadari bahwa penderitaan kita saat ini juga tidak kekal sehingga kita bisa punya semangat untuk bangkit dan berjuang.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/17/mengapa-seharusnya-seorang-buddhis-tulen-tidak-akan-takut-pada-bencana-dunia/"><em>Mengapa Seharusnya Seorang Buddhis “Tulen” Tidak Akan Takut pada Bencana Dunia</em></a></p>



<p><strong>2. Kumpulkan Kebajikan &amp; Dedikasikan</strong></p>



<p>Hanya bersedih saja saat ada bencana alam tidaklah menyelesaikan permasalahan. Meski saat ini kita semua terjebak di rumah masing-masing karena pandemi, masih ada bantuan yang amat sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penderitaan para korban bencana!&nbsp;</p>



<p>Kita bisa melakukan kebaikan apapun dari rumah dan mendedikasikan kebajikan itu untuk para korban bencana. Doakan semoga yang meninggal bisa terlahir kembali di alam yang bahagia dan yang masih berjuang tetap kuat, dapat segera bangkit, dan kembali beraktivitas seperti sedia kala. Dedikasikan juga kebajikanmu untuk Indonesia yang damai, tentram, dan bebas bencana alam.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/"><em>Benarkah Doa Bisa Terkabul?</em></a></p>



<p><strong>3. Kirim Bantuan Nyata</strong>&nbsp;</p>



<p>Kalau kita mampu, tentu saja kita harus melakukan sesuatu yang bisa secara langsung membantu para korban bencana. Dalam kondisi pandemi, mungkin sulit bagi kita untuk memberikan dukungan tenaga dengan menjadi relawan di lokasi bencana. Namun, kita masih bisa memberikan dukungan materi.&nbsp;</p>



<p>Dengan menekan satu tombol <em>search </em>di Google, kamu bisa menemukan banyak pos-pos yang bisa menyalurkan bantuanmu untuk bencana-bencana yang terjadi di Indonesia. Jangan lupa cek latar belakang lembaga yang membuka pos donasi, ya!&nbsp;</p>



<p>Untuk memulai, kamu bisa cek pos-pos dana berikut:</p>



<ul><li><a href="https://www.instagram.com/p/CKGC2-wA_gU/?utm_source=ig_web_copy_link">Karuna untuk Peduli Kasih Banjir Sulawesi Utara &#8211; Yayasan Karuna Mitta Wijaya</a>&nbsp;</li><li><a href="https://www.instagram.com/p/CJ3bIO2sWd6/?utm_source=ig_web_copy_link">Bantu Penyintas Erupsi Gunung Merapi &#8211; Human Initiative</a></li><li><a href="https://www.instagram.com/p/CKJTUrbgJ8h/">Open Posko &amp; Donasi Bencana Ekologis Kalsel &#8211; WALHI Kalimantan Selatan</a></li><li><a href="https://sumedangkab.go.id/berita/detail/bantuan-untuk-korban-longsor-terus-mengalir">Donasi Longsor Sumedang &#8211; Pemerintah Kabupaten Sumedang</a></li></ul>



<p>Referensi:</p>



<ol><li><a href="https://dhammacakka.org/?channel=ceramah&amp;mode=detailbd&amp;id=1018">“Energi Semesta dan Kehidupan” oleh Bhikkhu Dhammakaro</a></li><li><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">“Karma” oleh Guru Dagpo Rinpoche</a></li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2023 &#8211; Memulai Perjalanan ke Batin</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/12/25/ilr-2023-memulai-perjalanan-ke-batin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2023 11:53:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2023]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2023]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8770</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>"Kita hendaknya belajar Dharma untuk batin kita sendiri, bukan untuk orang lain," kata Y.M. Biksu Bhadra Ruci di sesi pembangkitan motivasi.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/12/25/ilr-2023-memulai-perjalanan-ke-batin/">ILR 2023 – Memulai Perjalanan ke Batin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/12/25/ilr-2023-memulai-perjalanan-ke-batin/">ILR 2023 &#8211; Memulai Perjalanan ke Batin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Highlights - Pembukaan Indonesia Lamrim Retreat 2023" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/9yfc-Nnfirs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Pada hari Minggu, 24 Desember 2023, Ramainya peserta Indonesia Lamrim Retreat di aula Prasadha Jinarakkhita menambah suasana meriah namun khidkmat. Hari ini, rangkaian pengajaran Dharma tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara ini resmi dimulai setelah didahului dengan penghimpunan kebajikan Mahapranidhana Puja.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/CqsSrssAsDLwdvpovf9zH1Rvfd41vWsRN9BX_GV_NUSHQOz48jW1XDSOFUlZm0PfNKUSOs13m6echSYqvtXGPtQVOnw_nqKfKsWVAxWBjWEHXIvXfkRL8wSfTeGqohD2sCzMtueGXo2W" alt=""/></figure>



<p>Tiga tahun tidak berjumpa tentu memunculkan kerinduan dalam diri antar peserta dan terhadap sosok Guru pengajar, yaitu Y.M. Biksu Bhadra Ruci. Namun, bukan reuni biasa, para peserta berkumpul dalam reuni yang positif, yaitu dengan saja belajar, merenung, dan memeditasikan Dharmarma yang tentunya akan menyegarkan batin dari masing-masing peserta.&nbsp;</p>



<p>Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk upaya melestarikan intisari ajaran Buddha warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Nusantara. Ajaran tersebut telah disusun secara sistematis menjadi Tahapan Jalan Menuju Pencerahan atau biasa disebut “Lamrim”. </p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-us.googleusercontent.com/j-rU4yiHaEVfWrnX1h9K-Pw7EsDuXx9dOoPds45giFcrFV4LOHY1z82jnAsTKVWoxE7_VaKTBthQk5RdU_OtHanRiZjEG-K1E-8x7q_B244zauBfJ60M69PKmxjPE0blXE0PV68wm91U" alt=""/></figure>



<p>&#8220;Kita hendaknya belajar Dharma untuk batin kita sendiri, bukan untuk orang lain,&#8221; kata Y.M. Biksu Bhadra Ruci di sesi pembangkitan motivasi. Beliau juga menyampaikan bahwa, kita harus menjadi bejana yang kosong untuk bisa menerima Dharma sehingga Dharma yang diberikan dapat bermanfaat bagi batin kita dan juga bagi semua makhluk.</p>



<p>Dalam Lamrim, motivasi adalah penentu hasil dari aktivitas kita. Baik atau buruk, kuncinya ada pada motivasi. Demikian juga sesi ini bisa menentukan seberapa besar manfaat yang kita dapatkan dari Indonesia Lamrim Retreat.&nbsp;</p>



<p>Mari bersama mengembangkan batin yang bajik, di Indonesia Lamrim Retreat 2023. Jangan sampai kita melewatkan kesempatan langka untuk mengobati batin sekaligusmengembangkannya untuk kebermanfaatan semua makhluk.&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/12/25/ilr-2023-memulai-perjalanan-ke-batin/">ILR 2023 – Memulai Perjalanan ke Batin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/12/25/ilr-2023-memulai-perjalanan-ke-batin/">ILR 2023 &#8211; Memulai Perjalanan ke Batin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jun 2023 03:15:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Binus]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[Inner Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mindfulness]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<category><![CDATA[Waisak Puja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8274</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Semua orang mencari kedamaian, padahal hal tersebut berada di dalam diri. Melalui Waisak Puja yang diadakan KMB Dhammavaddhana BINUS University, kita diajak untuk menemukan kedamaian tersebut.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mengusung Tema “<em>Beyond The Inner Peace”</em>, Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) Dhammavaddhana Universitas Bina Nusantara menggelar perayaan Waisak di Auditorium Binus University, Jakarta, pada 11 Juni 2023. Dalam acara ini, para peserta diajak untuk menemukan kedamaian dari dalam diri melalui Dhammatalk bersama biksu dari tiga tradisi, permainan interaktif, dan pertunjukan teater.</p>



<p>Sebanyak kurang lebih 70 peserta dari berbagai kalangan memenuhi auditorium Binus University. Acara dimulai dengan sambutan ketua panitia dan puja bakti untuk memperingati Waisak 2567 BE. Kemudian, acara dilanjutkan dengan Dhammatalk “<em>Finding Your Own Inner Peace</em>” dengan pembicara Y.M. Bhikkhu Ratanadhiro dari Sangha Theravada Indonesia, Y.M. Biksu Tenzin Konchog dari Sangha Vajrayana Indonesia, dan Y.M. Suhu Zhuan Xiu dari Sangha Mahayana Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Kedamaian menurut Suhu Zhuan Xiu adalah ketika kita menjadi “kaya” dalam artian mempunyai kemampuan. Saat kita dihadapkan dengan penderitaan, apakah kita memiliki kemampuan untuk menyikapi penderitaan tersebut? Jika ada, berarti kita termasuk “kaya” dan dapat menemukan kedamaian.&nbsp;</p>



<p>Berikutnya, Y.M. Tenzin Konchog menjelaskan bahwa kedamaian mempunyai peranan penting dalam menentukan tujuan hidup. Sebelum akan menjadi atau mencapai apapun, terlebih dahulu kita harus berdamai dengan diri dan ego kita. Jika tidak, kita akan banyak melakukan hal yang sia-sia hanya untuk menambal tangki kebahagiaan kita yang tidak penuh, serta kita akan selalu menuntut orang lain untuk memenuhi harapan dan ekspektasi kita<br>Sebagai umat Buddha, sebagian orang hanya tahu cara melatih batin untuk mencapai kedamaian adalah dengan duduk diam bermeditasi. Y.M. Bhikkhu Ratanadhiro memberikan sudut pandang lain, “Meditasi harus duduk diam tidak bergerak di bawah pohon tujuh hari, itu yang membuat orang takut. Padahal meditasi itu sangat sederhana, kita bisa lakukan di mana saja. Pada saat ini sedang duduk, kita sadar bahwa kita sedang duduk itu salah satu kunci menemukan <em>peace</em>. Saat ini saya sedang apa? seringlah merenungkan kalimat ini dan ini berlaku untuk siapa saja bukan hanya umat Buddha atau anggota <em>sangha</em>. <em>Peace</em> selalu disimbolkan dengan tangan seperti huruf V, <em>victory </em>yang artinya menang melawan diri sendiri.”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
