<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>compassion - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/compassion/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Aug 2018 06:29:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>compassion - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menghadapi Fenomena Pelakor dengan Welas Asih</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/03/06/menghadapi-fenomena-pelakor-dengan-welas-asih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2018 09:48:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[pelakor]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan seksual yang tidak pantas]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=3969</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: BESTRELOADun Kamu pasti tahu kasus pelakor yang belakangan ini viral kan? Menurut kamu siapa yang salah? Pelakor atau perebut lelaki orang menjadi buah bibir yang belakangan ini marak dibahas di masyarakat, terlihat satu video viral dimana si istri mempermalukan seorang wanita yang tertangkap berselingkuh dengan suaminya. Video ini memicu banyak tanggapan, ada yang merasa [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/03/06/menghadapi-fenomena-pelakor-dengan-welas-asih/">Menghadapi Fenomena Pelakor dengan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/03/06/menghadapi-fenomena-pelakor-dengan-welas-asih/">Menghadapi Fenomena Pelakor dengan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: BESTRELOADun</p>
<p>Kamu pasti tahu kasus pelakor yang belakangan ini viral kan? Menurut kamu siapa yang salah?</p>
<p>Pelakor atau perebut lelaki orang menjadi buah bibir yang belakangan ini marak dibahas di masyarakat, terlihat satu video viral dimana si istri mempermalukan seorang wanita yang tertangkap berselingkuh dengan suaminya. Video ini memicu banyak tanggapan, ada yang merasa bahwa ini adalah hukuman yang setimpal, ada yang menganggap bahwa tindakan si istri kelewatan, dan sebagainya, namun untuk kamu yang Buddhis, bagaimana kamu harus menanggapinya? Tulisan ini murni merupakan pendapat subjektif penulis yang menghubungkan fenomena pelakor dengan nilai-nilai Buddhis yang selama ini penulis pelajari.</p>
<p><strong>Jujur, tidak semua hubungan berjalan mulus, kamu yang pernah berpasangan pasti pernah mengalami masa-masa tersebut.</strong></p>
<p>Hal ini adalah hal yang lumrah, ketika kamu sudah berkomitmen dengan satu orang, dan ada sebagian kemauan atau ekspektasimu yang tidak tercapai, maka melirik orang lain menjadi satu reaksi. Apalagi menurut Buddhis, kita semua membawa jejak-jejak karma yang begitu banyaknya dari kehidupan lampau, jika kamu dulu pernah selingkuh, maka ada kecenderungan kamu akan melakukannya lagi, dan hal ini gak bisa kamu kendalikan sama sekali. Bagaimana cara menghentikannya? Dengan menambah kapasitas batinmu melalui metode tiga latihan sila (menjaga moralitas), samadhi (konsentrasi terpusat), dan prajna (kebijaksanaan). Mulai dari menambah pengetahuan seperti mengetahui apa saja karma hitam (termasuk didalamnya selingkuh) dan akibat-akibat apa yang bisa diterima.</p>
<p>Jadi ketika kamu melihat seorang pelakor, coba bayangkan bahwa orang tersebut memang punya jejak-jejak karma dari sebelumnya, kamu juga mungkin saja punya. Kamu dan dia sama-sama makhluk yang masih berada dalam tahap latihan, jadi bukannya mencemooh atau ikutan mengejek, kamu harusnya mengembangkan sikap welas asih saat melihat fenomena pelakor tersebut.</p>
<p><strong>Solusi masalah itu harusnya ke dalam bukan ke luar,  bukan saja hubungan pertemanan hancur, hubungan dengan pasangan juga semakin berantakan</strong></p>
<p>Filosofi utama dalam Buddhisme adalah kebahagiaan berasal dari faktor internal, bukan faktor eksternal. Itu kenapa Buddha Gautama mencapai pencerahan dengan bermeditasi mengalahkan kekotoran batinnya, bukan dengan menjadi <em>batman/ superman</em> untuk mengalahkan atau membunuh musuhnya. Ada juga satu kutipan Guru besar Shantidewa yang mengatakan bahwa “Kamu tidak bisa mendapatkan kulit untuk menutupi seluruh dunia, namun dengan kulit dibawah kakiku, seluruh dunia bisa kujelajahi”.  Hal ini berlaku juga untuk banyak permasalahan di kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Hal yang dilakukan si istri merupakan hal yang tidak tepat, karena lebih baik hubungan rumah tangga diselesaikan di dalam melalui komunikasi langsung dengan suaminya, namun dengan menyebarkan video penghakiman pelakor tersebut, situasi menjadi semakin rumit dan keadaan menjadi semakin tidak dapat diperbaiki.</p>
<p><strong>Suatu permasalahan tidak akan selesai jika dihadapi dengan kebencian, kebencian hanya berakhir jika dibalas dengan cinta kasih</strong></p>
<p>Sama seperti si istri yang merasa dikhianati, lalu mengunggah videonya mempermalukan pelakor itu, pada akhirnya kini yang muncul adalah video-video klarifikasi balasan dari pihak lawannya itu. Bukan hanya itu, kini kebencian tersebar di masyarakat, banyak yang mencemooh si pelakor, suaminya sendiri, bahkan si istri sendiri juga banyak dicemooh karena kelakuannya. Hasilnya semuanya rugi, tentunya jika kamu jadi mereka hidup jadi gak tenang kan? Semuanya tidak bahagia.</p>
<p>Buddhis selalu menekankan bahwa kebencian haruslah dibalas dengan cinta kasih, karena kebencian muncul dari karma dan <em>klesha</em>, dan saat kamu balas membenci, kamu membuat lagi karma yang serupa, dan akhirnya karena kebiasaan kamu akan terus-menerus melakukan hal yang sama dan <em>klesha</em> kebencian akan semakin kuat. Akibatnya, masalah baru akan terus datang bertubi-tubi sebagai akibat dari kebencian yang makin besar itu. Maka dari itu, hanya dengan mengembangkan cinta kasihlah kamu bisa mengikis kebencian sehingga lama-kelamaan tidak lagi harus mendapat akibat buruk dari membenci.</p>
<p>Contoh nyata bisa kita ambil cerita dari majalah Vogue artikel berjudul “<em>One Woman&#8217;s Tale of Marital Survival After Falling For Another Man</em>” (Dikutip dari <a href="https://tirto.id/sisi-lain-isu-pelakor-jatuh-cinta-kepada-orang-selain-pasangan-cE94">https://tirto.id/sisi-lain-isu-pelakor-jatuh-cinta-kepada-orang-selain-pasangan-cE94</a>), cerita seorang bernama Marcia yang jatuh cinta pada orang lain saat dirinya telah menikah. Marcia mengakui kesalahannya dan secara tulus meminta maaf kepada suaminya. Suaminya tidak marah dan bisa memaafkannya. Suaminya mengajarkan nilai empati pada Marcia sehingga akhirnya kedua pasangan ini bisa saling menerima.</p>
<p><strong>Jadi&#8230;</strong></p>
<p>Ya, dalam Buddhis, berhubungan seksual dengan orang selain pasangan merupakan tindakan seksual yang tidak pantas. Jelas-jelas melanggar salah satu sila dari Pancasila Buddhis. Pihak lelaki yang berselingkuh maupun pelakor berbuat karma buruk yang sama. Karma buruk tetap ada walaupun belum berhubungan seksual, namun jalan karma hitamnya belum lengkap.</p>
<p><strong>Tapi…</strong></p>
<p>Ketika kamu jadi korban perselingkuhan, apakah kamu memilih membuat karma buruk sendiri dengan marah-marah dan koar-koar di sosmed, <strong>atau</strong> berbuat bajik dengan membantu pasangan kamu agar tidak berbuat karma buruk lagi? Itu semua pilihanmu.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/03/06/menghadapi-fenomena-pelakor-dengan-welas-asih/">Menghadapi Fenomena Pelakor dengan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/03/06/menghadapi-fenomena-pelakor-dengan-welas-asih/">Menghadapi Fenomena Pelakor dengan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[dharmapatriot]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jan 2018 09:50:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[retreat]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3892</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Berakhir sudah rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat yang telah berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga menyambut tahun baru 2018 pada tanggal 1 Januari 2018 kemarin. Usai sudah pembabaran Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa selama 11 hari 10 malam yang berlangsung di Prasadha Jinarakkhita oleh Biksu Bhadra Ruci. Dimulai dari pembangkitan motivasi bajik untuk mulai belajar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berakhir sudah rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat yang telah berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga menyambut tahun baru 2018 pada tanggal 1 Januari 2018 kemarin. Usai sudah pembabaran Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa selama 11 hari 10 malam yang berlangsung di Prasadha Jinarakkhita oleh Biksu Bhadra Ruci. Dimulai dari pembangkitan motivasi bajik untuk mulai belajar dan praktik Dharma, sumber keagungan ajaran, kelahiran manusia yang berharga, perenungan terhadap kematian, dukkha, pembangkitan rasa muak akan samsara, hingga pembulatan tekad bodhicitta. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi ulasan dan diskusi setiap malamnya bersama dengan para peserta dan anggota Sangha.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesi terakhir dalam Indonesia Lamrim Retreat dibuka dengan memantapkan keyakinan dengan merenungkan seluruh pengajaran selama 10 hari ke belakang. Dalam retret ini, kita telah mengenali kerugianan, keuntungan, dan ketertarikan kita pada berbagai hal di dunia melalui perenungan. Dari situ kita telah membuat sebuah langkah yang baik untuk mengawali praktik Dharma. Kemudian, kita belajar tentang berbagai motivasi dalam praktik Dharma  yang sesuai dengan kapasitas diri kita masing-masing dan membangkitkannya dalam batin. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam praktik Dharma, kita perlu membangkitkan keyakinan yang kuat dengan mengenali bahwa sumber ajaran tersebut memiliki silsilah yang langsung dan otentik dari Buddha Shakyamuni sendiri. Setelah memahami akan hal ini, kita butuh merenungkan kelahiran kita sebagai manusia yang berharga dan harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar kita tidak terjatuh ke alam rendah dan terus menerus terjebak dalam lingkaran kelahiran di samsara. Oleh karena itu kita mulai belajar untuk menolak jerat samsara dengan merenungkan bahwa sesungguhnya seluruh kenikmatan yang kita rasakan pada intinya merupakan dukkha yang disebabkan oleh banyaknya karma dan klesha atau kotoran batin yang memperkuat ego kita. Kita perlu melatih diri untuk mengurangi rasa ingin selalu dinomorsatukan dan merasa diri paling penting. Setelah perasaan muak tersebut muncul, timbullah sebuah pemikiran bahwa jika kita mengalami penderitaan di alam samsara, maka pastilah orang tua kita juga mengalami hal yang serupa. Kemudian jika kita mengingat jumlah kelahiran kita yang tak terbatas, semua makhluk juga pastilah pernah menjadi ibu-ibu kita di kehidupan yang lampau. Saat muncul rasa iba tersebut, muncullah sebuah aspirasi ingin membebaskan semua makhluk dari penderitaan tiada ujung tersebut. Untuk melihat penjelasan mendetail dari setiap topik, telah dirilis berita harian mengenai sesi pengajaran setiap harinya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menumbuhkan tidak hanya sekedar pengetahuan tetapi juga perasaan pada hati kita, para peserta retret bersama-sama mengucapkan bait-bait perlindungan terhadap Triratna dan membangkitkan bodhicitta, yaitu tekad untuk menolong semua makhluk. Biksu Bhadra Ruci juga meringkas materi yang telah dibabarkan dari awal hingga penghujung sesi dan membacakan bait-bait dalam Baris-Baris Pengalaman. Dengan senantiasa diajak untuk berpikir, merenung, dan merasakan penderitaan makhluk lain yang merupakan ibu-ibu kita dari kelahiran yang berjumlah tak terhingga, kita diajak untuk memantapkan aspirasi untuk mencapai pencerahan sempurna. Kita juga selalu diminta untuk mengingat dan mengulang janji tersebut setiap harinya untuk semakin memperkuat motivasi tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tiada pencapaian yang bisa diperoleh tanpa perjuangan. Sama halnya ketika kita begitu menginginkan tercapainya cita-cita yang kita miliki di dunia ini, realisasi spiritual merupakan sesuatu yang patut kita tuju. Bersemangatlah dalam mengembangkan batin dan melangkah bersama komunitas yang baik. Sampai kita semua berjumpa lagi dengan batin yang lebih bajik dan bijak, para pejuang spiritual!</span></p>
<p>Foto-Foto:</p>
<figure id="attachment_3896" aria-describedby="caption-attachment-3896" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img class="wp-image-3896 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3896" class="wp-caption-text">Persembahan mandala, bagian dari praktik pendahuluan yang mengawali sesi terakhir Indonesia Lamrim Retreat 2017</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3895" aria-describedby="caption-attachment-3895" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3895 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3895" class="wp-caption-text">Acara diakhiri dengan persembahan khatag atau selendang putih kepada Biksu Bhadra Ruci selaku pembimbing retret. Setelah dipersembahkan, khatag dikalungkan kembali kepada peserta retret.</figcaption></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2017 05:53:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[happiness]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[LGBT]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3874</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bayangkanlah kegiatan yang sehari-harinya kita lakukan tepat ketika kita bangun pagi hingga terlelap lagi. Momen saat pertama kali kita membuka mata di pagi hari, kita selalu mengorientasikan aktivitas kita kepada sesuatu yang berada di luar kita. Mengingat-ingat PR yang belum dikerjakan jika kita masih bersekolah. Atau mengingat tumpukan pekerjaan yang diberikan atasan jikalau kita sudah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bayangkanlah kegiatan yang sehari-harinya kita lakukan tepat ketika kita bangun pagi hingga terlelap lagi. Momen saat pertama kali kita membuka mata di pagi hari, kita selalu mengorientasikan aktivitas kita kepada sesuatu yang berada di luar kita. Mengingat-ingat PR yang belum dikerjakan jika kita masih bersekolah. Atau mengingat tumpukan pekerjaan yang diberikan atasan jikalau kita sudah bekerja. Lalu kapan kita mempunyai waktu untuk fokus pada pengembangan batin dan spiritual kita?</p>
<p>Begitulah kira-kira sepenggal paragraf pembuka yang dikatakan oleh Biksu Bhadra Ruci pada sesi dalam Indonesia Lamrim Retreat pada tanggal 29 Desember 2017. Lebih jauh, Biksu Bhadra Ruci juga mengajak kita untuk kembali melihat realita yang sering terjadi dalam diri kita ketika menjalani kehidupan manusia yang singkat ini. Kita sering kali mengejar materi bahkan rela mati demi hal-hal tersebut. Kita bisa mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengejar nilai A dalam pelajaran atau untuk menyenangkan hati atasan. Lantas apa bedanya kita dengan dua ekor ajing yang memperebutkan tulang, mempertahankan teritorinya masing-masing, dan beranak pinak?</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>Tidak ada jaminan bahwa pada kelahiran berikutnya, kita akan kembali terlahir sebagai manusia.</p></blockquote>
<p>Sepenggal kalimat yang dikutip dari teks Bodhicaryawattara tadi mengingatkan kita untuk tak lupa melakukan refleksi terhadap batin kita. Apakah batin kita mampu membendung karma hitam yang telah kita perbuat dari kehidupan masa lampau sampai saat ini sehingga kita yakin bahwa kita bisa terlahir kembali sebagai manusia yang lengkap sempurna?</p>
<p>Setiap saat, karma dan klesha kita terus menghasilkan sesuatu, dengan setiap hasil tersebut pasti akan matang dan berbuah di satu kehidupan maupun kehidupan berikutnya. Salah satu bentuk nyata bahwa karma akan berbuah misalnya terkait pemahaman kita akan teks ini. Kita bisa memahami tulisan-tulisan ini sebab kita telah menanam bibit karma untuk bisa paham sehingga kita bisa mempersepsi paragraf demi paragraf dengan baik. Sebab-sebab di masa lalu menentukan kualitas kehidupan kita saat ini. Dengan pemahaman akan hal ini, bagaimana kita bisa menjamin kelahiran berikut akan sesuai dengan keinginan kita sementara sebab yang kita buat tidak mendukung terjadinya hal tersebut? Sementara ketika ajal menjelang, sifat dan perilaku yang paling dominanlah yang akan menentukan kelahiran kita, yang umumnya bersifat buruk. Ketika tubuh jasmani yang layaknya selembar kertas yang rapuh ini mendekati kematian, kita kebingungan untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini berada maupun menjadi milik kita. Saat kita tidak mempersiapkan batin, lalu apa arti kehidupan yang selama ini telah kita jalani? Kita butuh timbunan karma baik untuk bisa memahami hidup, memahami samsara, agar kita bisa serius mengejar spiritual dan merefleksikan batin ini dengan metode yang tepat. Kita butuh merawat diri kita sendiri dan memperjuangkan kehidupan pribadi, sebab selama ini sudah terlalu banyak upaya yang kita lakukan untuk memuaskan sesuatu yang berada di luar kita, menyenangkan atasan kita misalnya. Kita perlu merenungkan kehidupan kita untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati yang selama ini selalu kita dambakan adalah dengan menjadi Buddha.</p>
<p>Untuk mencapai hal tersebut, kita perlu menggunakan tubuh jasmani ini sebagai media. Layaknya kapal yang digunakan untuk menyebrang ke pulau yang berada di depan kita, tubuh ini harus senantiasa kita manfaatkan untuk mengembangkan batin dan bukannya menumpuk “sampah” dengan perbuatan buruk! Kebodohan kita akibat tidak menyadari hal ini dikatakan ibarat orang miskin yang menemukan pot emas bertahtakan permata namun dipakai untuk membuang muntah dan digunakan sebagai pispot. Sudah berapa banyaknya detik yang kita habiskan dalam menyia-niyakan potensi menuju Kebuddhaan untuk mengejar materi? Padahal, dengan membuat banyak karma kebajikan, kita sama sekali tidak perlu khawatir jatuh dalam kemiskinan. Dalam hal ini, Biksu Bhadra Ruci menegaskan bahwa bekerja bukanlah sebuah dosa besar. Bekerja merupakan hal yang diperbolehkan, dengan catatan kita tidak terlena di dalamnya. Akan tetapi, kita juga harus menyisihkan waktu untuk praktik Dhamma, misalnya dengan mengingat momen demi momen bahwa pada saat ini, saya tengah menggunakan tubuh manusia yang berharga untuk pengembangan batin. Jangan terus-terusan kita habiskan waktu untuk aktivitas duniawi semata tanpa disertai motivasi bajik, sebab hal ini diibaratkan bagai sekam padi yang ditampi. Tak ada gunanya.</p>
<p>Setiap momen besar yang kita alami diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti terminal dengan setiap terminal yang kita datangi bersifat tidak pasti. Hal ini sangat mirip dengan batin kita yang selalu berkelana dan berubah-ubah. Kita tidak pernah tahu pasti bagaimana batin kita di masa mendatang. Oleh karenanya kita perlu menjinakkan dan menyebabkan sebab-sebab baik karena hidup yang kita peroleh selama ini merupakan perjuangan dan bukan pemberian. Dengan melanjutkan logika tersebut, inilah salah satu alasan mengapa membunuh merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan. Oleh karena hidup bukanlah pemberian, maka kita tak berhak mengambilnya. Kita pun harus memahami bahwa jika kita saja tidak mau menderita, maka setiap makhluk apapun baik besar, kecil, tampak maupun tak tampak memiliki aspirasi yang sama untuk mendapatkan kebahagiaan. Sayangnya zaman ini, kita sering menemukan orang-orang yang merasa tertekan hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Hal ini tidak mengherankan karena di zaman milenial ini, kita sangat dihimpit oleh tuntutan dan keinginan untuk mencapainya dengan instan. Kita juga sering kali lupa bahwa setiap momen, diri kita selalu berubah dan diri kita yang saat ini merupakan kumpulan sebab tak terhingga yang telah kita kumpulkan sejak dahulu. Biksu Bhadra Ruci mencontohkan konsep ini dengan kisah anak kota dan anak kampung. Anak kota yang terbiasa dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan bagi dia dan dimanjakan sehari-hari, akan kesulitan menghadapi tekanan dan realita kehidupan. Ia akan lebih mudah kehilangan harapan yang mungkin saja berujung pada bunuh diri. Beda halnya dengan anak kampung yang terbiasa menerima realita kehidupan dan tidak mendapatkan kenikmatan terus menerus. Kedua anak ini bisa sangat berbeda akibat sebab-sebab yang telah dihimpun sejak kecil.</p>
<p>Oleh karena dasar itulah, kita butuh berlindung. Kita membutuhkan perlindungan Triratna untuk terus membuka wawasan dan mengubah cara pandang kita menuju adanya harapan untuk bisa mendapat kebahagiaan sejati. Dalam sesi hari ini, Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa Buddha adalah obyek yang layak bagi kita untuk berlindung sebab Buddha sendiri sudah bebas dari samsara. Beliau juga mahir membebaskan makhluk yang berada dalam ketakutan layaknya kita yang takut akan kematian dan ketidakpastian. Buddha secara adil dan penuh cinta kasih bertindak untuk kepentingan semua makhluk dan menolong mereka tanpa memandang apakah ia menguntungkan atau merugikan Sang Buddha.</p>
<p>Tidak ada makhluk yang dikutuk, karena pembeda antara aku dan penjahat hanyalah persoalan intensitas dan keberanian.</p>
<p>Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk bahwa Buddha menolong siapapun tanpa menghakimi. Apalah bedanya antara kita dan pembunuh? Jika kita katikan dengan pembelajaran-pembelajaran sebelumnya, kita sama-sama memiliki karma dan klesha. Pembunuh memiliki rasa benci, begitupun kita. Pembunuh memiliki rasa tamak, dan begitu pula halnya dengan kita. Hanyalah kadar dan tingkat keberanian kita yang membedakan. Bisa dikatakan, kita bahkan memiliki posisi yang sama dengan dirinya sebab baik kita maupun pembunuh bisa mencapai potensi yang sama untuk menjadi seorang Buddha. Buddha menerima siapapun untuk menjadi muridnya, bahkan pembunuh sekalipun seperti Angulimala.</p>
<p>Akhir-akhir ini kita banyak mendengar isu tentang orang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), bagaimana mereka dituding melakukan dosa besar melawan kodrat alam dan menyebabkan seluruh bangsa akan tertimpa azab. Buddha tidak pernah mengatakan bahwa Beliau tidak menerima kaum LGBT untuk menjadi umat dan berpraktik Dharma. Lebih lanjut, Biksu Bhadra Ruci menambahkan bahwa LGBT dari sudut pandang Buddhisme ibarat seseorang yang menyukai bakso dan temannya yang menyukai soto.</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>Hanya karena temannya menyukai soto, apakah menyukai bakso kemudian menjadi hal yang salah?</p></blockquote>
<p>Tentunya tidak. Ketika orang-orang dengan orientasi heteroseksual dan homoseksual mempelajari Lamrim, keduanya sama-sama memiliki potensi yang sama untuk mencapai realisasi spiritual. Lantas siapa kita untuk menghakimi bahwa LGBT dan pembunuh lebih buruk daripada kita?</p>
<p>Kita telah disediakan jalan dan tahapan untuk mencapai kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan, kita pun harus senantiasa ingat untuk tidak memboroskan karma baik yang telah kita peroleh. Makanan, air, tempat tinggal yang nyaman, listrik, dan masih banyak hal lainnya yang kita nikmati saat ini. Kesemuanya adalah buah karma baik yang sering kali kita boroskan sehingga ketika tiba waktunya, karma baik kita tidak lagi cukup untuk membuat kita terlahir sebagai manusia, lebih-lebih mencapai kebahagiaan sejati. Pada akhirnya, Buddhisme adalah tentang memilih. Apakah kita ingin bahagia dengan memupuk karma kebajikan atau sebaliknya? Selebihnya hanyalah mengenai bagaimana kita ingin menjalankan dan memaknai kehidupan kita sebagai manusia yang berharga.</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Dec 2017 01:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3854</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!” [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan ini menjadi </span><i><span style="font-weight: 400;">headline</span></i><span style="font-weight: 400;"> di hari kelima Indonesia Lamrim Retreat 2017. Biksu Bhadra Ruci melanjutkan pembahasan poin pertama dari bab 4 Lamrim, yaitu bertumpu kepada guru spiritual, akar dari Sang Jalan. Banyak guru-guru besar yang mencapai pencerahan berkat keyakinan dan bakti mereka kepada guru spiritual mereka. Untuk bisa sampai ke sana, kita harus tahu manfaat-manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak memiliki guru spiritual, serta kerugian tidak bertumpu kepada guru dengan benar. Poin-poin tersebut berfungsi untuk menguatkan motivasi kita untuk bertumpu kepada guru spiritual. Setelahnya, barulah kita masuk ke cara berbakti pada guru spiritual melalui pikiran. Poin ini terdiri atas dua bagian: membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual dan membangkitkan rasa hormat dengan mengingat kebaikan guru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual adalah meyakini bahwa guru kita adalah Buddha.<strong> Kenapa perlu memandang guru sebagai Buddha?</strong> Itu karena kita ingin untung, tidak mau rugi. <strong>Dengan memandang guru sebagai Buddha yang sesungguhnya, kita akan mendapatkan berkah seorang Buddha pula.</strong> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, <strong>apa mungkin kita melihat guru kita sebagai Buddha?</strong> Untuk itu, kita harus bisa <strong>fokus pada kualitas-kualitas baik guru kita.</strong> Jika kita melihat beliau memiliki kekurangan, kita harus berpikir lagi, apakah benar guru kita memiliki kekurangan tersebut atau kita melihat kekurangan itu karena batasan persepsi kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Dalam berbagai sutra, disebutkan bahwa Buddha akan hadir dalam wujud guru spiritual di zaman kemerosotan. Guru spiritual mewakili para Buddha melakukan aktivitas Buddha, yaitu mengajarkan Dharma kepada kita.</strong> Kita sendiri tidak memiliki cukup karma bajik untuk bisa melihat sosok Buddha yang bercahaya dengan 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan. Karena itu, Buddha hadir dalam wujud manusia yang setara dengan kita sehingga kita dapat menerima ajaran darinya. Meskipun wujudnya manusia, tidak mungkin pula guru spiritual kita merupakan manusia biasa. Mana mungkin Buddha mengandalkan manusia biasa untuk menjalankan aktivitas Beliau?</span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Buddha tidak bisa mencuci dosa kita dengan air, Buddha juga tidak bisa mengambil penderitaan kita, apalagi memindahkan pemahaman beliau ke otak kita. Cara Buddha menolong semua makhluk adalah dengan mengajarkan Dharma. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Buddha selama berkalpa-kalpa berjuang untuk mencapai pencerahan sempurna demi menolong semua makhluk. Apa mungkin Beliau hanya mengajar selama 45 tahun sampai parinirwana, lalu meninggalkan kita semua yang sekarang masih ada di samsara? Tentu tidak begitu. Para Buddha dan Bodhisatwa pasti masih terus bekerja untuk kepentingan semua makhluk. Tapi sekarang kita tidak bisa bertemu Buddha Sakyamuni, lantas bagaimana Beliau bisa mengajarkan Dharma? Jawabannya jelas, Beliau mengajar dalam wujud guru spiritual kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak bisa benar-benar melihat guru spiritual sebagai Buddha karena <strong>persepsi kita tidak bisa diandalkan</strong>. Seperti yang telah dijelaskan di hari-hari sebelumnya, kita melihat sesuatu tergantung karma yang kita miliki. Jika kita merasa pacar kita menyebalkan, berarti kita memiliki karma bertemu pacar yang menyebalkan. Jika kita pindah ke planet lain dan pacaran dengan alien, selama kita masih memiliki karma tersebut, kita tetap akan merasa pacar alien kita menyebalkan. Begitu pula dengan persepsi kita terhadap guru spiritual kita. Karma penghalang kita menyebabkan kita melihat guru kita masih memiliki kekurangan. Karena itu, kita makin harus berusaha lebih keras membangkitkan keyakinan terhadap guru dan mempraktikkan Dharma sesuai dengan instruksi beliau untuk mengurangi karma penghalang tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam praktik bertumpu kepada guru spiritual, <strong>seorang murid juga harus memiliki kualitas-kualitas tertentu</strong>. Pertama, seorang murid <strong>tidak boleh berpihak</strong>. Yang dimaksud tidak berpihak adalah tidak keras kepala memegang pandangannya sendiri. Belajar Dharma adalah proses mengubah cara pandang. Jika kita pandangan yang kita miliki saat ini sudah benar, bukankah seharusnya kita sudah mencapai pencerahan? Nyatanya kita belum mencapai pencerahan, karena itulah kita perlu guru yang mengajarkan kita Dharma untuk mengubah cara pandang kita menjadi lebih baik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, seorang murid juga harus <strong>memiliki kecerdasan</strong> agar dapat memahami Dharma. Banyak orang menganggap Buddhadharma adalah agama kolot dan tidak intelek. Namun, jika memang demikian, mana mungkin Buddhadharma bisa bertahan selama 2500 tahun? Guru-guru besar Buddhis juga diakui sebagai filsuf hebat, bahkan mendahului filsuf barat seperti Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Bahkan HH Dalai Lama XIV diakui sebagai tokoh dunia yang diundang untuk berdiskusi di level yang sama dengan ilmuwan-ilmuwan besar. Buddhadharma adalah ajaran yang menggabungkan pemahaman logis dan rasa dari hati. Jika kita tidak cukup cerdas, pasti sulit untuk memahami Dharma, apalagi mempraktikkannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga, seorang murid harus<strong> ulet, memiliki rasa hormat yang besar terhadap guru</strong>, dan mau <strong>mendengarkan instruksi guru dengan penuh perhatian</strong>. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa penyebab utama kita gagal membangkitkan keyakinan kepada guru dan Triratna dan gagal mempraktikkan Dharma adalah kemalasan. Kemalasan ini ada tiga jenis: sikap menunda-nunda, beralasan tidak sanggup, atau lebih tertarik pada distraksi yang tak bermanfaat. Jika direnungkan, kita pasti memiliki setidaknya satu dari tiga jenis kemalasan tersebut, atau malah tiga-tiganya. Selama kita tidak berjuang melawan kemalasan tersebut, praktik Dharma kita tidak akan berhasil. Kita tidak akan bisa mengubah batin kita menjadi lebih baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan pada guru spiritual merupakan dasar utama ketika kita ingin mengembangkan batin kita berdasarkan metode Lamrim dan keyakinan memang tidak dapat langsung muncul. Hal tersebut merupakan suatu kualitas yang harus kita latih setahap demi setahap. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi apakah kita sudah membuat upaya untuk menumbuhkan keyakinan tersebut?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<figure id="attachment_3859" aria-describedby="caption-attachment-3859" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3859 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg" alt="" width="702" height="394" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-scaled-600x337.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-768x431.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1536x863.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-2048x1150.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1200x674.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3859" class="wp-caption-text">Cara kita menyusun persembahan di altar merupakan contoh bukti keyakinan terhadap Triratna.</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3857" aria-describedby="caption-attachment-3857" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3857 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3857" class="wp-caption-text">Mempersembahkan pelita untuk umur panjang guru spiritual, salah satu cara berbakti keapda guru.</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2017 04:27:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berbagi Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lakoh hidup sang penerang]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[promosi dharma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3726</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seperti apa sih hidup seorang Bodhisatwa? Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan dalam sharing dharma di Vihara Buddhasena Bogor pada tanggal 26 November 2017. Dalam sharing dharma ini, upasaka Hendra Wijaya, S. Kom. membedah buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa, sebuah kitab spiritual klasik tentang latihan yang harus dilakukan siapapun yang ingin mencapai pencerahan. [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seperti apa sih hidup seorang Bodhisatwa? Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan dalam <em>sharing </em>dharma di Vihara Buddhasena Bogor pada tanggal 26 November 2017. Dalam <em>sharing </em>dharma ini, upasaka Hendra Wijaya, S. Kom. membedah buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa, sebuah kitab spiritual klasik tentang latihan yang harus dilakukan siapapun yang ingin mencapai pencerahan. Bedah buku dilakukan dua kali, pertama di kebaktian pemuda yang dihadiri oleh 69 orang muda-mudi Buddhis dan kedua di kebaktian umum yang dihadiri oleh 83 orang.</p>
<p><strong>Praktik Dharma Ala Bodhisatwa Zaman <em>Now</em></strong></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>“Kelahiran sebagai manusia sangatlah langka, ibarat kura-kura buta yang lehernya muncul di permukaan laut melewati cincin emas yang terombang-ambing di tengah ombak.”</p></blockquote>
<p>Di kebaktian pemuda yang berlangsung pukul 7.30 pagi, Kak Hendra mengajak muda-mudi Buddhis Bogor dan mahasiswa dari berbagai universitas seperti UI, Universitas Pancasila, dan Universitas Gunadarma yang menghadiri acara tersebut untuk berpraktik dharma ala Bodhisatwa zaman <em>now. </em>Caranya pertama-tama adalah menetapkan Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna sebagai tujuan, lalu menggunakan kelahiran manusia yang amat berharga dan mempraktikkan dharma. Kelahiran sebagai manusia sangatlah langka, ibarat kura-kura buta yang lehernya muncul di permukaan laut melewati cincin emas yang terombang-ambing di tengah ombak, maka dari itu sangatlah sayang jika digunakan hanya sebatas agar bisa jadi kaya atau makmur di kehidupan ini, padahal sangatlah mungkin tubuh manusia ini digunakan untuk mencapai pencerahan sempurna.</p>
<p><strong>Mati Sukses Sebagai Bodhisatwa</strong></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><strong>“</strong>Amatlah penting untuk senantiasa menyetel motivasi untuk mencapai kebuddhaan sebelum melakukan setiap tindakan bajik.”</p></blockquote>
<p>Di kebaktian umum pukul 11.30, Kak Hendra memberi tips untuk mati sukses sebagai Bodhisatwa. Beliau mengingatkan bahwa apapun tradisi Buddhis yang kita ikuti, baik Therawada, Mahayana, ataupun Tantrayana, semua bertujuan untuk menjadi Buddha, baik Srawaka Buddha, Pratyeka Buddha, maupun Sammasambuddha. Dalam praktik tersebut, amatlah penting untuk senantiasa menyetel motivasi untuk mencapai kebuddhaan tersebut sebelum melakukan setiap tindakan bajik, lalu mendedikasikan kebajikan yang telah dilakukan untuk terwujudnya tujuan tersebut.</p>
<p>Dengan berpegang pada tips-tips tersebut, Kak Hendra mengajak semua hadirin untuk meresapi petunjuk praktik Bodhisatwa dalam buku “Lakon HIdup Sang Penerang”. Buku ini berisi sajak-sajak tentang cara menjadi seorang Bodhisatwa. Setiap baitnya dapat direnungkan dalam meditasi analitis sehingga pembaca akan mendapatkan inspirasi tentang praktik dharma seperti apa yang bisa dilakukan sehari-hari. Buku ini bisa dibaca hingga habis dalam waktu yang singkat, bisa pula dibaca dari bait-bait tertentu sesuai dengan suasana hati dan situasi hidup kita.</p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3728 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58.jpeg" alt="" width="1052" height="780" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58.jpeg 1052w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-600x445.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-300x222.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-1024x759.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-768x569.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-150x111.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-450x334.jpeg 450w" sizes="(max-width: 1052px) 100vw, 1052px" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>“Bedah buku ini sangat baik karena dari tidak membaca akan jadi berminat membaca dan yang tidak sempat membaca seolah-olah seperti sudah membaca,” kata Viriyanti, salah satu peserta bedah buku.</em></p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3729 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28.jpeg 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-600x450.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-300x225.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-1024x768.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-768x576.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-150x113.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-450x338.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-1200x900.jpeg 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Penyerahan buku &#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; karya Shantidewa dan buku dharma gratis &#8220;Catur Brahmawihara&#8221; karya Dagpo Rinpoche dari Lamrimnesia untuk Vihara Buddhasena</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ingin ada bedah buku dharma juga di sekolah atau viharamu?<br />
</em><em>Hubungi:<br />
</em><em>Call Center Lamrimnesia<br />
</em><em>Hp/wa: +62812 2281 6044<br />
</em><em>Fb/ig: Lamrimnesia<br />
</em><em>Email: info@lamrimnesia.org</em></p>
<p><em>Dapatkan buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa di store.lamrimnesia.org</em></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Welas Asih</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Oct 2017 12:11:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3715</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith. Menundukkan Kemarahan Membawa Damai Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith.</span></i></p>
<p><strong>Menundukkan Kemarahan Membawa Damai</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua orang karena telah datang ke sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda berada di sini untuk belajar tentang welas asih dan untuk membantu dunia. Ada dorongan yang luar biasa, ada kebutuhan besar untuk membantu makhluk hidup yang tidak memiliki kebahagiaan dan yang terus-menerus menderita. Mereka sangat membutuhkan bantuan Anda. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang datang ke sini, yang niatnya adalah untuk memberi manfaat kepada orang lain dan untuk belajar tentang cara melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya harus meminta maaf atas kebiasaan saya untuk datang terlambat. Semua sudah lama menunggu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, saya ingin menyebutkan apa yang telah dibaca, apa yang saya dengar, tentang dunia yang penuh dengan bencana atau penderitaan, dunia dengan begitu banyak masalah. Apakah welas asih kita dapat melakukan sesuatu untuk membantu? Itulah yang saya dengar. Saya ingin menyebutkan ini untuk memulai sesi kali ini. Sesuatu yang logis. Sangat logis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikatakan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Bodhicaryawatara</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Lakon Hidup Bodhisatwa) karya guru besar India, Shantidewa, bahwa jika Anda ingin menutupi seluruh dunia dengan karpet kulit, jika Anda ingin menutupi semua semak duri yang tumbuh di dunia ini, takkan ada cukup kulit untuk menutupinya agar Anda bisa berjalan dengan kaki telanjang tanpa terluka sedikit pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi, jika Anda memakai sepatu kulit, maka ke mana pun Anda pergi, ke bagian dunia mana pun yang Anda kunjungi, semak duri takkan bisa melukai kaki Anda. Jika Anda mengenakan sepatu yang memiliki sol kulit, duri takkan bisa melewati sepatu untuk melukai kaki Anda. Ke mana pun Anda pergi, duri takkan menembus masuk ke dalam kaki Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, jika batin Anda berhasil ditundukkan atau dijinakkan – maka kemarahan, ketidaktahuan, kemelekatan, keinginan, pikiran yang tidak puas, dan semua sikap negatif yang menyamar dan mengganggu – maka takkan ada lagi musuh di dunia; Anda tak dapat lagi menemukan musuh di dunia. Ketika kemarahan, khayalan, dan sikap negatif yang menyamar dan mengganggu dihilangkan, takkan ada tempat di mana Anda bisa menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa menjinakkan pikiran Anda dengan melatih hati yang baik, belas kasih untuk orang lain, tentu saja, kemarahan muncul. Tanpa menjinakkan pikiran, dengan khayalan ini, maka tidak masalah berapa banyak musuh luar yang Anda bunuh, tidak pernah selesai. Tidak ada akhir, tidak ada akhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada dasarnya, jika Anda membunuh satu orang yang merugikan Anda, maka teman-temannya akan menjadi musuh Anda. Mereka menjadi musuh bagi Anda. Lalu, teman-teman mereka akan menjadi musuh bagi Anda. Kemudian, dari sana, seluruh masyarakat, ratusan, puluhan ribu orang, populasi seluruh negara akan menjadi musuh Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada umumnya, dalam perang, ratusan ribu orang terbunuh, meski biasanya konflik hanya dimulai antara dua orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita hanya berbicara tentang kehidupan ini, masalah dalam kehidupan ini. Efek yang Anda dapatkan dari membunuh musuh sebenarnya jauh lebih buruk daripada itu. Anda ingin memiliki kedamaian abadi, tapi Anda lebih banyak merasakan bahaya dari orang lain. Bahkan jika Anda tidak menerima kerugian sekarang, tahun ini, Anda akan menerimanya nanti, di tahun-tahun lainnya. Mereka akan membahayakan Anda. Mereka akan memendam dendam dan Anda akan mendapat bahaya nanti.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, berhubung ada kesinambungan dari arus kesadaran, kesadaran akan tetap eksis bahkan setelah tubuh Anda hancur atau berhenti berfungsi. Kita bisa mengingat apa yang kita lakukan kemarin, kita bisa mengingat seperti apa kehidupan kita kemarin karena ada kesinambungan dari arus kesadaran dari hari kemarin sampai hari ini. Dari tahun lalu hingga saat ini, ada kesinambungan dari arus kesadaran. Kesadaran tahun lalu berlanjut, dan kesadaran hari ini merupakan kesinambungan dari itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah sebabnya kita bisa mengingat tahun lalu dan masa kecil kita. Beberapa orang bahkan punya kejernihan batin untuk bisa mengingat momen paling awal dari kelahiran mereka. Kebanyakan orang tidak bisa mengingatnya, tapi beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka pertama kali keluar dari kandungan ibu mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka berada di rahim ibu – ini adalah orang-orang yang memiliki batin yang sangat jernih, yang tidak terpengaruh oleh banyak kotoran batin, yang memiliki batin yang sangat berkembang. Mereka yang memiliki batin seperti ini bisa mengingat proses konsepsi di rahim ibu. Mereka ingat saat-saat ketika mereka berada di rahim ibu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, mereka bisa mengingat kehidupan lampau mereka. Sebelum kesadaran terjadi di rahim ibu, mereka sudah punya ingatan. Mereka ingat di mana mereka dan apa yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka yang memiliki batin seperti ini – orang-orang dengan kewaspadaan yang tinggi – dapat melihat masa lalu dan masa depan, tidak hanya pengalaman mereka sendiri, tapi juga pengalaman orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tanpa menundukkan emosi negatif seperti amarah, kita akan terus-menerus merasakan bahaya dari orang lain di masa depan. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini akan menghasilkan konsekuensi panjang yang akan kita alami dalam rangkaian kehidupan mendatang. Dalam ratusan, ribuan kehidupan, kita akan mengalami kerugian dari orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita hanya memikirkan satu kehidupan ini saja, kita sama sekali tidak akan memiliki kedamaian. Artinya, bahkan jika kita tidak menerima bahaya dari orang lain, semata memikirkan kehidupan saat ini takkan menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan batin. Batin kita akan merasa bersalah dan tidak bahagia. Ini terutama terjadi saat kematian datang menjemput. Ketika saat itu tiba, kita akan merasa bahwa kita memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, Shantidewa menasihati kita untuk mengembangkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif lainnya. Ketika batin kita telah dijinakkan atau ditundukkan, ketika kemarahan dan emosi negatif lainnya ditundukkan, ini sama seperti menghancurkan semua musuh sekaligus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini bisa menjadi bahan renungan kita. Musuh dibuat oleh batin kita. Musuh berasal dari batin kita. Label &#8220;musuh&#8221; berasal dari kemarahan kita. Saat kita marah, label &#8220;musuh&#8221; pun muncul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat kemarahan muncul, kita melihat seseorang sebagai musuh. Tapi, begitu kita merenungkan dan memunculkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif sejenis kepada orang itu, maka kemarahan kita pun lenyap dalam satu jentikan jari. Orang itu bukan lagi musuh; kita tidak melihat orang itu sebagai musuh pada momen berikutnya. Dengan kesabaran, kita melihat orang itu sebagai yang paling baik, sosok yang paling berharga. Kita merasa orang itu sangat berharga dalam hidup kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan orang yang tidak meyakini reinkarnasi atau hukum karma juga akan mengiyakan poin ini. Dengan melatih kualitas-kualitas positif terhadap orang yang kita sebut musuh, kita dapat mengurangi kemarahan kita padanya; kita dapat mengembangkan lebih banyak kesabaran, lebih banyak welas asih padanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, terhadap keluarga, pasangan, dan anak-anak kita, kita dapat mengembangkan lebih banyak welas asih, bersikap lebih sabar lagi pada mereka. Kita bisa membuat kemarahan kita semakin berkurang. Ia akan berkurang tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun setelahnya. Dalam 6-7 tahun, kita mungkin hampir takkan pernah marah lagi. Bahkan jika kemarahan muncul, ia hanya akan berlangsung 2-3 detik dan kemudian hilang. Ia tidak berlangsung lama seperti sebelumnya. Ia sangat jarang muncul, dan tidak bertahan lama. Ia muncul selama beberapa detik, lalu lenyap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita akan memiliki hubungan yang sangat baik, harmonis, dan damai dengan keluarga kita, dengan teman-teman kita. Ada begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak marah pada orang lain. Alih-alih marah kepada mereka, kita memiliki kesabaran dan pikiran positif, pikiran yang bahagia. Kita memiliki pikiran yang sehat, pikiran yang damai dan bahagia. Kita memunculkan semua kualitas positif ini, dan kita mengembangkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, tapi kita juga menguntungkan mereka. Melalui batin yang positif, kesabaran dan (terutama) welas asih pun muncul. Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, kita akan membantu mereka dengan penuh welas asih. Jadi, alih-alih merugikan orang lain, kita menguntungkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang terjadi. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi keluarga kita. Dan karena kita tidak marah, kita tidak menyakiti orang lain, dan mereka tidak marah kepada kita. Kita tidak menyebabkan mereka marah kepada kita, kita tidak menyebabkan mereka menyakiti kita. Kita tidak menyebabkan mereka menciptakan karma negatif karena kita, terhadap kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, kita akan membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan anggota keluarga, suami atau istri, atau anak-anak, atau siapa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, semua orang menginginkan itu. Kita semua ingin keluarga kita mencintai kita, bahagia bersama kita. Kita tidak ingin ada yang marah kepada kita, menyakiti kita, memperlakukan kita dengan buruk, atau mengkritik kita. Kita tidak menginginkan semua itu. Kita tidak ingin keluarga kita merasa tidak bahagia, memiliki pikiran negatif, marah kepada kita dan terlibat dalam karma negatif, yang semua itu harus mereka tanggung akibatnya. Kita tidak ingin mereka menanggung penderitaan dalam bentuk apa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak hanya itu. Terhadap semua manusia di negara tempat kita berada, kita juga tidak marah kepada mereka; kita tidak menyakiti mereka. Dengan hati yang baik, dengan kesabaran, jutaan orang di negara kita akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari diri kita, dari kesabaran kita, dari welas asih kita. Semua manusia di dunia ini, dan semua makhluk lainnya, termasuk binatang, tidak akan menerima bahaya dari kemarahan kita. Semua makhluk tidak akan mendapat bahaya dari kita. Mereka akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari kita. Tiadanya bahaya adalah kedamaian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan jika kita tidak terlibat dalam pelayanan tambahan atau memberi manfaat kepada orang lain, ketiadaan amarah adalah kedamaian dan kebahagiaan yang akan mereka terima dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita berbicara melampaui konteks kehidupan di dunia ini, maka bisa dikatakan bahwa makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya di dunia-dunia yang lain juga tidak akan mendapat bahaya dari kita jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih. Jika kita berhenti menyakiti orang lain dengan mengembangkan pikiran yang sabar dan berwelas asih, maka dari kehidupan ke kehidupan, makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya akan menerima kedamaian dan kebahagiaan dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, semua kedamaian dan kebahagiaan inilah yang bisa kita hasilkan, yang dimulai dari keluarga kita, kemudian negara kita, kemudian dunia ini, dan akhirnya semua makhluk hidup di seluruh alam semesta. Kita bisa menawarkan ini karena kita melatih kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tertentu yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang merugikan kita, takkan kita balas dengan kemarahan yang sama jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas yang luar biasa dan tak ternilai ini di dalam diri kita? Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas ini sehingga akhirnya kita bisa memberi kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk hidup? Mereka yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang menyiksa kita, yang merugikan kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka memberi kita kesempatan dan membantu kita untuk menghasilkan kualitas yang tak ternilai ini di dalam batin, sehingga kita akhirnya dapat menawarkan semua kedamaian dan kebahagiaan ini kepada makhluk hidup lain yang tak terhitung jumlahnya dari kehidupan ke kehidupan. Oleh karena itu, mereka sangat berharga. Tidak ada ucapan terima kasih yang dapat mengungkapkan perasaan syukur kita atas hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tak perlu berbicara tentang kehidupan mendatang. Dalam kehidupan saat ini saja, kita dapat menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan melalui kesabaran dan welas asih kepada keluarga dan negara kita dan seluruh dunia. Kita bisa membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada mereka. Itu sangat luar biasa. Itu akan mencapai tujuan hidup kita. Itulah arti sebenarnya dari kehidupan, sesuatu yang membuat hidup menjadi berharga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semuanya karena kebaikan dari orang yang telah marah kepada kita, yang merugikan kita. Karena kemarahan dan tindakan buruk mereka, kita diberi kesempatan untuk melatih batin kita, untuk melatih kesabaran dan welas asih, untuk menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada dunia, kepada makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya katakan sebelumnya bahwa tiadanya bahaya itu sendiri adalah kedamaian dan kebahagiaan. Kemudian selain itu, kita menawarkan pelayanan kepada orang lain, jadi ada tambahan kebahagiaan dan kedamaian. Ini semua karena kebaikan musuh kita. Oleh karena itu, melatih batin dengan orang tersebut membantu kita memiliki kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga dan kehidupan kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua ini adalah jawabannya. Inilah yang bisa kita lakukan untuk membantu dunia. Semuanya berasal dari pihak kita, yang tidak ingin membahayakan dunia dan penghuninya terlebih dahulu. Mulai satu per satu, dengan satu manusia atau dengan binatang yang paling dekat dengan kita. Dari sini, kita bisa berkembang lebih dan lebih, untuk membawa kebahagiaan kepada orang lain, untuk tidak menyakiti orang lain, dan untuk memberi mereka kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk melakukan semua itu, kita perlu mengubah batin  kita. Kita perlu mengubah kemarahan menjadi kesabaran, menjadi welas asih bagi orang lain. Apa yang dikatakan Shantidewa sangat benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita tidak memiliki kemarahan, maka ke mana pun kita pergi – Timur atau Barat, di rumah atau di luar, di kantor, ke mana pun kita pergi &#8211; kita tidak dapat menemukan musuh. Sebaliknya, dengan memiliki kemarahan, kita akan menemukan musuh di mana pun kita berada. Bahkan di pusat meditasi, bahkan di sebuah biara, bahkan di dalam gua sekali pun, kita akan menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita memiliki kemarahan terhadap seseorang, kita melihat orang itu sebagai sosok yang sangat tidak diinginkan. Kita tidak menyukai orang itu; ia adalah seseorang yang tidak ingin kita lihat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi pada momen berikutnya, ketika kita memikirkan kebaikan orang itu – yang telah memungkinkan kita untuk melatih kesabaran dan welas asih – kita akan melihatnya dengan cara yang benar-benar berlawanan dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang ini sebelumnya tidak diinginkan; kita tidak ingin melihatnya. Ia tidak diinginkan. Tapi sekarang, ia adalah orang yang paling berharga dan paling baik. Tidak ada ucapan terima kasih yang cukup untuk membalas kebaikannya. Ia lebih baik daripada seseorang yang memberi kita satu miliar dolar atau satu juta dolar. Kebaikan miliknya berbeda. Kebaikannya adalah sesuatu yang kita rasakan sangat mendalam di hati kita. Sekarang, ia menjadi sangat berharga; ia adalah seseorang yang harus kita miliki dalam hidup kita. Kita merasa sangat berbeda dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, kita bisa melihat bahwa tidak ada musuh; tidak ada musuh yang ada secara inheren. Orang lain tidak berubah. Kitalah yang mengubah batin kita; orang lain tidak berubah. Masih ada kemarahan orang itu di sana. Jika tidak, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika batin orang lain berubah terhadap kita, jika ia menghentikan kemarahannya, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kesabaran kita. Jadi sebenarnya, di mana pun kita berada, kita tidak memiliki musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika teman-teman kita tidak marah kepada kita, jika teman-teman kita mencintai kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran dengan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua makhluk hidup datang dalam tiga cara: baik sebagai teman, musuh, atau orang asing. Makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya adalah musuh, atau orang asing, atau teman. Jika makhluk hidup adalah orang asing, maka juga tidak ada kesempatan untuk melatih kesabaran dan menenangkan kemarahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pikirkan, &#8220;Di negara ini, di dunia ini, di antara makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya – mereka yang tercerahkan dan belum tercerahkan, mereka yang terbebas dari penderitaan dan tidak terbebas dari penderitaan, para makhluk biasa – mereka yang memiliki kemarahan terhadap saya adalah satu-satunya yang memberi saya kesempatan untuk mengembangkan batin saya, untuk menguntungkan semua makhluk hidup di seluruh dunia. Inilah satu-satunya pihak yang memungkinkan saya menjinakkan batin saya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, orang ini menjadi sangat berharga. Ketika kita melihat kebaikan musuh, kita tidak ingin musuh menderita; kita ingin membebaskan musuh dari penderitaan. Welas asih pun muncul untuk musuh kita. Ini hanya satu contoh. Jika kita bisa mengembangkan welas asih kepada musuh kita, maka akan mudah untuk mengembangkannya kepada orang asing atau teman. Akan sangat mudah untuk mengembangkan welas asih kepada mereka. Yang paling sulit adalah mengembangkan welas asih kepada musuh.</span></p>
<p><em>diterjemahkan oleh: Deny Hermawan</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Sep 2017 05:03:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[hate speech]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[love speech]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[sharelove]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3709</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hati-hati. Saat setiap orang memiliki akses untuk menyuarakan pendapatnya ke publik lewat media sosial, informasi yang sebenarnya bersifat opini atau cenderung subjektif mudah saja tersebar kemana-mana tanpa ada saringan, tanpa  kita sadari seringkali informasi tersebut bersifat bohong ataupun merugikan pihak-pihak tertentu atau yang biasa dikenal dengan hate speech (ujaran kebencian). Masalahnya apa? Adalah karena sifat [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hati-hati. Saat setiap orang memiliki akses untuk menyuarakan pendapatnya ke publik lewat media sosial, informasi yang sebenarnya bersifat opini atau cenderung subjektif mudah saja tersebar kemana-mana tanpa ada saringan, tanpa  kita sadari seringkali informasi tersebut bersifat bohong ataupun merugikan pihak-pihak tertentu atau yang biasa dikenal dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech </span></i><span style="font-weight: 400;">(ujaran kebencian). Masalahnya apa? Adalah karena sifat dasar manusia yang cenderung defensif saat menerima pemahaman yang berbeda dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">belief system</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang dimiliki, maka </span><b>saat massa menerima </b><b><i>hate speech </i></b><b>reaksinya hanya ada 2 macam</b><span style="font-weight: 400;">: </span></p>
<ol>
<li><b>Jika berbeda pandangan</b><span style="font-weight: 400;">: maka muncul rasa penolakan, dan rasa ingin membalas</span></li>
<li><b>Jika sama pandangan</b><span style="font-weight: 400;">: Atas dasar poin 1, maka orang akan cenderung impulsif untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">share</span></i><span style="font-weight: 400;"> apapun yang sepihak dengannya, tanpa menilai objektifitas dari informasi tersebut dengan lebih saksama. </span></li>
</ol>
<p><b>Hasilnya adalah lingkaran balas-membalas yang berputar semakin membesar</b><span style="font-weight: 400;"> seperti bola salju yang bergulir, menunjukkan bahwa tanpa intervensi, </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan terus membesar seiring dengan semakin terpolarisasinya masyarakat. Tak heran jika </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech </span></i><span style="font-weight: 400;">ini bisa menjadi bisnis, karena secara bawah sadar kebencian ini semakin membesar dalam diri masing-masing orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seumpama perang, maka dalam perang informasi ini pasti ada yang menang dan kalah, </span><b>efek dari </b><b><i>hate speech </i></b><b>ini dalam jangka panjang adalah kebohongan yang lama-kelamaan menjadi fakta</b><span style="font-weight: 400;"> yang diterima oleh masyarakat (tentunya dari mayoritas/pihak yang menang). </span><b>Sekali lagi, hati-hati!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi apa yang harus dilakukan? </span><b>Ingat bahwa kebencian tak akan hilang jika dilawan dengan kebencian</b><span style="font-weight: 400;">, sebaliknya seluruh agama menganjurkan bahwa kejahatan seharusnya dibalas dengan kebaikan. Ya, seluruh agama, penulis sudah cek, jadi kadang ironis ketika balas membalas kebencian bahkan dilakukan atas nama agama. Kembali ke poin awal,</span><b> arus </b><b><i>hate speech </i></b><b>bisa dilawan, yaitu dengan membiasakan diri dengan menyebarkan </b><b><i>love speech</i></b><b>!</b></p>
<p><b>Berikut ini adalah cara melawan hate speech &amp; menyebarkan </b><b><i>love speech</i></b><b> di sosial media:</b></p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3711 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech.png" alt="" width="2000" height="2100" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech.png 2000w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-600x630.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-286x300.png 286w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-975x1024.png 975w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-768x806.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1463x1536.png 1463w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1950x2048.png 1950w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-150x158.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-450x473.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1200x1260.png 1200w" sizes="(max-width: 2000px) 100vw, 2000px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211;  </span><b>BACA:</b><span style="font-weight: 400;"> ketika melihat sebuah postingan, jangan hanya baca judul terus langsung bereaksi. baca dulu baik-baik isinya<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; </span><b>RENUNGKAN:</b><span style="font-weight: 400;"> setelah membaca, renungkan isi postingan tersebut. apakah isinya positif atau negatif? apakah bermanfaat jika dishare? apakah membawa kebahagiaan atau menimbulkan kemarahan?<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; </span><b>SHARE:</b><span style="font-weight: 400;"> jika post tersebut menimbulkan kebahagiaan dan nilai2 positif lainnya, sebarkan!<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; <strong>REJOICE</strong></span><b>:</b><span style="font-weight: 400;"> bersukacitalah karena telah turut menyebarkan </span><i><span style="font-weight: 400;">love speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan membuat dunia lebih baik</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk orang-orang yang membaca artikel ini mungkin berpikir ini gombal atau klise. Tapi ingat, sama seperti kebencian, kebaikan hati juga bisa menular, setiap individu harus ingat bahwa satu orang adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat, setiap diri kita bisa membawa dunia menjadi baik atau buruk. </span></p>
<p><b>Lalu, kalau mau nyebarin </b><b><i>love speech, </i></b><b>harus mulai dari mana?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamu bisa mulai dengan ikutan </span><i><span style="font-weight: 400;">campaign </span></i><span style="font-weight: 400;">SHARE LOVE dari Lamrimnesia! Setiap pagi, Lamrimnesia akan mengirimkan gambar dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">quote</span></i><span style="font-weight: 400;"> positif penuh cinta via facebook, instagram, whatsapp, dan line square Lamrimnesia dengan tag </span><b>#sharelove #lamrimnesia</b><span style="font-weight: 400;">. </span><b>Share/repost</b> <i><span style="font-weight: 400;">love speech </span></i><span style="font-weight: 400;">dari Lamrimnesia ini lewat semua akun sosmedmu!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamu juga bisa membuat </span><i><span style="font-weight: 400;">love speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> kreasimu sendiri, bisa dalam bentuk gambar, tulisan, video, pokoknya apapun yang bisa dibagikan dan bernilai positif! </span><b>Kirimkan </b><b><i>love speech</i></b><b> karyamu</b><span style="font-weight: 400;"> ke line square Lamrimnesia (bit.ly/lamsquare) untuk dibagikan ke lebih banyak orang lewat sosmed-sosmed Lamrimnesia!</span></p>
<p><b>Mari jauhkan diri dari </b><b><i>hate speech </i></b><b>dan mulai membudayakan </b><b><i>love speech</i></b><b> sekarang juga!</b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jun 2017 07:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#bhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[#ilovebhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[MAKEFRIENDS]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[merenungkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3272</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.” Agama sering kali dipandang sebagai kekuatan yang menyebarkan perpecahan di antara orang-orang. Namun, para pemimpin agama terkemuka di dunia berkumpul untuk menawarkan visi yang berbeda tentang bagaimana agama dapat memberikan sumbangsih bagi dunia. Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi, para pemimpin agama besar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><i><span style="font-weight: 400;">“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.”</span></i></p></blockquote>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/CGMQsJ0VzAk" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama sering kali dipandang sebagai kekuatan yang menyebarkan perpecahan di antara orang-orang. Namun, para pemimpin agama terkemuka di dunia berkumpul untuk menawarkan visi yang berbeda tentang bagaimana agama dapat memberikan sumbangsih bagi dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi, para pemimpin agama besar &#8211; dari Paus Fransiskus  sampai Dalai Lama &#8211; mengeluarkan seruan bersama pada hari Rabu untuk meminta orang-orang mengikuti sebuah nasihat sederhana:  bertemanlah dengan orang-orang dari agama lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.”Ayatollah Sayyid Fadhel Al-Milani, salah satu tokoh Muslim Syiah paling senior di Inggris, mengatakannya dalam sebuah rekaman video.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hubungan perorangan, persahabatan perorangan, dari sinilah kita dapat saling memberikan sebuah tingkatan pengalaman yang lebih mendalam” demikian yang dikatakan Dalai Lama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paus Fransiskus memilih untuk berbicara tentang persahabatan panjangnya dengan Rabi Argentina, Abraham Skorka, yang juga tampil dalam video tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Kehidupan beragama saya semakin kaya karena penjelasannya, jauh lebih kaya,&#8221;  Fransiskus berkata tentang Skorka. &#8220;Dan saya rasa hal yang sama juga terjadi padanya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;MAKE FRIENDS&#8221; (tl: menjalin pertemanan) adalah sebuah prakarsa dari Elijah Interfaith Institue, sebuah organisasi antar agama yang berpusat di Israel dan Amerika Serikat. Dalam siaran persnya, para pengurus mengatakan bahwa misi proyek tersebut adalah untuk melawan gagasan bahwa orang-orang memandang agama lain dengan ketidakpercayaan atau penghinaan, dan bahkan berpotensi untuk mengurangi kekerasan yang dilakukan atas nama agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rabi Dr. Alon Goshen-Gottstein, pemimpin dari Elijah Interfaith Institute, mengatakan bahwa proyek ini memperkenalkan pandangan teologis baru, yang menegaskan perlunya persahabatan antar agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Kami tidak dapat menyangkal bahwa di dalam kitab-kitab dari banyak agama, Anda dapat menemukan teks yang tidak terlalu terbuka, bahkan bermusuhan, dengan orang-orang dari agama lain,&#8221; demikian pernyataannya.  &#8220;Oleh sebab itu, ketika para pemimpin penting dunia menyerukan persahabatan, mereka sebenarnya sedang menegaskan cara tertentu untuk mempraktikkan agama sembari menolak cara dari agama lain.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">22 pemimpin yang terlibat dalam seruan ini mewakili aneka ragam agama yang luas &#8211; Sikhisme, Buddhisme, Hinduisme, Islam, Yudaisme, dan kristen. Setiap pemimpin memberikan pernyataan pribadi secara khusus untuk tujuan proyek ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat lebih banyak lagi video dari para pemimpin tersebut dalam bahasa yang berbeda-beda, yang bisa ditemukan di  <a href="https://www.youtube.com/channel/UCamEJJXneVhPJMOSjZe6_fA">akun YouTube Make Friends’</a>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Salah satu hal terindah ketika menghabiskan waktu dengan orang-orang yang berbeda dengan kita adalah kita akan banyak menemukan kesamaan dengan mereka. Ketakutan yang sama, harapan yang sama, kekhaw;atiran yang sama,&#8221; demikian kata Rabi Lord Jonathan Sacks, mantan kepala Rabi Inggris.</span></p>
<p>sumber: <a href="http://www.huffpostbrasil.com/entry/worlds-top-religious-leaders-issue-rare-joint-appeal_us_5942c11ee4b06bb7d2719e8e">Huffpost | </a>diterjemahkan oleh: Sansan Diana | disunting oleh: Stanley Khu</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 &#8211; Prajna Paramita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2017 19:35:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[paramita]]></category>
		<category><![CDATA[prajna]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[wisdom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2869</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pernah nggak punya teman yang super bijak, saat galau semua orang curhat ke dia dan seolah mendapat &#8216;pencerahan&#8217;? Dia pasti di kehidupan lampaunya melatih prajna atau kebijaksanaan! Sering ada yang bilang, &#8220;Jadi orang jangan terlalu baik, nanti ditipu orang.&#8221; Pernyataan ini kurang tepat. Orang ditipu bukan karena dia terlalu baik, tapi karena kurang bijak! Lewat [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 – Prajna Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 &#8211; Prajna Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-2870" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-300x180.png" alt="" width="300" height="180" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-300x180.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-600x360.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-768x461.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-150x90.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-450x270.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n.png 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Pernah nggak punya teman yang super bijak, saat galau semua orang curhat ke dia dan seolah mendapat &#8216;pencerahan&#8217;? Dia pasti di kehidupan lampaunya melatih prajna atau kebijaksanaan!</p>
<p>Sering ada yang bilang, &#8220;Jadi orang jangan terlalu baik, nanti ditipu orang.&#8221; Pernyataan ini kurang tepat. Orang ditipu bukan karena dia terlalu baik, tapi karena kurang bijak! Lewat paramita pertama hingga kelima, Buddha mengajarkan kita untuk menja<span class="text_exposed_show">di orang baik, berdana, menjaga moralitas, dst, dan untuk menyempurnakannya, kita juga harus menjadi bijak. Dengan demikian,perbuatan baik kita akan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang banyak. Cara melatih prajna juga tidak sulit, bisa mulai dari rajin mendengarkan ceramah Dharma dan membaca teks Dharma sambil direnungkan.</span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Yuk sama-sama melatih prajna!</p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 – Prajna Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 &#8211; Prajna Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2017 05:50:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[cinta kasih]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[metta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2782</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: BESTRELOAD “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.” Jika kamu seorang Buddhis, pastinya kamu sering mengucapkan kata-kata ini, tapiapakah kamu sudah benar-benar meresapi maknanya? Kamu pastinya menginginkan kebahagiaan selalu hadir dalam hidupmu, segala cara kamu upayakan untuk mencapainya. Namun, kita harus tahu bahwa kebahagiaan juga merupakan hak dari semua orang—semua makhluk. Kita tidak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: BESTRELOAD</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><em>“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, </em>semoga semua makhluk berbahagia.<em>”</em></p></blockquote>
<p>Jika kamu seorang Buddhis, pastinya kamu sering mengucapkan kata-kata ini, tapiapakah kamu sudah benar-benar meresapi maknanya?</p>
<p>Kamu pastinya menginginkan kebahagiaan selalu hadir dalam hidupmu, segala cara kamu upayakan untuk mencapainya. Namun, kita harus tahu bahwa kebahagiaan juga merupakan hak dari semua orang—semua makhluk. Kita tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa yang menginginkan kebahagiaan bukan hanya kamu, atau orang tuamu, kerabatmu, maupun temanmu, tapi semua, termasuk orang yang berbeda agama denganmu, musuhmu, hewan-hewan, maupun orang-orang yang tidak kamu kenal, semuanya sama-sama ingin bahagia dan tidak menderita.</p>
<p>Cinta sendiri artinya adalah berharap makhluk lain bahagia atau sering disebut sebagai <em>metta</em>, dan welas kasih adalah berharap makhluk lain tidak menderita atau <em>karuna.</em></p>
<p>Membangkitkan cinta kasih yang universal memang butuh waktu, maka itu mulailah dari diri kamu sendiri, lalu secara bertahap kamu dapat memberikan pengaruh ke keluargamu, orang-orang sekelilingmu, dan teman-temanmu.  Coba deh bayangkan, jika semua orang bisa memiliki rasa cinta kasih universal dalam diri mereka, tentunya dunia akan menjadi lebih indah dan damai.</p>
<p><strong>Tapi kamu harus berhati-hati lho, karena perbuatan kamu pada seseorang atas dasar rasa cinta kasih, belum tentu baik baginya. Agar perbuatanmu bisa bermanfaat bagi orang yang kamu cintai, kamu butuh kebijaksanaan.</strong></p>
<p>Coba lihat orang tuamu yang mendidikmu dari kecil, mereka menggunakan berbagai macam cara agar kamu menjadi anak yang baik. Cara-cara yang mereka lakukan padamu tidak semuanya manis kan? Kadang mamamu memarahimu saat kamu bandel, atau memberikan hukuman ketika kamu tidak patuh, tapi semua ini dilakukan atas dasar cinta kasih mereka terhadapmu lho.</p>
<p>Sama halnya di Buddhis, karena kebahagiaan yang ingin kita berikanpada orang yang kita cintai seharusnya bukan kebahagiaan yang sementara saja, tapi berikanlah <em>sumber kebahagiaan </em>pada mereka yang kamu cintai. <em>Sumber kebahagiaan</em> yang sejati berkaitan dengan tiga motivasi utama dalam praktik Buddhadharma, yaitu kebahagiaan di kehidupan mendatang, pembebasan samsara, atau pencerahan sempurna.</p>
<p>Pada artikel singkat ini,  kamu akan mengetahui, bagaimana cara mencintai ala Buddhis. Kamu pasti memiliki <em>list</em> orang yang kamu cintai seperti pacar, orang tua, atau saudara. Lakukanlah hal ini untuk menunjukkan rasa cintamu pada mereka.</p>
<p><strong>Ajaklah orang yang kamu cintai untuk berbuat kebaikan, karena akar dari semua kebahagiaan kita adalah berasal dari hukum karma</strong></p>
<p>Kamu pasti pernah mendengar istilah “untuk membantu orang yang kelaparan, memberikan kail dan mengajarkan memancing tentunya lebih bermanfaat daripada memberikannya ikan.” Ada saatnya orang yang kamu cintai membutuhkan ‘ikan’ langsung, karena kebutuhan setiap orang berbeda, tapi cobalah mulai memberikan pengertian pada mereka bahwa semua hal bahagia yang dirasakan berasal dari karma baik yang telah kamu perbuat, jadi perbuatan-perbuatan baik seperti berdana dan membantu orang lain merupakan sebab-sebab bagi kita untuk mendapatkan kebahagiaan.</p>
<p>Jika mereka masih sulit, kamu bisa mulai dari memberikan contoh atau teladan dalam berbuat baik, kemudian mengajak mereka melakukannya bersama-sama, hal ini seperti ‘mengajarkan memancing’ pada mereka. Setelah melakukan perbuatan baik, pasti ada energi positif yang muncul seperti rasa syukur dan senang yang berbeda dari biasanya, atas hal ini kuatkanlah karma positif ini dengan bermudita cita. Halini akan memberikan mereka semangat untuk kembali berbuat baik ke depannya. Pada tahap ini kamu sudah memberikannya satu tahap menuju kebahagiaan yang sejati.</p>
<p><strong>Mulailah bersama-sama menghilangkan sifat-sifat buruk seperti melekat, rasa benci, dan kurang kebijaksanaan, karena itu semua adalah sumber penderitaan kalian</strong></p>
<p>Sang Buddha mengajarkan pada kita bahwa sumber penderitaan kita adalah kekotoran batin atau <em>klesha</em> (yang utama ada 3 yaitu kemelekatan, kebencian, dan kebodohan), ketika kita bisa menghilangkan klesha sepenuhnya, maka kita telah terbebas dari penderitaan.</p>
<p>Maka dari itu kamu seharusnya mengetahui bahwa ketika kamu mengharapkan orang yang kamu cintai bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya berasal dari dalam diri masing-masing, yaitu dengan  menghilangkan sebab <em>dukkha</em> itu sendiri. Maka itu arahkanlah mereka bersama-sama dirimu melatih diri untuk menghilangkan <em>klesha</em> ini.</p>
<p>Mungkin kamu merasa kalau menghilangkan <em>klesha</em> itu “ketinggian”, tapi ingatlah bahwa Dhamma itu indah pada awal, pertengahan, dan akhir, di saat kamu belajar dan dalam proses menghilangkan klesha itu sendiri, kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Menghilangkan klesha tidak serumit kelihatannya, cukup mulai dari menghilangkan sifat-sifat buruk seperti pelit, iri hati, benci, mulai dari yang kasar dulu, setahap demi setahap batinmu akan menjadi lebih stabil, barulah kamu menghilangkan yang halus. Ingat: jangan lupakan diri kamu sendiri, karena kamu baru bisa menolong orang lain saat dirimu sudah tertolong</p>
<p><strong>Cinta kasihmu membuatmu sudah memiliki niat untuk menolong orang lain pada jalan Dhamma, tapi rasanya kok sangat sulit ya? Kamu butuh kapasitas.</strong></p>
<p>Pada saat kamu merasakan hal ini, di sini kamu bisa membangkitkan motivasi tertinggi di Buddhis yaitu menjadi Buddha untuk menolong semua makhluk. Mungkin semua makhluk terlalu jauh bagimu, tapi coba mulailah dari pacarmu dan orang tuamu, apakah kamu sudah bisa menolong mereka? Saya sendiri menyuruh mama saya untuk ke vihara saja sulit.</p>
<p>Saya juga terinspirasi oleh perkataan seorang guru:</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>“Misalnya ibumu mata duitan, kamu mau menolong ibumu, jadi kamu kasih dia duit, itu bukan menolong, Itu malah mempertebal kemelekatan ibumu. Kamu sama saja mendorong Ibumu ke neraka”</p></blockquote>
<p>Cobalah bayangkan jika kita memiliki kualitas seorang Buddha, tentunya kita bisa menolong mereka dengan cara yang mahir dan tepat sasaran. Coba kamu baca riwayat hidup Sang Buddha, beliau mengucapkan beberapa kata saja sudah membuat orang-orang mencapai tingkat <em>Arahat</em>, artinya sudah bebas dari penderitaan. Maka dari itu, bayangkan deh kalau kamu saat ini jadi Buddha, kamu akan memberikan kebahagiaan sejati bagi orang tuamu, pacarmu, teman-temanmu. Sayangnya, kamu belum mencapai kapasitas itu kan? Maka itu mulailah bangkitkan motivasi untuk meraih hal tersebut. Dari situ, setahap demi setahap kamu dapat mengembangkan kapasitasmu menjadi orang yang lebih baik. Dalam prosesnya toh kamu juga dapat menolong banyak orang. Ingat, Dhamma itu indah pada awal, proses, dan akhir.</p>
<p>Maka dari itu “<em>Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta</em>“ yang kamu ucapkan mulai saat ini jangan hanya di mulut saja, tapi bangkitkanlah pemahaman yang benar, sikap yang benar dan motivasi yang benar untuk mengaplikasikannya di kehidupanmu. Ingatlah cinta kasih dan kebijaksanaan harus berjalan beriringan, tanpa kebijaksanaan pertolonganmu bisa salah sasaran, tanpa cinta kasih kamu bahkan tidak akan mulai menolong.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
