Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu
    • Kenalan dengan 4 Sifat Karma
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2025
    • Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2025
    • Andai Semua Pejabat +62 seperti Kwik Kian Gie
    • Persona 3, 4, 5, Game Bertahap Menuju Pencerahan
    • Pernyataan Penetapan Keberlangsungan Institusi Dalai Lama
    • Jika Mata Dibalas Mata, Kita Akan Perang Dunia Ketiga
    Lamrimnesia
    • Home
    • Mari Belajar
      • Apa itu Lamrim?
      • Peta Lamrim
      • Topik-Topik Lamrim
    • Wacana
      • Berita
      • Artikel
      • Infografis
    • Buku
      • Audiobook
      • Daftar Buku Tak Berbayar
      • Resensi
    • Kegiatan
      • Festival Seni & Budaya Buddhis 2018
      • Ananda Project
      • Berbagi Dharma
      • Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Indonesia Visit 2017
      • Indonesia Lamrim Retreat 2017
    • Dukungan
      • Dharma Patriot
        • Be a Dharma Patriot
        • Our Patriot’s Adventure
      • Dharma Patron
      • Donasi Buku Berbayar
      • Penyaluran Buku Tidak Berbayar
      • Laporan Tahunan YPPLN
      • Laporan Triwulan YPPLN
      • Laporan Keuangan YPPLN
    • Tentang Kami
    • Store
    Lamrimnesia
    You are at:Home » Featured » Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu

    Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu

    0
    By Redaksi Lamrimnesia on January 27, 2026 Artikel, Featured, Wacana

    Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, compassion (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah compassion adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita.

    Pemahaman ini tampak masuk akal. Berbagai penelitian dalam psikologi positif mendukung gagasan bahwa altruisme dan perilaku menolong berkaitan dengan kebahagiaan dan kesehatan. Orang yang meluangkan waktu, tenaga, atau sumber daya untuk membantu orang lain cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Beberapa studi longitudinal bahkan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas relawan berkorelasi dengan penurunan risiko kematian, terutama ketika motivasinya benar-benar altruistik—yakni ingin membantu orang lain, bukan sekadar mencari manfaat pribadi.

    Singkatnya, menolong orang lain memang baik, bukan hanya secara moral, tetapi juga secara psikologis dan biologis.

    Namun, di titik inilah muncul sebuah ironi.

    Di balik semua narasi indah tentang compassion, kita sering menjumpai paradoks yang mengganggu:

    “Orang-orang yang tampak sangat penuh compassion di ruang publik justru mudah marah, pahit, atau tidak sabar di ruang privat.”

    Fenomena ini muncul pada aktivis sosial, pekerja kemanusiaan, guru, tenaga kesehatan, pemuka agama, terapis, relawan, bahkan orang tua yang berjuang keras demi keluarganya.

    Secara publik mereka terlihat heroik, tetapi secara personal mereka rapuh. Ada kelelahan kronis, kepahitan, bahkan kemarahan tersembunyi yang tidak sejalan dengan citra moral yang mereka pegang.

    Mengapa bisa demikian?

    Fenomena ini mengajak kita untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:

    Apakah compassion benar-benar berawal dari moralitas?

    Ataukah compassion justru harus berakar pada kondisi tubuh (bodily state) yang teregulasi, sebelum berkembang menjadi nilai, niat, dan tindakan?

    Seyogyanya, compassion terlebih dahulu harus mampu menjalankan fungsinya dalam meregulasi tubuh. Barulah kemudian ia dapat berkembang menjadi tindakan moral yang sehat dan berkelanjutan.

    Compassion seharusnya berakar pada fisiologi sebelum berkembang menjadi aturan etika.

    Sebelum menjadi nilai, niat, dan tindakan, compassion perlu bermula sebagai kondisi sistem saraf yang teregulasi di dalam tubuh.

    Ketika compassion terintegrasi di tingkat tubuh, tubuh akan:

    • Memperoleh rasa aman yang benar-benar dirasakan (felt sense of safety);
    • Mengaktivasi sistem saraf parasimpatetis, khususnya sistem ventral vagal, yang pada gilirannya membuat napas lebih lembut, otot lebih rileks, dan ritme jantung lebih stabil;
    • Memiliki kapasitas untuk tetap hadir bersama penderitaan—baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain—tanpa perlu kolaps atau bereaksi secara agresif.

    Dalam kondisi ini, compassion muncul secara alami. Ia tidak dipaksakan. Tubuh pun cukup teregulasi untuk menghadirkan keterbukaan.

    Compassion yang bersifat moralitas semata tanpa melibatkan regulasi tubuh akan berubah menjadi kewajiban.

    Ketika compassion diperlakukan hanya sebagai tindakan moral—sesuatu yang seharusnya dilakukan—ia sering kali berujung pada:

    • Kepahitan dan kelelahan; serta
    • Superioritas moral atau agresi tersembunyi.

    Bukan karena compassion itu keliru, melainkan karena ia dipaksakan tanpa integrasi pada level tubuh.

    Tubuh yang terdisregulasi namun dipaksa menjalankan compassion secara moral sering kali memunculkan:

    • Mudah tersinggung;
    • Mati rasa secara emosional;
    • Inkonsistensi (ramah pada orang asing, keras pada orang terdekat);
    • Keterbelahan antara “kebaikan publik” dan “kepahitan privat”.

    Dalam situasi seperti ini, compassion sesungguhnya digerakkan oleh tekanan superego, bukan oleh kapasitas yang benar-benar terwujud di dalam tubuh.

    Ketika compassion hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, kita tidak sedang “memutuskan” untuk berwelas asih. Kita mendapati diri kita merespons dengan kepedulian.

    Hal ini menyerupai cara seorang ibu atau pengasuh yang tenang secara alami menenangkan bayi yang menangis—bukan karena pertimbangan moral, melainkan karena sistem sarafnya mampu melakukan regulasi bersama antara pengasuh dan bayi.

    Kehadiran hormon oksitosin, aktivitas sistem vagal, dan kemampuan mengamati pengalaman tubuh (meta-awareness) berperan sangat penting di sini.

    Compassion muncul ketika tubuh:

    • Merasa berdaya;
    • Merasa terhubung; dan
    • Tidak sedang kewalahan.

    Baru setelah compassion hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, ia dapat diekspresikan menjadi tindakan atau etika yang nyata ke luar.

    Jika compassion tidak dapat diakses secara internal pada level tubuh, ia tidak akan berkelanjutan secara eksternal.

    Orang-orang yang kekurangan self-compassion yang terwujud di dalam tubuh sering kali:

    • Hanya mengetahui “kata-kata yang benar”, dalam arti mampu mengajarkan atau mengkhotbahkan compassion;
    • Namun tetap keras, tidak sabar, atau menghukum diri sendiri dan orang-orang terdekat.

    Penting untuk diingat: ini bukan kemunafikan, melainkan keterbatasan sistem saraf. Ini bukan kegagalan moral.

    Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemikiran kognitif untuk menuju ke compassion jika tubuh belum belajar mengenali rasa aman yang menyertainya.

    Ini adalah proses internalisasi nilai.

    Compassion sebagai moralitas baru dapat hadir ketika ia telah berakar di dalam tubuh.

    Tindakan moral yang lahir dari kondisi tubuh yang penuh compassion:

    • Tidak bersifat reaktif;
    • Tidak digerakkan oleh ego; dan
    • Lebih selaras dengan realitas.

    Dengan demikian, etika dan moralitas seharusnya menunggangi fisiologi tubuh—bukan sebaliknya.

    Bagi mereka yang bekerja dalam bidang pengasuhan, kepemimpinan spiritual, atau kerja kemanusiaan, compassion tanpa regulasi tubuh berisiko menciptakan luka.

    Karena itu, pelatihan compassion seharusnya mencakup:

    • Literasi sistem saraf;
    • Praktik somatik;
    • Pengalaman rasa aman, relaksasi, dan kemampuan regulasi bersama; serta
    • Belajar merasakan sebelum belajar bertindak.

    Di sinilah power of tracking menjadi sangat penting, yaknibkemampuan untuk mengamati:

    • Apa yang sedang dipikirkan (thoughts);
    • Apa yang sedang dirasakan (emotions); dan
    • Sensasi tubuh (bodily sensations) yang menyertai keduanya.

    Singkatnya, compassion tidak seharusnya dipahami semata sebagai kewajiban moral yang harus dicapai, melainkan juga sebagai kondisi tubuh (bodily state) yang teregulasi. Hanya dari kondisi inilah seseorang mampu tetap terbuka terhadap penderitaan tanpa harus mengeras ataupun berpaling.

    Hanya ketika compassion hidup terintegrasi di dalam tubuh, ia dapat berkembang menjadi moralitas, tindakan, dan tanggung jawab—tanpa membakar orang yang membawanya.

    Penulis : Johnson Khuo (Co Founder – Ayurjnana Wellness and Spirit Center)
    Tulisan ini pertama kali terbit di kumparan.com

    lamrim lamrimnesia
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleKenalan dengan 4 Sifat Karma
    Redaksi Lamrimnesia

    Related Posts

    Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi 

    Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi

    Belajar Dharma Lewat OST Wicked

    Dharma Patron Rutin
    Dharma Patron Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kesinambungan pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddhadharma di Indonesia.


    Dharma Patron Non-Rutin
    Dharma Patron Non-Rutin

    Penyokong Dharma Mulia dengan berdana sekali waktu untuk pelestarian dan pengembangan Dharma di Nusantara. Berapapun nominalnya, akan sangat bermanfaat bagi Buddha dharma di Indonesia.


    MEMBERSHIP
    • login
    • register

    Infografis

    Find us At
    • facebook
    • instagram
    Leaderboard Ad
    Lamrimnesia

    Lamrimnesia

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim merupakan sebuah yayasan yang dirikan untuk melestarikan dan menyebarkan tradisi Lamrim guna mendorong bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melakukan praktik Dharma yang didasari oleh ilmu yang nyata sehingga menciptakan perubahan positif bagi seluruh Nusantara.

    Hubungi Kami:

    Call Center Lamrimnesia
    Care - +6285 2112 2014 1
    Info - +6285 2112 2014 2
    email: [email protected]
    facebook: facebook.com/lamrimnesia

    Recent Posts
    January 27, 2026

    Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu

    November 21, 2025

    Kenalan dengan 4 Sifat Karma

    November 17, 2025

    Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2025

    Store
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.